Mengenal 7 Dasar Sensori Integrasi dan Pengertiannya

Mengenal 7 Dasar Sensori Integrasi dan Pengertiannya

Table of Contents

Orang tua tentu ingin anak tumbuh optimal, tidak hanya cerdas di akademis, tetapi juga kuat secara fisik dan matang secara emosi. Namun, pernahkah Anda melihat anak mudah terdistraksi, sulit duduk tenang, sensitif pada suara, atau tampak ceroboh saat bergerak? Hal tersebut bisa berkaitan dengan sensori integrasi (SI).

Sensori integrasi sendiri merupakan sebuah proses penting dalam perkembangan anak yang seringkali luput dari perhatian. Padahal, proses ini sangat berpengaruh pada cara anak belajar, bergerak, berperilaku, dan berinteraksi dengan orang lain. Ingin tahu lebih lanjut? Simak artikel ini sampai habis!

Key Takeaways:

  • SI berperan penting dalam membantu anak memproses dan merespons rangsangan dari lingkungan secara tepat.
  • Terapi ini dilakukan oleh terapis okupasi untuk menangani anak dengan hambatan pemrosesan sensorik.
  • Pendekatan yang dilakukan dengan benar akan mendukung perkembangan anak, baik dalam kemampuan belajar, mengontrol emosi, maupun berinteraksi sosial.

Apa Itu Sensori Integrasi?

Melansir Alodokter, sensori integrasi atau sensory integration kerap kali dikenal sebagai bentuk intervensi yang diterapkan oleh terapis okupasi untuk membantu anak yang mengalami hambatan dalam pemrosesan rangsangan sensorik. 

Jurnal Sari Pediatri juga menyebutkan bahwa, sensory integration merupakan kemampuan otak untuk mengenal, mengolah, dan membedakan sensasi atau informasi. Informasi tersebut sendiri berasal dari panca indra serta sistem gerak tubuh, lalu menggunakannya untuk merespons lingkungan secara tepat.

Anak yang mengalami gangguan sensory integration pun cenderung kesulitan memproses informasi sensori, berdampak pada aktivitas sehari-hari, konsentrasi, dan perilaku. Karena itu, terapis kerap menggunakannya untuk mendukung perbaikan, perkembangan, proses belajar, serta kemampuan berinteraksi anak.

7 Dasar Sensori Integrasi

Setelah mengetahui definisinya, mari mengenal sistem sensori yang terlibat dalam sensory integration. 

1. Sistem Visual (Penglihatan)

Sistem visual tidak hanya soal melihat dengan jelas, tetapi juga bagaimana anak menafsirkan apa yang mereka lihat. Anak yang sistem visualnya berkembang baik mampu mengenali bentuk, jarak, arah, dan koordinasi mata-tangan. 

Keterampilan ini penting saat anak belajar membaca, menulis, menangkap bola, atau meniru gerakan. Jika sistem ini kurang optimal, anak bisa mudah lelah saat belajar atau kesulitan fokus pada aktivitas visual.

2. Sistem Auditori (Pendengaran)

Sistem auditori dalam sensori integrasi akan membantu anak memahami suara di sekitarnya, termasuk bahasa, instruksi, dan nada emosi. Anak dengan integrasi auditori yang baik dapat menyaring suara penting dan mengabaikan suara latar yang mengganggu. 

Sebaliknya, anak yang sensitif terhadap suara bisa mudah terganggu di lingkungan ramai atau sulit mengikuti instruksi verbal. Tentu saja, ini akan berdampak pada proses belajar dan sosialnya.

3. Sistem Taktil (Peraba)

Sentuhan adalah indra pertama yang berkembang sejak bayi. Sistem taktil berperan besar dalam rasa aman dan kenyamanan anak. Selain itu, mengutip Physiopedia, reseptor kulit akan meneruskan informasi ke area otak yang berbeda-beda, yaitu primary sensory cortex dan secondary somatosensory cortex.

Anak yang sensori taktilnya seimbang biasanya nyaman disentuh, tidak terlalu reaktif terhadap tekstur pakaian, pasir, atau cat. Namun, bila sistem ini terganggu, anak bisa menjadi terlalu sensitif atau justru kurang peka terhadap sentuhan, sehingga memengaruhi keberanian mereka saat bermain dan bereksplorasi.

4. Sistem Vestibular (Keseimbangan)

Melansir laman Michigan State University, sistem vestibular berkaitan dengan keseimbangan dan kesadaran posisi kepala terhadap gravitasi. Sistem ini sangat penting untuk aktivitas seperti berlari, melompat, berputar, dan menjaga postur tubuh. 

Anak yang vestibularnya berkembang baik akan lebih percaya diri bergerak dan jarang terjatuh. Sebaliknya, anak bisa terlihat takut bergerak, mudah pusing, atau justru sangat aktif tanpa kontrol bila sistem ini belum terintegrasi dengan baik.

Baca juga: Mengenal Kelas Sensori Anak dan Manfaatnya Bagi Si Kecil

5. Sistem Proprioseptif (Kesadaran Tubuh)

Proprioseptif membantu anak mengenali posisi tubuhnya tanpa harus melihat tubuhnya sendiri. Sistem sensori integrasi ini bekerja saat anak mendorong, menarik, memanjat, atau mengangkat benda. 

Integrasi proprioseptif yang baik akan membuat anak mampu mengontrol kekuatan gerakan dan koordinasi tubuh. Anak yang kesulitan pada sistem ini sering tampak ceroboh, menabrak benda, atau sulit mengatur tekanan saat menulis dan memegang alat.

6. Sistem Olfaktori (Penciuman)

Meski sering dianggap sepele, penciuman berperan dalam memori, emosi, dan preferensi anak. Mengutip NAPA, bau juga dapat memberikan rasa rileks dan menjaga mood. Misalnya, bau masakan rumahan bisa memicu rasa nyaman atau bau bunga yang justru dapat menimbulkan penolakan. 

Anak dengan sensori olfaktori yang sensitif mungkin akan menolak makanan tertentu atau merasa tidak nyaman di lingkungan tertentu. Karena itu, pemahaman akan sistem ini membantu orang tua lebih empatik dalam menghadapi reaksi anak.

7. Sistem Gustatori (Pengecap)

Sistem gustatori berkaitan dengan kemampuan mengecap rasa. Anak dengan integrasi gustatori yang baik biasanya lebih fleksibel dalam menerima variasi makanan. 

Jika tidak, anak bisa menjadi picky eater ekstrem atau sangat selektif terhadap tekstur dan rasa. Hal tersebut tidak hanya berdampak pada nutrisi, tetapi juga pada pengalaman sosial seperti makan bersama.

Mengapa Sensori Integrasi Penting untuk Aktivitas Anak?

Anda perlu memahami bahwa ketujuh sistem sensori integrasi tidak bekerja sendiri-sendiri, melainkan saling terhubung. Sistem sensory integration yang baik akan membantu anak lebih siap mengikuti aktivitas fisik, permainan kelompok, dan proses belajar.  

Itulah alasan olahraga dan aktivitas edukatif berbasis gerak efektif mendukung perkembangan sensori, terutama pada usia balita hingga sekolah dasar. Jika sedang mencari program yang mampu mendukung perkembangan sensori secara menyeluruh pada anak, Sparks Sports Academy bisa menjadi pilihan. Program yang ada dirancang khusus untuk anak-anak dengan pendekatan berbasis gerak, bermain, dan eksplorasi, sehingga membantu mengintegrasikan sistem visual, vestibular, proprioseptif, dan lainnya secara natural. Anda dapat mengenal lebih jauh programnya dengan mendaftar free trial class Sparks Sports Academy!

Bagikan artikel ini lewat:

© 2024 | Sparks Sports Academy - PT Pendidikan Anak Bangsa

KUOTA PROMO SUDAH DIAMBIL 91%