Mengisap jari merupakan salah satu refleks alami pada manusia, terutama pada anak-anak. Aktivitas thumb sucking ini bahkan sudah bisa terlihat pada janin dalam kandungan ketika pemeriksaan USG. Pada fase perkembangan anak, kebiasaan ini tidak sekadar refleks saja, tapi menjadi kenyamanan diri.
Key Takeaways
- Thumb sucking secara teknis merupakan refleks alami pada manusia, terutama balita, untuk berkomunikasi dengan orang sekitar.
- Kebiasaan mengisap jari menjadi bagian dari fase pertumbuhan normal, tapi wajib dihentikan saat menginjak usia empat tahun.
- Thumb sucking memiliki risiko gangguan kesehatan gigi dan mulut dan sebagai sinyal gangguan kecemasan pada anak.
Mengapa Anak Melakukan Thumb Sucking?
Ada banyak gestur tubuh lain yang dapat menjadi tindakan refleks. Namun, mengapa mengisap jari menjadi perilaku yang paling banyak terjadi? Menurut National Library of Medicine, ada dasarnya, tindakan tersebut merupakan naluri yang memberikan rasa aman dan mengurangi kecemasan pada diri sendiri (self soothing).Â
Bagi anak-anak, terutama usia di bawah tiga tahun (batita) yang belum terlalu lancar dalam komunikasi verbal, mengisap jari merupakan cara alami untuk berekspresi, mengeksplorasi dunia, dan menemukan kenyamanan. Kebanyakan dari mereka menggunakan kebiasaan ini untuk menyampaikan rasa lapar, bosan, takut, atau lelah.
Kebiasaan tersebut biasanya berhenti secara alami pada usia 2-4 tahun. Jadi, mengisap jari, teknisnya, bukan perilaku yang perlu orang tua khawatirkan. Bahkan, aktivitas tersebut dapat merangsang reseptor tertentu di otak yang melepaskan ketegangan mental dan fisik, sehingga mencegah anak menjadi stres.
Namun, Anda perlu merasa khawatir dan mencari cara menghentikan kebiasaan thumb sucking pada anak ketika sudah memasuki usia lebih dari empat tahun dan menjelang gigi permanen tumbuh. Sebab, membiarkan anak terus melakukannya berpotensi besar memengaruhi kesehatan gigi dan mulut mereka.
Dampak Mengisap Jari pada Perkembangan Gigi dan Mulut
Lebih jauh, masalah kesehatan gigi dan mulut yang muncul jika kebiasaan mengisap jari berlanjut melampaui masa balita, terutama ketika gigi permanen mulai tumbuh, cukup banyak. Hal ini karena adanya tekanan konstan dari ibu jari pada gigi dan rahang yang sedang tumbuh.
Menurut Department of Health, State Government of Victoria, Australia, risiko-risiko tersebut adalah sebagai berikut:
- Gigi Tonggos (Overjet): Gigi depan atas terdorong maju akibat tekanan yang dapat mengubah bentuk wajah dan meningkatkan risiko cedera pada area tersebut.
- Gigi Terbuka (Open Bite): Terjadi celah antara gigi depan atas dan bawah ketika mulut dalam kondisi mengatup. Ini dapat mengganggu cara menggigit, mengunyah, dan berpotensi menyebabkan masalah bicara seperti cadel.
- Gigi Silang (Crossbite): Gigi atas masuk ke bagian dalam gigi bawah, yang dapat menyebabkan pertumbuhan rahang tidak seimbang jika tidak segera mendapat penanganan medis.
- Masalah Bicara: Perubahan posisi gigi dapat mengganggu pembentukan suara tertentu, yang mana juga memengaruhi kemampuan bicara anak.
American Academy of Pediatrics (AAP) menyarankan tindakan medis dini untuk anak-anak yang melanjutkan kebiasaan thumb suckingsetelah usia lima tahun. Namun, kini dokter gigi lebih merekomendasikan untuk mulai mendorong penghentian kebiasaan tersebut sejak usia empat tahun.
Strategi Efektif Menghentikan Kebiasaan Mengisap Jari
Mengatasi kebiasaan mengisap jari membutuhkan kesabaran, dukungan, dan fokus pada penguatan positif, bukan hukuman. Tekanan untuk berhenti justru semakin membuat anak-anak kesulitan. Berikut ini strategi sederhana tapi jitu yang dapat Anda praktikkan untuk menghilangkan kebiasaan thumb sucking secara perlahan.
1. Penguatan Positif (Positive Reinforcement)
Puji dan berikan hadiah kecil, seperti stiker bintang, ketika anak berhasil tidak mengisap jempol. Ini dapat menstimulasi rasa bangga karena melakukan tindakan yang benar dan lambat laun membuat mereka terbiasa.
2. Identifikasi Pemicu
Perhatikan periode waktu anak mengisap jari. Apakah saat fokus menonton atau merasa kelelahan? Identifikasi penyebab kebiasaan tersebut muncul, lalu berikan kenyamanan alternatif seperti memegang benda lain dan pelukan.
3. Distraksi
Libatkan dengan kegiatan yang membutuhkan dua tangan, seperti mewarnai, bermain puzzle, olahraga, atau membuat kerajinan tangan. Ketika mereka sibuk dan berkonsentrasi pada aktivitas lain yang cukup menyita fokus dan menguras tenaga, perhatian mereka jadi teralihkan dari kebiasaan thumb sucking.
Ketika anak menunjukkan penurunan frekuensi tingkah laku mengisap jari melalui tindakan-tindakan di atas, Anda tidak perlu khawatir karena perlahan mereka akan berhenti secara total. Namun, jika rangkaian strategi tersebut tidak berhasil, maka ada dua tenaga profesional yang perlu Anda datangi, yaitu:
- Dokter gigi untuk melakukan pemeriksaan terhadap dampak mengisap jari dalam jangka waktu panjang dan merencanakan intervensi dini medis yang tepat.
- Psikolog anak, hanya ketika mereka menunjukkan gelagat mengisap jari akibat merasa cemas, ketakutan, atau tekanan emosional lainnya.
Mengisap Jari, Refleks Alami yang Perlu Dibatasi
Secara teoritis, thumb sucking merupakan refleks alami manusia, terutama pada anak-anak di masa awal perkembangan mereka. Mengisap jari bisa menjadi bentuk komunikasi ketika lapar, merasa tidak nyaman dengan suhu, dan semacamnya. Namun, penting untuk membatasinya hanya sampai usia empat tahun.
Membiarkannya berlangsung saat periode pertumbuhan gigi permanen dapat memicu banyak gangguan kesehatan gigi dan mulut. Mulai dari tonggos, gigi silang, hingga masalah pelafalan tidak sempurna. Selain dukungan medis dan dukungan orang tua, mengalihkan fokus dengan aktivitas fisik patut Anda coba.
Anak bisa bergabung kelas olahraga di Spark Sports Academy yang memiliki kurikulum khusus dan dukungan pelatih profesional yang berpengalaman. Ada kelas sensory, futsal, taekwondo, balet, dan lainnya yang siap mengambil alih fokus dan energi anak agar melupakan kebiasaan mengisap jari.







