Kemajuan teknologi membawa perubahan besar dalam cara anak tumbuh dan belajar. Kini, layar pun menjadi bagian dari keseharian mereka, baik untuk bermain, belajar, maupun bersosialisasi. Karena itu, Anda perlu tahu cara mendidik anak di era digital dengan tepat agar mampu menggunakan teknologi secara sehat dan bijak. Yuk, simak! Key Takeaways: 6 Cara Mendidik Anak di Era Digital Berikut merupakan beberapa cara yang bisa Anda ikuti untuk mendidik si kecil di era yang serba digital. 1. Mengatur Batasan Screen Time Waktu menatap layar atau screen time perlu Anda atur dengan cermat. Berdasarkan rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), anak usia di atas dua tahun sebaiknya tidak menatap layar lebih dari dua jam per hari. Sebab, terlalu lama menatap layar bisa mengganggu kesehatan mata dan membuat anak sulit fokus pada aktivitas nyata di sekitarnya. Anda bisa membuat jadwal penggunaan gadget yang disesuaikan dengan rutinitas harian anak. Misalnya, jam setelah belajar atau sebelum tidur siang. Hindari memberikan gawai saat makan atau menjelang waktu tidur malam agar anak tidak terbiasa bergantung pada layar untuk merasa tenang. 2. Mendampingi Anak saat Menggunakan Gadget Cara mendidik anak di era digital yang efektif adalah dengan selalu mendampingi mereka saat menggunakan gawai. Ketika anak menonton atau bermain game, duduklah di sampingnya dan ajak bicara tentang apa yang ia lihat. Pendampingan ini membantu anak belajar membedakan mana konten yang baik dan mana yang tidak sesuai usianya. Selain itu, akan lebih baik jika aktivitas ini dilakukan di ruang terbuka, seperti ruang keluarga, agar Anda lebih mudah memantau tayangan yang mereka konsumsi. Hindari memberi izin anak bermain gadget sendirian di kamar karena dapat membuka peluang bagi paparan konten yang tidak pantas. 3. Menjaga Aktivitas Anak di Dunia Maya Anak yang sudah mulai menjelajah internet perlu bimbingan ekstra. Oleh karena itu, Anda bisa memeriksa riwayat tontonan atau aplikasi yang anak gunakan untuk memastikan isinya sesuai umur mereka. Jika menemukan situs yang mencurigakan, segera blokir. Jika anak sudah memiliki akun media sosial, sebaiknya Anda ikut memantau daftar teman dan isi komentarnya. Tujuannya untuk mengontrol dan menjaga keamanan digital mereka dari risiko seperti cyberbullying atau pelecehan daring. 4. Hindari Menggunakan Gawai sebagai Pengalih Emosi Kalimat seperti “Jangan menangis, nonton saja TV-nya” sering terdengar sepele, namun bisa menanamkan kebiasaan buruk. Mengutip HelloSehat, American Academy of Pediatrics (AAP) menyarankan agar orang tua mengajarkan anak mengenali emosi mereka sendiri tanpa bantuan gadget. Jadi, daripada langsung memberikan ponsel ketika anak rewel, ajak ia menggambar, berjalan di taman, atau membaca buku bersama. Anak perlu belajar bahwa rasa bosan, sedih, atau marah bisa ia hadapi dengan cara lain selain menatap layar. 5. Menyeimbangkan Dunia Nyata dan Dunia Digital Menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), kunci mendidik anak di era digital adalah menjaga keseimbangan antara aktivitas online dan kegiatan nyata. Anak tetap membutuhkan pengalaman langsung, seperti berlari, menari, bermain di luar rumah, atau berinteraksi dengan teman sebayanya. Kegiatan seperti ini tidak hanya mengasah motorik, tetapi juga membantu anak membangun kemampuan sosial dan emosional. Sementara dunia digital memang membuka banyak peluang belajar, pengalaman di dunia nyata tetap menjadi pondasi utama dalam tumbuh kembang anak. 6. Mengajarkan Etika dan Keamanan Digital Seiring bertambahnya usia, anak perlu dibekali pemahaman tentang etika di dunia maya. Jadi, jelaskan tentang pentingnya menjaga privasi, bersikap sopan saat berkomentar, dan melaporkan hal yang membuatnya tidak nyaman. Dengan membangun komunikasi terbuka, Anda akan membantu anak lebih percaya diri berinteraksi di dunia digital. Pembekalan ini juga menumbuhkan kesadaran bahwa teknologi adalah alat yang digunakan dengan tanggung jawab. Mari Mendidik Anak di Era Digital dengan Tepat! Pada akhirnya, mendidik anak di zaman digital dapat membekali mereka agar mampu menggunakannya dengan sehat dan aman. Anak pun membutuhkan bimbingan untuk tetap aktif di dunia nyata, mengasah kemampuan sosial, serta belajar mengendalikan diri di tengah derasnya arus digital. Namun, agar tidak selalu terpaku pada gadget, bisa memberikan kegiatan yang menstimulasi perkembangan fisik dan emosionalnya. Spark Sports Academy pun hadir dengan program interaktif yang dibuat untuk menumbuhkan kepercayaan diri, ketangkasan, dan kemampuan bersosialisasi anak. Aktivitas yang tersedia meliputi gymnastic, dance, multisport, hingga taekwondo. Lewat pendekatan menyenangkan dan lingkungan yang positif, Spark Sports Academy akan membantu anak tumbuh kuat di dunia nyata dan bijak di dunia digital. Tertarik mendaftarkan buah hati Anda?
Cara Melatih Fokus Anak Supaya Disiplin dalam Belajar
Mengetahui cara melatih fokus anak dalam belajar adalah hal yang tidak boleh Anda abaikan. Sebab, seorang anak belum tentu mau belajar dengan sendirinya, sehingga harus ada bimbingan dari orangtua agar mereka mau berkonsentrasi secara penuh. Ingin tahu apa saja tips dan strateginya? Simak selengkapnya di sini! Key Takeaways Berapa Lama Anak Usia 1-7 Tahun Bisa Fokus? Kemampuan fokus anak memang belum bisa setajam orang dewasa. Menurut jurnal IAIN, rentang konsentrasi anak berbeda-beda berdasarkan umur. Berikut adalah rentang waktu konsentrasi anak: Apa Penyebab Anak Sulit Fokus? Anak menjadi sulit fokus biasanya disebabkan oleh kebiasaan buruk yang dimulai. Berikut adalah beberapa penyebab anak sulit fokus: 10 Cara Melatih Fokus Anak Seperti apa tips mengajarkan kemampuan konsentrasi kepada anak yang benar? Di bawah ini ada sejumlah cara yang dapat Anda terapkan tergantung dari usia dan jenjang pendidikan anak. 1. Pahami Seperti Apa Cara Anak Belajar Setiap anak memiliki cara belajarnya masing-masing. Ada anak yang belajar dengan cara observasi, membaca petunjuk step-by-step, hingga praktik secara langsung. Sekarang, coba lihat dan pahami bagaimana cara anak Anda belajar untuk menyusun strategi paling tepat dalam melatih konsentrasi si kecil. 2. Susun Jadwal Belajar Harian Tips ini cocok untuk anak-anak yang sudah memasuki jenjang sekolah seperti TK atau SD. Misalnya, anak belajar Matematika dan Bahasa Inggris di sekolah, maka buatlah jadwal belajar di rumah yang berfokus kepada dua mata pelajaran tersebut. Tentukan juga waktunya agar anak tahu kapan harus mulai belajar dan kapan bermain. 3. Fokuskan Pikiran Anak pada Satu Tugas Jangan memaksa anak untuk melakukan multitasking atau memberikan banyak arahan sekaligus, karena hal ini akan sangat mengganggu konsentrasi mereka. Melansir laman Understood, cara melatih fokus anak yang benar adalah dengan memberikan instruksi satu per satu. Anda juga dapat menggunakan checklist untuk memudahkan anak mengikuti setiap petunuk. Anda sebaiknya mengajarkan si kecil untuk memusatkan perhatian mereka pada satu pekerjaan sebelum diberikan tugas berikutnya. 4. Jauhkan Gawai dari Anak Selama Belajar Berdasarkan Journal National Library of Medicine, penggunaan gadget berkepanjangan atau kecanduan pada anak dapat menyebabkan penurunan aktivitas fisik, masalah perilaku, gangguan tidur, kelelahan mata, hingga penurunan prestasi. Halodoc juga menyebutkan bahwa kecanduan gadget menjadi faktor keterlambatan bicara dan gangguan konsentrasi. Karena itu, sebelum mulai belajar, sebisa mungkin matikan dan jauhkan semua gawai dari jangkauan anak. 5. Berikan Jeda untuk Menyegarkan Anak Metode belajar bernama Teknik Pomodoro juga bisa Anda gunakan untuk melatih fokus anak. Idenya adalah, Anda mendidik anak selama 25 menit, kemudian istirahat selama 5 menit, baru teruskan belajar supaya anak tidak kehilangan fokus. 6. Buat Suasana Belajar yang Kondusif Bagaimana seorang anak dapat belajar apabila lingkungan belajarnya berisik, acak-acakan, serta tidak nyaman? Oleh karena itu, mengatur ruang belajar supaya bersih, tenang, dan nyaman perlu Anda utamakan. Semakin anak merasa nyaman, semakin mereka akan fokus untuk belajar. 7. Didik Anak dengan Permainan Kreatif Cara melatih fokus anak satu ini paling cocok untuk anak usia pra-sekolah. Dengan belajar sambil bermain, seorang anak bisa menyerap lebih banyak ilmu daripada sekadar membaca buku. Anda pun bisa memanfaatkan mainan seperti puzzle, robot bongkar pasang, atau balok angka. 8. Puji Anak Setelah Menyelesaikan Tugas Pujian bisa menjadi sumber motivasi bagi anak untuk terus belajar, serta menambah rasa percaya dirinya. Cara ini bagus untuk anak-anak yang sudah memasuki jenjang sekolah. Usahakan juga agar Anda memberi pujian setiap kali si anak berhasil menyelesaikan suatu tugas atau mendapat nilai bagus. 9. Pastikan Anak Tidur Tepat Waktu Seorang anak perlu waktu tidur yang cukup agar dia dapat bangun tepat waktu dalam keadaan segar esok harinya. Karena itu, coba tentukan waktu tidur yang jelas demi menghindari begadang. Ajak pula anak Anda untuk melakukan aktivitas ringan sebelum tidur, seperti menggosok gigi atau membaca cerita pendek. 10. Menerapkan Pola Hidup Sehat Anak yang memiliki pola makan seimbang dan olahraga teratur bisa meningkatkan fokus dengan signifikan. Pastikan anak mencukupi nutrisi yang tepat seperti buah-buahan, sayuran, dan protein untuk merangsang kemampuan otak. Sudah Tahu Aneka Cara Melatih Fokus Anak? Tidak semua anak dapat belajar dengan cepat. Ada anak-anak yang membutuhkan bimbingan belajar dalam jangka panjang, jadi Anda tak boleh cepat menyerah. Jika memang tidak memiliki banyak waktu, Anda bisa meminta bantuan kepada lembaga pendidikan yang siap untuk melatih kemampuan konsentrasi anak. Salah satu yang terbaik adalah Sparks Sports Academy, yang siap mendidik anak dari usia 12 bulan hingga 7 tahun. Di sini, anak akan mendapat beragam pendidikan yang berbasis permainan dan aktivitas motorik demi merangsang minat dan bakatnya. Bagi anak-anak yang tertarik dalam bidang olahraga, akademi ini siap mengajarkan aneka keterampilan olahraga yang juga berdampak baik pada fokus dan konsentrasinya. Ayo, daftarkan anak Anda dan dukung tumbuh kembang mereka di lingkungan yang tepat!
Penyebab Tempramental pada Anak dan Cara Menghadapinya
Ketika melihat anak Anda mudah tersinggung atau cepat marah, jangan langsung menghakimi mereka nakal. Sebab, sifat tempramental pada anak bisa muncul dari berbagai faktor. Namun, respon yang sulit diprediksi ini mungkin memang akan membuat Anda kebingungan. Agar tidak salah langkah, mari memahami penyebabnya! Key Takeaways: Penyebab Tempramental pada Anak Melansir About Kids Health, sekitar 10% bayi dan anak-anak memiliki temperamen yang sulit, termasuk memiliki reaksi intens dan mood negatif. Lantas, apa penyebabnya? Berikut merupakan beberapa faktor yang membuat si kecil memiliki sifat temperamental. 1. Pola Asuh yang Kurang Hangat Micalizzi di Frontiers menyebutkan bahwa hubungan antara temperamen anak dan cara orang tua mendidik memengaruhi satu sama lain. Anak dengan temperamen sulit dapat memicu pola asuh negatif, sementara pola asuh yang keras bisa memperburuk sifat tempramental pada si kecil. Ketika anak merasa tidak diterima atau sering disalahkan, mereka belajar merespons dunia dengan cara yang defensif dan penuh emosi. Kondisi ini bisa menciptakan siklus yang berulang. Misalnya, anak menjadi lebih sulit diatur, lalu orang tua merespons dengan lebih tegas atau marah, hingga akhirnya hubungan emosional di antara keduanya semakin renggang. Dalam jangka panjang, pola seperti ini akan membuat anak tumbuh dengan kontrol emosi yang lemah. 2. Faktor Genetik Mengutip laman Tentang Anak, faktor genetik menyumbang sekitar 20-60% dalam pembentukan temperamen seorang anak. Ini tertuang dalam studi tentang tempramental pada anak yang melibatkan 313 pasangan anak kembar (baik identik maupun fraternal) . Hasil studi menyebutkan bahwa sifat temperamental cenderung serupa antara anak kembar identik meskipun mereka tumbuh di lingkungan berbeda. Namun, pengaruh gen tidak berdiri sendiri. Lingkungan, termasuk cara orang tua merespons anak, bisa memperkuat atau meredam karakter dasar tersebut. 3. Indikasi Gangguan Perkembangan Kadang, sifat tempramental bisa menjadi tanda adanya kondisi psikologis tertentu, seperti ADHD, spektrum autisme, atau gangguan emosi. Anak yang sulit mengatur perasaan dan sering meledak-ledak pun perlu mendapat perhatian khusus. Jika pola tersebut terjadi terus-menerus, sebaiknya Anda segera berkonsultasi dengan dokter tumbuh kembang. Tujuannya untuk memastikan apakah ada faktor medis atau neurologis yang ikut berperan. 4. Stres Orang Tua Berdasarkan Frontiers, stres pada orang tua juga bisa memperburuk perilaku anak. Ini terjadi karena tekanan emosional yang tidak tertangani membuat orang tua lebih reaktif, dan pada akhirnya memperkuat sifat temperamental anak mereka. Cara Menghadapi Anak Tempramental Menghadapi anak yang temperamental memang tidak mudah. Namun, sifat tempramental bukan sesuatu yang tidak bisa Anda arahkan. Bagaimana caranya? Simak di sini! 1. Tenangkan Diri Sebelum Merespons Ketika anak meluapkan emosi, usahakan Anda tidak ikut terseret suasana. Anda bisa coba tarik napas dalam-dalam, beri waktu sejenak, lalu dekati mereka dengan nada suara tenang dan lembut. Anak pun akan belajar dari cara Anda bereaksi. Jika Anda bisa tenang, emosi mereka pun cenderung lebih cepat reda. Anda juga dapat gunakan momen tersebut untuk menanyakan apa yang sebenarnya mereka rasakan dan memahami mengapa sifat tempramental pada anak muncul. Terkadang anak marah bukan karena hal besar, tapi karena merasa tidak dimengerti. 2. Hindari Membandingkan Anak Membandingkan satu anak dengan yang lain hanya akan menambah tekanan emosional dan menurunkan rasa percaya diri mereka. Ingat! Setiap anak itu unik. Ketika anak merasa diterima apa adanya, mereka akan lebih terbuka terhadap bimbingan dan belajar mengelola emosinya dengan lebih sehat. 3. Bangun Kedekatan Emosional Kedekatan antara anak dan orang tua punya pengaruh besar terhadap perilaku anak yang temperamental. Anak dengan hubungan emosional yang aman biasanya lebih mudah mengontrol amarahnya. Karena itu, coba luangkan waktu untuk mendengarkan cerita mereka, tunjukkan empati, dan beri validasi pada perasaan mereka. Menurut studi Child’s Difficult Temperament and Mothers’ Parenting Styles, anak yang memiliki tingkat emosi negatif tinggi sering berhadapan dengan ibu yang menggunakan kontrol psikologis lebih ketat. Namun, ketika ibu merasa lebih tenang dan sejahtera secara emosional, pendekatan terhadap anak pun menjadi lebih hangat. Artinya, kesejahteraan emosional orang tua juga berperan penting dalam menenangkan sifat tempramental pada anak. 4. Ajarkan Cara Menyampaikan Emosi Bimbing anak untuk mengekspresikan rasa marah atau kecewanya dengan kata-kata, bukan tindakan. Misalnya, ajak mereka mengatakan, “Aku kesal karena mainanku rusak,” daripada berteriak atau membanting barang. Dengan latihan terus-menerus, anak akan belajar bahwa emosi boleh muncul, tapi harus disampaikan dengan cara yang aman. 5. Terapkan Konsistensi dalam Pola Asuh Anak butuh kejelasan dan rutinitas. Ketika aturan di rumah berubah-ubah, mereka akan mudah bingung dan frustasi. Karena itu, diskusikan bersama pasangan agar cara mendidik anak sejalan. Ketika Anda dan pasangan menunjukkan kesatuan sikap, anak akan merasa lebih aman dan tahu batasan mana yang harus dirinya jaga. Sudah Memahami Cara Mengatasi Tempramental pada Anak? Merawat anak dengan sifat tempramental membutuhkan kesabaran ekstra. Namun, adanya dukungan lingkungan positif akan membuat anak berkembang, baik secara sosial maupun emosional. Spark Sports Academy pun hadir untuk membantu proses ini melalui kegiatan yang menstimulasi tujuh indra anak dan memperkuat keterampilan sosial-emosional mereka. Anak dapat belajar berkomunikasi, bersosialisasi, dan menyalurkan energi lewat aktivitas seperti gymnastic, multisport, hingga dance. Program tersebut bisa membuat anak tumbuh percaya diri, seimbang, dan bahagia. Mari belajar dan tumbuh bersama karena setiap langkah menuju emosi yang stabil berawal dari lingkungan yang tepat di Spark Sports Academy.
Pentingnya Bahan Lokal untuk Makanan Pendamping ASI
Menyediakan makanan pendamping ASI (MPASI) untuk anak berusia 6-11 bulan wajib mengandung nutrisi lengkap. Sebagai orang tua, Anda bisa memanfaatkan bahan pangan lokal untuk mencukupi kebutuhannya sesuai aturan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Bahan pangan lokal seperti tahu, tempe, ikan, ayam, sawi, kangkung, kacang panjang, labu siam, dan ikan kembung mudah didapatkan dan harganya sangat terjangkau di pasaran. Jadi, Anda tidak perlu repot mencari bahan makanan bergizi karena Indonesia kaya akan bahan pangan lokal berkualitas. Key Takeaways Mengapa Harus Bahan Pangan Lokal? Banyak orang tua masih bingung bagaimana cara memberi makanan pendamping ASI yang mampu mencukupi kebutuhan nutrisi bayi sekaligus ramah di kantong. Padahal, Indonesia adalah negara yang kaya akan bahan pangan lokal yang. Ada 77 jenis tanaman pangan untuk sumber karbohidrat, 26 jenis kacang-kacangan, 75 jenis minyak atau lemak, 228 jenis sayuran, 389 jenis buah-buahan, dan 110 jenis rempah di Indonesia. Semua bisa Anda olah menjadi MPASI setiap harinya sesuai pedoman Isi Piringku. World Health Organization (WHO) sendiri menganjurkan penggunaan bahan lokal untuk MPASI. Hal ini karena bahannya mudah didapatkan dengan harga terjangkau tanpa khawatir gizi kurang atau nutrisi tidak terpenuhi. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) juga mendorong pemanfaatan bahan lokal untuk konsumsi sehari-hari. Di setiap desa contohnya, mengutamakan menu lokal untuk diberikan pada anak-anak hingga dewasa dengan menyesuaikan potensi dan komoditas di daerah masing-masing. Selain karena harga yang murah dan mudah didapatkan, imbauan ini bertujuan untuk meningkatkan konsumsi bahan lokal, mengurangi ketergantungan pada produk impor, mencegah stunting, dan memperkuat ketahanan pangan nasional. Meski begitu, pemberian bahan lokal untuk makanan pendamping ASI ini menyimpan tantangan tersendiri. Pasalnya, masih banyak orang tua yang memilih MPASI instan yang praktis. Mereka juga masih menganggap bahwa MPASI bergizi lengkap itu mahal karena harus membeli daging, susu, ikan salmon, dan keju. Padahal, banyak sekali bahan pangan yang bisa dimanfaatkan, bahkan gizinya lebih tinggi daripada produk impor. Rekomendasi Makanan Pendamping ASI yang Kaya Nutrisi Anda tidak perlu kesulitan mencari bahan lokal yang cocok untuk MPASI. Ada beberapa bahan pangan yang bisa Anda manfaatkan dan olah menjadi makanan lezat sekaligus kaya nutrisi untuk bayi. Berikut ini daftarnya. 1. Ikan Kembung Jangan remehkan gizi ikan laut asli perairan tropis Indonesia yang satu ini. Ikan kembung mengandung nutrisi lebih tinggi daripada salmon yang mengandung Omega-3 untuk meningkatkan kinerja otak. Meskipun sama-sama sumber protein hewani, kandungan nutrisi salmon cenderung lebih sedikit daripada ikan kembung. Dalam data penelitian Goodstats, setiap 100 gram ikan kembung mengandung 21,4 gram protein, 112 kalori, 2,3 gram lemak, dan 33 mg kolesterol. Sementara per 100 gram ikan salmon mengandung 19,9 gram protein, 116 kalori, dan 3,46 gram lemak. Sehingga, tingkat kolesterol ikan salmon lebih tinggi dari ikan kembung, yakni 52 mg. 2. Teri Nasi Banyak orang menyebut bahwa teri nasi adalah harta karun dalam lautan. Bukan karena menyimpan emas atau mutiara mahal, tetapi ikan berukuran sangat kecil dan berwarna putih ini mengandung gizi yang luar biasa. Di antaranya adalah: 3. Labu Siam Labu siam mengandung 39 kkal, 9 gram karbohidrat, 2 gram protein, vitamin B6, serat, vitamin C, vitamin K, mangan, tembaga, vitamin B9 (folat), seng, kalium, dan magnesium. Kandungan gizi ini membantu melancarkan pencernaan anak, mengoptimalkan imunitas tubuh, serta menurunkan risiko diabetes. Labu siam pun bisa meningkatkan perkembangan otak dan saraf, menjaga kesehatan jantung, menjaga energi bayi, menjaga fungsi hati, mengoptimalkan penglihatan, kesehatan kulit, dan mengoptimalkan perkembangan kognitif. 4. Tempe dan Tahu Anda juga bisa memberi bahan pangan lokal yang paling digemari orang Indonesia, yaitu tempe dan tahu. Makanan berbahan dasar kedelai ini mengandung protein nabati, prebiotik, hingga kalsium yang baik untuk tulang. Tempe dan tahu bisa Anda masak menjadi tumisan, kukus, atau goreng bersama protein hewani dan sayur lainnya. Jangan lupa berikan tambahan karbohidrat sebagai sumber energi untuk anak. Ingin Coba Bahan Lokal untuk Makanan Pendamping ASI? Kesimpulannya, bahan pangan lokal sangat cocok untuk makanan pendamping ASI. Semuanya bisa Anda dapatkan dengan mudah dan murah di pasar terdekat demi memenuhi nutrisi si kecil di masa pertumbuhannya. Tak hanya makanan bergizi, pendidikan berkualitas wajib Anda berikan untuk mendorong perkembangan anak. Spark Sports Academy menawarkan pembelajaran yang mendukung tumbuh kembang anak melalui stimulasi sensorik dan aktivitas fisik. Ini penting untuk meningkatkan kemampuan kognitif di periode emas pertumbuhannya.
Manfaat ASIP bagi Bayi dan Cara Penyimpanannya di Rumah
Menyusui secara eksklusif sangat dianjurkan demi menjaga kesehatan ibu dan bayi. Namun, pada keadaan tertentu, menyusui eksklusif tidak bisa dilakukan sehingga membutuhkan Air Susu Ibu Perah (ASIP) untuk memberikan nutrisi yang cukup bagi bayi dan menjaga kesehatan ibu sendiri. Oleh karena itu, ada beberapa fakta, manfaat, hingga cara penyimpanan air susu perah yang penting ibu menyusui ketahui. Ini bisa membantu ibu mendapatkan informasi tepat agar tidak khawatir air susu menjadi basi, nutrisi berkurang, dan sebagainya. Key Takeaways Fakta Tentang ASIP Air susu ibu perah menawarkan solusi praktis dan fleksibel ketika menyusui eksklusif mengalami kendala. Meski begitu, seringkali penyajian air susu perah ini membuat sebagian ibu bingung dan khawatir akan kandungan nutrisi di dalamnya. Berikut adalah fakta-fakta ASIP yang harus ibu ketahui. 1. Tahan Hingga 6 Bulan Air susu ibu perah bisa bertahan cukup lama jika tersimpan di lemari pendingin. Semakin rendah suhu penyimpanan, semakin lama pula daya tahannya. Pada suhu ruang sekitar 27°C-32°C, ASI perah segar hanya mampu bertahan hingga 4 jam. Jika suhu ruangan lebih sejuk, yaitu di bawah 25°C, ketahanannya bisa mencapai 6-8 jam. Namun, bila tersimpan dalam lemari pendingin bersuhu di bawah 4°C, ASI dapat bertahan lebih lama, yaitu sekitar 2-3 hari. Sementara itu, pada suhu beku antara -15°C hingga 0°C, ASI bisa tersimpan hingga 2 minggu. Jika menggunakan kulkas dua pintu dengan freezer bersuhu sekitar -20°C sampai -18°C, daya tahan ASI bahkan bisa mencapai 3 hingga 6 bulan. 2. Rutin Memerah Membuat Produksi ASI Stabil Rutin memerah ASI perah bukanlah sekadar mitos, kebiasaan ini memang membantu menjaga produksi ASI tetap stabil. Mengapa demikian? Hal ini karena saat payudara dikosongkan secara teratur, tubuh akan terus mendapat sinyal untuk memproduksi ASI baru. Sebaliknya, jika payudara jarang dikosongkan, produksi ASI bisa berkurang. Tak hanya itu, penumpukan ASI juga dapat menyebabkan payudara bengkak dan terasa nyeri. Kondisi ini bernama mastitis, yaitu peradangan pada payudara akibat penyumbatan saluran ASI. Untuk mengosongkan payudara, ibu bisa langsung menyusui si kecil. Namun, jika bayi sedang tertidur atau sudah kenyang, solusi praktisnya adalah dengan memompa ASI. 3. Nutrisi ASIP dan ASI Eksklusif Sama Baiknya Banyak ibu sering bertanya-tanya, apakah kandungan nutrisi ASI perah sama dengan ASI eksklusif? Secara umum, baik ASI perah maupun ASI eksklusif memiliki kandungan nutrisi yang serupa. Hanya saja, beberapa zat gizi bisa sedikit berkurang jika ASI perah tersimpan terlalu lama. Contohnya, kadar vitamin C dan antibodi dalam ASI perah bisa menurun karena proses pembekuan. Begitu pula dengan sel hidup, lemak, dan kalori yang bisa berkurang bila ASI perah tersimpan dalam jangka waktu lama. Oleh karena itu, ibu harus memperhatikan durasi dan cara penyimpanannya agar kualitas ASI perah tetap terjaga. 4. ASI Perah Bisa Berbau Tahukah Anda bahwa ASI perah kadang menimbulkan bau amis setelah tersimpan di lemari es? Hal ini terjadi karena adanya enzim lipase yang berfungsi memecah lemak dalam susu. Namun, jangan khawatir karena kondisi tersebut tidak menandakan bahwa ASI rusak, hanya aroma dan rasanya yang sedikit berubah. Anda tetap bisa memberikan ASI perah kepada bayi. Namun, jika si kecil menolak karena baunya, Anda dapat menonaktifkan enzim lipase dengan memanaskan ASI hingga sekitar 80°C, lalu biarkan dingin sebelum Anda simpan kembali di freezer. Manfaat ASIP bagi Ibu dan Bayi ASI perah memberi keleluasaan bagi ibu untuk beraktivitas tanpa mengurangi asupan gizi penting bagi bayi. Dengan rutin memerah ASI, ibu tidak hanya terhindar dari risiko mastitis, tetapi juga bisa memiliki waktu untuk beristirahat atau menyelesaikan pekerjaan lain. Selain itu, keberadaan ASI perah memungkinkan anggota keluarga ikut berperan dalam proses pengasuhan. Mereka dapat membantu memberikan ASI kepada bayi tanpa harus menunggu ibu, sehingga tercipta dukungan nyata bagi kesehatan dan kebahagiaan ibu serta si kecil. Tak hanya itu, ASI perah juga bisa diberikan kepada bayi lain yang membutuhkan melalui program donor ASI. Meski begitu, menyusui langsung tetap menjadi pilihan utama karena manfaatnya yang sangat besar bagi tumbuh kembang bayi dan kesehatan ibu. Cara Tepat Menyimpan ASI Perah Agar ASIP tetap mengandung nutrisi terbaik, pastikan proses penyimpanannya Anda lakukan dengan benar. Berikut adalah langkah-langkah yang perlu Anda perhatikan. Jamin Pertumbuhan Si Kecil dengan Pendidikan Terbaik Menjaga kualitas ASIP bukan hanya soal teknik penyimpanan, tetapi juga bentuk kasih sayang dan komitmen ibu dalam memberikan yang terbaik untuk tumbuh kembang anak. Dengan memahami cara memerah, menyimpan, dan memberikan ASI perah yang benar, setiap tetesnya dapat menjadi sumber nutrisi yang bernilai tinggi bagi bayi. Bagi para ibu yang ingin terus belajar mengoptimalkan tumbuh kembang anak, baik secara fisik maupun mental, Spark Sports Academy menghadirkan berbagai kelas dan program edukatif yang membantu anak berkembang secara seimbang. Melalui pendekatan berbasis nilai dan pembelajaran menyenangkan, akademi ini menjadi mitra yang tepat bagi orang tua yang ingin memastikan buah hati tumbuh aktif, sehat, dan percaya diri.
