Pengertian Associative Play, Karakteristik, dan Manfaat

Associative Play: Pengertian, Karakteristik, dan Manfaat

Table of Contents

Perkembangan anak melalui beberapa tahapan berbeda dan masing-masing memegang peranan penting. Bermain secara asosiatif (associative play) menjadi salah satu tahapan krusial di dalamnya yang menjadi jembatan antara bermain paralel yang semi individual menuju kerja sama dan interaksi terorganisir.

Key Takeaways

  • Associative play merupakan jembatan antara parallel play dan cooperative play yang terjadi pada anak berusia 3-5 tahun.
  • Fase ini membuat anak bermain bersama dan melibatkan interaksi dengan teman sebayanya, tapi belum mencapai tahapan kerja sama.
  • Ini adalah gerbang utama anak untuk belajar bekerja sama dengan orang lain, mau mendengar, hingga meningkatkan motoriknya.

Definisi dan Karakteristik Associative Play

Berdasarkan klasifikasi tahap-tahap bermain oleh psikolog sosial Mildred Parten pada 1932, associative play adalah tahapan kelima dari fase perkembangan sosial pada anak. Umumnya, kondisi ini berlangsung pada anak yang berusia 3–5 tahun.

Secara teknis, bermain asosiatif melibatkan partisipasi dua anak atau lebih dalam aktivitas yang sama, yang seringkali berbagi bahan atau mainan dan mungkin berkomunikasi satu sama lain. Namun, aktivitas mereka tidak memiliki tujuan atau organisasi bersama yang terstruktur atau tidak terjadi kerja sama sama sekali.

Beberapa karakteristik utama yang membedakan bermain asosiatif dengan tahapan-tahapan lainnya pada perkembangan anak, terutama parallel play (sebelum) dan cooperative play (setelah), adalah sebagai berikut.

  • Aktivitas Serupa, Tujuan Individual: Anak-anak melakukan kegiatan yang sama, misalnya sama-sama membangun balok, tetapi setiap anak tetap fokus pada preferensi dan tujuan mereka sendiri, tanpa menyepakati hasil akhir.
  • Berbagi Materi Tanpa Berbagi Tujuan: Ada kemauan untuk berbagi alat atau mainan, tapi tidak ada kesepakatan untuk berbagi peran atau alur permainan.
  • Interaksi Verbal dan Minat Sosial: Anak-anak mulai berinteraksi secara verbal, berkomentar tentang kegiatan teman sebayanya, atau bertanya tentang mainan. Perhatian mereka beralih dari sekadar bermain sendiri menjadi aktivitas yang menunjukkan minat pada orang lain di sekitar mereka.
  • Peran Fleksibel dan Aturan yang Berubah-ubah: Meskipun anak mulai berinteraksi hingga bernegosiasi secara verbal, tapi topiknya cenderung fleksibel dan dapat berubah dengan cepat tanpa kesepakatan formal.

Manfaat Krusial Bermain Asosiatif bagi Perkembangan Anak

Sebagaimana tahapan perkembangan lainnya, masa transisi ke fase associative play merupakan langkah besar dalam pengembangan keterampilan hidup anak. Interaksi yang terjadi di tahap ini memberikan sederet manfaat krusial berikut ini.

1. Pengembangan Keterampilan Sosial

Fase ini menjadi panggung pertama anak untuk belajar bersosialisasi dan berinteraksi dengan teman sebaya di luar lingkungan keluarga. Anak bisa mulai memahami dinamika kelompok dan cara menjadi bagian dari komunitas kecil.

2. Peningkatan Kemampuan Berbahasa dan Komunikasi

Ketika anak mulai mengobrol, berkomentar, atau bernegosiasi tentang berbagi mainan, kemampuan bahasa dan komunikasi mereka otomatis terasah secara signifikan.

3. Belajar Berbagi dan Bernegosiasi

Karena bermain asosiatif melibatkan upaya berbagi bahan, anak secara alami berlatih konsep berbagi dan bergiliran. Anak belajar bagaimana bernegosiasi atau bertukar mainan, yang merupakan dasar dari tahapan kooperatif yang menjadi fase selanjutnya.

4. Pengembangan Empati dan Kesadaran Sosial

Dengan memperhatikan dan berinteraksi dengan teman sebayanya, anak mulai melepaskan ego yang besar dan menyadari keberadaan, perasaan, dan keinginan orang lain. Ini adalah langkah awal penting dalam menumbuhkan empati.

5. Keterampilan Fisik dan Motorik

Banyak contoh associative play yang melibatkan aktivitas fisik guna mendorong pergerakan, seperti berlari, melompat, atau mengayuh sepeda. Ini membantu meningkatkan keterampilan motorik kasar anak.

Penerapan Associative Play dengan Dukungan Orang Tua

Meskipun anak-anak pasti melewati fase pertumbuhan yang satu ini, bukan berarti mereka tidak membutuhkan dukungan orang tua untuk melaluinya dengan baik. Tidak perlu keterlibatan ekstrem, Anda sebagai orang tua dapat menunjukkan dukungan dengan memfasilitasi lingkungan bermain yang kaya interaksi.

Anda bisa mencoba untuk membangun suasana seperti berikut sebagai upaya mendukung anak melewati fase bermain asosiatif dengan baik.

  • Bermain Balok atau Lego: Beberapa anak duduk bersama di karpet, masing-masing membangun menara atau struktur sendiri, terkadang meminjam balok satu sama lain atau berkomentar tentang bangunan teman.
  • Bermain Peran: Menjadi dokter atau koki merupakan impian umum banyak anak. Anda bisa memanfaatkan hal tersebut dengan menciptakan suasana seperti rumah sakit dan dapur profesional melalui mainan yang dimiliki. Biarkan si kecil bermain dengan teman-temannya di situ.
  • Bersepeda atau Lari di Taman: Sekelompok anak mengayuh sepeda roda tiga atau berlari berkeliling di taman yang sama. Mereka tidak mengatur rute atau tujuan, tetapi hanya menikmati kehadiran dan kebersamaan, sesekali berbicara satu sama lain.
  • Menggambar Bersama: Anak-anak duduk di meja yang sama dengan cat dan kuas yang sama, masing-masing sibuk melukis kanvas atau kertasnya sendiri. Mereka bisa bertukar cat warna atau berkomentar tentang gambar teman sebagai masukan yang jujur.

Bermain Asosiatif, Persiapan Kehidupan Sosial Anak

Penjabaran di atas menunjukkan bahwa assosiative play merupakan fase penting dalam pertumbuhan anak. Anak belajar berinteraksi dalam permainan bersama, tapi tidak memiliki kesepakatan atau kerja sama atas hasil akhir. Ini merupakan gerbang utama menuju cooperative play sebagai puncak.

Salah satu cara terbaik untuk mendukung masa transisi tersebut adalah melatih anak dengan aktivitas terstruktur yang menyenangkan dan melibatkan interaksi tim seperti olahraga. Bukan sekadar mengejar kebugaran fisik, olahraga untuk anak juga mengajarkan koordinasi dan disiplin.

Kelas olahraga di Spark Sports Academy menjadi solusi terbaik atas kebutuhan tersebut. Tersedia banyak kelas yang dapat mendukung interaksi sekaligus melatih kerja sama tim pada anak, seperti basket, futsal, taekwondo dan lainnya. Anak akan mendapatkan pendampingan profesional untuk mendapatkan hasil sesuai harapan.

Bagikan artikel ini lewat:

© 2024 | Sparks Sports Academy - PT Pendidikan Anak Bangsa

KUOTA PROMO SUDAH DIAMBIL 91%