Lewati ke konten
Sparks Sports Academy Logo
Playgroup adalah: Pengertian, Manfaat, dan Tips Memilihnya

Playgroup adalah: Pengertian, Manfaat, dan Tips Memilihnya

Parenting

Banyak orang tua mencari lingkungan aman, menyenangkan, dan tepat untuk buah hati yang masih bereksplorasi. Playgroup adalah pilihan yang tepat untuk kebutuhan tersebut. Di Indonesia sendiri, jenjang pendidikan formal ini lebih familiar dengan sebutan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Key Takeaways Playgroup adalah Gerbang Pendidikan Awal Balita Playgroup atau PAUD merupakan program pendidikan anak usia dini yang menekankan proses belajar melalui kegiatan bermain. Di Indonesia, PAUD menerima anak usia 3–5 tahun sebagai tahap persiapan sebelum memasuki jenjang Taman Kanak-Kanak (TK). Banyak yang menganggap bahwa playgroup sama dengan daycare atau Taman Penitipan Anak (TPA). Padahal, PAUD bukan sekadar lembaga penitipan anak, tetapi menerapkan kurikulum terpadu yang dirancang untuk menstimulasi perkembangan motorik, bahasa, kognitif, serta sosial-emosional anak melalui aktivitas bermain yang terstruktur dan terarah. Mengapa Playgroup Penting di Masa “Golden Window” Anak? Masih banyak orang yang keliru menganggap playgroup sebagai lembaga pendidikan formal. Padahal, menurut UNICEF, usia tersebut merupakan periode emas dalam perkembangan anak yang membutuhkan stimulasi dan pendampingan. Nah, playgroup hadir sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan tersebut. 1. Manfaat Playgroup bagi Perkembangan Kognitif dan Emosional Anak Pada fase usia ini, otak anak membangun lebih dari satu juta koneksi saraf setiap detik, menjadikannya periode emas yang tidak terulang pada tahap perkembangan selanjutnya. Oleh karena itu, pengalaman sehari-hari seperti bermain, berinteraksi sosial, dan bergerak aktif sangat berperan dalam membentuk fondasi perkembangan anak. Stimulasi tersebut berpengaruh besar terhadap kemampuan bahasa, kognitif, serta pengendalian diri anak, terutama ketika mereka terlibat dalam aktivitas yang tepat. Kegiatan seperti mengikuti instruksi sederhana, memahami aturan, dan belajar bergiliran membantu anak melatih kemampuan berpikir sekaligus mengelola emosi dengan lebih tenang. Di samping itu, interaksi yang hangat dan responsif dari pengajar sebagai figur orang dewasa juga memberikan dampak signifikan. Respons aktif terhadap ajakan berbicara dan bermain anak, atau yang dikenal dengan pola serve and return, berperan penting dalam membangun “arsitektur otak” yang kuat untuk mendukung proses belajar dan pengelolaan emosi. 2. Manfaat Playgroup bagi Perkembangan Fisik Anak Selain mendukung perkembangan kognitif dan emosional, manfaat lain yang tak kalah penting dari playgroup adalah mengoptimalkan perkembangan fisik anak. Aktivitas yang dilakukan bukan sekadar membuat anak aktif dan cepat lelah, melainkan membantu membangun fundamental movement skills sebagai dasar kemampuan gerak. Berbagai kegiatan sederhana seperti berlari, melompat, melempar, dan menangkap berperan dalam melatih kekuatan, koordinasi, serta daya tahan fisik anak untuk jangka panjang. Dengan stimulasi yang tepat, anak dapat terhindar dari risiko obesitas, memiliki postur tubuh yang lebih proporsional, serta keseimbangan yang baik, yang turut mendukung kemampuan berpikir dan konsentrasi mereka. 3. Manfaat Playgroup untuk Perkembangan Sosial Anak Pada jenjang PAUD, anak juga memperoleh fondasi penting untuk perkembangan sosialnya di masa depan. Melalui kegiatan playgroup, anak belajar berinteraksi dengan pendidik dan teman sebaya, serta mengenal konsep kerja sama. Selain itu, pendidik menerapkan pendekatan yang tidak membandingkan satu anak dengan anak lainnya, sehingga membantu mencegah munculnya kecemburuan sosial. Baca juga: Kindergarten adalah Fase Penting Pendidikan Anak Usia Dini Tips Memilih Playgroup untuk Anak Pesatnya pertumbuhan lembaga PAUD mungkin akan membuat Anda merasa ragu menentukan pilihan terbaik bagi anak. Oleh karena itu, berikut ini tips sederhana yang dapat membantu Anda memilih playgroup yang tidak hanya menjadi tempat bermain, tetapi juga mampu mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. 1. Tidak Menetapkan Target Akademik pada Anak Sebaiknya pilih instansi atau lembaga yang tidak menetapkan target akademik, khususnya kemampuan membaca dan berhitung (calistung) kepada anak. Sebab, mengutip Journal on Education, anak usia dini dalam rentang 1-5 tahun belum seharusnya dituntut untuk bisa membaca dan berhitung dengan tepat. Pemberian tekanan akademik pada usia yang terlalu dini dapat membuat anak merasa tertekan dan berpotensi menumbuhkan sikap negatif terhadap sekolah. Oleh karena itu, idealnya playgroup adalah lembaga yang tidak memasukkan target akademik sebagai fokus utama dalam kurikulum pendidikannya. 2. Utamakan Kurikulum Berbasis Permainan (Play-Based Curriculum) Kurikulum berbasis permainan (play-based curriculum) menempatkan proses belajar pada aktivitas fisik yang dikemas melalui berbagai bentuk permainan sesuai tahap usia anak. Pada usia PAUD, anak membutuhkan setidaknya 60 menit aktivitas fisik setiap hari, yang dapat difasilitasi melalui kegiatan pembelajaran di sekolah. Pastikan pilih lembaga yang menyediakan aktivitas bermain aktif secara rutin, baik di dalam maupun di luar ruangan, untuk melatih motorik kasar serta koordinasi tubuh anak. Kegiatan seperti senam, berlari, bermain bola, dan aktivitas sejenis membantu anak mengembangkan konsentrasi, keseimbangan, serta kemampuan bekerja sama. Peran Krusial Pendidikan Usia Dini dalam Tumbuh Kembang Anak Kesimpulannya, playgroup adalah salah satu tahapan pembelajaran yang berperan penting dalam tumbuh kembang anak usia dini. Aspek kognitif, emosional, fisik, hingga sosial anak dapat mulai terasah melalui pemilihan playgroup yang sesuai dengan kebutuhannya. Namun, selain pendidikan formal, Anda sebagai orang tua juga memiliki kesempatan untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak melalui pendidikan non-formal. Akademi olahraga Sparks Sports Academy bisa menjadi pilihan tepat, khususnya untuk anak Anda yang menunjukkan minat tinggi terhadap aktivitas fisik. Kami menyediakan kelas gymnastic, sensory and phonics, balet, taekwondo, basket, dan lainnya yang bisa diikuti anak mulai usia 12 bulan. Dengan instruktur profesional, kurikulum resmi, serta metode pembelajaran yang menyenangkan, SSA membantu anak belajar dan berkembang tanpa tekanan.

23/01/2026 / Komentar Dinonaktifkan pada Playgroup adalah: Pengertian, Manfaat, dan Tips Memilihnya
Baca Lebih Lanjut
Film Jepang yang tidak boleh Ditonton Anak Kecil, Orang Tua Wajib Tahu!

Film Jepang yang tidak boleh Ditonton Anak Kecil, Orang Tua Wajib Tahu!

Parenting

Film dan ani e Jepang terkenal memiliki alur cerita yang unik dan emosional, Namun, tidak semua film dan anime Jepang aman ditonton anak-anak. Beberapa di antaranya mengandung adegan kekerasan, horor psikologis, hingga tema dewasa yang belum sesuai untuk anak-anak. Oleh karena itu, Mom/Dad harus mengetahui daftar film Jepang yang tidak boleh ditonton anak kecil, agar anak terhindar dari tontonan yang bisa memengaruhi kondisi mental dan emosinya. Daftar Film Jepang yang Tidak Boleh Ditonton Anak Kecil Berikut ini adalah beberapa film Jepang yang sebaiknya tidak ditonton anak kecil: 1. In the Realm of the Senses (1976) Film yang disutradarai oleh Nagisa Oshima ini bercerita tentang pelayan penginapan yang dulunya pekerja seks. Film ini tidak cocok ditonton oleh anak-anak karena mengandung unsur seksual yang berlebih. 2. Guinea Pig 2: Flower of Flesh and Blood (1985) Film horor Jepang yang disutradarai oleh Hideshi Hino sempat dicekal pada perilisannya pada tahun 1985 dan baru tayang secara legal pada tahun 2002. Film ini memiliki adegan kekerasan yang parah. Mom/Dad harus menghindari film ini ditonton anak yang berpotensi menimbulkan trauma pada anak. 3. Mother (2020) Meski berjudul Mother, film ini memiliki alur cerita yang rumit dan juga mengandung unsur kejahatan ke anak. Isu parenting yang dibawakan film ini sangat sulit dan tidak cocok untuk anak-anak. 4. Crows Zero (2007) Crows Zero tidak cocok untuk anak kecil karena memiliki adegan kekerasan di dalamnya. Banyak adegan pertarungan yang tidak boleh ditonton anak kecil karen rentan untuk ditiru. 5. Ju-on: The Grudge (2002) Ju-on: The Grudge adalah film horor jepang yang populer dengan cerita tentang roh jahat yang mendiami sebuah rumah. Kebanyakan film horor akan membuat anak ketakutan hingga trauma menontonnya. Baca juga: 5 Daftar Film Dewasa Berkedok Kartun Anak: Sangat Tidak Aman Ditonton Daftar Anime yang Tidak Bole Ditonton Anak Kecil Selain film live action di atas, Mom/Dad juga harus mengetahui film kartun Jepang atau anime yang tidak ramah anak. 1. Sakamoto Days (2025) Anime ini mengisahkan pembunuh bayaran yang pensiun dan menjadi buron. Anime ini memiliki adegan kekerasan yang intens dan ekstrem sehingga anak-anak dilarang menontonnya. 2. Beastars (2013) Mom/Dad jangan terkecoh dengan anime yang memiliki karakter hewan ini. Anime ini menampilkan konten dewasa, kekerasan, dan banyak isu sensitif. Mom/Dad sebaiknya melarang anak menonton ini. 3. Jujutsu Kaisen (2020) Anime ini hanya cocok ditonton oleh yang cukup umur karena menghadirkan adegan aksi yang intens dan penuh kekerasan. 4. Tokyo Ghoul (2017) Anime ini mengandung unsur kanibalisme, kekerasan, dan konflik psikologis yang cukup gelap. 5. Attack on Titan (2013) Serial anime ini terkenal dengan adegan brutal yang tema yang gelap. “Attack on Titan” bercerita tentang manusia melawan raksasa pemakan manusia dan menyajikan momen mengerikan serta pengkhianatan. Mom/Dad tidak boleh memilih tontonan untuk anak sementara. Banyak film jepang yang tidak boleh ditonton anak kecil karena mengandung kekerasan, horor, dan tema dewasa yang bisa berdampak pada psikologis anak. Mom/Dad harus cek rating usia, sinopsis, dan review sebelum anak menonton film atau anime tertentu. Dampingi dan kontrol tontonan anak supaya anak memiliki trauma tertentu pada film.

22/01/2026 / 0 Komentar
Baca Lebih Lanjut
5 Manfaat Puasa untuk Anak yang Baik bagi Fisik dan Kesehatannya

5 Manfaat Puasa untuk Anak yang Baik bagi Fisik dan Kesehatannya

Parenting

Puasa tidak hanya sekedar menahan lapar dan haus. Dengan berpuasa, anak juga bisa belajar menjaga kesehatan tubuh sejak dini. Jika dilakukan dengan tepat dan sesuai, berpuasa bisa memberikan manfaat positif bagi fisik anak. Mulai dari melatih pola makan hingga meningkatkan daya tahan tubuh, puasa bisa menjadi kebiasaan baik yang mendukung tumbuh kembang anak. Oleh karena itu, di artikel ini Mom/Dad akan mengetahui manfaat puasa untuk anak, khususnya pada fisik. Manfaat Puasa untuk Fisik Anak Puasa yang dijalani oleh anak memberikan dampak baik bagi kesehatan dan fisik tubunya. Berikut adalah manfaat puasa untuk anak yang perlu diketahui. 1. Membantu Mengatur Pola Makan Anak Anak yang berpuasa akan teratur pola makannya. Anak belajar makan di waktu tertentu, yaitu saat sahur dan berbuka. Hal ini membantu tubuh anak mengenali jam makan yang konsisten dan mengurangu kebiasan jajan berlebihan di luar waktu makan. Jika diterapkan dengan menu bergizi seimbang, pola makan ini dapat mendukung kebutuhan nutrisi anak dengan lebih baik. 2. Mendetoksifikasi Tubuh Selama berpuasa, tubuh anak memiliki banyak waktu untuk membersihkan racun dari makanan dan lingkungan. Organ seperti hati dan ginjal akan bekerja sangat efektif dalam menyaring zat-zat berbahaya dari tubuh. Puasa juga membantu mengurangi makan berlebihan yang sering memicu masalah pencernaan pada anak. 3. Meningkatkan Konsentrasi dan Fokus Dilansir dari Universitas Muhammadiyah Surabaya, ketika anak berpuasa, mereka belajar mengendalikan diri dan memperkuat disiplin sehingga anak mudah menerima pelajaran dan informasi yang mereka dapatkan di sekolah. 4. Membantu Menjaga Berat Badan anak Puasa bisa mengendalikan rasa lapar dan kenyang pada anak dengan baik. Hal ini penting untuk mencegah kebiasaan makan berlebihan yang berdampak pada kenaikan berat badan. Mom/Dad bisa mendampingi dalam memilih menu yang sehat, agar berat badan anak tetap ideal. Baca juga: Ikuti 10 Cara Mengajarkan Anak Puasa Sejak Dini 5. Meningkatkan Daya Tahan Tubuh Saat berpuasa, tubuh akan meregenerasi sel-sel yang rusak. Proses ini membantu meningkatkan daya tahan tubuh. Puasa juga membantu membuag rajun dan zat sisa metabolisme yang dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh. Jika anak konsisten berpuasa di bulan Ramadan, anak akan membiasakan hidup teratur yang terbentuk saat berpuasa dan berdampak positif kedepannya. Puasa tidak hanya bermanfaat secara spiritual, tetapi juga memiliki banyak manfaat untuk anak khususnya pada fisik. Namun, Mom/Dad harus memastikan kalau anak siap untuk puasa. Dengan bimbingan yang tepat, puasa bisa menjadi pengalaman sehat dan menyenangkan bagi anak.

22/01/2026 / Komentar Dinonaktifkan pada 5 Manfaat Puasa untuk Anak yang Baik bagi Fisik dan Kesehatannya
Baca Lebih Lanjut
Sensory Play, Rahasia Tumbuh Kembang Anak Hebat!

Sensory Play, Rahasia Tumbuh Kembang Anak Hebat!

Sensory & Phonics

Bagi orang tua, mengikuti perkembangan anak tentu sangat menyenangkan, apalagi jika anak mampu tumbuh dan berkembang sesuai dengan usianya. Sensory play sendiri merupakan salah satu kegiatan yang bermanfaat dalam tumbuh kembang anak. Mengapa demikian? Mari simak manfaatnya berikut ini! Key takeaways:  Pengertian Sensory Play  Mengutip Jurnal Prosiding, sensory play merupakan kegiatan atau permainan yang melatih dan menggunakan satu indra atau lebih, seperti kulit (peraba), lidah (pengecap), mata (penglihat), telinga (pendengaran), dan hidung (penciuman).  Tidak hanya melibatkan panca indra, kegiatan ini juga melibatkan kesadaran spasial, keseimbangan, dan gerakan. Tujuannya sendiri untuk mendorong anak belajar observasi, membangun hubungan saraf otak, serta menstimulasi indra dan keingintahuan. Manfaat Sensory Play  Stimulasi pada panca indra yang optimal akan membuat anak menjadi lebih mudah dalam mengenal dunia sekitar. Berikut berbagai manfaat permainan sensori pada anak.  1. Menunjang Kemampuan Berbahasa Anak  Kemampuan berbahasa pada anak dapat berkembang secara alami dengan permainan sensorik. Lewat permainan ini anak akan terdorong untuk berkomunikasi dengan teman atau orang tua untuk menggambarkan apa yang ia lakukan dan bagaimana rasanya.  Di sinilah, orang tua juga bisa membantu memberi arahan. Pada akhirnya, anak akan belajar lebih banyak kosa kata baru dan mengolah kata-kata yang deskriptif untuk berkomunikasi.  2. Membantu Mengolah Keterampilan Motorik Halus Anak  Melansir Alodokter, keterampilan motorik halus melibatkan otot kecil untuk melakukan tindakan seperti mengikat tali sepatu, menulis, menutup resleting, dan mengancingkan baju. Agar dapat melatihnya, Anda bisa membuat anak bermain menjepit clay atau benda lain menggunakan tweezer. 3. Membantu Keterampilan Motorik Kasar Anak  Tidak hanya motorik halus, keterampilan motorik kasar yang melibatkan otot besar pun bisa Anda salah menggunakan sensory play. Contoh keterampilan ini adalah duduk, merangkak, melompat, dan berlari. Lewat permainan sensori, anak akan diajak untuk bergerak bebas untuk menstimulasi panca indra dan ototnya. 4. Mengajarkan Anak Memecahkan Masalah  Mengutip Jurnal UNPAS, permainan sensori banyak yang melibatkan problem solving. Misalnya, mencari jalan agar dapat membuat bangunan yang stabil menggunakan balok susun. Aktivitas inilah yang dapat mendorong anak berpikir kritis dan mencari solusi. Lewat permainan sensori, anak akan mengeksplorasi dan melakukan eksperimen yang sederhana. Sehingga, saat bermain, anak akan melihat sebab akibat dan berani mengambil keputusan dalam memecahkan masalah yang sedang ia hadapi.  Baca juga: Mengenal Kelas Sensori Anak dan Manfaatnya Bagi Si Kecil Sensory Play yang Dapat Anak Lakukan di Rumah  Agar dapat melakukan permainan sensori pada anak, orang tua tidak memerlukan alat yang rumit dan mahal. Sebab, Anda bisa menggunakan barang sehari-sehari. Apa saja jenis permainannya yang mudah? Berikut contoh-contohnya! 1. Stimulasi Indra Peraba dan Motorik Kasar  Demi bisa melakukan stimulasi indra peraba dan motorik kasar pada anak, Anda dapat menggunakan bubble wrap. Caranya dengan meletakkan bubble wrap di lantai dan membiarkan anak melompat-lompat di atasnya. Di sinilah akan muncul sensasi dan bunyi “pop” yang memberikan perasaan menyenangkan dan penasaran pada anak.  2. Melatih Indra Penciuman dan Menenangkan Emosi  Cara yang dapat dilakukan untuk melatih indra penciuman dan menenangkan emosi anak adalah dengan menggunakan kapas atau kain kecil yang diberi wewangian. Contohnya seperti lavender, mint, jeruk, atau vanila.  Setelah itu, biarkan anak mencium wangi tersebut dan mintalah untuk mereka menebaknya. Tidak hanya melatih indra penciuman, permainan ini dapat membantu anak meningkatkan fokus dan relaksasi.  3. Melatih Keseimbangan dan Menstimulasi Indra Peraba Kaki  Beberapa benda seperti kain berbulu, pasir, batu kecil, kapas, hingga busa juga dapat menjadi alternatif untuk melatih keseimbangan dan menstimulasi indra peraba.  Caranya dengan membiarkan anak berjalan tanpa alas kaki untuk merasakan sensasi dari tiap permukaan benda yang berbeda. Tidak hanya di rumah, sensory play ini juga bisa orang tua lakukan sembari mengajak anak menjelajah alam.  4. Mengenalkan Suhu dan Warna pada Anak  Permainan sensori yang dapat orang tua lakukan untuk mengenalkan suhu dan warna adalah dengan mengajak anak bermain dengan es batu yang diberi warna. Anda dapat membuat es batu dengan mencampurkan air dan pewarna makanan lalu mencetaknya. Kemudian, biarkan anak bermain dan mengamati cara kerja es yang mencair.  Sensory Play Apa yang Sudah Anak Anda Lakukan? Selain sangat bermanfaat bagi perkembangan si kecil, sensory play juga sangat mudah untuk dilakukan, bahkan bisa menjadi kegiatan di waktu personal bersama keluarga. Namun, jika Anda dan pasangan tidak memiliki cukup waktu untuk dapat bermain bersama anak, mendaftarkan anak di Sparks Sports Academy dapat menjadi solusi. Sparks Sports Academy menyediakan berbagai kelas menarik, termasuk kelas sensory yang seru untuk mendukung perkembangan buah hati melalui aktivitas-aktivitas yang menyenangkan dan  aman. Sehingga, anak dapat tumbuh aktif, cerdas, dan percaya  Pembimbing yang akan mendampingi si kecil juga sudah profesional dan terlatih. Jadi, tunggu apa lagi? Segera daftarkan buah hati Anda di Sparks Sports Academy!

22/01/2026 / Komentar Dinonaktifkan pada Sensory Play, Rahasia Tumbuh Kembang Anak Hebat!
Baca Lebih Lanjut
Kindergarten adalah Fase Penting Pendidikan Anak Usia Dini

Kindergarten adalah Fase Penting Pendidikan Anak Usia Dini

Parenting

Taman kanak-kanak (TK) atau kindergarten adalah istilah yang merujuk pada jenjang pendidikan anak usia dini, yang mana berada di antara tingkat prasekolah (PAUD) dan sekolah dasar (SD). Konsep ini berasal dari bahasa Jerman, Kinder yang berarti “anak” dan Garten yang berarti “taman”, sehingga secara harfiah dapat diartikan sebagai “taman bagi anak-anak.” Merujuk pada laman Britannica, istilah kindergarten sering digunakan untuk kelas atau program yang menerima anak usia 4–6 tahun. Tujuan utamanya adalah sebagai persiapan anak sebelum memasuki sekolah dasar (SD), begitu pula praktik yang berlaku di Indonesia. Key Takeaways Mengapa Kindergarten Penting untuk Anak Anda? Pendidikan untuk anak usia 4-6 tahun bukan hanya berfokus pada permainan, melainkan menjadi kesempatan emas untuk mengembangkan fondasi fisik, kognitif, sosial, dan emosional yang akan membentuk anak di masa depan. Berikut ini penjelasan selengkapnya. 1. Kindergarten adalah Pendukung Perkembangan Holistik Anak Taman kanak-kanak dirancang bisa menstimulasi berbagai tahapan perkembangan anak, mulai dari motorik kasar dan halus, bahasa, kognitif, hingga keterampilan sosial-emosional. Pendekatan ini tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga pada kemampuan anak untuk berinteraksi, berkolaborasi, dan memecahkan masalah. Satu hasil riset pendidikan anak usia dini menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis bermain (play-based learning) merupakan salah satu cara paling efektif untuk memperkuat kompetensi dasar. Sebab, bermain tidak hanya mengasah imajinasi, tetapi juga latihan kognitif dan sosial yang penting bagi perkembangan otak. 2. Tumbuh Kembang Fisik sebagai Dasar Aktivitas Seumur Hidup Selain mendukung perkembangan holistik, jenjang pendidikan taman kanak-kanak juga memberi aktivitas fisik sesuai rekomendasi WHO. Disebutkan bahwa anak berusia di bawah 5 tahun harus aktif secara fisik selama 60-180 menit per hari melalui berbagai permainan dan gerakan untuk kesehatan fisik dan mental. Jenis aktivitas fisik yang bisa dilakukan sangat beragam. Contoh aktivitas yang pas untuk murid kindergarten adalah melompat, bermain bola, atau bergerak spontan. Aktivitas-aktivitas fisik tersebut tidak hanya mendukung kesehatan tubuh, tetapi juga meningkatkan keterampilan koordinasi, keseimbangan, dan kontrol motorik. 3. Kognitif dan Bahasa agar Anak Suka Belajar Sejak Dini Melalui permainan, cerita, musik, dan eksplorasi lingkungan, anak dapat belajar bahasa, berpikir logis, serta memiliki kemampuan menyelesaikan masalah. Ini pula yang biasa pengajar taman kanak-kanak praktikkan dalam kelas sehari-hari. Fase ini penting dalam membentuk kognitif anak untuk persiapan menerima pembelajaran tingkat lanjut. 4. Interaksi Sosial dan Emosional Pada tingkat pendidikan kindergarten, anak juga belajar berteman, berbagi, menunggu giliran, serta mengelola emosi. Interaksi dengan teman sebaya dan guru membantu anak memahami aturan sosial dan membangun keterampilan empati, kerja sama, serta komunikasi efektif. Semuanya menjadi dasar keberhasilan dalam lingkungan sosial selanjutnya. Baca juga: Manfaat Sekolah Ramah Anak dan Cara Memilih yang Tepat Kriteria Kindergarten Berkualitas yang Perlu Anda Perhatikan Di masa kini, banyak orang tua yang berpikir bahwa lembaga pendidikan bertarif mahal sudah menjamin kegiatan belajar-mengajar yang memenuhi semua unsur di atas. Padahal, ada pertimbangan lebih mendalam yang perlu Anda sertakan di samping biaya iuran pendidikan yang tinggi. Beberapa kriteria berikut dapat Anda jadikan pertimbangan utama sebelum memutuskan mana taman kanak-kanak yang ideal untuk buah hati. Program Olahraga Edukatif Non Formal sebagai Pendamping Secara teknis, kindergarten adalah gerbang utama yang menentukan kesiapan buah hati dalam mengikuti jenjang pendidikan selanjutnya. Taman kanak-kanak yang memiliki kurikulum seimbang, menyediakan aktivitas fisik cukup, lingkungan aman, pengajar berkualitas, dan melibatkan orang tua merupakan pilihan yang tepat. Terpenuhinya kriteria-kriteria tersebut akan membentuk fondasi yang kuat secara fisik maupun mental untuk pembelajaran dan ruang lingkup sosial anak yang lebih luas. Namun, selain pendidikan formal seperti taman kanak-kanak, Anda juga bisa mendukung perkembangan si kecil melalui pendidikan non-formal. Sparks Sports Academy hadir dengan rancangan aktivitas fisik yang tidak hanya menekankan keterampilan motorik, tetapi juga pembentukan karakter, kerja tim, dan rasa percaya diri anak melalui permainan dan olahraga yang menyenangkan. Tentu saja dengan pendampingan instruktur profesional dan berpengalaman. Anak tidak hanya akan aktif secara fisik, tetapi juga bisa belajar memecahkan masalah, berinteraksi dengan teman, dan membangun kebiasaan sehat sejak dini. Melalui pendekatan yang hangat dan profesional, Sparks Sports Academy menjadi pilihan menarik bagi Anda yang ingin memperkaya pengalaman belajar anak.

22/01/2026 / Komentar Dinonaktifkan pada Kindergarten adalah Fase Penting Pendidikan Anak Usia Dini
Baca Lebih Lanjut

Paginasi pos

Sebelumnya 1 … 13 14 15 … 73 Berikutnya
Tema Royal Elementor Kit dibuat oleh WP Royal.