4 Penyebab Anak Terlalu Aktif yang Perlu Orang Tua Catat!

Apa Penyebab Anak Terlalu Aktif? Kenali Masalah dan Tanda yang Perlu Diperiksa

Table of Contents

Anak terus berlari, memanjat, berbicara tanpa henti, atau cepat berpindah dari satu permainan ke permainan lainnya dapat membuat orang tua bertanya-tanya: apakah ia hanya memiliki banyak energi atau ada kondisi tertentu yang perlu diperhatikan?

Tingkat aktivitas yang tinggi tidak selalu menunjukkan masalah. Anak usia balita dan prasekolah memang sedang aktif mengeksplorasi tubuh, benda, lingkungan, dan hubungan sosialnya. Banyak anak pada usia tersebut juga masih belajar menunggu giliran, mengendalikan impuls, mempertahankan perhatian, serta menyesuaikan perilaku dengan situasi.

American Academy of Pediatrics menjelaskan bahwa hampir semua anak prasekolah sesekali menunjukkan perilaku kurang perhatian, impulsif, dan sangat aktif sebagai bagian dari perkembangan umum. Perilaku menjadi lebih perlu diperhatikan apabila berlangsung secara menetap, tidak sesuai dengan tahap perkembangan, dan mengganggu kehidupan sehari-hari anak.

Karena itu, orang tua sebaiknya tidak langsung menyebut anak “hiperaktif” atau menyimpulkan bahwa ia mengalami ADHD hanya berdasarkan beberapa kejadian. Perhatikan kapan perilaku muncul, berapa lama berlangsung, apakah terlihat di lingkungan lain, dan seberapa besar dampaknya terhadap keselamatan, hubungan sosial, kegiatan belajar, serta rutinitas keluarga.

Apakah Anak yang Sangat Aktif Selalu Bermasalah?

Tidak. Bergerak merupakan bagian penting dari masa kanak-kanak. Anak belajar melalui kegiatan seperti berlari, melompat, menyentuh benda, mencoba gerakan baru, mengamati reaksi orang lain, serta mengulang aktivitas yang menarik baginya.

Sebagian anak secara alami juga memiliki tingkat aktivitas yang lebih tinggi daripada anak lain. Ada anak yang merasa nyaman duduk membaca dalam waktu relatif lama, sedangkan anak lain lebih mudah terlibat ketika kegiatan melibatkan gerakan.

Perbedaan tersebut tidak otomatis menunjukkan adanya gangguan.

Hal yang perlu diperhatikan bukan hanya seberapa aktif anak, tetapi juga:

  • Apakah perilakunya sesuai dengan usia?
  • Apakah anak masih dapat berhenti atau menyesuaikan diri pada sebagian situasi?
  • Apakah perilaku hanya muncul ketika anak sangat gembira, lelah, atau bosan?
  • Apakah aktivitasnya sering menimbulkan bahaya?
  • Apakah perilaku mengganggu kegiatan belajar, bermain, makan, tidur, atau hubungan sosial?
  • Apakah pola yang sama terlihat di rumah, sekolah, dan lingkungan lainnya?

Anak yang berlari ketika bermain di taman berada dalam situasi berbeda dari anak yang terus meninggalkan tempat duduk saat kegiatan yang singkat dan sesuai usia. Konteks perlu menjadi bagian dari penilaian.

Baca juga: Pahami 6 Perbedaan Anak Aktif dan Hiperaktif​ Sejak Dini

Perbedaan Anak Aktif, Perilaku Hiperaktif, dan ADHD

Istilah aktif, hiperaktif, dan ADHD sering digunakan seolah-olah memiliki arti yang sama. Padahal, ketiganya perlu dibedakan.

Anak aktif

“Anak aktif” merupakan deskripsi umum bagi anak yang senang bergerak, mengeksplorasi, berbicara, dan terlibat dalam banyak kegiatan.

Anak aktif biasanya masih dapat menunjukkan penyesuaian pada sebagian situasi. Ia mungkin berlari saat bermain, tetapi dapat duduk sejenak ketika makan, mendengarkan cerita yang menarik, atau mengikuti instruksi sederhana.

Perilaku hiperaktif

Hiperaktif menggambarkan perilaku dengan tingkat aktivitas yang sangat tinggi atau sulit dikendalikan. Contohnya dapat berupa terus bergerak ketika situasi mengharuskan duduk, berbicara berlebihan, sulit bermain dengan tenang, atau sering bertindak sebelum berpikir.

Istilah ini menggambarkan perilaku, bukan diagnosis yang dapat ditetapkan sendiri oleh orang tua.

ADHD

ADHD atau attention-deficit/hyperactivity disorder merupakan kondisi perkembangan saraf. Anak dengan ADHD dapat mengalami pola kesulitan perhatian, hiperaktivitas-impulsivitas, atau kombinasi keduanya.

Diagnosis ADHD tidak diberikan hanya karena anak banyak bergerak. Gejalanya perlu berlangsung setidaknya enam bulan, tidak sesuai dengan tingkat perkembangan, terlihat di dua atau lebih lingkungan, serta menimbulkan gangguan nyata terhadap kehidupan sosial atau kegiatan belajar anak.

Hal yang diamatiAnak aktif sesuai situasiPerilaku yang perlu diperhatikan
KemunculanLebih aktif ketika bermain atau bersemangatKesulitan mengatur aktivitas dalam banyak situasi
DurasiMuncul sesekaliBerlangsung menetap selama berbulan-bulan
LingkunganTerutama pada tempat atau kegiatan tertentuTerlihat di rumah, sekolah, dan lingkungan lain
Kemampuan menyesuaikanMasih dapat tenang pada sebagian situasiSering kesulitan menyesuaikan meskipun tuntutannya sesuai usia
DampakTidak banyak mengganggu kegiatan sehari-hariMengganggu belajar, hubungan, rutinitas, atau keselamatan
Menunggu giliranSesekali tidak sabarSangat sering menyela, merebut, atau bertindak tanpa menunggu
Pengendalian diriMembaik setelah diingatkan atau situasi diubahHambatan tetap sering muncul meskipun sudah mendapat dukungan

“Tabel ini bukan alat diagnosis. Perilaku anak perlu dipahami berdasarkan usia, perkembangan, lingkungan, durasi, serta dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.”

Mengapa Anak Terlihat Terlalu Aktif?

Tidak ada satu alasan yang menjelaskan seluruh perilaku anak. Beberapa faktor berikut dapat membuat anak terlihat jauh lebih aktif dari biasanya.

1. Tahap Perkembangan dan Temperamen Anak

Anak kecil masih mengembangkan kemampuan mengendalikan tubuh, perhatian, emosi, dan impuls. Mereka belum selalu mampu duduk lama, menunda keinginan, atau mengikuti beberapa instruksi sekaligus.

Anak usia di bawah lima tahun juga umumnya lebih mudah terdistraksi, impulsif, dan memiliki energi tinggi. Hal tersebut tidak otomatis berarti ADHD. Kelelahan, stres, kecemasan, dan kondisi lain juga dapat menghasilkan perilaku yang terlihat serupa.

Temperamen juga mempengaruhi cara anak merespons lingkungan. Sebagian anak:

  • lebih antusias menghadapi hal baru;
  • membutuhkan banyak gerakan;
  • cepat bereaksi terhadap suara atau kegiatan;
  • lebih sulit berpindah dari aktivitas yang disukai;
  • membutuhkan waktu lebih lama untuk menenangkan diri.

Temperamen bukan kesalahan anak atau orang tua. Yang dibutuhkan ialah pola pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan anak.

2. Rasa Ingin Tahu dan Kegembiraan

Anak dapat terlihat lebih aktif ketika berada di lingkungan baru, bertemu teman, menerima mainan, atau mengikuti kegiatan yang sangat ia sukai.

Saat bersemangat, anak mungkin:

  • berlari ke berbagai arah;
  • berbicara lebih keras;
  • mengajukan banyak pertanyaan;
  • menyentuh banyak benda;
  • sulit menunggu giliran;
  • berpindah aktivitas dengan cepat.

Perhatikan apakah perilaku berkurang setelah anak terbiasa dengan situasi tersebut. Jika aktivitas tinggi hanya muncul pada kondisi tertentu, hal itu belum tentu menunjukkan masalah perkembangan.

Orang tua dapat membantu dengan memberikan penjelasan sebelum memasuki tempat baru, menetapkan satu atau dua aturan sederhana, dan memberi kesempatan anak bergerak secara aman.

3. Kebosanan atau Kegiatan yang Tidak Sesuai Usia

Anak dapat terlihat gelisah ketika kegiatan terlalu lama, terlalu sulit, terlalu mudah, atau tidak memberikan kesempatan untuk berpartisipasi.

Misalnya, anak mungkin berjalan-jalan ketika diminta mendengarkan penjelasan panjang tanpa gambar, gerakan, atau kesempatan menjawab. Ia juga dapat mengganggu teman ketika harus menunggu terlalu lama.

Sebelum menganggap anak tidak mampu fokus, perhatikan:

  • Apakah durasi kegiatan realistis untuk usianya?
  • Apakah instruksi terlalu panjang?
  • Apakah anak memahami tugasnya?
  • Apakah kegiatan memberi kesempatan bergerak?
  • Apakah tingkat kesulitannya sesuai?
  • Apakah anak sudah terlalu lama menunggu?

Pecah kegiatan menjadi langkah yang lebih pendek. Berikan satu instruksi pada satu waktu, lalu tambahkan tugas berikutnya setelah anak menyelesaikan langkah pertama.

4. Kurang Tidur atau Kualitas Tidur yang Buruk

Anak yang kurang tidur tidak selalu terlihat mengantuk. Sebagian anak justru tampak mudah marah, impulsif, sulit berkonsentrasi, gelisah, atau semakin aktif.

American Academy of Pediatrics menyebut kurang tidur berkepanjangan dapat berkaitan dengan masalah perilaku, mudah tersinggung, dan kesulitan berkonsentrasi. Rutinitas tidur yang konsisten membantu anak merasa lebih aman dan memudahkan proses tidur.

Perhatikan beberapa hal berikut:

  • Waktu tidur dan bangun anak.
  • Apakah jadwalnya berubah-ubah.
  • Berapa lama anak membutuhkan waktu untuk tertidur.
  • Apakah anak sering terbangun.
  • Apakah anak mendengkur keras.
  • Apakah terdapat jeda napas saat tidur.
  • Apakah penggunaan layar berlangsung hingga menjelang tidur.
  • Bagaimana perilakunya setelah malam dengan tidur yang buruk.

Konsultasikan kepada dokter apabila anak mengalami gangguan tidur berkepanjangan, mendengkur berat, atau terlihat mengalami kesulitan bernapas ketika tidur.

5. Stres, Kecemasan, atau Perubahan Lingkungan

Anak belum selalu mampu mengatakan, “Saya sedang cemas,” atau “Saya merasa tertekan.” Perasaan tersebut dapat muncul melalui perubahan perilaku.

Anak yang cemas dapat terlihat sulit berkonsentrasi, mengalami gangguan tidur, mudah marah, tegang, gelisah, sering menangis, atau menjadi lebih melekat kepada orang tua.

Beberapa situasi yang dapat mempengaruhi anak antara lain:

  • mulai sekolah;
  • pindah rumah;
  • berganti pengasuh;
  • konflik keluarga;
  • kelahiran adik;
  • kehilangan orang terdekat;
  • perundungan;
  • jadwal yang terlalu padat;
  • pengalaman yang menakutkan;
  • perpisahan dengan orang tua.

Ajak anak berbicara tanpa menekan. Untuk anak kecil, gunakan bantuan gambar, boneka, atau cerita.

Contohnya:

“Sepertinya hari ini tubuhmu sulit diam. Ada sesuatu yang membuatmu khawatir?”

Hindari langsung menuduh anak nakal. Perubahan perilaku terkadang menjadi cara anak menunjukkan kebutuhan yang belum mampu disampaikan.

6. Lingkungan Terlalu Ramai atau Rutinitas Kurang Terstruktur

Sebagian anak lebih sulit mengatur perhatian ketika lingkungan penuh suara, layar, orang, mainan, atau instruksi yang datang bersamaan.

Anak juga dapat menjadi lebih gelisah jika tidak mengetahui kegiatan berikutnya. Rutinitas yang relatif konsisten membantu anak memprediksi apa yang akan terjadi.

American Academy of Pediatrics menyarankan jadwal harian, pengurangan gangguan, instruksi singkat, tujuan kecil, dan pujian terhadap perilaku positif sebagai beberapa strategi pengelolaan perilaku.

Orang tua dapat mencoba:

  • mengurangi mainan yang dikeluarkan sekaligus;
  • mematikan televisi ketika anak makan atau mengerjakan tugas;
  • memberikan instruksi dari jarak dekat;
  • menggunakan jadwal bergambar;
  • memberi peringatan sebelum berganti kegiatan;
  • menyediakan tempat yang lebih tenang saat anak perlu fokus.

Perubahan lingkungan tidak digunakan untuk “menyembuhkan” anak. Tujuannya adalah membantu anak menunjukkan kemampuan terbaiknya.

Baca juga: Mengenal Kinestetik, Kunci Anak Aktif dan Cerdas Gerak

7. ADHD atau Kondisi Lain yang Perlu Dinilai Profesional

ADHD memang dapat menjadi salah satu kemungkinan ketika anak secara konsisten mengalami kesulitan perhatian, hiperaktivitas, atau impulsivitas. Namun, tidak ada satu tes tunggal yang dapat menentukan ADHD.

Proses pemeriksaan dapat mencakup riwayat perkembangan, informasi dari orang tua dan guru, penilaian perilaku di beberapa lingkungan, pemeriksaan kesehatan, serta tes penglihatan dan pendengaran. Tenaga kesehatan juga perlu mempertimbangkan kondisi lain yang dapat menimbulkan gejala serupa.

Kondisi yang perlu dipertimbangkan dapat mencakup:

  • gangguan tidur;
  • kecemasan;
  • depresi;
  • kesulitan belajar;
  • gangguan bahasa;
  • masalah penglihatan atau pendengaran;
  • kondisi perkembangan lainnya.

ADHD bukan akibat anak kurang olahraga atau orang tua kurang tegas. Faktor biologis dan genetik berperan dalam kondisi ini, sementara lingkungan dapat mempengaruhi bagaimana gejalanya terlihat

Apakah Anak yang Bisa Fokus pada Permainan Favorit Berarti Tidak ADHD?

Belum tentu.

Anak dengan ADHD dapat menunjukkan perhatian yang lebih lama pada kegiatan yang sangat menarik, baru, atau memberikan respons langsung. Sebaliknya, ia mungkin mengalami hambatan pada tugas yang panjang, berulang, membutuhkan pengorganisasian, atau memberikan hasil yang tertunda.

Karena itu, kemampuan bermain gim, menyusun mainan favorit, atau menonton program tertentu dalam waktu lama tidak cukup untuk menyingkirkan kemungkinan ADHD.

Yang dinilai adalah pola keseluruhan, termasuk kemampuan anak menjalankan kegiatan sehari-hari, mengikuti instruksi, mengatur impuls, menyelesaikan tugas, serta berinteraksi dengan orang lain.

Cara Mengamati Pola Perilaku Anak

Sebelum menyimpulkan penyebabnya, orang tua dapat mencatat perilaku anak selama satu hingga dua minggu.

Catatan tidak perlu rumit. Fokuskan pada situasi, perilaku yang terlihat, kondisi sebelumnya, dan respons yang membantu.

Waktu dan situasiPerilaku yang terlihatKondisi sebelumnyaRespons yang membantu
Sepulang sekolahBerlari, berteriak, sulit mengikuti arahanLelah dan belum makanCamilan, minum, lalu waktu bermain
Menjelang tidurMelompat dan berpindah-pindahBaru menggunakan layarMengurangi stimulasi dan membaca buku
Saat makan di luarSering meninggalkan kursiTempat ramai dan menunggu lamaJalan sebentar sebelum makan
Saat mengerjakan tugasMengalihkan perhatian ke benda lainInstruksi panjangMembagi tugas menjadi beberapa langkah

Catat pula:

  • berapa lama perilaku berlangsung;
  • seberapa sering muncul;
  • apakah terjadi pada hari tertentu;
  • kualitas tidur malam sebelumnya;
  • kondisi makan;
  • perubahan rutinitas;
  • keberadaan suara atau keramaian;
  • apakah pola serupa terlihat di sekolah;
  • apakah anak sedang sakit atau tidak nyaman;
  • strategi yang membuat perilaku membaik.

Catatan ini dapat membantu orang tua menemukan pola dan memberikan informasi yang lebih jelas kepada guru atau tenaga kesehatan.

Cara Mendampingi Anak yang Sangat Aktif

Pendampingan tidak bertujuan menghilangkan seluruh gerakan anak. Tujuannya adalah membantu anak bergerak dengan aman, memahami aturan, mengatur perilaku, dan mengikuti kegiatan sesuai kemampuannya.

1. Buat Rutinitas yang Mudah Diprediksi

Usahakan beberapa kegiatan utama berlangsung dalam urutan yang relatif konsisten, misalnya:

  1. Bangun dan membersihkan diri.
  2. Sarapan.
  3. Sekolah atau bermain.
  4. Makan siang.
  5. Istirahat.
  6. Bermain aktif.
  7. Makan malam.
  8. Rutinitas tidur.

Rutinitas tidak harus kaku. Namun, pola yang cukup konsisten dapat mengurangi ketidakpastian.

Gunakan jadwal bergambar untuk anak yang belum lancar membaca.

2. Berikan Instruksi Satu per Satu

Daripada berkata:

“Berhenti berlari, rapikan mainan, ambil handuk, lalu segera mandi.”

Pecah menjadi beberapa langkah:

“Berhenti dan lihat Ibu.”

Setelah anak merespons:

“Masukkan mobil ke kotak.”

Setelah selesai:

“Sekarang ambil handuk.”

Instruksi singkat dan jelas membantu anak mengetahui tindakan yang harus dilakukan. Pendekatan berupa tugas pendek, arahan satu per satu, dan pujian juga digunakan untuk membantu anak yang mengalami kesulitan perhatian atau pengaturan perilaku.

3. Dapatkan Perhatian Anak Sebelum Berbicara

Dekati anak, sebut namanya, dan pastikan ia menyadari bahwa Anda sedang berbicara.

Kurangi memberi instruksi dari ruangan lain atau ketika anak sedang sangat terlibat dalam permainan.

Gunakan kalimat sederhana:

“Raka, lihat Ayah sebentar.”

Setelah anak melihat, sampaikan instruksi utama.

4. Berikan Kesempatan Bergerak Secara Teratur

Anak yang aktif tetap membutuhkan kesempatan bergerak, bukan hanya tuntutan untuk terus duduk diam.

Kegiatannya dapat berupa:

  • berjalan;
  • berlari;
  • menari;
  • melompat;
  • bermain bola;
  • bersepeda;
  • berenang;
  • mengikuti kelas olahraga;
  • membantu kegiatan rumah yang melibatkan gerakan.

WHO merekomendasikan anak dan remaja usia 5–17 tahun melakukan setidaknya 60 menit aktivitas fisik intensitas sedang hingga tinggi setiap hari. Jumlah tersebut dapat berasal dari berbagai kegiatan sepanjang hari, bukan harus dilakukan sekaligus dalam satu sesi olahraga.

Aktivitas fisik merupakan bagian dari gaya hidup sehat, tetapi bukan pengganti pemeriksaan atau penanganan profesional apabila terdapat kekhawatiran perkembangan.

5. Berikan Peringatan Sebelum Berganti Kegiatan

Sebagian anak kesulitan menghentikan kegiatan yang disukai secara tiba-tiba.

Berikan peringatan:

“Lima menit lagi kita selesai bermain.”

Kemudian:

“Dua menit lagi, setelah itu mobilnya masuk kotak.”

Timer visual atau lagu singkat juga dapat membantu.

6. Gunakan Pujian yang Spesifik

Daripada hanya berkata:

“Anak pintar.”

Sebutkan perilaku yang Anda hargai:

“Kamu berhasil menunggu giliran.”

“Tadi kamu berhenti ketika Ibu memanggil.”

“Kamu sudah menyimpan tiga mainan.”

Pujian yang menjelaskan perilaku membantu anak memahami tindakan apa yang perlu diulangi. AAP menyarankan orang tua memberikan perhatian dan pujian ketika anak menunjukkan usaha atau perilaku yang diharapkan.

7. Tetapkan Aturan yang Sedikit tetapi Konsisten

Pilih aturan yang paling penting, terutama terkait keselamatan.

Contohnya:

  • Tidak memukul.
  • Berhenti sebelum menyeberang.
  • Kaki digunakan untuk berjalan, bukan menendang orang.
  • Mainan dilempar hanya di tempat yang diperbolehkan.

Gunakan kalimat yang menjelaskan tindakan pengganti:

Kurang jelas:

“Jangan berisik!”

Lebih jelas:

“Gunakan suara pelan di dalam rumah.”

8. Sediakan Tempat untuk Menenangkan Diri

Tempat tenang bukan hukuman. Area ini dapat berisi bantal, buku, boneka, atau benda sensorik yang aman.

Ajari anak menggunakannya ketika tubuh terasa terlalu aktif atau emosi mulai meningkat.

Orang tua dapat berkata:

“Tubuhmu terlihat butuh istirahat. Kita duduk bersama sebentar.”

9. Perhatikan Pola Tidur

Bangun rutinitas menjelang tidur yang relatif sama setiap hari, misalnya:

  1. Mengurangi permainan aktif.
  2. Membersihkan diri.
  3. Mematikan layar.
  4. Membaca buku.
  5. Meredupkan lampu.
  6. Tidur pada waktu yang konsisten.

Tidur yang cukup mendukung perilaku, perhatian, daya ingat, kesehatan mental, dan kegiatan belajar anak.

10. Bekerja Sama dengan Guru atau Pengasuh

Tanyakan perilaku anak secara spesifik.

Daripada:

“Apakah anak saya hiperaktif?”

Gunakan pertanyaan seperti:

  • Kapan ia paling sulit mengikuti arahan?
  • Apakah ia mampu mengikuti kegiatan kelompok singkat?
  • Apa yang terjadi sebelum perilaku muncul?
  • Apakah ada kegiatan yang membuatnya lebih tenang?
  • Bagaimana ia berinteraksi dengan teman?
  • Apakah perilakunya mengganggu proses belajar atau keselamatan?

Informasi dari beberapa lingkungan penting karena penilaian ADHD dan masalah perkembangan tidak hanya didasarkan pada perilaku di rumah.

Hal yang Sebaiknya Dihindari

Memberikan label kepada anak

Hindari menyebut anak:

  • nakal;
  • bandel;
  • pengganggu;
  • tidak bisa diam;
  • hiperaktif sebagai identitas.

Ganti dengan deskripsi perilaku:

“Hari ini kamu beberapa kali meninggalkan kursi saat makan.”

Kalimat tersebut lebih spesifik dan tidak mendefinisikan seluruh pribadi anak.

Membandingkan dengan anak lain

Setiap anak memiliki perkembangan, pengalaman, dan temperamen berbeda. Bandingkan kemajuannya dengan pola sebelumnya, bukan dengan saudara atau teman.

Memberikan banyak instruksi sekaligus

Terlalu banyak arahan membuat anak kehilangan bagian penting dari pesan.

Menggunakan aktivitas fisik sebagai hukuman

Jangan menggunakan lari, push-up, atau gerakan lain sebagai hukuman. Aktivitas fisik sebaiknya dikaitkan dengan pengalaman sehat dan menyenangkan.

Menganggap perilaku sebagai kesengajaan

Anak mungkin belum memiliki keterampilan untuk menenangkan diri, menunggu, atau mengatur perhatian. Tetap tetapkan batas, tetapi ajarkan keterampilannya secara bertahap.

Kapan Anak Perlu Diperiksa?

Orang tua dapat berkonsultasi dengan dokter anak, psikolog anak, psikiater anak dan remaja, atau layanan tumbuh kembang apabila:

  • perilaku berlangsung konsisten selama beberapa bulan;
  • aktivitas dan impulsivitas terlihat di lebih dari satu lingkungan;
  • anak sering berada dalam situasi berbahaya;
  • kegiatan belajar atau bermain terus terganggu;
  • anak sulit mempertahankan hubungan dengan teman;
  • rutinitas makan, tidur, atau kegiatan keluarga sangat terganggu;
  • guru atau pengasuh menyampaikan kekhawatiran yang sama;
  • anak mengalami gangguan tidur berat;
  • terdapat perubahan perilaku yang tiba-tiba;
  • anak kehilangan kemampuan yang sebelumnya sudah dikuasai;
  • muncul keluhan kecemasan, kesedihan, atau ledakan emosi yang menetap;
  • strategi pendampingan di rumah tidak membantu;
  • orang tua merasa sangat kewalahan.

Orang tua tidak perlu menunggu sampai masalah menjadi berat. CDC menyarankan langkah pertama berupa konsultasi dengan tenaga kesehatan apabila orang tua mencurigai ADHD atau memiliki kekhawatiran mengenai perkembangan anak.

Bagaimana Pemeriksaan ADHD Dilakukan?

Tidak ada pemeriksaan darah, pemindaian, atau satu kuesioner yang secara tunggal memastikan ADHD.

Proses penilaian umumnya mencakup:

  • wawancara dengan orang tua;
  • informasi dari guru atau pengasuh;
  • riwayat perkembangan;
  • riwayat kesehatan dan keluarga;
  • penilaian perilaku;
  • pemeriksaan fisik;
  • pemeriksaan penglihatan dan pendengaran jika diperlukan;
  • penilaian kondisi lain dengan gejala serupa.

Tenaga profesional juga perlu memastikan bahwa gejala terjadi di lebih dari satu lingkungan, sudah berlangsung cukup lama, tidak sesuai dengan tahap perkembangan, dan menimbulkan gangguan fungsi.

Jangan menggunakan artikel, video media sosial, atau daftar gejala daring sebagai dasar diagnosis mandiri.

Pertanyaan Seputar Anak yang Terlalu Aktif

Apakah anak yang tidak bisa diam pasti mengalami ADHD?

Tidak. Banyak anak, khususnya yang berusia di bawah lima tahun, memiliki energi tinggi, mudah terdistraksi, dan impulsif. Perilaku tersebut juga dapat dipengaruhi kelelahan, stres, kecemasan, kebosanan, dan situasi lingkungan.

ADHD memerlukan pola gejala yang menetap, muncul di beberapa lingkungan, dan mengganggu fungsi anak.

Apakah gula menyebabkan anak hiperaktif?

Bukti yang dirangkum American Academy of Pediatrics tidak menunjukkan bahwa makan terlalu banyak gula menjadi penyebab ADHD. Pola makan seimbang tetap penting bagi kesehatan, tetapi gula tidak sebaiknya dijadikan penjelasan tunggal atas perilaku aktif anak.

Orang tua dapat mencatat makanan, waktu makan, tidur, dan situasi apabila merasa perilaku berubah setelah kondisi tertentu. Catatan tersebut dapat dibahas dengan tenaga kesehatan.

Apakah olahraga dapat menyembuhkan ADHD?

Tidak. Olahraga bukan obat atau pengganti penanganan ADHD.

Aktivitas fisik dapat memberi anak kesempatan bergerak, berlatih mengikuti aturan, dan menjalani pola hidup sehat. Namun, anak yang mengalami ADHD mungkin tetap membutuhkan dukungan di rumah dan sekolah, pelatihan pengelolaan perilaku, terapi, atau pengobatan sesuai evaluasi profesional.

Apakah pola asuh yang kurang tegas menyebabkan ADHD?

Tidak. ADHD bukan disebabkan pola asuh yang buruk. Namun, aturan yang tidak konsisten atau lingkungan yang kurang mendukung dapat membuat perilaku lebih sulit dikelola.

Orang tua tetap dapat mempelajari strategi komunikasi dan pengelolaan perilaku untuk membantu anak.

Apakah anak yang dapat duduk menonton berarti tidak hiperaktif?

Belum tentu. Perhatian dapat berubah berdasarkan minat, tingkat stimulasi, kesulitan kegiatan, dan situasi.

Kemampuan mengikuti satu aktivitas yang sangat disukai tidak cukup untuk memastikan atau menyingkirkan ADHD.

Pada usia berapa ADHD dapat diperiksa?

Pedoman CDC yang mengacu pada AAP merekomendasikan evaluasi ADHD bagi anak dan remaja usia 4–18 tahun yang mengalami masalah akademik atau perilaku disertai gejala kurang perhatian, hiperaktivitas, atau impulsivitas.

Anak yang lebih kecil tetap dapat menjalani pemeriksaan perkembangan apabila terdapat kekhawatiran, tetapi penilaiannya perlu dilakukan secara hati-hati oleh tenaga profesional.

Siapa yang dapat menilai ADHD?

Penilaian dapat dilakukan oleh tenaga profesional yang berkompeten, seperti dokter anak, dokter tumbuh kembang, psikolog, atau psikiater anak dan remaja, bergantung pada sistem layanan dan kebutuhan anak.

Apakah anak aktif perlu dilarang banyak bergerak?

Tidak. Anak tetap membutuhkan kesempatan bergerak secara aman.

Yang perlu diajarkan ialah kapan dan di mana anak boleh berlari, melompat, atau bermain aktif. Misalnya, berlari diperbolehkan di lapangan, tetapi berjalan pelan diperlukan ketika berada di dekat jalan atau tangga.

Salurkan Kebutuhan Gerak Anak Melalui Aktivitas yang Sesuai

Anak yang aktif tidak selalu membutuhkan lebih banyak larangan. Ia mungkin membutuhkan lingkungan yang aman, aturan yang jelas, aktivitas sesuai usia, tidur cukup, dan kesempatan bergerak secara teratur.

Kegiatan olahraga dapat menjadi salah satu pilihan untuk membantu anak menggunakan tubuhnya secara terarah. Melalui kelas yang sesuai usia, anak dapat berlatih mengikuti instruksi, menunggu giliran, mencoba gerakan, dan berinteraksi dengan teman.

Namun, olahraga tidak digunakan untuk mendiagnosis, mengobati, atau menyembuhkan ADHD. Apabila orang tua memiliki kekhawatiran mengenai perhatian, impulsivitas, emosi, atau perkembangan anak, konsultasikan dengan tenaga profesional.

Temukan Aktivitas yang Sesuai di Sparks Sports Academy

Sparks Sports Academy menyediakan berbagai pilihan aktivitas berdasarkan usia, seperti Kelas Gymnastics Anak, Sensory & Phonics, Multi Sports, Dance, Balet, Taekwondo, Basket, dan Futsal. Ketersediaan kelas dapat berbeda di setiap lokasi.

Orang tua dapat memilih kegiatan berdasarkan usia, minat, kenyamanan, dan kesiapan anak. Sampaikan kebutuhan khusus atau kondisi kesehatan anak kepada tim kelas sebelum mendaftar agar kegiatan dapat dipertimbangkan dengan lebih tepat.

Disclaimer

Artikel ini bertujuan memberikan informasi umum dan tidak digunakan untuk mendiagnosis ADHD, gangguan kecemasan, gangguan tidur, atau kondisi perkembangan lainnya. Konsultasikan dengan dokter atau tenaga profesional terkait apabila perilaku anak mengganggu aktivitas, keselamatan, hubungan sosial, atau perkembangan sehari-hari.

Bagikan artikel ini lewat:

© 2024 | Sparks Sports Academy - PT Pendidikan Anak Bangsa

KUOTA PROMO SUDAH DIAMBIL 91%