-
Author: Tim Sparks Sports Academy
Tingkah laku anak yang ada-ada saja kadang bisa membuat Mom/Dad marah tanpa sadar, apalagi setelah beraktivitas seharian yang melelahkan. Jika Mom/Dad memarahinya dengan cara membentak atau berteriak, anak akan merasa sakit hati dan cenderung berdampak negatif baginya nanti.
Oleh karena itu, Mom/Dad harus mengetahui cara memarahi anak yang benar agar pesan dan nasihat yang tersampaikan bisa diterima oleh anak tanpa harus melukai hatinya. Di artikel ini akan membahas bagaimana cara memarahi anak yang benar agar Mom/Dad siap menghadapi tingkah laku anak.
Cara Memarahi Anak yang Benar
Mom/Dad bisa menerapkan 15 cara memarahi anak yang benar berikut ini:
1. Mengenali Karakter Anak
Setiap anak memiliki karakter yang berbeda-beda. Seperti contoh, anak pertama cenderung patuh, sedangnkan anak bungsu cenderung lebih ekstpresif. Dengan memahami karakter anak, Mom/Dad bisa memilih cara memarahi anak yang benar tanpa harus membentak atau melakukan kekerasan ke anak.
2. Mengendalikan Emosi
Mom/Dad harus bisa mengendalikan emosi saat menghadapi perilaku anak yang unik. Jika anak bertingkah, Mom/Dad bisa mengambil waktu sejenak untuk menenangkan diri sebelum memarahi anak.
Dikutip dari Child Mind Institute, memarahi anak atau membentak anak dengan cara yang salah akan membuat anak sulit menerima pesan yang Mom/Dad sampaikan. Hal ini malah membuat anak menjadi agresif dan menantang.
Oleh karena itu, Mom/Dad harus mengendalikan emosi dan tetap tenang agar anak memahami pesan yang disampaikan.
3. Memvalidasi Emosi Anak
Anak masih belum bisa mengungkapkan emosinya dengan baik. Oleh karena itu, Mom/Dad harus memvalidasi emosi dengan cara mengakui perasaan yang sedang mereka alami.
Mom/Dad bisa menjelaskan dengan tenang alasan di balik marahnya ke anak. Gunakan bahasa sederhana untuk menjelaskan sebab akibat dari perbuatan mereka.
4. Hindari Tindakan Kasar
Mom/Dad harus menghindari tindakan yang kasar saat memarahi anak. Tindakan kasar akan berefek buruk pada pertumbuhan dan perkembangan anak. Oleh karena itu, Mom/Dad harus mewaspadai efek psikologis dari omelan yang dilontarkan ke anak.
5. Temui Faktor Pemicunya
Mom/Dad bisa mencegah ledakan emosi dengan mengenali alasan di balik kemarahan yang muncul. Rasa marah yang muncul bisa jadi karena perilaku anak atau kondisi fisik dan mental Mom/Dad yang lelah.
Dengan mengenali alasan tersebut, Mom/Dad bisa mencegah ledakan emosi, shingga pikiran jernih dan bisa mengambil tindakan bijak sebelum berhadapan dengan anak.
6. Memprioritaskan Masalah
Tidak semua perilaku anak yang salah harus ditegur. Mom/Dad bisa memilih masalah yang benar-benar penting, seperti membahayakan dirinya atau orang lain. Jika terjadi hal kecil seperti, menumpahkan air, bermain sembarangan, atau rewel, Mom/Dad bisa menegurnya dengan santai.
Dengan begitu, anak merasa dihargai dan belajar tanggung jawab tanpa merasa ditekan.
7. Menggunakan Nada Tegas, tapi Lembut
Mom/Dad bisa menggunakan nada yang tenang tapi tegas saat anak melakukan tindakan yang salah. Hal ini akan mudah dimengerti anak tanpa harus bertindak secara kasar.
Baca juga: 10 Bahaya Membentak Anak yang Berakibat pada Psikologis Anak
8. Memberikan Cara Bersikap yang Benar
Mom/Dad harus mencontohkan cara bersikap yang benar. Seperti contoh, Mom/Dad bisa menjelaskan mengapa menjahili teman secara berlebihan tidak baik dan memberi contoh bagaimana bergaul dengan teman yang benar. Daripada menyalahkan anak, memberi nasihat seperti ini akan mudah dicerna oleh anak.
9. Jangan Berpikir Bahwa Disiplin itu Menghukum
Banyak dari Mom/Dad beranggapan bahwa mendisiplinkan anak sama dengan menghukum anak. Itu adalah salah besar. Mendisiplinkan anak yang benar adalah memberikan pedoman dan menetapkan aturan dan batasan sehingga anak-anak tahu dan paham apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan serta konsekuensi yang akan mereka terima.
Mendisiplinkan anak akan mengajarinya bagaimana cara mengatur diri mereka agar tidak perlu mendapat “hukuman”
10. Ajari Anak Memperbaiki Masalah
Daripada memarahinya, Mom/Dad bisa mengajak anak untuk mencari solusi bersama terkait apa yang mereka lakukan. Pendekatan ini membantu anak bertanggung jawab atas tindakan mereka, bukan hanya takut pada kemarahan. Dengan cara ini, anak dapat memahami bahwa kesalahan bisa diperbaiki.
11. Gunakan Teknik Time-In, Bukan Time Out
Mom/Dad disarankan menggunakan teknik time-in yaitu dengan menemani anak menenangkan diri, dibandingkan teknik time-out yang cenderung menghukum anak saat marah. Metode ini akan memperkuat ikatan emosional antara Mom/Dad dengan anak.
12. Terapkan Mindful Parenting
Mom/Dad bisa mencoba mindful parenting dengan menghadirkan perhatian sepenuhnya ke anak. Parenting ini mengajarkan Mom/Dad untuk tidak beraksi secara impulsif terhadap kelakuan anak.
13. Jangan Memarahi Anak di Depan Umum
Memarahi anak di depan umum bisa melukai hati dan merendahkan harga dirinya. Mom/Dad sebaiknya mengajak anak membahas kesalahannya di lingkungan rumah saja agar pikiran tenang dan jernih.
14. Gunakan Bahasa Positif
Menggunakan bahasa yang positif adalah salah satu cara efektif untuk memarahi anak. Mom/Dad lebih sering menggunakan kata “jangan”, “tidak boleh”, atau”awas”, padahal otak anak pada usia balita hingga prasekolah lebih mudah memahami instruksi yang bersifat “apa yang harus dilakukan, bukan apa yang tidak boleh dilakukan”.
Sebagai contoh, daripada berkata “Jangan lari!”, sebaiknya diubah menjadi “Jalan pelan-pelan ya”.
15. Membangun Hubungan Emosional Sejak Dini
Mom/Dad bisa membangun hubungan emosional dengan anak sejak dini agar anak bisa lebih kooperatif. Dengan cara ini Mom/Dad bisa memiliki fondasi utama dalam mendisiplinkan anak secara positif.
Cara memarahi anak yang benar bukan tentang meluapkan emosi, melainkan membimbing anak memahami batasan dengan penuh kasih sayang. Mom/Dad harus tegas, tetapi diiringi empati dan komunikasi yang sehat. Memahami cara memarahi anak yang benar sejak dini membantu pola asuh yang matang dan minim konflik di masa depan.
Tujuan memarahi bukan untuk membuat anak takut, tetapi untuk membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung awab dan percaya diri.







