Permissive parenting atau pola asuh permisif adalah gaya pengasuhan yang hangat, suportif, namun minim batasan dan kontrol. Pola ini kerap dipilih orang tua modern yang ingin menghindari konflik dan tidak ingin terlihat “terlalu keras” pada anak. Namun, jika kurang terstruktur maka dapat memengaruhi kemampuan anak dalam mengatur emosi dan perilaku.
Oleh karena itu, memahami manfaat dan risikonya menjadi penting agar orang tua dapat menemukan keseimbangan terbaik dalam mendidik anak.
Key takeaways:
- Pola asuh permisif mampu menciptakan kedekatan emosional yang kuat antara orang tua dan anak.
- Namun, apabila penerapannya tidak dibarengi dengan batasan yang jelas, anak akan kesulitan mengembangkan sikap disiplin dan kemampuan menghadapi frustrasi.
Apa Itu Permissive Parenting?
Mengutip dari Healthline, permissive parenting, atau pola asuh permisif, adalah gaya pengasuhan di mana orang tua bersikap sangat hangat, suportif, dan responsif, tetapi menetapkan sedikit aturan dan disiplin. Biasanya, orang tua permisif cenderung menghindari konflik dan sulit mengatakan “tidak” kepada anak.
Dalam pola ini, orang tua sering lebih berperan sebagai teman daripada sebagai otoritas, dan memberikan kebebasan besar kepada anak untuk menentukan pilihannya sendiri. Namun, minimnya batasan akan berdampak besar pada perkembangan tanggung jawab dan kedisiplinan anak.
Baca: Kelebihan dan Kekurangan Pola Asuh Elephant Parenting
Keuntungan Permissive Parenting
Berikut beberapa keuntungan yang dapat Anda pertimbangkan dalam pola asuh permisif.
1. Kedekatan Emosional yang Lebih Hangat
Orang tua permisif dikenal sangat responsif secara emosional sehingga anak merasa aman untuk mengekspresikan perasaan dan bercerita. Sebagai hasilnya, pola ini membantu membangun hubungan orang tua–anak yang penuh kepercayaan dan keterbukaan. Tentunya ini akan menjadi fondasi penting bagi kesehatan emosional anak jangka panjang.
2. Pengembangan Kreativitas dan Rasa Ingin Tahu
Karena anak tidak dibatasi secara kaku, mereka cenderung lebih berani mencoba hal baru, mengeksplorasi ide, dan mengembangkan kreativitas alami. Pasalnya, kebebasan dalam bereksplorasi membuat anak lebih percaya diri mengambil inisiatif dan menemukan minatnya sendiri.
3. Harga Diri yang Lebih Tinggi
Validasi dan dukungan yang konsisten dari orang tua permisif dapat meningkatkan perasaan dihargai (sense of worth) pada anak. Efeknya, anak jadi punya pondasi yang penting untuk membangun stabilitas emosional dan keberanian mengambil keputusan.
4. Komunikasi yang Terbuka dan Tidak Mengintimidasi
Permissive parenting biasanya mendorong dialog dua arah di mana anak bebas menyampaikan pendapat tanpa takut dimarahi atau dihukum. Kebiasaan ini membantu anak mengembangkan kemampuan berkomunikasi, mengelola konflik secara sehat, dan membangun hubungan interpersonal yang lebih matang.
Baca: 5 Jenis Olahraga untuk Meningkatkan Percaya Diri Anak
Risiko dan Efek Negatif dari Permissive Parenting
Berikut adalah beberapa dampak negatif yang bisa muncul dari penerapan pola asuh permisif yang kurang sehat.
1. Anak Kurang Disiplin dan Kontrol Diri
Jika tidak ada struktur dan batasan yang konsisten, anak mungkin kesulitan mengembangkan kontrol diri dan menjadi kurang disiplin. Anak dengan pola asuh permisif tidak terbiasa dengan batasan, sehingga mereka tidak belajar pentingnya aturan dan konsekuensi.
2. Memiliki Kecenderungan Melakukan Hal Terlarang
The Berkeley Well Being Institute mengungkap sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa anak-anak dari orang tua permisif cenderung melakukan perilaku berisiko, seperti penyalahgunaan zat terlarang atau terlibat masalah dengan aparat hukum di masa remaja karena kurangnya pengawasan dan batasan.
3. Gangguan Emosi dan Kesiapan Mental
Gaya asuh permisif bisa berkaitan dengan gejala kecemasan atau depresi karena anak tidak pernah diberi panduan untuk menghadapi frustrasi, kekecewaan, atau kegagalan.
Orang tua yang terlalu memanjakan dan memberi anak lebih dari yang mereka minta tanpa mengajari anak arti sabar, usaha, dan tanggung jawab justru membuat anak tidak siap menghadapi realitas hidup yang penuh tantangan.
4. Sulit Menghormati Otoritas dan Aturan Eksternal
Karena anak terbiasa minim aturan di rumah, mereka cenderung mudah mengalami kesulitan menyesuaikan diri dengan struktur di sekolah atau lingkungan lain yang menuntut disiplin.
Baca: Berapa Usia Ideal Anak Mulai Ikut Kelas Olahraga?
Cara Menerapkan Pola Asuh Permisif yang Sehat
Agar pola asuh permisif tidak mendatangkan dampak buruk yang terlalu dominan di kemudian hari, berikut beberapa strategi yang bisa orang tua terapkan.
- Tetapkan aturan yang jelas. Orang tua perlu menetapkan batas tertentu yang konsisten dan dipahami anak meskipun gaya parenting ini lebih mengutamakan kehangatan.
- Gunakan konsekuensi positif. Alih-alih hukuman keras, gunakan konsekuensi yang mendidik untuk memberi pemahaman atas akibat dari keputusan anak.
- Ajarkan regulasi emosi dengan membantu anak mengenali dan menghadapi frustrasi atau kekecewaan, sehingga mereka bisa belajar bertahan dalam situasi sulit.
- Beri anak kebebasan secara bertahap sesuai dengan tingkat kedewasaan dan tanggung jawab anak.
- Diskusikan harapan, nilai, dan batasan keluarga bersama anak agar mereka merasa menjadi bagian dari proses.
Baca: 7 Cara Mendidik Anak Laki-Laki dengan Pendekatan Positif
Terapkan Permissive Parenting tanpa Menghilangkan Pentingnya Disiplin
Permissive parenting dapat menjadi pilihan gaya pengasuhan yang hangat dan penuh empati, namun tetap memerlukan batasan agar anak belajar disiplin dan tanggung jawab. Dengan begitu, orang tua dapat membantu anak tumbuh lebih mandiri dan matang dalam menghadapi tantangan.
Untuk mendukung proses ini, Sparks Sports Academy menawarkan lingkungan belajar sambil bermain yang aman, aktif, dan terarah. Dengan begitu anak bisa bereksplorasi sambil belajar disiplin. Pendekatan ini sejalan dengan nilai pola asuh permisif yang ingin memberi ruang bagi anak, namun tetap memastikan mereka berkembang dengan karakter kuat.







