Selective mutism atau mutisme selektif berdasarkan Cleveland Clinic adalah kondisi kesehatan mental yang menyebabkan seseorang tidak dapat berbicara dalam situasi sosial tertentu karena takut atau cemas. Gangguan kecemasan ini berbeda dengan pemalu atau pendiam, karena mereka tetap bisa berbicara di lingkungan yang nyaman. Key takeaways Tanda-tanda Selective Mutism Selective mutism tergolong penyakit yang langka. Menurut laman NHS, penyakit ini hanya memengaruhi sekitar 1 dari 140 anak. Mayoritas dialami oleh anak-anak di usia 2 hingga 4 tahun. Sedangkan pada remaja dan orang dewasa sangat jarang terjadi, tapi masih mungkin. Kondisi ini juga lebih sering terjadi pada anak perempuan dan anak-anak yang baru pindah rumah atau berada di lingkungan baru. Misalnya, saat mulai masuk taman kanak-kanak atau sekolah dasar. Gejala gangguan mutisme selektif ini cukup beragam. Tanda utamanya yaitu anak tiba-tiba diam atau tidak bisa berbicara disertai ekspresi wajah yang kosong, terutama ketika berhadapan dengan orang asing. Beberapa tanda lain yang menunjukkan anak mengidap selective mutism adalah sebagai berikut. Penyebab Selective Mutism Para ahli tidak dapat menjelaskan sepenuhnya mengenai penyebab selective mutism. Namun, mereka menduga beberapa faktor berikut yang mendukung munculnya penyakit tersebut. 8 Cara Mengatasi Anak yang Mengalami Selective Mutism Selective mutism yang tidak segera ditangani dengan baik akan berdampak negatif pada kehidupan sosial penderita, seperti kesepian, kesulitan bersosialisasi, hingga prestasi akademis menurun. Berikut adalah beberapa cara penanganan yang umumnya disarankan oleh para ahli kesehatan mental. 1. Terapi perilaku kognitif Terapi ini merupakan pilihan yang utama, dengan melibatkan orang yang membesarkannya. Terapi ini mampu mengurangi kecemasan, tantrum, dan perilaku mengganggu lainnya karena berfokus pada perubahan pola pikir negatif tentang diri sendiri dan orang lain di sekitarnya. 2. Teknik Desentisisasi Ini adalah cara mengatasi dengan teknik percakapan yang dilakukan secara bertahap bersama orang yang tidak dikenal, dengan cara yang tidak menakutkan, hingga akhirnya dia merasa nyaman dan tidak tertekan. 3. Terapi Wicara Jika anak mengalami selective mutism dan ditemukan penyebab utamanya berupa gangguan bicara, lakukan terapi wicara yang melibatkan terapis dan tenaga ahli kesehatan lainnya. Tujuannya untuk membantu anak meningkatkan komunikasi di berbagai situasi. 4. Mengkonsumsi Obat-Obatan Ini adalah penanganan khusus jika terapi perilaku kognitif dan terapi wicara tidak efektif untuk menyembuhkan. Contoh obatnya adalah SSRI (selective serotonin reuptake inhibitor) atau obat antidepresan. Namun, khusus anak-anak, penggunaan obat ini perlu pengawasan ketat dari dokter ahli atau psikiater anak. 5. Buat Lingkungan yang Suportif Dukungan dari orang tua, keluarga, guru, atau orang-orang terdekat bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang nyaman, tanpa adanya tekanan untuk berkomunikasi dengan orang lain. 6. Bantu Anak Menjalin Hubungan Pertemanan Orang tua bisa membantu anak dalam manjalin hubungan pertemanan dengan mengajaknya bermain dengan teman sebayanya di lingkungan sekolah atau lingkungan rumah. 7. Lakukan Aktivitas Fisik Orang tua bisa mengajak anak untuk beraktivitas fisik. Aktivitas ini bisa membantu anak dalam mengontrol anxety-nya dan meningkatkan kepercayaan dirinya. 8. Beri Apresiasi Orang tua harus mengakui dan memberi apresiasi jika anak mencapai tujuannya. Hal ini juga harus dilakukan di lingkungan terbuka saat anak melakukan kegiatan positif. Latih Kepercayaan Diri Anak di Spark Sports Academy Selective mutism merupakan kondisi kecemasan kompleks yang membutuhkan pemahaman, bukan paksaan. Dengan konsistensi dan dukungan yang tepat dari orang terdekat, kemajuan signifikan sangat mungkin tercapai. Untuk itu, sebagai orang tua, penting sekali untuk menciptakan lingkungan inklusif dan suportif bagi anak-anak. Tidak hanya di dalam rumah, tetapi suasana lingkungan di luar rumah seperti sekolah. Anda juga dapat mengikutkan anak-anak ke Spark Sports Academy, yang mendukung anak-anak melatih kepercayaan diri dan keterampilan sosialnya. Sebab, Sparks Sports telah merancang setiap aktivitasnya untuk mendukung perkembangan holistik anak. Keterampilan sosial emosional, kognitif, motorik, dan komunikasi bahasa dilatih melalui berbagai pilihan kelas olahraga yang tersedia sesuai usia dan minat anak. Seperti gymnastic, sensory and phonic, multisport, dance, ballet, taekwondo, basketball, dan futsal. Jadi, segera coba ikuti free trial class-nya di kota terdekat Anda!
Sleep Association: Pengertian, Jenis, dan Tips Penerapannya pada Anak
Tidur yang berkualitas merupakan salah satu kunci penting untuk tumbuh kembang anak. Namun kenyataannya, masih banyak orang tua yang menghadapi tantangan anaknya sulit tidur atau membutuhkan bantuan tertentu agar bisa terlelap. Kondisi ini berhubungan dengan sleep association (asosiasi tidur) atau kebiasaan anak untuk tidur. Asosiasi tidur yang positif bisa menciptakan rutinitas tidur lebih berkualitas, begitu juga sebaliknya. Untuk itu, penting bagi orang tua memahami cara efektif menciptakan kebiasaan tidur positif pada anak demi mendukung kualitas tidur yang optimal bagi tumbuh kembang mereka. Artikel ini akan menguraikan pengertian hingga langkah-langkah membangun asosiasi tidur yang sehat. Key takeaway: Apa Itu Sleep Association? Mengutip dari Kids Health, asosiasi tidur merupakan suatu kondisi di mana anak terbiasa tidur dengan bantuan objek atau aktivitas tertentu. Aktivitas ini bisa berupa disusui, diayun, dan/atau ditepuk untuk tidur. Orang tua perlu menciptakan asosiasi tidur yang positif supaya anak tak melulu bergantung pada sesuatu agar dapat tertidur. Kapan Asosiasi Tidur Dimulai? Mengetahui waktu dimulainya asosiasi tidur anak sangat berguna untuk orang tua yang ingin membentuk kebiasaan tidur sehat pada anak mereka. Anak pada umumnya mulai mengembangkan sleep associationpositif ataupun negatif pada usia sekitar 3-4 bulan. Ini karena pada usia ini, anak sudah mulai sadar pada lingkungan sekitarnya dan mulai mengembangkan memori yang berhubungan dengan bagaimana cara mereka tidur. Jadi, jika Anda ingin membentuk asosiasi tidur positif pada anak, bisa dimulai dari usia tersebut. Jenis-Jenis Sleep Associations Untuk mempermudah proses membentuk kebiasaan tidur positif pada anak, Anda juga perlu tahu jenis-jenisnya asosiasi sebagai bahan referensi. Secara umum, asosiasi tidur bisa dikategorikan menjadi 2 kelompok, yakni sebagai berikut. 1. Baby-Controlled Sleep Associations Ini adalah hal-hal atau alat yang anak gunakan sendiri untuk membantu mereka tertidur. Jenis asosiasi ini biasanya memudahkan anak tidur mandiri tanpa bantuan orang tua. Contohnya antara lain: 2. Parent-Controlled Sleep Associations Ini adalah asosiasi tidur yang melibatkan peranan orang tua. Jenis asosiasi ini umumnya akan membuat anak kesulitan untuk tidur mandiri, sehingga sebaiknya Anda pastikan untuk tidak melakukannya dalam jangka waktu lama. Contohnya bisa berupa: Cara Menciptakan Asosiasi Tidur yang Positif Asosiasi tidur terbilang positif apabila dapat membantu anak tidur dengan mandiri, tenang, dan konsisten tanpa ketergantungan pada bantuan orang lain. Melansir dari Raising Children Network, Anda bisa membentuk kebiasaan tidur yang baik pada anak dalam beberapa waktu tergantung pada pendekatan yang Anda gunakan dan temperamen anak. Dalam hal ini, Anda bisa coba beberapa tips berikut untuk membentuk asosiasi tidur positif pada anak. Sparka Sports Academy: Solusi Tepat Meningkatkan Kualitas Tidur Anak Membentuk sleep association yang positif merupakan langkah penting dalam membantu anak memiliki kebiasaan tidur yang mandiri dan berkualitas. Selain karena asosiasi tidur yang positif, kualitas tidur juga sangat berkaitan dengan aktivitas fisik dan stimulasi yang tepat. Sparks Sports Academy hadir sebagai pusat edukasi untuk anak yang menawarkan berbagai aktivitas fisik dengan pendekatan yang terarah dan menyenangkan. Pilihan kelasnya pun yang beragam, mulai dari gymnastic, dance hingga multisport. Selain itu, kami juga menawarkan berbagai aktivitas seru, mulai dari language communication, social-emotional, cognitive, fine motor hingga gross motor skills yang berguna untuk menstimulasi indra anak secara optimal serta mendukung perkembangan maksimalnya. Untuk saat ini, program kami sudah tersedia di beberapa tempat, mulai dari Tanjung Duren, Kelapa Gading, Depok, BSD, hingga Bogor. Menariknya, jadwal kelasnya bisa disesuaikan dengan jadwal orang tua, sehingga Anda bisa lebih mudah mengatur waktu tanpa mengganggu rutinitas harian, termasuk jadwal tidur anak. Untuk informasi selanjutnya, kunjungi Sparks Sports Academy sekarang!
Bruxism: Faktor Penyebab, Gejala, dan Cara Mengobatinya
Bruksisme (bruxism) adalah salah satu kondisi parafungsi gigi yang sering dilakukan oleh anak dan dewasa saat sadar atau tidak sadar, seperti saat sedang tidur. Meskipun terdengar sepele, namun kebiasaan ini bisa menuntun pada beberapa masalah kesehatan seperti nyeri rahang, kerusakan gigi, hingga sakit kepala. Key Takeaways Apa Itu Bruxism? Secara teori, bruxism adalah kondisi medis ketika seseorang menggesekkan (grinding) atau menekan gigi (clenching) tanpa disadari atau tidak terkontrol. Tidak hanya terjadi pada dewasa, kondisi ini juga sering terjadi pada anak. Selain itu, kondisi ini bisa terjadi pada saat sadar atau saat tertidur. Pada bidang medis, kondisi parafungsi gigi terbagi atas dua jenis, yaitu: Meskipun berbeda, keduanya memiliki risiko gangguan kesehatan mulut yang sama, mulai dari kerusakan gigi, nyeri rahang, hingga sakit kepala. Penyebab Bruxism Bruksisme pada dasarnya bukan kondisi medis yang bisa muncul secara acak. Ada beberapa faktor yang bisa memicu terjadinya kondisi ini pada seseorang. Beberapa faktor yang paling umum adalah sebagai berikut. Gejala Bruxism Seperti yang disebutkan sebelumnya, seseorang yang memiliki kondisi bruxism biasanya memiliki kebiasaan menekan, menggertakan, atau menggesekan giginya tanpa disadari. Hal tersebut akan memunculkan berbagai keluhan atau gejala medis lain seperti: Bahkan, seseorang dengan kondisi ini berisiko mengalami gangguan tidur, seperti tiba-tiba terbangun, henti nafas sejenak, hingga mendengkur. Cara Mengatasi Bruxism Pada banyak kasus, termasuk pada anak-anak, bruksisme tidak membutuhkan penanganan khusus. Namun, jika kondisi sudah masuk tahap mengkhawatirkan atau memicu gejala kesehatan lain, berikut adalah opsi pengobatan yang bisa dilakukan. Cegah Risiko Bruksisme pada Anak Lewat Aktivitas Fisik Positif Aktivitas fisik pada dasarnya memberi dampak besar terhadap kestabilan emosi, kesehatan mental, dan kualitas tidur. Seperti yang diketahui, ketiga aspek tersebut sangat berkaitan dengan kondisi bruxism. Hal tersebutlah yang mendasari mengapa aktivitas fisik bisa berperan signifikan dalam mengurangi risiko bruksisme, khususnya pada anak. Ketika anak beraktivitas fisik, maka tubuh akan melepaskan hormon endorfin yang akan menurunkan stres. Dengan penurunan tingkat stres, kualitas tidur pun menjadi lebih baik. Di sini, Spark Sports Academy hadir sebagai lembaga yang memfasilitasi aktivitas fisik positif untuk anak. Kami menyediakan berbagai kelas latihan fisik yang dirancang khusus untuk membangun kemampuan motorik, disiplin, dan kepercayaan diri. Mulai dari kelas gymnastic, taekwondo, basket, hingga multisport, semua tersedia di Spark Sport Academy. Lingkungan positif yang kami hadirkan juga bisa membantu anak menyalurkan energi dengan cara sehat serta mengurangi kecemasan dan stres. Dukung perkembangan si kecil dengan stimulasi sensorik dan aktivitas fisik positif dari Spark Sports Academy!
Dampak Thumb Sucking pada Anak dan Solusi Menghentikannya
Mengisap jari merupakan salah satu refleks alami pada manusia, terutama pada anak-anak. Aktivitas thumb sucking ini bahkan sudah bisa terlihat pada janin dalam kandungan ketika pemeriksaan USG. Pada fase perkembangan anak, kebiasaan ini tidak sekadar refleks saja, tapi menjadi kenyamanan diri. Key Takeaways Mengapa Anak Melakukan Thumb Sucking? Ada banyak gestur tubuh lain yang dapat menjadi tindakan refleks. Namun, mengapa mengisap jari menjadi perilaku yang paling banyak terjadi? Menurut National Library of Medicine, ada dasarnya, tindakan tersebut merupakan naluri yang memberikan rasa aman dan mengurangi kecemasan pada diri sendiri (self soothing). Bagi anak-anak, terutama usia di bawah tiga tahun (batita) yang belum terlalu lancar dalam komunikasi verbal, mengisap jari merupakan cara alami untuk berekspresi, mengeksplorasi dunia, dan menemukan kenyamanan. Kebanyakan dari mereka menggunakan kebiasaan ini untuk menyampaikan rasa lapar, bosan, takut, atau lelah. Kebiasaan tersebut biasanya berhenti secara alami pada usia 2-4 tahun. Jadi, mengisap jari, teknisnya, bukan perilaku yang perlu orang tua khawatirkan. Bahkan, aktivitas tersebut dapat merangsang reseptor tertentu di otak yang melepaskan ketegangan mental dan fisik, sehingga mencegah anak menjadi stres. Namun, Anda perlu merasa khawatir dan mencari cara menghentikan kebiasaan thumb sucking pada anak ketika sudah memasuki usia lebih dari empat tahun dan menjelang gigi permanen tumbuh. Sebab, membiarkan anak terus melakukannya berpotensi besar memengaruhi kesehatan gigi dan mulut mereka. Dampak Mengisap Jari pada Perkembangan Gigi dan Mulut Lebih jauh, masalah kesehatan gigi dan mulut yang muncul jika kebiasaan mengisap jari berlanjut melampaui masa balita, terutama ketika gigi permanen mulai tumbuh, cukup banyak. Hal ini karena adanya tekanan konstan dari ibu jari pada gigi dan rahang yang sedang tumbuh. Menurut Department of Health, State Government of Victoria, Australia, risiko-risiko tersebut adalah sebagai berikut: American Academy of Pediatrics (AAP) menyarankan tindakan medis dini untuk anak-anak yang melanjutkan kebiasaan thumb suckingsetelah usia lima tahun. Namun, kini dokter gigi lebih merekomendasikan untuk mulai mendorong penghentian kebiasaan tersebut sejak usia empat tahun. Strategi Efektif Menghentikan Kebiasaan Mengisap Jari Mengatasi kebiasaan mengisap jari membutuhkan kesabaran, dukungan, dan fokus pada penguatan positif, bukan hukuman. Tekanan untuk berhenti justru semakin membuat anak-anak kesulitan. Berikut ini strategi sederhana tapi jitu yang dapat Anda praktikkan untuk menghilangkan kebiasaan thumb sucking secara perlahan. 1. Penguatan Positif (Positive Reinforcement) Puji dan berikan hadiah kecil, seperti stiker bintang, ketika anak berhasil tidak mengisap jempol. Ini dapat menstimulasi rasa bangga karena melakukan tindakan yang benar dan lambat laun membuat mereka terbiasa. 2. Identifikasi Pemicu Perhatikan periode waktu anak mengisap jari. Apakah saat fokus menonton atau merasa kelelahan? Identifikasi penyebab kebiasaan tersebut muncul, lalu berikan kenyamanan alternatif seperti memegang benda lain dan pelukan. 3. Distraksi Libatkan dengan kegiatan yang membutuhkan dua tangan, seperti mewarnai, bermain puzzle, olahraga, atau membuat kerajinan tangan. Ketika mereka sibuk dan berkonsentrasi pada aktivitas lain yang cukup menyita fokus dan menguras tenaga, perhatian mereka jadi teralihkan dari kebiasaan thumb sucking. Ketika anak menunjukkan penurunan frekuensi tingkah laku mengisap jari melalui tindakan-tindakan di atas, Anda tidak perlu khawatir karena perlahan mereka akan berhenti secara total. Namun, jika rangkaian strategi tersebut tidak berhasil, maka ada dua tenaga profesional yang perlu Anda datangi, yaitu: Mengisap Jari, Refleks Alami yang Perlu Dibatasi Secara teoritis, thumb sucking merupakan refleks alami manusia, terutama pada anak-anak di masa awal perkembangan mereka. Mengisap jari bisa menjadi bentuk komunikasi ketika lapar, merasa tidak nyaman dengan suhu, dan semacamnya. Namun, penting untuk membatasinya hanya sampai usia empat tahun. Membiarkannya berlangsung saat periode pertumbuhan gigi permanen dapat memicu banyak gangguan kesehatan gigi dan mulut. Mulai dari tonggos, gigi silang, hingga masalah pelafalan tidak sempurna. Selain dukungan medis dan dukungan orang tua, mengalihkan fokus dengan aktivitas fisik patut Anda coba. Anak bisa bergabung kelas olahraga di Spark Sports Academy yang memiliki kurikulum khusus dan dukungan pelatih profesional yang berpengalaman. Ada kelas sensory, futsal, taekwondo, balet, dan lainnya yang siap mengambil alih fokus dan energi anak agar melupakan kebiasaan mengisap jari.
Apa Arti Social Withdrawal? Penyebab dan Cara Mengatasinya
Anak usia dini umumnya memiliki energi melimpah dan rasa ingin tahu yang tinggi. Namun, pada beberapa kasus, beberapa anak justru memilih menyendiri, enggan bermain, atau tampak menarik diri dari lingkungan sekitar. Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai social withdrawal. Ini adalah kecenderungan seseorang untuk menjauh dari interaksi sosial dalam jangka waktu tertentu. Fenomena ini semakin banyak terlihat, terutama sejak pandemi yang membatasi aktivitas sosial anak. Lantas, bagaimana cara membantu si kecil bisa kembali percaya diri dan aktif bersosialisasi? Cari tahu di sini! Key Takeways: Apa Itu Social Withdrawal pada Anak? Melansir ScienceDirect (2022), social withdrawal merupakan kondisi di mana seseorang secara aktif menjauh dari hubungan sosial, bahkan ketika ia sebenarnya membutuhkan kehadiran orang lain.Pada anak, kondisi ini terlihat saat mereka mulai menjauh dari interaksi sosial dan menunjukkan kecenderungan untuk menghabiskan waktu sendirian. Anak biasanya akan lebih memilih berdiam di kamar atau tempat yang sepi ketimbang bermain atau beraktivitas bersama teman-temannya. Jika kondisi seperti ini dibiarkan terus-menerus, dampaknya bisa merembet pada perkembangan sosial anak, kemampuan berkomunikasi, serta menurunnya rasa percaya diri. Kondisi ini umumnya tidak muncul tiba-tiba, dan ada akar emosional di baliknya, seperti rasa takut akan penolakan, pengalaman buruk, hingga tekanan dari lingkungan yang terlalu menuntut. Karena belum mampu mengungkapkan, satu-satunya cara bertahan adalah dengan menarik diri dari keramaian. Penyebab Social Withdrawal pada Anak Kondisi menarik diri bisa dipicu oleh banyak sekali faktor, baik internal maupun eksternal. Berikut beberapa penyebab umumnya. 1. Bullying atau Pengalaman Negatif Melansir jurnal Annual Review of Psychology, menarik diri merujuk pada kondisi anak yang mengisolasi dirinya sendiri dari teman sebayanya. Pada umumnya, ini terjadi karena faktor internal, seperti rasa rendah diri, anxiety, dan kemampuan sosial yang rendah. Namun, terdapat pula beberapa kasus di mana anak menarik diri karena mereka dikucilkan atau active isolation. Akhirnya, anak yang pernah diejek, dikucilkan, atau mengalami konflik dengan teman akan cenderung menciptakan jarak dengan lingkungan sosial. Mereka pun merasa bahwa dunia luar “tidak aman”. 2. Kurang Percaya Diri Beberapa anak menarik diri karena merasa minder, takut salah, takut diejek, atau merasa tidak mampu bersosialisasi. Masalah kepercayaan diri ini sering kali tidak terlihat secara langsung, tetapi akan sangat memengaruhi perilaku sosial mereka. 3. Pola Asuh Terlalu Protektif Anak yang dibesarkan dengan aturan ketat dan pengawasan berlebihan cenderung kesulitan membangun kemandirian sosial. Mereka bisa merasa canggung ketika harus berinteraksi tanpa kehadiran orang tua dan berakhir melakukan social withdrawal. 4. Terlalu Banyak Screen Time Penggunaan gawai secara berlebihan dapat menggantikan aktivitas sosial anak. Semakin lama anak terpaku pada layar, semakin sedikit pula kesempatan mereka untuk berlatih bersosialisasi dan berinteraksi secara nyata. 5. Lingkungan yang Tidak Mendukung Beberapa anak tumbuh di lingkungan yang minim interaksi sebaya. Di mana mereka tidak memiliki tempat aman untuk bermain atau tidak terbiasa berkomunikasi secara terbuka. Akibatnya, mereka merasa sosialisasi adalah hal yang asing. 6. Masalah Emosional atau Perubahan Besar Perubahan juga dapat memicu sikap menarik diri. Misalnya pertengkaran keluarga, perubahan sekolah, pindah rumah, kehilangan orang terdekat, atau tekanan akademik. Hal tersebut dapat membuat anak memilih untuk menutup diri dari lingkungan. Cara Mengatasi Social Withdrawal pada Anak Kabar baiknya, sikap menarik diri bisa diatasi, terutama jika terdeteksi sejak dini. Berikut beberapa langkah yang bisa Anda lakukan. 1. Jangan Paksa dan Bangun Komunikasi Hangat Mengutip laman Siue, mendorong atau memaksa anak untuk bergabung dalam satu kelompok justru, terutama pada anak pemalu, dapat membuatnya tertekan, menangis, merasa direndahkan, atau memiliki dendam pada orang tua. Karena itu, biarkan mereka melakukannya secara perlahan sesuai dengan kecepatannya sendiri. Jika memang tidak mau, coba dengarkan dulu tanpa menghakimi. Tanyakan apa yang membuatnya takut atau tidak nyaman saat bersosialisasi. Anak yang mendapat dukungan dan merasa aman cenderung akan lebih mudah untuk kembali terbuka. 2. Ciptakan Kesempatan Interaksi Kecil dan Bertahap Ajak anak berinteraksi dalam lingkungan kecil terlebih dahulu, seperti bermain dengan satu atau dua teman dekat. Jangan langsung memaksa masuk ke lingkungan besar atau mengenalkannya ke banyak orang agar ia tetap merasa nyaman. 3. Beri Pujian atas Usaha Kecilnya Setiap langkah kecil seperti berani menyapa teman atau mau ikut bermain bersama adalah prestasi besar bagi anak yang sedang berjuang. Karena itu, orang tua wajib memberikan apresiasi dan pujian. Apresiasi juga dapat meningkatkan keberanian dan semangat mereka. Sudah Tahu Cara Mengatasi Social Withdrawal pada Anak? Peran orang dewasa, terutama orang tua, sangat penting dalam memahami perubahan terkecil sekalipun dalam perilaku anak. Jika sikap social withdrawal berlangsung lama hingga berminggu-minggu, Anda juga bisa mencari bantuan profesional sebelum terlambat. Selain itu, Anda bisa mencari cara alternatif untuk mendukung perkembangan sosial dan mental anak secara positif di Spark Sports Academy. Bukan hanya sekadar tempat latihan olahraga, Spark Sports Academy menyediakan lingkungan yang aman dan suportif untuk membantu si kecil membangun kepercayaan diri. Dengan metode coaching yang ramah, instruktur berpengalaman, serta aktivitas kelompok yang menyenangkan, anak dapat belajar berkembang secara sehat tanpa rasa tertekan. Ayo, book kelas trial untuk merasakan manfaatnya!
