Kemampuan bicara merupakan salah satu tonggak penting dalam tumbuh kembang anak. Namun, tidak semua anak berkembang dengan tempo yang sama. Ada kalanya, beberapa anak mengalami kesulitan dalam bicara meski di usia yang dianggap sudah cukup besar. Kondisi ini tentunya kerap membuat orang tua cemas. Kabar baiknya, dalam banyak kasus, keterlambatan bicara bisa diatasi dengan stimulasi yang tepat di rumah. Artikel ini akan membahas cara mengatasi anak yang berbicara kurang jelas, beserta tanda-tanda yang perlu diwaspadai dan kapan pertolongan profesional sebaiknya dilakukan. Kenapa Anak Bicara Kurang Jelas? Pada dasarnya, kemampuan bicara anak berkembang secara bertahap dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti stimulasi bahasa, pendengaran, dan kesehatan organ bicara. Ketika anak belum bisa berbicara dengan jelas, seringkali hal ini terjadi bukan karena mereka kurang cerdas, melainkan karena belum optimalnya kemampuan fonetik dan otot mulut, atau kurangnya praktik berbicara sehari-hari. Faktor lingkungan, seperti terlalu banyak bermain gadget dan sedikit interaksi verbal, juga turut berperan besar dalam kasus speech delay pada anak. Kapan Anak Dianggap Bicara Kurang Jelas? Mengukur kemampuan bicara anak tentunya tidak bisa asal. Berikut panduan yang bisa orang tua jadikan acuan untuk menilai batas normal kemampuan bicara anak sesuai usianya: Cara Mengatasi Anak Bicara Kurang Jelas di Rumah Selain konsultasi ke ahlinya, orang tua juga bisa membantu anak menghadapi kesulitan bicara lewat cara-cara sederhana sekaligus menyenangkan yang bisa dilakukan di rumah, seperti: 1. Mengajak Bicara Sesering Mungkin Supaya perkembangan bahasa dan kosa kata anak semakin terangsang, ajak mereka bicara sering-sering. Gunakan kata-kata yang jelas dan sederhana, kemudian ulangi secara perlahan agar anak bisa mendengar intonasi dan pelafalan yang tepat. Hal ini juga bisa memancing respons anak dalam menjawab maupun meniru lawan bicara. 2. Mengajak Bicara dengan Perlahan dan Jelas Hindari berbicara terlalu cepat atau terburu-buru. Pakai intonasi yang lembut dan artikulasi yang jelas agar anak dapat menangkap perbedaan bunyi di setiap kata dan memproses ucapan orang lain dengan lebih baik. Dengan begitu, mereka juga bisa berlatih meniru pengucapan lawan bicara dengan lebih baik. 3. Bacakan Buku Cerita Bergambar Buku bergambar juga efektif untuk merangsang kemampuan bicara anak. Saat membacakan cerita, tunjuk gambar dan sebutkan namanya. Misalnya, “Ini kucing, kucing bilang meong!”. Selain menambah kosakata, kegiatan ini juga bisa menumbuhkan minat baca anak sejak dini. 4. Gunakan Bahasa Isyarat Sederhana Bahasa tubuh juga bisa dipakai dalam melatih komunikasi anak yang kesulitan bicara dengan. Tunjukkan gestur yang menggambarkan kata yang ingin disampaikan, misalnya “makan” sambil menggerakkan tangan ke mulut. Selain membantu anak memaknai maksud kalimat, cara ini bisa melatih koordinasi antara gerak dan kata. 5. Mengajak Bermain Sambil Berbicara Momen bermain juga bisa menjadi sarana belajar. Contohnya lewat permainan sederhana seperti “tebak benda” atau “siapa ini?” sambil menunjuk sesuatu untuk memancing anak menjawab dan meniru kosakata baru. Selain menyenangkan, interaksi santai seperti ini juga bisa meningkatkan kepercayaan diri anak. 6. Beri Respon Positif terhadap Setiap Usahanya Apabila anak mencoba mengucapkan kata, meskipun belum jelas, tetap berikan pujian sebagai bentuk apresiasi, lalu ulangi dengan kata yang benar agar anak merasa didukung selama proses belajar. Misalnya saat anak bilang “ata” untuk “mata”, katakan, “Iya, itu mata!”. Dengan begitu, anak akan terus termotivasi dan tidak mudah menyerah. 7. Batasi Penggunaan Smartphone Berdasarkan penelitian, penggunaan gawai secara berlebihan dapat menghambat kemampuan bicara anak karena mereka terlalu banyak menjadi pendengar pasif. Batasi screen time dan alihkan perhatian anak lewat aktivitas lain yang lebih interaktif, seperti bernyanyi atau membaca buku bersama. Kapan Harus ke Terapis Wicara? Jika berbagai stimulasi di atas belum bisa menunjukkan kemajuan berarti, jangan ragu untuk berkonsultasi ke profesional. Beberapa kondisi yang perlu diwaspadai orang tua antara lain: Membawa anak ke terapis wicara bukan berarti tanda anak “bermasalah”, melainkan langkah bijak untuk memastikan tumbuh kembang komunikasinya berjalan dengan optimal. Penutup Mengasah kemampuan anak yang kesulitan bicara memang membutuhkan waktu, kesabaran, dan dukungan emosional yang konsisten. Dengan menerapkan cara di atas, orang tua sudah membantu anak melangkah lebih dekat menuju kemampuan bicara yang lancar dan percaya diri. Namun, agar stimulasi bahasa semakin efektif sejak dini, penting juga untuk memberi anak pengalaman multisensorik yang mendukung perkembangan motorik, fokus, dan interaksi sosial. Misalnya dengan menempatkan anak dalam lingkungan belajar yang kaya rangsangan, seperti di Kelas Sensori dari Sparks Sports Academy. Melalui kegiatan sensorik yang aman dan menyenangkan, anak dapat bereksplorasi sambil memperkuat koneksi antara tubuh, otak, dan kemampuannya berbahasa.
7 Cara Mengajarkan Anak Berbagi dan Kesalahan yang Sering Dilakukan
Mom, sering ga sih melihat anak tidak mau berbagi dan kadang rebutan sesuatu? Kadang rasanya gemas ya, apalagi kalau situasinya terjadi di depan orang lain, jadi suka bingung harus menegur atau membiarkan saja. Tapi mom, saat anak belum mau berbagi itu hal wajar, ada beberapa faktor dan salah satu penyebabnya karena belum siap secara perkembangan, biasanya sampai usia sekitar tiga tahun. Pada usia ini anak masih fokus pada dirinya sendiri dan belum konsep berbagi. Nah, supaya mom ga bingung atau khawatir, penting banget untuk memahami dulu kenapa anak bisa bersikap seperti itu, dan bagaimana cara mengajarkan anak berbagi sesuai dengan usianya. Kenapa Anak Sulit Berbagi? Setiap anak akan melewati fase di mana mereka ingin memiliki semuanya sendiri. Saat diminta berbagi, mereka bisa menolak, bahkan menangis. Hal ini tentu wajar karena masih memiliki sifat egosentris, anak masih fokus ke dirinya sendiri. Bagi balita dan anak usia prasekolah, konsep berbagai atau meminjamkan barang masih sulit untuk dimengerti. Mereka belum bisa melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain karena anak sering berkata “tidak” atau “punyaku” saat diminta berbagi dan disertai gerakan menarik benda miliknya. Sebelum bisa berbagi, anak perlu merasakan rasa memiliki lebih dulu, mereka sedang belajar konsep “ini milikku”. Jadi wajar saja kalau anak menolak untuk berbagi atau marah ketika barangnya diambil tanpa izin. Kapan Anak Mulai Bisa Diajarkan Berbagi Menurut psikologi klinis Feka Angge Pramita, M.Psi., anak bisa mulai dikenalkan dengan konsep berbagai sejak usia 3 tahun, meski sifatnya masih tahap perkenalan, tapi orang tua sudah memberikan contoh langsung dan melibatkan anak dalam kegiatan berbagi. Anak di usia 3 tahun mulai memahami konsep berbagai, tetapi masih sering mengira berbagai berarti harus memberikan semuanya. Wajar saja jika mereka enggan melakukannya atau masih sulit untuk berbagi. Namun, memasuki usia 6-7 tahun, anak sudah mulai lebih paham makna berbagi dan bisa bergantian dengan teman, meski masih sulit untuk melepas barang miliknya. Cara Mengajarkan Anak Berbagi dengan Lembut Mengajarkan anak berbagai sebaiknya tidak dilakukan dengan memaksa, tujuannya bukan agar anak menuruti perintah, tapi agar ia dapat menumbuhkan kesadaran dari hati bahwa berbagi itu baik. Berikut beberapa cara yang bisa dicoba. 1. Berikan Contoh Nyata Setiap Hari Anak belajar dari mereka melihat, jadi cara mengajarkan anak berbagi paling mudah adalah dengan menunjukkan kebiasaan berbagi juga. Hal-hal simple seperti berbagi makanan, waktu, atau perhatian. Mereka akan meniru perilaku positif tanpa disuruh. 2. Gunakan Permainan Bergiliran Melatih anak berbagi lewat permainan yang butuh giliran, seperti bermain bola atau membangun menara blok bersamaan. Aktivitas ini dapat mengajarkan sabar dan kerja sama dengan cara yang menyenangkan. 3. Validasi Perasaannya Saat anak menolak berbagi, jangan langsung dimarahi. Akui dulu perasaannya, lalu bantu ia untuk memahami bahwa dengan berbagi bisa dilakukan setelah ia puas bermain. Anak akan merasa lebih dihargai dan mau untuk mencobanya. 4. Berikan Ruang untuk Memiliki Ajarkan kepada anak bahwa ada barang pribadi dan ada yang bisa digunakan bersama, tidak semua benda harus dibagi. Hal ini dapat membantu anak merasa aman sekaligus belajar berbagai dengan batasan yang sehat. 5. Rayakan Momen Anak untuk Berbagi Saat anak berani berbagi, berilah apresiasi dengan mengatakan “kamu baik banget mau berbagi mainan.” Adanya pujian sederhana seperti ini dapat membuat anak bangga dan ingin melakukannya lagi. 6. Ajak Anak Beraktivitas Sosial Dorong anak ikut kegiatan yang dapat melatih kerja sama dan empati, seperti mengikuti Kelas Multi Sport dari Spark Academy. Disana anak dapat belajar berbagi kesenangan sambil bergerak aktif bersama teman-temannya. 7. Gunakan Storytelling Cerita dapat membantu anak memahami makna dari berbagi. Mom bisa mencoba membacakan buku cerita atau dongeng tentang tokoh yang suka menolong agar anak dapat belajar empati dengan cara yang menyenangkan. Kesalahan yang Sering Dilakukan Orang Tua Terkadang tanpa disadari, orang tua sering salah cara mengajarkan anak berbagi, seperti memaksanya. Ada beberapa kesalahan umum yang perlu dihindarinya, antara lain: Tips Tambahan agar Anak Tumbuh Jadi Pribadi yang Mau Berbagi Berbagi bukan soal mainan atau makanan, tapi juga perhatian, waktu, atau kasih sayang. Misalnya, saat mom memeluk kakak, maka ajak juga adik ikut dalam pelukan agar anak paham kalau cinta orang tua tidak terbagi. Biasakan anak berbagi hal kecil, seperti memberi camilan ke teman atau membawakan makanan untuk tetangga. Tidak perlu banyak yang penting dilakukannya dengan tulus. Dengan kebiasaan sederhana ini, anak dapat belajar bahwa berbagi tidak membuatnya kehilangan apa pun. Sebaliknya, ia akan tumbuh jadi pribadi yang hangat, empatik, dan bahagia karena tahu kebahagiaan bisa datang dari memberi.
7 Cara Mudah Mendidik Anak yang Keras Kepala
Setiap anak memiliki karakter yang uniknya masing-masing. Ada yang mudah diarahkan, namun ada pula yang terasa sulit diajak kompromi dan ingin selalu menentukan sendiri apa yang ia lakukan. Anak seperti ini sering di-“cap” keras kepala. Namun di balik sikap keras kepala itu, tersimpan potensi besar: kemampuan berpikir kritis, keinginan mandiri, dan dorongan kuat untuk mencapai sesuatu. Orang tua hanya perlu menemukan cara yang tepat agar energi besar itu tidak berubah menjadi konflik, melainkan kekuatan positif. Key Takeaways Apa Arti “Anak Keras Kepala”? Anak keras kepala bukan berarti nakal atau tidak patuh. Mereka hanyalah anak yang memiliki pendirian kuat dan ingin menentukan pilihannya sendiri. Sikap ini biasanya muncul karena anak mulai menyadari bahwa dirinya punya kemampuan untuk memilih, berpikir, dan mengatur sesuatu secara mandiri. Sifat keras kepala paling sering terlihat pada anak usia 3-7 tahun, saat mereka belajar mengenal batas, kemandirian, dan cara bernegosiasi. Bagi orang tua, masa ini memang menantang, tetapi juga menjadi waktu emas untuk mengajarkan komunikasi dan empati. Keras kepala merupakan bentuk anak ingin merasa punya kendali atas dirinya sendiri, bukanlah tanda dia bandel. Kenapa Anak Bisa Keras Kepala? Beberapa hal yang bisa membuat anak tampak keras kepala antara lain: Kesalahan Umum Orang Tua Saat Menghadapi Anak Keras Kepala Orang tua sering kali tanpa sadar memperparah situasi dengan cara yang salah. Beberapa kesalahan yang umum terjadi yaitu: Cara Mendidik Anak yang Keras Kepala dengan Mudah 1. Dengarkan Perasaannya Sebelum menasihati, dengarkan dulu alasan anak. Dengan merasa didengar, anak akan lebih terbuka dan mau mengikuti arahan tanpa perlawanan. 2. Beri Pilihan, Bukan Perintah Alih-alih memaksa, berikan dua pilihan yang sama-sama baik. Misalnya, “Kamu mau pakai baju merah atau biru?” Ini membuat anak merasa punya kendali namun tetap diarahkan dengan lembut. 3. Jaga Nada Suara Nada suara yang lembut tapi tegas lebih efektif daripada marah. Anak akan meniru cara orang tua berbicara, jadi gunakan komunikasi penuh kasih agar hubungan tetap harmonis. 4. Gunakan Aktivitas Fisik Sebagai Pelepasan Energi Anak keras kepala biasanya memiliki energi besar yang perlu disalurkan dengan cara positif. Aktivitas fisik seperti berlari, melompat, atau bermain bola membantu mereka melepaskan emosi secara sehat. Kelas Multi Sport Anak di Sparks Sports Academy menghadirkan berbagai jenis olahraga seperti basket, badminton, futsal, dan lainnya. Melalui aktivitas ini, anak belajar disiplin, kerja sama, serta mengendalikan diri dengan cara yang menyenangkan. 5. Tetapkan Aturan yang Konsisten Anak butuh kejelasan. Saat aturan berubah-ubah, mereka akan terus menguji batas. Buat aturan sederhana, konsisten, dan jelaskan alasannya dengan bahasa yang mudah dimengerti. 6. Hindari Label Negatif Jangan menyebut anak “keras kepala” di depan mereka. Kata-kata bisa membentuk identitas, jadi gunakan istilah positif seperti “anak yang punya kemauan kuat.” 7. Jadilah Contoh dalam Mengelola Emosi Anak belajar dari cara orang tua merespons masalah. Jika orang tua mampu tetap tenang saat menghadapi konflik, anak pun akan meniru sikap tersebut. Jadikan Kemandirian Anak Sebagai Kekuatan Anak keras kepala bukan masalah, tapi potensi. Dengan pendekatan penuh kesabaran, kasih sayang, dan komunikasi positif, sifat itu bisa diarahkan menjadi kemandirian dan keteguhan hati yang luar biasa. Daripada menekan keinginan anak, bantu mereka memahami batas dan tanggung jawab. Saat anak merasa dihargai, mereka akan belajar mendengarkan dan menghormati dengan sendirinya. Dengan cara ini, orang tua tidak hanya mendidik anak yang patuh, tapi juga membesarkan pribadi kuat dan percaya diri.
7 Cara Memperbaiki Mental Anak yang Sering Dimarahi
Banyak orang tua yang kadang kehilangan kesabaran dan tanpa sadar memarahi anak terlalu keras. Meski terlihat sepele, dampak emosional dari amarah tersebut bisa bertahan lama di hati si kecil. Memahami cara memperbaiki mental anak yang sering dimarahi adalah langkah penting agar mereka tumbuh kembali menjadi pribadi yang bahagia dan percaya diri. Key Takeaways Apakah Anak yang Sering Dimarahi Bisa Terganggu Mentalnya? Ya, anak yang sering dimarahi berisiko mengalami gangguan emosional dan perilaku. Suara keras atau kata-kata negatif dari orang tua dapat membuat anak merasa tidak dicintai atau tidak berharga. Dalam jangka panjang, hal ini bisa memengaruhi rasa percaya diri, kemampuan bersosialisasi, bahkan prestasi akademik mereka. Oleh karena itu, penting bagi orang tua memahami dampak tersebut dan segera membantu anak memulihkan kondisi emosionalnya. Tanda Mental Anak Mulai Terpengaruh Karena Sering Dimarahi Beberapa tanda bahwa mental anak mulai terganggu karena sering dimarahi antara lain: Jika tanda-tanda ini mulai terlihat, artinya anak membutuhkan waktu, perhatian, dan lingkungan positif untuk pulih. Langkah-Langkah Memperbaiki Mental Anak Setelah Sering Dimarahi Ada beberapa langkah yang bisa Anda lakukan jika melihat anak mulai menunjukkan tanda-tanda diatas. 1. Akui Kesalahan dan Minta Maaf Langkah pertama adalah mengakui bahwa memarahi anak berlebihan bukan cara yang tepat. Ungkapkan penyesalan dengan tulus agar anak tahu bahwa orang tua juga bisa belajar dari kesalahan. 2. Bangun Kembali Rasa Aman Pastikan anak merasa aman di dekat orang tua. Hindari ucapan atau nada suara yang menekan, dan ganti dengan sentuhan lembut atau pelukan. Rasa aman akan menjadi fondasi utama pemulihan emosionalnya. 3. Dengarkan Cerita Anak Tanpa Menghakimi Berikan ruang bagi anak untuk menceritakan perasaannya. Dengarkan tanpa menyela atau mengoreksi agar anak merasa dipahami. Pendekatan ini membantu mengembalikan rasa percaya pada orang tua. 4. Luangkan Waktu Berkualitas Bersama Gunakan waktu luang untuk melakukan aktivitas positif bersama, seperti membaca buku atau bermain. Kedekatan emosional bisa membantu anak melupakan pengalaman negatif dan merasa dicintai lagi. 5. Ajak Anak Mengekspresikan Diri Lewat Aktivitas Sensori Kegiatan sensori bisa membantu anak menyalurkan emosi dengan cara yang positif. Melalui aktivitas seperti bermain air, pasir, atau tekstur lembut, anak belajar mengenali dan menenangkan perasaannya. Kelas Sensori Anak di Sparks Sports Academy menjadi pilihan ideal untuk anak usia 12–35 bulan. Dengan metode bermain yang aman dan interaktif, anak dapat memulihkan rasa percaya diri sekaligus melatih kemampuan motorik dan emosi secara alami. 6. Hindari Mengungkit Kesalahan Lama Fokus pada perkembangan anak saat ini, bukan kesalahan masa lalu. Dengan begitu, anak merasa dihargai dan termotivasi untuk berperilaku lebih baik tanpa rasa takut. 7. Tunjukkan Kasih Sayang Setiap Hari Perhatian kecil seperti pelukan, senyuman, dan kata-kata positif memiliki pengaruh besar terhadap pemulihan mental anak. Tunjukkan bahwa cinta orang tua selalu ada, bahkan ketika anak berbuat salah. Cara Mencegah Pola Marah Terulang Sebagai orang tua, penting untuk belajar mengelola emosi agar pola marah tidak terulang kembali. Cobalah langkah berikut: Kapan Harus Konsultasi ke Profesional? Jika anak menunjukkan tanda trauma seperti ketakutan berlebihan, menghindari kontak mata, atau sering menangis tanpa alasan jelas, segera konsultasikan dengan psikolog anak. Konsultasi penting dilakukan ketika anak tidak lagi bisa berinteraksi normal atau menolak kegiatan yang dulu disukai. Dengan bimbingan profesional, orang tua akan mendapat arahan yang tepat untuk membantu anak pulih secara emosional dan psikologis. Menumbuhkan Kembali Senyum Anak Setiap anak layak tumbuh dengan perasaan aman dan dicintai. Walau pernah dimarahi, hubungan hangat dengan orang tua bisa memperbaiki luka emosional mereka. Dengan empati, kesabaran, dan dukungan dari lingkungan yang positif seperti kelas sensori di Sparks Sports Academy, anak dapat kembali tersenyum dan menjalani hari-harinya dengan penuh semangat. Ingat, tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki hubungan dan membangun kesehatan mental anak yang lebih kuat.
Kenali Tanda Overstimulasi pada Anak dan Cara Mengatasinya
Tanpa disadari, jika bayi merasa terlalu banyak merasakan rangsangan, seperti suara bising atau cahaya yang terlalu terang, bayi dapat menjadi rewel atau sulit untuk ditenangkan. Memberikan stimulasi memang penting untuk mendukung perkembangan otak bayi. Meskipun demikian, stimulasi yang terlalu banyak dan terlalu cepat dapat membuat bayi kewalahan dan tidak nyaman. Apa itu Overstimulasi pada Anak? Overstimulasi adalah sebuah kondisi ketika anak merasa kewalahan karena menerima terlalu banyak rangsangan. Misalnya, awalnya tenang bisa tiba-tiba menangis setelah terlalu lama bermain tummy time, digendong bergantian oleh banyak orang, atau berada di tempat ramai. Hal ini dapat terjadi karena sistem sensorinya menjadi penuh dan otaknya kesulitan untuk memproses semua sinyal yang masuk. Akibatnya, anak bisa merasa tidak nyaman, rewel, dan kewalahan menghadapi semua rangsangan yang datang bersamaan. Penyebab Overstimulasi pada Anak Overstimulasi bisa terjadi karena hal-hal sederhana yang sering dilakukan tanpa sadar berikut penyebab yang paling umum. Baca juga: Cara Mengatasi Anak Suka Teriak Tanda-Tanda Anak Mengalami Overstimulasi Saat bayi mengalami overstimulasi, tubuhnya dapat memproduksi lebih banyak hormon kortisol dan stres yang bisa membuat detak jantungnya meningkat, sebab bayi belum bisa menyampaikan rasa tidak nyaman dengan kata-kata dan mengekspresikan lewat perilaku. Inilah tanda-tanda bayi mulai merasa kewalahan karena terlalu banyak stimulasi: Baca juga: Kenali Penyebab, Gejala, dan Cara Atasi Sensory Overload pada Anak Cara Mengatasi Anak yang Overstimulasi Ketika bayi sudah memunculkan tanda-tanda overstimulasi, maka dapat membantunya merasa aman dan tenang kembali. Setiap anak memiliki batas berbeda terhadap rangsangan di sekitarnya, jadi penting untuk mengenali kapan mereka mulai kewalahan dan segera menyesuaikan situasi. 1. Kurangi Aktivitas Stimulasi Ketika bayi mulai tampak gelisah atau rewel, kurangi intensitas permainan atau interaksi. Hentikan sementara sesi stimulasi dan biarkan ia beristirahat di suasana yang lebih tenang. Waktu terbaik untuk stimulasi biasanya pagi hari atau setelah tidur siang. 2. Pindahkan ke Lingkungan yang Tenang dan Nyaman Jika bayi kewalahan dengan suara keramaian, pindahkan ke ruangan yang sejuk dan minim gangguan. Tempat yang tenang bisa membantu sistem sarafnya kembali stabil dan membuatnya lebih mudah ditenangkan. 3. Gunakan Sentuhan dan Musik Lembut Sentuhan lembut bisa menjadi obat penenang alami bagi bayi. Cobalah untuk peluk sambil memutar musik klasik dengan tempo lembut. Suara ritmis yang dapat menenangkan bisa membantu bayi merasa aman dan mengurangi stres. 4. Biarkan Bayi Beristirahat Penuh Tanda overstimulasi sering kali muncul karena bayi sudah terlalu lelah, pastikan ia dapat tidur tenang. Tidur yang cukup dapat membantu tubuh dan otaknya memulihkan diri dari kelelahan sensori. 5. Batasi Paparan Layar dan Suara Bising Hindari membawa bayi ke tempat ramai, batasi juga paparan layar agar otak bayi tidak kewalahan menerima rangsangan visual. 6. Ciptakan Rutinitas yang Konsisten Bayi sangat terbantu dengan pola aktivitas yang teratur karena rutinitas dapat memberikan rasa aman dan bisa meminimalkan stres akibat perubahan mendadak. Buat pola tidur, makan, dan bermain yang stabil setiap harinya. 7. Ajak Bayi Bermain Aktivitas Sensori yang Terarah Ajak bayi untuk dapat mengenali dan menyeimbangkan rangsangan dengan cara yang menyenangkan, salah satu caranya bisa mengikuti kelas sensori untuk anak usia 12-35 bulan dari Sparks Sports Academy. Di kelas ini, bayi akan belajar melalui aktivitas sederhana seperti bermain tekstur, warna, dan gerakan. Cara Mencegah Overstimulasi Supaya tidak terjadinya overstimulasi pada anak, pentingnya bagi orang tua untuk lebih peka terhadap tanda-tanda yang muncul. Berikut beberapa cara untuk membantu mencegah pada bayi. Orang tua bukan hanya menyadari gejalanya, tetapi perlu membimbing anak untuk mengenali batas pada diri mereka sendiri. Dengan kiat-kiat mengatasi diatas, bisa dapat mengatur rangsangan dalam tubuh anak dengan baik. Kalau anak sering kewalahan dalam aktivitas sehari-hari, pertimbangkan untuk ikut kelas sensori yang profesional agar mereka mendapatkan bimbingan dan latihan yang tepat. Hal ini dapat membantu anak mendapatkan keseimbangan sensori untuk tumbuh bahagia dan sehat.
