Author: Reza Rachmad Sidi
Bermain merupakan bagian penting dari masa kanak-kanak. Bagi anak, bermain bukan sekadar kegiatan untuk mengisi waktu luang, tetapi juga menjadi cara alami untuk mengenal lingkungan, mencoba berbagai peran, berkomunikasi, dan memahami pengalaman sehari-hari. Salah satu bentuk permainan yang menarik untuk diperkenalkan kepada anak adalah pretend play. Melalui permainan ini, anak dapat menggunakan imajinasi untuk menciptakan situasi seolah-olah mereka berada dalam kondisi tertentu.
Mungkin Mom/Dad pernah melihat anak berpura-pura menjadi dokter, memasak menggunakan peralatan mainan, membuka toko-tokoan, atau menganggap sebuah kardus sebagai mobil. Aktivitas tersebut merupakan contoh sederhana pretend play. Walaupun terlihat sederhana, permainan imajinatif dapat memberikan ruang bagi anak untuk mengeksplorasi berbagai ide dan mengekspresikan dirinya. Lalu, apa itu pretend play, kapan anak mulai melakukannya, dan permainan apa saja yang bisa dicoba di rumah? Simak pembahasannya berikut ini.
Apa itu Pretend Play?
Pretend play adalah jenis permainan ketika anak menggunakan imajinasi untuk berpura-pura menjadi seseorang, melakukan suatu aktivitas, atau menciptakan situasi yang sebenarnya tidak sedang terjadi. Dalam bahasa sederhana, pretend play dapat dipahami sebagai permainan pura-pura atau permainan imajinatif.
Saat melakukan permainan ini, anak dapat menggunakan benda tertentu sebagai simbol dari sesuatu yang lain. Misalnya, sebuah kotak kardus dapat dianggap sebagai mobil, balok dapat digunakan sebagai makanan, atau boneka dapat diperlakukan sebagai bayi yang perlu dirawat.
Menariknya, pretend play tidak selalu membutuhkan mainan khusus. Anak justru dapat menggunakan benda-benda sederhana yang tersedia di rumah. Sebuah selimut dapat berubah menjadi tenda, kursi bisa dianggap sebagai bus, sedangkan sendok dan mangkuk dapat menjadi perlengkapan restoran.
Permainan tersebut menunjukkan bahwa anak tidak hanya menggunakan benda berdasarkan fungsi sebenarnya. Mereka juga mulai memberikan makna baru pada benda berdasarkan imajinasi dan cerita yang sedang dibuat.
Dalam pretend play, anak juga dapat memainkan berbagai peran. Mereka mungkin menjadi dokter, guru, koki, kasir, polisi, pemadam kebakaran, pilot, orang tua, atau karakter lain yang mereka kenal.
Menurut Center on the Developing Child dari Harvard University, aktivitas bermain dapat membantu anak berlatih berbagai kemampuan penting, termasuk perhatian, memori kerja, dan pengendalian diri. Harvard juga menyediakan aktivitas bermain berdasarkan tahapan usia anak.
Dengan demikian, pretend play bukan hanya permainan untuk membuat anak merasa senang. Aktivitas ini dapat menjadi salah satu bentuk pengalaman bermain yang memberikan kesempatan bagi anak untuk belajar melalui imajinasi.
Mengapa Pretend Play Penting untuk Keterampilan Anak?
Pretend play memberikan ruang bagi anak untuk menciptakan cerita dan menentukan bagaimana permainan berlangsung. Dalam proses tersebut, anak harus memikirkan siapa yang menjadi tokoh, apa yang sedang terjadi, bagaimana karakter bertindak, serta bagaimana cerita dapat berlanjut.
Proses sederhana tersebut melibatkan berbagai keterampilan.
Melatih Anak Menggunakan Imajinasi
Ketika bermain dokter-dokteran, misalnya, anak tidak hanya memegang stetoskop mainan. Mereka membayangkan ada pasien yang datang, menentukan keluhan pasien, kemudian memikirkan tindakan yang harus dilakukan.
Anak menciptakan dunia kecilnya sendiri berdasarkan apa yang pernah dilihat, didengar, atau dialaminya.
Mendorong Kemampuan Berkomunikasi
Ketika bermain bersama orang tua atau teman, anak perlu menggunakan kata-kata untuk menjelaskan peran dan situasi.
Contohnya, anak mungkin mengatakan, “Sekarang Mom jadi pasien, ya. Nanti saya periksa.”
Percakapan sederhana seperti ini memberikan kesempatan kepada anak untuk menggunakan kosakata, menyusun kalimat, dan belajar menyampaikan keinginan.
Interaksi bolak-balik antara anak dan orang dewasa juga penting dalam perkembangan komunikasi. Interaksi responsif antara anak dan orang dewasa dapat mendukung perkembangan kemampuan bahasa dan sosial.
Mengajarkan Anak Memahami Peran
Anak dapat mencoba memahami bagaimana seseorang menjalankan peran tertentu.
Ketika bermain menjadi dokter, anak mungkin belajar bahwa dokter memeriksa pasien. Ketika bermain menjadi guru, anak dapat memahami bahwa guru menjelaskan sesuatu kepada murid.
Tentu saja, pemahaman tersebut masih sederhana dan sesuai dengan pengalaman anak. Namun, permainan dapat menjadi cara yang menyenangkan untuk mengenalkan berbagai profesi dan situasi sosial.
Melatih Kemampuan Mengikuti Aturan
Pretend play tidak selalu bebas tanpa aturan. Ketika anak bermain bersama teman, mereka dapat membuat aturan sederhana.
Misalnya, satu anak menjadi dokter dan anak lainnya menjadi pasien. Setelah beberapa menit, mereka bergantian peran.
Aturan kecil tersebut membantu anak memahami konsep giliran, kesepakatan, dan batasan dalam permainan.
Membantu Anak Mengekspresikan Perasaan
Anak terkadang belum mampu menjelaskan perasaannya secara langsung.
Melalui permainan, mereka dapat mengekspresikan pengalaman atau emosi dalam bentuk cerita. Misalnya, boneka yang sedang bermain dapat dibuat merasa sedih, takut, marah, atau senang.
Mom/Dad dapat memperhatikan cerita tersebut tanpa langsung menghakimi atau mengoreksi. Bisa jadi, permainan tersebut menjadi cara anak mengomunikasikan sesuatu yang sedang dipikirkannya.
Usia Berapa Anak Bermain Pretend Play?
Kemampuan bermain pura-pura berkembang secara bertahap. Anak tidak langsung mampu menciptakan cerita kompleks sejak usia sangat dini.
Pada tahap awal, anak lebih banyak mengamati dan meniru tindakan orang dewasa. Misalnya, anak berpura-pura menelepon menggunakan benda yang menyerupai ponsel atau mencoba menyisir rambut boneka.
Seiring perkembangan kemampuan kognitif, bahasa, dan sosial, bentuk permainan imajinatif dapat menjadi semakin kompleks.
Usia Sekitar 1–2 Tahun
Pada usia ini, anak mulai menunjukkan bentuk permainan pura-pura yang sederhana.
Anak dapat meniru aktivitas yang sering dilihat sehari-hari, seperti menyuapi boneka, berpura-pura minum dari gelas kosong, atau menggunakan telepon mainan.
Mom/Dad tidak perlu memberikan cerita yang panjang. Cukup ikuti minat anak dan berikan benda aman yang dapat digunakan untuk eksplorasi.
Usia Sekitar 2–3 Tahun
Permainan dapat mulai berkembang menjadi lebih terstruktur.
Anak mungkin mulai membuat adegan sederhana, seperti memasak makanan untuk boneka atau membawa boneka ke dokter.
Kosakata anak juga semakin berkembang sehingga cerita yang dibuat dapat menjadi lebih panjang.
Usia 3–5 Tahun
Pada rentang usia prasekolah, pretend play dapat menjadi semakin kompleks. Anak dapat membuat peran, alur cerita, dan aturan permainan.
Misalnya, anak membuat permainan sekolah-sekolahan dengan dirinya sebagai guru dan boneka sebagai murid.
Mom/Dad bisa melakukan imaginary play sebagai salah satu aktivitas yang dapat membantu anak usia 3–5 tahun berlatih keterampilan executive function, termasuk ketika anak menggunakan aturan untuk mengarahkan tindakan dalam permainan peran.
Usia Sekolah
Anak usia sekolah masih dapat menikmati pretend play, meskipun bentuknya mungkin semakin kompleks.
Permainan bisa berkembang menjadi permainan peran dengan cerita panjang, membuat dunia imajinasi, bermain karakter, atau membuat skenario bersama teman.
Jadi, tidak ada batas bahwa permainan pura-pura hanya cocok untuk balita. Bentuknya dapat berubah mengikuti usia, minat, dan perkembangan anak.
Manfaat Pretend Play untuk Anak
Setiap anak berkembang dengan kecepatan berbeda. Karena itu, pretend play sebaiknya dipandang sebagai salah satu bentuk aktivitas bermain, bukan sebagai satu-satunya cara untuk mengembangkan kemampuan anak.
Penelitian mengenai pretend play juga menunjukkan bahwa bukti ilmiah tidak cukup untuk menyatakan bahwa permainan pura-pura secara unik menjadi penyebab utama seluruh aspek perkembangan anak. Dengan kata lain, manfaat perkembangan anak kemungkinan juga dipengaruhi oleh berbagai faktor lain, termasuk kualitas interaksi dengan orang dewasa dan lingkungan bermain.
Dengan pemahaman tersebut, berikut beberapa manfaat potensial yang dapat didukung melalui permainan imajinatif menurut Child Mind Institute.
1. Mengembangkan Kreativitas
Anak bebas menciptakan cerita berdasarkan imajinasinya.
Satu benda bahkan dapat memiliki banyak fungsi. Kardus bisa menjadi rumah, mobil, kapal, atau toko tergantung cerita yang dibuat anak.
Kebebasan tersebut memberikan kesempatan bagi anak untuk menemukan berbagai kemungkinan.
2. Melatih Kemampuan Berbahasa
Saat bermain, anak perlu berbicara untuk menjelaskan peran dan situasi.
Semakin banyak percakapan yang terjadi, semakin banyak kesempatan anak menggunakan kosakata dalam konteks yang bermakna.
Mom/Dad dapat membantu dengan memperkenalkan kata baru tanpa mengambil alih permainan.
3. Mengembangkan Keterampilan Sosial
Ketika bermain dengan teman, anak belajar berbagi peran, bergantian, bernegosiasi, dan mengikuti kesepakatan.
Misalnya, dua anak sama-sama ingin menjadi dokter. Mereka dapat mencari solusi dengan bergantian atau membuat cerita yang memungkinkan keduanya memiliki peran.
Situasi seperti ini memberikan pengalaman sosial yang nyata.
4. Melatih Kemampuan Memecahkan Masalah
Cerita permainan tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Misalnya, ketika bermain restoran, anak mungkin menyadari bahwa tidak ada piring mainan. Mereka kemudian dapat menggunakan benda lain sebagai pengganti.
Situasi sederhana tersebut mendorong anak mencari solusi.
5. Mendukung Executive Function
Executive function berkaitan dengan kemampuan mental yang membantu seseorang mengatur perhatian, mengingat informasi, mengendalikan respons, dan menjalankan rencana.
Dalam permainan peran, anak dapat membuat aturan, mengingat peran, menunggu giliran, dan menyesuaikan tindakan dengan cerita.
Aktivitas bermain dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk melatih keterampilan executive function.
6. Meningkatkan Kepercayaan Diri
Ketika anak berhasil menciptakan cerita sendiri dan orang lain mengikuti ceritanya, anak dapat merasa bahwa idenya dihargai.
Misalnya, Mom/Dad mengikuti arahan anak ketika bermain rumah-rumahan.
Pengalaman tersebut dapat membuat anak merasa didengar dan dipercaya.
7. Membantu Anak Memahami Dunia di Sekitarnya
Anak banyak belajar dengan meniru kehidupan sehari-hari.
Ketika mereka bermain menjadi kasir, guru, dokter, atau koki, mereka sedang mencoba memahami aktivitas yang pernah dilihat.
Permainan dapat membantu anak mengulang pengalaman tersebut dalam situasi yang lebih aman dan fleksibel.
8. Memperkuat Hubungan Orang Tua dan Anak
Pretend play dapat menjadi waktu berkualitas bersama.
Mom/Dad tidak harus menjadi pengarah utama. Terkadang, cukup mengikuti cerita anak dan memberikan respons.
Interaksi responsif seperti ini dapat membantu membangun hubungan positif antara anak dan orang dewasa sehingga anak bisa meningkatkan kemampuan sosialnya
Contoh Permainan Pretend Play
Ada banyak permainan yang dapat dilakukan tanpa perlengkapan mahal. Kuncinya adalah memberikan ruang bagi anak untuk berimajinasi.
1. Dokter-Dokteran
Gunakan boneka atau anggota keluarga sebagai pasien. Anak dapat berperan sebagai dokter, sementara Mom/Dad menjadi pasien.
Berikan kesempatan kepada anak untuk memeriksa, bertanya, dan memberikan “resep” dalam konteks permainan.
2. Masak-Masakan
Gunakan perlengkapan mainan atau benda rumah tangga yang aman. Anak dapat menjadi koki dan membuat menu imajinatif.
Mom/Dad bisa bertanya, “Hari ini restoran kamu punya menu apa?” Pertanyaan terbuka dapat membantu anak mengembangkan cerita.
3. Sekolah-Sekolahan
Anak dapat menjadi guru sementara boneka atau anggota keluarga menjadi murid. Anak dapat mengajarkan huruf, angka, menggambar, atau menyanyi.
Permainan ini juga dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk mengulang pengalaman yang didapat di sekolah.
4. Toko-Tokoan
Buat toko sederhana menggunakan benda yang tersedia di rumah. Anak dapat menjadi penjual dan Mom/Dad menjadi pembeli. Gunakan uang mainan atau benda sederhana sebagai alat transaksi.
Anak dapat belajar menggunakan percakapan seperti “Selamat datang”, “Mau membeli apa?”, dan “Terima kasih.”
5. Bermain Rumah-Rumahan
Anak dapat berpura-pura menjadi ayah, ibu, kakak, atau anggota keluarga lainnya. Boneka bisa menjadi bayi yang harus dirawat. Permainan ini dapat membantu anak meniru aktivitas yang mereka lihat dalam kehidupan sehari-hari.
6. Pemadam Kebakaran
Gunakan kardus sebagai mobil pemadam kebakaran. Anak dapat berpura-pura menerima panggilan darurat dan pergi menyelamatkan orang. Pastikan permainan tidak melibatkan api sungguhan atau aktivitas berbahaya.
7. Restoran
Buat meja sederhana sebagai restoran. Anak menjadi koki atau pelayan, sementara Mom/Dad menjadi pelanggan. Anak dapat membuat menu sendiri dan menjelaskan makanan yang tersedia.
8. Naik Pesawat
Gunakan kursi sebagai tempat duduk penumpang. Anak dapat menjadi pilot atau pramugara. Buat skenario sederhana seperti pemeriksaan tiket, pengumuman keberangkatan, dan perjalanan menuju kota tujuan.
9. Berkemah
Gunakan selimut dan bantal untuk membuat tenda. Anak dapat membawa boneka sebagai teman berkemah. Tambahkan cerita seperti mencari makanan, melihat bintang, atau tidur di dalam tenda.
10. Menjadi Pahlawan
Anak dapat membuat karakter pahlawan versinya sendiri.
Yang menarik, Mom/Dad tidak perlu menentukan seperti apa pahlawan tersebut. Biarkan anak memilih nama, kekuatan, kostum, dan misi. Dengan begitu, permainan dapat berkembang berdasarkan kreativitas anak.
Baca juga: 5 Manfaat Play-Based Learning yang Perlu Orang Tua Pahami!
Tips Bermain Pretend Play dengan Anak
Agar permainan lebih menyenangkan dan memberikan ruang eksplorasi, Mom/Dad dapat mencoba beberapa tips berikut.
Ikuti Minat Anak
Jika anak sedang tertarik dengan kendaraan, jangan memaksanya bermain dokter-dokteran. Gunakan minat tersebut sebagai pintu masuk. Misalnya, ajak anak membuat permainan bengkel, sopir bus, atau pilot.
Jangan Terlalu Banyak Mengatur
Orang dewasa terkadang tanpa sadar mengambil alih permainan. Misalnya, ketika anak membuat restoran, Mom/Dad langsung menentukan menu, aturan, dan cara bermain. Sebaiknya berikan ruang kepada anak untuk memimpin sebagian permainan agar eksplorasi anak bisa bebas tanpa diatur oleh orang tua.
Gunakan Benda Sederhana
Tidak perlu membeli banyak mainan.
Kardus, selimut, bantal, wadah kosong, kertas, atau benda rumah tangga yang aman dapat menjadi bagian dari permainan. Hal yang paling penting, benda tersebut aman digunakan anak dan tidak memiliki bagian kecil yang berisiko tertelan bagi anak yang masih kecil.
Berikan Pertanyaan Terbuka
Daripada bertanya, “Ini mobil, kan?” cobalah bertanya, “Mobil ini mau pergi ke mana?” Pertanyaan terbuka memberi anak kesempatan untuk menciptakan jawaban sendiri.
Ikuti Cerita Anak
Jika anak mengatakan bahwa Mom/Dad adalah pasien yang harus dirawat, ikuti perannya. Tidak perlu selalu mengoreksi cerita berdasarkan kenyataan. Dalam pretend play, tujuan utamanya adalah memberikan ruang bagi anak untuk berimajinasi.
Jangan Memaksakan Anak
Tidak semua anak langsung tertarik pada permainan pura-pura. Jika anak belum tertarik, Mom/Dad dapat mencoba aktivitas lain dan memperkenalkan pretend play secara perlahan.
Sesuaikan dengan Usia
Permainan untuk anak dua tahun tentu berbeda dengan anak lima atau tujuh tahun. Anak yang lebih kecil mungkin cukup melakukan aktivitas meniru sederhana, sementara anak yang lebih besar dapat membuat cerita yang lebih panjang dengan beberapa tokoh.
Jadikan Permainan sebagai Interaksi Dua Arah
Mom/Dad tidak perlu terus-menerus memberikan instruksi. Berikan respons terhadap tindakan anak dan sesekali tambahkan ide baru.
Misalnya:
“Dokternya mau memeriksa apa?”
“Pasiennya harus istirahat di mana?”
“Setelah dari rumah sakit, kita mau ke mana?”
Percakapan seperti ini membuat permainan terasa hidup sekaligus memberikan kesempatan kepada anak untuk mengembangkan cerita.
Hal yang Perlu Diperhatikan Mom/Dad Saat Anak Bermain Pretend Play
Walaupun permainan pura-pura relatif fleksibel, keselamatan tetap perlu menjadi prioritas.
Pilih benda yang sesuai usia dan hindari barang yang tajam, mudah pecah, terlalu kecil, panas, atau mengandung bahan berbahaya.
Selain itu, Mom/Dad juga perlu memahami bahwa cerita anak tidak selalu mencerminkan kenyataan secara harfiah. Anak sedang menggunakan imajinasi dan terkadang mencampurkan pengalaman nyata dengan cerita.
Jika anak membuat cerita yang berkaitan dengan emosi atau pengalaman tertentu, dengarkan dengan tenang. Jangan langsung menyimpulkan atau menakut-nakuti anak.
Permainan juga sebaiknya tidak dijadikan tes perkembangan yang kaku. Setiap anak memiliki karakter, minat, dan kecepatan perkembangan yang berbeda.
Yang terpenting adalah menciptakan lingkungan bermain yang aman, menyenangkan, dan memberikan kesempatan kepada anak untuk bereksplorasi.
Baca juga: Latih Anak untuk Mandiri dengan Independent Play
Yuk, Kembangkan Potensi Anak Lewat Permainan yang Menyenangkan di Spakrs Sports Academy
Pretend play menunjukkan bahwa anak dapat belajar melalui kegiatan yang terasa menyenangkan. Dari permainan sederhana, anak memiliki kesempatan untuk menggunakan imajinasi, berkomunikasi, membuat cerita, mengikuti aturan, dan berinteraksi dengan orang lain. Namun, Mom/Dad tidak perlu menjadikan pretend play sebagai satu-satunya aktivitas untuk mendukung perkembangan anak. Berikan anak beragam pengalaman yang sesuai dengan usia, minat, dan kebutuhannya agar mereka dapat bereksplorasi secara lebih luas.
Selain bermain di rumah, Mom/Dad juga dapat memberikan pengalaman belajar yang melibatkan eksplorasi dan aktivitas multisensori melalui kelas sensori anak di Spakrs Sports Academy. Kegiatan yang melibatkan berbagai pengalaman sensorik dapat menjadi pelengkap aktivitas bermain anak sekaligus memberikan ruang untuk bergerak, mencoba, dan mengenal lingkungan dengan cara yang menyenangkan. Dengan pendampingan yang tepat dan kesempatan eksplorasi yang cukup, yuk bantu anak tumbuh menjadi pribadi yang aktif, percaya diri, kreatif, dan siap belajar melalui berbagai pengalaman positif.







