-
Author: Tim Sparks Sports Academy
Melihat anak bersikap manja mungkin membuat Anda berpikir, “Apakah ada yang salah dengan pola asuh saya?”. Faktanya, sikap manja pada anak memang muncul sebagai bagian dari proses pertumbuhan. Namun, ada beberapa penyebab anak manja yang sering kali tidak disadari orang tua.
Kabar baiknya, Anda tidak perlu merasa bersalah. Mengasuh anak merupakan proses belajar yang terus berjalan. Dengan memahami penyebab anak cengeng dan manja, Anda bisa membantu si kecil tumbuh lebih mandiri, percaya diri, dan matang secara emosional. Ingin tahu apa penyebabnya? Simak artikel ini selengkapnya ya!
Key Takeaways:
- Rasa sayang yang besar kadang membuat Anda sulit mengatakan “tidak”, sehingga anak belajar bahwa dunia akan selalu mengikuti keinginannya.
- Jika penyebab anak manja tidak orang tua tangani, anak mungkin tumbuh dengan kesulitan mengatur emosi dan kurang percaya diri
- Mendampingi anak tumbuh memang membutuhkan kesabaran, namun dengan pendekatan yang tepat, Anda sedang membantu si kecil berkembang menjadi pribadi yang lebih mandiri.
10 Penyebab Anak Manja
Melansir Haibunda, sikap anak yang manja bisa terjadi karena pola asuh yang salah, tapi dengan mengetahui penyebabnya, orang tua bisa menanganinya dengan membentuk parenting yang tepat. Nah, berikut ini adalah beberapa faktor penyebab anak menjadi manja.
1. Terlalu Sering Menuruti Semua Keinginan Anak
Rasa sayang yang besar kadang membuat Anda sulit mengatakan “tidak”. Namun, ketika hampir semua permintaan anak selalu terpenuhi, ia belajar bahwa dunia akan selalu mengikuti keinginannya. Tanpa batasan yang jelas, anak pun akan kesulitan memahami konsep penolakan dan pengendalian diri.
2. Rasa Kasihan yang Berlebihan
Banyak orang tua merasa tidak tega melihat anak kesulitan, entah saat mencoba memakai baju sendiri atau saat menghadapi tantangan kecil. Padahal, momen-momen itulah yang membantu anak belajar mandiri. Ketika Anda cepat turun tangan, anak kehilangan kesempatan untuk melatih skill problem solving.
3. Kurangnya Konsistensi Aturan di Rumah
Hari ini suatu perilaku dilarang, tapi besok justru dibiarkan. Pola seperti ini akan membingungkan anak. Ia tidak memahami batasan yang pasti sehingga cenderung mencoba terus sampai mendapatkan respons yang ia inginkan. Karena itu, konsistensi adalah fondasi penting agar anak merasa aman dan memahami struktur.
4. Anak Menjadi Pusat Perhatian Berlebihan
Tidak ada yang salah dengan memberi perhatian penuh pada anak. Namun, jika ia selalu menjadi pusat segalanya, anak bisa tumbuh dengan ekspektasi bahwa semua orang harus memprioritaskannya. Ketika berada di lingkungan sosial yang lebih luas, ia mungkin kesulitan beradaptasi karena tidak lagi menjadi satu-satunya fokus.
5. Minimnya Kesempatan Bersosialisasi
Penyebab anak manja selanjutnya adalah anak jarang berinteraksi dengan teman sebaya sehingga kurang terlatih dalam berbagi, bekerja sama, atau menunggu giliran. Padahal, interaksi sosial dapat membantu anak memahami bahwa ia adalah bagian dari kelompok, bukan pusat dari segalanya.
Baca juga: 10 Ciri Ciri Anak Manja dan Parenting Tepat untuk Mengatasinya
6. Terlalu Sering Dibantu dalam Hal Sederhana
Jika anak selalu Anda bantu dalam aktivitas dasar seperti membereskan mainan atau membawa tasnya sendiri, ia akan terbiasa bergantung. Padahal, kemampuan melakukan tugas kecil secara mandiri sangat penting untuk membangun rasa tanggung jawab. Ketika anak merasa mampu, rasa percaya dirinya pun meningkat.
7. Kurangnya Tantangan Fisik dan Mental
Anak membutuhkan tantangan sesuai usianya untuk berkembang optimal. Jika aktivitas hariannya terlalu pasif atau minim stimulasi, ia kurang belajar menghadapi kesulitan. Tantangan melalui permainan aktif, olahraga, atau aktivitas edukatif akan membantu membangun ketahanan mental dan kemampuan regulasi emosi.
8. Orang Tua Takut Anak Frustasi
Penyebab anak manja lainnya adalah kekhawatiran orang tua. Melansir CPCMG, beberapa orang tua bersikap “lunak” karena mereka tidak ingin menyakiti hati anak atau melihat mereka menangis. Sederhananya, sebagian orang tua menghindari situasi yang bisa membuat anak kecewa.
Padahal, belajar mengelola rasa frustasi adalah bagian penting dari perkembangan emosional. Tanpa pengalaman tersebut, anak tidak akan terbiasa menghadapi penolakan atau kegagalan, sehingga cenderung bereaksi berlebihan saat mendapatkannya.
9. Komunikasi Kurang Efektif
Anak yang tidak biasa berdiskusi tentang perasaan dan konsekuensi perilaku bisa kesulitan memahami dampak tindakannya. Ia mungkin terbiasa mengekspresikan emosi melalui tangisan atau kemarahan karena tidak memiliki keterampilan komunikasi yang cukup.
10. Kurangnya Aktivitas Terstruktur
Rutinitas dan kegiatan terstruktur membantu anak memahami aturan serta tanggung jawab. Jika keseharian anak terlalu bebas tanpa jadwal atau aktivitas yang jelas, ia kurang belajar disiplin dan pengendalian diri. Inilah mengapa kegiatan terarah seperti olahraga atau kelas edukatif sangat berperan dalam pembentukan karakter.
Sudah Tahu Apa Saja Penyebab Anak Manja?
Usia balita hingga sekolah dasar adalah periode emas pembentukan karakter. Pada tahap ini, perkembangan karakternya berjalan sangat pesat. Aktivitas fisik juga memiliki peran besar dalam membentuk karakter disiplin, kerja sama, serta menerima kemenangan dan kekalahan dengan sehat.
Hingga secara alami akan membantu mengurangi sikap manja dan membangun mental tangguh. Jika ingin anak belajar lebih komprehensif, Sparks Sports Academy menghadirkan program yang dirancang khusus untuk anak usia dini hingga sekolah dasar untuk pembangunan karakter.
Di Sparks Sports Academy, anak tidak hanya bergerak aktif, tetapi juga belajar disiplin dan tanggung jawab. Ayo, berikan ruang tumbuh yang tepat melalui program Spark Sports Academy demi bantu si kecil menjadi pribadi mandiri, percaya diri, dan siap menghadapi tantangan masa depannya!







