5 Tanda Anak Memiliki Attention-Seeking Behavior

5 Tanda Anak Memiliki Attention-Seeking Behavior

Table of Contents

Dalam kehidupan sehari-hari, Anda mungkin pernah bertemu seseorang yang selalu ingin diperhatikan. Mulai dari cara bicara yang dibuat-buat, mencari drama kecil, hingga sering pamer demi mendapatkan respons dari orang di sekitarnya. Perilaku tersebut dikenal dengan istilah attention-seeking behavior

Tentu saja, perilaku ini juga dapat terjadi pada anak dan merupakan bagian dari masa kanak-kanak. Namun, umumnya, anak melakukan hal ini karena mereka belum mampu menyampaikan emosi dan keinginannya. Lantas, bagaimana jika perilaku tersebut sudah berlebihan? Bagaimana cara mengatasinya? Simak di sini!

Key Takeways:

  • Attention-seeking behavior adalah perilaku di mana seseorang berusaha keras mendapatkan perhatian, pengakuan, atau validasi dari orang lain.
  • Banyak anak menunjukkan perilaku ini karena mereka belum mampu menjelaskan apa yang mereka rasa atau inginkan.
  • Mengajak anak mengungkapkan emosi secara jujur dan perlahan akan membantu ia menamai perasaannya dan menangani perilaku mencari atensi.

Apa Itu Attention-Seeking Behavior?

Dilansir dari laman Verywellmind, attention-seeking behavior atau yang kerap dipanggil dengan “tukang cari perhatian” adalah perilaku di mana seseorang berusaha keras mendapatkan perhatian, pengakuan, atau validasi dari orang lain. Pada anak-anak, perilaku ini sering kali menjadi bentuk komunikasi yang belum matang. 

Anak mungkin tidak tahu cara menyampaikan keinginan, ketidaknyamanan, atau rasa cemburu sehingga mereka memperlihatkannya dalam bentuk perilaku yang “menuntut” perhatian. Penting pula untuk Anda pahami bahwa perilaku ini tidak selalu buruk atau berarti anak nakal. 

Justru banyak anak melakukannya karena merasa kurang diperhatikan, ingin mendapat respons emosional tertentu, mengalami stres, atau sekadar ingin merasa dekat dengan orang tuanya. Jika dikelola dengan tepat, perilaku ini juga bisa berkurang seiring berkembangnya kemampuan anak dalam mengontrol emosi dan berkomunikasi.

Tanda Anak dengan Attention-Seeking Behavior

Apa saja tanda-tanda bahwa anak adalah pencari perhatian? Simak beberapa tanda berikut.

1. Anak Berlebihan saat Mengungkapkan Emosi

Salah satu ciri paling umum adalah ekspresi emosi yang berlebihan. Anak bisa menangis kencang untuk hal kecil, pura-pura sedih, atau menunjukkan ekspresi dramatis agar Anda datang menghampiri. Mereka melakukan ini bukan semata-mata karena kesal, tetapi karena ingin memastikan Anda memberikan perhatian penuh.

2. Sering Menyela Pembicaraan

Pernah tidak, saat Anda berbicara dengan orang lain, anak tiba-tiba memotong pembicaraan dengan suara keras, atau menunjukkan sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu penting? Ini bisa menjadi tanda bahwa anak membutuhkan validasi. Menyela adalah cara cepat untuk memastikan perhatian Anda kembali terfokus padanya. 

3. Bertingkah “Nakal”

Beberapa anak menunjukkan attention-seeking behavior dengan cara yang tampak negatif. Contohnya menumpahkan barang, memukul saudaranya, berteriak, atau melakukan sesuatu yang mereka tahu akan memancing reaksi. Bagi mereka, dimarahi tetap lebih baik daripada diabaikan. 

4. Mengeluh Berlebihan atau Pura-Pura Sakit

Ini adalah tanda yang cukup sering diabaikan. Anak bisa mengeluh sakit atau merasa tidak nyaman, terutama saat ia melihat orang tua sedang fokus pada pekerjaan lain atau sedang sibuk dengan adiknya. Keluhan seperti ini sering kali muncul sebagai strategi untuk mendapatkan perhatian emosional, bukan karena kondisi fisik serius.

5. Terus Memamerkan Diri atau Berusaha Menjadi Pusat Perhatian

Anak yang sering memamerkan kemampuan, menuntut dipuji, atau berusaha menjadi pusat pembicaraan juga bisa menunjukkan tanda-tanda perilaku mencari perhatian. Mereka ingin mendapatkan pengakuan, tepuk tangan, atau reaksi positif dari orang-orang di sekitarnya.

Bagaimana Cara Mengatasi Attention-Seeking Behavior

Melansir AOC, perilaku mencari perhatian memang merupakan bagian dari perkembangan normal, namun pada kasus yang kronis, dukungan sangat diperlukan agar tidak terjadi tantangan sosial-emosional yang lebih serius. Berikut beberapa cara mengatasi anak yang memiliki kecenderungan mencari perhatian secara berlebihan.

1. Tunjukkan Perhatian dengan Cara yang Sehat

Coba rasakan dan pahami dulu konteks perilakunya, tunjukkan empati dan berikan respons yang tenang serta konsisten. Ketika anak bersikap positif, puji dan beri apresiasi agar ia belajar bahwa perhatian bisa mereka peroleh lewat perilaku baik. 

2. Ajak Anak Bicara Soal Emosi

Banyak anak menunjukkan attention-seeking behavior karena belum mampu menyebutkan atau mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Karena itu, coba ajak mereka mengungkapkan emosi secara jujur dan perlahan, bantu anak menamai perasaannya. 

3. Batasi Respons pada Perilaku Negatif yang Berlebihan

Ketika perilaku mencari perhatian mereka lakukan dengan cara yang tak sehat, misalnya menangis keras atau membuat keributan, Anda bisa memberi respon minimal dan datar. Tujuannya untuk memberi tanda bahwa cara mereka mencari perhatian tidak berhasil. Bersikaplah tegas, namun jangan berikan tanggapan yang kasar.

4. Ajarkan Cara Mendapatkan Perhatian dengan Lebih Tepat

Anda juga bisa memberi contoh sederhana, seperti mengangkat tangan ketika ingin berbicara atau mengucapkan “Ibu, boleh minta perhatian sebentar?” atau “Boleh minta peluk lebih dulu?”. Anda juga bisa memberi pujian saat anak melakukan cara yang tepat agar kebiasaan positif tertanam semakin kuat.

Sudah Tahu Apa Itu Attention-Seeking Behavior?

Meskipun istilah “tukang cari perhatian” sering mendapat stigma buruk, perilaku ini tidak secara inheren negatif. Terlebih, perhatian adalah kebutuhan dasar manusia. Namun, jika ingin mendukung tumbuh kembang emosi dan kemampuan sosial anak agar lebih mereka bisa mengelola dengan lebih baik, Spark Sports Academy bisa menjadi pilihan.

Setiap kelas dan aktivitas ada untuk menumbuhkan kepercayaan diri secara natural tanpa harus “mencari perhatian” dari orang lain. Anda pun bisa melihat program lengkapnya melalui situs resmi dan mencoba promo free trial. Ayo, dukung anak untuk tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan penuh potensi!

Bagikan artikel ini lewat:

© 2024 | Sparks Sports Academy - PT Pendidikan Anak Bangsa

KUOTA PROMO SUDAH DIAMBIL 91%