Di era modern yang serba instan dan digital, muncul kembali tren pengasuhan yang menolak arus utama, yakni crunchy parenting. Gaya pengasuhan ini menekankan kehidupan yang lebih alami, sadar lingkungan, dan dekat dengan alam. Pola asuh ini diterapkan oleh figur crunchy mom atau orang tua yang memilih jalan hidup yang mengandalkan bahan alami, produk ramah lingkungan, dan gaya hidup yang selaras dengan bumi. Orang tua dengan karakter ini cenderung akan menanamkan pola hidup yang sama kepada anak-anak mereka dengan gaya asuh yang lebih dekat dengan alam. Key takeaways: Apa Itu Crunchy Parenting? Pola asuh ini berasal dari istilah “crunchy mom,” yaitu orang tua yang memilih pendekatan alami dalam pengasuhan anak. Sebagai contoh, crunchy parents lebih memilih gaya hidup seperti menyusui eksklusif bukan menggunakan susu formula, menggunakan popok kain, menghindari bahan kimia sintetis, hingga memilih makanan organik. Pengasuhan ini mencerminkan filosofi back to nature parenting yang menekankan keseimbangan antara tubuh, pikiran, dan alam. Bukan sekadar tren, pengasuhan ini lebih seperti cara pandang hidup, yaitu slow pace, menghargai proses, dan membangun koneksi emosional yang lebih kuat antara orang tua, anak, dan lingkungan. Mengapa Banyak Orang Tertarik dengan Crunchy Parenting? Setidaknya terdapat tiga alasan mengapa orang tua mempertimbangkan gaya pengasuhan alami ini. 1. Membangun Kesadaran terhadap Kesehatan dan Lingkungan Orang tua dengan gaya pengasuhan ini cenderung memerhatikan kualitas makanan dan lingkungan anak. Beberapa contoh praktiknya seperti menghindari pestisida, makanan olahan, dan bahan kimia sintetis untuk keperluan rumah tangga. Pendekatan ini bukan sekadar soal organik, tetapi juga soal mengajarkan anak pentingnya menyadari apa yang mereka konsumsi dan bagaimana hal itu memengaruhi tubuh serta lingkungan. 2. Mengembangkan Kemandirian dan Keterampilan Praktis Crunchy parenting mendorong orang tua untuk membuat banyak hal sendiri, mulai dari makanan, produk perawatan, hingga menanam bahan makanan sendiri. Kebiasaan ini secara tidak langsung dapat mengajarkan anak keterampilan praktis sejak dini. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan seperti ini terbiasa melihat proses pembuatan makanan dari bahan mentah, belajar berkebun, atau membuat kerajinan sendiri. Pengalaman langsung ini akan membangun kemandirian, kreativitas, dan kemampuan problem-solving yang akan berguna sepanjang hidup mereka. 3. Mengajarkan Cinta terhadap Alam dan Keberlanjutan Melalui praktik sederhana seperti menggunakan popok kain sebagai alternatif produk komersial sekali pakai atau sekadar bermain di alam, anak-anak jadi belajar untuk lebih peduli dengan bumi sejak usia dini. Karena pada dasarnya, pola asuh ini memang memperkenalkan gaya hidup yang sadar lingkungan dan membentuk generasi yang lebih peduli pada keberlanjutan lingkungan. Tantangan dalam Menerapkan Crunchy Parenting Sebagian orang menganggap gaya ini terlalu ekstrem, terutama jika melibatkan penolakan terhadap intervensi medis modern. Selain itu, di lingkungan perkotaan yang sangat sibuk, gaya hidup alami ini bisa terasa menantang karena keterbatasan waktu, biaya, dan akses terhadap produk organik. Kuncinya adalah fleksibilitas, yakni kemampuan untuk menerapkan prinsip parenting ini tanpa kehilangan keseimbangan dan nalar sehat. Cara Menerapkan Crunchy Parenting Secara Realistis Pertanyaan penting untuk orang tua tanyakan sebelum memutuskan gaya parenting ini adalah, bagaimana menerapkannya secara praktis? Berikut enam langkah yang bisa orang tua ambil. Relevansi Crunchy Parenting di Era Digital Di masa ketika anak-anak tumbuh dengan layar dan rutinitas serba cepat, crunchy parenting menjadi cara untuk memperlambat dan menghadirkan kembali kehidupan nyata. Selain itu, menurut Psychology Today, interaksi dengan alam dapat menurunkan stres dan meningkatkan kreativitas anak. Memberikan ruang bagi anak untuk bermain di alam, berinteraksi langsung, dan memahami ritme kehidupan alami, artinya mengajari mereka belajar keseimbangan yang akan bermanfaat sepanjang hidupnya. Crunchy Parenting Tetap Relevan untuk Masa Kini Di tengah gaya hidup modern yang serba instan, pengasuhan alami hadir sebagai alternatif yang mengajak orang tua untuk kembali pada kesadaran alam dan keseimbangan hidup. Gaya ini menekankan pentingnya koneksi dengan alam, pilihan hidup berkelanjutan, serta pengasuhan yang penuh empati. Untuk mendukung nilai-nilai tersebut, Sparks Sports Academy menyediakan berbagai aktivitas luar ruangan dan program olahraga yang membangun kedekatan dengan alam serta rasa percaya diri anak. Bersama kami, anak-anak dapat tumbuh sehat secara fisik maupun emosional.
Panduan Free-Range Parenting untuk Keluarga Modern
Dalam beberapa tahun terakhir, konsep free-range parenting semakin populer sebagai pendekatan pengasuhan yang menekankan keseimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab anak. Gaya ini mendorong orang tua untuk memberi ruang bagi anak belajar dari pengalaman nyata tanpa terlalu banyak intervensi. Pendekatan yang juga disebut pola asuh bebas ini muncul sebagai respons terhadap pola pengasuhan modern yang terlalu protektif dan membatasi anak bereksplorasi. Key takeaways: Apa Itu Free-Range Parenting? Istilah free-range parenting merujuk pada gaya pengasuhan yang memberikan anak-anak ruang dan kebebasan lebih besar untuk mengembangkan diri secara mandiri. Dalam praktiknya, bukan berarti anak dibiarkan bebas sepenuhnya tanpa batasan, melainkan orang tua memberi kebebasan dalam kerangka yang aman dan terukur. Gaya ini adalah sebuah alternatif dari gaya pengasuhan “helicopter” atau “cotton-wool” yang cenderung terlalu melindungi, dan menurut beberapa penelitian dapat berdampak negatif. Mengapa Memilih Free-Range Parenting? Tiga alasan di bawah ini dapat menjadi alasan yang menguatkan Anda ketika mempertimbangkan pola asuh bebas. 1. Guna Meningkatkan Kemandirian dan Percaya Diri Anak Anak-anak yang bertumbuh dengan gaya asuh bebas cenderung berkembang menjadi lebih mandiri. Alasannya karena mereka mendapat kesempatan yang cukup untuk mencoba sendiri dan belajar dari pengalaman. Selain itu, gaya pengasuhan ini membantu anak mengembangkan kemampuan pemecahan masalah, rasa tanggung jawab, dan kepercayaan diri sejak dini. 2. Peningkatan Kemampuan Sosial dan Kreativitas Anak-anak yang diberi cukup kebebasan dapat lebih sering bermain di luar dan menjalin interaksi sosial tanpa campur tangan orang dewasa secara berlebihan. Dari interaksi ini, mereka jadi punya wadah untuk belajar bernegosiasi, memecahkan masalah, dan mengembangkan kreativitas mereka. 3. Menghindari Pengasuhan yang Terlalu Protektif Gaya pengasuhan yang terlalu melindungi justru dapat meningkatkan kecemasan, depresi, dan rasa tidak puas pada anak usia remaja. Alasan dibalik sikap protektif ini mungkin datang dari rasa khawatir orang tua terhadap keselamatan anak-anak mereka. Namun, Psychology Today mengungkapkan kekhawatiran ini sayangnya dapat membatasi anak untuk mendapatkan segala macam pengalaman yang penting bagi kebahagiaan dan perkembangan mereka. Tantangan dalam Penerapan Free-Range Parenting Seperti pola asuh yang lain, pola asuh bebas juga memiliki beberapa tantangan sebagai berikut. 1. Risiko yang Perlu Diperhatikan Walaupun banyak manfaat, gaya pengasuhan ini bukan tanpa risiko. Beberapa risiko yang mungkin muncul antara lain kecelakaan, masalah perlindungan hukum, atau persoalan tanggung jawab orang tua. Sebagai contoh, pada wilayah tertentu di Amerika Serikat, orang tua yang membiarkan anak berjalan sendiri atau bermain tanpa pengawasan bisa mendapatkan intervensi sosial atau bahkan tuduhan pengabaian. 2. Perlunya Penilaian yang Tepat dari Orang Tua Kunci sukses free-range parenting terletak pada kemampuan orang tua dalam menilai kesiapan anak, termasuk tingkat kecakapan, kondisi lingkungan, dan pemahaman akan risiko. Dengan kata lain, gaya ini bukan berarti “bebas sepenuhnya tanpa batas.” Kebebasan yang diberikan harus disesuaikan dengan usia, kemampuan, dan konteks lingkungan anak. Kesalahan dalam menilai kesiapan anak dapat membuat mereka menghadapi situasi yang belum mampu mereka tangani. 3. Faktor Lingkungan dan Budaya Sampai saat ini, gaya asuh bebas sayangnya tidak selalu diterima atau cocok dalam semua lingkungan atau budaya. Sebuah studi di Australia pada 2021 menerangkan bahwa gaya pengasuhan bebas cenderung mengalami penurunan tren pada generasi muda dan orang tua dengan penghasilan dan pendidikan tinggi karena dianggap mengabaikan anak. Bagaimana Menerapkan Praktik Free-Range Parenting? Untuk mengatasi tantangan di atas, berikut beberapa langkah yang bisa dijalankan. Terapkan Free-Range Parenting dengan Bijak Di tengah perkembangan zaman, penting bagi orang tua untuk menemukan keseimbangan antara memberikan kebebasan dan tetap menjaga keamanan anak. Gaya pengasuhan bebas akan cocok Anda jadikan sebagai salah satu pendekatan yang membantu anak mengembangkan kemandirian, keterampilan sosial, dan kepercayaan dengan memberinya kesempatan mencoba pengalaman baru di dunia sekitar mereka tanpa intervensi berlebihan. Untuk mendukung nilai-nilai ini, Sparks Sports Academy menawarkan program olahraga dan aktivitas luar ruangan yang mendorong eksplorasi dan perkembangan anak dalam lingkungan yang aman dan terarah. Bersama kami, anak dapat tumbuh menjadi pribadi mandiri, kreatif, dan siap menghadapi dunia nyata.
Cara Belajar Menulis Anak TK agar Cepat Mengenal Huruf
Belajar menulis anak TK bisa menjadi langkah awal dalam perkembangan motorik halus dan literasi mereka. Di usia tersebut, anak-anak masih berada dalam tahap eksplorasi, sehingga pendekatan belajar menulis perlu disesuaikan sehingga tetap menyenangkan dan tidak menekan. Melalui metode yang tepat, aktivitas belajar menulis dapat menjadi momen berharga yang dapat memperkuat kreativitas dan rasa percaya diri anak. Lalu, bagaimana langkah-langkah efektif saat anak TK belajar menulis? Key Takeaways Panduan Belajar Menulis Anak TK Untuk mengajari anak TK menulis, Anda harus paham bagaimana langkah yang tepat dan struktur agar memberi hasil sesuai yang Anda inginkan. Berikut ini beberapa langkahnya. 1. Bangun Dasar Motorik Halus lewat Aktivitas Pra-Menulis Sebelum benar-benar menulis huruf dan kata, anak perlu memperkuat kemampuan motorik halusnya. Berikan latihan seperti menggambar garis-garis sederhana (vertikal, horizontal, zig-zag), mencoret di atas kertas, atau memindahkan benda kecil menggunakan pinset. Metode tersebut dapat membiasakan jari dan tangan untuk bisa mengontrol alat tulis dan membangun “memori otot” ketika mereka mulai menulis huruf. 2. Gunakan Metode Tracking saat Memperkenalkan Huruf Salah satu cara belajar menulis yang efektif adalah melalui metode “tracking” atau mengikuti garis huruf yang telah dibuat sebelumnya. Melalui lembar kerja yang berisi huruf putus-putus, anak bisa melacak bentuk huruf dan perlahan mulai membiasakan diri untuk menulisnya sendiri. 3. Manfaatkan Media Multisensori Praktik belajar menulis anak TK tidak selalu harus di atas kertas. Kegiatan menulis melalui metode sensorik juga akan sangat menarik di mata anak-anak. Contohnya, menggunakan shaving cream saat menulis pola huruf, mencoret huruf di pasir basah, atau membuat huruf dari plastisin. Berbagai kegiatan tersebut bukan sekadar melatih koordinasi mata dan tangan, melainkan memberi pengalaman menulis yang lebih menyenangkan dan nyata. 4. Libatkan Menulis pada Aktivitas Sehari-hari Pembelajaran menulis pada anak TK akan semakin bagus ketika berkaitan dengan aktivitas sehari-hari. Anda bisa mengajarkan mereka untuk mencatat hal-hal kecil seperti menulis nama mereka di kartu ucapan, menulis daftar belanja, atau menulis pesan sederhana. Pelajaran singkat akan membantu anak belajar satu keterampilan di satu waktu tanpa harus membuat anak kehilangan fokus. 5. Dorongan Kreasi Cerita dan Menulis Interaktif Ketika anak sudah menguasai dasar menulis huruf, langkah selanjutnya adalah mengajaknya menulis cerita sederhana atau memintanya membuat catatan kecil. Contohnya, anak dapat menulis hal favorit, pengalaman harian, atau membuat kalimat singkat mengenai keluarga dan teman. Pilihan topik yang bermakna membuat anak merasa bahwa aktivitas menulis itu penting dan menyenangkan. Selain itu, hadirkan pendekatan interaktif seperti saat murid menyampaikan ide, guru kemudian menulis di papan tulis atau sebaliknya, sehingga keterlibatan anak dalam proses menulis semakin kuat. 6. Beri Dukungan Positif (Pujian dan Rutinitas) Motivasi sangat penting untuk Anda berikan ketika belajar menulis anak TK. Setiap usaha anak harus mendapat apresiasi meskipun masih sekadar mencoret-mencoret, meniru bentuk huruf, atau menulis kata sederhana. Tipsnya, terapkan rutinitas menulis harian atau beberapa kali dalam seminggu. Konsistensi tersebut sangat membantu anak dalam menginternalisasi kebiasaan menulisnya. Anda juga harus menghadirkan suasana belajar tetap santai, tidak menekan, dan tetap mendukung. Posisikan menulis sebagai kegiatan bermain yang edukatif dan menyenangkan. 7. Hindari Ketergantungan terhadap Gadget ketika Menulis Tak kalah penting, sebisa mungkin menghindari penggunaan gadget seperti tablet untuk belajar menulis. Penggunaan alat tulis fisik berupa pensil, krayon, atau spidol besar sangat dianjurkan karena dapat memberi pengalaman sensorik dan kontrol fisik yang lebih baik. 8. Pahami Peran Guru dan Orang Tua Guru dan orang tua harus bekerja sama dalam menghadirkan lingkungan belajar yang kondusif. Anda bisa memberi contoh menulis, misalnya menulis catatan sendiri; bermain bersama anak dalam aktivitas menulis; dan selalu beri dukungan emosional ketika anak bereksperimen dengan tulisan. Maksimalkan Belajar Menulis Anak TK dengan Aktivitas Menyenangkan Belajar menulis bagi anak TK adalah sebuah perjalanan yang bukan sekadar membangun keterampilan akademis, tetapi juga menumbuhkan kreativitas dan rasa percaya diri sejak dini. Melalui metode yang tepat, anak akan berkembang secara nyaman dan senang. Jika Anda membutuhkan lingkungan pembelajaran yang mendukung seluruh aspek di atas dengan pendekatan holistik dan menyenangkan, Sparks Sports Academy bisa menjadi jawaban. Di sini, anak bukan hanya diajak aktif lewat kegiatan fisik, tapi juga mendapat stimulasi edukatif untuk mendorong perkembangan literasi seperti menulis. Program Sparks Sports Academy mencakup sesi kreatif. Anak akan diajak mencoret-coret sambil bermain atau menulis cerita pendek. Dengan begitu, proses belajar menulis anak TK terasa sangat alami dan menyenangkan.
Inilah 10 Pertanyaan Saat Anak Pulang Les yang Kreatif dan Tidak Membosankan
Pernah tidak ketika Mom/Dad memberikan pertanyaan saat anak pulang les, “Tadi ngapain?” lalu mendapat respon singkat dari anak, “Main.” atau “Belajar.” Situasi ini sangat wajar dialami orang tua yang memiliki anak. Padahal, pertanyaan saat anak pulang les bukan sekedar basa-basi. Pertanyaan yang tepat dengan melibatkan anak dapat membantu orang tua memahami perkembangan emosi, sosial, dan kemampuan anak. Hal ini juga bisa membuat anak merasa nyaman untuk berbicara terbuka dan berbagi pengalaman saat di sekolah. “Buat pertanyaan untuk anak saat pulang sekolah se-detail mungkin,” ujar psikologi Danu Basu, Psyd, dikutip dari parents. 10 Pertanyaan Saat Anak Pulang Les Setiap anak membutuhkan pendekatan komunikasi sesuai dengan umur mereka. Pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dirancang se-detail mungkin untuk anak agar membantu mengarahkan perhatian anak ke momen tertentu sekaligus mendorong mereka untuk bercerita dengan perasaan positif. 1. Belajar hal baru apa hari ini? Bertanya tentang hal baru membuat anak termotivasi untuk membagikan pengetahuan baru dan memberi tahu tentang topik yang menarik bagi mereka. Dengan bertanya tentang pelajaran baru, Mom/Dad bisa melihat anak menjadi antusias dalam mengeksplorasi hal-hal baru. Hal ini juga membantu anak mengingat dan menceritakan yang sedang dialami secara detail dan membuat obrolan menjadi menyenangkan. 2. Kamu punya teman yang berbuat baik kepada mu tidak? Pertanyaan ini akan menumbuhkan rasa saling menghargai kebaikan yang dilakukan oleh anak dan anak bisa mengenali tindakan positif dari teman-temannya. Dengan bertanya seperti ini, Mom/Dad bisa mendorong anak untuk bersikap baik yang dia pelajari dari interaksi sosial mereka dan merasa lebih bahagia tentang pengalaman mereka di sekolah. 3. Kamu bersikap baik tidak hari ini? Bertanya tentang kebaikan yang anak lakukan dapat membantu mereka untuk melakukan hal postif setiap harinya. Ini bisa meningkatkan kepercayaan diri dan rasa bangga terhadap kelakuan baik yang anak lakukan. Selain itu, pertanyaan ini mendorong anak untuk selalu melakukan tindakan positif dan memberi gambaran tentang karakter anak yang tumbuh rasa empati dan kepedulian. 4. Siapa yang membuatmu tertawa hari ini? Coba Mom/Dad bertanya kepada anak siapa yang membuat mereka tertawa. Ini membantu anak mengingat momen-momen menyenangkan dan lucu saat mereka beraktivitas di les. Dengan bercerita tentang hal yang menghibur, anak bisa memperbaiki suasana hatinya dan membuat obrolan menjadi menyenangkan. 5. Apa 3 hal terbaik di sekolah hari ini? Bertanya kepada anak tiga hal terbaik sepulang les, bisa menjadikan anak fokus pada hal-hal positif dan menyenangkan. Saat anak bercerita, Mom/Dad bisa lebih memahami apa yang membuat hari mereka spesial dan menyenangkan. Pertanyaan ini juga bisa mendorong anak untuk terus mencari hal-hal positif di tempat les. Selain itu, pertanyaan ini membantu anak merenungkan dan mengingat hal apa yang mereka sukai dan nikmati di tempat les. Baca juga: 7 Tips Memilih Tempat Les Gymnastic Anak Sesuai Usianya 6. Apa 1 hal yang tidak kamu suka di tempat les? Selain hal menyenangkan, bertanya tentang hal yang tidak disukai anak bisa membuat mereka bercerita ketika sedang menghadapi masalah. Dengan begitu, Mom/Dad bisa mengerti ketika anak merasa kesulitan dan bisa membantu menyelesaikannya. 7. Siapa yang mengajakmu bicara atau main hari ini? Bertanyalah ke anak tentang teman-temannya. Hal ini bisa membuat Mom/Dad mengetahui tentang teman-teman sang anak dan siapa yang penting buat anak di tempat les. Pertanyaan ini juga membantu anak memikirkan hubungan pertemanan dan cara mereka berinteraksi. 8. Apakah ada hal yang bikin kamu sedih hari ini? Cobalah Mom/Dad bertanya tentang kesedihan yang dialami anak di tempat les. Hal ini akan menjadi kesempatan anak untuk berbagi perasaannya saat menghadapi masalah atau kesulitan. Dengan membahas perasaan sedih, anak bisa belajar bagaimana menyampaikan emosi dan Mom/Dad bisa memberikan dukungan yang mereka butuhkan untuk merasa lebih baik. 9. Besok kamu ingin belajar apa? Mom/Dad bisa bertanya ke anak apa yang ingin mereka peajari besok. Pertanyaan ini membuat anak menjadi bersemangat dan penasaran setiap harinya. Selain itu, Mom/Dad bisa tahu apa yang mereka minati dan ingin pelajari. Dengan pertanyaan ini, anak akan semakin tertarik dan senang untuk belajar. 10. Kamu mau ajak main siapa besok? Tanyakan kepada anak, dengan siapa dia akan bermain besok. Ini akan membatun anak memikirkan teman-teman yang mereka suka merencakana apa saja yang akan dilakukan dengan mereka. Hal ini akan membuat anak lebih dekat dengan teman-temanya dan Mom/Dad jadi tahu tentang teman-temannya. Mengajukan pertanyaan saat anak pulang les bukan tentang mendapat laporan anak di luar rumah, tetapu membangun komunikasi yang sehat, penuh empati, dan konsisten. Dari obrolan sederhana ini bisa membuat Mom/Dan memahami kebutuhan anak, mengenali perkembangannya, dan anak bisa terbuka dengan keluarganya. Ditempat les seperti Sparks Sports Academy, anak tidak hanya aktif bergerak, tetapi bisa berkembang secara sosial, emosional, dan percaya diri dalam lingkungan yang aman dan menyenangkan. Program les Sparks Sports Academy dirancang khusus untuk membantu anak belajar sambil bermain, sekaligus mendukung peran Mom/Dad dalam proses tumbuh kembang anak.
6 Alasan Bayi Tidak Mau di Crib, Orang Tua Baru Wajib Tahu!
Banyak orang tua pasti kebingungan jika bayi tidak mau di crib, meskipun lingkungan tidur sudah diatur senyaman mungkin. Bayi yang tampak tenang saat Anda gendong atau tidur di dada pun langsung rewel begitu tubuhnya menyentuh kasur. Ingin tahu penyebab dan solusinya? Simak selengkapnya di sini! Key Takeaways: 6 Penyebab Bayi Tidak Mau di Crib Agar lebih mudah memahami situasinya, mari lihat faktor yang paling sering jadi penyebabnya berikut ini. 1. Refleks Moro Masih Aktif Banyak bayi terbangun seketika saat dipindahkan dari pelukan ke crib karena refleks moro atau startle reflex masih sangat kuat, terutama pada usia 0–4 bulan. Refleks ini membuat bayi merasa seperti “jatuh” atau kehilangan keseimbangan, sehingga mereka mendadak menangis meski sebelumnya sudah tertidur pulas. Menurut situs Cleveland, refleks moro merupakan respons alami tubuh bayi saat sistem sarafnya belum matang. Refleks ini bekerja sebagai mekanisme perlindungan bawaan, di mana tubuh bayi secara otomatis merespons perubahan posisi atau suara mendadak dengan gerakan seolah sedang terkejut. Anda pun dapat membantu bayi lebih tenang dengan memindahkan tubuhnya ke crib dengan perlahan dalam posisi stabil. Caranya dengan menopang kepala dan bahu, serta membungkus tubuh menggunakan swaddle agar gerakan mengejut mendadak dapat berkurang. 2. Mencari Rasa Aman Pada bulan-bulan awal, bayi sangat bergantung pada kehadiran fisik orang tua sebagai sumber rasa aman, termasuk aroma tubuh dan detak jantung yang biasanya ia temukan saat Anda gendong. Ketika jarak tercipta tiba-tiba, bayi akan kehilangan zona nyaman dan cemas sehingga langsung rewel saat Anda tempatkan di crib. Melansir jurnal ResearchGate, separation anxiety dapat berlanjut hingga anak berusia dua tahun, di mana mereka akan merasa cemas jika tidur terpisah dengan orang tuanya. Anda bisa membantu bayi menyesuaikan diri dengan pendekatan bertahap, seperti membiasakan tidur di crib saat tidur siang sambil tetap berada di dekatnya. 3. Lingkungan Tidur Kurang Nyaman Suasana terlalu dingin, pencahayaan terlalu terang, atau suara sekitar yang mendadak hening dapat membuat bayi tidak mau di crib karena tubuhnya terbiasa tertidur dalam hangatnya pelukan orang tua. Perubahan tersebut terasa drastis dan membuat bayi mengasosiasikan crib sebagai tempat yang kurang menyenangkan. Agar dapat membantu bayi beradaptasi, lingkungan crib bisa dibuat lebih lembut dan familiar dengan mengatur suhu kamar sekitar 20-22°C. Gunakan white noise sebagai latar suara, serta pastikan kasur crib hangat dan lembut sebelum bayi dibaringkan. Cara ini akan membantu bayi mengenali crib sebagai tempat tidur yang aman. 4. Bayi Terlalu Lelah atau Terlalu Banyak Rangsangan Melansir laman Happy Little Sleeper, bayi yang melewatkan waktu tidurnya akan menolak tidur, termasuk untuk tidur di tempat tidurnya. Selain itu, saat melewatkan waktu ideal untuk tidur, tubuhnya akan memproduksi lebih banyak hormon stres seperti kortisol, sehingga justru lebih sulit untuk tenang saat diletakkan di crib. Bayi memang terlihat sangat mengantuk, tapi mereka akan menangis histeris begitu Anda pindahkan. Demi mencegahnya, rutinitas sebelum tidur yang konsisten dapat Anda terapkan. Misalnya dengan mandi air hangat, pijatan ringan, mematikan layar gadget, dan meredupkan lampu. 5. Sudah Terbiasa Tidur Digendong Banyak orang tua tidak menyadari bahwa kebiasaan menidurkan dengan digendong atau disusui terus menerus membuat bayi tidak mau di crib. Ini karena si kecil menganggap pelukan orang tua adalah satu-satunya cara untuk bisa tertidur. Ketika dipindahkan, mereka akan merasa kehilangan kondisi tidur yang dikenalnya. Jika ingin mengubah pola ini, teknik drowsy but awake dapat diterapkan, yaitu dengan meletakkan bayi di crib saat ia mengantuk tetapi belum sepenuhnya tertidur. Dengan begitu, bayi akan belajar tertidur sendiri tanpa sepenuhnya bergantung pada bantuan eksternal. 6. Sedang Tumbuh Gigi Ketika gigi mulai tumbuh, bayi akan mengalami tekanan pada gusi dan rasa nyeri yang membuatnya lebih sensitif terhadap perubahan posisi tidur. Kondisi seperti perut kembung, kolik, atau hidung tersumbat juga membuat bayi tidak mau tidur sendiri karena crib terasa terlalu datar dan kurang memberikan kenyamanan. Ketimbang memaksakan bayi langsung tidur di crib, orang tua bisa memastikan tubuh bayi merasa lebih nyaman terlebih dahulu. Misalnya dengan pijatan lembut di area perut dan kaki, menjaga popok tetap kering, atau menggunakan humidifier untuk membantu pernapasan. Sudah Memahami Alasan Bayi Tidak Mau di Crib? Ketika bayi tidak mau di crib, bukan berarti mereka manja, namun pasti ada alasan di baliknya. Jadi, sebagai orang tua, Anda harus memahami ketidaknyamanan yang mereka alami dan carilah solusi terbaik untuk membiasakan mereka bisa tidur mandiri. Selain itu, ketika anak sudah mulai tumbuh, Anda harus memastikan mereka mendapatkan stimulasi gerak yang terarah akan membantu anak tumbuh lebih kuat dan seimbang. Anda pun bisa mempercayakan latihan fisik sejak dini di Sparks Sports Academy. Sehingga, anak bisa belajar melalui aktivitas yang menyenangkan dengan pendampingan pelatih profesional. Lingkungan yang suportif akan membantu mereka tumbuh berani dan aktif tanpa tekanan. Tertarik? Ayo, segera book free trial kelasnya sebelum kehabisan!
