Mental anak tidak hanya dipengaruhi oleh sekolah dan lingkungan luar, melainkan di rumah juga. Di rumah, cara berbicara, bersikap, dan merespon dari orang tua ke anak memiliki dampak besar ke kesehatan mental anak. Oleh karena itu, Mom/Dad wajib mengetahui dan memahami jenis-jenis gangguan mental anak serta faktor yang memengaruhinya. Jenis-Jenis Gangguan Mental Anak Dilansir dari Centers for Disease Control and Prevention, gangguan mental anak bisa digambarkan dengan perubahan serius dalam belajar, berperilaku, atau menangangi emosi. Dampak dari gangguan mental ini sangat memengaruhi tumbuh kembang anak. Berikut adalah beberapa gangguan mental pada anak: 1. Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) adalah gangguan saraf yang terjadi pada anak yang ditandai dengan pola perilaku impulsif, kurangnya perhatian, dan hiperaktif. Gangguan ini dapat memengaruhi anak dalam berinteraksi sosial, belajar, dan kehidupan sehari-hari. 2. Gangguan Makan Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia, orang tua sering mengeluhkan anaknya sulit makan. Jika didiamkan secara terus-menerus, ini akan menimbulkan gejala gangguan makan. Ada beberapa jenis gangguan makan yang dialami oleh bayi, balita, atau anak-anak. Mulai dari anoreksia, bulimia, binge-eating, sampai gangguan makan yang bersifat menjahuhi makanan atau avoidant/restrictive food intake disorder (ARFID). Gangguan ini akan mengakibatkan anak tidak mampu bertindak secara emosional. 3. Gangguan Kecemasan Gangguan kecemasan atau anxiety merupakan penyakit mental anak yang serius. Menurut psikologi Iswan, anxiety pada anak awalnya seperti tantrum atau mengamuk, namun ciri yang umum adalah menghindari atau menjaga dari sumber atau penyebab yang membuat anak cemas. Dampak dari anxiety pada anak bisa berupa kesulitan tidur dan masalah konsentrasi. 4. Depresi Depresi juga bisa menyerang anak-anak. Hal ini ditandai dengan perasaan sedih dan kehilangan minat secara terus-menerus, sehingga mengganggu anak untuk belajar dan bersosialisasi. Gejalanya bisa dilihat seperti sering menangis, menarik diri dari lingkungan sekitar, mengeluhkan rasa berat atau sakit pada bagian tubuh tertentu, serta sulit berkonsentrasi. 5. Autism spectrum disorder (ASD) Autism spectrum disorder (ASD) atau autisme adalah penyakit mental fisik anak yang memengaruhi fungsi otak dan saraf anak. Anak dengan ASD akan sulit memahami dan merespon emosi orang lain serta memiliki minat yang terbatas dan kepekaan sensorik yang berbeda. 6. Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) atau gangguan mental jangka panjang yang melibatkan kekhawatiran, kenangan menakutkan, mimpi buruk, dan tingkah laku. PTSD pada anak bisa terjadi karena kekerasan fisik, kecelakaan, kehilangan orang terdekat, atau pelecehan seksual. Gejalanya bisa ditandai dengan sering berteriak, bersembunyi, atau berkelahi. PTSD bisa membuat anak takut berhubungan dengan orang lain dan enggan untuk mengungkap emosi. 7. Obsessive-compulsive disorder (OCD) Obsessive-compulsive disorder (OCD) adalah kondisi psikologis yang dapat membuat penderitanya melakukan sesuatu hal secara berulang agar rasa cemasnya hilang. Contoh anak yang memiliki OCD adalah anak yang terobsesi dengan kebersihan akan secara tidak sadar akan membersihkan apa saja berkali-kali agar kecemasannya hilang. Perilaku Orang Tua yang Menyebabkan Gangguan Mental Anak Pertumbuhan dan perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh pola asuh orang tua. Menurut Prof. Dr. Rachma Hasibuan, M.Kes., pakar pendidikan anak usia dini UNESA bahwa setiap ucapan orang tua bisa berdampak pada psikologis dan perkembangan karakter anak. Berikut adalah beberapa kebiasaan orang tua yang berdampak pada kesehatan mental anak: 1. Membanding-bandingkan Perilaku orang tua yang membanding-bandingkan anak dengan anak lainnya bisa meruntuhkan kepercayaan diri anak pada usaha dan kemampuannya. Mental anak bisa tertekan dan mereka akan takut melakukan sesuatu dan lama-lama akan membatasi potensinya. 2. Perilaku Abusive Abusive bisa memicu gangguan mental pada anak. Salah satunya adalah perilaku orang tua yang abusive secara fisik, verbal, hingga finansial. 3. Selalu Menyalahkan Anak Hal ini biasanya terjadi ketika orang tua memiliki persoalan dan melampiaskan kekesalan kepada anaknya. 4. Meremehkan Anak Dilansir dari Integrish health, pola asuh yang kritis dan meremehkan anak dapat menurunkan harga diri anak. Pola asuh ini akan menyebabkan anak merasa cemas dan depresi. 5. Terlalu Protektif Orang tua pastinya tidak ingin ada hal buruk terjadi pada anaknya. Dengan begitu, orang tua membatasi apa saja yang dilakukan oleh sang anak. Hal ini menyebabkan anak akan terus penasaran dan kemungkinan akan nekat mencoba hal baru. Terlalu protektif membuat anak tidak memiliki kemampuan dalam menangani situasi dan menimbulkan kecemasan di kemudian hari. Baca juga: 7 Cara Memperbaiki Mental Anak yang Sering Dimarahi Kalimat Sepele tapi Berdampak pada Kesehatan Mental Anak Kalimat sepele orang tua bisa berdampak besar pada kesehatan mental anak, jadi penting bagi orang tua untuk menghindari ucapan berikut ini Memahami mental anak merupakan langkah penting orang tua untuk mendukung tumbuh kembang emosional dan psikologis anak secara sehat. Setiap anak memiliki mental yang berbeda sehingga memerlukan pendekatan khusus oleh orang tua. Dengan memberikan dukungan, komunikasi yang positif, serta menciptakan lingkungan rumah yang harmonis, anak akan memiliki mental yang kuat dan bisa melewati rintangan yang terjadi. Oleh karena itu, orang tua wajib mendampingi dan menjaga kesehatan mental anak sejak dini.
Tugas Anak di Rumah: 6 Cara Sederhana Mengajarkan Tanggung Jawab Sejak Dini
Mom/Dad pasti ingin anaknya tumbuh mandiri dan bertanggung jawab, tapi masih bingung mulainya dari mana? Mom/Dad padahal bisa menerapkan kebiasaan kecil namun efektif seperti memberikan tugas anak di rumah. Tugas itu bukan hanya sekedar membantu orang tua, tetapi juga bisa membentuk karakter anak sejak dini. Di artikel ini akan membahas kenapa memberikan tugas anak di rumah sangat penting bagi perkembangan sosialnya. Kenapa Melibatkan Anak Sejak Dini dalam Pekerjaan Rumah Pentig? Melibatkan anak dalam pekerjaan rumah bukan berarti membebani mereka. Justru anak memiliki hak dan kewajiban di rumah sesuai usia dan kemampuannya. Dengan melibatkan anak sejak dini, bahwa tanggung jawab rumah bukan hanya melibatkan orang tua saja tetapi anak juga. Selain itu, anak juga memahami aturan, belajar disiplin, serta merasa dihargai karena dipercaya melakukan sesuatu. Kebiasaan ini membantu anak tumbuh dengan rasa memiliki dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Manfaat Memberikan Tugas Anak di Rumah Melibatkan anak dalam pekerjaan rumah bisa menjadi proses belajar dan bermain bagi mereka. Berikut adalah manfaat yang didapat anak saat diberi tugas di rumah: 1. Melatih Rasa Tanggung Jawab Melibatkan anak untuk mengerjakan tugas rumah merupakan latihan bagi mereka untuk bisa bertanggung jawab sejak dini. Dengan memberikan pekerjaan rumah, anak akan terbiasa melakukan pekerjaan rumah tanpa bantuan orang lain. Hal ini akan menumbuhkan rasa tanggung jawab di dirinya secara perlahan. 2. Menumbuhkan Rasa Percaya Diri Memberikan tugas rumah bisa membantu anak melihat potensi dirinya sendiri. Menyelesaikan tugas rumah dengan baik bisa membuat anak merasa puas dan bangga terhadap dirinya sendiri. Alhasil rasa percaya diri anak bisa meningkat. 3. Meningkatkan Kemampuan Berkomunikasi Memberikan pekerjaan rumah bisa melatih kemampuan berkomunikasi anak. Komunikasi tidak hanya berbicara, tetapi melihat kemampuan anak dalam menyampaikan, mengolah, serta menerima pesan dengan tepat. Anak yang memiliki komunikasi yang baik kedepannya jenderung bisa bersosialisasi dan bekerja sebagai tim. Selain itu, anak bisa menyerap pelajaran sekolah dengan baik. 4. Mempererat Hubungan Orang Tua dan Anak Tugas rumah yang dibantu anak diharapkan bisa meringankan pekerjaan orang tua. Hal ini dapat memungkinkan orang tua dan anak memiliki waktu bersama lebih lama. Dengan begitu, hubungan mereka bisa makin erat. Selain itu, ketika anak terbiasa membantu pekerjaan rumah, kemungkinan orang tua menjadi strees mengecil. 5. Melatih Anak untuk Mandiri Dengan memberi anak tugas rumah seperti mencuci, mengepel, atau memasak, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan juga produktif. 6. Menumbuhkan Rasa Empati Rasa empati pada anak bisa ditumbuhkan dengan memberinya tugas rumah. Anak yang memiliki rasa empati bisa memahami dan menghargai orang lain, menempatkan diri, serta mengelola emosi dengan baik. Baca juga: 5 Cara Mendidik Anak Agar Mandiri dan Tidak Cengeng Contoh Pekerjaan Rumah agar Anak Mandiri Melibatkan anak dalam pekerjaan rumah sejak dini sangat penting untuk melatih kemandirian dan tanggung jawab. Berikut adalah jenis pekerjaan rumah yang cocok untuk anak: 1. Merapikan Tempat Tidur Sendiri Pekerjaan sederhana ini akan membantu anak belajar disiplin, konsisten, dan tanggung jawab di sekitar lingkungannnya. Mom/Dad bisa mulai kebiasaan si kecil untuk merapikan selimut, bantal, dan guling setiap bangun tidur. 2. Bereskan Mainan Sendiri Mom/Dad bisa mengajari anak untuk bertanggung jawab merawat barang-barang miliki si anak seperti mainan. Berikan tugas ke anak untuk selalu membereskan mainannya ketika selesai bermain. Selain melatih kemandirian, halini akan membantu anak mehami konsep kepemilikian dan tanggung jawab kepada sekitar. 3. Taruh Cucian Kotor ke Keranjang Menaruh cucian kotor ke keranjang juga bisa melatih kebersihan dan kemandirian anak. Mom/Dad bisa mengajari anak bahwa pakaian kotor tidak boleh diletakkkan sembarang supaya kamar tetap bersih dan tidak bau. Mom/Dad bisa meletakkan laundry bag kecil di dekat kamarnya supaya anak bisa melakukannya. 4. Membantu Menata Meja Makan Ajak anak untuk membantu menata meja seperti meletakan sendik, garpu, atau serbet. Pekerjaan rumah ini bisa meningkatkan kepercayaan diri dan kemampuan mereka serta mengajari kerja sama keluarga. Setelah selesai makan, ajarkan anak untuk membersihkan meja guna memahami pentingnya kebersihan. 5. Kembalikan Sepati di Rak Tugas sederhana seperti mengembalikan sepatu ke rak adalah pekerjaan yang bisa meningkatkan kemandirian pada anak. Sediakan rak sepatu yang mudah dijangkau anak agar mereka bisa melakukannya sendiri tanpa bantuan. 6. Buang Sampah di Tempatnya Mendidik anak untuk membuang sampah di tempatnya adalah cara efektif melatih rasa tanggung jawab dan kebersihan. Tugas ini juga memberikan pemahaman tentang pentingnya menjaga lingkungan. Cara Anak Belajar Tanggung Jawab Lewat Tugas Anak di Rumah Mengajari anak tanggung jawab bisa dimulai dari hal sederhana. Jika anak sudah terbiasa dan paham tentang tanggung jawab, maka dengan sendirinya anak langsung paham konsep ini. Simak beberapa tips dan cara untuk melatih rasa tanggung jawab anak berikut ini. 1. Berikan Pemahaman Sebab-Akibat Saat anak melakukan kesalahan, Mom/Dad jangan membentak. Ajak anak berdiskusi dengan tenang tentang kesalahan yang dilakukannya, minta anak mengakui dampaknya, dan ajarkan cara memperbaikinya. 2. Ajari Anak Problem Solving Mom/Dad bisa memberikan anak pilihan dalam situasi tertentu agar mereka belajar memikirkan risiko dan mengambil keputusan yang tepat sejak dini. 3. Mengenalkan Aturan dan Kosekuensi Beri tahu kepada anak bahwa setiap tindakan memiliki dampak positif atau negatif. Dengan memahami aturan di rumah atau tempat umum, anak akan lebih berhati-hati dalam bertindak. 4. Menjadi Teladan yang Baik Karena anak adalah peniru ulungm Mom/Dad harus menunjukan perilaku bertanggung jawab secara nyata agar anak bisa mencontohnya. 5. Menerapkan Rutinitas Jadwal harian yang teratur membantu anak memahami kewajiban tanpa harus diperintah terus menerus. Dengan ini, anak akan menumbuhkan kemandiriannya sendiri. 6. Memberikan Apresiasi Berikan pujian atau ucapan terima kasih saat anak berhasil menyelesaikan tugasnya. Hal ini akan memotivasi mereka untuk terus bersikap bertanggung jawab di kemudian hari. Memberikan tugas anak di rumah adalah cara sederhana namun efektif untuk mengajarkan tanggung jawab, kemandirian, dan disiplin sejak dini. Dengan tugas yang sesuai dengan usianya dan dukungan Mom.Dad, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang peduli, mandiri, dan siap menghadapi tantangan kedepanya.
Kepala Anak Sering Terbentur? Ini Efeknya, Dampak, dan Cara Mencegahnya Sejak Dini
Mom/Dad pasti deg-degan saat melihat kepala anak sering terbentur. Biasanya, hal itu disebabkan karena anak baru belajar dudul, merangkak, berdiri, atau terlalu aktif bermain. Banyak yang mengira benturan kecil di kepala merupakan hal wajar, tapi kalau terlalu sering bisa menjadi masalah serius. Di artikel ini akan membahas satu persatu agar Mom/Dad lebih paham dan bisa mencegah dampak jangka panjangnya. Efek Kepala Anak Sering Terbentur Pada dasarnya, kepala anak terutama bayi dan balita sangatlah rentan. Tulang yang masih berkembang belum sepenuhnya keras dan otak masih masa perkembangan. Jika kepala anak sering terbentur, berikut adalah efek yang akan dialami oleh anak: 1. Cedera Kepala Cedera kepala adalah salah satu efek dari terbentur. Ketika bayi sering terbentur, baik ringan maupun berat, risiko cedera kepala akan semakin meningkat. Jika anak Mom/Dad mengalami benturan yang mengakibatkan memar, segera bawa ke rumah sakit karena bisa menjadi memar yang serius. 2. Trauma Otak Trauma otak bisa terjadi karena benturan, guncangan, atau penetrasi ke dalam tengkorak. Hal ini dapat mengakibatkan cedera pada jaringan otak khususnya pada anak. Trauma otak pada anak memiliki efeknya masing-masing, mulai dari gangguan perlaku, kesulitan tidur, muntah, kejang, dan bahkan kerusakan permanen pada otak. 3. Gangguan Perkembangan Otak dan Sistem Saraf Jika kepala anak sering terbentur, dapat menimbulkan masalah perkembangan pada otak dan sistem saraf. Anak bisa mengalami gangguan kognitif, motorik, sensorik, hingga bahasa. Hal ini sangat menggangu perkembangan anak dan bisa berakibat fatal seperti cerebral palsy. 4. Gangguan Keseimbangan dan Koordinasi Benturan yang terlalu sering pada anak bisa mengganggu keseimbangan dan koordinasi tubuh. Akibatnya, anak kesulitan dalam berjalan stabil, hingga ganggua aktivitas motorik halus seperti mengambil atau menyusun benda. 5. Gangguan Sensorik Kepala anak sering terbentur dapat memengaruhi kemampuan sensorik anak. Dampaknya, anak bisa mengalami gangguan pengelihatan, pendengaran, hingga kesulitan merespon rangsangan sensorik seperti sentuhan atau aroma. Benturan ringan memang tidak terlalu berbahaya, tetapi jika terjadi berulang kali, risikonya bisa meningnkat. Mom/Dad perlu mewaspadai jika anak mengalami perubahan setelah kepalanya terbentur. Baca juga: Mengenal Kinestetik, Kunci Anak Aktif dan Cerdas Gerak Apakah Kepala Anak Sering Terbentur Bisa Mempengaruhi Kemampuan Belajar? Menurut terapis okupasi di Flint Rehab, Courtney Maher, OTR/L, anak yang mengalami cedera di kepala dan otak akan mengalami kesulitan kognitif dan hampir tidak mungkin menyerap informas. Hal ini dapat menyebabkan mengalami gejala ketidakmampuan belajar, meskipun tidak mengalami gangguan seperti pasien ADHD. Berikut ini adalah efek kognitif utama dari cedera otak akibat benturan kepala yang memengaruhi kemampuan belajar: 1. Masalah Memori Ketika kepala anak sering terbentur dan mengalami cedera otak, memori kerja anak akan terganggu dan hampir tidak mungkin untuk menyerap informasi saat mendengar atau membaca pertama kali. Anak mungkin perlu membaca atau mendengarnya beberapa supaya paham. 2. Kesulitan Perhatian dan Konsentrasi Masalah kognitif umum lainnya adalah kesulitan perhatian dan konsentrasi. Rentang perhatian yang pendek menyebabkan anak mengalami kesulitan untuk fokus dalam waktu yang lama, dan mereka juga kesulitan memperhatikan lebih dari satu hal sekaligus. 3. Masalah Organisasi Setelah mengalami cedera otak akibat terbentur, anak akan mengalami kesulitan mengatur informasi baru. Ini dapat memiliki dampak besar pada pembelajaran. Bahkan jika anak memperhatikan dan mengingat pelajaran, merekan tidak akan paham kecuali otak mereka dapat mengaturnya secara logis. Hal itu dapat menyebabkan anak membuat keputusan terburu-buru karena tidak dapat menganalisis situasi dan memilih opsi terbaik. Cara Menjegah Kepala Anak yang Sering Terbentur Mom/Dad bisa mengambil langkah sederhana untuk menjaga anak agar tidak mengalami benturan kepala yang bisa mengakibatkan cedera otak. 1. Keamanan Berkendara Gunakan sabut pengaman saat berkendara menggunakan mobil atau motor. Gunakan kursi pengaman anak atau kursi booster yang sesuai dengan usia, berat, dan tinggi badan anak. 2. Memakai Helm Helm membantu mencegah benturan kepala. Anak harus menggunakan helm pada aktivitas olahraga atau aktivitas outdoor. 3. Menjaga Anak Aman di Rumah Pasang pagar pengaman di bagian atas dan bawah tangga supaya anak bisa naik turun dengan aman. Jangan biarkan anak bermain di tangga atau melompat di atas atau dari furnitur. Mom/Dad juga jangan tinggalkan anak di tempat tinggi seperti kasur atau sofa. 4. Keamanan Tempat Tidur Pasang pagar di samping ranjang supaya anak tidak jatuh ke lantai. Jangan biarkan anak bermain lompat-lompatan di tempat tidur. Kapan Harus ke Dokter saat Anak Terbentur Mom/Dad pasti bertanya-tanya, jika kepala anak sering terbentur, kapan harus diperiksa ke dokter? Berikut adalah ciri-cirinya: 1. Anak di Bawah 2 Tahun Anak di bawah 2 tahun memiliki risiko keretakan tulang kepala yang sangat tinggi, sehingga pemeriksaan CT Scan diperlukan berdasarkan risiko cederanya. 2. Anak di Atas 2 Tahun Anak di atas 2 tahun memerlukan observasi ketat, terutama dalam 24 jam pertama, untuk memantau tingkat kesadaran, kejang, kelumpuhan, sakit kepala, atau muntah berulang. Pemantauan ini bisa dilakukan di rumah sakit atau di rumah denga pengawas profesional. Pemeriksaan CT Scan baru dianjurkan jika ditemukan tanda-tanda tidak sadar penuh, perubahan perilaku, atau kecurigaan patah tulang kepala. Jika kepala anak sering terbentur, Mom/Dad jangan panik tapi juga jangan dianggap remeh. Kondisi ini bisa menjadi tanda bahwa anak masih membutuhkan stimulasi keseimbangan dan sensorik agar gerak tubuhnya lebih terkontrol. Di Sparks Sports Academy menyediakan program kelas sensori bayi yang aman, menyenangkan, dan dipandu oleh profesional. Bantu anak tumbuh lebih seimbang, percaya diri, dan aman saat beraktivitas.
Understimulation pada Anak: Penyebab, Dampak, dan Solusinya
Pernahkan Anda mendapati anak Anda selalu terlihat tidak termotivasi? Jika pernah, ada kemungkinan anak Anda tengah dalam kondisi yang disebut understimulation. Kondisi ini termasuk kerap luput dari perhatian orang tua. Padahal, jika dibiarkan, kondisi ini bisa membuat tumbuh kembang anak tidak optimal. Key Takeaways Apa Itu Understimulation pada Anak? Understimulation (kurang stimulasi) pada anak adalah kondisi saat anak tidak mendapatkan cukup stimulasi sensorik, motorik, dan emosional untuk proses tumbuh kembang. Padahal, stimulasi sensorik dan emosional sangat anak butuhkan agar otak berkembang secara optimal. Jika kebutuhan stimulasi terlalu minim, maka beberapa aspek perkembangan pada anak bisa terhambat. Stimulasi yang dimaksud bukan harus berupa aktivitas sulit. Interaksi sederhana seperti bergerak dan eksplorasi benda juga termasuk bentuk stimulasi. Ciri-ciri Understimulation pada Anak Anak yang teridentifikasi kurang stimulasi umumnya akan menunjukkan beberapa ciri umum berikut. Mengapa Understimulation Bisa Terjadi? Pada banyak kasus, kurangnya stimulasi pada anak bisa terjadi karena berbagai faktor penyebab. Adapun yang paling umum adalah sebagai berikut. 1. Kurangnya Kesempatan Eksplorasi Jika Anak terlalu sering di rumah tanpa aktivitas yang menantang, mereka akan kekurangan stimulasi. Sebab, lingkungan monoton tidak akan mendorong anak untuk mengembangkan rasa ingin tahu dan melakukan sesuatu yang baru. 2. Penggunaan Gadget secara Berlebihan Keberadaan gadget hari ini memang bisa membuat anak jauh lebih tenang. Namun, di lain sisi, anak tidak mendapatkan stimulasi sensorik dan motorik yang diperlukan untuk tumbuh kembangnya. Dengan kata lain, penggunaan gadget secara berlebihan akan membuat otak anak tidak mendapatkan stimulasi yang cukup dan interaksi nyata. 3. Minimnya Aktivitas Fisik Aktivitas fisik, seperti berlari, berjalan, hingga memanjat adalah bentuk dari stimulasi motorik. Anak yang jarang melakukan aktivitas fisik umumnya memiliki perkembangan motorik kasar dan halus yang lebih lambat. 4. Kurangnya Interaksi Sosial Selain sensorik dan motorik, anak juga membutuhkan stimulasi sosial. Stimulasi tersebut bisa anak dapatkan dari interaksi dengan orang tua, teman, dan lingkungan sekitar. Tanpa melakukan interaksi sosial, anak akan menjadi lebih pasif dan kurang responsif. 5. Rutinitas yang Kaku Rutinitas anak yang repetitif bisa membuat anak kehilangan kesempatan memproses pengalaman baru. Jika hal ini berlangsung lama, maka perkembangan otak anak kurang optimal. Baca juga: 7 Cara Efektif Atasi Overstimulasi pada Anak agar Lebih Tenang Dampak Kurangnya Stimulasi pada Anak Kurangnya stimulasi pada anak bukan masalah remeh. Jika Anda membiarkannya, maka kondisi ini bisa memberikan dampak buruk jangka panjang pada anak, seperti: Cara Mengatasi Understimulation pada Anak Dalam parenting, ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan jika anak terindikasi mengalami kurang stimulasi ini. Di antaranya adalah sebagai berikut. Pastikan Anak Mendapat Stimulasi Cukup untuk Tumbuh Kembangnya Singkatnya, understimulation pada anak mengakibatkan sejumlah dampak negatif jangka panjang jika dibiarkan. Mulai dari perkembangan otak yang terhambat, penurunan kemampuan motorik, hingga kurangnya kreativitas. Salah satu solusi untuk mencegah atau mengatasi understimulation pada anak adalah menyediakan wadah bagi anak untuk menyalurkan energinya secara positif. Di sini, Sparks Sports Academy adalah salah satu lembaga yang bisa Anda percaya. Kami menyediakan berbagai kelas stimulasi dini yang dirancang untuk memberikan stimulasi sensorik dan motorik guna memastikan anak mencapai milestone tumbuh kembangnya secara optimal. Mulai dari kelas taekwondo, multisport, hingga gymnastic, semua kelas di akademi kami akan membantu si kecil menyalurkan energinya secara positif, membangun kedisiplinan, dan kepercayaan diri. Jangan biarkan perkembangan si kecil terhambat karena kurang stimulasi. Daftarkan anak Anda sekarang di kelas aktivitas Sparks Sports Academy dan pastikan tumbuh kembangnya optimal!
Manfaat Probiotik untuk Anak, Investasi Kesehatan Sejak Dini!
Dalam beberapa tahun terakhir, minat orang tua terhadap probiotik untuk anak semakin meningkat. Ini terjadi karena banyak penelitian menunjukkan peran penting bakteri baik dalam menjaga kesehatan pencernaan dan imunitas. Melansir UCLA Health, 70% sistem kekebalan tubuh terletak di usus. Karena itu, keseimbangan mikrobiota menjadi pondasi kesehatan jangka panjang. Ketika keseimbangan ini terganggu, anak pun akan lebih rentan terkena infeksi, alergi, hingga gangguan pencernaan berulang. Mari simak berbagai manfaatnya! Key Takeaways: Apa Itu Probiotik? Probiotik merupakan bakteri baik yang aktif dan hidup, serta memberi manfaat kesehatan saat dikonsumsi dengan dosis yang tepat. Mikroorganisme ini akan membantu menstabilkan mikrobiota usus, memperbaiki sistem pencernaan, dan menghalangi pertumbuhan bakteri penyebab penyakit. 4 Manfaat Probiotik untuk Anak Mungkin, selama ini Anda hanya mengetahui istilah probiotik, tetapi tidak dengan manfaatnya. Mari menambah ilmu dengan menyimak 5 manfaatnya di bawah ini! 1. Meningkatkan Daya Tahan Tubuh Anak dengan mikrobiota usus yang sehat memiliki risiko lebih rendah terkena infeksi saluran pernapasan dan pencernaan. Studi literatur menunjukkan bahwa penggunaan probiotik untuk anak dapat membantu memperkuat respons imun karena bakteri baik berperan menjaga integritas dinding usus serta memodulasi sistem kekebalan tubuh. Mengutip dari penelitian WebMD, probiotik juga disebut memiliki kemungkinan untuk mengurangi durasi diare dalam setengah hati hingga dua hari. 2. Meningkatkan Nafsu Makan dan Penyerapan Nutrisi Dengan pencernaan yang lebih seimbang, proses penyerapan gizi pun dapat berjalan optimal. Tentu ini sangat penting untuk anak yang sulit makan, berat badannya sulit naik, atau sering mengalami masalah pencernaan seperti kembung dan sembelit. Probiotik juga membantu menyeimbangkan enzim pencernaan serta mengurangi inflamasi usus, sehingga metabolisme nutrisi menjadi lebih efektif. 3. Mengurangi Risiko Alergi dan Eksim Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemberian probiotik untuk anak terutama sejak awal masa kehidupan dapat membantu menurunkan risiko munculnya eksim dan reaksi alergi. Hal tersebut juga tertulis dalam jurnal Elsevier yang menyebutkan bahwa probiotik dapat menurunkan risiko alergi, terutama dermatitis atopik pada bayi. Jurnal PubMed pun menyebutkan bahwa konsumsi probiotik dapat menurunkan risiko eksim dengan efek lebih besar jika ibu mengonsumsinya selama masa kehamilan dan menyusui atau langsung pada bayi. 4. Membantu Pemulihan Setelah Konsumsi Antibiotik Antibiotik sering membunuh bakteri baik dan buruk sekaligus, sehingga menimbulkan ketidakseimbangan mikrobiota yang menyebabkan diare atau daya tahan menurun. Sedangkan probiotik dapat membantu mempercepat pemulihan kondisi usus setelah terapi antibiotik serta menurunkan kemungkinan munculnya diare terkait antibiotik. Sumber Probiotik untuk Anak Memilih sumber probiotik yang tepat sangat penting untuk menjaga kesehatan pencernaan dan daya tahan tubuh anak. Orang tua dapat mendapatkan probiotik dari makanan alami maupun suplemen yang dirancang khusus untuk kebutuhan anak. Berikut beberapa sumbernya. 1. Makanan Fermentasi Ada banyak jenis makanan fermentasi yang bisa menjadi sumber probiotik untuk anak. Berikut beberapa opsi yang bisa jadi pertimbangan untuk Anda. 2. Suplemen Anak Selain dari makanan, probiotik juga tersedia dalam bentuk suplemen sirup, serbuk, hingga tablet kunyah yang diformulasikan khusus untuk anak. Namun, saat memilih suplemen, pastikan orang tua memeriksa jumlah bakteri aktif (CFU). Selain itu, pastikan jenis strain yang digunakan seperti Lactobacillus rhamnosus dan Bifidobacterium lactis yang terbukti secara klinis bermanfaat bagi kesehatan pencernaan dan imunitas. Pastikan juga produk memiliki sertifikasi BPOM dan jelas aturan penggunaannya, sehingga aman dikonsumsi secara rutin sesuai kebutuhan. Baca juga: 7 Manfaat Yogurt untuk Bayi yang Harus Bunda Ketahui! Sudah Memahami Manfaat Probiotik untuk Anak? Kesimpulannya, pemberian probiotik untuk anak berperan penting dalam menjaga imunitas dan membantu fungsi pencernaan agar tubuh lebih mudah menyerap nutrisi. Anak yang sehat dari dalam biasanya lebih mudah fokus, aktif, dan memiliki performa belajar yang lebih baik. Selain itu, untuk mendukung perkembangan anak dengan latihan fisik dan pembentukan mental, Anda bisa mengandalkan Sparks Sports Academy. Akademi ini menyediakan berbagai kelas menarik yang terstruktur dan dipandu oleh pelatih profesional. Mulai dari balet hingga taekwondo, Anda bisa pilih sesuai minat anak. Melalui program yang ada, anak akan belajar disiplin, meningkatkan kepercayaan diri, dan memperkuat daya tahan tubuh. Hasilnya, anak akan jauh lebih siap dalam menghadapi tantangan, fokus belajar, dan menjadi pribadi yang lebih tangguh. Anda yakin tidak tertarik mendaftarkan anak dari sekarang?
