Fenomena sharenting kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan orang tua modern. Istilah ini berasal dari gabungan kata share dan parenting, yang berarti kebiasaan orang tua membagikan momen tumbuh kembang anak mereka di media sosial, baik dalam bentuk foto, video, atau informasi pribadi anak sejak usia dini.
Praktik ini terlihat sepele, tetapi dapat menimbulkan dampak jangka panjang bagi identitas digital anak.
Key takeaways:
- Membagikan konten tumbuh kembang anak dapat menciptakan jejak digital yang akan terus ada sepanjang hidupnya tanpa persetujuan mereka.
- Anak berhak atas privasi dan kebebasan membentuk identitas dirinya sendiri, di mana dua hak tadi dapat runtuh akibat orang tua kerap membagikan informasi anaknya di media sosial sebelum mereka mampu memberikan persetujuan secara mandiri.
Apa Itu Sharenting dan Mengapa Menjadi Tren?
Sharenting muncul seiring meningkatnya penggunaan media sosial di kalangan orang tua milenial. Alasan utamanya beragam, mulai dari ingin berbagi kebahagiaan, mencari dukungan dari komunitas, hingga membangun kenangan digital.
Namun, kebiasaan membagi momen anak sering kali orang tua lakukan tanpa mempertimbangkan batas privasi anak dan potensi dampak psikologisnya di masa depan.
Baca: Milenial Parenting: Karakteristik dan Tantangan dalam Pengasuhan
Risiko Tersembunyi di Balik Sharenting
Meskipun terlihat tidak berbahaya, sharenting membawa sejumlah risiko serius yang sering kali tidak orang tua sadari. Berikut beberapa di antaranya.
1. Pencurian Identitas Digital
Menurut laporan The Children’s Commissioner for England, sebelum anak mencapai usia 13 tahun, rata-rata lebih dari 1.300 foto mereka telah beredar di internet tanpa kendali penuh orang tua.
Data ini berpotensi dimanfaatkan oleh pihak tak bertanggung jawab, seperti pencurian data-data digital anak, yang dapat digunakan dalam penipuan atau manipulasi daring di masa depan.
2. Digital Kidnapping (Pencurian Foto Anak)
Terdapat fenomena digital kidnapping, yakni pelaku mengambil foto anak dari akun media sosial dan menggunakannya untuk membuat profil palsu. Bahkan beberapa mengklaim anak tersebut sebagai milik mereka sendiri.
Risiko pencurian ini akan meningkat saat orang tua mengunggah foto anak dengan informasi pribadi seperti nama lengkap atau lokasi.
3. Eksposur Berlebihan terhadap Dunia Maya
Ketika setiap momen anak dibagikan secara daring, anak kehilangan kendali atas representasi dirinya. Menurut studi dari University of Florida Levin College of Law, eksposur ini dapat memengaruhi cara anak melihat diri sendiri karena orang tua membentuk identitas digital mereka tanpa persetujuan pribadi.
4. Penyalahgunaan Data Pribadi
Jika informasi seperti tanggal lahir, lokasi sekolah, atau kebiasaan anak orang tua dibagikan ke sosial media, data-data tersebut dapat disalahgunakan oleh pihak tertentu. Sebagai contoh untuk tujuan komersial atau bahkan kejahatan dunia maya. UNICEF menekankan pentingnya kesadaran orang tua terhadap keamanan data anak di era digital.
Baca: Uninvolved Parenting: Ciri-Ciri, Dampak, dan Solusinya
Dampak Psikologis pada Anak
Selain risiko digital, sharenting juga memiliki dampak psikologis yang mendalam bagi anak, terutama saat mereka mulai menyadari keberadaan diri mereka di dunia maya.
1. Kehilangan Privasi Sejak Dini
Pertama dan paling mendasar, anak yang tumbuh dengan jejak digital tanpa kendali dapat merasa kehidupannya “terbuka untuk publik”. Fenomena ini dapat memicu kecemasan sosial dan perasaan tidak nyaman saat mereka menyadari banyak orang melihat foto atau kisah pribadinya.
2. Menurunnya Kepercayaan terhadap Orang Tua
Ketika anak merasa diekspos tanpa izin, mereka bisa kehilangan rasa percaya terhadap orang tua. Dampaknya, kepercayaan yang rusak di masa kecil dapat berpengaruh pada hubungan keluarga jangka panjang.
3. Rasa Malu dan Harga Diri yang Terganggu
Beberapa anak mengaku merasa malu ketika teman-temannya menemukan unggahan lama yang memperlihatkan mereka dalam situasi lucu, canggung, atau memalukan. Eksposur semacam ini dapat menurunkan self-esteem dan membuat anak menjadi lebih tertutup dalam berinteraksi sosial.
4. Kesulitan Mengontrol Identitas Diri
Terakhir, anak yang tumbuh dengan identitas digital buatan orang tua sering kali merasa kesulitan membangun citra diri yang autentik, sehingga menghambat proses pencarian jati diri di usia remaja.
Baca: Kelebihan dan Kekurangan Pola Asuh Elephant Parenting
Etika Digital dalam Era Sharenting
Untuk menjadi orang tua yang bijak di era digital, penting untuk memahami batas etika sharenting. Prinsip utama yang harus dipegang adalah menghormati hak anak atas privasi dan perlindungan data pribadi. Maka dari itu, orang tua perlu lebih bijak dalam menggunakan platform media sosialnya dengan mempraktikkan etika-etika berikut ini.
- Menghindari membagikan foto anak tanpa pakaian atau dalam kondisi rentan.
- Tidak mempublikasikan informasi sensitif seperti lokasi sekolah atau jadwal kegiatan.
- Mengatur privasi akun media sosial dan membatasi akses hanya untuk keluarga dekat.
Melalui langkah-langkah ini, sharing momen dengan anak di media sosial bisa lebih aman tanpa mengorbankan privasi anak.
Mari Kita Dorong Eksplorasi Sehat dan Aman untuk Anak
Dalam dunia yang serba terkoneksi, orang tua tidak bisa menghindari sharenting sepenuhnya, tetapi bisa mengelolanya dengan bijak. Pengasuhan modern bukan hanya soal membagikan momen, tetapi juga melindungi identitas dan masa depan digital anak.
Jika Anda ingin menggantikan kebiasaan sharenting dengan pengalaman nyata yang lebih bermakna, mencari kegiatan positif sambil seru-seruan di Sparks Sports Academy bisa menjadi pilihan tepat. Melalui program-program kami, anak-anak dapat belajar mengenali batas diri, berekspresi secara sehat, dan mengembangkan kemampuan sosial yang alami.






