Apakah anak Anda tampak sulit memahami perasaan temannya, kurang peka terhadap situasi sosial, atau bahkan tidak menyadari bahwa perkataannya menyakiti orang lain? Fenomena ini bukan semata-mata karena si kecil nakal atau kurang sopan, melainkan bisa disebut dengan empathy lag. Mari mengenal penyebab dan cara mengatasinya! Key Takeways: Apa Itu Empathy Lag? Secara umum, kesenjangan empati, empathy lag, atau empathy gap adalah kecenderungan atau ketidakmampuan mengenali dan merespons perasaan orang lain. Pada anak-anak, kondisi ini terjadi karena mereka mengalami keterlambatan dalam memahami, merasakan, atau merespons emosi orang lain. Dilansir dari Masterclass, seseorang dengan kesenjangan empati akan sulit membaca ekspresi wajah atau bahasa tubuh. Mereka tidak menyadari bahwa temannya sedih atau kesal, kurang bisa menempatkan diri pada posisi orang lain, bahkan memberikan respons emosi dengan cara yang tampak “dingin”. Mengutip Frontiers, manusia pada dasarnya lahir dengan kemampuan empati dasar, namun kemampuan ini tidak berkembang otomatis, anak tetap membutuhkan interaksi sosial untuk mengembangkannya. Karena itu, kondisi ini dapat menjadi sinyal bahwa anak membutuhkan bimbingan ekstra untuk mengembangkan kecerdasan emosinya. Mengapa Empathy Lag Terjadi pada Anak? Tidak ada satu penyebab tunggal untuk kondisi ini, sebab kesenjangan empati biasanya muncul dari kombinasi beberapa faktor. Berikut beberapa hal yang paling sering memengaruhinya. 1. Kurang Interaksi Sosial Langsung Anak zaman sekarang lebih banyak berinteraksi melalui layar daripada tatap muka. Padahal, empati berkembang melalui kontak manusia nyata, misalnya seperti melihat ekspresi wajah, mendengar intonasi suara, dan merasakan suasana. Ketika interaksi nyata berkurang, kemampuan membaca emosi orang lain pun akan melemah. 2. Overstimulasi Digital Mengonsumsi konten digital berlebihan dapat membuat anak terbiasa dengan respons cepat dan visual yang intens. Akhirnya, emosi manusia yang kompleks akan terasa “membosankan” bagi otak yang sudah terbiasa dengan stimulasi tinggi. Ini juga bisa mengurangi sensitivitas anak terhadap nuansa perasaan. 3. Kurangnya Role Model Anak akan belajar empati melalui contoh. Jika lingkungan rumah jarang memperlihatkan cara berkomunikasi yang hangat, penerimaan perasaan, atau saling memahami, anak kesulitan meniru perilaku empatik. Karena itu, pola asuh yang orang tua terapkan akan sangat berpengaruh pada kondisi empathy lag pada anak. Melansir National Library of Medicine, orang tua yang menerapkan authoritative parenting memiliki anak yang dapat mengekspresikan lebih banyak empati. Sebab, pola pengasuhan ini lebih hangat dan penuh dukungan, serta mendorong komunikasi dua arah. Sehingga, anak memiliki kemampuan untuk memahami sudut pandang orang lain. 4. Tekanan Emosional Berlebih Ketika anak sedang stres, cemas, atau kelelahan, otak mereka fokus pada kebutuhan diri sendiri, bukan orang lain. Kondisi emosional tertentu sendiri memang dapat menurunkan kapasitas empati secara sementara. 5. Perbedaan Pola Perkembangan Beberapa anak memang berkembang sedikit lebih lambat dari anak lain dalam aspek sosial-emosional. Ini bukan kelainan dan Anda sebaiknya tidak memberikan label buruk pada anak, justru ini merupakan variasi perkembangan yang bisa diperbaiki dengan stimulasi yang tepat dan konsisten. Cara Mengatasi Empathy Lag pada Anak Berita baiknya, empati merupakan keterampilan yang bisa dikembangkan, bukan sifat bawaan yang tidak bisa diubah. Agar kepekaan perasaan pada anak Anda bisa berkembang, cobalah melakukan pendekatan di bawah ini. 1. Ajarkan Anak Mengenali Emosinya Sendiri Empati bermula dari kemampuan memahami emosi diri. Anda bisa membantu dengan mengajari anak mengenali berbagai macam emosi dengan memberikan pengertian dan alasan. Contohnya seperti, “Kamu sedang marah ya, karena kita ga jadi beli es krim? Papa ngerti kamu marah dan kecewa, tapi kamu lagi pilek.” 2. Biasakan Komunikasi yang Hangat Beri contoh melalui percakapan sehari-hari. Anda harus pastikan Anda sudah memenuhi setiap kebutuhan emosional anak. Serta tunjukkan bagaimana Anda merespons dengan empati agar anak belajar melalui interaksi rutin. Tentu saja, setiap percakapan bisa Anda lakukan dengan tenang. Misalnya seperti “Mama ngerti kalo kamu sedih, tapi mama jad cemas. Ayo, anak cantik jangan cemberut terus.” atau “Ayah paham kamu sedang marah, tapi yang kamu lakukan tadi buat buat teman kamu sedih. Kamu nggak mau lihat teman sedih, kan?” 3. Gunakan Cerita atau Film sebagai Alat Latihan Empati Anda juga dapat menggunakan cerita atau film untuk mengatasi empathy lag pada anak. Misalnya dengan mengajukan pertanyaan sederhana tentang perasaan yang sedang digambarkan para tokoh. Misalnya seperti “Menurut kamu, dia sedang sedih atau senang?”. Cara ini akan melatih kemampuan membaca emosi tanpa tekanan. 4. Validasi Perasaan Orang Lain di Hadapan Anak Ketika Anda menunjukkan empati pada anggota keluarga lain, anak akan meniru pola tersebut. Misalnya saat kerabat sedang bersedih, Anda bisa membantu menenangkannya di depan anak, sehingga ia akan mencontohnya. Sudah Tahu Apa Itu Empathy Lag? Kesenjangan empati bukan sesuatu yang harus ditakuti, tetapi perlu dipahami dan ditangani dengan pendekatan tenang dan penuh kesabaran. Lewat dukungan dari orang tua, lingkungan belajar, serta kesempatan untuk terlibat dalam interaksi sosial positif, empati anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Jika mencari tempat yang bisa membantu anak mengembangkan empati sekaligus kemampuan sosialnya, Spark Sports Academy pun bisa menjadi pilihan. Melalui pendekatan pembelajaran berbasis olahraga dan aktivitas fisik, anak belajar bekerja dalam tim, mengelola emosi, dan membaca dinamika kelompok. Lingkungan yang positif, pelatih yang suportif, dan suasana yang mendorong kerja sama akan membuat anak berkembang tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional. Ayo, berikan bekal untuk masa depannya dengan memilih lingkungan pendidikan terbaik untuk anak!
Ciri Sleepwalking pada Anak, Penyebab, dan Cara Mengatasinya
Pernah mendapati anak berjalan sambil tidur di malam hari? Kondisi ini disebut sleepwalking atau tidur berjalan. Menurut The Royal Children’s Hospital Melbourne, tidur berjalan merupakan kondisi umum pada anak dan hampir sepertiga anak pernah mengalami gangguan ini pada suatu tahap perkembangan mereka. Meski bukan pertanda gangguan serius, jika tidak diatasi dengan baik bisa menimbulkan risiko buruk seperti cedera, gangguan kualitas tidur, hingga memengaruhi perkembangan emosional dan perilaku sehari-harinya. Oleh sebab itu, pahami ciri-ciri, penyebab, hingga cara mengatasinya. Key takeaway: Ciri-ciri Sleepwalking pada Anak Gangguan ini paling sering terjadi pada anak usia 4 hingga 8 tahun, dengan beberapa tanda umum sebagai berikut: Penyebab Tidur Berjalan Beberapa hal dapat memicu sleepwalking pada anak, mulai dari stres dan kecemasan; faktor genetik; penggunaan obat atau zat tertentu seperti penenang atau antihistamin; hingga kondisi lingkungan seperti kebisingan, suhu, atau cahaya terang yang mengganggu tidur. Selain itu, kelelahan, kurang tidur, dan demam juga bisa memicu tidur berjalan karena dalam kondisi tersebut otak kesulitan bertransisi dengan baik antara tahap tidur dan sadar, sehingga gangguan ini bisa terjadi. Apa yang Perlu Dilakukan saat Anak Sleepwalking? Saat anak mengalami tidur berjalan, Anda bisa melakukan beberapa langkah berikut untuk menjaga keselamatan mereka. Tips Mencegah Sleepwalking pada Anak Meskipun tidur berjalan bukan gangguan serius, orang tua tetap perlu mencegah dan mengobati kondisi ini. Berikut beberapa langkah pencegahan tidur berjalan yang bisa Anda lakukan. Jaga Kualitas Tidur dan Tumbuh Kembang Anak Bersama Sparks Sports Academy! Sleepwalking pada anak umumnya tidak berbahaya, tetapi tetap perlu diperhatikan karena berisiko menimbulkan cedera. Faktor genetik, kelelahan, demam, dan lingkungan tidur yang tidak nyaman bisa memicu gangguan ini. Pencegahan sederhana, seperti menciptakan rutinitas tidur yang konsisten, kamar tidur yang tenang dan nyaman, serta menghindari kafein bisa sangat membantu. Selain itu, melakukan aktivitas fisik yang tepat dan menyenangkan bisa membantu meningkatkan kualitas tidur anak. Dalam hal ini, Sparks Sports Academy hadir dengan program olahraga seru dan terstruktur yang tidak hanya mengasah kemampuan fisik, kognitif, dan sosial emosional anak, tetapi juga menanamkan disiplin dan kebiasaan sehat untuk mendukung tidur yang lebih berkualitas. Di sini, kelas dibagi dalam empat kelompok usia, yaitu Baby (12-23 bulan), Tiny (24-35 bulan), Little (3-4 tahun), dan Kids (5-7 tahun), dengan setiap aktivitas disesuaikan dengan perkembangan dan kebutuhan anak. Beberapa pilihan kelas yang tersedia meliputi gymnastics, dance, ballet, basketball, taekwondo, sensory & phonics, multisport, dan futsal. Dengan beragam aktivitas seru tersebut, Sparks Sports Academy adalah tempat paling tepat untuk Anda yang ingin mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh, sekaligus membantu mereka memiliki tidur yang lebih berkualitas. Untuk booking kelas, kunjungi website Sparks Sports Academy sekarang!
Gejala Enuresis pada Anak, Penyebab, dan Cara Mengatasi
Enuresis atau yang juga disebut dengan mengompol adalah salah satu kondisi umum yang terjadi pada anak, khususnya yang berusia di bawah 7 tahun. Meski sering dipandang sepele dan dianggap akan hilang sendiri, penelitian menunjukkan bahwa kondisi ini bisa mempengaruhi kepercayaan diri dan kesehatan mental anak. Lantas, bagaimana cara untuk mengatasi kondisi ini? Ulasan berikut akan menjelaskannya secara detail untuk Anda. Key Takeaways: Apa Itu Enuresis? Enuresis adalah kondisi berulangnya pengeluaran urine secara tidak sengaja yang umumnya terjadi pada anak berumur di bawah 7 tahun, seperti saat tidur di malam hari atau saat terjaga. Hal yang menarik, beberapa kasus menunjukkan bahwa kondisi ini juga bisa terjadi pada remaja atau dewasa, meskipun memang jauh lebih jarang. Dalam dunia medis, kondisi mengompol ini juga bisa dibedakan menjadi dua jenis, yaitu: Penyebab Enuresis Penyebab kondisi ini pada dasarnya tidak tunggal. Ada berbagai macam faktor yang bisa menjadi penyebabnya, baik fisik atau psikologis. Berikut adalah beberapa faktor yang paling umum menjadi penyebabnya. 1. Faktor Genetik Jika salah satu atau kedua orang tua pernah mengalami kondisi ini saat masih kecil, maka kemungkinan anak mengalami hal serupa juga akan meningkat. Ada cukup banyak penelitian yang menunjukkan korelasi kuat antara mengompol dengan riwayat keluarga, salah satunya penelitian dari Fritz dan Rockney (2004). 2. Kandung Kemih Belum Berkembang Optimal Pada beberapa kasus, kandung kemih anak berkembang lebih lambat ketimbang usianya. Hal tersebut menyebabkan kapasitas urine menjadi lebih kecil atau respon saraf yang belum sepenuhnya berfungsi optimal dalam memberikan sinyal pengeluaran urine. 3. Produksi Urine Berlebih Beberapa anak juga bisa menghasilkan urine lebih banyak karena faktor ADH (Antidiuretik). Di mana hormon yang berfungsi untuk mengurangi produksi urine saat tidur belum terbentuk optimal. 4. Stress Emotional Enuresis juga bisa terjadi karena faktor stres dan kecemasan pada anak. Contohnya karena konflik keluarga, tekanan dari orang tua, dan perubahan lingkungan. 5. Gangguan Tidur Anak dengan kondisi ini cenderung memiliki pola tidur sangat dalam atau sulit terbangun (deep sleep). Hal tersebut membuat mereka tidak bisa merespon sinyal ketika kandung kemih penuh. Gejala Enuresis Selain mengompol, umumnya ada beberapa gejala lain yang mengiringi kondisi ini. Berikut di antaranya. Cara Mengatasi Enuresis pada Anak Penanganan kondisi ini pada dasarnya membutuhkan pendekatan lembut dan konsisten. Berikut adalah beberapa langkah penanganannya. 1. Mengatur Konsumsi Cairan Mengatur konsumsi cairan bisa menjadi solusi mengatasi kondisi mengompol pada anak. Cobalah untuk mengatur agar konsumsi cairan anak hanya banyak di siang hari dan menguranginya pada malam hari, terlebih saat mendekati jam tidur. 2. Menerapkan Toilet Training Toilet training pada dasarnya adalah proses untuk melatih anak agar terbiasa buang air kecil dan besar di toilet secara mandiri. Dalam penerapannya, orang tua bisa memotivasi anak untuk buang air kecil secara teratur sebelum tidur. Namun, pastikan juga untuk menerapkan metode atau pelatihan ini tanpa paksaan. 3. Gunakan Alarm Alarm enuresis ini memiliki fungsi untuk mengecek kelembaban dan secara otomatis membangunkan penggunanya saat mereka mulai mengompol. Penggunaan alarm terbukti efektif membantu otak anak belajar untuk merespon sinyal pengeluaran urine dari kandung kemih. 4. Bladder Training Latih anak untuk buang air kecil (berkemih) dengan jeda waktu yang lebih panjang. Latihan ini akan membantu meregangkan ukuran kandung kemih, sehingga anak bisa terbiasa menahan buang air kecil lebih lama. 5. Hindari Minuman yang Mengiritasi Kandung Kemih Minuman dengan kadar gula tinggi, kafein, dan berkarbonasi bisa merusak saraf yang mengendalikan kandung kemih. Selain itu, jenis minuman tersebut bisa membuat ginjal bekerja lebih keras, sehingga produksi urine akan meningkat. Sudah Memahami Apa Itu Enuresis? Selain cara dia tas, ternyata ada cara lain yang bisa dicoba, yaitu aktivitas fisik. Hingga hari ini, masih sedikit yang mengetahui bahwa aktivitas fisik secara tak langsung bisa membantu menangani enuresis. Pasalnya, aktivitas seperti berolahraga bisa menguatkan otot dasar panggul, sehingga meningkatkan kontrol pengeluaran urine. Selain itu, aktivitas fisik juga bisa meningkatkan kualitas tidur, membuat emosi lebih stabil dan meningkatkan kemampuan fokus anak. Spark Sports Academy pun dapat menjadi pilihan tempat yang bisa memfasilitasi aktivitas fisik tersebut. Kami menyediakan berbagai program olahraga terstruktur yang dirancang untuk meningkatkan ketahanan fisik, koordinasi motorik, dan disiplin anak. Melalui pendekatan yang ramah, instruktur profesional, dan lingkungan positif, anak akan tumbuh lebih percaya diri. Tertarik untuk mendaftarkan si buah hati?
Memahami Night Terror pada Anak, Penyebab dan Cara Menanganinya
Night terror yang terjadi pada anak sering kali membuat orang tua panik. Pasalnya, saat kondisi ini terjadi, anak akan berteriak, ketakutan, bahkan menangis. Lebih parahnya, ini terjadi selama beberapa menit dan setelahnya mereka tidak ingat kejadian tersebut. Meskipun situasi seperti ini tidak tergolong berbahaya, namun bisa mengganggu kualitas tidur maupun perkembangan emosional anak, sehingga tetap memerlukan perhatian khusus. Pada artikel ini akan diuraikan penyebab serta cara efektif untuk menanganinya sehingga dampak negatif tersebut bisa dihindari. Key takeaway: Apa itu Night Terror? Menurut Stanford Medicine Children’s Health, night terror atau teror malam merupakan suatu kondisi di mana seseorang setengah terbangun dari tidurnya dan menunjukkan perilaku seperti mengigau, bergumam, menendang, panik, berjalan dalam tidur, hingga berteriak. Teror ini paling sering terjadi pada anak-anak di usia 4 hingga 12 tahun. Adapun ciri umum lainnya saat anak mengalami gangguan ini antara lain: Penyebab Night Terror pada Anak Menurut Children’s Hospital Colorado, night terror bersifat turunan, artinya dapat diwariskan dari orang tua ke anaknya dan cenderung terjadi dalam satu keluarga. Selain itu, gangguan ini juga bisa terjadi karena kelelahan berlebih pada anak. Beberapa kasus juga menyebutkan bahwa gangguan tidur lain seperti obstructive sleep apnea bisa menjadi pemicu teror malam. Beberapa pemicu lainnya antara lain paparan kafein, konsumsi obat-obatan tertentu, demam, kurang tidur, stres, gangguan pernapasan, migrain, cedera kepala, dan tidur di lingkungan baru. Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua Ketika Anak Mengalami Night Terror? Jika anak Anda mengalami gangguan ini, jangan panik. Berikut beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk menanganinya dengan aman dan efektif. Cara Mencegah Night Terror pada Anak Gangguan ini dapat Anda atasi dengan beberapa langkah pencegahan yang tepat. Adapun cara untuk mencegahnya, antara lain: Wujudkan Tidur Anak yang Berkualitas! Night terror pada anak memang bukan kondisi yang berbahaya, namun tetap memerlukan perhatian khusus agar tidak mengganggu kualitas tidur dan perkembangan emosional mereka. Menerapkan rutinitas tidur yang konsisten, menciptakan suasana tidur yang nyaman, serta memastikan anak cukup istirahat merupakan langkah penting untuk mencegah terjadinya gangguan ini. Selain itu, penting juga untuk menjaga keseimbangan antara aktivitas fisik dan waktu istirahat untuk menjaga kualitas tidur anak. Dalam hal ini, Sparks Sports Academy hadir membantu Anda mewujudkannya melalui berbagai program olahraga dan aktivitas fisik yang menyenangkan bagi anak. Setiap program dirancang khusus untuk menstimulasi tujuh indra anak dan mengembangkan kemampuan penting, seperti language communication, gross motor skill, social emotional skill, cognitive skill, hingga fine motor skill. Dengan pendekatan ini, anak tidak hanya aktif secara fisik, tetapi juga berkembang secara emosional dan sosial. Sparks Sports Academy menawarkan berbagai kelas menarik, mulai dari Gymnastic, Sensory & Phonics, Multisport, Dance, Ballet, Taekwondo, Basketball, hingga Futsal, yang dapat disesuaikan dengan minat dan kebutuhan anak. Didukung juga dengan fasilitas modern seperti lapangan indoor, studio tari luas, serta pelatih yang sabar dan responsif. Jadi, bersama Sparks Sports Academy, Anda tidak hanya akan memperbaiki kualitas tidur mereka, tetapi juga membentuk rutinitas sehat sekaligus mendukung tumbuh kembang mereka secara keseluruhan. Untuk booking kelas, langsung hubungi Sparks Sports Academy sekarang juga!
Mengenal Impulsivity, Contoh Perilaku, dan Cara Menanganinya
Anak Anda tiba-tiba melempar mainan saat marah, berlari tanpa arah di tempat umum, atau menjawab sebelum pertanyaan selesai? Kemungkinan besar, mereka sedang menunjukkan perilaku impulsivity, yaitu tindakan spontan tanpa berpikir panjang. Mengutip WebMD, perilaku impulsif pada anak-anak dan remaja sebenarnya cukup umum dan normal, terutama karena otak masih berkembang. Namun, jika muncul terlalu sering, hal ini dapat memengaruhi hubungan sosial dan emosi, serta bisa menjadi tanda adanya kondisi tertentu. Agar tidak salah paham, mari simak ulasannya! Key Takeways: Apa Itu Impulsivity? Perilaku impulsif atau impulsivity pada anak adalah kecenderungan bertindak dengan cepat tanpa mempertimbangkan akibatnya. Banyak orang pun melabeli anak impulsif sebagai ‘nakal’. Namun, melansir Parents, ini adalah bagian dari fase tumbuh kembang karena area otak yang mengatur kontrol diri (prefrontal cortex) belum matang. Anak yang impulsif sendiri sering bertindak berdasarkan dorongan sesaat. Misalnya ketika mereka merasa senang, mereka akan berlari atau berteriak spontan. Lalu, ketika merasa frustasi, mereka akan melempar barang. Impulsivitas pada anak juga sangat umum, terutama pada usia 2-7 tahun. Namun, pada sebagian anak, perilaku ini bisa lebih kuat, terutama pada mereka yang memiliki sensitivitas sensorik tinggi, kesulitan fokus, atau indikasi gangguan perkembangan seperti ADHD. Contoh Anak yang Impulsif Mengenali tanda-tanda impulsivity dapat membantu Anda memahami pola perilaku anak. Berikut beberapa contoh perilaku impulsif yang mungkin sering anak lakukan di rumah maupun sekolah. 1. Sulit Menunggu Giliran Anak cepat merasa tidak sabar ketika harus menunggu, misalnya saat bermain atau mengantre. Mereka pun cenderung berisik untuk memaksa mempercepat antrian atau membuat kerusuhan. Mengutip laman Understood, anak impulsif juga akan melakukan tindakan konyol untuk mendapat perhatian dan bersikap agresif pada anak lain. 2. Bertindak Tanpa Memikirkan Resiko Anak akan melakukan hal-hal dapat membahayakan diri mereka sendiri tanpa berpikir panjang. Misalnya berlari tiba-tiba ke jalan, memanjat tinggi tanpa takut jatuh, atau meraih benda panas. Mereka melakukannya dengan spontan karena keinginan, tapi tidak memperhatikan atau memahami konsekuensi dari tindakan yang mereka lakukan. 3. Meledak-ledak secara Emosional Tindakan impulsivity pada anak juga dapat terlihat saat mereka marah. Di mana mereka akan menangis dengan kencang, memukul barang atau orang disekitarnya, hingga melempar benda-benda. 4. Menyela Pembicaraan Anak-anak dengan tingkat impulsivitas yang tinggi kerap kali memotong atau menyela pembicaraan orang lain. Bukan karena tidak menghargai lawan bicaranya, hanya saja mereka didorong keinginan untuk segera menyampaikan apa yang ada di pikiran. Mereka juga tidak memahami apakah tindakan mereka akan memengaruhi orang lain. 5. Kesulitan Mengontrol Gerakan Anak dengan impulsivitas tinggi, tampak memiliki energi yang berlimpah. Akhirnya, mereka cenderung sulit diam, enggan mendengarkan, selalu tergesa-gesa, dan ingin cepat-cepat pindah pada aktivitas lain. Cara Menangani Impulsivity Melansir Early Childhood Research Quarterly, anak dengan tingkat impulsivitas tingga cenderung mengalami penolakan dari teman sebayanya, di mana ini akan berdampak buruk di masa remaja dan dewasanya. Lantas, cara apa yang efektif dan realistis untuk membantu anak mengembangkan kontrol diri? Berikut penjabarannya. 1. Ajarkan Jeda Anda bisa mengajarkan anak waiting game untuk mengontrol perilaku impulsif mereka dan mengajarkan kesabaran. Misalnya, saat Anda menanyakan sesuatu, ajarkan anak untuk menunggu setidaknya 5 detik sebelum menjawab. 2. Tumbuhkan Kesadaran Diri Pada umumnya, anak tidak sadar bahwa mereka telah bertindak impulsif. Karena itu, Anda bisa memberitahu anak ketika mereka melakukan tindakan impulsif atau terburu-buru dengan tenang dan sabar. 3. Berikan Perhatian dan Apresiasi Impulsivity pada anak juga dapat Anda kendalikan lewat pujian atau apresiasi. Misalnya memberikan pujian dan pengakuan saat anak berhasil melakukan hal yang Anda dorong, seperti menunggu beberapa detik sebelum menjawab. Anda juga dapat menunjukkan bagaimana dampak perilaku tersebut terhadap perasaan orang lain. 4. Dukung Anak Melakukan Aktivitas Fisik Dorong anak Anda melakukan aktivitas fisik atau bermain di luar rumah. Tujuannya agar mereka dapat menggerakkan badan dengan berlari, melompat, dan lainnya. Hal tersebut akan mengarahkan energi anak pada hal yang lebih positif daripada tindakan impulsif yang tidak sesuai atau berbahaya. Sudah Memahami Apa Itu Impulsivity pada Anak? Mengontrol impulsivity memang tidak selalu mudah, namun setiap langkah kecil yang Anda lakukan dapat membawa perubahan besar. Selain itu, Anda juga dapat mendukung anak beraktivitas fisik yang dapat meningkatkan kontrol diri. Anda pun bisa mengandalkan Spark Sports Academy Sebab, lingkungan belajar di Sparks Sports Academy dirancang khusus bagi anak agar tumbuh lebih percaya diri dan aktif. Terlebih terdapat kelas gymnastics, multisport, hingga sensory program dengan sesi yang dibuat interaktif dan penuh stimulasi agar anak dapat mengelola energi serta emosinya dengan lebih baik. Tertarik mendaftarkan si kecil?
