Lewati ke konten
Sparks Sports Academy Logo
Manfaat Bermain Mandi Bola untuk Anak Di Usia yang Tepat

Manfaat Bermain Mandi Bola untuk Anak Di Usia yang Tepat

Parenting

Anak-anak mudah antusias dengan suatu aktivitas, salah satunya berendam di kolam bola alias mandi bola. Ada kolam warna-warni, di mana anak bisa loncat, menenggelamkan diri, lalu muncul lagi sambil tertawa. Sehingga, dari sisi tumbuh kembang anak, aktivitas ini bisa menjadi pengalaman sensorik dan sosial. Namun, perlu Anda ketahui bahwa aktivitas hiburan tersebut bisa anak lakukan pada jenjang usia yang tepat dan dengan standar keamanan jelas. Penasaran berapa batas usia anak yang boleh bermain mandi bola? Simak penjelasannya di artikel ini. untuk permainan ini minimal saat anak sudah mulai berjalan lancar, sekitar usia 3 tahun ke atas. Key Takeaways Kenapa Mandi Bola Lebih Bermanfaat untuk Anak Berusia 3 Tahun ke Atas? Mengutip laporan American Academy of Pediatrics (AAP), bermain aktif adalah salah satu metode yang efektif untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak. Di kolam bola, anak akan bermain sambil melakukan gerakan kombinasi melangkah, menahan badan, meraih bola, melempar, dan mencari ruang untuk bergerak. Aktivitas seperti ini bisa melatih beberapa aspek sekaligus pada anak, yaitu: Namun, serangkaian manfaat di atas baru bisa ampuh saat anak sudah cukup matang secara fisik untuk menjaga keselamatan diri sendiri. Pada poin itu, usia anak menjadi salah satu faktor penentu utama. Ada dua risiko besar dari bermain di kolam bola yang acap dianggap remeh, di antaranya adalah sebagai berikut. Mengapa Bayi di Bawah 3 Tahun Tidak Disarankan Bermain Mandi Bola? Pada bayi yang berusia di bawah 3 tahun, terutama saat masih di rentang usia 0-3 bulan, bermain di kolam bola bahkan milik pribadi sebaiknya benar-benar dilarang. Berikut ini beberapa pertimbangan yang mendasarinya. Banyak pula orang tua yang mengira bahwa saat anak sudah mencapai usia 1 tahun, artinya aman mengajak mereka mandi bola. Faktanya, Healthy Children menyebut bahwa anak berusia sekitar 12 bulan masih dalam fase transisi. Anak mulai berdiri dan melangkah, tapi stabilitasnya belum konsisten. Memasukkan anak ke kolam bola berpotensi membuat mereka tergelincir, tertindih anak yang lebih besar, dan panik ketika tertimbun bola-bola. Oleh sebab itu, ketika anak sudah lancar berjalan atau berusia 3 tahun ke atas, bermain di kolam bola baru disarankan. Pada usia sekitar 3 tahun, anak umumnya sudah berlari, bahkan naik tangga dengan stabil dan memiliki kemampuan koordinasi tubuh serta emosional yang lebih matang. Sehingga, pada rentang usia tersebut, anak lebih siap menghadapi permainan fisik dinamis, termasuk bermain di kolam bola. Tips Memilih Arena Kolam Bola yang Tepat untuk Anak Ketika anak sudah memasuki usia yang cukup untuk bermain mandi bola, bukan berarti Anda bisa memilih sembarang tempat. Pastikan Anda menerapkan beberapa tips pemilihan arena kolam bola yang tepat untuk buah hati di bawah ini. Selain itu, supaya aktivitas bermain di kolam bola lebih menyenangkan dan bermanfaat, coba selipkan permainan-permainan kecil berikut ini. Mandi Bola Bisa Bermanfaat di Usia yang Tepat Secara teknis, mandi bola merupakan salah satu aktivitas gerak yang mudah membangkitkan antusiasme anak dan bermanfaat untuk tumbuh kembangnya. Namun, manfaat itu hanya bisa anak dapatkan ketika ia sudah berusia 3 tahun, yang mana sudah lebih matang dari berbagai aspek. Jika Anda suka konsep bermain di kolam bola yang membuat anak bergerak aktif, berani bereksplorasi dan belajar sosial, maka ada solusi lain yang tak kalah efektif. Anda bisa mendaftarkan anak ke akademi olahraga Sparks Sports Academy sesuai minat aktivitas fisik mereka. Ada kelas sensory phonics yang dapat melatih perkembangan motorik si kecil dengan hasil yang serupa dengan permainan kolam bola. Ada pula kelas gymnastic, futsal, basket, tari, dan lainnya dengan kurikulum seimbang untuk tumbuh kembang fisik, kognitif, dan emosional-sosial si kecil.

27/01/2026 / Komentar Dinonaktifkan pada Manfaat Bermain Mandi Bola untuk Anak Di Usia yang Tepat
Baca Lebih Lanjut
5 Tips Kenali Gaya Belajar Anak dan Manfaatnya

5 Tips Kenali Gaya Belajar Anak dan Manfaatnya

Parenting

Setiap anak memiliki cara atau gaya belajar yang unik dan tidak dapat disamakan satu sama lain. Dr. Howard Gardner, seorang pakar pendidikan sekaligus psikolog, menjelaskan bahwa orang tua dan pendidik tidak hanya berfokus pada “seberapa pintar anak?”, melainkan memahami “bagaimana anak belajar dengan cara terbaiknya”. Dengan mengetahui apakah anak lebih mudah menyerap informasi melalui pendengaran, aktivitas fisik, atau visual, Anda sebagai orang tua dapat menyesuaikan metode pembelajaran sesuai karakter anak. Pendekatan yang tepat akan membuat proses belajar menjadi lebih efektif sekaligus lebih menyenangkan bagi anak. Key Takeaways Jenis Gaya Belajar Anak Para pakar pendidikan mengklasifikasikan cara belajar anak ke dalam beberapa kategori. Meskipun belum ada definisi yang sepenuhnya baku, model auditori, visual, dan kinestetik terkenal sebagai tipe yang paling umum dan sering diterapkan dalam proses pembelajaran anak, baik pada usia dini maupun tingkat sekolah dasar. 1. Gaya Belajar Visual Anak dengan cara belajar visual cenderung lebih cepat memahami informasi melalui tampilan visual, seperti video, gambar, diagram, atau materi penuh warna. Pendekatan ini umumnya cocok untuk anak yang tertarik pada ilustrasi dan buku bergambar. Adapun ciri-ciri anak dengan cara belajar visual adalah: 2. Gaya Belajar Auditori Anak dengan cara belajar auditori lebih mudah menyerap informasi melalui penjelasan verbal, suara, dan aktivitas berbasis diskusi. Mereka biasanya lebih fokus saat mendengarkan cerita, lagu edukatif, maupun arahan yang disampaikan secara lisan. Ciri-ciri anak auditori adalah: 3. Gaya Belajar Kinestetik Anak dengan cara belajar kinestetik cenderung menyerap informasi dengan lebih baik ketika mereka bergerak aktif dan terlibat langsung dalam suatu kegiatan. Proses belajar akan terasa lebih efektif jika dilakukan melalui eksplorasi dan praktik secara langsung. Beberapa ciri anak kinestetik adalah: Baca juga: Cara Melatih Fokus Anak Supaya Disiplin dalam Belajar Manfaat Memahami Gaya Belajar Anak Mengetahui dan memahami gaya belajar anak memberikan berbagai dampak positif bagi proses tumbuh kembangnya, terutama dalam perkembangan kognitif, fisik, serta sosial-emosional. Berikut ini beberapa manfaatnya. 1. Mendukung Perkembangan Akademik Dengan menyesuaikan metode pembelajaran, materi dapat disampaikan dengan cara yang lebih mudah dipahami anak. Misalnya, anak dengan cara belajar visual akan terbantu melalui media bergambar, sedangkan anak kinestetik cenderung lebih efektif belajar lewat aktivitas yang melibatkan gerakan dan permainan. 2. Meningkatkan Motivasi dan Kepercayaan Diri Pendekatan belajar yang selaras dengan preferensi anak membuat mereka merasa dihargai dan lebih termotivasi. Hal ini pun mendorong anak untuk berani mengungkapkan ide, mencoba tantangan baru, serta berkembang sesuai dengan kemampuan dan ritmenya sendiri. 3. Memperkuat Keterampilan Sosial Metode pembelajaran yang sesuai dengan cara belajar anak membantu menciptakan rasa nyaman saat berinteraksi dalam kelompok, baik melalui permainan peran, diskusi, maupun berbagai aktivitas kolaboratif lainnya. 4. Memudahkan Stimulus Dengan mengikuti gaya belajar anak, orang tua akan lebih mudah memberikan stimulus. Sebagai contoh, jika anak suka belajar sambil bermain, berarti anak memiliki gaya belajar kinestetis. 5. Membantu Anak Lebih Fokus Mengenali gaya belajar anak berarti menemukan keinginanya. Orang tua akan memaksimalkan potensi anak dan memberikan arahan yang tepat. Dampaknya, anak lebih fokus terhadap tugasnya sebagai pelajar. Dengan begitu, anak akan mudah mendapatkan prestasi akademik. Tips Mengenali Gaya Belajar Anak Ada beberapa hal penting yang perlu Anda perhatikan ketika ingin mengidentifikasi gaya belajar anak. Berikut ini beberapa cara sederhananya. Dukung Gaya Belajar Anak dengan Lingkungan Terbaik Memahami gaya belajar anak bukan hanya berkaitan dengan pencapaian akademik. Ini merupakan langkah penting dalam mendukung perkembangan anak secara menyeluruh, mulai dari usia balita hingga sekolah dasar. Ketika orang tua mampu mengenali cara belajar yang paling sesuai, proses belajar pun menjadi lebih menyenangkan dan bermakna bagi anak. Pemahaman ini juga membantu anak membangun ketangguhan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Selain itu, Anda perlu mempertimbangkan program komprehensif yang dapat menunjang perkembangan fisik dan edukatif anak di luar rumah, salah satunya melalui partisipasi di Sparks Sports Academy. Kami menghadirkan metode pembelajaran yang menyenangkan dan kegiatan kreatif yang menyesuaikan cara belajar anak. Melalui pengalaman langsung, anak dapat mengembangkan kemampuan fisik, kerja sama sosial, kepercayaan diri, serta daya kognitif secara optimal. Daftar sekarang dan rasakan manfaatnya!

27/01/2026 / Komentar Dinonaktifkan pada 5 Tips Kenali Gaya Belajar Anak dan Manfaatnya
Baca Lebih Lanjut
Baby Walker Tidak Direkomendasikan, Apa Alasannya?

Baby Walker Tidak Direkomendasikan, Apa Alasannya?

Parenting

Baby walker merupakan alat yang kerap digunakan orang tua untuk melatih anak berusia di bawah 12 bulan untuk berjalan. Desain alat ini berupa kursi gantung dan penyangga yang terhubung langsung dengan roda, sehingga anak dapat duduk dengan posisi kaki yang menggantung dan jari-jari kaki menyentuh tanah.  Namun, apakah Anda tahu bahwa alat bantu jalan bayi dapat memengaruhi pola berjalan anak? Alat ini pun direkomendasikan untuk anak-anak gunakan. Apa alasannya? Berikut ulasan lengkapnya! Key takeaways:  7 Alasan Penggunaan Baby Walker Tidak Diperbolehkan  Berikut rangkuman bahaya penggunaan alat bantu jalan bayi yang perlu orang tua sadari! 1. Anak Rentan Mengalami Cedera  Bahkan, menurut studi dari American Academy of Pediatrics, sejak tahun 1990 – 2014, terdapat 230.676 kasus anak berusia di bawah 15 bulan yang masuk UGD (Unit Gawat Darurat) karena kecelakaan akibat penggunaan baby walker.  Menurut laporan tersebut, rata-rata anak-anak terjatuh dari tangga saat menggunakan alat bantu jalan bayi. Di antaranya anak mengalami cedera pada leher atau kepala, atau bahkan cedera yang lebih serius. Melihat fakta tersebut, tentu penggunaan alat bantu jalan bayi dinilai tidak lagi layak dan dilarang. 2. Otot Kaki Anak Menjadi Tegang  Salah satu hal penting yang anak butuhkan ketika mulai berlatih berjalan ialah melatih kekuatan otot di seluruh tubuh. Namun, saat menggunakan alat bantu jalan, anak akan melewatkan latihan gerakan berulang yang mereka butuhkan. Contohnya seperti gerakan merayap di tembok atau mencoba berdiri dari posisi duduk.  Ketika anak menggunakan alat bantu jalan bayi, mereka akan menggunakan jari-jari kakinya saja. Tentu saja, ini akan mengganggu proses berjalan normal karena otot kaki menjadi tegang hingga memengaruhi bentuk kaki.   3. Anak Sulit Menyeimbangkan Tubuh  Mengutip Harvard Health Publishing, baby walker membuat anak tidak bisa berjalan secara mandiri. Karena, ketika anak belajar berjalan, mereka harus melewati proses menyeimbangkan tubuh dan mengambil langkah tanpa bantuan. Namun, apabila anak memakai alat, proses menyeimbangkan tubuh akan semakin lama mereka pelajari.  4. Memudahkan Anak dalam Mengambil Benda yang Berbahaya  Benda-benda berbahaya yang biasa ada di atas meja, seperti pisau dapur, gunting, minuman panas, dan lain sebagainya akan semakin mudah anak jangkau jika mereka menggunakan alat bantu jalan. Bahkan, jika orang tua tidak mengawasi dengan baik, anak dapat pergi ke area terlarang. Contohnya seperti tangga yang turun ke lantai bawah, dapur, kamar mandi, dan lain sebagainya.  5. Melakukan Gerakan yang Tidak Terkendali  Anak juga akan lebih mudah melakukan gerakan yang tidak terkendali jika menggunakan alat bantu jalan. Contohnya seperti berputar-putar atau mencoba menabrakkan diri ke tembok, furniture, dan benda bahaya lain. Baik itu, dalam pengawasan atau tidak, anak tetap bisa melakukan gerakan tersebut.  6. Risiko Jari Kaki Terjepit  Diantara roda baby walker terdapat celah yang dapat menyebabkan jari kaki anak masuk dan terjepit ketika menggunakannya. Bahkan, tak jarang mereka justru secara sengaja memasukkan jari kakinya ke dalam sana. Anak juga dapat terjepit saat mereka menabrakkan diri ke benda keras seperti dinding. 7. Mengganggu Perkembangan Motorik Anak  Mengutip penelitian Seputri dan Nikmatur (2024), alat bantu jalan bayi tidak hanya dapat meningkatkan insiden cedera, namun juga memperlambat motorik kasar anak.  Anak akan cenderung duduk dalam waktu yang lama, sehingga gerakan mereka menjadi terbatas. Mereka tidak bisa mengeksplorasi gerakan lain seperti merangkak, sehingga perkembangan kemampuan motorik anak tidak lancar.  Baca juga: Gunakan Push Walker untuk Membantu Anak Belajar Berjalan Alternatif Melatih Anak Berjalan Tanpa Baby Walker Meski memang sudah banyak merek alat bantu jalan yang menerapkan standar baru, bahaya yang mengancam si kecil akan tetap ada. Karena itu, untuk melatih anak berjalan, Anda dapat menuntun anak secara manual, yaitu dengan mengajak mereka berdiri dan memegang kedua tangannya. Selain itu, biarkan mereka bermain di lantai dengan menyediakan ruangan atau tempat yang aman untuk anak agar dapat bereksplorasi secara bebas. Jadi, kemampuan motorik mereka dapat berkembangan secara normal. Lewat dorongan aktif ini, anak pasti bisa belajar dengan lebih aman. Sudah Paham Bahaya Baby Walker bagi Perkembangan Anak? Kesimpulannya, tanpa baby walker sekalipun, orang tua tetap dapat melatih kemampuan berjalan anak. Namun, jika Anda merupakan orang tua yang sibuk dan sulit meluangkan waktu untuk melatih kemampuan motorik anak, Anda dapat mendaftarkan anak ke Sparks Sports Academy.  Spark Sports Academy merupakan tempat untuk memberikan pembelajaran yang mendukung tumbuh kembang si kecil menggunakan stimulasi sensorik dan aktivitas fisik menyenangkan. Sparks Sports Academy pun memiliki berbagai kelas yang dapat menyesuaikan dengan usia dan kebutuhan anak.  Mulai dari dance hingga olahraga, anak akan akan didukung agar dapat tumbuh cerdas dan aktif. Tidak hanya sekedar bermain, Sparks Sports Academy juga dapat menjadi tempat anak melatih kemampuan sosialisasi, mengasah pikiran, serta berpikir kreatif dan kritis. Tunggu apa lagi? Segera daftarkan anak Anda!

27/01/2026 / Komentar Dinonaktifkan pada Baby Walker Tidak Direkomendasikan, Apa Alasannya?
Baca Lebih Lanjut
Macam Permainan Alfabet untuk Anak Balita-SD beserta Manfaat

Macam Permainan Alfabet untuk Anak Balita-SD beserta Manfaat

Parenting

Menyaksikan si kecil mulai mengeja huruf pertamanya adalah momen mendebarkan bagi orang tua. Namun, di balik kelucuan mereka menyebutkan huruf “A”, “B” dan seterusnya, terdapat proses kognitif yang sangat kompleks. Menjadikan permainan alfabet untuk anak sebagai jembatan menjadi pilihan tepat. Hanya saja, tantangan utama dalam mengenalkan alfabet dan literasi (membaca) secara lebih luas adalah cara menjaga proses belajar tetap menyenangkan tanpa tantangan berlebih. Inilah mengapa proses pembelajaran perlu melibatkan permainan yang menyeimbangkan antara edukasi dan rekreasi bagi si kecil. Key Takeaways Mengapa Permainan Alfabet untuk Anak Sangat Krusial? Banyak penelitian menunjukkan bahwa kemampuan literasi dini merupakan faktor kuat cemerlangnya akademik anak di masa depan. Menurut data National Institute of Child Health and Human Development, anak dengan paparan literasi kuat cenderung memiliki pencapaian akademik yang unggul. Namun, anak-anak pada rentang usia 1-5 tahun, tidak dianjurkan mendapatkan tekanan terlalu keras dalam mempelajari alfabet. Sebab itu, permainan alfabet menjadi solusi tepat, tentunya dengan pembagian strategi sesuai kemampuan pemahaman anak berdasarkan usianya. Strategi Permainan Alfabet Berdasarkan Kelompok Usia Berikut adalah klasifikasi strategi permainan alfabet untuk anak yang tepat sesuai jenjang usia mereka. 1. Usia Balita (1-3 Tahun): Eksplorasi Sensorik Pada usia ini, fokus utama adalah pengenalan bentuk dan bunyi (fonik). Anda bisa mencobanya melalui dua metode sederhana, seperti alphabet sensory bin dan tracing in the sand. Berikut ini penjelasannya. 2. Usia Prasekolah (4-5 Tahun): Menghubungkan Huruf dan Makna Pada rentang usia prasekolah, anak mulai memahami bahwa huruf dapat membentuk kata yang memiliki arti. Anda bisa menerapkan metode permainan alphabet scavenger hunt atau lompat alfabet. Begini caranya. 3. Usia Sekolah Dasar (6-8 Tahun): Literasi Aktif Pada tahap ini, anak sudah mulai merangkai kalimat dan memahami struktur bahasa yang lebih kompleks. Anda bisa melibatkan permainan yang lebih kompleks, seperti scrabble junior (susun kata) dan detektif kata. Berikut ini penjelasannya. Baca juga: Cara Memilih Mainan Edukasi Bayi yang Tepat Sesuai Usia Anak Pengaruh Aktivitas Fisik dalam Permainan Alfabet untuk Anak Menariknya, dari contoh-contoh permainan alfabet untuk anak di atas, tingkat keterlibatan aktivitas fisik sangat tinggi. Hal tersebut sesuai anjuran UNICEF, bahwa kegiatan fisik pada anak-anak melancarkan aliran darah ke otak dan melepaskan endorfin yang meningkatkan fokus mereka. Anak menjadi lebih mudah menerima dan menyerap pelajaran baru, termasuk pengenalan alfabet. Berikut ini tabel manfaat aktivitas berbasis gerak tubuh terhadap peningkatan kemampuan anak dalam mengenali alfabet. Jenis Aktivitas Manfaat Utama Keterampilan yang Tumbuh Permainan Lari Huruf Koordinasi Motorik Kasar Ketangkasan dan Kecepatan Berpikir Menyusun Balok Alfabet Motorik Halus Konsentrasi dan Presisi Permainan Kelompok Keterampilan Sosial Kerja sama Tim dan Komunikasi Peran Penting Orang Tua sebagai Fasilitator Meskipun saat ini sudah banyak lembaga pendidikan anak usia dini, mulai dari playgroup, preschool, hingga kindergarten, peranan orang tua sebagai fasilitator permainan alfabet tetap krusial. Anda sebagai orang tua wajib terlibat secara aktif, tetapi bukan untuk menjadi guru yang kaku. Anda bisa menjadi “teman bermain” anak yang suportif dalam mendampingi fase belajar alfabet mereka dengan cara-cara sederhana seperti berikut ini. Pentingnya Aktivitas Fisik dalam Pengenalan Alfabet pada Anak Secara teknis, metode permainan alfabet untuk anak menjadi gerbang awal untuk membiasakan anak pada huruf dengan cara yang menyenangkan. Melibatkan permainan dengan aktivitas fisik sangat efektif dalam memicu hormon endorfin yang membuat anak lebih mudah fokus dan cepat menyerap pembelajaran. Selain mendaftarkan anak pada lembaga pendidikan usia dini dan memberi pembelajaran secara mandiri, Anda juga bisa melakukan cara lain. Salah satunya adalah mendaftarkan anak ke akademi olahraga berkurikulum internasional yang memberikan latihan fisik untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak. Sparks Sports Academy (SSA) merupakan pilihan tepat dengan spesifikasi tersebut. Dengan tersedianya berbagai kelas olahraga untuk anak mulai usia 12 bulan, SSA didukung oleh pelatih profesional. Anak akan mendapat latihan aktivitas fisik yang seimbang untuk perkembangan kognitif, emosional, dan sosial mereka.

26/01/2026 / Komentar Dinonaktifkan pada Macam Permainan Alfabet untuk Anak Balita-SD beserta Manfaat
Baca Lebih Lanjut
Perbedaan Playgroup, Preschool, dan Kindergarten Terlengkap

Perbedaan Playgroup, Preschool, dan Kindergarten Terlengkap

Parenting

Memasuki fase usia dini, Anda sebagai orang tua akan dihadapkan pada berbagai pilihan institusi pendidikan untuk anak. Mengenali perbedaan playgroup, preschool, dan kindergarten menjadi langkah krusial agar Anda bisa menempatkan anak di lembaga pendidikan yang tepat sesuai tumbuh kembangnya. Key Takeaways Perbedaan Playgroup, Preschool, dan Kindergarten secara Umum Memilih lingkungan pendidikan merupakan fondasi penting dalam membangun arsitektur otak anak. Sebab, berdasarkan penelitian Harvard Center on the Developing Child, rentang usia 0-5 tahun merupakan waktu emas pertumbuhan kognitif, fisik, dan emosional-sosial manusia. 1. Playgroup (Kelompok Bermain): Fokus pada Sosialisasi dan Sensorik Pembahasan pertama adalah playgroup atau Kelompok Bermain (KB) yang umumnya ditujukan untuk anak usia 2 hingga 4 tahun. Pada tahap ini, fokus utama bukanlah pada kemampuan akademik, melainkan pengembangan keterampilan sosial-emosional dan motorik kasar melalui aktivitas bermain yang terstruktur. Dalam konteks pendidikan di Indonesia, playgroup masuk ke dalam kategori Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) non-formal. Berdasarkan data dari UNICEF, stimulasi pada usia ini sangat penting untuk membangun kemandirian dan kemampuan berinteraksi dengan teman sebaya, asalkan memenuhi faktor berikut. Anda sebagai orang tua harus menyadari bahwa pada fase ini, anak belajar melalui gerakan. Aktivitas fisik yang melatih motorik kasar sangat dominan untuk menyiapkan otot-otot anak sebelum nantinya mereka belajar menggenggam pensil di tahap berikutnya. 2. Preschool (PAUD): Masa Transisi Menuju Pembelajaran Terstruktur Supaya dapat memahami perbedaan playgroup, preschool, dan kindergarten, Anda juga perlu mengenal preschool. Biasanya, preschool memiliki kurikulum yang sedikit lebih terarah untuk anak dengan rentang usia 3 sampai 5 tahun. Preschool menjembatani kebebasan bermain playgroup dan struktur formal kindergarten (TK). Selain itu, preschool sangat menekankan pengembangan bahasa dan keterampilan pra-akademik. Anak-anak pun mulai diperkenalkan pada konsep angka, huruf, dan warna melalui permainan edukatif yang tetap menyenangkan. Preschool yang baik harus mampu mengintegrasikan “belajar sambil bermain” secara seimbang. Tentunya dengan berlandaskan pada faktor-faktor berikut ini. Di tingkat preschool, peran aktivitas edukatif yang melibatkan fisik menjadi semakin kompleks. Misalnya, menari mengikuti irama atau mengikuti permainan kelompok yang membutuhkan koordinasi tim. Baca juga: Kindergarten adalah Fase Penting Pendidikan Anak Usia Dini 3. Kindergarten (Taman Kanak-Kanak): Persiapan Sekolah Dasar Di Indonesia, kindergarten atau Taman Kanak-Kanak (TK) adalah jenjang pendidikan formal untuk anak berusia 5 sampai 7 tahun, atau sebelum memasuki Sekolah Dasar (SD). Perbedaan paling mencolok terletak pada kurikulumnya yang mulai mencakup standar literasi dan numerasi yang lebih formal. Kurikulum TK dirancang untuk memastikan anak memiliki kesiapan sekolah (school readiness). Hal ini mencakup kesiapan fisik, motorik, kognitif, serta kemampuan untuk fokus dalam durasi yang lebih lama. Berikut ini ciri-ciri kindergarten. Supaya lebih mudah memahami perbedaan playgroup, preschool, dan kindergarten, berikut adalah tabel perbandingan yang bisa Anda jadikan sebagai acuan cepat. Fitur Playgroup Preschool Kindergarten Rentang Usia 2 – 4 Tahun 3 – 5 Tahun 5 – 7 Tahun Fokus Utama Sosialisasi dan Bermain Transisi dan Pra-Akademik Kesiapan Akademik SD Sifat Program Non-Formal Semi-Formal Formal Tingkat Struktur Bebas Sedang Tinggi Pilih Institusi Pendidikan Usia Dini yang Tepat untuk Anak Melalui penjabaran di atas, jelas bahwa perbedaan playgroup, preschool, dan kindergarten cukup signifikan. Mulai dari rentang usia, kurikulum pembelajaran, sifat program, hingga strukturnya. Namun, ketiganya memiliki keterikatan kuat dalam membentuk kemampuan kognitif, emosional-sosial, dan fisik anak pada jenjang berikutnya. Oleh sebab itu, pastikan Anda memilih institusi yang menetapkan kurikulum pembelajaran sesuai kebutuhan perkembangan anak berdasarkan usia mereka. Selain itu, Anda juga perlu memberi dukungan untuk tumbuh kembang buah hati melalui aktivitas non formal yang terstruktur, seperti bergabung dengan akademi olahraga. Sesuai anjuran Kementerian Kesehatan, anak semestinya beraktivitas fisik selama minimal 60 hari dalam setiap hari. Hal ini bertujuan untuk membentuk kesehatan dan kekuatan fisik yang juga berkaitan erat dengan kecerdasan berpikir dan kontrol emosional mereka. Sebab, badan sehat membuat pikiran segar. Untungnya, Anda dapat memberi dukungan stimulasi fisik profesional untuk anak mulai usia 12  bulan melalui Sparks Sports Academy. Program yang kami miliki di dirancang khusus untuk mendukung tumbuh kembang fisik dan motorik anak melalui pendekatan olahraga yang menyenangkan dan edukatif.

26/01/2026 / Komentar Dinonaktifkan pada Perbedaan Playgroup, Preschool, dan Kindergarten Terlengkap
Baca Lebih Lanjut

Paginasi pos

Sebelumnya 1 … 11 12 13 … 73 Berikutnya
Tema Royal Elementor Kit dibuat oleh WP Royal.