Tahukah Anda? Di dunia parenting, nama hewan sering diadopsi untuk mendeskripsikan berbagai jenis gaya asuh sesuai dengan karakteristik hewan tersebut. Salah satu istilahnya yaitu dolphin parenting, yang terinspirasi dari hewan lumba-lumba (dolphin) yang terkenal cerdas, ramah, dan protektif, namun memberikan kebebasan. Key takeaways Apa Itu Dolphin Parenting? Berdasarkan Fimela, dolphin parenting adalah jenis pola asuh yang menyeimbangkan antara kedisiplinan dan kebebasan, serta ketegasan dan kehangatan. Mirip perilaku induk lumba-lumba yang tegas namun fleksibel. Tujuannya agar anak tumbuh menjadi individu yang bahagia, mandiri, cerdas, percaya diri, dan berani mengambil risiko. Melansir laman Dr. Shimi Kang, dalam buku “The Dolphin Way”, Kang menganjurkan orang tua masa kini untuk mengasuh ala lumba-lumba. Sebab, dolphin parenting merupakan gabungan terbaik antara tiger parenting dan jellyfish parenting. Artinya, induk lumba-lumba bukan seperti harimau yang suka mengatur, atau ubur-ubur yang permisif dan tak punya nyali. Selain itu, Kang juga membahas tentang pencapaian jangka panjang ketika mengajarkan anak-anak untuk bekerja keras dan bertanggung jawab. Namun, ia juga menekankan pentingnya menjaga kesejahteraan emosional dan kesehatan mental anak, agar benar-benar sukses di kemudian hari. Baca: Parenting VOC: Pengertian, Ciri, dan Dampaknya terhadap Anak Ciri Pola Asuh Dolphin Parenting Konsep dolphin parenting tidak terpaku hanya pada satu metode, melainkan bisa mengkolaborasikan metode parenting lainnya sesuai kebutuhan, situasi, dan usia anak. Berikut ini adalah ciri-ciri pola asuh seperti lumba-lumba. 1. Sebagai Pemandu Orang tua bertindak sebagai pemandu, bukan sebagai instruktur yang memberikan perintah berlebihan. Anda harus membimbing dan membiarkan anak untuk mengambil jalannya sendiri dengan arahan yang jelas. Sehingga, anak menjadi lebih mandiri dan memahami tanggung jawab di balik pilihannya tersebut. 2. Sebagai Motivator dan Pendengar Orang tua memotivasi anak untuk mengejar minat dan tujuan mereka sendiri. Orang tua juga selalu menjadi pendengar yang baik tanpa menginterupsi, sehingga anak berani mengungkapkan pendapat dan perasaannya, serta terlibat dalam diskusi tentang pilihannya. Ini akan membantu anak membangun kepercayaan dirinya. 3. Tidak Overprotektif Orang tua memberikan kebebasan pada anak untuk bereksplorasi, mencoba hal-hal baru, dan belajar dari pengalaman, termasuk membuat kesalahan. Namun, tetap memberikan aturan dan batasan yang konsisten dan masuk akal tanpa mengendalikan secara berlebihan atau menghindarkan anak dari tantangan atau kegagalan yang wajar. Baca: Sharenting dan Dampaknya bagi Privasi Anak di Era Media Sosial Kelebihan dan Kelemahan Dolphin Parenting Setiap pola asuh tentu memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing, termasuk pada gaya pengasuhan “lumba-lumba”. Meski terdengar sangat baik dan cocok untuk perkembangan karakter anak, namun ternyata tidak mudah bagi orang tua untuk menerapkannya. Berikut ini penjelasannya! 1. Kelebihan Kelebihan anak yang diasuh dengan pola dolphin parenting adalah sebagai berikut. 2. Kelemahan Sedangkan kelemahan dalam menerapkan pola dolphin parenting adalah sebagai berikut. Baca: Milenial Parenting: Karakteristik dan Tantangan dalam Pengasuhan Kembangkan Minat dan Bakat Anak di Spark Sports Academy! Dolphin parenting diklaim sebagai metode parenting terbaik karena mengutamakan keseimbangan antara ketegasan dan fleksibilitas. Namun, keberhasilannya bergantung pada konsistensi dan kemampuan orang tua dalam menyesuaikan diri dengan dinamika keluarga. Sehingga, orang tua harus belajar, memahami karakter, dan kebutuhan anak. Untuk itu, sebagai orang tua, tak ada salahnya Anda memfasilitasi anak untuk mendapatkan pembelajaran karakter di luar rumah, seperti di Spark Sports Academy. Di akademi ini, anak dapat mengembangkan kemampuan motorik, minat, dan bakatnya melalui program olahraga seperti gymnastic, menari, balet, basket, taekwondo, dan futsal. Spark Sports Academy tidak hanya sekadar tempat bermain, tetapi juga sebagai tempat untuk anak mengeksplorasi tujuh indranya dengan cara yang seru dan menyenangkan. Dengan fasilitas modern, suasana kelas yang fun, serta pelatih bersertifikat dan ramah, anak akan selalu antusias. Jadi, segera daftar kelas uji coba gratisnya!
Parenting VOC: Pengertian, Ciri, dan Dampaknya terhadap Anak
Dalam membesarkan anak, orang tua pasti menerapkan gaya atau pola pengasuhan yang memiliki kelebihan dan kekurangannya tersendiri. Nah, belakangan ini, parenting VOC merupakan konsep pola asuh yang sedang jadi bahan perbincangan di media sosial. Penasaran apa maksudnya dan apa dampak penerapannya bagi anak? Artikel ini akan membahasnya untuk Anda. Key Takeaways Apa Itu Parenting VOC? Istilah parenting VOC sedang menjadi bahan perbincangan sejak pertama kali dipopulerkan oleh seorang konten kreator bernama Jenni Lim atau Mamak Melvin. Ini adalah jenis pola asuh yang menerapkan kedisiplinan dan cenderung otoriter. Kata “VOC” sendiri berasal dari Vereenigde Oostindische Compagnie, perusahaan dagang yang didirikan oleh Belanda di masa penjajahan Indonesia. VOC terkenal sebagai perusahaan dagang yang kejam. VOC juga tidak segan memerintah, mengarahkan, hingga bahkan membentak rakyat untuk memperoleh keuntungan dagang secara maksimal. Nah, istilah pola asuh VOC terinspirasi dari sifat tersebut, di mana orang tua akan bersikap tegas dan otoriter dalam mendidik anak. Baca: Sharenting dan Dampaknya bagi Privasi Anak di Era Media Sosial Ciri-ciri Parenting VOC Terdapat beberapa ciri yang mengindikasikan bahwa orang tua menerapkan pola asuh VOC dalam mendidik anaknya. Berikut adalah ciri-ciri tersebut. Baca: Authoritative Parenting: Spektrum, Ciri Khas, dan Manfaatnya Dampak Penerapan Parenting VOC Meskipun banyak mendapat kritikan, hingga sekarang masih banyak orang tua yang menerapkan pola asuh ini karena memberi efek positif sesuai yang diharapkan, khususnya untuk jangka pendek. Beberapa dampak positifnya adalah sebelah berikut. Baca: Langkah Efektif Menerapkan Digital Parenting di Rumah Dampak Negatif Parenting VOC Akan tetapi, pola asuh VOC juga memberi dampak negatif. Hal ini yang menjadi pertimbangan para orang tua sebelum menerapkan pola asuh tersebut. Sudah Paham tentang Parenting VOC? Jadi, parenting VOC adalah jenis pola asuh yang menekankan kepatuhan secara mutlak dan bahkan pemberian hukuman ketika anak melanggar aturan. Pola asuh ini tetap diterapkan hingga sekarang meskipun tidak sedikit yang mengkritiknya. Bagi Anda yang ingin anak tumbuh dan berkembang secara optimal lewat stimulasi sensorik dan aktivitas fisik, Spark Sports Academy adalah solusinya. Di sini, anak Anda akan belajar dan tumbuh bersama melalui berbagai aktivitas seru dan positif. Spark Sports Academy akan mengasah komunikasi, meningkatkan kepercayaan diri, dan keterampilan sosial buah hati Anda. Sebuah investasi terbaik untuk masa depan anak.
Sharenting dan Dampaknya bagi Privasi Anak di Era Media Sosial
Fenomena sharenting kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan orang tua modern. Istilah ini berasal dari gabungan kata share dan parenting, yang berarti kebiasaan orang tua membagikan momen tumbuh kembang anak mereka di media sosial, baik dalam bentuk foto, video, atau informasi pribadi anak sejak usia dini. Praktik ini terlihat sepele, tetapi dapat menimbulkan dampak jangka panjang bagi identitas digital anak. Key takeaways: Apa Itu Sharenting dan Mengapa Menjadi Tren? Sharenting muncul seiring meningkatnya penggunaan media sosial di kalangan orang tua milenial. Alasan utamanya beragam, mulai dari ingin berbagi kebahagiaan, mencari dukungan dari komunitas, hingga membangun kenangan digital. Namun, kebiasaan membagi momen anak sering kali orang tua lakukan tanpa mempertimbangkan batas privasi anak dan potensi dampak psikologisnya di masa depan. Baca: Milenial Parenting: Karakteristik dan Tantangan dalam Pengasuhan Risiko Tersembunyi di Balik Sharenting Meskipun terlihat tidak berbahaya, sharenting membawa sejumlah risiko serius yang sering kali tidak orang tua sadari. Berikut beberapa di antaranya. 1. Pencurian Identitas Digital Menurut laporan The Children’s Commissioner for England, sebelum anak mencapai usia 13 tahun, rata-rata lebih dari 1.300 foto mereka telah beredar di internet tanpa kendali penuh orang tua. Data ini berpotensi dimanfaatkan oleh pihak tak bertanggung jawab, seperti pencurian data-data digital anak, yang dapat digunakan dalam penipuan atau manipulasi daring di masa depan. 2. Digital Kidnapping (Pencurian Foto Anak) Terdapat fenomena digital kidnapping, yakni pelaku mengambil foto anak dari akun media sosial dan menggunakannya untuk membuat profil palsu. Bahkan beberapa mengklaim anak tersebut sebagai milik mereka sendiri. Risiko pencurian ini akan meningkat saat orang tua mengunggah foto anak dengan informasi pribadi seperti nama lengkap atau lokasi. 3. Eksposur Berlebihan terhadap Dunia Maya Ketika setiap momen anak dibagikan secara daring, anak kehilangan kendali atas representasi dirinya. Menurut studi dari University of Florida Levin College of Law, eksposur ini dapat memengaruhi cara anak melihat diri sendiri karena orang tua membentuk identitas digital mereka tanpa persetujuan pribadi. 4. Penyalahgunaan Data Pribadi Jika informasi seperti tanggal lahir, lokasi sekolah, atau kebiasaan anak orang tua dibagikan ke sosial media, data-data tersebut dapat disalahgunakan oleh pihak tertentu. Sebagai contoh untuk tujuan komersial atau bahkan kejahatan dunia maya. UNICEF menekankan pentingnya kesadaran orang tua terhadap keamanan data anak di era digital. Baca: Uninvolved Parenting: Ciri-Ciri, Dampak, dan Solusinya Dampak Psikologis pada Anak Selain risiko digital, sharenting juga memiliki dampak psikologis yang mendalam bagi anak, terutama saat mereka mulai menyadari keberadaan diri mereka di dunia maya. 1. Kehilangan Privasi Sejak Dini Pertama dan paling mendasar, anak yang tumbuh dengan jejak digital tanpa kendali dapat merasa kehidupannya “terbuka untuk publik”. Fenomena ini dapat memicu kecemasan sosial dan perasaan tidak nyaman saat mereka menyadari banyak orang melihat foto atau kisah pribadinya. 2. Menurunnya Kepercayaan terhadap Orang Tua Ketika anak merasa diekspos tanpa izin, mereka bisa kehilangan rasa percaya terhadap orang tua. Dampaknya, kepercayaan yang rusak di masa kecil dapat berpengaruh pada hubungan keluarga jangka panjang. 3. Rasa Malu dan Harga Diri yang Terganggu Beberapa anak mengaku merasa malu ketika teman-temannya menemukan unggahan lama yang memperlihatkan mereka dalam situasi lucu, canggung, atau memalukan. Eksposur semacam ini dapat menurunkan self-esteem dan membuat anak menjadi lebih tertutup dalam berinteraksi sosial. 4. Kesulitan Mengontrol Identitas Diri Terakhir, anak yang tumbuh dengan identitas digital buatan orang tua sering kali merasa kesulitan membangun citra diri yang autentik, sehingga menghambat proses pencarian jati diri di usia remaja. Baca: Kelebihan dan Kekurangan Pola Asuh Elephant Parenting Etika Digital dalam Era Sharenting Untuk menjadi orang tua yang bijak di era digital, penting untuk memahami batas etika sharenting. Prinsip utama yang harus dipegang adalah menghormati hak anak atas privasi dan perlindungan data pribadi. Maka dari itu, orang tua perlu lebih bijak dalam menggunakan platform media sosialnya dengan mempraktikkan etika-etika berikut ini. Melalui langkah-langkah ini, sharing momen dengan anak di media sosial bisa lebih aman tanpa mengorbankan privasi anak. Mari Kita Dorong Eksplorasi Sehat dan Aman untuk Anak Dalam dunia yang serba terkoneksi, orang tua tidak bisa menghindari sharenting sepenuhnya, tetapi bisa mengelolanya dengan bijak. Pengasuhan modern bukan hanya soal membagikan momen, tetapi juga melindungi identitas dan masa depan digital anak. Jika Anda ingin menggantikan kebiasaan sharenting dengan pengalaman nyata yang lebih bermakna, mencari kegiatan positif sambil seru-seruan di Sparks Sports Academy bisa menjadi pilihan tepat. Melalui program-program kami, anak-anak dapat belajar mengenali batas diri, berekspresi secara sehat, dan mengembangkan kemampuan sosial yang alami.
Milenial Parenting: Karakteristik dan Tantangan dalam Pengasuhan
Milenial parenting adalah gaya pengasuhan yang dilakukan oleh generasi Milenial (lahir sekitar 1981-1996) yang memiliki ciri khas berbeda dari generasi sebelumnya. Berbeda dengan generasi Baby Boomers atau X, gaya asuh orang tua Milenial dipengaruhi teknologi, akses informasi, dan perubahan pola hidup modern. Sehingga, orang tua cenderung lebih demokratis dengan pembagian tanggung jawab ayah dan ibu yang lebih seimbang. Selain itu, orang tua menerapkan nilai-nilai mindfulness dan kecerdasan emosional agar mendorong anak pada kesadaran diri dan mengedepankan kesehatan mental. Key Takeaways Karakteristik Milenial Parenting Seiring berjalannya waktu, pola pengasuhan mengalami perubahan mengikuti perkembangan zaman. Tak terkecuali generasi Milenial yang mulai melepaskan gaya pengasuhan otoriter dan kaku ala generasi Baby Boomers maupun generasi X. Orang tua Milenial tumbuh di era pesatnya perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK). Kondisi ini menuntut mereka untuk terbuka terhadap dunia digital seperti media sosial yang memudahkan manusia mengakses berbagai informasi dan ilmu pengetahuan hanya dalam satu genggaman. Mereka mulai mengadopsi gaya parenting modern dengan tetap memegang nilai-nilai tradisional. Maka dari itu, Milenial parenting cenderung lebih terbuka dan komunikatif kepada anak. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang kental dengan hierarki dan menggunakan hukuman sebagai pembelajaran. Gaya asuh otoritatif juga sangat sesuai dengan nilai-nilai yang mereka pegang. Penelitian Sekolah Tinggi Agama Islam Ibnu Rusyd Lampung menyebut bahwa pola ini mengombinasikan aturan jelas dan dukungan emosional yang memperhatikan emosi anak dengan tetap memberi batasan sehat. Sehingga, tak heran anak tumbuh menjadi mandiri, percaya diri, dan bertanggung jawab. Sebagian pun menilai bahwa orang tua Milenial lebih memahami kebutuhan anak. Mereka suka mengikuti kajian tentang pengasuhan dan keluarga melalui WhatsApp, webinar, dan seminar sehingga wawasan mendidik anak semakin luas. Dalam membagi peran rumah tangga pun demikian. Ayah dan ibu memiliki pembagian peran yang seimbang dan setara. Mereka lebih fleksibel untuk melakukan suatu pekerjaan, baik yang berhubungan dengan rumah tangga maupun karier. Itu bisa tampak dari istri yang bekerja dan suami mengerjakan pekerjaan rumah. Mereka menciptakan keharmonisan rumah tangga dengan menjaga keseimbangan berdasar pada komunikasi bersama. Ini yang menjadi teladan bagi anak-anak ketika dewasa. Baca: Permissive Parenting: Kenali Risiko dan Cara Mengatasinya Tantangan Pola Asuh Milenial Di balik kelebihannya, bukan berarti Milenial parenting lepas dari segala tantangan. Orang tua Milenial pasti memiliki tantangannya masing-masing, terlebih bila memiliki anak dari generasi Z atau Alpha yang lahir di tengah pesatnya teknologi. Adapun tantangan itu adalah sebagai berikut. 1. Tekanan Sosial Media Hidup di era digital sangat berpengaruh bagi manusia, terlebih Milenial yang menemui masa tanpa internet sampai sosial media merajalela. Kondisi ini bisa membuat orang tua Milenial mudah dibombardir oleh saran parenting dari media sosial yang menunjukkan standar keluarga bahagia. Informasi ini tak jarang membuat orang tua merasa gagal pada setiap pola asuh yang mereka berikan. Padahal, mereka sudah melakukan yang terbaik sesuai kemampuan dan kebutuhan anak. Orang tua menjadi sulit menyadari bahwa media sosial bukan kehidupan nyata yang bisa menjebak. 2. Sulit Membagi Waktu Orang tua Milenial seringkali sulit membagi waktu antara karier, pekerjaan sampingan, dan keluarga. Mereka sibuk hingga hampir tidak pernah benar-benar istirahat, apalagi meluangkan waktu bermain bersama anak. Meskipun ada pilihan bekerja dari rumah, tetapi tak jarang malah membuat batasan semakin kabur sehingga sulit fokus ketika mengerjakan sesuatu. 3. Ketidakstabilan Finansial Milenial parenting juga berhadapan dengan ketidakstabilan finansial yang nyata. Generasi Milenial tumbuh di tengah resesi yang membuat harga melambung tinggi, termasuk kebutuhan primer seperti tempat tinggal dan bahan pokok. Biaya pendidikan dan day care anak tak kalah membuat cemas, sehingga mereka harus bekerja ekstra untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Ini yang membuat mereka sulit membagi waktu antara bekerja dan rumah karena tuntutan hidup semakin meningkat. 4. Menjaga Anak dari Pengaruh Media Sosial Tantangan lain dari Milenial parenting adalah menjaga anak dari pengaruh besar media sosial. Adanya media sosial memang memudahkan berkomunikasi dan saling terhubung, tetapi sepaket dengan potensi kejahatan yang rentan terjadi. Salah satu kejahatan yang rentan dialami anak-anak adalah cyber bullying, konten berbahaya, judi online, penipuan online, hingga eksploitasi seksual anak secara online. Game online yang anak-anak gunakan tak lepas dari dampak buruk. Oleh karena itu, orang tua perlu mengawasi penuh setiap aktivitas anak. 5. Kecemasan Masa Depan Ketidakstabilan finansial, perubahan iklim, dan meningkatnya kejahatan online membuat orang tua merasa cemas akan masa depan. Mereka seringkali memikirkan tentang masa depan yang penuh dengan ketidakpastian demi memberikan ruang aman dan nyaman bagi generasi penerusnya. Baca: 7 Tanda Anak Siap Ikut Kelas Olahraga, Orang Tua Wajib Tahu! Lindungi Anak dengan Pola Asuh Terbaik Beri anak pola asuh terbaik sesuai kebutuhan mereka di rumah. Milenial parenting merupakan salah satu cara untuk membuat anak lebih mandiri, percaya diri, dan memiliki kecerdasan emosional yang baik. Pengasuhan terbaik juga bisa dilakukan di sekolah dengan sistem pembelajaran yang menstimulasi kemampuan sensorik. Spark Sports Academy menjadi pilihan tepat bagi keluarga yang ingin memberikan stimulasi positif untuk anak melalui aktivitas fisik yang terarah dan terpercaya. Dengan pendekatan yang holistik dan instruktur berpengalaman, kami dapat membantu orang tua Milenial menemukan solusi praktis untuk mendukung tumbuh kembang anak tanpa mengabaikan keseimbangan hidup. Melalui program olahraga yang menyenangkan dan terstruktur, orang tua pun dapat mendukung anak tumbuh aktif, percaya diri, dan berdaya.
Permissive Parenting: Kenali Risiko dan Cara Mengatasinya
Permissive parenting atau pola asuh permisif adalah gaya pengasuhan yang hangat, suportif, namun minim batasan dan kontrol. Pola ini kerap dipilih orang tua modern yang ingin menghindari konflik dan tidak ingin terlihat “terlalu keras” pada anak. Namun, jika kurang terstruktur maka dapat memengaruhi kemampuan anak dalam mengatur emosi dan perilaku. Oleh karena itu, memahami manfaat dan risikonya menjadi penting agar orang tua dapat menemukan keseimbangan terbaik dalam mendidik anak. Key takeaways: Apa Itu Permissive Parenting? Mengutip dari Healthline, permissive parenting, atau pola asuh permisif, adalah gaya pengasuhan di mana orang tua bersikap sangat hangat, suportif, dan responsif, tetapi menetapkan sedikit aturan dan disiplin. Biasanya, orang tua permisif cenderung menghindari konflik dan sulit mengatakan “tidak” kepada anak. Dalam pola ini, orang tua sering lebih berperan sebagai teman daripada sebagai otoritas, dan memberikan kebebasan besar kepada anak untuk menentukan pilihannya sendiri. Namun, minimnya batasan akan berdampak besar pada perkembangan tanggung jawab dan kedisiplinan anak. Baca: Kelebihan dan Kekurangan Pola Asuh Elephant Parenting Keuntungan Permissive Parenting Berikut beberapa keuntungan yang dapat Anda pertimbangkan dalam pola asuh permisif. 1. Kedekatan Emosional yang Lebih Hangat Orang tua permisif dikenal sangat responsif secara emosional sehingga anak merasa aman untuk mengekspresikan perasaan dan bercerita. Sebagai hasilnya, pola ini membantu membangun hubungan orang tua–anak yang penuh kepercayaan dan keterbukaan. Tentunya ini akan menjadi fondasi penting bagi kesehatan emosional anak jangka panjang. 2. Pengembangan Kreativitas dan Rasa Ingin Tahu Karena anak tidak dibatasi secara kaku, mereka cenderung lebih berani mencoba hal baru, mengeksplorasi ide, dan mengembangkan kreativitas alami. Pasalnya, kebebasan dalam bereksplorasi membuat anak lebih percaya diri mengambil inisiatif dan menemukan minatnya sendiri. 3. Harga Diri yang Lebih Tinggi Validasi dan dukungan yang konsisten dari orang tua permisif dapat meningkatkan perasaan dihargai (sense of worth) pada anak. Efeknya, anak jadi punya pondasi yang penting untuk membangun stabilitas emosional dan keberanian mengambil keputusan. 4. Komunikasi yang Terbuka dan Tidak Mengintimidasi Permissive parenting biasanya mendorong dialog dua arah di mana anak bebas menyampaikan pendapat tanpa takut dimarahi atau dihukum. Kebiasaan ini membantu anak mengembangkan kemampuan berkomunikasi, mengelola konflik secara sehat, dan membangun hubungan interpersonal yang lebih matang. Baca: 5 Jenis Olahraga untuk Meningkatkan Percaya Diri Anak Risiko dan Efek Negatif dari Permissive Parenting Berikut adalah beberapa dampak negatif yang bisa muncul dari penerapan pola asuh permisif yang kurang sehat. 1. Anak Kurang Disiplin dan Kontrol Diri Jika tidak ada struktur dan batasan yang konsisten, anak mungkin kesulitan mengembangkan kontrol diri dan menjadi kurang disiplin. Anak dengan pola asuh permisif tidak terbiasa dengan batasan, sehingga mereka tidak belajar pentingnya aturan dan konsekuensi. 2. Memiliki Kecenderungan Melakukan Hal Terlarang The Berkeley Well Being Institute mengungkap sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa anak-anak dari orang tua permisif cenderung melakukan perilaku berisiko, seperti penyalahgunaan zat terlarang atau terlibat masalah dengan aparat hukum di masa remaja karena kurangnya pengawasan dan batasan. 3. Gangguan Emosi dan Kesiapan Mental Gaya asuh permisif bisa berkaitan dengan gejala kecemasan atau depresi karena anak tidak pernah diberi panduan untuk menghadapi frustrasi, kekecewaan, atau kegagalan. Orang tua yang terlalu memanjakan dan memberi anak lebih dari yang mereka minta tanpa mengajari anak arti sabar, usaha, dan tanggung jawab justru membuat anak tidak siap menghadapi realitas hidup yang penuh tantangan. 4. Sulit Menghormati Otoritas dan Aturan Eksternal Karena anak terbiasa minim aturan di rumah, mereka cenderung mudah mengalami kesulitan menyesuaikan diri dengan struktur di sekolah atau lingkungan lain yang menuntut disiplin. Baca: Berapa Usia Ideal Anak Mulai Ikut Kelas Olahraga? Cara Menerapkan Pola Asuh Permisif yang Sehat Agar pola asuh permisif tidak mendatangkan dampak buruk yang terlalu dominan di kemudian hari, berikut beberapa strategi yang bisa orang tua terapkan. Baca: 7 Cara Mendidik Anak Laki-Laki dengan Pendekatan Positif Terapkan Permissive Parenting tanpa Menghilangkan Pentingnya Disiplin Permissive parenting dapat menjadi pilihan gaya pengasuhan yang hangat dan penuh empati, namun tetap memerlukan batasan agar anak belajar disiplin dan tanggung jawab. Dengan begitu, orang tua dapat membantu anak tumbuh lebih mandiri dan matang dalam menghadapi tantangan. Untuk mendukung proses ini, Sparks Sports Academy menawarkan lingkungan belajar sambil bermain yang aman, aktif, dan terarah. Dengan begitu anak bisa bereksplorasi sambil belajar disiplin. Pendekatan ini sejalan dengan nilai pola asuh permisif yang ingin memberi ruang bagi anak, namun tetap memastikan mereka berkembang dengan karakter kuat.
