Suatu hari, ada dua anak balita yang tidak saling mengenal duduk di lantai taman bermain dan masing-masing asyik bermain balok, tapi tidak saling berinteraksi. Anda tak perlu merasa aneh, karena mereka sedang menerapkan parallel play alias bermain secara paralel. Key Takeaways Pengertian Parallel Play Sebelum mengulik lebih dalam tentang definisi bermain paralel, mari menelaah terlebih dulu tentang sejarahnya. Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh sosiolog Mildred Parten Newhall pada tahun 1932 melalui penelitiannya tentang “Six Stages of Play” (Enam Tahapan Bermain). Dalam spektrum ini, bermain paralel menjadi tahapan yang menjembatani kesenjangan penting antara bermain sendiri (solitary play) dan bermain secara asosiatif dan kooperatif. Sederhananya, ini merupakan fase anak-anak bermain secara berdampingan, bahkan menggunakan mainan serupa tapi tidak berinteraksi secara langsung. Jadi, sebenarnya anak saling berinteraksi, hanya saja melalui tatapan mata atau gerak tubuh yang memengaruhi tindakan satu sama lain. Spektrum otak mereka saling terhubung sehingga terjadi komunikasi tidak langsung (indirect communication) yang bagi sekitarnya, terutama orang dewasa, tampak saling mengabaikan. Kapan Tahapan Bermain Paralel Ini Terjadi? Sejatinya, perkembangan anak bersikap individualis. Tidak ada tolak ukur yang akurat terkait pertumbuhan mereka, termasuk tahapan bermain paralel ini. Namun, parallel play paling umum terjadi pada anak usia 18–36 bulan, tepatnya pada batita yang memang kemampuan komunikasi verbalnya masih kurang. Kondisi ini terjadi pada rentang usia tersebut karena dalam periode itulah anak mulai mengembangkan kesadaran diri yang kuat. Mereka menyadari keberadaan anak-anak lain dan tertarik mendekat, tetapi keterampilan sosial mereka, seperti negosiasi, berbagi, dan memahami perspektif orang lain, masih asing. Menurut National Institutes of Health (NIH), pada usia 2 tahun, anak-anak bersemangat untuk bermain bersama anak-anak lain, tetapi belum sepenuhnya mengerti konsep berbagi. Oleh sebab itu, bermain paralel menjadi solusi sempurna agar anak mendapat kenyamanan sosial tanpa tekanan untuk berinteraksi. Mengapa Bermain Paralel Sangat Krusial Bagi Pertumbuhan Anak? Melalui tahapan bermain paralel, banyak manfaat krusial yang anak dapatkan dan menjadikannya penting dalam tumbuh kembangnya. Di antaranya adalah sebagai berikut. 1. Menjadi Langkah Observasi Sosial Parallel play adalah “ruang kelas” pertama anak untuk melatih keterampilan sosial. Saat bermain berdampingan, anak secara aktif mengamati. Ia belajar bagaimana cara anak lain menggunakan mainan, reaksi anak itu ketika frustrasi akibat mainannya, serta cara orang dewasa merespons. Anak menyerap informasi tentang isyarat sosial, bahasa tubuh, dan konsekuensi dari tindakan, semuanya dari jarak yang aman. Ini akan menjadi momentum penting bagi anak untuk belajar tentang interaksi yang tepat, reaksi, dan imbal balik dalam kehidupan. 2. Fondasi Kecerdasan Emosional Berada di dekat anak lain menghadirkan tantangan emosional. Apa yang terjadi jika anak di sebelahnya mengambil mainan yang ia inginkan? Bermain paralel mengajarkan dasar-dasar regulasi emosional dan kontrol impuls pada anak. Ia akan jadi nyaman bermain bersama tanpa rasa tertekan. 3. Persiapan Berbagi dan Bergiliran Sebelum seorang anak dapat benar-benar “berbagi”, yang merupakan suatu konsep rumit, ia harus terlebih dahulu merasa aman atas kepemilikannya terhadap sesuatu. Parallel play memungkinkan anak menegaskan kepemilikan sambil mengamati konsep barang lain adalah milik teman bermainnya. Ini merupakan tahapan penting sebelum anak memasuki tahap bermain asosiatif (associative play), yaitu ketika anak sudah mulai berinteraksi secara verbal dan sukarela berbagi mainan atau barang lainnya yang sebelumnya mendapat klaim kepemilikan. 4. Pengembangan Bahasa Meskipun saat bermain tidak berinteraksi verbal secara langsung, tapi anak-anak mendengarkan dan menyerap kosakata baru, intonasi, serta struktur kalimat dari rekan bermain di dekatnya. Mereka kemudian mencoba meniru kata-kata tersebut dengan berbicara pada diri sendiri yang perlahan mengembangkan kemampuan bahasanya. Peran Orang Tua dalam Bermain Paralel Teknisnya, fase bermain paralel merupakan tahapan normal dalam perkembangan anak, khususnya saat berusia di bawah tiga tahun. Alih-alih panik, Anda sebagai orang tua semestinya menjadi pihak yang paling suportif melalui beberapa tindakan sederhana berikut ini. Parallel Play, Sebuah Proses Pertumbuhan yang Alami Memahami tahapan parallel play merupakan fondasi penting bahwa anak bertumbuh kadang tidak sesuai dengan sudut pandang orang dewasa. Kondisi bermain bersama tanpa terlihat berinteraksi secara langsung nyatanya merupakan masa transisi dari “bermain sendiri” menuju “bermain asosiatif”. Tahapan tersebut merupakan fase persiapan bagi anak untuk membangun interaksi sosial yang lebih luas dan kerja sama dengan lingkungan sekitarnya. Sebagai orang tua, berikan dukungan berupa kata-kata penyemangat, perhatian, dan contoh tanpa memaksakan interaksi. Selain itu, berikan dukungan lain dengan mendaftarkan anak ke kelas olahraga yang dirancang secara profesional dan berkurikulum di Spark Sports Academy. Aktivitas fisik akan mengarahkan anak pada pengembangan holistik terbaik untuk membangun interaksi dan kerja sama dengan lingkungan secara lebih baik.
Associative Play: Pengertian, Karakteristik, dan Manfaat
Perkembangan anak melalui beberapa tahapan berbeda dan masing-masing memegang peranan penting. Bermain secara asosiatif (associative play) menjadi salah satu tahapan krusial di dalamnya yang menjadi jembatan antara bermain paralel yang semi individual menuju kerja sama dan interaksi terorganisir. Key Takeaways Definisi dan Karakteristik Associative Play Berdasarkan klasifikasi tahap-tahap bermain oleh psikolog sosial Mildred Parten pada 1932, associative play adalah tahapan kelima dari fase perkembangan sosial pada anak. Umumnya, kondisi ini berlangsung pada anak yang berusia 3–5 tahun. Secara teknis, bermain asosiatif melibatkan partisipasi dua anak atau lebih dalam aktivitas yang sama, yang seringkali berbagi bahan atau mainan dan mungkin berkomunikasi satu sama lain. Namun, aktivitas mereka tidak memiliki tujuan atau organisasi bersama yang terstruktur atau tidak terjadi kerja sama sama sekali. Beberapa karakteristik utama yang membedakan bermain asosiatif dengan tahapan-tahapan lainnya pada perkembangan anak, terutama parallel play (sebelum) dan cooperative play (setelah), adalah sebagai berikut. Manfaat Krusial Bermain Asosiatif bagi Perkembangan Anak Sebagaimana tahapan perkembangan lainnya, masa transisi ke fase associative play merupakan langkah besar dalam pengembangan keterampilan hidup anak. Interaksi yang terjadi di tahap ini memberikan sederet manfaat krusial berikut ini. 1. Pengembangan Keterampilan Sosial Fase ini menjadi panggung pertama anak untuk belajar bersosialisasi dan berinteraksi dengan teman sebaya di luar lingkungan keluarga. Anak bisa mulai memahami dinamika kelompok dan cara menjadi bagian dari komunitas kecil. 2. Peningkatan Kemampuan Berbahasa dan Komunikasi Ketika anak mulai mengobrol, berkomentar, atau bernegosiasi tentang berbagi mainan, kemampuan bahasa dan komunikasi mereka otomatis terasah secara signifikan. 3. Belajar Berbagi dan Bernegosiasi Karena bermain asosiatif melibatkan upaya berbagi bahan, anak secara alami berlatih konsep berbagi dan bergiliran. Anak belajar bagaimana bernegosiasi atau bertukar mainan, yang merupakan dasar dari tahapan kooperatif yang menjadi fase selanjutnya. 4. Pengembangan Empati dan Kesadaran Sosial Dengan memperhatikan dan berinteraksi dengan teman sebayanya, anak mulai melepaskan ego yang besar dan menyadari keberadaan, perasaan, dan keinginan orang lain. Ini adalah langkah awal penting dalam menumbuhkan empati. 5. Keterampilan Fisik dan Motorik Banyak contoh associative play yang melibatkan aktivitas fisik guna mendorong pergerakan, seperti berlari, melompat, atau mengayuh sepeda. Ini membantu meningkatkan keterampilan motorik kasar anak. Penerapan Associative Play dengan Dukungan Orang Tua Meskipun anak-anak pasti melewati fase pertumbuhan yang satu ini, bukan berarti mereka tidak membutuhkan dukungan orang tua untuk melaluinya dengan baik. Tidak perlu keterlibatan ekstrem, Anda sebagai orang tua dapat menunjukkan dukungan dengan memfasilitasi lingkungan bermain yang kaya interaksi. Anda bisa mencoba untuk membangun suasana seperti berikut sebagai upaya mendukung anak melewati fase bermain asosiatif dengan baik. Bermain Asosiatif, Persiapan Kehidupan Sosial Anak Penjabaran di atas menunjukkan bahwa assosiative play merupakan fase penting dalam pertumbuhan anak. Anak belajar berinteraksi dalam permainan bersama, tapi tidak memiliki kesepakatan atau kerja sama atas hasil akhir. Ini merupakan gerbang utama menuju cooperative play sebagai puncak. Salah satu cara terbaik untuk mendukung masa transisi tersebut adalah melatih anak dengan aktivitas terstruktur yang menyenangkan dan melibatkan interaksi tim seperti olahraga. Bukan sekadar mengejar kebugaran fisik, olahraga untuk anak juga mengajarkan koordinasi dan disiplin. Kelas olahraga di Spark Sports Academy menjadi solusi terbaik atas kebutuhan tersebut. Tersedia banyak kelas yang dapat mendukung interaksi sekaligus melatih kerja sama tim pada anak, seperti basket, futsal, taekwondo dan lainnya. Anak akan mendapatkan pendampingan profesional untuk mendapatkan hasil sesuai harapan.
Tanda Anak Mengalami Preschooler Blues, Penyebab, dan Cara Mengatasinya
Seiring dengan perubahan lingkungan belajar, jadwal yang padat, dan tuntutan sosial yang meningkat, anak balita rentan mengalami perubahan emosi yang kompleks, salah satunya preschooler blues. Fenomena ini membuat anak lebih mudah marah, cemas, atau menolak rutinitas harian. Sebagai orang tua, Anda perlu memahami faktor pemicunya dan menemukan cara mendukung anak agar kembali ceria dan stabil secara emosional. Dengan solusi yang tepat, masa transisi emosi anak menjadi lebih ringan dan penuh kemajuan positif. Key Takeaways Apa Itu Preschooler Blues? Preschooler blues adalah istilah non-medis yang menggambarkan kondisi emosional seperti kesedihan, kecemasan, atau rasa tidak nyaman yang dialami anak usia pra-sekolah. Fenomena ini sering terjadi saat anak harus berpisah dari pengasuh atau orang tuanya untuk memasuki lingkungan baru, misalnya kelas pertamanya. Preschooler blues kerap berkaitan dengan separation anxiety, yang membuat anak menunjukkan respons emosional seperti menolak masuk kelas, menangis, mengeluh sakit, atau enggan berpisah dan terus menempel pada orang tuanya. Reaksi tersebut bukan karena anak manja, melainkan karena ia belum merasa yakin dengan lingkungan barunya. Ia mungkin belum mengenal guru, belum memahami rutinitas baru, atau masih ragu dengan aktivitas yang akan dijalani. Walaupun begitu, fenomena ini adalah bagian normal dari tahap perkembangan anak dan bersifat sementara. Namun, tanpa pendampingan yang tepat, bentuk emosional ini dapat memengaruhi rasa percaya diri anak dan kenyamanannya selama berada di sekolah. Penyebab Preschooler Blues Ada beberapa faktor umum yang dapat memicu terjadinya preschooler blues pada anak. Namun, penting bagi Anda untuk memahami bahwa setiap anak memiliki latar belakang dan pemicu yang berbeda-beda. Berikut ini penjelasannya. Strategi Mengatasi Preschooler Blues Jika anak Anda mengalami tanda-tanda preschooler blues, ketahuilah bahwa kondisi ini cukup umum. Sebab, pada usia tersebut, anak masih memiliki ketergantungan emosional yang kuat dengan orang tua. Oleh karena itu, Anda perlu melakukan cara-cara di bawah ini agar anak lebih tenang dan mampu beradaptasi. Anak Bebas Preschooler Blues di Spark Sports Academy! Menangani preschooler blues memerlukan kesabaran dan konsistensi. Melalui pendekatan hangat dan terarah, anak bisa mengembangkan rasa aman serta percaya diri. Untuk menghindarkan anak agar tidak mengalami fenomena tersebut, Spark Sports Academy hadir dengan solusi terbaik. Spark Sports Academy adalah lembaga yang bukan sekadar fokus pada aktivitas fisik, tapi menyediakan lingkungan yang ramah, kondusif, dan menyenangkan untuk anak. Beragam kegiatan berlangsung secara terstruktur dengan pendampingan penuh empati agar anak merasa nyaman dan selalu gembira. Melalui rutinitas yang menstimulasi percaya diri dan interaksi aktif, Spark Sports Academy merupakan pilihan tepat agar anak mendapat pengalaman belajar dan penguatan emosional yang sehat. Segera coba trial class dan rasakan manfaatnya!
Cara Mengurus KIA Anak, Jangan Anggap Sepele!
KIA (Kartu Identitas Anak) merupakan dokumen resmi yang diterbitkan oleh Disdukcapil (Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil). Kartu ini akan menjadi bukti identitas diri bagi anak yang berusia 0-17 tahun kurang satu hari. Cara mengurus KIA anak pun tidak terlalu sulit dan dapat disesuaikan dengan usia si kecil. Cek selengkapnya di sini! Key Takeaways: Apa Itu KIA? Melansir Disdukcapil, KIA merupakan kartu identitas yang wajib semua anak miliki agar dapat mengakses layanan publik secara mandiri. Kebijakan memiliki KIA sendiri dikeluarkan melalui Peraturan Kementerian Dalam Negeri No. 02 tahun 2016 mengenai Kartu Identitas Anak. Program pembuatan dan kepemilikannya pun sudah mulai berlaku secara nasional. KIA juga berlaku selayaknya KTP (Kartu Tanda Penduduk) untuk orang dewasa pada umumnya, serta KIA diterbitkan oleh Disdukcapil Kabupaten/Kota. Di Mana Tempat Mengurus Pembuatan KIA? Orang tua yang ingin membuatkan kia harus menyiapkan dokumen dan persyaratannya lalu diserahkan ke Disdukcapil setempat. Kepala Disdukcapil lalu menandatangani, menerbitkan, dan memberikan kartu KIA kepada pemohon atau orang tua. Berapa Lama Masa Berlaku KIA? Masa berlaku KIA adalah tergantung usia anak. Untuk anak usia di bawah 5 tahun adalah sampai 5 tahun. Sedangkan untuk anak di atas 5 tahun adalah sampai umur 17 tahun kurang satu hari. Berapa Biaya Pembuatan KIA? Tarif pembuatan kartu KIA adalah gratis atau tidak dipungut biaya. Waktu pembuatan kartu KIA paling lambat 3 hari kerja setelah dokumen dan syarat dinyatakan sudah lengkap. Jenis Kartu Identitas Anak Sebelum mengetahui cara mengurus KIA anak, sebaiknya anda mengenal jenisnya lebih dahulu agar tidak salah. Berdasarkan Disdukcapil Penajam, KIA terdiri dari dua jenis, khusus untuk anak 0-5 tahun dan untuk anak usia 5-17 tahun kurang satu hari. Di masa ini, perkembangan kognitif, sosial, emosi, dan fisik anak memang tengah berlangsung. Karena itu, masa berlaku kartu untuk kedua kelompok usia tersebut juga berbeda. Namun, secara fungsi, KIA pada kedua kelompok tersebut sebenarnya sama, perbedaannya hanya terletak pada isi yang ada di dalam kartu. Pada KIA anak berusia 0-5 tahun tidak menampilkan foto, sedangkan anak usia 5-17 tahun di dalam kartunya menampilkan foto seperti KTP. KIA dengan KTP sendiri tetap berbeda, sebab KIA tidak memiliki chip elektronik. Nantinya, secara otomatis saat anak berulang tahun yang ke-17, KIA akan diubah menjadi KTP. Ini terjadi karena NIK (Nomor Induk Kependudukan) yang ada di KIA sama dengan NIK yang ada di KTP. Fungsi Kartu Identitas Anak Menurut Permendagri No 2 Tahun 2016, KIA dapat digunakan untuk memberikan perlindungan dan pemenuhan hak anak. KIA akan menjamin anak mendapat akses sarana umum hingga mencegah terjadinya perdagangan. Selain itu, KIA juga dapat menjadi identitas diri ketika anak sewaktu-waktu mengalami peristiwa yang tidak terduga dan memudahkan anak mendapatkan layanan publik. Menurut ulasan dari laman Indonesia.go.id, KIA juga digunakan untuk mendaftarkan anak ke sekolah. Serta menjadi bukti identitas diri untuk membuka tabungan atau menabung di bank dan bukti pendaftaran BPJS. Syarat Mengurus KIA Anak Sebelum mengetahui cara mengurus KIA anak, Anda juga harus memenuhi setiap persyaratannya lebih dulu. Secara umum, berikut persyaratan yang harus Anda lengkapi sesuai usia anak. KIA Anak yang Baru Lahir Dalam mengurus KIA bayi baru lahir, KIA akan diterbitkan bersama dengan penerbitan akta kelahiran dan pembaharuan KK (Kartu Keluarga). KIA Anak Usia di Bawah 5 Tahun Bagi anak Anda yang berusia di bawah 5 tahun dan belum memiliki KIA, berikut syarat yang perlu Anda penuhi: KIA Anak Usia di Atas 5 Tahun Bagi anak usia di atas 5 tahun, berikut syarat membuat KIA: KIA Anak Warga Asing Berusia di Bawah 5 Tahun Bagi anak warga asing berusia di bawah 5 tahun dan tinggal di Indonesia, berikut persyaratannya dalam membuat KIA: KIA Anak Warga Asing di Atas Usia 5 Tahun Berikut syarat pembuatan KIA untuk anak warga asing yang berusia di atas 5 tahun: Cara Mengurus KIA Anak Jika semua syarat sudah terpenuhi, berikut prosedur cara mengurus KIA yang dapat Anda ikuti. Sudah Tahu Bagaimana Cara Mengurus KIA Anak? Mengingat banyaknya manfaat serta fungsi yang menguntungkan anak, kepemilikan KIA pun sangatlah penting. Cara mengurus KIA juga cukup mudah dan tanpa biaya sepeserpun, sehingga tidak akan ada halangan untuk Anda dalam menguruskannya. Setelah mengurus KIA, Anda pun bisa mengurus berbagai kebutuhan anak dengan mudah, termasuk saat mendaftar sekolah. Jika tertarik Anda juga bisa memilih Spark Sports Academy, lembaga yang dapat mendukung perkembangan anak dengan maksimal. Spark Sports Academy sendiri merupakan tempat anak dapat mengeksplorasi ketujuh panca indranya untuk mendukung tumbuh kembangnya secara optimal. Pilihan kelasnya pun beragam, seperti gymnastic, sensory and phonics, hingga taekwondo. Ayo, dukung anak tumbuh dan berkembang di lingkungan suportif!
Cara Mendidik Anak Agar Bahagia, Tips Bagi Orang Tua Modern!
Anak yang bahagia memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh percaya diri dan mandiri. Namun, banyak orang tua masih kebingungan mencari tahu cara mendidik anak agar bahagia di tengah rutinitas yang padat. Pada dasarnya, menciptakan suasana positif dan komunikasi yang hangat adalah pondasi penting untuk menciptakan lingkungan hangat bagi anak. Lewat strategi yang tepat pula, anak bisa berkembang secara optimal sambil tetap merasa dicintai dan didengar. Ingin tahu bagaimana caranya? Mari simak ulasan berikut! Key Takeaways: 7 Cara Mendidik Anak Agar Bahagia Mendidik anak agar bahagia memang menantang, tapi dengan cara yang tepat, anak bisa tumbuh ceria dan percaya diri. Berikut lima langkah praktis yang bisa Anda terapkan sehari-hari. 1. Ciptakan Lingkungan Penuh Kasih Sayang Lingkungan yang hangat dan suportif menjadi kunci anak merasa aman dan nyaman. Pujian, perhatian, dan waktu berkualitas bersama anak dapat membuat mereka merasa dihargai dan dicintai. Bahkan, berdasarkan Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, pola asuh yang suportif sangat berpengaruh terhadap kesehatan mental anak dan membangun resiliensi dalam menghadapi tekanan. Aktivitas sederhana seperti berbincang setiap malam atau bermain bersama pun dapat memperkuat pondasi kebahagiaan anak. 2. Terapkan Komunikasi yang Efektif dan Empati Salah satu aspek penting dalam cara mendidik anak agar bahagia adalah komunikasi yang hangat dan penuh empati. Mendengarkan anak dengan penuh perhatian, memahami perasaan mereka, dan menanggapi dengan bijak akan membuat anak merasa dihargai. Sebaiknya hindari memaksakan kehendak atau menghakimi perasaan mereka. Sebab, anak yang terbiasa mengungkapkan emosi secara sehat akan lebih mampu menghadapi tantangan, membangun hubungan sosial yang baik, dan tetap bahagia. 3. Berikan Kebebasan untuk Melakukan Eksplorasi dan Belajar Mandiri Melandir hasil studi dari Journal Psychological Research and Intervention, yang melakukan survei pada 64 anak sekolah dasar, sumber kebahagiaan dari 95.54% anak adalah self-fulfillment. Hal tersebut meliputi melakukan hobi, memiliki waktu luang, hingga pencapaian. Karena itu, salah satu cara membuat anak tumbuh dengan bahagia adalah dengan memberikan mereka kebebasan untuk mengeksplorasi dan belajar mandiri. Dengan mencoba hal baru dan membuat keputusan sendiri, anak juga akan belajar bertanggung jawab dan percaya diri. Contohnya, anak bisa memilih aktivitas bermain atau hobi sendiri. Pendekatan ini membuat anak merasa dihargai dan mendorong kemampuan mereka. 4. Tetapkan Rutinitas yang Konsisten yang Fleksibel Menetapkan rutinitas yang konsisten dan fleksibel merupakan bagian dari cara mendidik anak agar bahagia. Rutinitas sendiri dapat memberikan anak rasa aman karena mereka tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, sementara fleksibilitas memastikan mereka tetap merasa bebas dan kreatif. Jadwal tidur, waktu belajar, dan bermain yang konsisten juga dapat membantu anak mengatur emosi dan energi. Keseimbangan antara disiplin dan kebebasan menjadi kunci menciptakan suasana harmonis di rumah. 5. Melibatkan Aktivitas Fisik dan Edukasi Positif Aktivitas fisik dan stimulasi edukasi positif dapat membantu anak menyalurkan energi, belajar bersosialisasi, dan meningkatkan kesehatan mental. Misalnya, bermain di luar, olahraga ringan, atau mengikuti kelas keterampilan. Anak yang aktif secara fisik dan mental juga cenderung lebih ceria, fokus, dan mudah beradaptasi dengan lingkungan. 6. Dorong Anak untuk Mengekspresikan Kreativitas Aktivitas kreatif seperti menggambar, bernyanyi, menari, atau bermain peran tidak hanya menyenangkan tetapi juga menjadi salah satu cara mendidik anak agar bahagia. Tak hanya bahagia, anak yang bebas mengekspresikan kreativitas cenderung lebih mudah berpikir kritis dalam menghadapi masalah. Selain itu, kegiatan kreatif dapat meningkatkan kemampuan motorik halus dan imajinasi. Memberi anak kesempatan untuk berkreasi juga akan mendorong rasa bangga atas hasil karya mereka, sekaligus meningkatkan motivasi dan kepercayaan dirinya. 7. Tunjukkan Contoh Perilaku Positif Anak belajar banyak dari meniru orang tua. Karena itu, jika orang tua mampu menunjukkan sikap positif, sabar, dan empati dalam kehidupan sehari-hari, maka anak juga dapat meniru perilaku tersebut. Contoh yang konsisten akan membantu anak belajar bersikap baik, menghargai orang lain, dan mengelola emosi dengan sehat. Perilaku positif orang tua juga menjadi cermin yang membantu anak memahami cara berinteraksi dengan lingkungan secara harmonis, sehingga mendukung kebahagiaan mereka. Sudah Tahu Cara Mendidik Anak Agar Bahagia? Agar anak tumbuh bahagia, orang tua perlu menerapkan cara mendidik yang seimbang antara kasih sayang dan bimbingan. Melalui komunikasi yang empatik dan positif, anak dapat berkembang menjadi pribadi ceria dan sehat secara mental. Tentu saja, untuk mendukungnya, Anda bisa mendaftarkan anak ke Spark Sports Academy. Di mana anak dapat belajar keterampilan fisik, mengasah kreativitas, dan merasakan kesenangan dalam kelas-kelas menarik seperti balet, basket, hingga taekwondo. Jadi, tidak hanya memiliki keluarga yang harmonis, anak juga akan mendapatkan dukungan serta pengalaman belajar yang menyenangkan dan berharga. Ayo, daftarkan anak Anda di Spark Sports Academy sekarang dan lihat sendiri bagaimana mereka tumbuh menjadi pribadi yang positif!
