Lewati ke konten
Sparks Sports Academy Logo
Cara Mengisi Tangki Cinta Anak Berdasarkan Love Languagenya

Cara Mengisi Tangki Cinta Anak Berdasarkan Love Languagenya

Parenting

Pernah ga sih mom-dad melihat anak yang tidak mau berbagi dengan kakak-adiknya atau dengan sekitar? Atau anak mau-nya nempel melulu dan bikin mom-dad kesusahan buat melakukan tugas rumah Yep, itu tanda kalau tangki cinta anak tidak terpenuhi dengan baik. Tangki cinta itu mirip seperti sebuah wadah perasaan yang ada di dalam diri setiap anak yang perlu terus diisi penuh agar mereka dapat tumbuh, belajar, dan berperilaku dengan baik. Tapi, gimana sih cara mengisinya? Mom-dad perlu mengenali terlebih dahulu apa love language yang anak miliki. Hal ini bisa dilihat dari apa yang menjadi kebiasaan atau sedang terjadi pada anak. Berikut ini penjelasannya. Tipe-tipe Love Language Anak Umumnya, love language pada anak maupun dewasa itu sama. Hanya bedanya kali ini kita fokuskan pada anak saja. Physical Touch Namanya physical touch, pasti tidak jauh-jauh dari sentuhan fisik ya mom-dad. Berikut ini ciri-ciri anak yang punya love language bertipe physical touch: Terdengar seperti anak yang penuh cinta ya mom-dad, tapi anak dengan physical touch tetap perlu pengawasan dan berikan batasan agar anak tidak melakukannya ke sembarang orang. Ciri-ciri anak kekurangan physical touch: Jika mulai terlihat tanda anak kekurangan physical touch, ada trik sebelum memberikan stimulasi sentuhan ke anak yang perlu diperhatikan. Antara lain: Word of Affirmation Word of affirmation atau kata-kata pujian untuk anak. Berikut ini ciri-ciri anak yang memiliki love language bertipe Word of Affirmation. Ciri-ciri anak kekurangan word of affirmation: Jika mulai ada tanda-tanda tersebut pada anak, ada beberapa cara yang bisa mom-dad lakukan. Antara lain: Quality Time Quality time atau waktu yang dihabiskan anak bersama orang tua. Berikut ini ciri-ciri anak yang memiliki love language bertipe Quality Time. Ciri-ciri anak kekurangan word of affirmation: Jika mulai ada tanda-tanda tersebut pada anak, ada beberapa cara yang bisa mom-dad lakukan. Tidak harus liburan seharian untuk bantu anak agar tangki cintanya penuh. Antara lain: Receiving Gift Berikut ini ciri-ciri anak yang memiliki love language bertipe Receiving Gift. Ciri-ciri anak kekurangan receiving gift: Jika mulai ada tanda-tanda tersebut, ada beberapa cara yang bisa mom-dad lakukan untuk mengisi tangki cinta anak. Antara lain: Act of Service Berikut ini ciri-ciri anak yang memiliki bahasa cinta bertipe Act of Service. Ciri-ciri anak kekurangan act of service: Jika mulai ada tanda-tanda tersebut, ada beberapa cara yang bisa mom-dad lakukan untuk mengisi tangki cinta anak bertipe Act of Service. Antara lain: Memahami love language anak memang butuh proses dan kesabaran, tapi hasilnya akan sangat sebanding dengan kedekatan yang terjalin. Ingat ya mom-dad, tangki cinta yang penuh adalah bekal utama anak untuk tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan penuh kasih. Yuk, mulai hari ini kita lebih peka lagi terhadap sinyal-sinyal yang mereka berikan. Karena bagi anak, cinta yang dirasakan jauh lebih bermakna daripada sekadar cinta yang diucapkan.

05/01/2026 / Komentar Dinonaktifkan pada Cara Mengisi Tangki Cinta Anak Berdasarkan Love Languagenya
Baca Lebih Lanjut
Kenali Gejala Social Anxiety pada Anak Sejak Dini!

Kenali Gejala Social Anxiety pada Anak Sejak Dini!

Parenting

Mom/Dad pernah tidak melihat anak tidak mau berinteraksi dan selalu menghindar dari lingkungan sosial? Jika iya, jangan anggap itu hanya rasa malu dari anak saja, tetapi itu juga bisa sebagai tanda anak mengalami social anxiety. Hal itu jika dibiarkan akan mengganggu aktivitas anak sehari-hari. Social anxiety tidak hanya berdampak pada kepercayaan diri anak, tetapi juga memengaruhi perkembangan emosional dan sosialnya di masa depan. Oleh karena itu, Mom/Dad harus memahami kondisi anak jika mengalami social anxiety. Ciri-Ciri Anak Mengalami Social Anxiety Anak-anak pada umumnya akan merasa cemas dan malu dalam beberapa hari jika memasuki lingkungan baru untuk beradaptasi. Tetapi, jika rasa cemas itu berlangsung lama, sebaiknya Mom/Dad perhatikan kondisi anak. Anak yang mengalami social axiety akan mengalami rasa cemas dan takut yang berlebihan. Selain itu, kondisi ini akan disertai beberapa gejala fisik seperti: Dilansir dari Psycom, kondisi ini bisa menyebabkan anak merasa tertekan yang mengakibatkan anak terganggu aktivitas sekolahnya, sulit mencari teman, kurang percaya diri, dan sering menghindari aktivitas sosial. Menurut Very Well Mind, jika tidak ditangani dengan baik maka akan meningkatkan risiko gangguan kesehatan lainnya, seperti depresi, gangguan pola makan, hingga keinginan untuk bunuh diri. Baca juga: Kenali 7 Jenis Gangguan Mental Anak Beserta Penyebabnya Penyebab Anak Terkena Social Anxiety Social anxiety pada anak tidak muncul begitu saja. Pasti ada beberapa faktor yang dapat memicu atau memperburuk kondisi ini. Berikut adalah faktor yang memengaruhinya: 1. Genetika Anak dengan riwayat keluarga yang memiliki genetika social anxiety, akan lebih rentan terkena. Oleh karena itu, anak sangat berisiko jika kedua orang tuanya memiliki gangguan ini. Risiko ini juga dapat meningkat jika saudara kandungnya memiliki kondisi serupa. 2. Faktor Sosial Beberapa anak akan mengalami kecemasan terus-menerus setelah mengalami kejadian sosial yang penuh tekanan. Rasa cemas muncul dari lingkungan sosial yang menyebabkan rasa malu mendalam atau trauma. 3. Faktor Pengasuhan Orang tua dengan pola asuh yang protektif akan meningkatkan risiko social anxiety pada anak. Dampaknya, anak akan takut berinteraksi dengan orang asing. Cara Mencegah Anak Terkena Social Anxiety Mom/Dad jangan khawatir tentang social anxiety pada anak. Hal itu dapat dicegah dengan pendekatan yang tepat sejak dini. Beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mencegahnya antara lain: 1. Bekali Anak dengan Pengetahuan Lingkungan Sosial Mom/Dad bisa memberi pengetahuan sosial untuk anak dengan cara bermain role play. Tujuan dari bermain role play ini adalah untuk membiasakan anak berada di lingkungan sosial. Anak bisa mendapat gambaran umum tentang interaksi sosial dan dapat membantu anak jauh lebih nyaman. 2. Beri Apresiasi Beri apresiasi jika anak melakukan sesuatu, walaupun hal kecil. Dengan memberinya apresiasi, anak akan membangun rasa aman dan rasa percaya diri dengan sendirinya. 3. Jangan Memaksa Anak Beri anak waktu untuk merasa nyaman di lingkungan baru. Mom/Dad bisa ajak anak untuk berinteraksi secara perlahan di lingkungan barunya. Jangan memaksa secara fisik dan hindari membujuk dengan suara keras. Proses ini memang membutuhkan waktu tergantung dari kematangan kognitif anak. Social anxiety pada anak bukan hanya rasa cemas dan malu biasa. Jika tidak ditangani dengan cepat, akan berisiko buruk pada mental anak di masa depan. Dengan mengenali ciri-ciri, memahami penyebab, serta menerapkan langkah pencegahan, Mom/Dad dapat membantu anak tumbuh lebih percaya diri dan berani bersosialisasi. Mom/Dad harus mengingat, dukungan orang tua bisa menjadi fondasi beasr pada kesehatan mental anak di kemudian hari.

05/01/2026 / Komentar Dinonaktifkan pada Kenali Gejala Social Anxiety pada Anak Sejak Dini!
Baca Lebih Lanjut
Kebutuhan Gula per Hari untuk Anak: Panduan lengkap Gula, Garam, Lemak, dan Protein

Kebutuhan Gula per Hari untuk Anak: Panduan lengkap Gula, Garam, Lemak, dan Protein

Parenting

Selama memberi makan anak, apakah Mom/Dad memerhatikan kandungan gula, garam, lemak, dan proteinnya? Jika kandungan tersebut berlebih, maka anak berisiko terkena penyakit nantinya. Oleh karena itu, Mom/Dad bisa memahami kebutuhan gula perhari untuk anak, sekaligus batas aman garam, lemak, dan protein di artikel ini. Kebutuhan Gula per Hari Untuk Anak Gula merupakan energi yang cepat diserap oleh manusia. Akan tetapi, jika mengonsumsinya terlalu banyak dapat meningkatkan risiko obesitas, gigi berlubang, hingga diabetes. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesa Nomor 30 Tahun 2013 batas aman mengonsumsi gula adalah 10% dari total kalori. Jadi untuk anak-anak batas amannya sebagai berikut: Baca juga: Efek Gula pada Anak: Dampak Berbahaya dan 5 Cara Membatasinya Kebutuhan Garam per Hari Untuk Anak Garam merupakan bumbu dapur yang wajib dipakai. Tetapi kelebihan garam bisa mengakibatkan anak mengalami risiko darah tinggi dan ginjal yang bermasalah. Berdasarkan anjuran Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesa Nomor 30 Tahun 2013 kebutuhan garam anak perhari adalah: Kebutuhan Lemak per Hari Untuk Anak Lemak sering dianggap musuh, padahal anak justru membutuhkannya untuk perkembangan otak dan membantu penyerapan vitamin A, Vitamin D, dan Vitamin E. Terdapat tiga jenis lemak, yaitu: Anjuran yang baik untuk mengonsumsi lemak khusunya pada anak-anak beradasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesa Nomor 30 Tahun 2013 adalah 20-25% dari total kalori anak per hari. Kebutuhan Protein per Hari Untuk Anak Protein merupakan makronutrien yang penting untuk membangun dan memelihara massa otot. Oleh karena itu, konsumsi protein harian disetiap orang bervarias, khususnya pada anak. Berikut adalah daftar kebutuhan protein per hari untuk anak: Mengontrol kebutuhan gula perhari untuk anak bukan berarti melarang anak makan enak, tetapi membantu mereka untuk tumbuh lebih sehat dan cerdas. Dengan memahami batas aman gula, garam, lemak, dan protein, Mom/Dad bisa lebih bijak dalam memberikan makanan. Mom/Dad bisa membiasakan kepada anak untuk makan sehat sejak dini dan itu bisa menjadi fondasi untuk hidup sehat sampai dewasa.

02/01/2026 / Komentar Dinonaktifkan pada Kebutuhan Gula per Hari untuk Anak: Panduan lengkap Gula, Garam, Lemak, dan Protein
Baca Lebih Lanjut
7 Alat Bantu Toilet Training Paling Berguna untuk Anak

7 Alat Bantu Toilet Training Paling Berguna untuk Anak

Parenting

Mom-dad ada beberapa tanda sudah waktunya anak mendapatkan latihan untuk ke kamar mandi atau toilet training. Salah satu tandanya adalah anak sudah bisa mengenali keinginannya untuk buang air kecil atau besar. Tetapi, di beberapa kasus, anak belum siap melakukannya karena faktor kekuatan fisiknya yang masih belum bisa berdiri seimbang. Ditambah lagi ukuran kloset kamar mandi yang memang didesain untuk ukuran dewasa, sehingga perlu adanya alat bantu bagi anak. Daftar Alat Bantu Toilet Training Berikut ini beberapa alat bantu untuk men-support anak melakukan toilet training. Potty Pernah melihat si kecil ragu saat harus duduk di kloset besar? Yup, itu memang tidak didesain untuk si kecil, sehingga pasti timbul rasa ragu pada anak. Disinilah peran dari Potty. Ukurannya yang kecil dan pas untuk anak, membuatnya nyaman digunakan oleh si kecil. Toilet Seat Reducer Jika mom-dad tidak ingin anak menggunakan potty dan ingin anak mengenal kamar mandi yang ada di rumah, toilet seat reducer bisa menjadi solusi. Alat ini dirancang untuk digunakan oleh anak dengan diameter lubang yang lebih kecil dan pas untuk si kecil. Step Tool Tangga atau step tool kadang juga diperlukan ketika mom-dad ingin melakukan toilet training untuk si kecil menaiki kloset. Selain mengajarkan toilet training, step tool juga bisa melatih kekuatan otot anak lebih baik lagi.  Training Pants Saat melakukan toilet training, biasanya dibarengi dengan kesiapan si kecil untuk melepas popok dan beralih ke celana. Training pants sangat cocok sebagai transisi dari popok ke celana. Dengan lapisan penyerap yang mampu menahan tetesan urin dan memberikan sensasi basah ke si kecil. Sensasi itulah yang bisa bantu si kecil menyadari kapan waktunya ke kamar mandi. Waterproof Bed Pad Tidak dipungkiri terkadang anak masih perlu berlatih agar bisa mengenali kapan waktunya ke kamar mandi, sehingga perlu waterproof bed pad agar anak tidak mengompol di kasur. Berat banget ga sih bun bawa kasur ke luar rumah buat di jemur. Sabun dan Handuk untuk Anak Setelah melakukan buang air kecil atau besar, si kecil juga perlu dilatih untuk melakukan kebersihan juga. Mom-dad bisa menyediakan sabun dan handuk khusus anak di dalam kamar mandi sembari mengajari menggunakannya. Stiker Pencapaian Mom-dad ini yang sering dilupakan, yaitu memberi selamat ke anak atas apa yang telah mereka pelajari. Stiker yang bisa anak tempel atau magnet bergambar bisa menjadi stimulus mereka untuk melakukan toilet training dengan benar. Mom-dad, toilet training tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Perkembangan si kecil butuh waktu dan konsistensi yang terus menerus. Terkadang, ada kasus anak masih kesulitan untuk menaiki tangga untuk naik ke kloset. Untuk itu kesiapan terhadap otot-otot anak menjadi yang utama sebelum melakukan toilet training. Salah satu cara untuk menguatkan otot anak adalah dengan Gymnastic khusus untuk anak. Mulai dari merangkak, melompat, hingga memanjat akan diajarkan di Gymnastic. Mom-dad bisa mencoba kelas Gymnastic untuk anak dari Sparks Sports Academy yang menghadirkan kelas gymnastic untuk anak mulai usia 1 tahun. Sparks Sports Academy juga sudah tersedia di berbagai tempat seperti Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, hingga Surabaya. Yuk, daftar kelasnya sekarang juga!

02/01/2026 / Komentar Dinonaktifkan pada 7 Alat Bantu Toilet Training Paling Berguna untuk Anak
Baca Lebih Lanjut
Efek Gula pada Anak: Dampak Berbahaya yang Perlu Diwaspadai Orang Tua

Efek Gula pada Anak: Dampak Berbahaya dan 5 Cara Membatasinya

Parenting

Rasa manis sangat digemari oleh anak-anak. Mulai dari permen, biskuit, minuman kemasan, hingga jajanan. Tetapi, di balik rasanya yang manis dan enak, terdapat efek gula pada anak yang berdampak ke kesahatan dan tumbuh kembangnya. Oleh karena itu, Mom/Dad harus membatasi makanan manis yang dikonsumsi anak. Dambak Kelebihan Gula pada Anak Gula merupakan sumber energi yang mudah diserap oleh tubuh. Namun, berlebihan mengonsumsi gula akan memengaruhi kesehatan tubuh dan proses tumbuh kembang anak. Berikut adalah efek gula pada anak yang berdampak negatif: Batas Konsumsi Gula pada Anak Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesa Nomor 30 Tahun 2013, anjuran konsumsi gula per orang per hari adalah 10% dari total kalori harian. Jadi, untuk konsumsi gula harian untuk anak adalah 24 gram per hari atau sekitar 6 sendok teh. Ini termasuk gula pada makanan dan minuman mereka. Baca juga: Cara Hitung Kebutuhan Kalori Harian Anak Berdasarkan Usia Cara Mengontrol Gula pada Anak Mengontrol gula pada anak memang tidak mudah, terlebih jika anak sangat menyukainya. Tetapi, Mom/Dad bisa menerapkan cara sederhana berikut ini: 1. Batasi Porsi Gula Ketika anak ingin mengonsumsi camilan, Mom/Dad harus biasakan memberinya dalam porsi kecil supaya asupan gula bisa dikendalikan. 2. Pilih Camilan Sehat Jadikan buah-buahan untuk camilan anak. Tidak seperti permen, donat, dan kue, buah mengandung gula alami dan serat yang bisa mengontrol gula darah. 3. Hindari Minuman Manis Batasi anak mengonsumsi minuman manis seperti, soda dan jus kemasan. Mom/Dad bisa mengajari dan mencontohkan kepada anak untuk sering mengonsumsi air putih. 4. Cek Label Komposisi Gula pada Makanan Mom/Dad bisa membaca label komposisi gula sebelum membeli makanan atau camilan. Pilih produk dengan kandungan gula tidak melebihi Angka Kecukupan Gizi (AKG). Gula yang boleh dikonsumsi oleh anak antara lain laktosa, sukrosa, maltosa, dan glukosa dengan batas wajar. Sementara fruktosa, galaktosa, dan trehalose merupakan jenis gula tambahan yang harus dibatasi. 5. Memasak Makanan Sendiri Mom/Dad bisa memasak untuk makanan yang lebih sehat untuk anak. Dengan memasak sendiri, Mom/Dad dapat mengukur dengan baik makanan yang diberikan untuk anak. Efek gula pada anak tidak boleh dianggap sepele. Konsumsi gula yang berlebih bisa memengaruhi perilaku, kesehatan, dan risiko penyakit di masa depan. Dengan memahami dan membatasi konsumsi gula anak, Mom/Dad bisa membantu anak tumbuh lebih sehat dan aktif. Mom/Dad juga perlu mengingat, membatasi gula bukan berarti melarang sepenuhnya, tetapi mengajarkan keseimbangan yang tepat.

02/01/2026 / Komentar Dinonaktifkan pada Efek Gula pada Anak: Dampak Berbahaya dan 5 Cara Membatasinya
Baca Lebih Lanjut

Paginasi pos

Sebelumnya 1 … 24 25 26 … 74 Berikutnya
Tema Royal Elementor Kit dibuat oleh WP Royal.