Pernahkah anak Anda tiba-tiba teriak? Baik itu ketika di tempat umum atau di rumah. Anak yang suka teriak memang sering membuat orang tua kewalahan dan kebingungan. Apalagi jika di tempat umum. Dalam artikel berikut Anda akan mengetahui penyebab dan cara mengatasi anak suka teriak. Silakan disimak. Penyebab Anak Sering Teriak Anak sering berteriak bukan tanpa alasan, Anda harus tahu beberapa penyebabnya sebelum menerapkan cara mengatasi anak suka teriak. 1. Ingin Didengar atau Merasa Diabaikan Jika anak tiba-tiba berteriak, coba Anda perhatikan kondisi sekitarnya. Apakah dia sedang mendapatkan perhatian atau tidak. Kalau tidak, berarti anak berteriak karena merasa diabaikan dan ingin mendapatkan perhatian. Kemudian untuk mengekspresikannya, anak memilih berteriak seolah berkata, “Perhatikan aku, dengar aku, lihat ke sini”. 2. Frustrasi atau Lelah Sebagai orang dewasa, jika sedang lelah pasti rasanya kesal sekali bukan? Nah, hal yang sama berlaku juga untuk anak-anak. Perbedaannya, orang dewasa sudah tahu bagaimana cara menghilangkan lelah dan meluapkannya. Sementara anak-anak belum tahu caranya karena ia masih belajar mengenali perasaan dan emosi. Maka dari itu, ketika anak sedang lelah atau frustrasi ia akan mengekspresikannya dengan berteriak keras hingga menangis. 3. Belum Bisa Menyalurkan Emosi dengan Kata Anak berusia 1-3 tahun masih mengeksplorasi berbagai hal baru, termasuk emosi. Berteriak menjadi tanda anak sedang mengalami pertumbuhan dan caranya untuk mengungkapkan emosi. Sementara itu, untuk bayi berusia di bawah dua tahun masih belum memiliki kemampuan berbicara dan perkembangan bahasa yang sempurna. Namun mereka sudah punya keinginan untuk menyampaikan pesan. Maka dari itu, ketika orang tua tidak memahami apa yang disampaikan oleh anak, maka anak menjadi kesal dan memilih berteriak. Baca: Inilah Hal yang Perlu Diperhatikan Orang Tua saat Anak Terlihat Gampang Capek Cara Mengatasinya Setelah mengetahui penyebabnya, kita masuk kepada cara mengatasi anak suka teriak. Berikut beberapa caranya: 1. Tetap Tenang dan Beri Contoh Bicara Lembut Pastikan Anda tetap tenang karena beberapa orang tua ikut emosi ketika menghadapi anak yang berteriak. Orang tua yang bersikap tenang dapat membantu anak ikut tenang. Setelah itu, tatap mata anak. Dengan menatapnya, anak akan merasa orang tua sedang mendengarkannya. Kemudian ajaklah anak berbicara dengan suara yang lembut. Jangan membentaknya, karena jika Anda ikut berteriak, anak akan semakin berteriak. 2. Ajarkan Anak Mengenali Perasaannya Pemahaman terhadap emosi untuk anak 1-5 tahun memang belum baik. Tetapi sebagai orang tua, Anda bisa memberikan pemahaman tersebut perlahan-lahan. Anda bisa menanyakan alasan anak berteriak. Misalnya, “Nak, ada apa? Susah puzzle-nya, ya?” Pastikan Anda menatap mata anak ketika berbicara. Kemudian lihat responnya. Bisa jadi anak akan menjawab dengan cara mengarahkan. Misalnya mengangguk dan menunjuk kepingan puzzle, “Oh, adik enggak nemu yang ini harus ditaruh di mana? Kita cari bareng-bareng, yuk.” Dengan begitu anak akan mendapatkan rasa aman karena orang tua memberikan perhatian dan mengajari bagaimana mengatasi masalah. 3. Kurangi Overstimulasi di Lingkungan Sekitar Overstimulasi adalah kondisi ketika anak kewalahan untuk menghadapi berbagai stimulasi. Misalnya gerakan, cahaya, suara, dan interaksi sosial. Pastikan kondisi lingkungan tidak membuat anak overstimulasi. Jangan terlalu ramai, berisik, atau cahayanya terlalu terang. 4. Ciptakan Lingkungan yang Tidak Membuat Anak Tertekan Cara mengatasi anak suka teriak selanjutnya adalah dengan menciptakan lingkungan yang bagus. Termasuk di dalamnya tidak ada benda yang berbahaya di sekitarnya karena khawatir anak akan melempar benda-benda tersebut. Pastikan posisi anak juga tidak di tempat berbahaya misalnya di ketinggian. Penting untuk memberikan anak ruang yang aman, kondusif, dan nyaman untuk anak agar dapat berkembang dengan baik. Pastikan lingkungan tempatnya tumbuh tidak memicunya untuk meniru teriakan. Ingat, anak adalah peniru ulung. Baca: Bayi Tiba-Tiba Rewel? Kenali Fase Wonder Week dan Cara Menghadapinya Atasi Anak Suka Teriak dengan Daftar Kelas Sensori Penerapan cara mengatasi anak suka teriak di atas bisa dibantu dengan belajar mengatur emosi dengan aktivitas lembut di kelas sensori anak dari Sparks Sports Academy! Kelas ini akan melatih anak untuk mengenai perasaan dan menyalurkannya dengan positif. Silakan kunjungi website untuk melakukan pendaftaran.
Inilah Hal yang Perlu Diperhatikan Orang Tua saat Anak Terlihat Gampang Capek
Apakah Anda sering melihat anak gampang capek saat bermain, berlari, atau berolahraga? Kondisi ini sering membuat orang tua khawatir, apalagi jika anak tampak lemas atau tidak bersemangat. Padahal, kelelahan pada anak tidak selalu menandakan masalah serius. Bisa jadi, otot dan stamina anak memang belum terlatih dengan baik karena kurang aktivitas fisik, istirahat, atau asupan gizi yang seimbang. Penyebab Anak Gampang Capek Sebelum mencari cara untuk meningkatkan stamina, penting bagi orang tua memahami apa yang membuat anak gampang capek. Rasa lelah yang sering muncul bisa disebabkan oleh faktor gaya hidup, kurangnya aktivitas fisik, hingga kondisi kesehatan tertentu yang memengaruhi energi anak. Berikut beberapa penyebab anak-anak mudah capek yang perlu dipahami orang tua: 1. Kurang Tidur dan Asupan Gizi Tidak Seimbang Tidur cukup dan pola makan bergizi merupakan kunci utama energi anak. Bila anak sering tidur larut, kurang protein, zat besi, atau vitamin, tubuhnya akan lebih cepat lelah. Kekurangan zat besi, misalnya, dapat mengurangi kadar hemoglobin yang bertugas membawa oksigen ke seluruh tubuh, sehingga anak mudah merasa lemas meski hanya melakukan aktivitas ringan. 2. Kurang Gerak dan Kebiasaan Sedentari Di era digital, banyak anak lebih suka duduk lama menonton video atau bermain gadget daripada beraktivitas fisik. Kebiasaan ini membuat otot jarang digunakan dan daya tahan tubuh menurun. Akibatnya, ketika harus bergerak aktif, anak mudah kehabisan tenaga. Melatih tubuh untuk aktif sejak dini penting agar otot dan jantung terbiasa bekerja lebih efisien. 3. Kondisi Kesehatan Tertentu Seperti Anemia Selain faktor gaya hidup, anak gampang capek juga bisa disebabkan oleh kondisi medis seperti anemia, gangguan tiroid, atau infeksi ringan yang belum pulih sempurna. Jika anak tampak terus-menerus lelah, pucat, atau tidak nafsu makan, sebaiknya konsultasikan dengan dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut. Baca: Anak Suka Mencubit Bukan Nakal tapi Butuh Pendampingan yang Tepat Cara Meningkatkan Stamina Anak Setelah mengetahui penyebabnya, orang tua dapat membantu meningkatkan stamina anak dengan langkah-langkah sederhana di rumah. Kombinasi antara aktivitas fisik teratur, asupan gizi seimbang, dan waktu istirahat yang cukup akan membantu anak lebih bugar dan berenergi sepanjang hari. 1. Rutin Beraktivitas Fisik Ringan Tubuh yang aktif akan lebih kuat dan bertenaga. Ajak anak berolahraga ringan secara rutin, seperti bersepeda, berenang, atau bermain bola. Aktivitas ini tidak hanya melatih kekuatan otot dan pernapasan, tetapi juga membantu meningkatkan semangat dan kepercayaan diri anak. 2. Cukupi Nutrisi dan Hidrasi Pastikan anak mendapatkan asupan makanan bergizi seimbang yang kaya protein, zat besi, vitamin C, serta karbohidrat kompleks untuk sumber energi. Jangan lupa penuhi kebutuhan cairan tubuhnya dengan air putih, terutama saat anak aktif bergerak. Dehidrasi ringan pun bisa membuat tubuh cepat lelah. 3. Jadwalkan Istirahat yang Cukup Anak-anak membutuhkan waktu tidur 9-11 jam per hari tergantung usianya. Tidur cukup membantu proses pemulihan otot dan menjaga keseimbangan hormon energi. Hindari kebiasaan tidur terlalu malam karena dapat menurunkan kualitas tidur dan membuat anak lebih mudah lemas keesokan harinya. Baca: Ciri-Ciri Threenager, Penyebab, dan Cara Menghadapinya Saatnya Daftarkan Anak Anda ke Kelas Gymnastic di Sparks Sports Academy! Kondisi anak gampang capek sebenarnya bisa diatasi dengan pola hidup sehat dan aktivitas fisik yang teratur. Kunci utamanya adalah keseimbangan antara gerak, nutrisi, dan istirahat yang cukup. Untuk membantu anak lebih aktif dan berstamina, ajak ia mengikuti kelas Gymnastic di Sparks Sports Academy! Melalui latihan fisik yang menyenangkan dan aman, anak belajar memperkuat otot, melatih keseimbangan, serta meningkatkan daya tahan tubuhnya. Dengan tubuh yang bugar dan energi yang stabil, anak siap beraktivitas lebih percaya diri setiap hari.
Anak Suka Mencubit Bukan Nakal tapi Butuh Pendampingan yang Tepat
Banyak orang tua merasa khawatir atau bahkan kesal saat anak suka mencubit, entah itu mencubit orang tua, teman, atau bahkan dirinya sendiri. Namun, perilaku ini tidak selalu berarti anak nakal. Pada usia balita, mencubit sering kali menjadi cara anak mengekspresikan emosi yang belum bisa ia sampaikan lewat kata-kata. Penting bagi orang tua untuk memahami maknanya dan tahu bagaimana merespons dengan tepat. Mengapa Anak Suka Mencubit? Sebelum menegur atau menghentikan perilaku mencubit, penting bagi orang tua memahami alasan di baliknya. Biasanya, anak suka mencubit bukan karena ingin menyakiti, melainkan karena sedang mencari cara untuk mengekspresikan perasaan atau menarik perhatian dengan bahasa yang mereka pahami. Berikut beberapa alasan kenapa anak-anak suka mencubit yang perlu Anda ketahui: 1. Ingin Menarik Perhatian Salah satu alasan umum mengapa anak suka mencubit adalah karena mereka ingin mendapatkan perhatian dari orang di sekitarnya. Ketika anak mencubit dan melihat reaksi orang tua, seperti terkejut atau menegur, ia belajar bahwa perilaku tersebut efektif untuk mendapatkan respons. Ini bisa menjadi pola yang berulang jika tidak diarahkan dengan benar. 2. Belum Bisa Mengontrol Emosi Anak-anak masih belajar mengenali dan mengatur perasaannya. Saat merasa marah, kecewa, atau frustrasi, mereka mungkin belum tahu cara yang tepat untuk mengekspresikan emosi itu. Mencubit menjadi bentuk pelampiasan spontan, terutama ketika mereka tidak mampu menyampaikan apa yang dirasakan dengan kata-kata. 3. Overstimulasi atau Frustrasi Dalam beberapa kasus, anak mencubit karena mengalami overstimulasi. Misalnya, ketika suasana terlalu ramai, bising, atau penuh aktivitas. Hal ini bisa membuatnya kewalahan dan berusaha menenangkan diri dengan tindakan fisik seperti mencubit. Kondisi frustasi juga dapat memicu perilaku ini, terutama bila anak merasa tidak dimengerti. Baca: 3 Cara Efektif Mengatasi Anak Jijikan agar Lebih Terbuka pada Hal Baru Cara Menghadapi Anak yang Suka Mencubit Setelah memahami penyebabnya, langkah berikutnya adalah membantu anak mengelola perilaku mencubit dengan cara yang tepat. Pendekatan yang lembut, sabar, dan konsisten akan membuat anak merasa dimengerti serta belajar menyalurkan emosinya secara lebih positif. 1. Jangan Langsung Memarahi Anak Reaksi marah justru bisa membuat anak semakin bingung atau takut. Saat anak mencubit, tenangkan diri terlebih dahulu, lalu tanggapi dengan nada lembut namun tegas. Katakan, “Mencubit itu sakit, ya! Kalau marah, boleh bilang Ibu atau Ayah.” Dengan cara ini, anak belajar bahwa mencubit bukan cara yang tepat untuk mengekspresikan perasaan. 2. Tunjukkan Cara Mengekspresikan Emosi dengan Benar Anak perlu diajari alternatif positif untuk mengungkapkan emosi. Misalnya, ketika marah, ajarkan anak untuk menarik napas dalam, memeluk bantal, atau mengatakan perasaannya secara verbal. Dengan latihan konsisten, anak akan belajar bahwa ada cara lain yang lebih baik daripada mencubit. 3. Alihkan ke Aktivitas Sensori atau Permainan Lembut Kegiatan sensori dapat membantu anak menyalurkan energi dan emosi dengan cara yang aman. Misalnya, bermain pasir kinetik, slime, air, atau menggenggam bola stres. Aktivitas seperti ini tidak hanya menyenangkan, tetapi juga melatih kemampuan anak dalam mengontrol impuls dan menenangkan diri. Baca: Manfaat Tummy Time untuk Bayi, Cara, dan Tips Agar Si Kecil Nyaman Atasi Anak yang Suka Mencubit dengan Ikut Kelas Sensori! Kebiasaan anak suka mencubit sebenarnya adalah bagian dari proses belajar mengenali dan mengendalikan emosi. Dengan pendampingan yang sabar dan respons yang tepat, perilaku ini bisa perlahan berkurang seiring waktu. Untuk membantu anak menyalurkan emosinya dengan cara positif, ajak ia mengikuti kelas Sensori untuk Anak di Sparks Sports Academy! Melalui aktivitas lembut dan permainan interaktif, anak belajar mengontrol perasaan, meningkatkan fokus, serta berinteraksi dengan lingkungan secara sehat dan menyenangkan. Dengan bimbingan yang tepat, anak tumbuh lebih tenang, percaya diri, dan bahagia.
3 Cara Efektif Mengatasi Anak Jijikan agar Lebih Terbuka pada Hal Baru
Apakah anak sering merasa jijik saat menyentuh makanan tertentu, mainan bertekstur lembek, atau benda dengan bau yang kuat? Jika iya, bisa jadi sistem sensori anak belum seimbang. Kondisi ini cukup umum terjadi dan merupakan bagian dari proses tumbuh kembang yang wajar. Namun, orang tua tetap perlu memahami cara mengatasi anak jijikan agar si kecil lebih nyaman dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Penyebab Anak Jijikan Sebelum mencari cara mengatasinya, penting bagi orang tua memahami apa yang membuat anak mudah merasa jijik. Rasa jijik biasanya bukan karena anak manja, tetapi karena sistem sensori mereka masih belajar menyesuaikan diri terhadap berbagai rangsangan baru dari lingkungan. Berikut ini beberapa penyebab kenapa anak bisa jijikan yang perlu diketahui orang tua: 1. Sensitivitas Tinggi pada Sentuhan atau Bau Beberapa anak memiliki sistem sensori yang lebih peka dibanding anak lain. Saat merasakan tekstur yang lengket, licin, atau bau menyengat, mereka bisa merasa tidak nyaman bahkan menolak untuk menyentuhnya. Ini bukan karena manja, melainkan karena otak anak sedang belajar menyesuaikan diri terhadap berbagai rangsangan dari luar. 2. Pengalaman Tidak Nyaman Sebelumnya Anak mungkin menjadi jijikan karena pernah mengalami pengalaman buruk. Misalnya, pernah memegang benda kotor atau makanan yang membuatnya mual. Rasa tidak nyaman tersebut bisa terekam dalam ingatan dan memunculkan reaksi negatif saat menghadapi hal serupa di kemudian hari. 3. Rasa Takut terhadap Hal Baru Anak-anak yang belum terbiasa dengan berbagai jenis tekstur, bau, atau bentuk benda bisa merasa takut mencoba hal baru. Reaksi jijik menjadi bentuk perlindungan diri ketika mereka belum yakin apakah sesuatu itu aman atau tidak. Baca: Mengatasi Brainrot pada Anak dengan Aktivitas yang Lebih Bermakna Cara Mengatasi Anak Jijikan Setelah memahami penyebabnya, orang tua bisa membantu anak mengatasi rasa jijik dengan cara yang positif dan menyenangkan. Pendekatan yang lembut, tanpa paksaan, akan membuat anak lebih mudah beradaptasi dan berani mencoba hal-hal baru di sekitarnya. 1. Kenalkan Perlahan Hal-Hal Baru dengan Cara Positif Proses mengatasi anak jijikan tidak bisa dilakukan secara instan. Kenalkan berbagai tekstur, bau, atau makanan baru secara bertahap. Misalnya, biarkan anak melihat atau mencium makanan terlebih dahulu sebelum menyentuhnya. Berikan contoh positif dengan menunjukkan ekspresi senang saat mencoba hal tersebut. 2. Jangan Memaksa Anak untuk Mencoba Pemaksaan justru bisa membuat anak semakin takut atau trauma. Sebaliknya, beri waktu bagi anak untuk beradaptasi dengan ritmenya sendiri. Orang tua dapat memberi dorongan halus seperti, “Kamu mau coba pegang sedikit?” sambil memberikan pujian ketika anak berani mencoba. 3. Gunakan Permainan Sensori untuk Menstimulasi Aktivitas sensori sangat efektif dalam membantu anak menyesuaikan diri dengan berbagai sensasi baru. Permainan seperti bermain pasir kinetik, menggambar dengan cat jari, atau bermain air bisa membantu anak mengenali tekstur tanpa tekanan. Aktivitas ini juga melatih sistem sensori agar lebih seimbang dan responsif terhadap berbagai rangsangan. Baca: Ciri Anak Cocok Ikut Balet, Taekwondo, & Gymnastic Atasi Anak Jijikan dengan Ikut Kelas Sensori! Membiasakan anak dengan berbagai tekstur dan sensasi memang membutuhkan waktu dan kesabaran. Namun, dengan pendekatan yang lembut dan menyenangkan, orang tua bisa mengatasi anak jijikan secara efektif tanpa membuatnya stres. Untuk hasil yang lebih optimal, ajak anak mengikuti kelas sensori untuk anak di Sparks Sports Academy! Kelas ini dirancang khusus untuk membantu anak mengeksplorasi berbagai tekstur, warna, dan sensasi dengan cara yang aman dan positif. Melalui permainan lembut yang menyenangkan, anak akan belajar lebih terbuka, percaya diri, dan nyaman menghadapi hal-hal baru dalam kehidupannya.
Mengatasi Brainrot pada Anak dengan Aktivitas yang Lebih Bermakna
Pernah merasa anak sulit fokus, cepat bosan, atau hanya tertarik pada video singkat di layar gadget? Hati-hati, bisa jadi itu tanda brainrot pada anak. Istilah brainrot kini sering digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika otak terlalu terbiasa dengan rangsangan instan seperti video pendek, game cepat, atau konten digital yang terus berubah. Akibatnya, anak kehilangan kemampuan untuk fokus, berpikir mendalam, dan menikmati proses belajar yang lebih lambat. Apa Itu Brainrot pada Anak? Secara sederhana, brainrot pada anak adalah kondisi di mana otak anak mengalami kelelahan karena terlalu sering menerima stimulus cepat dan berlebihan dari media digital. Konten singkat dan sensasi visual yang berulang membuat otak terbiasa mendapatkan dopamin instan. Hal ini mengganggu kemampuan anak untuk menikmati kegiatan yang membutuhkan konsentrasi lebih lama, seperti membaca buku, menggambar, atau bermain di luar rumah. Fenomena ini semakin sering terlihat pada anak-anak yang menghabiskan banyak waktu di depan layar tanpa pengawasan atau batasan waktu. Otak yang masih berkembang menjadi lebih sulit beradaptasi dengan aktivitas yang menuntut kesabaran dan fokus jangka panjang. Baca: 3 Cara Bantu Anak Usia 1 Tahun yang Suka Pukul Kepala Sendiri Dampak Brainrot pada Anak Jika dibiarkan, brainrot pada anak bisa berdampak serius pada perkembangan kognitif dan perilaku anak. Otak yang terbiasa dengan rangsangan instan menjadi sulit fokus, cepat bosan, dan kurang tertarik pada aktivitas yang membutuhkan konsentrasi lebih lama. Berikut beberapa dampak brainrot yang perlu diwaspadai orang tua: Baca: Kemampuan Visual Spasial Anak yang Jarang Disadari Orang Tua Cara Mengatasi Brainrot pada Anak Kabar baiknya, kondisi brainrot pada anak bisa dicegah dan diperbaiki dengan langkah sederhana di rumah. Kuncinya adalah membantu anak menyeimbangkan waktu layar dengan aktivitas fisik, sosial, dan permainan yang merangsang konsentrasi secara alami. Baca: 7 Cara Mengajari Anak Menerima Kekalahan dengan Lapang Dada Seimbangkan Dunia Digital dan Aktivitas Fisik Anak Brainrot pada anak bisa berdampak pada perkembangan kognitif dan emosional jika tidak segera diatasi. Namun, dengan bimbingan dan keseimbangan aktivitas digital dan fisik, anak dapat kembali fokus dan aktif. Ajak anak melatih konsentrasi dan kemampuan berpikir lewat kelas Multi Sport di Sparks Sports Academy! Melalui berbagai permainan seru dan interaktif, anak belajar fokus, berkoordinasi, dan mengasah kemampuan berpikir tanpa merasa bosan. Dengan pendekatan yang menyenangkan, anak tumbuh lebih sehat, aktif, dan siap menghadapi dunia nyata.
