Lewati ke konten
Sparks Sports Academy Logo
5 Tanda Anak Memiliki Attention-Seeking Behavior

5 Tanda Anak Memiliki Attention-Seeking Behavior

Parenting

Dalam kehidupan sehari-hari, Anda mungkin pernah bertemu seseorang yang selalu ingin diperhatikan. Mulai dari cara bicara yang dibuat-buat, mencari drama kecil, hingga sering pamer demi mendapatkan respons dari orang di sekitarnya. Perilaku tersebut dikenal dengan istilah attention-seeking behavior.  Tentu saja, perilaku ini juga dapat terjadi pada anak dan merupakan bagian dari masa kanak-kanak. Namun, umumnya, anak melakukan hal ini karena mereka belum mampu menyampaikan emosi dan keinginannya. Lantas, bagaimana jika perilaku tersebut sudah berlebihan? Bagaimana cara mengatasinya? Simak di sini! Key Takeways: Apa Itu Attention-Seeking Behavior? Dilansir dari laman Verywellmind, attention-seeking behavior atau yang kerap dipanggil dengan “tukang cari perhatian” adalah perilaku di mana seseorang berusaha keras mendapatkan perhatian, pengakuan, atau validasi dari orang lain. Pada anak-anak, perilaku ini sering kali menjadi bentuk komunikasi yang belum matang.  Anak mungkin tidak tahu cara menyampaikan keinginan, ketidaknyamanan, atau rasa cemburu sehingga mereka memperlihatkannya dalam bentuk perilaku yang “menuntut” perhatian. Penting pula untuk Anda pahami bahwa perilaku ini tidak selalu buruk atau berarti anak nakal.  Justru banyak anak melakukannya karena merasa kurang diperhatikan, ingin mendapat respons emosional tertentu, mengalami stres, atau sekadar ingin merasa dekat dengan orang tuanya. Jika dikelola dengan tepat, perilaku ini juga bisa berkurang seiring berkembangnya kemampuan anak dalam mengontrol emosi dan berkomunikasi. Tanda Anak dengan Attention-Seeking Behavior Apa saja tanda-tanda bahwa anak adalah pencari perhatian? Simak beberapa tanda berikut. 1. Anak Berlebihan saat Mengungkapkan Emosi Salah satu ciri paling umum adalah ekspresi emosi yang berlebihan. Anak bisa menangis kencang untuk hal kecil, pura-pura sedih, atau menunjukkan ekspresi dramatis agar Anda datang menghampiri. Mereka melakukan ini bukan semata-mata karena kesal, tetapi karena ingin memastikan Anda memberikan perhatian penuh. 2. Sering Menyela Pembicaraan Pernah tidak, saat Anda berbicara dengan orang lain, anak tiba-tiba memotong pembicaraan dengan suara keras, atau menunjukkan sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu penting? Ini bisa menjadi tanda bahwa anak membutuhkan validasi. Menyela adalah cara cepat untuk memastikan perhatian Anda kembali terfokus padanya.  3. Bertingkah “Nakal” Beberapa anak menunjukkan attention-seeking behavior dengan cara yang tampak negatif. Contohnya menumpahkan barang, memukul saudaranya, berteriak, atau melakukan sesuatu yang mereka tahu akan memancing reaksi. Bagi mereka, dimarahi tetap lebih baik daripada diabaikan.  4. Mengeluh Berlebihan atau Pura-Pura Sakit Ini adalah tanda yang cukup sering diabaikan. Anak bisa mengeluh sakit atau merasa tidak nyaman, terutama saat ia melihat orang tua sedang fokus pada pekerjaan lain atau sedang sibuk dengan adiknya. Keluhan seperti ini sering kali muncul sebagai strategi untuk mendapatkan perhatian emosional, bukan karena kondisi fisik serius. 5. Terus Memamerkan Diri atau Berusaha Menjadi Pusat Perhatian Anak yang sering memamerkan kemampuan, menuntut dipuji, atau berusaha menjadi pusat pembicaraan juga bisa menunjukkan tanda-tanda perilaku mencari perhatian. Mereka ingin mendapatkan pengakuan, tepuk tangan, atau reaksi positif dari orang-orang di sekitarnya. Bagaimana Cara Mengatasi Attention-Seeking Behavior Melansir AOC, perilaku mencari perhatian memang merupakan bagian dari perkembangan normal, namun pada kasus yang kronis, dukungan sangat diperlukan agar tidak terjadi tantangan sosial-emosional yang lebih serius. Berikut beberapa cara mengatasi anak yang memiliki kecenderungan mencari perhatian secara berlebihan. 1. Tunjukkan Perhatian dengan Cara yang Sehat Coba rasakan dan pahami dulu konteks perilakunya, tunjukkan empati dan berikan respons yang tenang serta konsisten. Ketika anak bersikap positif, puji dan beri apresiasi agar ia belajar bahwa perhatian bisa mereka peroleh lewat perilaku baik.  2. Ajak Anak Bicara Soal Emosi Banyak anak menunjukkan attention-seeking behavior karena belum mampu menyebutkan atau mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Karena itu, coba ajak mereka mengungkapkan emosi secara jujur dan perlahan, bantu anak menamai perasaannya.  3. Batasi Respons pada Perilaku Negatif yang Berlebihan Ketika perilaku mencari perhatian mereka lakukan dengan cara yang tak sehat, misalnya menangis keras atau membuat keributan, Anda bisa memberi respon minimal dan datar. Tujuannya untuk memberi tanda bahwa cara mereka mencari perhatian tidak berhasil. Bersikaplah tegas, namun jangan berikan tanggapan yang kasar. 4. Ajarkan Cara Mendapatkan Perhatian dengan Lebih Tepat Anda juga bisa memberi contoh sederhana, seperti mengangkat tangan ketika ingin berbicara atau mengucapkan “Ibu, boleh minta perhatian sebentar?” atau “Boleh minta peluk lebih dulu?”. Anda juga bisa memberi pujian saat anak melakukan cara yang tepat agar kebiasaan positif tertanam semakin kuat. Sudah Tahu Apa Itu Attention-Seeking Behavior? Meskipun istilah “tukang cari perhatian” sering mendapat stigma buruk, perilaku ini tidak secara inheren negatif. Terlebih, perhatian adalah kebutuhan dasar manusia. Namun, jika ingin mendukung tumbuh kembang emosi dan kemampuan sosial anak agar lebih mereka bisa mengelola dengan lebih baik, Spark Sports Academy bisa menjadi pilihan. Setiap kelas dan aktivitas ada untuk menumbuhkan kepercayaan diri secara natural tanpa harus “mencari perhatian” dari orang lain. Anda pun bisa melihat program lengkapnya melalui situs resmi dan mencoba promo free trial. Ayo, dukung anak untuk tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan penuh potensi!

05/12/2025 / Komentar Dinonaktifkan pada 5 Tanda Anak Memiliki Attention-Seeking Behavior
Baca Lebih Lanjut
Apa Itu Aggressive Behavior? Ciri dan Cara Menanganinya

Apa Itu Aggressive Behavior? Ciri dan Cara Menanganinya

Parenting

Melihat anak menunjukkan perilaku agresif seringkali membuat orang tua cemas, bingung, bahkan merasa gagal. Namun, sebelum Anda menyalahkan diri sendiri, sebaiknya pahami bahwa aggressive behavior pada anak bukan sekadar “nakal” atau “sulit diatur”.  Lebih dari itu, perilaku agresif muncul karena adanya dorongan emosional yang belum bisa dikelola dengan baik oleh anak. Mereka pun masih belajar mengenali emosi, memahami batasan, serta mencari cara untuk mengekspresikan diri. Lantas, bagaimana cara menanganinya? Simak selengkapnya di sini! Key Takeways: Apa Itu Aggressive Behavior pada Anak? Mengutip Jurnal Buah Hati (2024), perilaku agresif adalah luapan emosi yang ditunjukan dengan amarah atau kekerasan, biasanya diekspresikan melalui kata-kata ataupun tindakan kasar. Dalam perkembangan masa kanak kanak, perilaku ini sering terjadi karena kemampuan regulasi emosi yang belum matang.  Artinya, anak sebenarnya tidak bermaksud melukai siapa pun, mereka hanya belum tahu cara yang tepat untuk mengekspresikan emosi. Banyak penelitian dalam psikologi perkembangan juga menyebutkan bahwa agresivitas pada anak dapat dipicu oleh kombinasi faktor internal dan eksternal.  Beberapa faktor ini berupa pola asuh, trauma, lingkungan sosial, stres, hormon, hingga temperamen bawaan. Selain itu, menurut studi di Academic Pediatrics, paparan dari konten kekerasan juga berkaitan dengan meningkatkatnya perilaku agresif pada anak. Ciri Anak dengan Aggressive Behavior Lantas, kapan Anda perlu memberikan perhatian serius pada perilaku anak? Berikut beberapa ciri khas yang biasanya muncul. 1. Sering Bersikap Kasar Ketika anak marah atau frustrasi, ia dapat meluapkan emosinya melalui tindakan fisik atau perilaku kasar lainnya. Ini terjadi karena kemampuan menggunakan kata-kata untuk menggambarkan emosinya belum berkembang dengan baik. Dalam Bulletin of Kharkiv National University of Internal Affairs juga dijelaskan bahwa jenis sikap agresif anak dapat meliputi agresi fisik, verbal, dan emosional. Beberapa contoh perilakunya adalah membenci, mengejek, mengancam, menghina, memukul, hingga mendorong. 2. Mudah Marah dan Sulit Mengendalikan Emosi Anak bisa cepat marah hanya karena hal-hal sepele, seperti saat Anda nasihati atau ketika keinginannya tidak terpenuhi. Kondisi ini menunjukkan bahwa kemampuan mengatur diri (self-regulation) mereka masih berkembang.  3. Berkata Kasar atau Menghina Ciri aggressive behavior juga terlihat ketika anak mulai melontarkan ucapan yang menyakitkan. Entah karena meniru orang di sekitarnya atau memang itu adalah caranya meluapkan rasa kesal yang tak tersalurkan.  4. Tidak Mau Mengalah dan Cenderung Mendominasi Anak selalu ingin menang atau menjadi pusat perhatian, sering kali karena mereka merasa tidak aman atau takut kehilangan kontrol. Ini menunjukkan kebutuhan akan pengakuan, rasa percaya diri yang rendah, atau pola asuh yang terlalu permisif atau sebaliknya, terlalu otoriter. 5. Tidak Empati saat Melukai Orang Lain Kurangnya empati bukan berarti anak “tidak punya hati”, tapi lebih karena ia belum belajar memahami perasaan orang lain. Hal tersebut sering terjadi jika lingkungan tidak bisa memberi contoh empati atau anak mungkin terlalu sering mengalami tekanan emosional. Cara Menangani Aggressive Behavior pada Anak Menangani perilaku agresif membutuhkan kesabaran dan pendekatan yang tepat. Berikut beberapa strategi yang dapat Anda terapkan. 1. Tetap Tenang dan Konsisten Anak belajar dari respons Anda. Jika Anda ikut marah, mereka tentu akan meniru. Tetapi jika Anda tetap tenang, mereka akan belajar bahwa konflik bisa diselesaikan tanpa kekerasan. Sehingga, secara perlahan, anak akan meniru ketenangan Anda. 2. Ajak Anak Berbicara Setelah Tenang Setelah situasi mereda, berbicaralah secara lembut. Melansir Government of South Australia, anak-anak dengan aggressive behavior mungkin merasa bingung dan malu, namun mereka tidak memahami mengapa hal tersebut terjadi dan bagaimana cara menghentikannya.  Karena itu, coba tanyakan apa yang membuat mereka marah dan bantu cari alternatif respons yang lebih baik. Alih-alih menegur dengan keras atau memberi ancaman, cobalah bantu anak mengenali emosinya. Sehingga, anak dapat belajar menamai perasaan tersebut dan mencari solusi yang lebih sehat. 3. Terapkan Batasan yang Jelas Ana-anak tidak akan memahami aturan jika Anda tidak mengajari mereka. Jadi, coba sampaikan aturan dengan bahasa sederhana dan ulangi jika perlu.  Contoh, Anda mengizinkannya untuk marah tapi tidak boleh memukul atau berkata kasar. Ingatkan padanya bahwa amarah bisa disalurkan dengan cara yang baik tanpa perlu menyakiti orang lain atau dirinya sendiri. Sudah Tahu Cara Atasi Aggressive Behavior pada Anak? Itulah cara menangani aggressive behavior yang bisa Anda coba terapkan pada anak. Sebagai orang dewasa sekalipun, ada momen di mana perasaan bisa terasa di luar kontrol dan Anda kesulitan mengekspresikannya. Hal serupa juga dapat terjadi pada anak-anak yang bahkan belum memiliki kontrol baik akan dirinya sendiri.  Selain itu, banyak ahli perkembangan anak menyebutkan bahwa kegiatan yang terarah dan konsisten dapat membantu anak mengembangkan kontrol diri. Contohnya adalah aktivitas fisik, olahraga kelompok, atau kegiatan berstruktur. Jika mencari tempat yang bisa membantu anak mengembangkan disiplin, percaya diri, dan kontrol diri melalui aktivitas fisik, Spark Sports Academy adalah tempatnya. Program-programnya dirancang agar anak tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga mampu mengelola emosi dan membangun karakter yang sehat. Tertarik untuk daftar?

05/12/2025 / Komentar Dinonaktifkan pada Apa Itu Aggressive Behavior? Ciri dan Cara Menanganinya
Baca Lebih Lanjut
Cara Mengatasinya Stranger Anxiety pada Anak

5 Cara Mengatasinya Stranger Anxiety pada Anak

Parenting

Si kecil tiba-tiba menangis, memeluk Anda erat, atau terlihat gelisah ketika bertemu orang asing? Meski membingungkan, sebenarnya kondisi ini sangat umum terjadi dan dikenal dengan istilah stranger anxiety. Agar Anda lebih memahami kondisi ini, mari bahas penyebab, tanda-tanda, dan cara mengatasinya secara praktis! Key Takeways: Apa Itu Stranger Anxiety? Melansir lama Raising Children, stranger anxiety merupakan reaksi ketakutan atau kecemasan pada anak usia awal ketika bertemu atau didekati oleh orang yang tidak ia kenal. Mengutip Journal Mental Health in Family Medicine, fase ini biasanya muncul saat anak menginjak usia 8 bulan. Namun, beberapa sumber lain juga menyebutkan bahwa kondisi dapat muncul di usia 6 bulan, bahkan berlanjut hingga usia 2 tahun atau lebih, tergantung karakter dan lingkungan anak. Di usia ini, anak memang mulai mampu membedakan wajah orang yang sering ia lihat dengan orang yang asing baginya.  Artinya, anak sudah memahami konsep “orang yang aman” dan “orang di luar lingkaran dekatnya”, yang merupakan bagian penting dari perkembangan emosional. Anda pun tidak perlu khawatir berlebihan, karena ini bukan tanda bahwa anak memiliki gangguan sosial atau trauma tertentu. Justru sebaliknya,  kecemasan ini menunjukkan bahwa anak sedang membangun ikatan yang kuat dengan orang terdekat dan lingkungannya. Mengapa Stranger Anxiety Bisa Terjadi? Setiap anak tentu memiliki tingkat kenyamanan yang berbeda pada lingkungan baru. Beberapa anak mudah beradaptasi, sementara yang lain butuh waktu lebih lama. Namun, secara umum, berikut adalah penyebab mengapa kecemasan akan orang asing muncul. 1. Perkembangan Otak dan Kesadaran Lingkungan Ketika memasuki usia 6 bulan ke atas, bayi mulai bisa membedakan wajah yang familiar dan tidak. Meningkatnya kemampuan mengingat ini membuat mereka waspada pada orang asing, karena otak mulai bereaksi terhadap hal-hal yang belum dikenal. 2. Ikatan yang Erat dengan Orang Tua Bayi memang sangat bergantung pada orang tua untuk mendapatkan rasa aman. Ketika orang asing hadir, otak mereka akan memberi sinyal “ancaman potensial,” membuat mereka menangis atau bersembunyi.  Bahkan mengutip jurnal di ScienceDirect, reaksi dari stranger anxiety akan terlihat lebih besar jika ibu tidak berasa di ruangan atau sekitar anak. Ini bukan berarti anak manja, tapi karena mereka tahu siapa yang membuatnya merasa paling aman. 3. Pengalaman Baru yang Terlalu Mendadak Pertemuan tiba-tiba dengan orang baru, suara keras, atau tempat asing juga bisa membuat bayi kaget. Kondisi ini akan memperkuat reaksi cemas, resah, dan takut ketika bertemu orang yang tidak dikenal. 4. Perkembangan Emosi yang Belum Stabil Anak kecil belum memiliki kemampuan mengelola emosi dengan baik. Mereka belum memahami cara menghadapi rasa takut kecuali dengan menangis kencang atau mencari perlindungan pada orang terdekat, terutama orang tuanya. Cara Mengatasi Stranger Anxiety pada Anak Kabar baiknya, kondisi ini bisa diatasi dengan cara yang lembut dan konsisten. Anda pun tidak perlu terlalu memaksa anak untuk langsung dekat dengan orang lain. Hal yang terpenting adalah membantu anak merasa aman dan bertahap mengenalkan lingkungan sosial di sekitarnya. Berikut beberapa hal yang bisa Anda terapkan. 1. Tetap Tenang dan Berikan Rasa Aman Anak sangat sensitif terhadap emosi Anda. Jika Anda panik, ia akan merasa bahwa situasi tersebut memang berbahaya. Jadi, tunjukkan bahwa Anda dalam kondisi nyaman, santai, tersenyum, dan tetap berada di sampingnya. Kehadiran Anda akan menjadi “rumah aman” serta kekuatan untuk anak. 2. Kenalkan Orang Baru Secara Perlahan Anda harus memahami bahwa setiap anak itu berbeda. Jika Anda sudah melihat keraguan pada anak, jangan langsung menyuruh anak berinteraksi. Bersabarkan dan biarkan mereka mengamati terlebih dahulu. Biarkan orang baru berinteraksi dari jarak aman, misalnya dengan tersenyum, melambaikan tangan, atau berbicara lembut. 3. Jangan Memaksa Anak Memaksa anak untuk salaman, cipika-cipiki, atau bahkan digendong orang lain justru bisa memperburuk kondisi stranger anxiety. Melansir Healthline, para ahli juga tidak menyaran Anda untuk mengabaikan kesulitan anak atau memaksa mereka menahan kecemasan tersebut. Anda justru harus dapat menghargai batas kenyamanan anak. Semakin mereka diberi ruang, semakin cepat pula anak akan belajar bahwa interaksi baru sebenarnya tidak mengancam. 4. Beri Contoh Interaksi Positif Orang tua juga bisa menunjukkan bahwa Anda merasa nyaman dengan orang asing tersebut. Misalnya, Anda tersenyum, berbicara ramah, atau berjabat tangan. Anak dapat belajar melalui observasi, dan ketika ia melihat Anda rileks, rasa takutnya pun akan menurun. 5. Bangun Hubungan dengan Orang Baru Jika ingin anak lebih dekat dengan anggota keluarga tertentu, biarkan mereka melakukan aktivitas ringan bersama. Contohnya seperti membaca buku, memberi makanan, atau bermain mainan tanpa memaksa kontak fisik yang terlalu dekat. Sudah Tahu Apa Itu Stranger Anxiety? Stranger anxiety mungkin dapat membuat Anda kewalahan, namun ini adalah tanda yang baik. Anda pun dapat memberikan ruang yang lebih positif bagi anak untuk membangun karakter, kepercayaan diri, serta kemampuan sosialnya. Salah satunya dengan melibatkan anak dalam kegiatan terarah seperti di Spark Sports Academy. Melalui Spark Sports Academy, anak dapat mengarahkan energi aktivitas yang membentuk karakter dan mental. Melalui berbagai program olahraga, anak juga dapat mengasah disiplin, keberanian, kerja sama tim, dan manajemen emosi. Bagaimana, tertarik memberikan anak ruang nyaman untuk berkembang?

05/12/2025 / Komentar Dinonaktifkan pada 5 Cara Mengatasinya Stranger Anxiety pada Anak
Baca Lebih Lanjut
Apa itu Food Jag, Penyebab, dan Cara Menanganinya?

Apa itu Food Jag, Penyebab, dan Cara Menanganinya?

Parenting

Pernahkah Anda mendapati anak susah menerima makanan baru dan cenderung memilih satu jenis menu secara berulang? Itu namanya food jag, sebuah kondisi di mana anak hanya mau menerima sedikit jenis makanan secara berturut-turut. Sebagai contoh, anak hanya mau makan dengan nasi dan telur kecap selama berhari-hari. Mereka menolak apabila ditawarkan menu lainnya, meskipun makanan tersebut tampak menggiurkan. Apabila anak Anda mengalaminya, jangan panik! Baca artikel ini sampai tuntas untuk tahu penyebab dan cara mengatasinya. Key Takeaways Food Jag, Kondisi Normal pada Anak Biasanya, food jag berlangsung selama berhari-berhari atau bahkan berminggu-minggu. Tak jarang, fenomena ini membuat orang tua stres karena anak tidak mendapat gizi seimbang dari makanan tersebut. Apalagi kalau anak sudah merasa bosan, ia akan kehilangan minat dan berhenti makan sama sekali. Namun, kondisi ini tidak perlu Anda khawatirkan secara berlebihan. Pasalnya, pola makan ini bisa menjadi bagian dari masa perkembangan anak yang sedang mengeksplorasi rasa dan tekstur. Ada ciri-ciri yang bisa Anda amati apabila anak mulai menunjukkan perilaku susah makan. Di antaranya adalah sebagai berikut. Dari tanda-tanda ini, Anda bisa memahami juga bahwa pola makan ini berbeda dengan picky eater maupun Gerakan Tutup Mulut (GTM). Picky eater adalah kondisi di mana anak memilih-milih banyak jenis makanan tetapi masih mau mengonsumsi beberapa variasi. Sementara food jag bersifat lebih parah karena anak hanya mau mengonsumsi sedikit sekali jenis makanan dalam satu waktu. Begitu pun dengan GTM, di mana anak menolak makanan secara keseluruhan alias tidak mau makan sama sekali. Penyebab Food Jag Salah satu penyebabnya adalah karena kurangnya variasi makanan baru, sehingga anak belum terbiasa dengan menu tersebut. Anak merasa nyaman dengan makanan kesukaannya dan menolak bila diberi menu yang berbeda. Selain itu, penyebabnya bisa juga karena anak memiliki pengalaman negatif dengan jenis makanan tertentu. Misalnya alergi, tersedak, susah menelan, sakit perut saat atau setelah mengonsumsi makanan tersebut, sehingga membuatnya trauma. Makanan tersebut membuatnya tidak nyaman sehingga menolak mencobanya lagi. Sebagai contoh, Anda memberikan daging kemudian mereka menolak karena terasa alot sehingga susah ditelan dan tidak mau mencobanya lagi.  Punya neophobia alias ketakutan terhadap hal baru juga jadi salah satu penyebabnya. Ini termasuk mekanisme alami balita yang menganggap asing atau tidak aman pada hal baru. Anak lebih nyaman pada makanan yang akrab. Atau, terjadi karena mengalami perkembangan sensorik di masa tumbuh kembangnya. Fase ini membuat mereka lebih sensitif terhadap rasa, tekstur, aroma, dan tampilan makanan, sehingga sering menolak makanan asing. Cara Mengatasinya Food Jag Ada beberapa cara untuk mengatasi pola makan anak ini. Namun ingat, Anda harus melakukannya dengan penuh kesabaran dan kreativitas agar anak mau makan lagi. 1. Jangan Mengulang Menu yang Sama Salah satu penyebab utama anak susah makan adalah karena kurangnya variasi menu. Oleh karena itu, Anda bisa sedikit memvariasikan makanan kesukaannya dengan bentuk dan rasa yang berbeda dari biasanya. Misalnya, buat nasi telur kecap dengan telur yang diorak-arik atau omelet dengan tambahan parutan wortel di dalamnya. Anda juga boleh menggunakan cetakan lucu agar anak semakin tertarik dengan tampilannya. Kalau anak Anda suka sereal, kenalkan mereka dengan oatmeal dan sajikan bersama buah-buahan, madu, dan biji-bijian. 2. Sajikan Makanan Baru bersama Menu Favorit Anda bisa pelan-pelan menyajikan makanan baru bersama menu favoritnya. Misalnya, anak Anda suka makan nugget ayam dan nasi. Maka, sajikan menu tersebut bersama sayur-sayuran yang familiar bagi mereka. Anda juga bisa lebih kreatif dengan menyajikan nugget homemade yang terbuat dari daging ayam, keju, parutan wortel tanpa tepung, dan MSG. Ini lebih sehat daripada nugget instan dari supermarket yang tinggi natrium. Sajikan dengan bentuk lucu menggunakan cetakan hewan atau abjad. 3. Jadikan Suasana Makan Menyenangkan Food jag belum tentu berasal dari menu makanannya, namun bisa karena suasana makan yang kurang nyaman. Anak-anak biasanya lebih suka suasana yang menyenangkan tanpa ada paksaan untuk menghabiskan makanannya. Jadi, hindari mengkritik saat anak makan dan memaksa anak menghabiskan makanannya. 4. Libatkan Anak Saat Memasak Terakhir, melibatkan anak ke dapur membuat mood mereka lebih stabil. Ini karena anak-anak umumnya tertarik dengan hal baru dan suka dilibatkan dalam hal apapun. Coba ajak mereka untuk mencuci piring, mengaduk adonan, mencuci buah dan sayuran, atau hal lainnya. Ini tidak hanya membuat anak dekat dengan makanan, tetapi juga membentuk rasa kepemilikan terhadap makanan yang mereka buat. Beri Asupan dan Pendidikan Terbaik untuk Anak Food jag merupakan kondisi normal sebagai bagian dari perkembangan anak. Anda sebagai orang tua tidak perlu khawatir berlebihan karena dengan pendekatan yang tepat, kesabaran, serta kreativitas, kondisi ini bisa teratasi dengan baik. Selain asupan, pastikan anak mendapatkan pendidikan terbaik dari Spark Sports Academy sejak dini. Spark Sports Academy membantu anak tumbuh optimal dengan mengasah tujuh indera secara holistik. Metode pembelajarannya mengajak anak menstimulasi sensorik dengan aktivitas fisik yang menyenangkan. Yuk, daftar sekarang!

04/12/2025 / Komentar Dinonaktifkan pada Apa itu Food Jag, Penyebab, dan Cara Menanganinya?
Baca Lebih Lanjut
Pengertian Developmental Delay, Pemicu, dan Cara Mengatasi

Developmental Delay: Pengertian, Pemicu, dan Cara Mengatasi

Parenting

Perkembangan anak terdiri dari tahapan (milestone) berbeda. Namun, data WHO menyebut bahwa ada 52 juta anak di bawah usia lima tahun di seluruh dunia mengalami keterlambatan perkembangan atau developmental delay. Keterlambatan yang dimaksud bisa menyerang motorik, kognitif, hingga psiko-sosial anak. Key Takeaways Mengenal Developmental Delay dan Jenisnya Keterlambatan perkembangan pada anak bukan sekadar kondisi “belum waktunya” untuk melakukan sesuatu, melainkan perbedaan signifikan dalam pencapaian tahapan pertumbuhan tertentu. Secara umum, gangguan ini dikelompokkan berdasarkan area yang terpengaruh pada anak, yaitu: Jika seorang anak menunjukkan keterlambatan di dua area atau lebih, kondisi ini sering disebut sebagai Keterlambatan Perkembangan Global atau Global Developmental Delay (GDD). Penyebab Developmental Delay pada Anak Menurut National Library of Medicine, pemicu keterlambatan perkembangan pada anak merupakan multi-faktor. Dalam merancang pengobatan, penting untuk mengidentifikasi faktor risiko yang menjadi penyebab utama kondisi terlebih dahulu. Berikut ini penjelasannya. Kategori Penyebab Contoh Spesifik Prenatal (Sebelum Kelahiran) Infeksi TORCH (Toxoplasmosis, Rubella, Cytomegalovirus, Herpes)Paparan alkohol dan obat-obatan terlarangMalnutrisi ibu hamil Perinatal (Saat Kelahiran) Lahir prematur, tepatnya kurang dari 37 minggu dengan berat badan lahir di bawah 2,5 kg dan kekurangan oksigen saat lahir (asfiksia) Postnatal (Setelah Kelahiran) Cedera kepalaInfeksi seperti meningitis atau ensefalitisKeracunan timbalGenetik, seperti sindrom down dan sindrom fragile X Lingkungan/Sosial Kurangnya stimulasi dari lingkunganMalnutrisi anakPengabaian (neglect) dari orang terdekat Pentingnya Deteksi Dini dan Penanganan Cepat Deteksi dini adalah faktor penentu utama keberhasilan penanganan developmental delay. Otak anak memiliki neuroplastisitas atau kemampuan perubahan yang luar biasa pada tahun-tahun awal kehidupannya. Artinya, otak mereka lebih mudah membentuk koneksi baru dan memulihkan fungsi yang terganggu. Berikut adalah langkah-langkah deteksi dan penanganan dini terkait kasus keterlambatan perkembangan anak. Intervensi yang terstruktur dan terpadu membantu anak dengan risiko keterlambatan perkembangan mengejar ketertinggalan dan membangun fondasi yang kuat untuk pembelajaran di masa depan. Cara Mengatasi Keterlambatan Perkembangan Anak Kondisi developmental delay tentu membuat orang tua khawatir. Meskipun demikian, bukan berarti anak tidak bisa sembuh. Selain terapi klinis, peran aktivitas fisik dan olahraga terstruktur sangat efektif. Bukan hanya tentang kebugaran, bagi anak dengan kebutuhan khusus, olahraga adalah metode terapeutik kuat. Memberikan lingkungan yang mendukung, penuh kasih sayang, dan stimulasi yang tepat akan membantu anak berkembang sesuai dengan kecepatan dan kemampuan uniknya. Keterlambatan perkembangan hanyalah sebuah fase, bukan akhir dari segalanya. Mengatasi Developmental Delay Anak dengan Tenang Keterlambatan perkembangan pada anak merupakan kondisi sementara yang masih dapat pulih melalui terapi dengan profesional, dukungan keluarga, serta aktivitas fisik yang cukup. Penting untuk mendeteksi serta melakukan intervensi sejak dini agar anak segera mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat. Selain terapi profesional, untuk mendukung aktivitas fisik anak melalui olahraga terstruktur, Anda dapat mengandalkan Sparks Sports Academy. Akademi olahraga inklusif ini berdiri dengan tujuan memfasilitasi anak-anak yang memiliki kebutuhan perkembangan, termasuk mereka yang mengalami keterlambatan perkembangan. Sparks menyediakan beragam pilihan olahraga, seperti sensory yang cocok untuk menstimulasi keterlambatan motorik kasar, basket yang meningkatkan interaksi sosial, gymnastic, hingga balet yang berguna merangsang kepercayaan diri anak. Terdapat pula kurikulum dan pelatih profesional sebagai jaminan kualitas.

04/12/2025 / Komentar Dinonaktifkan pada Developmental Delay: Pengertian, Pemicu, dan Cara Mengatasi
Baca Lebih Lanjut

Paginasi pos

Sebelumnya 1 … 39 40 41 … 74 Berikutnya
Tema Royal Elementor Kit dibuat oleh WP Royal.