Jangan Paksa Anak Jadi Dewasa! Orang Tua Wajib Mengenali Hurried Child Syndrome

Jangan Paksa Anak Jadi Dewasa! Orang Tua Wajib Mengenali Hurried Child Syndrome

Table of Contents

Di zaman modern dan serba cepat, Mom/Dad pastinya akan memberikan yang “terbaik” untuk anaknya. Mulai dari les akademik hingga non-akademik yang padat sejak dini. Namun tanpa disadari, “pemberian” ini bisa memicu fenomena yang disebut hurried child syndrome atau HCS.

Istilah ini dipopulerkan oleh David Elkind yang ditulis di bukunya “The Hurried Child“. Fenomena ini digambarkan sebagai kondisi anak yang dipaksa tumbuh dan berperilaku dewasa sebelum waktunya.

Lalu, apa definisi hurried child syndrome dan bagaimana dampaknya untuk anak di masa depan? Simak artikel berikut ini supaya Mom/Dad paham!

Apa itu Hurried Child Syndrome?

Menurut David Elkind lewat bukunya The Hurried Child, definisi hurried child syndrome (HCS) adalah anak dipaksa untuk cepat dewasa dengan memadati jadwal anak-anak mereka dengan banyak aktivitas.

Hal ini terjadi karena perubahan sosial yang cepat, kecemasan orang tua, dan kepercayaan masyarakat bahwa dewasa lebih cepat bisa meringankan beban orang tua. Padahal, masa anak-anak adalah waktunya untuk bermain, bereksplorasi, dan belajar secara alami. Ketika fase ini “dipercepat”, maka perkembangan mental dan emosional anak bisa terganggu.

Faktor Penyebab Terjadinya Hurried Child Syndrome pada Anak

Menurut David Elkind, terdapat 3 faktor utama yang mendorong anak mengalami HCS, yaitu:

1. Orang Tua

Beberapa orang tua melihat anak sebagai orang dewasa mini, bukan sebagai individu yang sedang berkembang. Oleh karena itu, orang tua menjadwalkan kehidupan anak secara berlebihan, mendorong keberhasilan akademik yang intens, dan mengharapkan perilaku dewasa.

Selain itu, ekspektasi berlebihan orang tua ke anak juga bisa memicu HCS karena orang tua ingin memiliki anak yang unggul di segala bidang.

2. Sekolah

Sekolah juga berperan sebagai penyebab anak mengalami HCS. Biasanya di sekolah akan mendorong anak dengan kurikulum atau tugas-tugas yang belum sesuai dengan usia anak. Selain itu, sekolah berfokus pada kelulusan ujian bukan makna dari pendidikan itu sendiri, sehingga bisa memperburuk gejala.

3. Media

Paparan informasi yang tak terhindarkan di zaman sekarang membuat anak menjadi dewasa tidak pada usianya. Orang tua yang terlalu mengkonsumsi media digital menginginkan anaknya menjadi “anak super” yang digambarkan media, dan media sosial juga berperan membentuk sindrom ini.

Contoh Perilaku Orang Tua yang Menyebabkan Anak Hurried Child Syndrome

Tanpa Mom/Dad sadari, berikut adalah contoh tindakan yang dapat memicu HCS:

  • Membawa anak-anak ke tempat les agar bisa membaca sebelum mulai sekolah.
  • Berbagi cerita tentang permasalahan pernikahan atau keuangan dengan anak.
  • Mencekoki anak dengan ide kesuksesan sangat penting dan kemenangan adalah segalanya.
  • Memberi gagasan bahwa pilihan sekolah akan menentukan kehidupan anak.
  • Ekspektasi berlebih ke anak.

Baca juga: Main Character Syndrome: Ketika Anak Menganggap Dirinya Pusat Perhatian

Dampak Buruk Anak yang Memiliki Hurried Child Syndrome

Anak-anak yang mengalami HCS sering merasa stres, tertekan, dan kelelahan. Jika tidak ditangani, maka anak bisa mengalami kesehatan mental yang sama dengan orang dewasa, seperti kecemasan atau depresi.

Ciri-Ciri Anak yang Memiliki Hurried Child Syndrome

Terdapat 3 ciri-ciri anak yang memiliki HCS yang harus disadari Mom/Dad:

1. Anak Takut Kegagalan

Anak HCS ketika dewasa akan menjadi pribadi yang perfeksionis. Sifat ini muncul dari tekanan untuk memenuhi tuntutan yang tinggi dan kritik dari sumber eksternal. Akibatnya, anak menetapkan standar tinggi untuk diri mereka sendiri.

Ketika kinerja anak tidak sesuai dengan standarnya atau menanggapi penilaian orang, mereka akan menilai diri mereka secara negatif. Hal ini menyebabkan anak takut untuk gagal di masa depan.

2. Anak Sulit Menikmati Waktu Istirahat

Anak-anak yang menghabiskan waktunya untuk les dengan jadwal yang padat akan kesulitan untuk menikmati waktu bersantai dan menikmati hiburan. Hal ini bisa berlanjut ketika anak sudah dewasa.

3. Tidak Bisa Berpikir Kreatif

Kebebasan bermain sangat penting untuk menumbuhkan kreativitas anak. Ketika anak kurang bebas dalam bermain dan malah belajar secara berlebihan, anak akan kehilangan kesempatan untuk mengembangkan dan mempraktikkan keterampilan kreatifnya.

Apa yang Harus Orang Tua Lakukan Jika Anak Sudah memilikiHurried Child Syndrome?

Mom/Dad tidak perlu khawatir karena kondisi ini bisa diperbaiki. Beriku langkah yang bisa dilakukan:

  • Evaluasi jadwal anak: Mom/Dad bisa mengurangi aktivitas yang tidak terlalu penting.
  • Kembalikan waktu bermain: Biarkan anak bermain dengan bebas tanpa target.
  • Fokus pada proses, bukan hasil: Mom/Dad harus mengapresiasi atas usaha anak, bukan hanya nilai.
  • Bangun komunikasi terbuka: Mom/Dad wajib mendengar anak tanpa harus menghakimi.
  • Pahami tahap perkembangan anak: Setiap anak memiliki perkembangan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, Mom/Dad harus memahami anak dengan baik.

Hurried child syndrome adalah kondisi anak dipaksa untuk dewasa lebih cepat untuk memenuhi ambisi orang tua. Meskipun berawal dari niat baik, dampaknya bisa memengaruhi kesehatan mental dan perkembangan emosional anak dalam jangka panjang.

Mom/Dad perlu memahami bahwa, masa kecil bukanlah perlombaan. Memberikan anak ruang bermain, dukungan emosional, dan ekspektasi yang realistis jauh lebih penting daripada sekadar prestasi. Karena pada akhirnya, anak yang bahagia akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat.

Bagikan artikel ini lewat:

© 2024 | Sparks Sports Academy - PT Pendidikan Anak Bangsa

KUOTA PROMO SUDAH DIAMBIL 91%