Lewati ke konten
Sparks Sports Academy Logo
Manfaat Tummy Time untuk Bayi, Cara, dan Tips Agar Si Kecil Nyaman

Manfaat Tummy Time untuk Bayi, Cara, dan Tips Agar Si Kecil Nyaman

Parenting

Istilah tummy time mungkin sudah akrab di telinga orang tua dan sering dibahas oleh dokter anak maupun artikel parenting. Namun, apa sebenarnya aktivitas ini dan kenapa penting bagi tumbuh kembang bayi? Secara harfiah, tummy time artinya waktu tengkurap, di mana bayi perlahan dilatih untuk mengembangkan kekuatan tubuh bagian atasnya. Meski sederhana, aktivitas ini ternyata punya manfaat besar dalam mempersiapkan bayi ke fase perkembangan berikutnya. Untuk lebih memahami pentingnya tummy time, simak penjelasan lengkapnya di bawah ini! Apa Itu Tummy Time? Menurut Dokter Benny Sugiarti, Sp.A, tummy time (tengkurap) adalah memposisikan bayi tengkurap. Artinya bayi diletakkan di atas perutnya sendiri dipermukaan yang rata dan beralaskan kain/selimut atau matras. Aktivitas ini bertujuan untuk membantu bayi memperkuat otot leher, bahu, lengan, dan punggung. Otot-otot inilah yang nantinya berperan penting saat bayi mulai bisa berguling, duduk, dan merangkak. Kegiatan sederhana ini juga menjadi bentuk stimulasi awal yang membantu bayi mengenali tubuhnya sendiri serta meningkatkan kemampuan motorik sejak dini. Dalam praktiknya, tummy time sebaiknya dilakukan saat bayi terjaga, dalam kondisi tenang, dan selalu dalam pengawasan orang tua untuk memastikan keselamatan. Manfaat Tummy Time untuk Bayi Meski terkesan sepele, tummy time ternyata punya manfaat signifikan untuk bayi, antara lain: Singkatnya, tummy time berperan penting dalam mendukung kesiapan fisik dan mental bayi untuk tahap tumbuh kembang selanjutnya. Usia Berapa Bay Boleh Mulai Tummy Time? Dilansir Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, tummy time bisa dilakukan sejak 0 bulan atau segera setelah lahir. Namun, intensitasnya perlu diperhatikan sesuai umurnya. Kegiatan ini bisa dimulai dengan durasi singkat, sekitar 1-2 menit per sesi, lalu tingkatkan secara bertahap menjadi 15-20 menit setiap hari seiring bertambahnya usia dan kekuatan otot bayi. Kuncinya adalah konsisten dan pastikan suasana selalu menyenangkan agar bayi merasa nyaman. Dengan proses yang tepat, tummy time sekaligus bisa menjadi momen bonding yang menyenangkan antara orang tua dan bayi. Cara Melakukan Tummy Time yang Aman dan Menyenangkan Agar manfaat tummy time bisa dirasakan secara optimal, penting bagi orang tua untuk memastikan kegiatan ini dilakukan dengan aman dan menyenangkan. Berikut beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan: Tips agar Bayi Tidak Rewel Saat Tummy Time Oleh karena belum terbiasa, ada kalanya bayi akan rewel atau tidak nyaman saat diajak tummy time. Jika hal ini terjadi, ada beberapa cara yang bisa dicoba untuk membuat suasana tetap menyenangkan, seperti: Tanda-Tanda Tummy Time Berhasil Umumnya, tummy time dianggap berhasil jika bayi mulai menunjukkan kemajuan dalam kekuatan otot dan koordinasi gerak tubuhnya. Beberapa tanda yang bisa dijadikan patokan keberhasilan antara lain: Perkembangan ini menunjukkan bahwa otot bayi semakin kuat dan siap untuk tahap berikutnya, seperti duduk dan merangkak. Kesalahan yang Sering Dilakukan Orang Tua Meskipun tummy time sangat bermanfaat untuk perkembangan otot bayi, ada risiko yang membayangi jika prosesnya tidak dilakukan secara tepat. Berikut beberapa kesalahan yang sebaiknya dihindari oleh orang tua: Tummy Time Cocok untuk Stimulasi Bayi Dengan cara yang tepat, aktivitas ini ternyata bisa menjadi langkah awal untuk membantu bayi tumbuh kuat, lincah, dan percaya diri. Namun, jangan lupa bahwa setiap bayi punya ritmenya sendiri. Maka dari itu, yang paling penting adalah mendampingi anak untuk melakukannya secara konsisten dan penuh kasih sayang. Selain tummy time, ada berbagai cara lain yang bisa dilakukan untuk menstimulasi perkembangan sensorik bayi melalui kegiatan menyenangkan? Salah satunya dengan bergabung ke Kelas Sensori Bayi di Sparks Sports Academy. Kelas ini menyediakan panduan lengkap seputar aktivitas harian yang mudah dilakukan di rumah serta cara memahami kebutuhan sensorik si kecil dengan lebih baik. Berminat daftar? Klik link di atas untuk temukan panduan lengkapnya!

13/10/2025 / Komentar Dinonaktifkan pada Manfaat Tummy Time untuk Bayi, Cara, dan Tips Agar Si Kecil Nyaman
Baca Lebih Lanjut
Kemampuan Visual Spasial Anak yang Jarang Disadari Orang Tua

Kemampuan Visual Spasial Anak yang Jarang Disadari Orang Tua

Parenting

Setiap anak memiliki cara belajar dan berpikir yang unik, ada yang cepat menangkap pelajaran, ada yang jago dalam berhitung, dan ada juga yang menonjol dalam kemampuan visual spasial.  Kalau memiliki anak yang suka menggambar, gemar menyusun balok, atau mudah untuk mengingat arah jalan meski baru sekali lewat, itu bisa menjadi pertanda bakat visual spasial yang kuat. Apa Itu Kemampuan Visual Spasial?  Kemampuan visual spasial merupakan kecerdasan yang membuat anak mampu memahami dan membayangkan bentuk atau ruang secara visual. Anak yang memiliki kemampuan ini dapat mudah mengingat gambar, wajah, atau arah serta bisa melihat suatu objek dari berbagai sudut pandang dalam pikirannya.  Selain itu, dapat pula membantu anak dalam aktivitas fisik seperti olahraga, misalnya saat anak bermain bola, mereka bisa menebak arah bola dan bergerak cepat untuk mengantisipasinya. Ciri-Ciri Anak Kemampuan Visual Spasial Tinggi Anak dengan kemampuan visual terlihat menonjol karena pola pikirannya yang visual, mereka lebih mudah memahami sesuatu lewat gambar, bentuk, atau tata ruang dibanding tulisan. Berikut ciri-ciri untuk mengenalinya. 1. Menyukai Kegiatan Seni dan Kreatif Anak dengan kecerdasan visual spasial sangat menyukai aktivitas seperti menggambar, mewarnai, dan berkreasi. Kecerdasan ini memungkinkan anak memiliki pemahaman yang mendalam tentang bentuk, ruang, dan hubungan visual antara objek. 2. Memiliki Imajinasi yang Luas Anak cenderung memiliki imajinasi yang luas, bisa menggambar objek dengan mudah sesuai dengan pikirannya, serta anak menggunakan kreativitasnya untuk membuat gagasan baru dan unik. Dalam problem solving, anak dengan kecerdasan visual mampu berpikir out of the box untuk menemukan solusi yang cemerlang. 3. Lebih Cepat Memahami Lewat Gambar Anak yang memiliki kecerdasan ini akan lebih mudah memahami informasi lewat media visual seperti diagram, peta, infografis, lukisan, dan lainnya. Hal ini terjadi karena informasi visual dianggap merangsang imajinasi dan kreativitas anak sehingga menjadi media belajar yang lebih menarik bagi anak. 4. Mampu Menyelesaikan Hal Kompleks Anak dengan kecerdasan visual spasial sering menghadapi masalah yang harus diselesaikan. Contohnya ketika Mom/Dad meminta anak untuk menggambar urutan dalam menciptakan karya seni, awalnya anak merasa kesulitan karena melihat tugas itu harus diselesaikan secara keseluruhan daripada memisahkannya. Meskipun demikian, anak bisa menyelesaikan tugasnya dengan berbagai macam cara. Kenapa Visual Spasial Penting untuk Anak?  Kemampuan spasial memiliki peran penting agar membantu anak berpikir logis dan memecahkan masalah yang berhubungan dengan bentuk serta ruang di sekitarnya. Anak dengan kemampuan ini biasanya kreatif merancang objek dengan cara menarik.  Tak hanya itu, kecerdasan ini juga dapat membantu anak mudah memahami pelajaran seperti matematika, geografi, dan sains. Dalam kesehariannya mampu membayangkan dan memahami ruang dapat mempermudah untuk beradaptasi dan menghadapi berbagai situasi dengan percaya diri. Cara Mengembangkan Kemampuan Visual Spasial pada Anak Kemampuan visual spasial bisa dilatih sejak dini lewat aktivitas sederhana yang menyenangkan. Anak dapat terbiasa untuk belajar dengan cara visual akan lebih mudah memahami konsep, berpikir kreatif, dan berani berimajinasi. Berikut selengkapnya. 1. Ajak Anak Bermain Puzzle Puzzle dapat membantu anak untuk belajar mengenali bentuk dan pola, sekaligus melatih logika berpikir dan koordinasi mata-tangan. Saat anak mencoba menyatukan potongan demi potongan, mereka akan belajar melihat gambaran besar. 2. Biarkan Anak Bebas Menggambar/Mewarnai Kegiatan ini bukan hanya dinilai sebagai hal yang seru, tapi juga cara anak untuk menyalurkan imajinasinya. Dari sini, anak dapat belajar mengatur bentuk, komposisi, dan warna yang dapat memperkuat kepekaan visual dan kemampuan berkreasi. 3. Bermain Lego/Mainan Susun Mainan susun ini dapat membantu anak untuk memahami konsep ruang tiga dimensi, mereka akan belajar bagaimana bentuk-bentuk kecil yang akan digabung menjadi struktur besar, sekaligus melatih fokus, ketelitian, dan kreativitas. 4. Gunakan Peta dan Ajak Anak Mengenal Arah Libatkan anak saat melihat peta atau mencari arah di atlas, aktivitas ini dapat melatih orientasi ruang dan kemampuan memahami posisi antar tempat. Anak jadi lebih sadar terhadap lingkungan sekitarnya dan belajar untuk berpikir secara spasial. 5. Buat Mind Map Membuat mind mapping dapat membuat anak belajar menyusun ide dalam bentuk visual, gunakan warna, simbol, dan gambar agar lebih menarik. Selain dapat membantu memahami pelajaran, cara ini juga melatih kemampuan mengorganisasi informasi dengan cara yang menyenangkan. 6. Coba Games Edukatif Berbasis Visual Ajak anak untuk bermain game teka-teki, bentuk, atau simulasi visual bisa jadi media belajar yang seru. Selain melatih ketelitian dan observasi, game ini dapat membantu anak untuk berpikir kreatif tanpa merasa sedang belajar. 7. Lakukan Kegiatan Kerajinan Tangan Ketika anak membuat kerajinan sederhana dari origami dapat membantunya untuk memahami bentuk dan pola lewat sentuhan langsung. Aktivitas ini juga dapat melatih koordinasi mata dan tangan, sekaligus memperkuat kemampuan anak dalam memvisualisasikan sesuatu menjadi hal yang nyata. Profesi yang Cocok untuk Anak dengan Kemampuan Visual Spasial Anak dengan kecerdasan spasial umumnya sangat cocok bekerja yang berkaitan dengan desain, teknik, dan ilmu kebumian di masa depan. Berikut adalah beberapa pekerjaanya: Kesalahan Umum Orang Tua  Setiap orang tua menginginkan anaknya tumbuh dengan cerdas, tanpa disadari ada beberapa kebiasaan yang justru bisa untuk menghambat kemampuan visual spasial. Nah, supaya nggak keliru, kenalin beberapa kesalahan yang sering terjadi. 1. Menganggap Hanya Bawaan Lahir Banyak orang tua berpikir kemampuan visual ini hanya bakat ilmiah, padahal terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa hal ini bisa dilatih lewat aktivitas dan stimulasi rutin. 2. Terlalu Cepat Mengoreksi Anak Biarkan anak untuk bereksperimen dan belajar dari kesalahannya, terlalu sering untuk membenarkan bisa membuatnya takut mencoba hal baru. 3. Variasikan Media Belajar Anak Anak butuh banyak stimulasi visual dari gambar, balok, peta, hingga aplikasi interaktif. Fokus ke satu cara saja bisa membuat perkembangannya kurang optimal. 4. Membandingkan Anak dengan yang Lain Ketika orang tua membandingkan perkembangan anak berkembang  justru bisa membuat anak kehilangan rasa percaya diri dan minat belajar. 5. Jarang Menggunakan Bahasa Arah dan Bentuk Saat anak bermain puzzle atau balok, coba biasakan menyebut “di atas”, “di samping”, atau “putar ke kanan”. Bahasa semacam ini membantu anak memahami ruang lebih cepat. Kembangkan Kemampuannya dengan Stimulasi Mengembangkan kemampuan visual spasial anak memang tidak terjadi dalam semalam. Namun, dengan dukungan dan stimulasi yang tepat dari orang tua, anak bisa tumbuh jadi pribadi yang lebih kreatif, tanggap, dan percaya diri. Setiap permainan, gambar, atau aktivitas kecil yang melibatkan ruang dan bentuk adalah langkah berharga menuju perkembangan mereka. Jika anak ingin belajar sambil bergerak aktif, coba ajak mereka bergabung di kelas Multi Sport dari

10/10/2025 / Komentar Dinonaktifkan pada Kemampuan Visual Spasial Anak yang Jarang Disadari Orang Tua
Baca Lebih Lanjut
Ciri-Ciri Threenager, Penyebab, dan Cara Menghadapinya

Ciri-Ciri Threenager, Penyebab, dan Cara Menghadapinya

Parenting

Saat anak memasuki usia tiga tahun, perilakunya sering kali berubah bisa menjadi mandiri dan mudah untuk menolaknya, fase ini dikenal sebagai “Threenager”. Biasanya anak di usia ini mulai untuk menunjukkan emosi dan sikap layaknya remaja kecil. Ketika anak memasuki usia ini bisa berkembang pesat, wajar jika mereka menjadi lebih ekspresif dan sulit untuk diatur. Yuk, kenali lebih mendalam apa itu threenager dan cara membantu anak untuk melewati fase ini. Mengenal Threenager Istilah threenager berasal dari gabungan kata “three” (tiga) dan “teenager” (remaja), menggambarkan fase anak berusia tiga tahun mulai menunjukkan sikap layaknya remaja kecil. Pada tahap ini, anak sedang mencari jati diri dan ingin belajar untuk mengekspresikan emosi dengan caranya sendiri.  Fase ini merupakan bagian penting dari proses tumbuh kembang anak, dukungan dan pemahaman sangat dibutuhkan agar anak merasa dihargai. Sebagai orang tua dapat memberikan ruang untuk mencoba agar anak belajar menjadi mandiri, percaya diri, dan bertanggung jawab pada tindakannya. Ciri-Ciri Anak Mengalami Threenager Anak ketika memasuki usia tiga tahun mulai untuk aktif mengeksplorasi dunia di sekitarnya, memasuki fase ini anak akan terlihat lebih keras kepala, mudah emosional, dan sulit untuk diatur. Kenali ciri-ciri lain pada anak threenager. 1. Emosi yang Mudah Meledak-Ledak Anak threenager sering mengalami perubahan emosi dengan cepat, biasanya mereka bisa mudah tertawa, menangis, ataupun marah dalam waktu singkat. Hal ini dapat terjadi karena mereka belum mampu mengendalikan perasaannya.  2. Sering Menentang dan Menolak Kata “tidak” menjadi jawaban yang sering diucapkan, anak ingin menunjukkan bahwa mereka punya kendali atas diri sendiri dan tidak selalu harus mengikuti arahan orang dewasa. Inilah bukan bentuk ketidakpatuhan, tetapi cara mereka belajar mengenali batas dan keputusan. 3. Keinginannya Kuat Mereka mulai bisa mengekspresikan keinginannya bahkan ngotot untuk bisa mendapatkan apa yang diinginkan, sikap ini dapat menunjukkan bahwa rasa percaya diri dan kemampuannya dalam berpendapat sedang berkembang. 4. Kesulitan untuk Mengungkapkan Diri Meskipun kemampuan bahasa yang didapatkan meningkat pesat, tetapi anak sering merasa kesulitan untuk menyampaikan perasaannya. Saat tidak mengerti, mereka mudah untuk frustasi dan melupakannya lewat tangisan atau tantrum. 5. Menjadi Sulit Diarahkan Pada fase ini, anak lebih suka untuk mengikuti keinginannya sendiri, mereka sering menolak yang tidak disukai sehingga membuat proses pengasuhan pada usia ini akan terasa lebih menantang. Penyebab Threenager pada Anak Fenomena threenager dapat terjadi karena adanya perubahan besar dalam perkembangan anak usia tiga tahun. Pada masa ini, anak mengalami perkembangan pada cara berpikir, berkomunikasi, dan mengenali emosi. Namun, dalam kemampuan verbal dan kognitif mereka belum sepenuhnya matang, ketika ide dan keinginan sulit untuk disampaikan atau tidak terpenuhi, anak mudah merasa frustasi dan akhirnya meluapkan emosi melalui tangisan, teriakan, atau tantrum.  Meskipun anak sudah mulai memahami perasaannya, tetapi belum mampu untuk sepenuhnya mengendalikan. Hal inilah yang dapat membuat perilaku sering meledak-ledak. Bagian ini adalah proses tumbuh kembang anak menuju tahap kemandirian dan pengendalian diri yang lebih baik. Cara Membantu Anak dalam Fase Threenager  Menghadapi anak di fase ini membutuhkan kesabaran ekstra, ada banyak cara yang bisa membantunya untuk melewati masa ini dengan lebih positif dan tetap menyenangkan. Berikut beberapa tips yang bisa diterapkan. 1. Berikan Pilihan Tanpa Membingungkan Anak Anak usia tiga tahun sering ingin menentukan apa yang mereka lakukan, untuk mendukung kemandiriannya coba berikan pilihan terbatas. Misalnya, biarkan anak memilih antara pakaian dan baju, mereka tetap merasa punya kendali tapi masih dalam batas aman dan terarah. 2. Menetapkan Rutinitas yang Konsisten Anak cenderung lebih tenang ketika memiliki rutinitas yang teratur, misalnya pada jam tidur, waktu makan, dan bermain. Hal ini dapat membantu mereka aman dan memahami apa yang akan terjadi selanjutnya. 3. Gunakan Bahasa Sederhana Kemampuan berbahasa pada anak usia ini masih berkembang, jadi hindari kalimat yang terlalu panjang atau rumit. Gunakan instruksi singkat, jelas, dan tenang agar anak lebih mudah memahami. Komunikasi yang sederhana dapat membantu menghindari kebingungan dan frustasi pada anak. 4. Pahami dan Validasi Emosi Anak Saat anak marah atau sedih, coba untuk memahami perasaannya, misalnya dengan berkata “Kamu sedih karena mainannya rusak, ya?” Dengan begitu, anak merasa dimengerti dan belajar mengelola emosi dengan cara yang positif. 5. Berikan Pujian Apresiasi setiap hal baik yang anak lakukan, seperti dapat membereskan mainannya sendiri. Pujian sederhana bisa memperkuat perilaku positif dan menumbuhkan rasa percaya diri pada mereka. Menghadapi Fase Threenager Memang Perlu Sabar Fase threenager bisa menjadi penuh tantangan, tetapi dibalik itu orang tua perlu ekstra sabar. Hal ini juga diperlukan waktu yang luar biasa untuk melihat bagaimana anak tumbuh dan belajar mengenal dirinya sendiri.  Dengan pendekatan yang lembut, komunikasi positif, dan dukungan konsisten, anak akan belajar mengelola emosi serta kemandirian dengan lebih baik. Cobalah ikutkan anak ke Kelas Sensori dari Sparks Sports Academy yang dirancang untuk membantu anak mengembangkan kemampuan motorik, fokus, dan kreativitas.

10/10/2025 / Komentar Dinonaktifkan pada Ciri-Ciri Threenager, Penyebab, dan Cara Menghadapinya
Baca Lebih Lanjut
8 Rekomendasi Olahraga untuk Anak Usia 3-4 Tahun

8 Rekomendasi Olahraga untuk Anak Usia 3-4 Tahun

Parenting

Usia 3-4 tahun adalah masa emas bagi perkembangan motorik dan kognitif anak. Di usia ini, si kecil mulai menunjukkan rasa ingin tahu yang besar dan aktif bergerak. Olahraga untuk anak usia 3-4 tahun memberikan dampak positif yang bisa mendorong tumbuh kembang si kecil di kemudian hari. Key Takeaways Pentingnya Aktivitas Fisik Sejak Usia Dini World Health Organization (WHO) menyarankan anak usia 3-4 tahun untuk melakukan aktivitas fisik setidaknya 180 menit setiap hari. Aktivitas fisik tidak harus berupa olahraga terstruktur, tetapi bisa berupa permainan sederhana yang seru dan menyenangkan. Lebih lanjut, studi dari American Academy of Pediatrics menekankan bahwa aktivitas fisik sejak dini mampu meningkatkan koordinasi tubuh, keseimbangan, serta mendukung perkembangan otak anak. Dengan demikian, mengenalkan kelas olahraga untuk anak usia 3-4 tahun atau usia prasekolah akan bermanfaat bagi kesehatan tubuh serta membantu kesiapan anak saat memasuki sekolah kelak. Manfaat Olahraga untuk Anak Usia 3-4 Tahun Membiasakan anak-anak untuk berolahraga sejak dini dengan cara yang menyenangkan memiliki manfaat bagi tumbuh kembangnya. Berikut ini beberapa manfaat olahraga untuk anak usia 3-4 tahun. 1. Perkembangan Sosial Aktivitas fisik akan memberi anak-anak kesempatan untuk membangun ikatan dengan keluarga atau teman sebayanya. Misalnya, ketika anak berolahraga dengan orang tua, maka terciptalah kesempatan bagi kedua belah pihak untuk meningkatkan komunikasi, khususnya bagi anak-anak yang kesulitan mengomunikasikan kebutuhan mereka. 2. Keterampilan Motorik Olahraga sesuai usia dapat membantu anak meningkatkan koordinasi dan keseimbangan anggota tubuh serta kekuatan otot. Dengan demikian, keterampilan motorik anak akan terasah secara perlahan. 3. Perkembangan Kognitif Aktivitas fisik seperti olahraga atau permainan fisik sederhana mampu menumbuhkan kepercayaan diri, meningkatkan rasa puas dan bangga, serta memperkuat jaringan otak. Hasilnya, kemampuan membaca dan menghitung anak bisa meningkat karena kognitif mereka telah terlatih dan berkembang. Jenis Olahraga untuk Anak Usia 3-4 Tahun Olahraga untuk anak usia 3-4 tahun tidak harus berat atau kompetitif, justru harus dikemas dengan cara menyenangkan. Berikut adalah beberapa jenis olahraga yang cocok untuk anak-anak di bawah usia 5 tahun. 1. Gymnastic Gymnastic membantu anak mengembangkan koordinasi, kekuatan otot, dan keseimbangan. Aktivitas seperti berguling atau melompat sederhana melatih kepercayaan diri anak saat bergerak. Kelas Gymnastic Anak di Sparks Sports Academy dirancang untuk usia 3-4 tahun dengan pendekatan bermain yang menyenangkan. Anak akan belajar dasar gerakan fisik sambil meningkatkan fokus dan keberanian di lingkungan aman dan suportif. 2. Berenang Berenang adalah olahraga yang menyenangkan bagi anak-anak untuk melatih kekuatan otot dan koordinasi anggota tubuh. Mulailah dengan permainan percikan air sederhana agar si kecil merasa nyaman di air. Gunakan alat bantu apung untuk membantu anak-anak membangun kepercayaan diri. 3. Badminton Badminton membantu meningkatkan refleks, kelincahan, dan koordinasi tangan serta mata. Anak juga belajar nilai sportivitas dan kerja sama. Kelas Multisport dari Sparks Sports Academy mencakup pengenalan olahraga seperti badminton dengan pendekatan permainan interaktif. Anak tidak hanya aktif bergerak, tetapi juga belajar berkompetisi sehat. 4. Futsal Futsal membantu anak mengembangkan ketangkasan, keseimbangan, dan kekuatan kaki. Selain itu, olahraga ini mengajarkan anak pentingnya kerja tim dan komunikasi. Kelas Futsal untuk anak usia 3-4 tahun di Sparks Sports Academy menggabungkan latihan dasar dan permainan ringan agar anak tetap bersemangat tanpa tekanan kompetisi. 5. Menari Menari membantu anak mengekspresikan diri melalui gerakan ritmis dan musik. Selain melatih fleksibilitas, dance juga meningkatkan konsentrasi dan rasa percaya diri. Kelas Dance untuk anak usia 3-4 tahun di Sparks Sports Academy menghadirkan pengalaman belajar penuh energi dengan musik ceria dan pelatih profesional. Aktivitas ini cocok untuk anak yang suka bergerak dan berekspresi dengan bebas. 6. Balet Balet atau tari berfungsi untuk meningkatkan koordinasi anggota tubuh serta mendorong kreativitas pada anak-anak. Ciri anak cocok ikut balet adalah ketika si kecil gemar mengikuti gerakan orang-orang yang ada di TV atau video. Kelas Ballet untuk anak di Sparks Sports Academy menyesuaikan metode pengajaran dengan usia 3-4 tahun agar anak tetap fokus namun tetap merasa senang selama latihan. 7. Basket Olahraga ini mengajarkan keterampilan motorik dasar, seperti menggiring bola, menembak, dan mengoper. Basket ini bisa menjadi pilihan olahraga untuk menambah tinggi badan anak. Di Kelas Basket untuk anak usia 3-4 tahun dari Sparks Sports Academy, pelatih mengenalkan teknik dasar seperti dribble dan passing dengan cara yang mudah dipahami dan penuh semangat. 8. Taekwondo Taekwondo melatih fokus, keberanian, dan disiplin sejak usia dini. Anak belajar mengontrol gerakan tubuh dan emosi dengan cara yang aman dan menyenangkan. Kelas Taekwondo untuk anak usia 4-7 tahun di Sparks Sports Academy menghadirkan latihan interaktif dengan pendekatan positif, sehingga anak bisa tumbuh lebih percaya diri dan tangguh. Tips agar Anak Mau dan Senang Berolahraga Hal yang Harus Orang Tua Hindari Beberapa hal perlu dihindari agar anak tetap menikmati aktivitas fisiknya: Pilih Jenis Olahraga sesuai Usia, Karakter, dan Minat Anak Menentukan olahraga untuk anak usia 3-4 tahun bisa menjadi sesuatu yang menantang bagi orang tua. Hal terpenting yang harus orang tua ingat adalah karakter dan minat olahraga anak harus menjadi prioritas. Jika si kecil cenderung pendiam, pemalu, dan sulit mengutarakan keinginannya, maka jangan paksa anak untuk mengikuti olahraga beregu yang menuntut mereka untuk berinteraksi secara intens dengan orang lain. Pilihan olahraga anak pemalu yang bisa dilakukan sendiri, antara lain bersepeda atau berlari. Sparks Sports Academy menghadirkan berbagai olahraga yang bisa menyesuaikan usia, karakter, dan minat si kecil. Melalui pendekatan yang menyenangkan dan interaktif dengan bimbingan pelatih berpengalaman, anak bisa melatih kemampuan motorik, belajar disiplin, kerja sama, dan membangun kepercayaan diri sejak dini.

09/10/2025 / Komentar Dinonaktifkan pada 8 Rekomendasi Olahraga untuk Anak Usia 3-4 Tahun
Baca Lebih Lanjut
7 Cara Mengajari Anak Menerima Kekalahan dengan Lapang Dada

7 Cara Mengajari Anak Menerima Kekalahan dengan Lapang Dada

Taekwondo

Dalam hidup, menang dan kalah adalah bagian alami dari roda kehidupan yang terus berputar. Orang yang mampu menerima kekalahan dengan lapang dada akan tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, empatik, dan dewasa dalam menghadapi berbagai situasi. Kesadaran ini penting diajarkan kepada individu sejak dini. Oleh karena itu, memahami cara mengajari anak menerima kekalahan menjadi hal penting bagi setiap orang tua. Dengan menanamkan sikap sportif dan menghargai proses, anak tidak hanya belajar menjadi pemenang di atas kertas, tetapi juga pemenang sejati dalam karakter, ketekunan, dan sikap terhadap kehidupan. Kenapa Anak Sulit Menerima Kekalahan? Ada beberapa alasan kenapa anak-anak sulit menerima kekalahan, seperti: Cara Mengajari Anak Menerima Kekalahan Sebagai orang tua, tentunya kita ingin membesarkan anak menjadi pribadi yang sportif dan menyadari bahwa tidak selamanya kita terus menjadi pemenang. Dalam menanamkan pemahaman itu, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan, seperti: 1. Jelaskan Bahwa Kalah itu Bagian dari Proses Kekalahan bukanlah sesuatu yang mudah diterima semua orang, terlebih anak-anak yang belum bisa memetakan dan mengelola emosinya dengan baik. Orang tua bisa katakan dengan tenang “Kadang kamu bisa menang, kadang kamu bisa kalah. Itu wajar aja kok sayang“ Mom and Dad juga bisa menambahkan penjelasan seperti setiap kekalahan bisa jadi sarana buat belajar lebih giat lagi dan mau bangkit lagi. Karena lawan sebenarnya adalah dirinya sendiri. 2. Beri Contoh yang Baik untuk Anak Anak adalah peniru yang handal. Saat orang tua menunjukkan contoh sikap tenang dan sportif ketika kalah (misalnya dalam permainan keluarga), anak akan memahami bahwa kalah bukanlah sesuatu yang memalukan. Maka, sebagai orang tua, tunjukkan bahwa setiap orang bisa gagal. Namun, yang penting adalah bagaimana kita bangkit dan mencoba lagi. Sikap ini akan tertanam kuat dan menjadi dasar karakter anak di masa depan. 3. Berfokus Pada Proses, Bukan Hanya Hasil Beberapa orang tua kadang menuntut anak untuk selalu menang, tanpa menyadari bahwa hal itu bisa menekan anak dan membuat mereka takut gagal. Padahal, bagian terpentingnya ada pada proses, di mana anak-anak belajar untuk berusaha sungguh-sungguh dan berani mencoba. Maka, beri apresiasi pada usaha mereka, bukan semata hasilnya. Katakan, “Kamu sudah berusaha keras dan itu hebat,” agar anak memahami bahwa yang dihargai adalah kerja keras dan semangat pantang menyerah, bukan kemenangan semata. 4. Latih Lewat Permainan Sederhana Setelah orang tua memberikan contoh yang baik bagaimana menerima kekalahan, anak juga perlu berlatih untuk melakukan hal serupa. Anak bisa mengikuti berbagai permainan dan kegiatan olahraga seperti kelas taekwondo. Alasan mengapa taekwondo, karena di kelas taekwondo akan diajarkan bagaimana bersikap sportif dan “legowo”. Anak akan dididik bukan hanya untuk menjadi kuat dari segi fisik tapi juga dari segi mental. Orang tua bisa mencoba mengikutkan anak ke free trial kelas taekwondo untuk anak-anak usia dini di Sparks Sports Academy. 5. Coba Mengerti dan Validasi Perasaan Anak Kekalahan bukanlah sesuatu yang mudah diterima semua orang, terlebih anak-anak yang belum bisa memetakan dan mengelola emosinya dengan baik. Oleh karena itu, orang tua perlu memberi ruang bagi anak untuk mengekspresikan perasaannya. Biarkan anak merasakan sedih, marah, atau kecewa. Setelah emosinya mereda, ajak mereka bicara dari hati ke hati dan jelaskan bahwa perasaan tersebut nyata dan lumrah. Namun, jangan sampai terlalu larut di dalamnya, karena kekalahan adalah hal yang pernah dialami oleh siapa saja. 6. Ajarkan Kata-kata Sportif Kekalahan terkadang membuat anak merasa tidak cukup baik. Di sinilah orang tua berperan sangat penting untuk membantu mereka memulihkan rasa percaya diri. Kalimat positif seperti “Kamu sudah hebat karena berani mencoba,” atau “Kamu kalah hari ini, tapi kamu belajar sesuatu yang berharga” bisa membantu mereka memulihkan rasa kecewa dan rendah diri. Selain itu, dorongan semacam ini juga bisa membantu anak melihat kekalahan sebagai kesempatan untuk berkembang alih-alih tanda kegagalan semata. 7. Bantu Anak Merefleksikan Dirinya Dibanding menenangkan anak dengan kalimat seperti, “Tidak apa-apa, nanti kamu menang”, orang tua bisa membantu anak melihat sisi positif dari kekalahan. Misalnya dengan mengajak mereka berdiskusi tentang apa yang bisa dipelajari dari kekalahan tersebut untuk jadi lebih baik lagi ke depannya. Dengan begitu, anak bisa belajar merefleksikan pengalamannya dan menemukan makna dari kekalahan tersebut. Hal ini akan menumbuhkan rasa tangguh, logis, dan bertanggung jawab atas hasil dari usahanya sendiri. Hal-Hal yang Sebaiknya Tidak Dilakukan Orang Tua Selain tips di atas, ada hal-hal yang sebaiknya dihindari orang tua dalam menyikapi anak yang menghadapi kegagalan, misalnya saja:  Kapan Perlu Waspada? Ada beberapa tanda yang perlu diwaspadai orang tua ketika anak menunjukkan reaksi berlebihan terhadap kekalahan, antara lain: Jika tanda-tanda ini muncul berulang kali, sebaiknya orang tua memberikan pendekatan yang lebih lembut dan penuh empati. Bila diperlukan, konsultasikan dengan psikolog anak untuk mendapatkan dukungan dan strategi pendampingan yang tepat. Mengajarkan anak menerima kekalahan bukan hanya soal kata-kata, tapi juga lewat pengalaman nyata. Sebagai langkah positif, orang tua juga bisa membantu anak belajar sportivitas melalui aktivitas yang menyenangkan dan membangun karakter, seperti mengikuti kelas Taekwondo Anak di Sparks Academy. Melalui kelas taekwondo, anak bisa belajar disiplin, menghormati lawan, dan memahami bahwa kalah adalah bagian dari proses menjadi lebih kuat. Siap bantu anak-anak tumbuh jadi pribadi yang sportif, tangguh, dan percaya diri? Daftar langsung kelasnya sekarang!

09/10/2025 / Komentar Dinonaktifkan pada 7 Cara Mengajari Anak Menerima Kekalahan dengan Lapang Dada
Baca Lebih Lanjut

Paginasi pos

Sebelumnya 1 … 60 61 62 … 73 Berikutnya
Tema Royal Elementor Kit dibuat oleh WP Royal.