Kebutuhan gizi anak pada masa MPASI sangat penting karena fase ini menentukan arah tumbuh kembang anak. Tubuh anak membutuhkan sumber protein hewani (prohe) untuk membangun sel, menjaga imunitas, dan mendukung perkembangan otak. Sayangnya, banyak orang tua belum menyadari bahwa pemilihan jenis protein hewani dan takaran yang tepat bisa berdampak besar pada kesehatan anak. Simak artikel ini untuk menemukan solusinya! Key Takeaways Pentingnya Prohe untuk Perkembangan Anak Prohe adalah singkatan dari protein hewani yang berperan besar dalam tumbuh kembang anak, terutama di masa MPASI. Bahan ini membantu memenuhi kebutuhan gizi harian anak karena menyediakan asam amino lengkap yang sulit tergantikan oleh sumber lainnya. Tubuh anak membutuhkan jenis protein ini untuk membangun sel baru, menguatkan daya tahan, menunjang perkembangan otak, dan mencegah risiko stunting. Oleh karena itu, protein hewani menjadi bagian penting dalam MPASI sejak anak berusia 6 bulan. Jenis Prohe yang Cocok untuk MPASI Ada banyak pilihan sumber protein hewani untuk MPASI yang bisa Anda pilih. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut. 1. Daging Sapi Daging sapi terkenal kaya protein dan zat besi yang terserap baik oleh tubuh. Kandungan ini membantu pembentukan sel darah merah dan mendukung pertumbuhan anak. Daging sapi juga mengandung vitamin B12 yang baik untuk perkembangan otak dan sistem saraf. Namun, pastikan teksturnya lembut saat diberikan untuk MPASI. 2. Daging Ayam Setiap 100 gram daging ayam mengandung sekitar 27 gram protein dan zat besi, magnesium, fosfor, serta vitamin penting. Zat besinya mudah diserap tubuh sehingga membantu mencegah anemia. Daging ayam juga mengandung kolin dan vitamin C yang mendukung perkembangan kognitif anak selama masa MPASI. 3. Ikan Ikan adalah jenis prohe yang mudah Anda temukan di Indonesia dan mengandung protein tinggi, terutama pada ikan tongkol, kakap, tenggiri, kembung, belut, salmon, dan ikan mujair. Sumber makanan ini juga mengandung zat besi, asam folat, kalsium, seng, dan vitamin penting yang membantu tumbuh kembang anak secara menyeluruh. 4. Telur Telur termasuk sumber protein hewani bertekstur lembut yang mudah diterima oleh bayi. Satu butir telur ayam mengandung sekitar 7 gram protein. Telur juga menyediakan zat besi, lemak sehat, kolin, dan vitamin. Sehingga, memberikan satu telur sehari terbukti dapat membantu pertumbuhan anak. 5. Hati Ayam atau Sapi Hati ayam dan sapi juga mengandung zat besi dan vitamin A yang sangat tinggi. Zat besinya membantu mencegah anemia, sementara vitamin A mendukung kesehatan mata dan imun anak. Teksturnya mudah dihaluskan sehingga cocok untuk MPASI awal. Pemberiannya juga bisa Anda padukan dengan sayur agar rasanya lebih seimbang. 6. Udang Udang juga termasuk sumber protein hewani yang bagus untuk MPASI. Beberapa kandungan pentingnya antara lain Omega-3, vitamin B6, vitamin B12, kalsium, selenium, dan zinc. Baca juga: Pentingnya Bahan Lokal untuk Makanan Pendamping ASI Takaran Protein Hewani untuk MPASI Komposisi protein hewani dalam MPASI yang dianjurkan adalah sekitar 10–15% dari total asupan kalori harian. Misalnya, kebutuhan energi harian rata-rata bayi usia 6–8 bulan adalah 200 kkal, maka total kebutuhan prohe adalah sekitar 20–30 kkal per hari. Berikut takaran yang bisa Anda ikuti. 1. Takaran Prohe Harian untuk Usia 6–8 Bulan Berikut takaran protein hewani untuk anak usia 6–8 bulan: 2. Takaran Prohe Harian untuk Usia 8–11 Bulan Berikut takaran protein hewani untuk anak usia 8–11 bulan: 3. Takaran Prohe Harian untuk Usia 12–24 Bulan Berikut takaran protein hewani untuk anak usia 12–24 bulan: Dukung Tumbuh Kembang Anak bersama Spark Sports Academy Itulah beberapa pilihan jenis protein hewani atau prohe dan referensi takarannya sesuai usia anak. Namun, untuk mendukung tumbuh kembang anak agar lebih aktif, Anda sebagai orang tua perlu mengenalkan kegiatan fisik yang sesuai usianya. Sparks Sports Academy menawarkan program olahraga yang aman dan menyenangkan, sehingga anak bisa bergerak lebih percaya diri. Lingkungannya pun didesain ramah anak serta didampingi oleh pelatih yang paham perkembangan fisik dan mental anak. Yuk, segera daftarkan anak Anda untuk mengikuti kegiatan favoritnya di Sparks Sports Academy!
Orang Tua Wajib Tahu! Apa itu Parenting, Tujuan, Manfaat, hingga Jenisnya!
Menjadi orang tua sering kali disebut sebagai “pekerjaan seumur hidup yang tidak memiliki panduan resmi. Banyak orang tua belajar parenting sejak anak lahir, padahal jika sudah paham sejak awal dapat meminimalisir banyak konflik dan kebingungan dalam pengasuhan. Ketika parenting dilakukan tanpa dasar ilmu, orang tua berisiko mengasuh anak berdasarkan emosi sesaat atau pola lama yang tidak relevan dengan zaman sekarang. Lalu, apa sebenarnya makna parenting, mengapa penting dipahami sejak dini, dan bagaimana cara menerapkannya dengan tepat? Di artikel ini akan dibahas secara rinci dan mudah dipahami. Pentingnya Memahami Parenting Sebelum Berkeluarga Parenting atau pengasuhan anak adalah proses yang melibatkan aktivitas, sikap, dan tanggung jawab orang tua dalam mendidik, membimbing, serta membentuk kepribadian dan mental anak agar menjadi individu yang sehar, mandiri, dan bertanggung jawab. Memahami ilmu parenting sebelum memutuskan untuk memiliki anak adalah hal yang penting. Menurut studi Journal of Early Human Development, orang tua yang sudah memiliki ilmu parenting akan lebih siap secara emosional dan mental dalam menghadapi tantangan yang muncul selama proses pengasuhan. Orang tua akan memahami bahwa setiap anak memiliki karakter yang unik dan memerlukan pendekatan yang berbeda. Dengan mengetahui ilmu ini terlebih dahulu, orang tua bisa mencegah kesalahan dalam pengasuhan yang berpontensi mengganggu mental anak. Memahami ilmu parenting juga membantu orang tua menciptakan lingkungan yang positif, aman, dan nyaman bagi anak. Tujuan Utama Parenting Orang tua pasti ingin anaknya tumbuh bahagia dan sukses. Parenting adalah salah satu kunci sukses untuk mewujudkan anak tumbuh optimal secara fisik, emosional, dan sosial. Tujuan utamanya adalah sebagai berikut Manfaat Parenting bagi Orang Tua Parenting tidak hanya soal mengasuh anak, tetapi proses belajar dan bertumbuh bagi orang tua. Berikut adalah manfaat yang dirasakan orang tua saat parenting: Prinsip Parenting Mom/Dad harus membayangkan anak adalah kertas putih kosong yang dapat dihias dengan berbagai tulisan atau coretan. Hiasan itu bisa menjadi indah atau malah tidak beraturan tergantung dari Mom/Dad mengasuhnya. Berikut ini adalah prinsip yang bisa ditetapkan: 1. Menjadi Teladan yang baik Sikap keteladanan Mom/Dad sangat dibutuhkan oleh anak zaman sekarang. Dengan mudahnya konten negatif masuk melalui media sosial, Mom/Dad perlu memberikan teladan yang baik dalam bertutur dan bersikap. Jika sudah diterapkan dengan baik, anak akan tumbuh menjadi teladan yang baik, dan memiliki karakter yang positif. 2. Tidak Memanjakan Anak Ingin memanjakan anak adalah hal yang wajar, tapi jangan berlebihan. Jika anak terlalu dimanja, maka anak Mom/Dad tidak akan tumbuh menjadi anak yang mandiri dan percaya diri. 3. Berikan Quality Time Mom/Dad bisa luangkan waktu khusus yang cukup pada anak. Dengan itu, anak bisa tumbuh menjadi sosok yang berkelakuan baik arena mendapat kasih sayang dan perhatian yang cukup. 4’C Parenting Dalam praktik parenting, terdapat prinsip yang dikenal dengan 4C, yaitu: Cara Parenting yang Baik Memahami konsep saja tidak cukup jika tidak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Parenting yang baik terlihat dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Berikut adalah cara terbaik yang bisa diterapkan: 1. Samakan Pola Parenting antara Ibu dan Ayah Parenting tidak hanya dilakukan oleh ibu saja, tetapi ayah juga harus melakukannya. Jangan sampai memakai pola yang berbeda antara ibu dan ayah. Jika berbeda maka polanya tidak akan efektif. 2. Orang tua Sebagai Cermin Utama Anak adalah peniru yang ulung. Mereka lebih melihat apa yang dilakukan orang tuanya daripada apa yang dikatakan. Mom/Dad bisa menunjukan kebiasaan positif secara langsung, seperti budaya mengucap tolong, terima kasih, maaf, bersikap jujur, serta menjunjung toleransi. 3. Kendalikan Emosi di Depan Anak Mom/Dad perlu mengontrol emosi agar tidak terlalu meledak saat marah di depan anak. Perilaku kasar atau bentakan akan dianggap reaksi yang benar oleh anak, sehingga mereka berisiko meniru sikap tersebut. 4. Ganti Ancaman dengan Penjelasan Konsekuensi Menakuti anak dengan ancaman tidak akan mengajarkan kebaikan, malah bisa membuat mereka kesal dan merasa bahwa mengancam adalah cara mendapatkan keinginan. Gunakan pendekatan yang lebih logis dengan memberikan pilihan atau menjelaskan konsekuensi positif dari sebuah tindakan. 5. Validasi dan Kelolas Perasaan Anak Ajari anak untuk mengenali dan menerima emosinya, baik itu sedih, kecewa, maupun marah. Membiarkan anak mengekspresikan perasaanya (misalnya menangis saat sedih) sangat penting agar mereka bisa belajar mengelola emosi tersebut, sehingga tumbuh menjadi pribadi yang tanggu secara mental. 6. Ekspresikan Kasih Sayang dan Apresiasi Tunjukan rasa sayang melalui kontak fisik (pelukan/ciuman) dan quality time. Selain itu, berikan apresiasi dan tunjukan rasa bangga atas usaha yang dilakukan si anak, tanpa mempedulikan hasil akhirnya. Hal ini sangat efektif untuk meningkatkan rasa percaya diri dan kepatuhan anak. 7. Hindari Ekspektasi Berlebih Setiap anak memiliki keunikan dan batasan yang berbeda-beda. Mom/Dad jangan memaksakan kehendak atau menuntut hasil yang sempurna. Itu akan memberikan tekanan mental pada anak dan memicu stress. bersikaplah fleksibel dan sesuaikan harapan dengan kemampuan serta tahap perkembangan anak. Aspek Penting dalam Parenting Parenting adalah proses menyeluruh yang mencakup berbagai aspek kehidupan anak. Beberapa aspek pentingnya adalah sebagai berikut: Ketika semua aspek tersebut terpenuhi secara seimbang, anak akan tumbuh dengan fondasi yang kuat. Jenis-Jenis Parenting Mom/Dad pasti memiliki gaya parenting yang berbeda. Berikut adalah jenis parenting yang sering diterapkan orang tua: 1. Attachment Parenting Metode pengasuhan anak ini ditemukan oleh dokter anak Amerika; Dr. William Sears dan istrinya, Martha Sears, RN. Attachment parenting adalah pola asuh yang responsf sehingga anak bisa tumbuh menjadi karakter yang lebih tangguh, menjaga harga diri, serta mampu membangun hubungan yang sehat. 2. Helicopter Parenting Istilah gaya pengasuhan ini adalah ketika orang tua terus mengitari anaknya seperti helikopter. Di sini, orang tua selalu mengawasi setiap langkah dan keputusan anak. Tujuan dari gaya pengasuhan ini adalah untuk melindungi dan memastikan anak tidak gagal. Namun, hal ini bisa menekan perkembangan psikologis anak karena tidak diberi ruang untuk menghadapi risiko dan tanggung jawab sendiri. 3. Gantle Parenting Gantle parenting adalah pendekatan yang menempatkan empati dan komunikasi sebagai pondasi utama mendidik anak. Pola asuh ini ditemukan oleh Sarah Ockwell-Smith, yang percaya bahwa anak belajar efektif lewat contoh positif, bukan tekanan. Riset dari ParentData.org pun menunjukkan bahwa anak yang dibesarkan dengan cara ini cenderung memiliki pengendalian emosi yang lebih baik. 4. Snowplow Parenting Snowplow Parenting adalah pola asuh anak yang di mana orang tua berusaha menghilangkan segala rintangan anaknya. Hal ini berdampak pada kemandirian dan percaya diri anak. 5. Mindful Parenting Dilansir
10 Rekomendasi Kartun Anak Beserta Tips Memilih Kartun yang Aman dan Edukatif
Warna cerah, musik ceria, dan karakter yang lucu di layar tv atau gadget sangat mudah disukai oleh anak-anak. Tidak heran kalau kartun anak menjadi tontonan favorit mereka. Tapi, pernah tidak Mom/Dad terlintas dipikiran bahwa “apakah semua kartun benar-benar aman dan cocok untuk usia anak kita?” Faktanya, tidak semua kartun dapat dikonsumsi oleh anak. Ada yang terlihat “ramah”, tapi ternyata mengandung konten yang kurang sesuai jika ditonton tanpa pendamping. Supaya tidak bingung dan salah pilih tontonan anak, Mom/Dad bisa mulai memahami cara memilih kartun anak yang tepat. Tips Memilih Kartun Anak yang Aman dan Edukatif Mom/Dad perlu mengingat bahwa tidak semua kartun cocok untuk anak, meskipun secara visual lucu dan penuh warna. Jika anak menonton kartun tanpa dibimbing, anak bisa meniru perilaku negatif yang ada di artun tersebut. Berikut beberapa tips memilih kartun anak yang aman ditonton: 1. Pilih Sesuai dengan Usia Anak Orang tua biasanya sudah mengenalkan film kartun untuk anak sejak usia 16 bulan sampai di atas satu tahun. Pada rentang usia ini, anak kecil sudah memperlihatkan ketertarikan terhadap gerak, warna, suara, dan berbagai macam gambar yang terlihat di depan matanya meski belum sepenuhnya jelas. Namun, memilih kartun atau film harus sesuaiusianya. pastikan pilih film kartun anak dengan rating SU (Semua Umur) untuk kartun lokal dan G (General Audience) untuk kartun internasional. Daftar Rating film kartun televisi untuk anak adalah: Kebanyakan kartun yang tayang di televisi memilki rating di atas. Mom/Dad bisa lihat kategori siaran TV tersebut di sudut kanan atau kiri layar kaca. 2. Pilih Tema Kartun yang Mengedukasi Anak Mom/Dad bisa memilih kartun anak yang menghibur, tapi jangan lupa harus ada aspek edukasinya. Setelah memperhatikan rating, Mom/Dad harus memperhatikan kontennya. Secara umum, Mom/Dad boleh mengenalkan kartun yang berisi moral untuk mengajarkan anak bersosialisasi dengan sesama teman dan bersikap baik kepada orang yang lebih tua. Oleh karena itu, selain bermain dan menonton kartun, anak bisa mendapatkan pelajaran berharga untuk kedepannya. 10 Rekomendasi Kartun Anak Berikut beberapa rekomendasi kartun anak yang populer, aman, dan punya nilai edukatif: 1. Tayo The Little Bus Anak-anak pasti tidak asing dengan kartun Tayp The Little Bus. Kartun yang berasal dari Korea Selatan ini dapat menumbuhkan pengehatuahn anak tentang jenis kendaraan dan lalu lintas. Disamping itu, kartun ini juga mengajarkan anak-anak tentang keramahan dan pengalaman-pengalaman sosial melalui karakternya 2. Curious George Kartun yang memiliki karakter seekor monyet lucu dan pria bertopi kuning ini bisa membuat anak menambah pengetahuan tentang hal dasar seperti jenis-jenis warna, mengenal angka, cara berhitung, dan mengenal bentuk. Karakter George yang mempunyai rasa ingin tau tinggi bisa menjadi conth bagi anak-anak yang punya rasa penasaran tinggi dan ingin belajar lebih. 3. Sofia The First Kalau Mom/Dad memiliki anak perempuan pasti akan menyukai kartun ini. Sofia The First mengisahkan seorang putri yang suka berbagi nilai-nilai sosial di kehidupan sehari-harinya. Karakter Sofia bisa dijadikan sebagai contoh kepada anak untuk bersikap baik dan menjadi orang yang cerdas dalam bertindak. 4. Arthur Kartun Arthur sangat direkomendasikan untuk anak usia 5 tahun. Kartun Arthur membahas tentang hubungan sosial, seperti berdiskusi dengan saudara, yang dikemas dengan sederhana. Kartun ini juga membicarakan tentang kecemasan anak dan cara megatasinya dengan kreatif. Anak bisa mengambil ilmu tentang menjalin pertemanan serta cara mengatasi ketakutan. 5. Sid The Science Kid Kartun ini bisa menjadi media bagi anak untuk menyukai sains sejak dini. Sid The Science Kid adalah kartun yang mengajarkan cara untuk bersemangat dalam belajar dan menemukan hal-hal baru di dunia dan di sekitar kita. Kartun ini cocok untuk anak empat tahun karena terdapat musik serta humor di dalamnya. Baca juga: 4 Tips Memilih Lagu Anak-Anak yang Cocok untuk Tumbuh Kembang Sang Buah Hati 6. Kung Fu Panda Kartun ini memiliki karakter utama seekor panda bernama Po yang lucu dan menggemasan. Kung Fu Panda bercerita tentang Po yang memiliki kemauan yang luar biasa untuk menjadi sosok yang terbaik. Hal ini bisa menjadi pembelajaran bagi anak untuk bersungguh-sungguh dalam menggapai cita-cita. Ketika anak memiliki cita-cita, maka Mom/Dad harus mendukung apa yang ingin ditujunya 7.Finding Nemo Finding Nemo bercerita tentang clownfish overprotective bernama Marlin bersama Dory, melakukan pencarian anaknya yang hilang bernama Nemo. Nemo hilang dikarenakan tidak menuruti perkataan ayahnya. Setelah menonton kartun ini, Mom/Dad dapat menjelaskan kepada sang buah hati kalau kasih sayang orang tua takkan terhingga sepanjang masa. Selain itu, Mom/Dad juga bisa mengajarkan untuk mendengarkan nasihan yang baik dari orang tua. 8. Toy Story Film kartun produksi Pixar Studios ini mengisahkan tentang Woody dan teman-temannya yang merupakan mainan miliki seorang anak bernama Andy. Woody dan teman-temannya sangat disayangi Andy dan selalu dimainkan setiap saat. Hal itu membuat mereka bahagia, namun mereka merasa sedih ketika Andy mengabaikan mainannya. Di film kartun ini anak-anak bisa belajar tentang pentingnya merawat dan punya rasa tanggung jawab terhadap barang yang dimiliki. Anak juga bisa diajarkan untuk disiplin, merapikan kembail mainannya setelah selesai bermain. 9. Frozen Film kartun yang digemari anak-anak perempuan ini mengisahkan tentang Elsa dan Anna, putri-putri dari kerjaan bernama Arandelle. Elsa kecil ternyata memiliki sihir yang bisa mengubah apapun menjadi es. Dengan sihirnya tersebut, Elsa melukai adiknya sendiri dan tidak mau bertemu dengan siapa pun selain orang tuanya. Kartun ini bisa memberi pelajaran kepada anak tentang memberi dukungan dan saling mengasihi kepada saudara, saling terbuka atas permasalahan, dan jangan malu untuk meminta bantuan orang lain. 10. The Lion King Dalam film ini mengisahkan Simba, seorang singa muda yang harus menghadapi tantangn besar untuk bisa mengambil takhtanya yang sah sebagai raja hutan melanjutkan ayahnya. Di lihat dari perjuangannya, Mom/Dan bisa membimbing anak untuk belajar bertanggung jawab, menjadi berani, dan bisa belajar dari kesalahan masa lalu untuk membangun masa depan yang lebih baik. Kartun anak bisa menjadi sarana hiburan dan edukasi yang menyenangkan, asal dipilih dengan tepat dan didampingi oleh orang tua. Dengan pengawasan yang baik, anak tidak hanya mendapatkan kesenangan, tetapi belajar mengambil nilai-nilai positif yang berguna untuk tumbuh kembangnya. Selain memilih tontonan yang tepat, Mom/Dad bisa menyeimbangkan waktu layar dengan aktivitas fisik dan sosial yang mendukung perkembangan anak. Jika Mom/Dad ingin anak lebih aktif, percaya diri, dan berkembang secara motorik maupun sosial, Mom/Dad bisa mempertimbangkan program anak di Sparks Sports Academy. Kenali program
Penyebab Bayi Sering Ngulet dan Cara Meminimalisirnya
Meski hanya berguling-guling di atas kasur, melakukan peregangan saat bangun tidur selalu terasa menyegarkan. Hal yang sama ternyata juga terjadi pada bayi. Banyak orang tua baru menyadari bahwa gerakan ngulet yang sering muncul menjadi sebuah refleks si kecil. Namun, apa penyebab bayi sering ngulet? Simak artikel ini! Key Takeaways: Bayi Sering Ngulet Apakah Normal? Gerakan menggeliat pada bayi sebenarnya adalah bagian dari proses tumbuh kembangnya. Banyak bayi melakukan peregangan ini sejak usia 0-3 bulan karena tubuh mereka sedang belajar mengatur otot dan sendi. Bayi juga kerap melakukannya saat tidur, bersemangat, atau ketika tubuh mencoba menyesuaikan posisi nyaman. Selama bayi terlihat aktif, mau menyusu, dan tidur dengan pola yang baik, kebiasaan ini tidak perlu Anda khawatirkan. Meski begitu, tetap perhatikan perubahan perilaku karena sebagian bayi menggeliat untuk memberi sinyal bahwa ada sensasi tidak nyaman di tubuhnya. Penyebab Bayi Sering Ngulet Berikut beberapa alasan mengapa si kecil menggeliat atau ngulet. 1. Peregangan Otot dan Sendi yang Sedang Berkembang Pada bulan-bulan awal, tubuh bayi mengalami banyak penyesuaian. Ketika bayi ngulet, mereka sedang merilekskan otot-otot yang kaku setelah tidur atau saat tubuhnya mulai aktif. Hello Sehat menjelaskan bahwa gerakan ini membantu otot dan sendi bekerja lebih baik karena bayi belum terbiasa menggerakkan tubuhnya dengan teratur. Bayi baru lahir banyak mengulang gerakan peregangan ini karena mereka sedang mempelajari bagaimana tubuhnya bekerja. Semakin sering melakukannya, semakin mudah bagi tubuh kecil mereka untuk mengembangkan kekuatan dasar. 2. Melatih Koordinasi Gerak Tubuh Ngulet juga berkaitan dengan perkembangan motorik. Pada fase ini, bayi sedang belajar mengendalikan tangan, kaki, dan lehernya. Ngulet menjadi salah satu gerakan spontan yang membantu mereka memahami cara tubuh bergerak. Dikutip dari ION Well Child Clinic, ketika bayi menggeliat sambil mengeluarkan suara seperti mengerang, mereka sedang mencoba memberi tahu bahwa ada sensasi tertentu yang sedang mereka rasakan. Gerakan ini memberi rangsangan pada sistem saraf dan membantu mereka mengasah kontrol tubuh. 3. Refleks Saat Tidur Pada masa awal kelahiran, refleks tidur masih sangat aktif. Karena itu, bayi sering ngulet ketika berada dalam kondisi tidur ringan atau ketika tubuhnya merespons stimulus tertentu. Refleks ini wajar dan biasanya berangsur-angsur berkurang seiring bertambahnya usia. Selain itu, gerakan menggeliat yang muncul tiba-tiba ini tidak selalu menandakan ketidaknyamanan. Terkadang tubuh bayi hanya menyesuaikan posisi agar tidur lebih nyaman. 4. Gas yang Menumpuk dalam Perut Salah satu alasan paling umum bayi sering ngulet adalah adanya gas yang terperangkap di dalam perut. Banyak bayi pun akan kentut setelah menggeliat dan langsung tampak lebih lega. Gerakan ini memang dapat membantu mengeluarkan angin, terutama ketika bayi kembung. Jika gas sulit keluar, bayi bisa menggeliat lebih sering untuk mencoba meredakan rasa tidak nyaman. 5. Tanda Akan Buang Air Besar Healthy Child Manitoba menjelaskan bahwa bayi baru lahir memiliki ritme BAB yang cukup sering. Jadi, saat mereka menggeliat sambil melotot, tubuhnya sedang mencoba mendorong feses keluar. Namun, ketika sembelit, bayi mungkin menekuk lutut, meringis, atau mengeluarkan suara rengekan. Pada kasus tertentu seperti posisi sandifer yang disebut dr. Reza Fahlevi, di mana punggung melengkung berlebihan, orang tua perlu memeriksakan bayi karena bisa terkait GERD. 6. Membantu Melancarkan Sistem Pencernaan Selain mendorong gas atau feses, gerakan menggeliat dapat membantu perut bekerja lebih lancar. Bila bayi mengalami kolik atau refluks, ia cenderung mengangkat tubuhnya atau meregangkan badan untuk mengurangi tekanan di perut. 7. Bayi Tidak Nyaman Bayi ngulet karena merasa tidak nyaman. Hal itu bisa disebabkan oleh popok basah, bedong bayi atau pakaian yang terlalu ketat, atau suhu ruanagan yang tidak sesuai. Baca juga: 10 Stimulasi agar Bayi Cepat Duduk dan Merangkak Tanda Ngulet yang Perlu Diperhatikan Meski ngulet yang dilakukan bayi tidak berbahaya, Mom/Dad harus memperhatikan tanda-tanda berikut ini jika bayi sering ngulet: Jika bayi mengalami kejadian seperti di atas, Mom/Dad bisa memeriksanya ke tenaga medis anak supaya bisa ditangani. Cara Mengatasi Bayi Sering Ngulet Berikut beberapa langkah sederhana bisa membantu mengurangi frekuensi ngulet yang membuat bayi tampak gelisah. Sebagai catatan, jika melihat tanda seperti tubuh sangat lemas, tidak mau menyusu, demam tinggi, tidak pipis dalam beberapa jam, atau menangis keras terus-menerus selama beberapa hari. Maka, segera periksakan bayi ke dokter. Kondisi bayi yang tiba-tiba diam, tidak responsif, atau tampak kehilangan tenaga jauh lebih serius dibandingkan bayi yang aktif menggeliat. Sudah Tahu Mengapa Bayi Sering Ngulet? Kebiasaan bayi ngulet umumnya wajar dan menjadi tanda bahwa tubuhnya sedang belajar menyesuaikan diri. Namun, Anda bisa lebih peka karena Setiap gerakan yang ia tunjukkan membawa pesan dan tugas orang tua adalah membaca sinyal itu dengan tenang. Anda juga perlu memahami bahwa di tengah perkembangan bayi, stimulasi fisik dan sensorik berperan besar dalam membangun pondasi kemampuan gerak serta kepercayaan diri. Inilah mengapa Sparks Sports Academy muncul sebagai ruang aman dan menyenangkan bagi anak untuk berpetualang. Melalui aktivitas khusus, anak dapat mengembangkan motorik, interaksi sosial, hingga kemampuan emosional. Jika ingin memberikan dukungan terbaik bagi perkembangan si kecil, segera book free trial untuk merasakan langsung pengalaman kelasnya!
Memahami Penyebab Anak Temperamental dan Cara Mengatasinya
Setiap anak memiliki karakter unik sendiri yang berkembang seiring dengan tumbuh kembang mereka. Namun, ada sebagian anak yang menunjukkan kecenderungan lebih mudah tersulut emosinya atau lebih cepat tersinggung. Dalam parenting, anak dengan respons emosional kuat tersebut sering disebut dengan anak temperamental. Kondisi ini bukanlah tanda bahwa anak bermasalah, namun ini adalah hasil dari keadaan lingkungan dan berbagai faktor lain yang mempengaruhi anak dalam merespon sesuatu. Lalu, bagaimana cara mengatasinya? Key Takeaways Definisi Anak Temperamental Anak temperamental adalah anak dengan respon emosional intens, di mana mereka seringkali lebih impulsif dan mudah marah ketimbang anak seusianya. Mereka biasanya memiliki kebiasaan bereaksi berlebihan terhadap suatu situasi yang menurut anak lain adalah situasi biasa. Respon ini bukanlah bentuk ketidakpatuhan, namun disebabkan oleh sistem emosional yang lebih sensitif. Anak dengan kondisi ini biasanya menunjukkan beberapa karakteristik utama sebagai berikut. Penyebab Anak Temperamental Seperti yang kami sebutkan di awal, anak temperamental bukan berarti anak sedang bermasalah. Kondisi ini adalah hasil dari berbagai faktor yang mempengaruhi cara mereka dalam merespon sesuatu, di antaranya adalah sebagai berikut. 1. Pola Asuh Berdasarkan penelitian dari Micalizzi (2015), salah satu faktor yang mempengaruhi sifat temperamental pada anak adalah pola asuh. Pada penelitian tersebut disebutkan bahwa pola asuh yang terlalu keras dan kurangnya pendekatan emosional menjadi dua alasan yang bisa membuat anak menjadi temperamental. 2. Indikasi Gangguan Pada Anak Pada beberapa kasus, sifat mudah meledak pada anak juga bisa menjadi indikasi adanya masalah psikologis tertentu. Sifat emosional yang kuat dan meledak bisa menunjukkannya adanya gangguan psikologis seperti gangguan emosi atau ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder). 3. Faktor Genetik Faktor genetik juga jadi salah satu faktor yang bisa membentuk kepribadian temperamental pada anak. Beberapa laman edukasi ternama menyebut bahwa 20-60% sifat temperamen pada anak dipengaruhi oleh faktor genetik. Singkatnya, jika salah satu atau kedua orang tua memiliki sifat ini, maka kemungkinan besar anak akan mewarisinya. 4. Perubahan Rutinitas Perubahan rutinitas juga menjadi faktor penyebab anak memiliki temperamen yang meledak. Di sini, perubahan besar pada rutinitas seperti pindah rumah atau kehadiran adik baru bisa memicu stres dan mempengaruhi stabilitas emosi anak. Dampak Negatif Temperamen Tinggi pada Anak Meskipun kondisi temperamental adalah salah satu bagian normal dari perkembangan anak, namun kondisi ini bisa berdampak negatif pada anak jika tanpa pengawasan dan bimbingan orang tua. Adapun dampak negatif tersebut meliputi: Cara Mengatasi Anak Temperamental Secara Efektif Jika anak Anda kerap berperilaku temperamental, ada beberapa langkah penanganan sederhana yang bisa Anda lakukan, di antaranya adalah sebagai berikut. Dukung Perkembangan Emosi Anak dengan Aktivitas Fisik Positif Aktivitas fisik positif seperti olahraga adalah salah satu cara terbaik mengatasi anak temperamental. Jika Anda ingin mengelola emosi anak dan sekaligus membangun disiplin dalam diri mereka, Sparks Sports Academy bisa menjadi partner andalan. Akademi kami menyediakan berbagai program olahraga yang bisa membantu anak menyalurkan energinya secara positif, sekaligus mengembangkan kemampuan motorik dan mental secara seimbang. Selain itu, melalui pendekatan dan bimbingan terstruktur di akademi kami, anak bisa belajar mengatur impuls, membangun percaya diri, serta lebih fokus saat melakukan suatu hal. Saatnya dukung perkembangan anak ke arah yang lebih positif lewat kelas aktivitas fisik bersama Sparks Sports Academy. Daftar sekarang!
