Setiap orang tua mendambakan hubungan yang erat, penuh kasih, dan aman dengan anak mereka. Berbagai filosofi muncul dalam pencarian metode pengasuhan terbaik, salah satu yang terpopuler adalah attachment parenting. Filosofi ini berfokus pada penciptaan ikatan kuat dan responsif sejak dini.
Key Takeaways
- Attachment parenting dipopulerkan oleh Dr. William Sears yang berakar dari teori attachment psikiater Inggris, John Bowlby.
- Attachment parenting adalah metode pengasuhan yang bersumber dari keterikatan rasa aman (secure attachment) anak-anak terhadap orang terdekatnya.
- Gaya pengasuhan ini dapat meningkatkan rasa aman anak hingga mereka lebih berani mengeksplorasi hal-hal baru dengan percaya diri, karena selalu ada tempat pulang, yaitu orang terdekat mereka.
Akar Ilmiah Attachment Parenting
Lebih dari sekadar tren, metode pengasuhan yang dipopulerkan pada era 90-an oleh dokter anak Amerika; Dr. William Sears dan istrinya, Martha Sears, RN, ini memiliki akar ilmiah mendalam. Konsepnya berakar dari “Teori Attachment” (Teori Keterikatan) oleh psikiater Inggris; John Bowlby.
Bowlby, melalui observasi ekstensif, berteori bahwa bayi terlahir dengan dorongan biologis untuk mencari kedekatan dengan orang terdekat, terlebih saat merasa tertekan. Orang tua atau pengasuh yang responsif dan konsisten memberikan rasa aman membuat kepercayaan diri mereka tumbuh dalam mengeksplorasi lebih.
Mary Ainsworth menggali lebih dalam tentang teori tersebut dengan mengembangkan “Situasi Asing” untuk mengamati berbagai jenis keterikatan antara anak dan orang terdekat mereka. Hasilnya, Ainsworth mengidentifikasi bahwa orang terdekat yang responsif mengembangkan keterikatan rasa aman.
Menurut American Psychological Association (APA), keterikatan aman (secure attachment) membentuk karakter anak-anak menjadi lebih superior. Mereka lebih tangguh, menjaga harga diri, serta mampu membina hubungan yang sehat di kemudian hari.
Baca: 3 Penyebab Anak Suka Melepeh Makanan dan Cara Mengatasinya
Prinsip Inti “7B” dari Attachment Parenting
Sementara itu, untuk mempermudah sosialisasi pada masyarakat, Dr. Sears menerjemahkan teori ini ke dalam serangkaian praktik pengasuhan praktis yang bernama “The 7 B’s”. Prinsip-prinsip ini dirancang untuk memaksimalkan koneksi dan responsivitas antara orang tua dan anak.
- Ikatan Saat Lahir (Birth Bonding): Mendorong kontak “kulit ke kulit” (skin to skin) segera setelah lahir untuk memulai ikatan.
- Menyusui (Breastfeeding): Menyusui lebih dari sekadar memberikan nutrisi pada bayi, tetapi juga sebagai cara untuk memberikan kenyamanan, kedekatan, dan merespons isyarat lapar bayi secara langsung.
- Menggendong Bayi (Baby-wearing): Menimang bayi menggunakan gendongan bertujuan menjaga bayi tetap dekat secara fisik. Praktik ini memungkinkan orang tua untuk tetap “terhubung” sambil melakukan aktivitas lain dan terbukti dapat menenangkan bayi serta mengurangi tangisan.
- Tidur Bersama (Bed-sharing): Aktivitas ini merujuk pada kedekatan fisik orang tua dan anak ketika tidur yang merangsang kedekatan emosional.
- Percaya pada Nilai Tangisan Bayi (Belief in the Value of Your Baby’s Cries): Filosofi ini menolak membiarkan bayi menangis tanpa memberikan reaksi. Tangisan merupakan bentuk komunikasi vital dan merespon mereka mengajarkan empati dan bahwa dunia sekitar mereka aman.
- Waspadai “Pemberi Latihan” Bayi (Beware of Baby Trainers): Jangan mudah percaya dengan saran pihak ketiga dalam melatih bayi. Tidak semua saran tepat, terutama yang bukan berasal dari pelatih profesional.
- Keseimbangan (Balance): Attachment parenting juga menekankan bahwa orang tua, terutama ibu, harus peka terhadap kebutuhan mereka sendiri untuk menghindari kelelahan (burnout).
Baca: 5 Olahraga Anak Pemalu, Ampuh Bikin Berani dan Percaya Diri!
Tantangan dalam Penerapan Metode Pengasuhan “Keterikatan”
Melalui penjabaran di atas, fondasi ilmiah metode pengasuhan ini cukup kuat. Namun, pada era masa kini, penerapannya justru mendapatkan kritik keras, terutama sebagian masyarakat yang menganggapnya sebagai pendekatan yang menuntut, khususnya terhadap seorang ibu.
Tuntutan untuk selalu responsif, menyusui sesuai permintaan, dan kontak fisik yang konstan oleh sebagian pihak saat ini dianggap dapat menyebabkan kelelahan fisik dan mental. Mereka meyakini bahwa model pengasuhan ini berisiko menciptakan ketergantungan yang tidak sehat atau memanjakan anak berlebihan.
Namun, pendukung attachment parenting membantah keras hal ini. Mereka berargumen bahwa memenuhi kebutuhan ketergantungan anak saat ia kecil justru akan menumbuhkan kemandirian yang sejati di kemudian hari, sebagaimana teori Bowlby tunjukkan.
Baca: 7 Olahraga untuk Menambah Tinggi Badan Anak, Super Ampuh!
Dampak Jangka Panjang: Investasi Emosional
Tujuan utama dari penerapan metode pengasuhan keterikatan adalah investasi emosional jangka panjang pada anak. Bukan sekadar membuat bayi berhenti menangis, tetapi untuk membangun fondasi harga diri, kepercayaan, dan regulasi emosi.
Anak-anak yang kebutuhan “validasi emosional”-nya terpenuhi secara konsisten oleh orang tua mereka akan menyadari konsep bahwa diri mereka berharga. Saat dewasa, mereka mengembangkan konsep pemikiran bahwa hubungan itu aman dan dapat diandalkan.
Penelitian jangka panjang tentang keterikatan yang aman secara konsisten juga menunjukkan hasil positif. Anak-anak cenderung lebih baik dalam mengelola emosi mereka, menunjukkan tingkat empati yang lebih tinggi, lebih kooperatif, dan memiliki keterampilan sosial yang lebih unggul saat mulai sekolah.
Penerapan attachment parenting membuat mereka tidak takut untuk mencoba hal baru dan mandiri dalam melakukan sesuatu karena mengetahui selalu ada tempat untuk kembali, yaitu keluarga. Mereka juga cenderung lebih terbuka dengan segala sesuatu terhadap orang tua.
Membantu Anak Tumbuh dengan Percaya Diri Melalui Attachment Parenting
Secara sederhana, metode pengasuhan ini berfokus pada pembangunan fondasi kepercayaan dan rasa aman antara anak dengan orang terdekat, khususnya orang tua. Ketika anak merasa aman dan terhubung secara emosional dengan orang-orang terdekatnya, mereka mengembangkan kepercayaan diri yang esensial.
Mereka jadi berani menjelajahi dunia, mencoba hal-hal baru, dan menghadapi tantangan. Rasa aman inilah yang membebaskan mereka untuk mengembangkan potensi fisik, sosial, dan kognitif mereka secara penuh. Apalagi ketika energi dan kepercayaan diri tersalurkan dalam aktivitas yang positif dan terstruktur.
Di sini peran Sparks Sports Academy menjadi krusial. Perkembangan anak dengan metode pengasuhan ini membutuhkan dukungan lingkungan suportif, profesional, dan menyenangkan agar dapat menunjukkan hasil mengagumkan. Aktivitas olahraga bersama pelatih profesional dari Sparks Sports merupakan media yang tepat.
Melalui berbagai kelas olahraga dari gimnastik hingga bela diri, anak tidak hanya mendapatkan latihan keterampilan fisik, tapi juga memperkuat nilai-nilai karakter, disiplin, kerja sama tim, dan ketahanan. Keterampilan-keterampilan tersebutlah yang akan menjadi penyempurna kepercayaan diri mereka yang telah terbentuk.







