Lewati ke konten
Sparks Sports Academy Logo
3 Kegiatan dan Manfaat Stimulasi Sensori pada Anak

3 Kegiatan dan Manfaat Stimulasi Sensori pada Anak

Sensory & Phonics

Pernah mendengar istilah stimulasi sensori? Ini adalah cara membantu anak mengenali dunia lewat sentuhan, suara, dan gerakan yang menyenangkan. Bisa dibilang bahwa stimulasi sensori adalah suatu proses yang sangat penting bagi tumbuh kembang anak.  Apabila sensori anak kurang terstimulasi, hal tersebut bisa membuat anak sulit untuk konsentrasi, kurang mampu mengenali objek, bahkan kurang memiliki keterampilan komunikasi. Sebenarnya, apa sih simulasi sensori itu? Berikut penjelasannya. Apa Itu Stimulasi Sensori? Sebelum mengulas lebih jauh seputar manfaatnya, Anda harus memahami terlebih dahulu pengertian dari stimulasi sensori. Ini merupakan sebuah rangsangan yang ditujukan pada ketujuh indra utama anak agar keterampilan motorik halus dan kasar kian berkembang.   Lantas, apa manfaat dari stimulasi sensori dan kegiatan apa saja yang bisa merangsang sensori pada anak? Simak informasinya. Manfaat Penting Stimulasi Sensori Demi mendukung tumbuh kembang anak, Anda bisa melakukan berbagai aktivitas sederhana seperti bermain air dan musik untuk merangsang sensori anak. Berikut beberapa manfaat penting melakukan aktivitas stimulasi sensori 1. Melatih Fokus dan Kemampuan Eksplorasi Anak Manfaat pertama melakukan stimulasi sensori adalah untuk melatih anak agar fokus dan konsentrasi saat bermain atau mengerjakan sesuatu.  Selain itu, permainan sensori juga membuka peluang anak lebih berkreasi dan mengekspresikan diri untuk menciptakan hasil karya yang unik. Misalnya, saat anak bermain dengan bahan alami seperti batu, daun, tanah liat, atau menggunakan cat.  Dengan bahan-bahan tersebut diharapkan bisa membangkitkan imajinasi anak sekaligus melatih mereka untuk menggali ide hingga menghasilkan karya seni sesuai kreasinya sendiri 2. Membantu Anak Lebih Tenang dan Percaya Diri Dengan memanfaatkan permainan sensori anak menjadi lebih tenang dan nyaman, serta melupakan emosi negatif. Bahkan, mereka berani tampil lebih percaya diri dan menyadari kemampuannya serta bisa beradaptasi dengan mudah jika stimulasi sensori terus dilatih.  3. Menstimulasi Koneksi Antar Indera untuk Tumbuh Kembang Optimal Manfaat ketiga adalah mampu mengembangkan ketujuh indra utama anak secara optimal mulai dari pendengaran, peraba, penglihatan, penciuman, pengecap, keseimbangan, hingga kesadaran tubuh. Baca: Memahami Stimulasi Oromotor, Manfaat, dan Aktivitasnya Aktivitas Stimulasi Sensori Sederhana di Rumah Meski terkesan sepele, namun kegiatan yang berkaitan dengan stimulasi sensori adalah suatu proses yang sangat bermanfaat bagi tumbuh kembang anak.  Berikut beberapa aktivitas sederhana untuk merangsang sensori anak yang bisa dilakukan di rumah.  1. Bermain Pasir, Air, atau Tepung Anda bisa bermain dengan memanfaatkan bahan di sekitar rumah seperti air, pasir, atau tepung untuk merangsang sensori anak. Misalnya, bermain air, tepung, dan pasir guna merangsang indra peraba. Selain itu, bermain menggunakan tepung, pasir, dan air juga akan mengembangkan motorik halus anak sekaligus memberikan inspirasi untuk menciptakan bentuk dan bangunan sesuai imajinasi mereka. 2. Mengenal Suara Binatang dan Musik Lembut Mendengarkan suara musik yang lembut atau mengenalkan berbagai macam suara binatang juga bisa merangsang sensori anak. Tidak perlu alat musik mahal, Anda bisa membuat alat musik sendiri dari bahan sederhana.  Misalnya, panci, galon air minum, kaleng cat bekas, dan lain sebagainya. Susun semua alat dan biarkan anak untuk mengeksplorasi semua bunyi-bunyian sesuai keinginannya.   3. Bermain dengan Tekstur Berbeda seperti Kain Lembut dan Bola Karet Anda juga bisa memanfaatkan berbagai macam alat untuk latihan sensori agar anak mampu merasakan perbedaan tekstur dari berbagai macam benda. Misalnya, menggunakan kain yang lembut, karpet yang kasar, atau bola karet yang licin. Dengan semua alat-alat tersebut anak akan mampu membedakan antara tekstur yang lembut, kasar, berbulu, atau halus. Baca: 3 Cara Mudah Menghentikan Anak Isap Jari, Simple Banget! Belajar Mengenal Dunia Lewat Bermain di Sparks Sports Academy Pada dasarnya, melakukan stimulasi sensori adalah suatu hal yang perlu Anda lakukan demi tumbuh kembang ketujuh indra utama anak. Ingin anak bisa lebih mengeksplorasi berbagai hal sebagai latihan sensori?  Kenalkan dunia penuh warna pada anak lewat kelas Sensori di Sparks Sports Academy! Di sini, anak belajar mengenali berbagai rangsangan dengan cara yang aman, lembut, dan menyenangkan.

27/10/2025 / Komentar Dinonaktifkan pada 3 Kegiatan dan Manfaat Stimulasi Sensori pada Anak
Baca Lebih Lanjut
Memahami Stimulasi Oromotor, Manfaat, dan Aktivitasnya

Memahami Stimulasi Oromotor, Manfaat, dan Aktivitasnya

Sensory & Phonics

Kemampuan makan dan bicara anak dipengaruhi oleh latihan oromotor. Stimulasi oromotor perlu dilakukan secara rutin sejak dini untuk melatih motorik oral anak agar terhindar dari GTM (Gerakan Tutup Mulut) dan keterlambatan bicara (speech delay). Anda bisa melakukan aktivitas ini di rumah dengan cara yang sederhana mulai dari meniup lilin hingga memberikan makanan yang bervariasi pada anak. Berikut cara menstimulasi oromotor dan manfaatnya. Apa Itu Stimulasi Oromotor? Latihan oromotor merupakan aktivitas yang berhubungan erat dengan kemampuan motorik dalam hal makan dan berbicara. Kegiatan ini meliputi gerakan otot di sekitar mulut seperti menelan, mengunyah, bernapas, dan berbicara. Pada anak, stimulasi oral ini bertujuan untuk meningkatkan fungsi sekaligus memperkuat otot halus pada wajah dan mulut. Itu sebabnya aktivitas oromotor sebaiknya dilakukan secara rutin sejak dini. Sebenarnya, apa saja manfaat dari stimulasi motorik oral ini dan bagaimana cara melakukannya? Berikut informasinya. Manfaat Stimulasi Oromotor untuk Anak Melatih kemampuan gerak pada anak tidak hanya fokus pada motorik kasar dan halus, tapi juga harus rutin menstimulasi motorik oral, dikenal juga dengan istilah oromotor. Latihan oromotor ini melibatkan semua gerakan yang menggunakan otot halus pada area mulut. Hal ini meliputi otot halus pada lidah, bibir, pipi, langit-langit, rahang, dan gigi. Berikut 3 manfaat menstimulasi oromotor secara rutin pada anak sejak dini. 1. Memperkuat Otot sekitar Mulut Manfaat pertama latihan oromotor sejak dini adalah mampu meningkatkan kekuatan otot halus di sekitar mulut. Pada bayi, latihan ini berguna untuk memperbaiki kemampuan dasar seperti mengisap dan menelan ASI baik secara langsung dari payudara maupun melalui botol susu. Selain itu, stimulasi oromotor juga melatih bayi menggerakkan lidah dengan cara mengalirkan susu yang masuk ke mulut untuk dipindahkan ke tenggorokan. 2. Melatih Koordinasi saat Menelan dan Mengunyah Manfaat kedua adalah melatih koordinasi otot oral saat mengisap, mengunyah, menelan, dan bahkan untuk bernapas. Umumnya, anak usia 6-12 bulan mulai belajar menggerakkan lidah untuk memindahkan makanan dalam mulut dari depan ke belakang. Selain itu, mereka juga mulai belajar untuk menggigit dan menelan makanan yang teksturnya lebih padat. 3. Mendukung Kemampuan Bicara yang Lancar Manfaat ketiga adalah merangsang tumbuh kembang saraf yang ada di area mulut, hal ini akan mendukung kemampuan anak untuk berbicara dengan lancar. Apabila latihan motorik oral dilakukan secara rutin, maka anak akan terhindar dari speech delay. Baca: Mengenal Psikomotorik, Dasar Penting untuk Tumbuh Kembang Anak Aktivitas Oromotor Sederhana di Rumah Stimulasi oromotor bisa dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya adalah: 1. Tiup Gelembung atau Sedotan Air Pertama, Anda bisa melatih motorik oral anak dengan cara mengajaknya bermain tiup gelembung atau meniup bola kapas menggunakan sedotan. Bisa juga dengan memanfaatkan sedotan untuk menguatkan otot mulut, caranya dengan mengisap minuman dengan kekentalan yang berbeda menggunakan berbagai macam ukuran sedotan. 2. Latihan Meniup Lilin dan Bersuara Lucu Stimulasi motorik oral juga bisa dilakukan dengan cara berlatih meniup lilin, bernyanyi, atau mengeluarkan berbagai macam suara lucu. Jangan lupa tampilkan juga mimik atau ekspresi wajah yang menarik agar anak semakin senang berlatih. 3. Beri Makanan dengan Tekstur Bervariasi Cara ketiga melatih motorik oral adalah memberikan makanan dengan berbagai varian tekstur mulai dari yang lembut, berair, kenyal, hingga padat. Cara ini efektif merangsang kemampuan anak melatih otot tenggorokan, mengontrol lidah, serta mengatur pergerakan makanan dari mulut ke dalam kerongkongan. Baca: Mengenal Kinestetik, Kunci Anak Aktif dan Cerdas Gerak Latihan Oromotor Aman dan Seru Bersama Sparks Sports Academy Itulah informasi seputar latihan motorik oral dan manfaatnya bagi anak. Intinya, berbagai stimulasi oral yang dilakukan dengan cara menyenangkan akan meningkatkan minat anak untuk ikut berpartisipasi pada pelatihan yang dilakukan. Jangan abai jika anak mengalami keterlambatan berbicara atau melakukan aksi GTM. Tingkatkan kemampuan makan dan bicara anak melalui kelas Sensori di Sparks Sports Academy! Anak akan mendapat stimulasi oromotor yang menyenangkan dan aman bersama instruktur ahli.

27/10/2025 / Komentar Dinonaktifkan pada Memahami Stimulasi Oromotor, Manfaat, dan Aktivitasnya
Baca Lebih Lanjut
7 Cara Mengatasi Anak yang Suka Menyakiti Diri Sendiri

7 Cara Mengatasi Anak yang Suka Menyakiti Diri Sendiri

Parenting

Saat anak menggigit, memukul, atau membenturkan kepala, itu bisa jadi tanda anak sedang kewalahan secara sensori. Mari pahami penyebab dan solusinya. Pasalnya, tindakan anak suka menyakiti diri sendiri atau self harm merupakan cara negatif dalam menyalurkan emosinya. Meskipun kebiasaan ini umumnya akan berhenti setelah anak tumbuh dewasa, namun ada kalanya tindakan self harm ini akan terus berlanjut. Untuk itu, Anda harus waspada dan terus mengawasi sambil mencari solusi. Sebenarnya, apa yang bisa membuat anak melakukan self harm dan bagaimana cara mengatasinya? Berikut penjelasannya. Mengapa Anak Bisa Menyakiti Diri Sendiri? Ada beberapa kondisi yang membuat anak memiliki kebiasaan suka menyakiti diri sendiri, diantaranya: 1. Respons dari Stres atau Frustasi yang Tidak Bisa Diungkapkan Seiring tumbuh kembangnya, ada sebagian anak yang merasa kesulitan untuk mengungkapkan keinginan atau apa yang tengah dialaminya hingga merasa frustasi atau stres. Misalnya, saat merasa lelah, lapar, sakit di bagian tubuh tertentu, atau speech delay. Keterbatasan anak dalam mengungkapkan keinginan dan kebutuhannya inilah yang akhirnya diwujudkan dalam bentuk self harm. 2. Overstimulasi dari Suara, Cahaya, atau Lingkungan Sekitar Stimulasi yang berlebihan di lingkungan sekitar seperti terlalu terang atau gelap atau terlalu bising juga bisa membuat anak merasa stres hingga akhirnya melakukan self harm untuk meredakan stresnya. 3. Kurangnya Kemampuan Komunikasi Emosional Penyebab berikutnya yang membuat anak suka menyakiti diri sendiri adalah kurangnya kemampuan dalam menyampaikan apa yang tengah dirasakannya. Ini dikarenakan anak merasa hal tersebut merupakan satu-satunya cara untuk menyampaikan ke orang tua apa yang sedang terjadi. Cara Mengatasi Anak yang Suka Menyakiti Diri Sendiri Anda bisa menerapkan beberapa cara yang efektif untuk mengatasi kondisi anak yang memiliki kebiasaan self harm , antara lain:  1. Tetap Tenang dan Tidak Langsung Menegur Hal pertama ketika melihat anak menyakiti diri sendiri adalah tetap bersikap tenang, tidak emosi atau langsung menegur. Sebaliknya, peluk dan ucapkan kalimat yang lembut agar anak menjadi lebih tenang dan tidak terus menyakiti diri sendiri.  2. Amankan Lingkungan Sekitar Anak Jika Anda mendapati anak suka menyakiti diri sendiri, sebisa mungkin amankan lingkungan rumah dan sekitar dari hal-hal yang berpotensi membuatnya terluka. Misalnya, menjauhkan barang-barang tajam yang berpotensi dipakai anak untuk melukai diri sendiri. Bisa juga dengan menggunakan wallpaper tebal untuk meminimalisir risiko cedera anak ketika membenturkan kepala pada dinding. 3. Validasi Perasaan Anak Anda bisa memvalidasi perasaan anak yang sedang emosi dengan cara mendengarkan ceritanya tanpa menyela, menyalahkan, atau menghakimi. Dengan cara ini anak akan merasa nyaman dengan keberadaan Anda.     4. Bantu Anak Menemukan Cara Ekspresi yang Aman Tindakan anak suka menyakiti diri sendiri memang  baik, namun jangan serta merta menyalahkannya.  Sebaliknya, Anda bisa memberikan edukasi cara mengelola dan menyalurkan emosi yang dirasakannya dengan berbagai hal positif seperti berenang, mewarnai, menggambar, membaca, dan lain-lain.  5. Latih Kemampuan Komunikasi Emosional Cara berikutnya dengan melatih kemampuan anak untuk lebih memahami dan mengekspresikan emosi diri sendiri. Misalnya, meningkatkan pengendalian diri terhadap hal-hal yang bisa memicu emosi dan kemampuan untuk bersosialisasi dengan orang lain.  6. Terapkan Rutinitas yang Konsisten Buatlah jadwal kegiatan positif yang harus dipatuhi dan dijalankan secara konsisten oleh anak. Cara ini mampu meminimalisir keinginan anak untuk menyakiti diri sendiri ketika merasa stres atau ada hal-hal yang tidak disukainya.  7. Konsultasikan dengan Profesional Terakhir, konsultasikan dengan ahli profesional seputar keadaan anak agar keluar dari kebiasaan self harm sekaligus memperoleh cara pengelolaan stres yang tepat sesuai kondisi anak. Baca: 5 Bahaya Duduk W pada Anak yang Perlu Orang Tua Ketahui Tenangkan Emosi Anak Tanpa Tekanan Itulah informasi seputar alasan dan cara mengatasi kondisi anak suka menyakiti diri sendiri. Masih kesulitan menghadapi sikap anak yang demikian? Redakan stres anak dengan stimulasi lembut lewat kelas Sensori di Sparks Sports Academy. Kelas ini membantu anak mengenal tubuh dan emosinya melalui kegiatan aman dan menyenangkan.

27/10/2025 / Komentar Dinonaktifkan pada 7 Cara Mengatasi Anak yang Suka Menyakiti Diri Sendiri
Baca Lebih Lanjut
3 Tanda dan Tips Menghadapi Anak di Fase Fournado

3 Tanda dan Tips Menghadapi Anak di Fase Fournado

Parenting

Setelah fase terrible twos, muncul tantangan baru bernama fournado. Fournado adalah gambaran tentang tingkah laku anak saat usia 4 tahun yang mulai belajar mandiri namun dengan kadar emosi yang belum stabil. Mereka bisa bertindak lucu, bersemangat, dan penuh energi, namun dalam satu waktu bisa meledak-ledak emosinya. Itu sebabnya pada tahap ini kesabaran orang tua sangat diuji karena tingkah buah hati yang bisa menjungkirbalikkan kesabaran. Lantas, bagaimana cara mengetahui anak berada di fase fournado dan bagaimana cara mengatasinya? Berikut informasinya. Apa Itu Fournado? Saat anak Anda telah berusia 4 tahun, bersiaplah menghadapi fase baru setelah melewati fase terrible two dan threenager, yaitu fase fournado. Ini merupakan sebuah tahap perkembangan anak usia 4 tahun yang perilaku dan emosinya bisa berubah-ubah layaknya tornado. Pada fase ini, kesabaran orang tua akan diuji karena harus berbagai kondisi yang cukup menantang dan menguras tenaga. Tanda-Tanda Anak Mengalami Fase Fournado Dilansir dari berbagai sumber, setidaknya ada tiga tanda atau ciri anak yang berada pada fase fournado, diantaranya adalah: 1. Mudah Marah atau Menangis tanpa Alasan Jelas Tantrum juga terjadi pada anak yang berusia 4 tahun, namun dalam versi yang lebih dewasa. Jadi, tantrum pada fase fournado adalah kondisi anak yang meluapkan emosi tidak sekadar dengan cara marah, menangis keras, atau berguling-guling di lantai saja. Pada fase ini anak bisa mengungkapkan semua rasa kecewa dan marah melalui kata-kata kasar yang kerap didengar dari lingkungan sekitarnya. 2. Sering Berkata “Aku Bisa Sendiri” Ada kalanya saat mencapai usia 4 tahun sudah dianggap sebagai anak yang sudah besar, apalagi jika statusnya berubah menjadi seorang kakak. Pada fase ini, anak akan memiliki keinginan melakukan banyak hal tanpa bantuan orang tua. Misalnya mengoleskan selai pada roti, makan, menuang minuman, bahkan berpakaian, dan mengenakan sepatu bertali, meskipun masih berantakan atau belum rapi. 3. Mulai Meniru Perilaku Orang Dewasa Hal berikutnya yang menandakan anak mengalami fase fournado adalah perilaku mereka yang meniru seperti orang dewasa. Mulai dari ekspresi wajah, gaya bicara, hingga gestur tubuh tertentu, semua bisa dilakukan dalam kondisi yang tidak tepat. Jika tidak hati-hati dalam bersikap dan bertutur kata, bisa jadi anak Anda akan meniru perilaku negatif dan menerapkannya di depan orang lain. Baca: 3 Ciri dan Cara Menghadapi Anak Sedang Fase Terrible Twos Tips Menghadapi Anak di Fase Fournado Menghadapi anak yang tengah berada di fase fournado memang cukup menguras kesabaran, namun bukan berarti Anda tidak bisa mengatasinya dengan baik. Ada beberapa cara efektif dalam menghadapi emosi anak berusia 4 tahun, diantaranya adalah: 1. Tetapkan Rutinitas dan Batasan yang Jelas Anda bisa menetapkan aturan atau batasan yang jelas kepada anak dan lakukan secara konsisten. Misalnya, menyimpan kembali mainannya apabila telah selesai bermain, menetapkan jam tidur, gosok gigi sebelum tidur, dan lain sebagainya. Jangan lupa berikan konsekuensi yang sewajarnya apabila melanggar aturan, seperti mengurangi jam bermain, tidak boleh menonton TV, dan lain-lain. 2. Beri Pujian untuk Perilaku Positif Memeluk dan memberikan pujian ketika anak berhasil mengatasi emosi dan melakukan hal-hal positif saat fournado adalah cara efektif yang bisa Anda terapkan di fase ini, misalnya memuji anak karena mau berbagi mainan dengan teman. 3. Ajak Anak Bermain Aktivitas Sensori untuk Menyalurkan Energinya Anda bisa mengajak anak melakukan permainan sensori untuk meredam emosi anak yang meledak-ledak. Misalnya, melukis menggunakan jari, bermain air, menginjak atau melompat diatas bubble wrap, bermain plastisin, dan lain sebagainya. Baca: 8 Rekomendasi Olahraga untuk Anak Usia 3-4 Tahun Memahami Fase Fournado pada Anak Fournado adalah sebuah periode pada anak usia 4 tahun yang penuh tantangan dan bisa menjungkir balikkan emosi orang tua. Namun dengan mengenali tanda fase ini dan menerapkan tipsnya, Anda bisa lebih siap menghadapi emosi anak yang seperti tornado. Tenangkan fase emosi anak dengan kegiatan positif di kelas Sensori di Sparks Sports Academy. Kelas ini mendukung eksplorasi emosi dan motorik anak melalui permainan sensori yang seru.

27/10/2025 / Komentar Dinonaktifkan pada 3 Tanda dan Tips Menghadapi Anak di Fase Fournado
Baca Lebih Lanjut
3 Ciri dan Cara Menghadapi Anak Sedang Fase Terrible Twos

3 Ciri dan Cara Menghadapi Anak Sedang Fase Terrible Twos

Sensory & Phonics

Anak tiba-tiba suka berkata “tidak” untuk semua hal? Mungkin Anda sedang menghadapi terrible twos! Memahami fase terrible twos membantu orang tua menavigasi masa penuh emosi ini dengan lebih bijak. Pada periode ini, anak mulai menunjukkan keinginan kuat untuk mandiri dan menguji batasan sekitarnya. Dengan kesabaran dan strategi yang tepat, fase ini bisa menjadi momen penting untuk tumbuh bersama anak. Apa Itu Fase Terrible Twos? Fase terrible twos adalah masa ketika anak berusia sekitar dua tahun mulai menunjukkan perubahan besar dalam perilaku dan emosi. Pada tahap ini, anak sedang belajar mengenali keinginannya sendiri, namun belum mampu mengungkapkannya dengan kata-kata. Akibatnya, muncul tantrum, penolakan, atau suasana hati yang mudah berubah. Meski sering membuat orang tua kewalahan, fase ini sebenarnya adalah bagian alami dari proses anak belajar mandiri dan memahami dunianya. Ciri-Ciri Fase Ini yang Perlu Anda Ketahui Setiap anak yang memasuki fase terrible twos biasanya mulai menunjukkan perubahan perilaku yang cukup mencolok. Ini adalah masa penuh tantangan, di mana emosi mereka berkembang pesat namun belum mampu dikendalikan sepenuhnya. 1. Anak Sering Tantrum dan Sulit Diarahkan Pada tahap ini, anak mudah meluapkan emosi melalui tangisan, teriakan, atau bahkan tindakan fisik saat merasa frustasi. Mereka juga sering menolak arahan orang tua karena ingin menunjukkan kendali atas diri sendiri. 2. Ingin Melakukan Segalanya Sendiri Rasa ingin mandiri mulai tumbuh kuat, membuat anak ingin mencoba berbagai hal tanpa bantuan. Meski terkadang belum mampu, keinginan ini adalah bagian penting dari proses belajar dan pembentukan kepercayaan diri. 3. Emosi Mudah Berubah dan Sulit Diprediksi Anak bisa tertawa bahagia, lalu beberapa detik kemudian marah atau menangis tanpa alasan jelas. Perubahan emosi yang cepat ini adalah tanda bahwa anak sedang belajar mengenali dan mengekspresikan perasaannya dengan cara baru. Cara Menghadapi Terrible Twos Tanpa Stres Fase terrible twos memang bisa menguji kesabaran setiap orang tua, terutama saat anak mudah marah dan menolak diatur. Namun, dengan pendekatan yang tepat, masa ini bisa menjadi kesempatan belajar yang berharga bagi keduanya. 1. Tetap Sabar dan Beri Ruang Bereksplorasi Saat anak tantrum, usahakan tetap tenang dan jangan terbawa emosi agar situasi tidak memburuk. Beri ruang bagi anak untuk mengekspresikan perasaannya sambil tetap mengawasi dengan lembut. 2. Gunakan Komunikasi Sederhana dan Lembut Alih-alih memerintah, berikan pilihan agar anak merasa punya kendali atas dirinya. Jangan lupa validasi emosinya dengan ucapan yang menenangkan agar anak merasa dipahami. 3. Ajak Anak Bermain Aktivitas Sensori untuk Menyalurkan Energinya Pastikan anak cukup makan dan tidur karena kelelahan bisa memicu tantrum. Jika mulai rewel, alihkan perhatiannya lewat permainan atau hal menarik yang membuatnya kembali ceria. Bantu Anak Belajar Mengelola Emosi di Usia Dini Menghadapi fase terrible twos memang membutuhkan kesabaran dan pemahaman ekstra dari orang tua. Masa ini bukan sekadar ujian, tapi juga momen penting bagi anak untuk belajar mengelola emosi dan memahami batasan. Bantu anak menyalurkan emosi dan rasa ingin tahunya lewat kelas Sensori di Sparks Sports Academy! Kelas ini dirancang khusus untuk menstimulasi kemampuan motorik, emosi, dan sosial anak dengan cara yang seru dan aman. Dengan pendekatan yang lembut dan interaktif, anak bisa bereksplorasi sekaligus belajar mengendalikan dirinya tanpa tekanan. Kunjungi situs Sparks Sports Academy dan temukan cara terbaik mendampingi tumbuh kembang si kecil dengan penuh kesenangan!

24/10/2025 / Komentar Dinonaktifkan pada 3 Ciri dan Cara Menghadapi Anak Sedang Fase Terrible Twos
Baca Lebih Lanjut

Paginasi pos

Sebelumnya 1 … 54 55 56 … 73 Berikutnya
Tema Royal Elementor Kit dibuat oleh WP Royal.