Banyak orang tua merasakan hal yang sama: anak cepat bosan, minta gadget, dan sulit dialihkan ke aktivitas lain. Di satu sisi, orang tua ingin memberi alternatif kegiatan yang seru dan bermanfaat. Namun di sisi lain, tidak semua permainan anak aman dan sesuai usia, sehingga wajar jika orang tua merasa bingung memilih. Masalahnya bukan kekurangan ide, melainkan kekhawatiran akan keamanan dan nilai edukasinya. Artikel ini akan membahas permainan anak-anak yang aman dan edukatif, sekaligus membantu orang tua menemukan aktivitas yang mendukung tumbuh kembang anak. Pentingnya Permainan Anak-Anak untuk Perkembangan Anak Bermain adalah cara alami anak belajar. Lewat permainan, anak melatih kemampuan fisik, mengelola emosi, dan membangun keterampilan berpikir sederhana. Gerak aktif saat bermain juga membantu perkembangan motorik, keseimbangan, dan koordinasi tubuh. Peran orang tua sangat penting untuk memastikan permainan berlangsung aman dan bermakna. Pendampingan yang hangat membuat anak merasa percaya diri, sekaligus membantu orang tua mengarahkan permainan sesuai kebutuhan perkembangan anak. Rekomendasi Permainan Anak-Anak Berdasarkan Usia Berikut ini beberapa rekomendasi permainan untuk anak-anak. 1. Gymnastic Anak Gymnastic melatih kekuatan, kelenturan, dan keseimbangan tubuh melalui gerakan dasar seperti melompat dan berguling. Aktivitas ini membantu anak mengenal kemampuan tubuhnya dengan cara menyenangkan. Kelas Gymnastic di Sparks Sports Academy dirancang aman untuk anak usia dini, dengan instruktur yang membimbing sesuai tahap perkembangan. 2. Multisport Multisport memperkenalkan berbagai gerakan dasar dari beberapa cabang olahraga dalam satu program. Anak belajar berlari, melempar, menendang, dan bekerja sama. Program Multisport dari Sparks Sports Academy membantu anak aktif, bersosialisasi, dan menemukan minat olahraga sejak dini tanpa tekanan. 3. Bermain Bola Bermain bola sederhana melatih koordinasi mata dan tangan serta kemampuan motorik kasar. Anak juga belajar mengontrol tenaga dan arah gerakan. Permainan ini bisa dilakukan di rumah atau luar ruangan dengan aturan yang fleksibel dan aman. 4. Menyusun Balok Balok melatih motorik halus, konsentrasi, dan imajinasi anak. Anak belajar mengenal bentuk, ukuran, dan keseimbangan. Saat balok roboh, anak juga belajar menghadapi kegagalan kecil dan mencoba kembali. 5. Bermain Peran (Role Play) Permainan pura-pura seperti bermain rumah-rumahan membantu anak mengekspresikan emosi. Anak belajar memahami peran sosial secara alami. Interaksi ini memperkaya kosa kata dan kemampuan komunikasi anak. 6. Puzzle Sederhana Puzzle membantu anak melatih fokus dan kemampuan memecahkan masalah. Anak belajar menghubungkan bentuk dan warna dengan logika sederhana. Permainan ini cocok untuk waktu tenang di rumah tanpa melibatkan layar. 7. Bermain Musik dan Gerak Bernyanyi dan bergerak mengikuti musik membantu anak mengenal ritme dan koordinasi tubuh. Aktivitas ini juga membantu regulasi emosi anak. Musik membuat anak lebih bebas mengekspresikan diri dengan cara yang positif. 8. Menggambar dan Mewarnai Menggambar melatih kreativitas dan motorik halus anak. Anak belajar menuangkan ide dan perasaannya melalui warna dan bentuk. Aktivitas ini juga membantu anak lebih fokus dan tenang. 9. Bermain Pasir atau Air Bermain pasir dan air memberikan stimulasi sensori yang kaya. Anak belajar mengenal tekstur, suhu, dan sebab-akibat. Dengan pengawasan orang tua, permainan ini aman dan sangat disukai anak. 10. Permainan Gerak Tradisional Permainan sederhana seperti lompat-lompatan atau kejar-kejaran melatih stamina dan kelincahan. Anak juga belajar aturan dan giliran. Interaksi ini membantu anak bersosialisasi secara alami dan menyenangkan. Permainan Anak-Anak Indoor vs Outdoor Bermain di dalam rumah cocok saat cuaca tidak mendukung atau anak membutuhkan aktivitas yang lebih tenang. Permainan indoor membantu fokus, kreativitas, dan keterampilan motorik halus. Sebaliknya, bermain di luar ruangan memberi ruang gerak lebih luas dan udara segar. Aktivitas outdoor membantu anak menyalurkan energi dan melatih keberanian. Anak juga belajar berinteraksi dengan lingkungan dan teman sebaya secara langsung. Dari Permainan Anak-Anak ke Aktivitas Fisik yang Konsisten Permainan adalah pintu awal menuju kebiasaan bergerak yang sehat. Saat anak terbiasa bermain aktif, mereka lebih siap mengikuti aktivitas fisik terstruktur. Kelas seperti Gymnastic dan Multisport di Sparks Sports Academy membantu melanjutkan kebiasaan ini secara konsisten dan aman. Dengan pendampingan yang tepat, anak tidak hanya bermain, tetapi juga membangun fondasi fisik dan sosial yang kuat. Aktivitas yang rutin membuat anak lebih percaya diri dan seimbang dalam tumbuh kembangnya.
Co-sleeping pada Anak: Pro, Kontra, dan Tips Aman Penerapannya
Berdasarkan Australian Breastfeeding Association, co-sleeping adalah istilah yang merujuk pada kondisi di mana orang tua dan bayi tidur di permukaan tidur yang sama. Namun, dalam penerapannya, praktik tidur bersama anak ini kerap menimbulkan pro dan kontra. Sebagian orang tua menilai co-sleeping dapat memperkuat kedekatan emosional, sementara yang lain menganggapnya berpotensi menghambat kemandirian tidur anak. Untuk itu, agar bisa mengambil keputusan yang tepat, artikel ini akan menguraikan pro dan kontra serta tips penerapannya secara aman yang mungkin bisa membantu Anda. Key takeaway: Pro Meski menimbulkan perdebatan, co-sleeping memiliki sejumlah manfaat yang sering menjadi pertimbangan orang tua untuk memilihnya. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut. Kontra Dalam jangka panjang, co-sleeping bisa menimbulkan beberapa dampak negatif yang perlu orang tua pahami sebelum memutuskan untuk menerapkannya sebagai rutinitas tidur keluarga. Beberapa dampak tersebut antara lain: Tips Aman Co-sleeping pada Anak Untuk menghindari hal-hal negatif akibat dari tidur bersama anak, Anda bisa menerapkan beberapa tips aman berikut. 1. Batasi Area Tidur dengan Bantal Untuk memastikan anak tetap aman ketika tidur bersama orang tua, Anda bisa batasi area tidurnya dengan bantal. Namun, pastikan Anda tidak menggunakan bantal atau selimut orang tua di sekitar anak terutama yang masih dalam usia bayi karena bisa beresiko menutupi kepala mereka atau membuat bayi kepanasan. 2. Perhatikan Keamanan Area Tidur Anak Saat co-sleeping, pastikan area tidur benar-benar aman dengan menghindari headboard atau rangka kasur yang memiliki celah atau apapun yang bisa membuat anak terjebak. Selain itu, jauhkan juga benda-benda longgar atau lembut, seperti mainan, boneka, dan pelindung boks dari area tidur anak. Hindari juga meninggalkan anak sendirian di tempat tidur orang dewasa karena risiko terjatuh atau tersangkut bisa terjadi kapan saja, terutama saat anak mulai aktif bergerak. 3. Tidak Merokok dan Minum Alkohol Jika tidur bersama anak, pastikan untuk tidak merokok dan minum alkohol atau sedang dibawah pengaruh obat-obatan. Pasalnya, paparan rokok bisa menimbulkan risiko penyakit pernapasan pada anak, sedangkan minum alkohol dan obat-obatan bisa membuat orang tua hilang kesadaran dan berisiko akan membahayakan anak selama tidur. 4. Posisikan Tidur Anak pada Jarak Aman dan Telentang Ketika tidur bersama anak, pastikan posisi tubuhnya dalam jarak aman antara wajah anak dan tubuh orang dewasa, sehingga mengurangi risiko hidung atau mulutnya tertutup secara tidak sengaja. Selain itu, menidurkan anak dalam posisi telentang adalah cara paling aman untuk menjaga jalan napas tetap terbuka dan mengurangi risiko SIDS. 5. Hindari Pakaian Berlapis-Lapis Penggunaan pakaian berlapis pada anak ketika co-sleeping bisa membuat anak kepanasan. Pasalnya, tidur bersama orang tua saja bisa meningkatkan risiko kepanasan, apalagi jika ditambah dengan pakaian berlapis. Jadi, sebaiknya Anda pastikan anak tidur hanya dengan pakaian satu lapis dan nyaman. 6. Jaga Suhu Kamar agar Tidak Terlalu Dingin Tingkat toleransi dingin antara orang tua dan anak berbeda. Anak, terutama bayi baru lahir, lebih rentan mengalami hipotermia karena tubuhnya masih kecil dan lapisan kulit serta lemaknya masih tipis. Karena itu, pastikan suhu kamar disesuaikan dengan suhu ruang yang ideal untuk bayi. Berdasarkan RSIA Kendangsari, suhu ruangan yang disarankan untuk bayi sekitar 22°C-26°C. 7. Ajari Anak untuk Belajar Tidur Mandiri secara Perlahan Meskipun co-sleeping memberikan kenyamanan dan kemudahan bagi orang tua, tapi Anda juga perlu untuk mulai mengajarkan anak tidur mandiri secara bertahap. Mulailah dengan memindahkan mereka ke ranjang atau kamar sendiri selama tidur siang, lalu mencobanya di waktu malam hari secara bertahap dengan pengawasan orang tua. Ini penting karena tidak hanya membantu anak membiasakan diri dengan tempat tidur sendiri, tetapi juga mengurangi ketergantungan sekaligus bisa tetap menjaga keamanan dan kenyamanan tidur anak kedepannya. Wujudkan Tumbuh Kembang Anak Terbaik Bersama Sparks Sports Academy Co-sleeping pada anak menawarkan sejumlah keuntungan seperti kemudahan pemantauan dan membangun keintiman dengan orang tua. Namun, di balik manfaat tersebut juga terdapat risiko, seperti peningkatan kemungkinan SIDS dan membuat anak tidak bisa tidur mandiri. Oleh karena itu, penting untuk menerapkan tips aman tidur bersama, seperti menjaga posisi tidur anak tetap aman dan menghindari konsumsi alkohol atau rokok untuk orang tua. Sebagai pendukung tumbuh kembang holistik anak, orang tua juga bisa melengkapi rutinitas harian anak dengan aktivitas yang menyenangkan dan menyehatkan. Dalam hal ini, Sparks Sports Academy hadir dengan berbagai program olahraga yang dirancang khusus untuk anak usia 12 bulan hingga 7 tahun, seperti gym class, sensory play, dan berbagai aktivitas fisik berbasis permainan yang aman untuk setiap tahap usia anak. Setiap kelas di Sparks dirancang agar anak bisa bergerak aktif, mengeksplorasi kemampuan tubuhnya, sekaligus membangun keterampilan motorik halus dan kasar. Informasi selengkapnya, kunjungi Sparks Sports Academy!
Penyebab Anak Berkeringat saat Tidur dan Cara Mengatasinya
Kondisi anak berkeringat saat tidur ternyata cukup umum dan bisa dialami di berbagai usia. Respons tubuh yang berusaha menyeimbangkan suhu atau kondisi lingkungan sering menjadi pemicunya. Anda pun perlu tahu penyebabnya secara pasti agar dapat mengatasinya sejak dini. Agar tidak salah sangka, mari simak ulasan berikut! Key Takeaways: Kenapa Anak Berkeringat Saat Tidur? Kondisi anak berkeringat ketika terlelap bisa muncul dari berbagai sisi. Adapun penyebabnya antara lain sebagai berikut. 1. Suhu Ruangan yang Terlalu Hangat Ketika kamar terasa pengap atau sirkulasi udara kurang lancar, tubuh anak langsung bereaksi dengan memproduksi keringat lebih banyak. Lampu kamar yang terang, menumpuk benda di sekitar tempat tidur, pakaian tidur tebal, atau sprei berbahan sintetis biasanya akan membuat panas tubuh terperangkap. 2. Proses Tumbuh Kembang dan Sistem Saraf Anak masih belajar menyeimbangkan suhu tubuhnya. Sistem saraf otonomnya yang mengatur produksi keringat belum bekerja seefektif orang dewasa. Oleh karena itu, wajar jika anak berkeringat saat tidur meski udara tidak terlalu panas. Beberapa anak justru lebih sering berkeringat di bagian kepala karena kelenjar keringatnya lebih aktif di area tersebut. Sebuah penelitian Night sweats in children: prevalence and associated factors juga mencatat bahwa 11,7% (dari 6.381 anak) anak usia sekolah mengalami keringat malam setiap minggu. Studi tersebut juga menyebutkan bahwa anak laki-laki lebih sering mengalaminya. Selain itu, kondisi ini dapat berhubungan dengan gejala tidur tertentu, alergi, hingga tanda yang mengarah ke obstructive sleep apnea (OSA). 3. Aktivitas Sebelum Tidur Tubuh yang belum kembali ke suhu normal setelah beraktivitas seperti berlari atau lompat-lompatan juga dapat membuat anak berkeringat saat terlelap. Terutama jika mereka makan makanan panas atau pedas, sehingga tubuh harus bekerja lebih keras untuk mencerna. Akhirnya, si kecil akan lebih mudah keringat saat tidur. 4. Infeksi atau Demam Ketika anak menghadapi flu, batuk pilek, atau radang tenggorokan, keringat biasanya muncul ketika suhu tubuh perlahan turun. Anda bisa melihat keringat di dahi, leher, atau punggung, dan ini masih termasuk wajar, selama gejala lain ikut mereda. Beberapa pusat kesehatan seperti Lotus Medical Centre juga menyebutkan bahwa keringat berlebih di kepala saat tidur bisa muncul saat anak mengalami infeksi pernapasan atau kondisi seperti sleep apnea. Karena itu, jika keringatnya sangat banyak dan berlangsung lama, Anda sebaiknya segera memeriksakannya. 5. Gangguan Tidur Mimpi buruk, berjalan dalam tidur, atau henti napas sesaat (sleep apnea) dapat membuat tubuh bekerja lebih keras. Anak yang mengalami night terror biasanya menangis, menjerit, atau bernapas lebih cepat, lalu muncul keringat berlebih. Kondisi ini sering menjadi alasan anak berkeringat saat tidur. 6. Kondisi Kesehatan Tertentu Meski jarang, beberapa penyakit seperti TBC, kelainan jantung, gangguan tiroid, atau diabetes bisa memicu keringat berlebih di malam hari. Tanda lain yang mungkin terlihat adalah berat badan turun, batuk lama, atau mudah lelah. Ketika gejala semacam ini muncul, Anda bisa segera mencari pemeriksaan lanjutan dan profesional. Cara Mengatasi Anak Berkeringat Saat Tidur Anda bisa membantu mengurangi keluhan si kecil yang berkeringat saat tidur dengan langkah-langkah sederhana. Berikut di antaranya. 1. Mengatur Lingkungan Tidur Anda dapat memilih pakaian tidur berbahan katun, menggunakan seprei yang tidak menahan panas, dan menjaga suhu kamar tetap sejuk. Selain itu, sirkulasi udara yang baik dapat membantu tubuh anak melepas panas lebih cepat. 2. Menyesuaikan Kebiasaan Sebelum Tidur Hentikan aktivitas berat menjelang jam tidur. Beri jarak waktu setelah anak makan, terutama makanan panas atau pedas, agar tubuhnya lebih rileks. Cara ini biasanya cukup membantu meredakan keringat berlebih. 3. Menjaga Asupan Cairan Langkah ini juga efektif mengurangi keluhan anak berkeringat saat tidur, yaitu dengan memberikan cairan dengan jumlah cukup sepanjang hari. Sebab, tubuh yang terhidrasi akan lebih mudah menjaga suhu. 4. Memperhatikan Gejala yang Menyertai Waspada jika keringat anak sangat banyak, terjadi setiap malam, atau disertai gangguan pernapasan, mengorok keras, batuk lama, atau berat badan turun. Anda sebaiknya membawa anak ke dokter untuk memastikan penyebabnya. Sudah Bisa Atasi Masalah Anak Berkeringat Saat Tidur? Jika sudah tahu penyebab anak berkeringat saat tidur, orang tua pasti lebih tenang dan mampu memberi penanganan tepat. Si kecil pun akan memiliki kualitas tidur lebih baik dan mendukung energi positif mereka setiap hari. Namun, bila Anda ingin anak berkeringat dan sehat dengan beraktivitas fisik, maka Sparks Sports Academy solusinya. Sparks Sports Academy akan menjadi ruang aman dan menyenangkan untuk anak menyalurkan energi, membangun kebiasaan sehat, dan mengembangkan sensorik serta kemampuan fisik. Berbagai aktivitas dan stimulasi tujuh indera akan membantu anak tidur lebih nyenyak karena tubuhnya bergerak aktif dengan cara yang terarah. Anak juga akan belajar lebih percaya diri, bersosialisasi, dan mengasah keterampilan penting yang dapat mendukung masa depannya. Ayo, daftarkan si kecil ke kelas sesuai minatnya untuk mendukung tumbuh kembang optimal mereka!
Ketahui Jadwal Wake Window Bayi, Bantu Bayi Tidur Lebih Baik
Saat baru lahir, bayi membutuhkan lebih banyak tidur dengan periode bangun lebih pendek dan sering. Namun, seiring bertambahnya usia, kebutuhan tidur siangnya berkurang dengan periode bangun lebih sedikit tapi lama. Sehingga, penting bagi Anda selaku orang tua mengetahui jadwal bangun atau wake window bayi di tiap tahap usia. Key Takeaways Pengertian Wake Window Bayi dan Manfaatnya Melansir laman Baby Sleep Site, wake window bayi adalah lamanya waktu bayi terjaga di antara dua periode tidur, baik tidur siang berikutnya maupun tidur malam. Durasinya bisa berbeda tergantung usianya. Misalnya, jika bayi bangun pada pukul 7 pagi dan memiliki jendela bangun selama dua jam, berarti ia harus tertidur lagi pukul 9 pagi. Wake window bayi dapat membantu Anda menidurkan bayi di saat yang tepat sebelum mereka menunjukkan tanda kelelahan ekstrem akibat mengantuk. Tanda tersebut antara lain bayi menjadi sangat rewel dan susah ditenangkan, sulit tidur, sering terbangun dengan cepat dari tidurnya, dan menolak menyusu atau makan. Sebab, bayi yang terlalu lama bangun akan memproduksi hormon stres kortisol dan adrenalin yang membuatnya terlalu bersemangat, sehingga sulit tidur nyenyak. Mengikuti jendela bangun bayi akan menciptakan rutinitas tidur yang konsisten, di mana bayi bisa tidur lebih mudah di antara waktu tidur siang dan malam. Durasi Ideal Wake Window Bayi Berdasarkan Usia Untuk mengetahui kapan bayi harus tidur, ikuti tanda bayi mengantuk, seperti menguap, mengucek mata, menarik telinga, rewel, dan meregangkan tubuh. Ini tidak masalah bagi bayi baru lahir, tetapi setelah usia 3-4 bulan, terkadang bayi menyembunyikan tanda kantuk yang menyebabkan waktu bangun terlalu panjang. Oleh karena itu, sebaiknya Anda mengikuti panduan jendela bangun pada bayi. Mengutip laman Happiest Baby, seorang dokter spesialis anak asal Amerika Serikat sekaligus founder Happiest Baby, Dr. Harvey Karp, telah memberikan panduan wake window bayi berdasarkan usia sebagai berikut. Bagaimana Cara Wake Window Bayi Membantu Bayi Tidur? Beberapa bayi memang sangat mudah ditebak dari tanda-tanda saat ia mengantuk. Sehingga, cukup mudah untuk mengetahui waktu tidurnya. Namun, tidak sedikit juga bayi yang memiliki ritme tidur yang sulit diprediksi, sehingga membuat jam tidurnya semakin kacau dari hari ke hari. Berikut cara terbaik memanfaatkan wake window bayi. Stimulasi Fisik Bayi di Spark Sports Academy! Kebutuhan tidur bayi haruslah terpenuhi secara normal agar tidak berdampak buruk pada perkembangannya. Sebab, saat tidur, hormon pertumbuhan bayi tiga kali lebih banyak daripada saat bangun. Untuk membantu bayi tidur lebih mudah dan sesuai jadwal wake window bayi, stimulasi fisiknya dengan cara yang seru. Anda dapat mengajaknya untuk mengikuti aktivitas yang seru dan menyenangkan di Sparks Sport Academy. Di sana, terdapat kelompok bermain untuk bayi berusia 12 – 23 bulan dengan beragam pilihan kelas. Mulai dari sensory and phonics hingga olahraga ringan untuk menstimulasi motorik kasar dan halusnya melalui dance and rhythm serta gymnastics. Di kelas gymnastics, bayi melakukan keterampilan gerakan dasar seperti merangkak, keseimbangan, dan koordinasi tubuh. Sedangkan di kelas dance, bayi bergerak dan bermain melalui musik. Semua aktivitas dirancang dengan keamanan tinggi, agar bayi bisa belajar dan bersenang-senang dengan nyaman. Segera book free trial class-nya!
Rekomendasi Film Anak-Anak dan Tips Nonton Film Bersama Anak
Di banyak rumah, menonton TV atau gadget sudah jadi bagian dari rutinitas anak. Orang tua sering berada di posisi serba salah: ingin memberi hiburan, tapi juga ingin memastikan tontonan yang aman dan mendidik. Apalagi untuk anak usia 1-7 tahun, layar bisa jadi sarana belajar sekaligus sumber masalah jika tidak disaring dengan tepat. Masalahnya, tidak semua film yang terlihat “ramah anak” benar-benar aman. Ada film dengan visual lucu dan warna cerah, tetapi menyimpan konten kekerasan halus, bahasa yang tidak pantas, atau tema dewasa yang belum bisa dipahami anak. Lewat artikel ini, Sparks akan membahas film yang memang dibuat khusus untuk anak-anak, dengan cerita, visual, dan pesan yang sesuai dengan usia mereka. Mengapa Penting Memilih Film Anak-Anak yang Tepat? Tontonan memiliki pengaruh besar terhadap cara anak berpikir, berbicara, dan bersikap. Anak usia dini cenderung meniru apa yang mereka lihat, termasuk kata-kata, ekspresi emosi, dan perilaku karakter dalam film. Karena itu, film bukan sekadar hiburan, tetapi juga bagian dari proses belajar anak. Di sinilah peran orang tua menjadi sangat penting. Menyaring konten membantu anak mendapatkan pesan yang sesuai dengan tahap perkembangannya. Sebaliknya, film yang tidak sesuai usia berisiko memicu ketakutan, perilaku agresif, atau kebingungan emosional pada anak yang belum siap memahami konteks cerita. Kriteria Film Anak-Anak yang Aman dan Edukatif Film anak-anak yang baik bukan hanya lucu dan menarik, tetapi juga aman secara emosional dan perkembangan. Beberapa kriteria berikut bisa jadi pegangan bagi orang tua saat memilih tontonan. Film sebaiknya bebas kekerasan dan bahasa kasar, termasuk kekerasan simbolik yang terlalu intens. Cerita juga idealnya mengandung nilai moral dan sosial, seperti empati, persahabatan, dan keberanian. Selain itu, visual dan alur cerita perlu sesuai dengan rentang usia, tidak terlalu kompleks atau gelap. Durasi film juga sebaiknya tidak terlalu panjang agar anak tidak lelah dan tetap bisa menikmati cerita dengan fokus yang sehat. Rekomendasi Film Anak-Anak Berdasarkan Usia (Rilis 2025) Berikut ini beberapa rekomendasi film yang bisa mom-dad coba tonton bersama anak. 1. Elio (Pixar, 2025) Film animasi dari Pixar ini bercerita tentang anak laki-laki yang tanpa sengaja menjadi perwakilan Bumi di luar angkasa. Ceritanya ringan, penuh imajinasi, dan berfokus pada tema identitas serta keberanian.Film ini ditujukan untuk keluarga, dengan visual lembut dan konflik emosional yang aman untuk anak-anak, terutama usia 5 tahun ke atas. 2. Dog Man (DreamWorks, 2025) Diadaptasi dari buku anak populer karya Dav Pilkey, Dog Man menghadirkan humor ringan dan cerita sederhana tentang kebaikan dan tanggung jawab. Gaya visual kartunis dan konflik yang tidak intens membuat film ini cocok untuk anak usia sekolah awal, dengan pesan moral yang mudah dipahami. 3. Zootopia 2 (Disney, 2025) Sekuel dari Zootopia ini kembali mengangkat tema persahabatan dan kerja sama dalam balutan dunia hewan yang beragam. Meskipun memiliki pesan sosial, penyampaiannya tetap ringan dan penuh humor, sehingga aman untuk anak-anak dengan pendampingan orang tua. 4. The Bad Guys 2 (DreamWorks, 2025) Film ini melanjutkan kisah karakter-karakter yang belajar berubah menjadi lebih baik. Meski bertema “penjahat”, ceritanya disampaikan dengan komedi dan konflik yang tidak menakutkan. Cocok untuk anak usia 6-7 tahun ke atas yang sudah bisa memahami konsep benar dan salah secara sederhana. 5. Snow White (Disney Live-Action, 2025) Versi live-action dari kisah klasik ini tetap mengusung cerita dasar Snow White dengan pendekatan keluarga. Film ini cocok untuk ditonton bersama orang tua, terutama untuk anak yang sudah terbiasa dengan cerita dongeng klasik. Tetapi menurut Parents, film ini mungkin akan sedikit menakutan untuk anak usia dibawah 6 tahun karena ada scene ketika sang snow white lari ke hutan, ratu jahat menggunakan sihir untuk berubah jadi seorang wanita tua yang mungkin akan sedikit mengganggu. Tips Menonton Film Anak-Anak Bersama Orang Tua Menonton film akan lebih bermakna jika dilakukan bersama. Kehadiran orang tua membantu anak memahami cerita dan emosi yang muncul di layar. Beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua: Dengan pendampingan, film bisa menjadi alat belajar yang menyenangkan, bukan sekadar tontonan pasif. Menjadi Orang Tua yang Lebih Sadar dalam Memilih Tontonan Di era digital, melarang anak dari layar sepenuhnya hampir tidak mungkin. Yang bisa dilakukan adalah mengatur, menyaring, dan menemani. Film yang tepat dapat membantu anak belajar nilai positif, mengenal emosi, dan mengembangkan imajinasi dengan cara yang aman. Ketika orang tua hadir dan terlibat, tontonan tidak lagi menjadi ancaman. Ia berubah menjadi kesempatan untuk tumbuh bersama, berbagi cerita, dan memperkuat hubungan dengan anak di masa kecilnya yang sangat berharga.
