Author: Tim Sparks Sports Academy
Pernahkah Mom/Dad melihat anak yang sebenarnya sudah bisa berjalan, berlari, bahkan melompat, tetapi justru kesulitan ketika diminta jalan pelan? Kondisi seperti ini cukup menarik karena berjalan pelan membutuhkan kemampuan mengontrol gerakan, bukan sekadar kemampuan menggerakkan kaki. Anak perlu mengatur langkah, menjaga keseimbangan, mengendalikan kecepatan, sekaligus memperhatikan arah geraknya.
Ringkasan Cepat
- Anak susah jalan pelan dapat berkaitan dengan keseimbangan, koordinasi, kontrol tubuh, dan kemampuan mengatur kecepatan gerak.
- Kebiasaan berlari atau bergerak terlalu cepat tidak selalu berarti anak mengalami masalah perkembangan.
- Latihan berjalan pelan sebaiknya dilakukan melalui permainan agar anak tidak merasa sedang menjalani latihan.
- Aktivitas seperti berjalan mengikuti garis, berhenti-mulai, melewati rintangan, dan permainan olahraga dapat membantu melatih kemampuan motorik.
- Jika kesulitan berlangsung terus-menerus dan disertai tanda perkembangan lain yang mengkhawatirkan, Mom/Dad dapat berkonsultasi dengan dokter atau tenaga profesional terkait.
Ketika anak susah jalan pelan, bukan berarti anak malas mengikuti instruksi atau sengaja terburu-buru. Bisa saja anak memang masih mengembangkan kemampuan keseimbangan, koordinasi tubuh, kontrol postur, maupun kemampuan mengatur gerakan. Setiap anak juga mempunyai kecepatan perkembangan yang berbeda sehingga Mom/Dad perlu melihat kebiasaan dan kemampuan anak secara keseluruhan.
Kabar baiknya, kemampuan tersebut dapat dilatih melalui aktivitas sederhana dan menyenangkan. Permainan berjalan mengikuti garis, berjalan seperti berbagai jenis hewan, bermain rintangan sederhana, hingga aktivitas olahraga dapat memberikan kesempatan bagi anak untuk berlatih mengendalikan tubuh. Bahkan, penelitian mengenai aktivitas fisik pada anak menunjukkan adanya hubungan positif antara aktivitas fisik dan perkembangan keterampilan motorik. Salah satu tinjauan sistematis terhadap 25 randomized controlled trials menemukan bahwa sebagian besar studi yang ditinjau melaporkan peningkatan keterampilan motorik setelah intervensi aktivitas fisik.
Apa Artinya Jika Anak Susah Jalan Pelan?
Sebelum mencari penyebabnya, Mom/Dad perlu memahami bahwa anak susah jalan pelan bukan istilah diagnosis medis. Ungkapan ini lebih menggambarkan kondisi ketika anak kesulitan mempertahankan kecepatan berjalan yang lambat sesuai instruksi.
Misalnya, ketika Mom/Dad berkata, “Ayo jalan pelan-pelan,” anak justru berlari. Ketika diminta memperlambat langkah, anak mungkin mampu melakukannya sebentar tetapi kembali berjalan cepat beberapa detik kemudian.
Berjalan pelan membutuhkan motor control atau kontrol gerak. Anak harus mengatur panjang langkah, kecepatan, posisi tubuh, keseimbangan, serta respons terhadap instruksi secara bersamaan.
Karena itu, kemampuan berjalan tidak hanya dilihat dari apakah anak sudah dapat berjalan atau belum. Cara anak berjalan, mengubah arah, berhenti, mempercepat, memperlambat, melangkahi benda, dan menjaga keseimbangan juga menjadi bagian dari keterampilan motorik.
Penyebab Anak Susah Jalan dan Cara Mengatasinya
Berikut ini 10 penyebab dan cara mengatasi anak susah jalan yang perlu Mom/Dad perhatikan.
1. Kemampuan Mengontrol Kecepatan Masih Berkembang
Penyebab pertama anak susah jalan pelan adalah kemampuan mengontrol kecepatan yang masih berkembang. Bagi orang dewasa, memperlambat langkah terlihat sangat sederhana. Namun bagi anak, perubahan dari berjalan cepat menjadi berjalan lambat membutuhkan koordinasi beberapa bagian tubuh sekaligus.
Anak perlu mengurangi dorongan tubuh ke depan, memperpendek langkah, mengatur gerakan kaki, dan tetap menjaga keseimbangan. Jika kemampuan tersebut belum matang, anak mungkin lebih mudah berjalan dengan kecepatan yang sudah biasa ia lakukan.
Cara mengatasinya
Mom/Dad dapat membuat permainan “jalan cepat dan jalan pelan”. Saat mengatakan “cepat”, anak berjalan lebih cepat. Ketika mendengar “pelan”, anak harus mengurangi kecepatannya.
Tidak perlu langsung meminta anak berjalan sangat lambat. Mulailah dari perubahan kecil agar anak memahami konsep kecepatan secara bertahap.
2. Keseimbangan Tubuh Belum Optimal
Keseimbangan memiliki peran penting dalam aktivitas berjalan. Ketika anak memperlambat langkah, tubuh tidak mendapatkan momentum sebesar ketika berjalan cepat. Akibatnya, anak perlu lebih aktif mempertahankan posisi tubuh. Anak yang kemampuan keseimbangannya masih berkembang mungkin merasa berjalan pelan lebih sulit dibandingkan berjalan cepat.
Keseimbangan sendiri terdiri dari kemampuan mempertahankan posisi tubuh ketika diam maupun ketika bergerak. Literatur penelitian mengenai latihan keseimbangan pada anak dan remaja menunjukkan bahwa latihan keseimbangan dapat memberikan dampak terhadap kemampuan keseimbangan statis dan dinamis.
Cara mengatasinya
Coba aktivitas sederhana seperti:
- Berjalan mengikuti garis di lantai.
- Berdiri dengan satu kaki selama beberapa detik.
- Berjalan dari satu titik ke titik lain sambil membawa benda ringan.
- Berjalan di antara dua garis.
- Bermain mengikuti gerakan orang tua.
Pastikan area latihan aman dan bebas dari benda yang dapat membuat anak tersandung.
3. Koordinasi Kaki dan Tangan Belum Matang
Saat berjalan, kaki bukan satu-satunya bagian tubuh yang bergerak. Tangan, bahu, panggul, kepala, dan batang tubuh juga berperan dalam menjaga keseimbangan. Jika koordinasi tubuh belum matang, anak dapat terlihat berjalan dengan gerakan yang kurang teratur. Ketika diminta memperlambat langkah, koordinasi tersebut menjadi semakin menantang.
Cara mengatasinya
Berikan permainan yang menggabungkan gerakan tangan dan kaki.
Contohnya, minta anak berjalan perlahan sambil membawa bola kecil. Setelah sampai di garis tertentu, anak harus memasukkan bola ke keranjang.
Aktivitas seperti ini membuat anak belajar menggabungkan beberapa gerakan tanpa harus merasa sedang melakukan latihan motorik.
4. Anak Terbiasa Bergerak Cepat
Ada anak yang memang mempunyai kebiasaan aktif. Ia terbiasa berlari menuju tempat yang dituju, melompat ketika melihat sesuatu yang menarik, atau berpindah tempat dengan cepat. Dalam situasi seperti ini, anak mungkin sebenarnya mampu berjalan pelan, tetapi belum terbiasa menggunakannya.
Mom/Dad dapat memperhatikan apakah anak juga kesulitan melakukan aktivitas perlahan lainnya atau hanya ketika berjalan.
Cara mengatasinya
Buat kegiatan yang mengharuskan anak mengontrol kecepatan.
Misalnya permainan:
“Jangan Injak Garis”
Buat beberapa garis menggunakan selotip kertas di lantai. Anak harus berjalan perlahan dari titik awal menuju akhir tanpa menginjak garis tertentu. Permainan seperti ini membuat anak memiliki tujuan yang jelas sehingga lebih mudah memahami mengapa ia perlu memperlambat langkah.
5. Anak Belum Memahami Instruksi “Jalan Pelan”
Terkadang masalahnya bukan kemampuan fisik, tetapi pemahaman terhadap instruksi.
“Jalan pelan” mungkin terlalu abstrak bagi anak tertentu. Anak mungkin memahami kata “jalan”, tetapi belum memahami seberapa lambat yang dimaksud.
Daripada hanya mengatakan “pelan”, Mom/Dad dapat memberikan contoh secara langsung.
Cara mengatasinya
Berjalanlah di depan anak sambil memperagakan.
Katakan, “Lihat Mom/Dad. Kita jalan pelan seperti kura-kura.”
Kemudian lakukan langkah yang benar-benar lebih lambat. Setelah itu, biarkan anak menirukan. Instruksi yang konkret dan disertai contoh visual biasanya lebih mudah dipahami anak dibandingkan instruksi verbal yang abstrak.
Baca juga: Anak Bisa Jalan Umur Berapa? Inilah Usia Normal dan Fase Pentingnya!
6. Kemampuan Body Awareness Masih Berkembang
Body awareness merupakan kesadaran anak terhadap posisi dan gerakan tubuhnya. Anak perlu mengetahui di mana posisi kaki, tangan, badan, serta bagaimana tubuhnya bergerak di dalam ruang. Jika kemampuan ini masih berkembang, anak mungkin belum menyadari bahwa langkahnya terlalu besar atau terlalu cepat.
Cara mengatasinya
Mom/Dad dapat memperkenalkan permainan yang membuat anak lebih sadar terhadap tubuhnya.
Contohnya:
- “Angkat kaki kanan.”
- “Sentuh lutut kiri.”
- “Jalan dengan langkah kecil.”
- “Berhenti ketika Mom/Dad bilang stop.”
- “Berjalan sambil menjaga tangan tetap di samping.”
Permainan tersebut dapat membantu anak memperhatikan gerakan tubuh tanpa memberikan tekanan berlebihan.
7. Otot Inti dan Postur Tubuh Perlu Dilatih
Otot inti atau core muscles membantu tubuh mempertahankan kestabilan ketika bergerak. Anak menggunakan tubuh bagian tengah untuk membantu menjaga posisi ketika berjalan, berlari, melompat, dan melakukan berbagai aktivitas lainnya. Jika kontrol postur masih berkembang, mempertahankan gerakan secara perlahan mungkin terasa lebih sulit.
Namun, Mom/Dad tidak perlu langsung memberikan latihan berat. Aktivitas bermain sudah dapat menjadi kesempatan untuk melatih stabilitas tubuh.
Cara mengatasinya
Cobalah permainan seperti merangkak melewati terowongan, berjalan seperti beruang, menirukan gerakan kepiting, atau bermain lempar-tangkap sambil berdiri.
Aktivitas gross motor seperti berjalan, berlari, melompat, melempar, menangkap, dan bergerak melewati rintangan memberi anak kesempatan untuk menggunakan banyak kelompok otot sekaligus.
8. Anak Lebih Mudah Mengatur Gerakan dengan Aktivitas yang Dinamis
Sebagian anak lebih nyaman melakukan gerakan yang besar dan cepat. Mereka mungkin sangat menikmati berlari, melompat, mengejar bola, atau bermain kejar-kejaran.
Sebaliknya, gerakan yang membutuhkan kontrol lambat dan presisi mungkin terasa kurang menarik. Ini bukan berarti aktivitas dinamis harus dihentikan. Justru aktivitas tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari latihan.
Cara mengatasinya
Gabungkan gerakan cepat dan lambat.
Contohnya:
Lari → berhenti → jalan pelan → lompat → jalan pelan → berhenti.
Permainan ini mengajarkan konsep perubahan kecepatan dengan cara yang lebih menyenangkan.
Anak juga belajar bahwa tubuhnya dapat bergerak dengan berbagai kecepatan, bukan hanya cepat.
9. Kurangnya Kesempatan untuk Melatih Keterampilan Motorik
Keterampilan motorik membutuhkan kesempatan untuk digunakan secara berulang. Anak yang lebih sering berada dalam aktivitas pasif mungkin memiliki lebih sedikit kesempatan untuk mengeksplorasi gerakan tubuh.
Sebuah tinjauan sistematis tentang keterampilan gerak fundamental pada anak usia dini menekankan pentingnya kesempatan praktik untuk mendukung perkembangan keterampilan gerak dan aktivitas fisik. Karena itu, Mom/Dad dapat memberikan lebih banyak kesempatan bagi anak untuk bergerak dalam kehidupan sehari-hari.
Cara mengatasinya
Tidak harus selalu berupa latihan khusus. Mom/Dad dapat mengajak anak:
- Berjalan di taman.
- Bermain bola.
- Naik-turun tangga dengan pengawasan.
- Berjalan mengikuti garis.
- Bermain rintangan sederhana.
- Menari mengikuti musik.
- Bermain lempar dan tangkap.
- Melakukan permainan yang membutuhkan perubahan arah.
Semakin beragam pengalaman geraknya, semakin banyak kesempatan anak mempelajari cara mengendalikan tubuh.
10. Anak Sedang Mengembangkan Kemampuan Motorik yang Lebih Kompleks
Penyebab lainnya adalah anak memang sedang berada dalam proses mengembangkan berbagai keterampilan motorik secara bersamaan. Kemampuan berjalan, berlari, melompat, menjaga keseimbangan, mengubah arah, dan mengontrol kecepatan saling berkaitan. Anak dapat terlihat sangat mahir pada satu kemampuan, tetapi masih belajar pada kemampuan lainnya.
Misalnya, anak sudah mampu berlari dengan cepat tetapi belum dapat berhenti dengan terkontrol. Ada pula anak yang mampu melompat tetapi kesulitan mempertahankan keseimbangan ketika berjalan di garis.
Perbedaan tersebut dapat terjadi karena perkembangan keterampilan motorik berlangsung secara bertahap.
Cara mengatasinya
Daripada hanya melatih “jalan pelan”, berikan anak berbagai pengalaman gerak.
Latihan sebaiknya mencakup:
- Keseimbangan.
- Koordinasi.
- Perubahan arah.
- Kontrol kecepatan.
- Berhenti dan mulai bergerak.
- Gerakan tangan dan kaki.
- Aktivitas gross motor.
- Permainan yang membutuhkan respons terhadap instruksi.
Dengan demikian, anak tidak hanya belajar satu keterampilan, tetapi memperoleh fondasi gerak yang lebih luas.
Permainan untuk Melatih Anak Jalan Pelan
Setelah mengetahui berbagai penyebab anak susah jalan pelan, Mom/Dad dapat mulai melatihnya melalui permainan sederhana di rumah.
1. Permainan Lampu Merah dan Lampu Hijau
Gunakan tiga instruksi:
- Hijau = berjalan.
- Kuning = berjalan pelan.
- Merah = berhenti.
Permainan ini melatih kemampuan anak untuk memulai, memperlambat, dan menghentikan gerakan berdasarkan instruksi.
2. Jalan Seperti Hewan
Ajak anak berjalan seperti kura-kura, penguin, kepiting, atau beruang. Selain menyenangkan, aktivitas ini memberikan variasi pola gerakan kepada anak.
3. Jalan Mengikuti Garis
Buat garis menggunakan selotip kertas. Minta anak mengikuti garis tersebut dengan langkah perlahan. Jika sudah terbiasa, tambahkan tantangan seperti membawa benda ringan atau berhenti di titik tertentu.
4. Jalan Membawa Bola
Minta anak berjalan pelan sambil membawa bola kecil. Setelah mencapai tujuan, anak dapat memasukkan bola ke keranjang. Aktivitas ini melatih koordinasi antara gerakan berjalan dan penggunaan tangan.
5. Permainan Beku
Putar musik dan biarkan anak bergerak. Ketika musik berhenti, anak harus berhenti. Kemudian tambahkan instruksi “jalan pelan” ketika musik kembali dimainkan. Permainan ini membantu anak memahami perubahan antara bergerak dan berhenti.
Tips agar Latihan Tidak Membuat Anak Tertekan
Mom/Dad mungkin ingin anak segera mampu berjalan pelan. Namun, latihan motorik sebaiknya tidak berubah menjadi aktivitas yang membuat anak takut melakukan kesalahan.
Berikut beberapa tips yang dapat diterapkan.
- Berikan Contoh: Anak sering belajar melalui imitasi. Daripada hanya memberikan perintah, tunjukkan bagaimana cara berjalan pelan.
- Gunakan Kalimat Positif: Daripada mengatakan, “Jangan lari terus!”, cobalah mengatakan, “Sekarang kita coba langkah kecil seperti kura-kura.”
- Mulai dari Durasi Pendek: Tidak perlu berlatih terlalu lama. Beberapa menit permainan yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi awal yang baik.
- Jangan Membandingkan Anak: Setiap anak memiliki pengalaman dan kecepatan perkembangan yang berbeda. Fokuslah pada perkembangan kemampuan anak dari waktu ke waktu.
- Buat Variasi: Jika anak bosan berjalan mengikuti garis, pindah ke permainan bola, menari, atau rintangan sederhana. Tujuannya adalah memberikan pengalaman gerak yang beragam.
Kapan Mom/Dad Perlu Berkonsultasi?
Anak susah jalan pelan tidak otomatis menunjukkan adanya gangguan tertentu. Namun, Mom/Dad sebaiknya memperhatikan kondisi anak secara menyeluruh.
Konsultasikan kepada dokter anak atau tenaga profesional terkait apabila kesulitan berjalan disertai tanda lain yang mengkhawatirkan, misalnya sering jatuh secara berlebihan, kesulitan melakukan berbagai aktivitas motorik yang sebelumnya dapat dilakukan, tampak kesulitan menjaga keseimbangan, atau terdapat perubahan kemampuan gerak.
Hal penting lainnya adalah melihat pola perkembangan, bukan hanya satu kemampuan.
Jika Mom/Dad merasa ada sesuatu yang berbeda dari kemampuan gerak anak dan kondisi tersebut menetap, konsultasi profesional dapat membantu mengetahui apakah anak membutuhkan evaluasi lebih lanjut.
Mengapa Aktivitas Olahraga Bisa Membantu Keterampilan Motorik Anak?
Olahraga anak tidak hanya bertujuan membuat anak aktif. Aktivitas fisik juga memberikan kesempatan untuk berlatih berbagai keterampilan gerak.
Dalam sebuah systematic review PubMed terhadap 25 penelitian terkontrol pada anak usia 6–12 tahun, 20 penelitian melaporkan peningkatan signifikan pada performa keterampilan motorik setelah intervensi aktivitas fisik. Namun, penelitian tersebut juga mencatat adanya variasi metode dan dosis aktivitas yang digunakan sehingga hasil perlu dipahami sesuai konteks masing-masing anak.
Penelitian lain yang melibatkan anak usia 3–12 tahun melalui tinjauan sistematis dan network meta-analysis juga meneliti berbagai jenis intervensi aktivitas fisik terhadap keterampilan seperti object control, locomotor skills, dan gross motor skills.
Artinya, aktivitas olahraga yang sesuai usia dapat menjadi salah satu cara memberikan anak pengalaman untuk berlatih gerakan secara menyenangkan. Bukan berarti olahraga tertentu otomatis menyelesaikan semua kesulitan motorik, tetapi aktivitas yang terstruktur dapat menjadi bagian dari pengalaman perkembangan anak.
Latihan Anak Tidak Harus Monoton
Salah satu kesalahan yang sering dilakukan adalah menganggap latihan motorik harus dilakukan dengan gerakan yang sama berulang-ulang. Padahal, anak dapat mengembangkan kemampuan geraknya melalui berbagai permainan.
Hari ini anak dapat bermain bola. Besok dapat berjalan mengikuti garis. Hari berikutnya dapat bermain rintangan. Pada kesempatan lain, anak dapat mengikuti permainan kelompok.
Variasi tersebut membuat anak mendapatkan pengalaman menghadapi situasi gerak yang berbeda. Dalam konteks anak susah jalan pelan, Mom/Dad juga dapat memasukkan latihan kontrol kecepatan ke berbagai permainan. Jadi, anak tidak merasa bahwa setiap kali bermain, ia sedang diminta memperbaiki cara berjalan.
Peran Orang Tua dalam Mendukung Perkembangan Gerak Anak
Peran Mom/Dad sangat penting dalam menciptakan lingkungan yang memberikan kesempatan anak bergerak. Tidak perlu selalu memberikan instruksi atau mengoreksi setiap gerakan. Berikan ruang bagi anak untuk mencoba, gagal, memperbaiki gerakan, dan mencoba lagi.
Misalnya, ketika anak berjalan terlalu cepat dan akhirnya keluar dari garis, jangan langsung mengatakan bahwa ia salah. Mom/Dad dapat berkata, “Coba lagi dengan langkah lebih kecil.”
Dengan pendekatan tersebut, anak belajar bahwa kemampuan motorik merupakan sesuatu yang dapat dilatih. Yang paling penting, pastikan lingkungan bermain aman. Singkirkan benda tajam, permukaan licin, dan benda yang mudah membuat anak tersandung ketika melakukan aktivitas.
Baca juga: 15 Cara Mengajarkan Anak Berjalan yang Aman
Saatnya Mengembangkan Kemampuan Gerak Anak melalui Aktivitas yang Menyenangkan
Kemampuan berjalan pelan merupakan salah satu bagian dari kemampuan anak dalam mengontrol gerakan. Jika anak susah jalan pelan, Mom/Dad dapat membantu dengan latihan sederhana yang melibatkan keseimbangan, koordinasi, body awareness, kontrol kecepatan, serta berbagai aktivitas gross motor.
Daripada menjadikan latihan sebagai kegiatan yang kaku, berikan anak kesempatan untuk belajar melalui permainan dan olahraga. Aktivitas yang beragam membuat anak dapat mengeksplorasi gerakan, mengikuti instruksi, mengubah kecepatan, dan berinteraksi dengan lingkungan secara lebih aktif.
Untuk memberikan pengalaman olahraga yang lebih beragam, Mom/Dad juga dapat mempertimbangkan multi sport anak di Sparks Sports Academy. Melalui berbagai aktivitas olahraga, anak memiliki kesempatan untuk mengenal beragam pola gerak, melatih koordinasi, serta mengembangkan kemampuan motorik dalam suasana yang aktif dan menyenangkan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Kenapa anak susah jalan pelan?
Anak susah jalan pelan dapat disebabkan oleh kemampuan kontrol gerak, keseimbangan, koordinasi, dan pengaturan kecepatan yang masih berkembang. Anak juga bisa saja terbiasa bergerak cepat.
Apakah anak susah jalan pelan selalu berarti ada gangguan perkembangan?
Tidak selalu. Setiap anak memiliki perkembangan motorik yang berbeda. Namun, jika kesulitan berjalan disertai sering jatuh atau kesulitan motorik lainnya, Mom/Dad dapat berkonsultasi dengan tenaga profesional.
Bagaimana cara melatih anak agar bisa jalan pelan?
Mom/Dad dapat menggunakan permainan seperti berjalan mengikuti garis, bermain lampu merah-hijau, berjalan seperti kura-kura, atau berjalan sambil membawa benda ringan.
Apakah bermain olahraga dapat membantu anak mengontrol gerakan?
Ya. Berbagai aktivitas olahraga dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk melatih keseimbangan, koordinasi, perubahan arah, dan kontrol gerakan secara menyenangkan.
Apakah anak yang sering berlari perlu dilarang?
Tidak perlu selalu dilarang. Berlari merupakan bagian dari aktivitas motorik anak. Mom/Dad dapat mengajarkan kapan waktunya berlari, berjalan, memperlambat gerakan, dan berhenti.
Kapan anak yang susah jalan pelan perlu diperiksa?
Jika kesulitan berlangsung terus-menerus atau disertai sering jatuh, gangguan keseimbangan, kesulitan melakukan aktivitas motorik lainnya, atau adanya perubahan kemampuan yang sebelumnya sudah dikuasai, sebaiknya konsultasikan kepada dokter atau tenaga profesional.
Apa aktivitas yang cocok untuk melatih kemampuan gerak anak?
Aktivitas seperti bermain bola, berjalan mengikuti garis, permainan rintangan, menari, melompat, berjalan dengan berbagai kecepatan, dan multi sport dapat menjadi pilihan untuk memberikan pengalaman gerak yang beragam.







