Orang tua mungkin merasa khawatir ketika anak melepeh makanan. Kekhawatiran tersebut valid karena anak bisa kekurangan nutrisi. Orang tua juga jadi berpikir apakah anaknya tidak menyukai makanan yang diberikan. Sehingga orang tua harus putar otak lagi untuk memasak resep lain. Lantas, kenapa anak melepeh makanan? Apakah ia tidak suka dengan makananya atau ada ciri tertentu? Mari simak penjelasannya dalam artikel berikut. Penyebab Anak Melepeh Makanan Ada beberapa penyebab anak melepeh makanan yang perlu diperhatikan oleh orang tua, beberapa di antaranya adalah: 1. Belum Terbiasa dengan Tekstur Tertentu Kadang anak melepeh makanan karena tekstur. Tenang saja, ini termasuk proses anak untuk belajar makan. Dalam fase ini juga, anak sudah mulai punya preferensi makanan yang disukai dan tidak. Jadi, misalnya, selama ini anak diberikan makanan dengan tekstur yang lembek. Tetapi karena anak terus berkembang dan tumbuh, lama-lama ia tidak lagi menyukai tekstur tersebut. Ia ingin makan dengan tekstur padat. 2. Tanda Belum Siap MPASI Padat Anak melepeh makanan juga bisa disebabkan belum siap dengan tekstur MPASI yang padat. Untuk diketahui, orang tua dapat memberikan MPASI dengan tekstur yang agak kasar pada usia 9-12 bulan. Sedangkan tekstur kasar untuk 12 bulan ke atas. Selain belum siap MPASI padat, mungkin juga anak mengalami ketakutan menghadapi makanan baru. Ini wajar terjadi untuk anak-anak berusia 1,5 tahun sampai 3 tahun. 3. Refleks Alami Mulut Bayi Anak yang masih belajar untuk makan biasanya belum sepenuhnya bisa mengunyah dan juga menelan dengan baik. Kondisi tersebut karena anak belum bisa mengkoordinasikan otot bagian rahang, mulut, dan lidah dengan baik. Sehingga anak melepeh makanan sebagai respons. Perilaku melepeh juga menjadi salah satu bentuk anak melakukan eksplorasi. Cara Mengatasinya Untuk mengatasi perilaku anak melepeh makanan, Anda bisa menerapkan beberapa hal berikut: 1. Kenalkan Tekstur Makanan Secara Bertahap Pastikan Anda memahami kebutuhan makanan anak mengenai tekstur. Berikut adalah tekstur yang dibutuhkan anak sesuai dengan usianya: 2. Beri Contoh dengan Makan Bersama Karena anak suka meniru apa yang dilakukan oleh orang dewasa, maka Anda bisa memanfaatkan fase ini untuk memberikan contoh yang baik. Orang tua dan anak bisa makan bersama dalam satu meja. Tentu dengan kursi khusus untuk anak agar aman. 3. Hindari Memaksa Anak Memaksa untuk makan akan membuat anak menjadi tidak nyaman. Jika terus berlanjut, anak akan merasa bahwa waktu makan adalah waktu yang menakutkan. Kondisi tersebut kemudian menyebabkan anak jadi kurang gizi jika terus menolak makan. Pastikan Anda membangun suasana makan yang hangat dan nyaman. Agar perilaku anak melepeh makanan dapat berkurang, Anda bisa membantu anak mengenali tekstur dan rasa lewat kelas Sensori di Sparks Sports Academy! Kelas ini akan membantu stimulasi oral motor dan sensorik anak agar lebih siap untuk makan secara mandiri.
Waktu yang Tepat untuk Memulai Toilet Training pada Anak
Toilet training anak merupakan salah satu proses pembelajaran agar anak dapat Buang Air Kecil (BAK) dan Buang Air Besar (BAB) sendiri di toilet. Harapannya anak sudah tidak BAK dan BAB di popok mereka. Namun kapan lebih tepatnya anak mendapatkan pelajaran toilet training tersebut? Lalu bagaimana tips untuk toilet training anak? Dalam artikel ini kami akan membahasnya. Kapan Anak Siap Toilet Training? Toilet training anak bisa Anda lakukan ketika anak sudah memenuhi beberapa syarat berikut, yakni: 1. Usia 18 Bulan ke Atas Biasanya toilet training anak bisa dimulai ketika usianya sudah 18 bulan atau 1,5 tahun. Anak mulai peka karena mereka sudah bisa lebih mudah melakukan kontrol pada sistem saraf. Termasuk mengontrol rasa ingin buang air kecil dan besar. Apabila Anda memberikan anak banyak kesempatan untuk memakaikan pakaian dalam alih-alih popok, anak bisa sadar fungsi tubuh mereka Walaupun kesiapan training toilet anak bisa terlihat pada usia 18 bulan, Anda tidak perlu khawatir jika anak belum merasa tertarik di usia tersebut. Karena ada juga anak yang baru toilet training pada usia 3 tahun. Jadi, pelan-pelan saja. 2. Sudah Bisa Duduk Sendiri dan Mengenali Rasa Ingin Buang Air Besar Sebelum melakukan toilet training anak pastikan anak sudah bisa duduk sendiri. Ini berkaitan dengan cara penggunaan toilet juga. Kemudian perhatikan apakah anak sudah bisa mengenali rasa ingin buang kecil. Anak mungkin akan mengatakan rasa ingin buang airnya kepada orang tua. Walaupun ia sudah memakai popok. Selain itu, ada gerakan seperti menahan pipis. 3. Popok Tetap Kering Selama Beberapa Jam Tanda siap toilet training anak lainnya adalah popok yang tetap kering ketika anak bangun tidur atau setelah mengganti popok 2 jam atau lebih dari itu. Anak yang berusia di atas 18 bulan sudah mampu mengontrol kandung kemihnya. Kontrol itu dibantu oleh otot-otot. 4. Menunjukan Ketidaknyamanan saat Popok Basah atau Kotor Anak yang mulai merasa tidak nyaman saat popoknya basah atau kotor biasanya lebih mudah dilatih karena mereka mulai menyadari perbedaan antara kondisi kering dan basah. 5. Bisa memberi Tanda kalau Ingin Buang Air Ketika anak sudah bisa memberitahu orang tua ketika ingin buang air, ini adalah tanda bahwa anak siap untuk menjalani toilet training karena sudah bisa berkomunikasi dengan baik. Langkah Efektif Melakukan Toilet Training pada Anak Ada beberapa strategi untuk menerapkan toilet training anak. Berikut beberapa di antaranya: 1. Gunakan Jadwal Rutin ke Toilet Anak yang sudah siap toilet training, sudah punya pola buang air sendiri. Oleh karena itu, orang tua bisa melihat pola tersebut. Dengan memperhatikan pola, orang tua bisa memanfaatkan kesempatan untuk mengajak anak ke toilet. Orang tua juga bisa menerapkan strategi seperti buang air setelah bangun tidur. Menerapkan rutinitas tersebut akan membuat anak terbiasa dan akhirnya memilih pergi ke toilet untuk buang air. Anda bisa memulainya sekali sehari dan dilakukan pada jam yang sama. Ajaklah duduk selama 3-5 menit. 2. Beri Pujian Saat Anak Berhasil Memberikan pujian atas apa yang dilakukan menjadi penting agar anak menjadi lebih percaya diri. Siapkan pujian untuk setiap sesi toilet training anak. Selain itu, dengan memberikan pujian untuk anak dapat membuatnya lebih termotivasi, anak tidak merasa stres, hubungan orang tua dengan anak menjadi lebih erat, dan dapat membentuk karakter anak menjadi lebih positif. 3. Hindari Marah Saat Anak Mengalami Kecelakaan Kecil Ketika ada situasi anak akhirnya mengompol, jangan dihukum dan memarahinya, ya. Karena menurut studi, jika anak mengompol dimarahi akan membuat keadaan menjadi runyam. Anak jadi lebih sering ngompol, depresi, bahkan kualitas hidup anak jadi rendah. Proses toilet training anak itu membutuhkan kesabaran. Pastikan Anda selalu mengawasi anak selama toilet training agar tidak terpeleset. 4. Gunakan Istilah yang Mudah Dipahami Orang tua bisa menggunakan istilah seperti “pipis” atau “buang air” yang mudah dimengerti anak. Ini akan memudahkan anak untuk mengkomunikasikan kebutuhan mereka. 5. Memberikan Contoh Agar anak bisa menggunakan toilet, berikan contoh kepadanya bagaimana cara menggunakan toilet. Seperti contoh, ketika orang tua ingin buang air, ajak anak ke toilet, kemudian duduklah ditoilet dan jelaskan apa yang sedang dilakukan. Tahap selanjutnya adalah mengenalkan penggunaan pispot khusus anak. Orang tua bisa meletakkan pispot tersebut di kamar mandi dan ajari ia untuk menggunakannya selayaknya orang tua duduk di toilet. Penyebab Toilet Training Selalu Gagal Pada usia tertentu, anak akan menunjukan keterterikan untuk buang air di toilet, namun tidak semua anak bisa langsung berhasil melakukannya. Berikut adalah penyebab anak gagal dalam toilet training: 1. Anak Belum Siap Secara Fisik atau Emosional Penyebab paling umum anak gagal toilet training adalah anak belum siap. Jika anak belum bisa duduk dan berdiri sendiri, frekuensi buang air belum teratur, belum menunjukan ketertarikan terhadap toilet, dan belum bisa mengkomunikasikan keinginan buang air, itu adalah tanda anak masih membutuhkan waktu untuk mencapai kesiapan tersebut. 2. Terlalu Dipaksa Orang tua pastinya ingin segera melepas popok pada anaknya. Namun, hal ini biasanya terlalu memaksa yang justru membuat anak merasa tertekan dan cemas. Paksaan ini akan menghambat proses belaja, bahkan menimbulkan penolakan terhadap toilet training itu sendiri. 3. Orang Tua Kurang Terlibat Toilet training harus dilakukan orang tua dengan sungguh-sungguh. Jika orang tua tidak terlibat dan malah mengandalkan pengasuh, anak akan merasa binging, tidak konsisten, atau justru kehilangan semangat. 4. Mengalami Pengalaman Tidak Menyenangkan di Toilet Beberapa anak memiliki pengalaman kurang menyenangkan di toilet. Seperti contoh, saat buang air, anak merasa kesakitan atau malah terjatuh saat duduk di toilet dewasa. Pengalaman ini menimbulkan ketakutan bagi anak. 5. Kurang Konsisten dalam Rutinitas Toilet training membutuhkan konsistensi agar anak bisa mandiri buang air. Jika orang tua belum memiliki jadwal atau aturan yang jelas, maka anak akan bingung dan menghambat proses belajar. 6. Orang Tua Tidak Tega Mendisiplinkan Anak Toilet training perlu aturan yang jelas, tapi kebanyakan orang tua tidak tega kalau anaknya dipaksa, apalagi saat anak menangis menolak toilet. Padahal, disiplin dan konsisten bisa membuat toilet training berjalan dengan lancar. 7. Terdapat Masalah Kesehatan Jika toilet training sudah dilakukan dengan sabar dan konsisten tapi tetap gagal, orang tua harus mempertimbangkan kemungkinan adanya gangguan kesehatan pada anak. Infeksi saluran kemih, sembelit, atau gangguan perkembangan tertentu bisa jadi penyebabnya. Konsultasikan ke dokter anak atau psikolog untuk bisa mengatasinya dengan langkah yang tepat. Training toilet anak bisa menjadi proses yang menantang. Misalnya, hari
9 Aspek Perkembangan Anak Usia Dini yang Harus Diperhatikan
Usia dini adalah masa emas perkembangan anak. Semua aspek tumbuh kembangnya saling berkaitan dan perlu distimulasi dengan seimbang. Aspek perkembangan anak usia dini tersebut terdiri dari kognitif, fisik, motorik, sosial, emosional, komunikasi, bahasa, nilai moral, hingga seni. Aspek-aspek tersebut dapat dioptimalkan dengan berbagai cara. Dalam artikel ini, Anda akan mendapatkan informasi mengenai cara menstimulasi aspek perkembangan anak usia dini. Silakan disimak! Aspek Fisik dan Motorik Aspek perkembangan anak usia dini yang pertama ada fisik dan motorik. Aspek ini berpengaruh terhadap kemampuan anak bergerak. Untuk motorik ada dua jenis, yakni motorik kasar dan halus. Bagaimana cara meningkatkan aspek perkembangan anak usia dini bagian fisik dan motorik? 1. Latih Keseimbangan dan Koordinasi Tubuh Untuk memaksimalkan keseimbangan dan koordinasi tubuh, Anda bisa mengajak anak menari. Dengan menari anak belajar menyelaraskan musik dengan gerakan tubuh. Itulah mengapa menari dapat meningkatkan keseimbangan anak. Selain itu, kegiatan yang melatih keseimbangan adalah berjalan dengan menjinjit, memetik buah, dan berdiri dengan satu kaki. 2. Dorong Aktivitas Eksploratif Untuk melatih motorik halus, Anda bisa mengajak anak berkegiatan menggunting, menempel, bermain dengan gelembung, bermain puzzle atau lego, sensori dengan adonan mainan, mengambil benda dengan cara dijepit, menggambar, mewarnai, dan mengikat. Sementara itu untuk motorik kasar, ajak anak untuk bermain perosotan, jungkat-jungkit, ayunan, jembatan bertali, kotak pasir, dan lain-lain. Anda juga bisa berolahraga bersama si kecil. 3. Biasakan Pola Hidup Sehat dan Aktif Selain aktivitas fisik, aspek fisik sangat bergantung pada kebiasaan sehari-hari. Orang tua bisa mengajak anak untuk melakukan tugas rumah tangga ringan, seperti menaruh baju kotor ke keranjang atau merapikan mainan. Kegiatan itu dapat melatih kekuatan otot dan ketahanan fisik pada anak. Tak hanya itu, orang tua juga harus memperhatikan asupan nutrisi seimbang dan waktu istirahat yang cukup, karena pertumbuhan fisik yang optimal terjadi saat anak tidur dengan nyenyak. Aspek Kognitif dan Bahasa Kognitif memiliki pengaruh terhadap pemikiran anak yang kritis, logis, kecerdasan, kemampuan analisis, dan lain sebagainya. Sementara itu untuk aspek bahasa berkaitan dengan bagaimana anak mampu mengungkapkan apa yang mereka inginkan. Juga berkaitan dengan memahami perasaan orang lain dan diri sendiri. Berikut cara untuk mengembangkannya: 1. Ajarkan Konsep Warna, Bentuk, dan Angka Belajar warna, bentuk, dan angka membantu meningkatkan kemampuan kognitif anak. Anda bisa melakukan kegiatan tersebut dengan sederhana. Misalnya, mengajak anak menghitung jumlah kancing pada bajunya. Anda juga bisa mengajak anak membedakan warna dan bentuk. Misalnya memegang satu benda berbentuk bola. Katakan kepada anak, “Ini bola berbentuk bulat dan berwarna kuning”. Ajarkan juga kepada anak untuk mengumpulkan benda yang memiliki bentuk sama. 2. Ajak Anak Berbicara Aktif Setiap Hari Salah satu cara paling ampuh meningkatkan aspek perkembangan anak usia dini pada bagian bahasa adalah dengan mengajaknya berbicara aktif setiap hari. Bahkan kegiatan ini bisa Anda lakukan sejak bayi Anda baru lahir. Semakin sering orang tua mengajak berbicara dan berekspresi, akan lebih mudah bagi anak untuk belajar interaksi dan berbicara. 3. Tumbuhkan Budaya Literasi di Lingkungan Rumah Ajak anak untuk membaca buku setiap hari. Membaca sangat efektif dalam meningkatkan aspek kognitif dan bahas anak. Saat membaca, anak akan belajar kosa kata baru sekaligus belajar sebab-akibat serta memprediksi kelanjutan cerita. Orang tua bisa memberi pertanyaan seperti, “Menurut kamu, apa yang akan dilakukan kura-kura setelah ini?” untuk memancing rasa ingin tahu anak. Aspek Sosial dan Emosional Aspek perkembangan anak usia dini selanjutnya adalah aspek sosial dan emosional. Aspek ini berkaitan dengan bagaimana anak dapat mengendalikan emosinya dan bersosialisasi. Dengan pengembangan yang bagus anak akan percaya diri, dapat berinteraksi dengan positif, dan meningkatkan kemampuan menyelesaikan masalah. Cara meningkatkannya dengan: 1. Latih Kerjasama Lewat Bermain Kelompok Anda bisa menerapkan beberapa permainan seperti bermain peran, bermain puzzle bersama, bermain dengan labirin, lompat tali, dan masih banyak lagi. Yang terpenting adalah Anda harus memberikan contoh dari rumah terlebih dahulu. Misalnya mengajak anak berinteraksi di acara keluarga, memasak bersama anak. Sehingga, anak nantinya bisa adaptasi ketika dikenalkan bermain kelompok di luar rumah. 2. Bantu Anak Mengenali dan Mengekspresikan Emosi Untuk membantu anak mengenali dan mengekspresikan emosinya, Anda harus mengenalkan berbagai jenis perasaan kepada anak. Jelaskan namanya dan rasanya. Setelah itu Anda bisa masuk mengajak anak mengekspresikan emosinya. Dimulai dengan memberikan contoh, seperti “Ibu atau Ayah senang karena adik makannya lahap banget,” dengan begitu anak akan paham ekspresi jika sedang senang. 3. Ajari Anak Belajar Mandiri dan Bertanggung Jawab Orang tua bisa memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih baju sendiri atau memberi kepercayaan untuk mencuci piring makananya. Hal itu dapat meningkatkan rasa percaya diri anak karena anak merasa mampu melakukan sesuatu sendiri. Kepercayaan diri ini akan membuat anak stabil secara emosional dan lebih berani untuk berinteraksi di lingkungan sosial yang baru. Orang tua jangan lupa untuk memberi apresiasi atas usaha yang dilakukan anak untuk menumbuhkan emosi positif Meningkatkan kemampuan aspek perkembangan anak usia dini bisa dilengkapi dengan stimulasi tumbuh kembang anak. Anda bisa mendaftarkan buah hati pada program belajar menyenangkan di Sparks Sports Academy. Tempat terbaik bagi anak Anda untuk tumbuh seimbang dan percaya diri.
3 Ciri Anak Cepat Tinggi dan Cara Mendukungnya
Secara umum memang ada standar tinggi badan anak ketika mencapai usia tertentu. Misalnya, pada usia 1-2 tahun bisa tumbuh 10-15 cm tiap tahun. Kemudian ketika anak masuk usia 3 tahun, pertumbuhan tinggi badan lebih lambat. Pertumbuhan tersebut akan terus berjalan dengan stabil sampai sebelum anak masuk ke masa pubertas. Beberapa anak memang bisa mengalami pertumbuhan pesat dibandingkan dengan teman-temannya. Ada beberapa faktor yang membuat kondisi tersebut memungkinkan seperti genetik, nutrisi, dan aktivitas fisik. Pesatnya pertumbuhan tersebut bisa terlihat dari ciri anak cepat tinggi. Untuk lebih mendalaminya, dalam artikel ini akan membahas ciri anak cepat tinggi dan cara mendukung pertumbuhan anak. Ciri Anak yang Cepat Tumbuh Tinggi Berikut adalah beberapa ciri anak cepat tinggi, yakni: 1. Nafsu Makan Baik dan Aktif Bergerak Ciri anak cepat tinggi sebenarnya sudah bisa terlihat sejak bayi. Salah satunya dari nafsu makan. Kadang bayi mengalami peningkatan nafsu makan atau ingin susu terus. Anda tidak perlu khawatir, itu bisa masuk ke dalam tanda anak akan tumbuh tinggi. Perkembangan dan pertumbuhan fisik membutuhkan nutrisi sehingga nafsu makan bayi pun meningkat. Sementara itu, olahraga yang teratur merupakan salah satu faktor anak tumbuh dengan baik. Nah, jika anak Anda aktif bergerak, itu bisa menjadi tanda anak akan memiliki tinggi badan yang bagus. Anak-anak aktif umumnya punya energi banyak. Mereka suka melompat, berlari, dan melakukan banyak aktivitas fisik lainnya. 2. Tidur Cukup Setiap Hari Anak yang bisa tidur cukup bisa memicu hormon pertumbuhan untuk berproduksi. Hormon ini umumnya muncul ketika anak masuk dalam fase deep sleep. Sebaliknya, jika anak tidak mendapatkan tidur cukup, akan menghambat produksi hormon. Maka dari itu anak yang punya durasi tidur cukup dan kualitas yang baik membantu pertumbuhan tinggi badan. Untuk jadwal tidur sendiri, anak-anak usia 6-12 tahun perlu tidur 9-12 jam. Sementara remaja 13-18 tahun butuh 8-10 jam. 3. Pertumbuhan Tinggi di Atas Rata-Rata Ciri anak cepat tinggi yang terakhir adalah pertumbuhan di atas rata-rata. Setiap usia memiliki tabel tingginya masing-masing. Orang tua dan anak bekerja sama untuk meraih tinggi sesuai standar tersebut. Tetapi mungkin ada faktor tertentu yang menyebabkan anak bisa lebih tinggi dari teman-temannya. Salah satunya adalah genetik dan jenis kelamin. Anak laki-laki biasanya lebih tinggi daripada anak perempuan. Baca: 3 Ciri Anak Gangguan Sensorik yang Perlu Diwaspadai Cara Mendukung Pertumbuhan Anak Orang tua bisa mendukung pertumbuhan anak dengan cara: 1. Beri Makanan Tinggi Protein dan Kalsium Anda bisa memberikan anak makanan berprotein tinggi seperti ikan, telur, daging, sayuran, dan kacang-kacangan. Kombinasikan protein tinggi tersebut dengan makanan berkalsium, seperti keju, susu, kedelai, dan yoghurt. 2. Dorong Anak Aktif Berolahraga Ajak anak aktif berolahraga. Beberapa olahraga yang bisa dicoba adalah berenang. Aktivitas tersebut dikenal dapat membuat pertumbuhan tinggi badan lebih cepat. Alasannya karena ketika berenang, tubuh anak dapat meregang dengan alami dan tulang anak menjadi lebih kuat. Akhirnya postur tubuh anak pun tegap dan terlihat kokoh dan tampak tinggi. Selain berenang, anak juga bisa diajak jogging bersama. Olahraga bisa meningkatkan hormon human growth hormone yang mampu memaksimalkan pertumbuhan fisik. 3. Batasi Waktu Layar Agar Lebih Banyak Bergerak Anak yang terlalu banyak screen time menyebabkan berbagai masalah seperti gangguan tidur, nyeri leher karena postur tubuh buruk, obesitas karena jarang beraktivitas dan masih banyak lagi. Maka dari itu penting untuk menjaga screen time anak agar tidak berlebihan. Jika anak mengalami gangguan tidur akan menghambat pertumbuhan. Batasi penggunaan gadget dan aja untuk beraktivitas fisik untuk menunjang pertumbuhannya. Baca: 10 Stimulasi agar Bayi Cepat Duduk dan Merangkak Untuk mendukung pertumbuhan anak, Anda bisa mendaftarkan anak untuk mengikuti kegiatan aktif di kelas basket atau multi sport di Sparks Sports Academy! Olahraga rutin membantu stimulasi tulang dan otot agar anak tumbuh secara optimal.
3 Ciri Anak Gangguan Sensorik yang Perlu Diwaspadai
Gangguan sensorik atau sensory processing disorder adalah gangguan yang dapat memengaruhi bagaimana otak memproses suatu informasi yang bersifat sensorik. Informasi sensorik ini berkaitan dengan penglihatan, penciuman, pendengaran, sentuhan, dan merasakan. Anak-anak dengan gangguan sensorik biasanya menjadi sangat sensitif atau bahkan tidak memiliki kepekaan terhadap stimulasi yang diberikan. Gangguan sensorik seringkali tidak disadari oleh orang tua. Padahal deteksi dini amat perlu untuk membantu anak beradaptasi dengan lebih baik. Untuk itu, kami akan memberikan informasi mengenai ciri anak gangguan sensorik. Silakan disimak! Ciri-Ciri Anak Gangguan Sensorik Berikut adalah beberapa ciri anak gangguan sensorik yang perlu orang tua pahami: 1. Terlalu Sensitif Terhadap Suara atau Tekstur Anak-anak dengan gangguan sensorik bisa mengalami ketakutan saat mendengar suara air dari penyiraman toilet, suara hair dryer, vacuum cleaner, gonggongan dari anjing, bahkan suara kecil seperti detakan jam. Tanda lainnya adalah: Kemudian ia juga dapat merasa terganggu dengan tekstur makanan. Tekstur tertentu membuatnya muntah. Kondisi ini menyebabkan anak menjadi picky eater. 2. Enggan Disentuh atau Memakai Pakaian Tertentu Keengganan anak untuk disentuh berkaitan dengan sensor perabaannya. Bisa berupa tekanan, sentuhan, rasa sakit, suhu, bahkan gerakan bulu. Biasanya anak akan mengalami: Selain itu, anak juga merasa tidak nyaman ketika berpakaian karena merasa pakaiannya terlalu ketat atau gatal. 3. Mudah Panik di Tempat Ramai Sedikit disinggung pada poin 2 bahwa ciri anak gangguan sensorik adalah tidak suka dengan kerumunan orang banyak. Alasannya karena kondisi tersebut menyebabkannya mudah panik. Tempat yang ramai cenderung ada banyak suara dari kecil sampai keras. Anak dengan gangguan sensorik tidak punya kemampuan mengabaikan suara-suara tersebut. Sehingga ia merasa tidak nyaman. Baca: 4 Cara Mengatasi Anak Suka Teriak Agar Anak Lebih Tenang dan Terkontrol Cara Membantu Anak dengan Gangguan Sensorik Setelah memahami ciri anak gangguan sensorik, kini saatnya Anda memahami bagaimana cara menghadapi anak dengan gangguan tersebut. Berikut beberapa hal yang bisa orang tua lakukan, yakni: 1. Hindari Memaksa Anak Menghadapi Pemicu Jangan memaksa anak untuk langsung menghadapi pemicunya. Misalnya, jika anak mengalami masalah dengan makanan tertentu, maka hindari memaksanya untuk makan makanan tersebut. Karena jika memaksa, hanya akan membuat kondisi anak semakin memburuk. Anak semakin takut bahkan trauma dengan makanan. 2. Ciptakan Lingkungan yang Tenang dan Nyaman Pastikan lingkungan memberikan stimulasi yang seimbang. Hindari memberikan stimulasi yang sangat banyak atau sangat kurang. Ketimpangan tersebut dapat menyebabkan adanya ketidakseimbangan terkait pemrosesan sensorik pada anak. Jika anak sensitif terhadap suara, cahaya, atau lainnya, maka coba ciptakan lingkungan yang lebih terstruktur dan tenang. Sediakan tempat tenang untuk anak beristirahat, kurangi suara bising, dan sesuaikan pencahayaan. 3. Lakukan Terapi Sensori Secara Bertahap Mengatasi gangguan sensorik juga dapat dibantu dengan berbagai bentuk terapi, misalnya:
