Fenomena anak pukul ibu cukup sering terjadi, namun masih jarang dibahas secara terbuka. Perilaku ini kerap mengejutkan dan membuat orang tua khawatir atau merasa bersalah. Padahal, ada penyebab psikologis (seperti anak mencoba mengekspresikan rasa frustrasi atau meniru pola yang dilihat di sekitarnya) yang bisa ditangani. Untuk itu, penting bagi orang tua untuk menghadapi situasi ini dengan sabar dan tanpa kekerasan. Gunakan pendekatan yang tepat demi menjaga hubungan tetap sehat dan harmonis. Simak pembahasan berikut untuk memahami cara tepat menghadapi anak yang memukul ibu. Key Takeaways Penyebab Utama Mengapa Anak Pukul Ibu Sebelum memahami cara mengatasinya, penting bagi orang tua untuk mengetahui berbagai faktor yang membuat anak memukul ibu agar mengurangi risiko perilaku agresif berulang. Berikut beberapa faktor utamanya. 1. Frustrasi dan Emosi yang Belum Terkendali Banyak anak, terutama usia 1–5 tahun, belum mampu mengontrol emosi mereka sepenuhnya. Anak menggunakan tangan atau gigi sebagai “alat sosial” pertama untuk mengekspresikan rasa frustrasi atau ingin tahu reaksi orang dewasa. Jadi, anak memukul ibu biasanya adalah bentuk ekspresi marah atau kecewa, bukan karena berniat menyakiti secara sadar. 2. Pola Asuh dan Lingkungan Anak yang sering melihat kekerasan di rumah, media, atau teman sebaya cenderung meniru perilaku agresif. Lingkungan yang inkonsisten atau permisif bisa meningkatkan risiko anak memukul orang tua. Dari sinilah peran orang tua sebagai teladan sangat penting untuk memberikan bimbingan yang tepat agar anak mampu belajar mengekspresikan emosi secara sehat. 3. Usia dan Perkembangan Psikologis Menurut Journal of Early Childhood, anak usia dini, terutama 4-5 tahun, sering menunjukkan perilaku agresif karena mereka sedang belajar kemandirian dan kontrol impuls yang belum sempurna. Untuk alasan itulah, balita belajar memukul untuk memahami batasan sosial dan reaksi orang di sekitarnya. Ini adalah bagian normal dari perkembangan, tapi tetap perlu diarahkan oleh orang tua. 4. Stres dan Trauma Anak yang mengalami tekanan, baik di sekolah maupun di rumah, lebih rentan menunjukkan perilaku agresif. Riset menemukan bahwa anak dengan stres tinggi cenderung menyalurkan emosi melalui memukul karena belum memiliki keterampilan verbal yang cukup untuk menyampaikan perasaan mereka. 5. Kebutuhan Perhatian Kadang anak memukul ibu untuk menarik perhatian, terutama jika sebelumnya perilaku tersebut mendapat respons emosional dari orang tua. Oleh karena itu, meskipun tidak disengaja, anak belajar bahwa memukul bisa menjadi cara untuk mendapatkan perhatian, sehingga penting untuk menuntunnya dengan cara positif. Cara Menghadapi Anak Pukul Ibu Tanpa Kekerasan Menghadapi fenomena anak pukul ibu memang menantang, tapi ada strategi yang efektif tanpa harus menggunakan kekerasan, di antaranya sebagai berikut. 1. Tetap Tenang Saat anak memukul, jangan membalas dengan kemarahan atau hukuman fisik. Respons negatif dari orang tua justru memperkuat perilaku agresif anak dan membuatnya belajar bahwa memukul bisa diterima. 2. Amati Pemicu Catat situasi atau kondisi yang membuat anak agresif. Dengan mengenali pola, orang tua bisa mengantisipasi perilaku agresif sebelum terjadi. Ini juga membantu anak belajar menyadari pemicu emosinya. 3. Ajarkan Ekspresi Emosi yang Tepat Berikan anak kosakata atau cara lain untuk mengekspresikan marah, frustrasi, atau kecewa, misalnya dengan berkata, menulis, atau aktivitas fisik yang aman. Psikolog, Fabiola Priscilla, M Psi menyarankan agar anak diarahkan menggunakan kata-kata atau kegiatan positif sebagai outlet emosinya. 4. Gunakan Konsekuensi Positif Alih-alih hukuman fisik, gunakan konsekuensi logis dan konsisten. Misalnya, berikan ‘waktu jeda’ atau batasi hak istimewa anak untuk sementara waktu. Cara ini jauh lebih efektif untuk mengajarkan tanggung jawab tanpa harus membuat anak merasa takut atau trauma. 5. Konsultasi Profesional Jika perilaku agresif sering terjadi atau sulit dikendalikan, konsultasikan dengan psikolog anak. Profesional dapat memberikan strategi intervensi sesuai usia dan karakter anak. 6. Aktivitas Fisik Terstruktur Aktivitas fisik yang teratur dapat membantu anak menyalurkan energi dan emosinya. Olahraga juga mengajarkan disiplin, kerja sama, dan pengendalian diri, sehingga perilaku agresif bisa berangsur berkurang secara alami. 7. Berikan Pujian dan Penguatan Positif Saat anak berhasil mengekspresikan emosi tanpa memukul, berikan pujian atau reward kecil. Dengan begitu, anak mampu memahami perilaku yang diharapkan, meningkatkan rasa percaya diri, dan mengurangi kecenderungan agresi di masa depan. Bimbing Anak Menjadi Lebih Tenang dan Disiplin Setiap Hari Menghadapi fenomena anak pukul ibu memang menguras emosi. Namun, menyikapinya tanpa kekerasan adalah kunci. Langkah awal yang paling penting bukan menghukum, melainkan mengenali apa yang memicu ledakan emosi tersebut. Konsistensi dan komunikasi terbuka akan membangun rasa percaya antara orang tua dan anak. Alih-alih meredam energinya, kita bisa membantu mereka menyalurkan emosinya lewat aktivitas fisik yang terstruktur. Sparks Sports Academy hadir sebagai ruang aman bagi anak untuk belajar disiplin dan kontrol diri melalui cara menyenangkan. Di sini, energi dan rasa frustrasi diubah menjadi kerja sama tim dan perkembangan kognitif yang positif. Jadi, mari bantu anak mengelola emosinya dengan cara yang lebih sehat dan seru!
10 Ide Permainan yang Mengasah Kreativitas Anak
Terkadang orang tua dan anak memiliki aktivitas yang padat, sehingga tidak sempat untuk memiliki waktu bermain yang berkualitas. Padahal, bermain tidak hanya untuk mengisi waktu luang, Lewat permainan, anak bisa belajar berpikir, berimajinasi, hingga mengekspresikan diri. Bermain bersama anak tidak perlu mengeluarkan uang lebih. Jika Mom/Dad memiliki ide yang cemerlang dan sederhana, rumah bisa menjadi tempat bermain sekaligus tempat tumbuhnya kreativitas anak. Ide Permainan untuk Asah Kreativitas anak Permainan kreatif tidak harus serius dan menghabiskan banyak waktu. Kegiatan bermain kreatif ini sangat menyenangkan sekaligus mampu mengembangkan pengetahuan dan kreativitas anak. Berikut adalah 10 ide permainan yang bisa mengasah kreativitas anak: 1. Bernyanyi dan Menari Beberapa anak sangat suka untuk tampil di depan orang tuanya dan membawakan lagu favoritnya sambil menari. Mom/Dad bisa menyalakan lagu favoritnya kemudian menari bersama si kecil dengan penuh ceria. Hal ini bisa membantu anak untuk mengekspresikan dirinya dengan bebas dan melatih kreativitasnya lewat bernyanyi dan menari. 2. Bermain Alat Musik Jika anak Mom/Dad menyukai musik, fasilitasi dan biarkan anak menciptakan musiknya sendiri. Sebagai contoh, ambil sendok kayo dan kaleng, kemudian biarkan anak membuat nadanya sendiri. Mom/Dad juga bisa menghadiahkan anak alat musik jika ia sangat menyukainya. Alat musik yang cocok untuk anak-anak meliputi tamborin, harmonika, pianika, dan keyboard. 3. Role Play Role Play atau bermain peran cocok untuk anak usia 4-5 tahun dan bisa dilakukan dengan banyak teman. Role play adalah permainan yang menyenangkan untuk anak belajar bagaimana rasanya menjadi dewasa, menjadi profesi tertentu, sampai profesi yang ia imajinasikan. 4. Membuat Kreajinan Tangan Melukis, menggambar, mewarnai, menempel kertas, dan berkreasi dengan lilin merupakan permainan yang mengasah kreativitas anak. Mom/Dad bisa menyediakan bahan yang dibutuhkan anak dan menyiapkan ruang untuk anak melakukan hal tersebut. 5. Permainan Tradisional Banyak permainan tradisional yang bisa mengasah kreativitas anak seperti congklak, tak benteng, petak umpet, dan ular naga. Tak hanya mengasah kreativitas, permainan tersebut juga bisa mengasah motorik, kognitif, dan jiwa kepemimpinan. 6. Ajak Anak ke Dapur Ajak anak ke dapur unutk membantu. Jadikan lah ini kesempatan untuk permainan kreativitas anak. Mom/Dad bisa mengajari cara menghias makanan sesuai dengan imajinasi mereka, mencampur bahan dapur dan menciptakan resep mereka sendiri, hingga menyusun makanan di piring. 7. Menyusun Puzzle Puzzle sangat baik untuk memerkenalkan anak terhadap angka atau warna. Dengan menyusun puzzle secara berurutan, anak bisa mengembangkan kreativitas, komunikasi, dan motorik halus. 8. Berkebun Anak-anak sangat menyukai udara segar. Oleh karena itu, Mom/Dad bisa mengenalkannya dengan berkebun. Biarkan si kecil merawat dan menanam tumbuhan. Mom/Dad bisa mengasah kreativitasnya dengan membiarkannya memilih tanaman dan pot yang ia sukai. 9. Bermain Sambil Berolahraga Dorong si kecil untuk melakukan aktivitas fisik seperti berolahraga. Mom/Dad bisa menyetel musik sambil berolahraga senam bersama anak. 10. Meniru Suara Binatang Mom/Dad bisa menonton video tentang binatang bersama anak. Sambil mengenali hewan-hewan, Mom/Dad bisa mengajak anak meniru suara dan gerakan mereka di alam liar. Bebaskan anak untuk meniru, sehingga kreativitas dan imajinasinya terasah. Baca juga: 10 Permainan Anak-Anak yang Aman dan Edukatif Mengapa Kreativitas Harus Di Asah Sejak Dini? Menurut organisasi pemerhati kebijakan pendidikan, The Edvocate, Anak yang kreatif sejak dini cenderung lebih mudah memecahkan masalah . Hal itu diperlukan agar anak bisa sukses dalam kehidupan. Anak yang terlibat dalam kegiatan dan studi artistik, juga bisa meningkatkan kepercayaan dirinya dan mampu berinovasi melalui kreativitas. Tips Mendampingin Anak bermain agar Tidak Bosan Mom/Dad saat mendampingi anak bermain dengan cara sebagai berikut: Mendampingin anak bermain bisa membuat mereka merasa dihargai dan anak bisa lebih menikmati proses bermain. Ide permainan kreatif untuk anak tak harus rumit dan mahal. Dengan pendekatan yang tepat, permainan sederhana bisa menjadi sarana anak untuk belajar dan mengembangkan kreativitasnya. Mom/Dad hanya perlu hadir, mendukung, dan memberi ruang agar kreativitas anak tumbuh dengan alami.
Orang Tua Wajib Memerhatikan Waktu Tidur Anak!
Mom/Dad pasti sering memerhatikan kecukupan gizi dan mengoptimalkan aktivitas anak, tetapi sering kali lupa apakah waktu tidur anak cukup atau tidak. Padahal, kurang tidur pada anak bisa berefek pada kesulitan fokus, mudah rewel, dan tumbuh kembangnnya terganggu. Di tengah kegiatan yang padat, menjaga jam tidur anak memang bukan hal mudah. Lalu, sebenarnya berapa lama waktu tidur anak yang ideal dan bagaimana cara memastikan anak memiliki waktu tidur yang cukup? Berapa Lama Waktu Tidur Anak yang Ideal? Anak memiliki kebutuhan tidur yang berbeda-beda, tergantung dengan usianya. Dilansir dari Nemourus KidsHealth berikut adalah durasi tidur yang cocok sesuai dengan usianya: Mom/Dad juga perlu mengingat bahwa ini adalah panduan umum. Jika waktu tidur anak sesuai dengan jamnya, ia akan bangun dengan kondisi segar, tidak rewel, dan beraktivitas baik sepanjang hari. Tanda Anak Kurang Waktu Tidur Tanda-tanda anak kurang tidur bisa dilihat dari perilaku, fisik, dan emosional. Anak yang kurang tidur memiliki tanda-tanda sebagai berikut: Anak yang kurnag tidur dapat memberikan dampak negatif pada kesehatan fisik, emosional, dan perkembangan kognitif mereka. Manfaat Tidur yang Cukup bagi Anak Tidur merupakan peran penting bagi perkembangan anak dari fisik, emosional, dan kognitifnya. Hormon pertumbuhan dilepaskan saat tidur di malam hari, sehingga memaksimalkan pertumbuhan tulang dan perkembangan ototnya. Di usia balita, tidur siang sangat penting, karena di waktu itu otak dapat berkembang dan meningkatkan fokus. Jadi ketika bangun, anak terlihat aktif dan ceria ketika berkativitas. Tidur siang tidak hanya meningkatkan kemampuan motorik, tetapi juga fungsi kekebalan tubuh meningkat, dan tidak mudah terkena penyakit. Baca juga: 5 Manfaat Tidur Siang untuk Anak dan Cara Membiasakannya Tidur yang cukup juga membuat emosi anak stabil dan tidak mudah rewel. Bahkan ia mampu mengontrol emosi dengan baik, dan tidak mudah tantrum saat menginginkan sesuatu. Menurut Centric Health, anak yang tidur nyenyak cenderung berprestasi secara akademik di sekolah, karena mendapatkan istirahat yang cukup sehingga otak dan kognitifnya berkembang dengan optimal. Efeknya anak akan dengan mudah memecahkan masalah, lebih kretif, dan mudah mempelajari hal baru. Sebab, otak membentuk jalur baru ketika tidur di malam hari, sehingga membantunya mudah dalam mempelajari informasi baru. Menjaga waktu tidur anak sama pentingnya dengan memberikan makanan bergizi dan stimulasi yang tepat. Dengan jam tidur yang cukup dan teratur, anak bisa tumbuh lebih sehat, bahagia, dan siap menjalani aktivitas sehari-hari.
Tips Bepergian dengan Bayi agar Liburan Aman dan Nyaman
Bepergian dengan bayi pasti menyenangkan bagi Mom/Dad yang ingin melepas penat. Menurut The Journal of Child Psychology and Psychiatry, bayi yang diajak liburan dan “terlibat secara positif” sebelum umur 3 bulan, terbukti memiliki sedikit masalah perilaku pada akhir tahun pertama. Tapi di sisi lain Mom/Dad merasa khawatir kalau bayi akan rewel, susah tidur, dan sulit makan. Hal ini menjadi perhatian lebih dibandingkan dengan jalan-jalan sendiri atau bersama pasangan. Bayi di bawah usia satu hatun memang akan menyulitkan ketika di bawa jalan-jalan. Tapi, kalau dipersiapkan dengan matang, jalan-jalan akan terasa menyenangkan dan aman untuk bayi. Tips Bepergian dengan Bayi Bepergian dengan bayi memang memerlukan persiapan khusus. bukan soal tujuan, tapi juga keamanan dan kenyamanan si kecil. Berikut adalah tips bepergian dengan bayi yang bisa dilakukan: 1. Pilih Moda Transportsi yang Nyaman Tips ini sangat menentukan kenyamanan bayi selama perjalanan. Sebelum menentukan destinasi, pastikan transportasi yang dipilih cocok untuk bayi. Seperti contoh, jika menggunakan pesawat, Mom/Dad bisa menanyakan fasilitas pendukung kenyamanan bayi. Menggunakan kereta bisa menjadi opsi ideal karena ruang gerak yang lebih leluasa sedangkan untuk perjalanan menggunakan mobil, faktor keamanan harus diutamakan dengan memastikan bayi duduk di kursi khusus (car seat) yang terpasang dengan benar. 2. Bijak Memilih Tempat Mom/Dad harus bijak dalam memilih tempat liburan bersama sang buah hati. Di saat cuaca cerah, Mom/Dad bisa membawanya ke tempat terbuka dengan pemandangan indah. Tetap jika cuaca tidak mendukung, sebaiknya berwisata indoor saja. 3. Catat Detail Rute Perjalanan Mom/Dad bisa mencari rute yang aman dan menyenangkan. Hindari rute macet agar bayi tidak stres. Jadikan waktu liburan dengan si kecil semenyenangkan mungkin. 4. Buat Jadwal yang Fleksibel Pastikan Mom/Dad tidak bepergian dengan rombongan. Jika ingin liburan dengan bayi, disarankan untuk melakukannya secara pribadi. Hal ini akan lebih leluasa dalam mengatur jadwal, seperti mengganti popok di rest area, atau bisa beristirahat terlebih dahulu jika si kecil capek. 5. Menyiapkan Keperluan Makan Bayi menyiapkan makanan bayi berfungsi untuk bayi tetap kenyang selama perjalanan berlangsung. Mom/Dad bisa menyiapkan pompa ASI, perlengkapan MPASI, susu, air (untuk bayi di atas 6 bulan), serta makanan padat yang bernutrisi. 6. Membawa Extra Pakaian dan Popok Banyak hal yang tidak terduga terjadi selama perjalanan seperti bayi buang air, berkeringat, atau muntah. Jadi membawa pakaian dan popok yang lebih untuk bayi bisa jadi solusi. 7. Membawa Obat-Obatan Membawa obat-obatan sangat penting demi menjaga kenyamanan liburan. Hal ini diperlukan untuk berjaga-jaga apabila kondisi bayi menurun secara tiba-tiba. 8. Membawa Mainan Favoritnya Membawa mainan favorit bayi akan membuat ia lebih nyaman dan tidak bosan. Hal ini juga mencegah bayi rewel saat perjalanan. 9. Ciptakana Suasana yang Nyaman Meski berada jau di rumah, Mom/Dad harus mengusahakan untuk menciptakan suasana seperti di rumah agar si kecil betah di tempat baru. Mom/Dad bisa membawa selimut, boneka, atau mainan kesayangannya. Hal ini bisa membuatnya merasa aman dan nyaman, serta mengurangi rasa cemas yang mungkin dirasakan saat berada di lingkungan baru. 10. Usahakan Perjalanan Tidak Lebih dari 6 Jam Mom/Dad harus memastikan jarak tempuh saat liburan tidak lebih dari 6 jam. Bayi yang duduk lebih dari 6 jam bisa berefek negatif pada kesehatannya. Mom/Dad bisa mencoba untuk berhenti di pemberhentian di rest area beberapa kali untuk menggerakan kaki bayi sebentar. Dengan menerapkan tips-tips ini, perjalanan akan terasa lebih nyaman dan aman. Namun, persiapan belum lengkap tanpa memastikan perlengkapan bayi sudah siap sebelum keberangkatan. Baca juga: 7 Tips Traveling Bersama Anak agar Liburan Tetap Aman dan Seru Perlengkapan yang Harus Di Bawa saat Bepergian dengan Bayi Selama perjalanan, Mom/Dad harus membawa perlengkapan bayi agar mendukung kenyamana dan keamanannya saat bepergian, baik bepergian dengan mobil, kereta, atau pesawat. Berikut adalah barang yang wajib Mom/Dad bawa ketika mengajak bayi bepergian: Bepergian dengan bayi memang membutuhkan persiapan eksta, tetapi bukan berarti harus jadi pengalaman yang melelahkan. Dengan memahami dan menerapkan tips bepergian dengan bayi dan membawa perlengkapan bayi yang tepat, Mom/Dad dan sang buah hati bisa menikmati perjalanan dengan aman dan nyaman.
Kenali Ciri-Ciri, Penyebab, dan 4 Cara Mengatasi Bingput pada Bayi
Beberapa ibu mungkin pernah mengalami momen panik saat bayi menolak saat akan menyusui. Padahal sebelumnya menyusu lancar, kini bayi justru rewel. menangis, atau hanya mau dot saja. Kondisi ini dinamakan sebagai Bingung Puting atau Bingput Bingung Puting atau Bingput adalah tindakan penolakan oleh bayi untuk menyusu pada payudara karena ia kesulitan untuk melekat dan menghisap payudara. Ini bisa terjadi karena bayi sudah dikenalkan dengan media menyusu lain seperti dot atau empeng. Kondisi ini sering ditemui sampai bayi berumur 5 minggu walaupun pada beberapa kasus masih bisa ditemui sampai bayi berusia 5 bulan. Bingput bisa membuat proses menyusui terasa stres, baik bagi bayi maupun ibu, jika tidak ditangani dengan tepat. Ciri-Ciri Bayi Bingput Sebaiknya ibu jangan panik, coba kenali ciri-ciri bayi bingung puting. Biasanya, bayi bingput akan menunjukan perilaku yang cukup khas saat menyusui seperti: Penyebab Bayi Bingput Menurut Journal of Perinatology, bingung puting terjadi karena orang tua terlalu dini mengenalkan media menyusui seperti empeng dan dot. Bayi harusnya belajar menghisap secara berbeda pada puting. Bentuk empeng atau dot tidak sama dengan puting begitu juga dengan aliran susunya. Efek dari empeng dan dot dapat menggangu proses menghisap bayi, karena bayi terbiasa mendapat comfort sucking melalui media tersebut. Hal ini akan mengganggu proses pelekatan bayi pada payudara ibu. Baca juga: 5 Tanda Bayi Kurang ASI dan Cara Mengatasinya Cara Mengatasi Bayi Bingput Bingput bukan kondisi permanen dan masih bisa diatasi denga kesabaran dan langkah yang tepat. Berikut beberapa cara mengatasi bayi bingput yang bisa dicoba: 1. Perbaiki Posisi dan Perlekatan Susui bayi dengan posisi yang tepat agar perlekatan bayi saat menyusui benar. Posisikan kepala bayi sejajar dengan payudara dan mulutnya harus mancakup lebih banyak areola, bukan hanya puting. 2. Inisiasi Skin to Skin Contact Lakukan kontak kulit ke kulit sesering mungkin untuk mendorong bayi kembali menyusu dari payudara. 3. Batasi Penggunaan Empeng atau Dot Jika memungkinkan, hentikan penggunaan empeng atau dot sementara waktu untuk membantu bayi kembali beradaptasi dengan menyusu dari payudara. 4. Gunakan Alternatif Lain Jika bayi memerlukan suplementasi, pertimbangkan penggunaan sendok, cangkir, atau alat bantu laktasi yang memungkinkan bayi tetap menyusu dari payudara. Alternatifnya antara lain: Bingput adalah kondisi yang cukup sering dialami bayi dan bisa membuat proses menyusui menjadi menantang. Dengan mengenali ciri-ciri, memahami penyebab, serta mengatasinya dengan tepat, Ibu bisa membantu bayi kembali menyusui langsung dengan nyaman.
