-
Author: Tim Sparks Sports Academy
Menjadi orang tua sering kali disebut sebagai “pekerjaan seumur hidup yang tidak memiliki panduan resmi. Banyak orang tua belajar parenting sejak anak lahir, padahal jika sudah paham sejak awal dapat meminimalisir banyak konflik dan kebingungan dalam pengasuhan.
Ketika parenting dilakukan tanpa dasar ilmu, orang tua berisiko mengasuh anak berdasarkan emosi sesaat atau pola lama yang tidak relevan dengan zaman sekarang.
Lalu, apa sebenarnya makna parenting, mengapa penting dipahami sejak dini, dan bagaimana cara menerapkannya dengan tepat? Di artikel ini akan dibahas secara rinci dan mudah dipahami.
Pentingnya Memahami Parenting Sebelum Berkeluarga
Parenting atau pengasuhan anak adalah proses yang melibatkan aktivitas, sikap, dan tanggung jawab orang tua dalam mendidik, membimbing, serta membentuk kepribadian dan mental anak agar menjadi individu yang sehar, mandiri, dan bertanggung jawab.
Memahami ilmu parenting sebelum memutuskan untuk memiliki anak adalah hal yang penting. Menurut studi Journal of Early Human Development, orang tua yang sudah memiliki ilmu parenting akan lebih siap secara emosional dan mental dalam menghadapi tantangan yang muncul selama proses pengasuhan.
Orang tua akan memahami bahwa setiap anak memiliki karakter yang unik dan memerlukan pendekatan yang berbeda. Dengan mengetahui ilmu ini terlebih dahulu, orang tua bisa mencegah kesalahan dalam pengasuhan yang berpontensi mengganggu mental anak.
Memahami ilmu parenting juga membantu orang tua menciptakan lingkungan yang positif, aman, dan nyaman bagi anak.
Tujuan Utama Parenting
Orang tua pasti ingin anaknya tumbuh bahagia dan sukses. Parenting adalah salah satu kunci sukses untuk mewujudkan anak tumbuh optimal secara fisik, emosional, dan sosial.
Tujuan utamanya adalah sebagai berikut
- Membentuk kepribadian: Mengembangkan anak menjadi lebih pribadi yang baik, berkarakter, dan memiliki mental yang sehat, termasuk mengelola emosi.
- Mencapai kemandirian: Mengajarkan anak dengan keterampilan hidup agar bisa tumbuh menjadi probadi yang mandiri dan bertanggung jawab.
- Menciptakan kebahagiaan: Membangun lingkungan yang positif, aman, dan nyaman agar anak dapat memenuhi perasaan bahagia dan percaya diri.
- Memenuhi Kebutuhan Anak: Memastikan keselamatan, kesehatan, dan dukungan emosional yang dibutuhkan anak untuk tumbuh kembang optimal.
- Membangun Ikatan Kuat: Parenting bisa menjalin hubungan yang erat dan penuh kasih sayang antara orang tua dan anak
Manfaat Parenting bagi Orang Tua
Parenting tidak hanya soal mengasuh anak, tetapi proses belajar dan bertumbuh bagi orang tua. Berikut adalah manfaat yang dirasakan orang tua saat parenting:
- Meningkatkan Keterampian Interaksi: Seiring berjalannya waktu, orang tua akan mengetahui dan beradaptasi dalam hal berinteraksi ketika anak bertambah umur.
- Mendapat Perspektif Baru: Orang tua harus bisa memahami dan memberika pengajaran tentang perspektif yang disampaikan oleh anak.
- Memahami Psikologis Anak: Orang tua harus mengetahui dan memahami kebutuhan psikologis anak mulai dari emosional, kebutuhan sosial, dan mental.
- Mengelola Emosi dan Stres: Orang tua bisa mengelola stres nya, karena memiliki panduan jelas dalam menghadapi tantangan mengasuh anak.
- Memahami Karakter Anak: Setiap anak memilik karakter yang berbeda dan tidak bisa dipaksakan. Orang tua harus beradaptasi karakter anak yang terbentuk dari lingkungan sosialnya.
Prinsip Parenting
Mom/Dad harus membayangkan anak adalah kertas putih kosong yang dapat dihias dengan berbagai tulisan atau coretan. Hiasan itu bisa menjadi indah atau malah tidak beraturan tergantung dari Mom/Dad mengasuhnya.
Berikut ini adalah prinsip yang bisa ditetapkan:
1. Menjadi Teladan yang baik
Sikap keteladanan Mom/Dad sangat dibutuhkan oleh anak zaman sekarang. Dengan mudahnya konten negatif masuk melalui media sosial, Mom/Dad perlu memberikan teladan yang baik dalam bertutur dan bersikap. Jika sudah diterapkan dengan baik, anak akan tumbuh menjadi teladan yang baik, dan memiliki karakter yang positif.
2. Tidak Memanjakan Anak
Ingin memanjakan anak adalah hal yang wajar, tapi jangan berlebihan. Jika anak terlalu dimanja, maka anak Mom/Dad tidak akan tumbuh menjadi anak yang mandiri dan percaya diri.
3. Berikan Quality Time
Mom/Dad bisa luangkan waktu khusus yang cukup pada anak. Dengan itu, anak bisa tumbuh menjadi sosok yang berkelakuan baik arena mendapat kasih sayang dan perhatian yang cukup.
4’C Parenting
Dalam praktik parenting, terdapat prinsip yang dikenal dengan 4C, yaitu:
- Care (Peduli): Anak harus merasakan rasa peduli dan kasih sayang dari orang tua.
- Consistency (Konsisten): Aturan yang berubah-ubah membuat anak bingung. Mom/Dad harus konsisten dalam peraturan agar anak memahami batasan.
- Choices (Pilihan): Ajari anak untuk memilih dengan alasan yang masuk akal. Hal ini membuat mereka belajar tentang mengambil keputusan dan kemandirian.
- Consequences (Konsekuensi): Mom/Dad bisa mengajari anak mengambil konsekuensi atas pilihannya. Hal ini membuat anak mengerti bagaimana pilihan bisa memengaruhi hasil.
Cara Parenting yang Baik
Memahami konsep saja tidak cukup jika tidak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Parenting yang baik terlihat dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Berikut adalah cara terbaik yang bisa diterapkan:
1. Samakan Pola Parenting antara Ibu dan Ayah
Parenting tidak hanya dilakukan oleh ibu saja, tetapi ayah juga harus melakukannya. Jangan sampai memakai pola yang berbeda antara ibu dan ayah. Jika berbeda maka polanya tidak akan efektif.
2. Orang tua Sebagai Cermin Utama
Anak adalah peniru yang ulung. Mereka lebih melihat apa yang dilakukan orang tuanya daripada apa yang dikatakan. Mom/Dad bisa menunjukan kebiasaan positif secara langsung, seperti budaya mengucap tolong, terima kasih, maaf, bersikap jujur, serta menjunjung toleransi.
3. Kendalikan Emosi di Depan Anak
Mom/Dad perlu mengontrol emosi agar tidak terlalu meledak saat marah di depan anak. Perilaku kasar atau bentakan akan dianggap reaksi yang benar oleh anak, sehingga mereka berisiko meniru sikap tersebut.
4. Ganti Ancaman dengan Penjelasan Konsekuensi
Menakuti anak dengan ancaman tidak akan mengajarkan kebaikan, malah bisa membuat mereka kesal dan merasa bahwa mengancam adalah cara mendapatkan keinginan. Gunakan pendekatan yang lebih logis dengan memberikan pilihan atau menjelaskan konsekuensi positif dari sebuah tindakan.
5. Validasi dan Kelolas Perasaan Anak
Ajari anak untuk mengenali dan menerima emosinya, baik itu sedih, kecewa, maupun marah. Membiarkan anak mengekspresikan perasaanya (misalnya menangis saat sedih) sangat penting agar mereka bisa belajar mengelola emosi tersebut, sehingga tumbuh menjadi pribadi yang tanggu secara mental.
6. Ekspresikan Kasih Sayang dan Apresiasi
Tunjukan rasa sayang melalui kontak fisik (pelukan/ciuman) dan quality time. Selain itu, berikan apresiasi dan tunjukan rasa bangga atas usaha yang dilakukan si anak, tanpa mempedulikan hasil akhirnya. Hal ini sangat efektif untuk meningkatkan rasa percaya diri dan kepatuhan anak.
7. Hindari Ekspektasi Berlebih
Setiap anak memiliki keunikan dan batasan yang berbeda-beda. Mom/Dad jangan memaksakan kehendak atau menuntut hasil yang sempurna. Itu akan memberikan tekanan mental pada anak dan memicu stress. bersikaplah fleksibel dan sesuaikan harapan dengan kemampuan serta tahap perkembangan anak.
Aspek Penting dalam Parenting
Parenting adalah proses menyeluruh yang mencakup berbagai aspek kehidupan anak. Beberapa aspek pentingnya adalah sebagai berikut:
- Aspek emosional: bagaimana orang tua merespons perasaan anak
- Aspek sosial: kemampuan anak berinteraksi dengan orang lain
- Aspek moral: nilai dan etika yang ditanamkan sejak dini
- Aspek kognitif: dukungan terhadap kemampuan berpikir dan belajar
- Aspek fisik: pemenuhan kebutuhan dasar dan kesehatan anak
Ketika semua aspek tersebut terpenuhi secara seimbang, anak akan tumbuh dengan fondasi yang kuat.
Jenis-Jenis Parenting
Mom/Dad pasti memiliki gaya parenting yang berbeda. Berikut adalah jenis parenting yang sering diterapkan orang tua:
1. Attachment Parenting
Metode pengasuhan anak ini ditemukan oleh dokter anak Amerika; Dr. William Sears dan istrinya, Martha Sears, RN. Attachment parenting adalah pola asuh yang responsf sehingga anak bisa tumbuh menjadi karakter yang lebih tangguh, menjaga harga diri, serta mampu membangun hubungan yang sehat.
2. Helicopter Parenting
Istilah gaya pengasuhan ini adalah ketika orang tua terus mengitari anaknya seperti helikopter. Di sini, orang tua selalu mengawasi setiap langkah dan keputusan anak. Tujuan dari gaya pengasuhan ini adalah untuk melindungi dan memastikan anak tidak gagal.
Namun, hal ini bisa menekan perkembangan psikologis anak karena tidak diberi ruang untuk menghadapi risiko dan tanggung jawab sendiri.
3. Gantle Parenting
Gantle parenting adalah pendekatan yang menempatkan empati dan komunikasi sebagai pondasi utama mendidik anak. Pola asuh ini ditemukan oleh Sarah Ockwell-Smith, yang percaya bahwa anak belajar efektif lewat contoh positif, bukan tekanan.
Riset dari ParentData.org pun menunjukkan bahwa anak yang dibesarkan dengan cara ini cenderung memiliki pengendalian emosi yang lebih baik.Â
4. Snowplow Parenting
Snowplow Parenting adalah pola asuh anak yang di mana orang tua berusaha menghilangkan segala rintangan anaknya. Hal ini berdampak pada kemandirian dan percaya diri anak.
5. Mindful Parenting
Dilansir dari Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat (2022), pola pengasuhan ini dilakukan dengan menghadirkan perhatian sepenuhnya pada momen yang sedang berlangsung. Artinya, orang tua tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga mental dan emosional.
6. Digital Parenting
Digital parenting adalah praktik pengasuhan di mana orang tua berusaha memahami, mendukung, dan mengatur aktivitas anak di dunia maya. Itu artinya, orang tua membekali anak dengan kesadaran atas risiko, keterampilan digital, dan kepercayaan diri dalam menavigasi dunia online secara tepat dan aman.
7. Authoritative Parenting
Pola asuh ini berdasarkan pada orang tua yang terlibat aktif dalam kehidupan anak, tapi terbuka untuk bertukar pikiran dalam segala hal. Orang tua otoritatif berekspektasi tinggi, tetapi tidak memaksa anak untuk patuh.
8. Uninvolved Parenting
Uninvolved Parenting adalah pola asuh orang tua yang cuek dalam kehidupan anak, baik secara fisik maupun emosional. Orang tua jarang memberikan dukungan, bimbingan, atau bahkan sekedar perhatian terhadapi kebutuhan anak.
Biasanya, pola asuh ini terjadi tanpa disadari. Beberapa orang tua memiliki kesibukan atau tekanan mental yang membuatknya kehilangan energi untuk hadir sepenuhnya pada anak.
Baca juga: 8 Tips Parenting Anak, Berkarakter Berani dan Cerdas!
9. Elephant Parenting
Melansir dari Parents, Elephant Parenting adalah pola asuh anak yang menekankan hubungan emosional maupun fisik. Pola ini ditekankan pada kelembutan , perlindungan, dan kasih sayang penuh untuk anak.
10. Permissive Parenting
Dilansir dari Healthline, pola asuh permisif adalah gaya asuh orang tua yang selalu hangat, suportif, dan responsif. Tetapi, orang tua biasanya menerapkan sedikit aturan dan disiplin. Orang tua permisif cenderung menghindari konflik dan sulit mengatakan “tidak” pada anak.
11. Milenial Parenting
Pola asuh milenial adalah gaya asuh yang dilakukan oleh generasi milenial (lahir sekitar 1981-1996). Gaya asuh ini dipengaruhi oleh teknologi, akses informasi, dan perubahan pola hidup modern. Oleh karena itu, orang tua cenderung lebih demokratis dengan pembagian tanggung jawab aya dan ibu yang seimbang.
Selain itu, orang tua menerapkan nilai-nilai mindfulness dan kecerdasan emosional agar mendorong anak pada kesadaran diri dan mengedepankan kesehatan mental
12. Parenting VOC
Istilah ini dipopulerkan oleh konten kretor bernama Jenni Lim atau Mamak Melvin. Pola asuh ini berarti kedisiplinan dan cenderung otoriter. Kata “VOC” berasal dari Vereenigde Oostindische Compagnie, perusahaan dagang yang didirikan oleh Belanda di masa penjajahan Indonesia. VOC terkenal sebagai perusahaan dagang yang kejam.
Nah, istilah pola asuh VOC terinspirasi dari sifat tersebut, di mana orang tua akan bersikap tegas dan otoriter dalam mendidik anak.
13. Dolphin Parenting
Ini adalah jenis pola asuh yang menyeimbangkan kedisiplinan dan kebebasan, serta ketegasan dan kehangatan. Mirip induk lumba-lumba yang tegas namun fleksibel. Tujuan dari pola asuh ini adalah anak tumbuh menjadi individu yang bahagia, mandiri, cerdas, percaya diri, dan berani mengambil risiko.
14. Neglect Parenting
Neglect parenting adalah pola asuh orang tua yang tidak banyak terlibat di kehidupan anaknya. Orang tua dengan pola asuh seperti ini sering kali tampak pasif dalam merespon kebutuhan anak. Alhasil anak harus belajar memnuhi kebutuhannya sendiri sejak dini tanpa mendapat arahan yang memadai dari orang tua.
15. Free-range Parenting
Pola asuh ini memberikan kebebasan pada anak untuk mengembangkan diri secara mandiri. Dalam praktiknya, bukan berarti anak bebas tanpa batasan, melainkan orang tua memberi kebebasan dalam kerangka yang aman dan terukur.
Pola asuh ini adalah alternatif dari gaya pengasuhan “helicopter” atau “cotton-wool” yang cenderung terlalu melindungi, dan menurut beberapa penelitian dapat berdampak negatif.
16. Crunchy Parenting
Pola asuh ini berasal dari istilah “crunchy mom” yaitu orang tua yang memilih pendekatan alami dalam pengasuhan anak. Crunchy parents memilih gaya hidup seperti menyusui ekslusif bukan dengan susu formula, menggunakan popok kain, menghindari bahan kimi sintetis, hingga memilih makanan organik.
Pengasuhan ini mencerminkan filosofi back to nature parenting yang menekankan keseimbangan antara tubuh, pikiran, dan alam. Bukan sekadar tren, pengasuhan ini lebih seperti cara pandang hidup, yaitu slow pace, menghargai proses, dan membangun koneksi emosional yang lebih kuat antara orang tua, anak, dan lingkungan.
Baca juga: Parenting VOC: Pengertian, Ciri, dan Dampaknya terhadap Anak
Tips Memilih Gaya Parenting
Memilih gaya parenting yang cocok memang membingungkan karena terlalu banyak istilah baru. Daripada terjebak pada istilah-istilah tersebut, Mom/Dad harus fokus pada hal-hal mendasar seperti:
- Komunikasi adalah kunci: Mom/Dad harus memahami karakter unik anak dari pada mengikuti teori atau membandingkan diri dengan orang lain.
- Disiplin Positif: Disiplin bukan berarti menghukum atau memukul, melainkan mengajar dan melatih. Gunakan pendekatan yang saling menghargai agar anak merasa aman.
- Kehadiran dan Empati: Perlakukan anak sebagaimana Mom/Dad ingin diperlakukan saat masih kecil dulu, seperti ingin didengar, dimengerti, dan diperhatikan.
Menjadi orang tua adalah proses belajar yang terus menerus. Mom/Dad harus memberntuk anak dengan kasih sayang, perhatian, kehadiran nyata.
Parenting adalah perjalanan panjang yang penuh tantangan, pembelajaran, dan proses bertumbuh anak dan orang tua. Dengan memahami konsep parenting orang tua bisa melahirkan fondasi kuat untuk anak.
Tetapi, parenting tidak cukup jika diterapkannya di rumah saja. Anak juga membutuhkan lingkungan yang mendukung perkembangan karakter, kepercayaan diri, dan kemampuan sosialnya sejak dini.
Jika Mom/Dad ingin mendukung proses mengasuh anak secara optimal melalui aktivitas yang terarah, positif, dan menyenangkan, Sparks Sports Academy bisa menjadi pilihan. Program di Sparks Sports Academy dirancang untuk membantu anak belajar disiplin, kerja sama, dan percaya diri melalui aktivitas olahraga yang menyenangkan.







