Lewati ke konten
Sparks Sports Academy Logo
4 Penyebab Anak Pemalu dan Penakut yang Perlu Diperhatikan

4 Penyebab Anak Pemalu dan Penakut yang Perlu Diperhatikan

Parenting

Sebagai orang tua, mengetahui penyebab anak pemalu dan penakut sangat penting supaya bisa menyusun strategi yang tepat untuk mengatasinya. Terlebih, jika anak sangat melekat pada orang tuanya sehingga dari sisi kemandirian dan keberanian cukup kurang.  Ciri ciri anak pemalu dan penakut biasanya tampak dari sikapnya yang tidak berani mencoba hal baru maupun ragu-ragu saat berinteraksi. Faktor yang menyebabkan pun bervariasi, mulai dari genetik hingga pengaruh lingkungan sosial. Simak penjelasan lebih lengkapnya di bawah ini! Key takeaways: Faktor Penyebab Anak Pemalu dan Penakut Ada beberapa faktor internal dan eksternal yang dapat memengaruhi anak memiliki karakter pemalu dan penakut. Sebelum melakukan pendekatan untuk mengatasi hal ini, pahami dulu sumber masalahnya.  1. Faktor Genetik Melansir Leiden Psychology Blog, penelitian terdahulu menunjukkan bahwa anak berisiko mewarisi karakter pemalu dari anggota keluarga yang memiliki karakter serupa. Dengan demikian, orang tua yang berkepribadian introvert rentan menurunkan sifat tersebut ke anaknya.  Namun, faktor genetik ini bukanlah satu-satunya penentu seorang anak menjadi pemalu atau penakut. Pada umumnya, karakter ini disebabkan oleh perpaduan antara genetik dan faktor lingkungan.  2. Pola Asuh Orang Tua Semua orang pasti setuju bahwa pola asuh orang tua berperan besar dalam membentuk kepribadian anak. Mengutip Hai Bunda, orang tua bisa melakukan kesalahan saat mengasuh, sehingga anak menjadi pribadi yang pemalu dan penakut.  Contohnya seperti overprotektif yang menyebabkan anak kurang percaya diri dan minim pengalaman mencoba hal baru. Lalu, orang tua yang sering mengancam atau menakut-nakuti anak bisa membuat si kecil menjadi penakut.  Selain itu, sering mengkritik atau membanding-bandingkan anak dengan orang lain dapat membuat si kecil merasa minder hingga down. Anda sebaiknya hindari pola asuh seperti ini supaya anak bisa tumbuh lebih percaya diri dan berani.  3. Punya Pengalaman Buruk Salah satu penyebab anak pemalu dan penakut yang paling umum adalah karena pernah memiliki pengalaman buruk atau trauma. Contohnya pernah diejek, gagal melakukan sesuatu, atau sesuatu yang membuatnya terluka dan menangis seperti jatuh dari sepeda.  Pengalaman yang kurang menyenangkan ini dapat memengaruhi perilaku si kecil ke depannya. Anak yang tadinya baik-baik saja saat tampil di depan umum, bisa berubah menjadi penakut atau pemalu ketika punya pengalaman ditertawakan.  4. Kurang Bersosialisasi Ketika anak sering menghabiskan waktu di rumah, jangan heran bila sifatnya menjadi pemalu, penakut, hingga menarik diri dari lingkungan sosialnya. Pasalnya, ruang gerak anak yang terbatas dan jarang bersosialisasi dengan teman sebayanya dapat menyebabkan kemampuan komunikasinya menjadi kurang.  Anak pun tidak memiliki banyak kesempatan untuk bermain dengan teman-temannya. Sehingga, sulit untuk mereka membangun rasa percaya diri ketika nantinya harus bersosialisasi selain dengan keluarganya. Sudah Tahu Penyebab Anak Pemalu dan Penakut? Setelah memahami apa saja penyebabnya, Anda tentu perlu menerapkan cara mengatasi anak pemalu dan penakut. Caranya bisa dengan memberikan afirmasi positif, menjadi role model yang baik, serta mengapresiasi setiap perkembangannya.  Selain itu, cara mendidik anak pemalu dan penakut ini bisa Anda lakukan dengan mengikuti les sensori di Spark Sports Academy. Sparks Sports dapat membantu anak untuk menumbuhkan rasa percaya diri melalui kegiatan fisik bersama instruktur profesional. Anak akan bertemu teman sebayanya dan saling berinteraksi, sehingga keterampilan sosialnya dapat berkembang. Ayo, buruan daftar les untuk anak Anda sekarang!

23/09/2025 / Komentar Dinonaktifkan pada 4 Penyebab Anak Pemalu dan Penakut yang Perlu Diperhatikan
Baca Lebih Lanjut
5 Cara Mengatasi Anak Pemalu dan Penakut, Jangan Dihakimi!

5 Cara Mengatasi Anak Pemalu dan Penakut, Jangan Dihakimi!

Parenting

Memahami cara mengatasi anak pemalu dan penakut sangat penting bagi orang tua, supaya si kecil bisa tumbuh dengan berani, mampu bersosialisasi, serta percaya diri. Ingat! Jangan biarkan sifat pemalu dan penakut ini mendominasi karakter anak sehingga mengganggu kehidupan sosialnya di masa depan.  Ciri ciri anak pemalu sendiri biasanya terlihat pada mereka yang suka mengamati dari jauh daripada ikut berpartisipasi. Sementara anak penakut terlihat dari sikap yang gelisah atau tidak berani berbuat sesuatu. Meski dua sifat ini manusiawi, Anda harus melakukan tindakan jika karakter tersebut sampai ke tahap berlebihan.  Key takeaways: Cara Mengatasi Anak Pemalu dan Penakut Ada beberapa alasan yang dapat menjadi penyebab anak pemalu dan penakut, seperti faktor genetik, pola asuh, hingga pengalaman trauma. Demi mengatasi hal ini, coba lakukan beberapa tindakan berikut.  1. Tidak Melabeli Anak  Mengutip Hello Sehat, seorang psikolog menyarankan orang tua untuk tidak melabeli anak sebagai anak pemalu. Label ini khawatirnya bisa diafirmasi oleh anak, sehingga karakter tersebut melekat pada dirinya. Selain itu, peringatkan pula orang-orang terdekat untuk tidak menyebut anak sebagai pemalu.  Meskipun kenyataannya anak memang pemalu, tetapi kata-kata yang orang tua atau orang lain ucapkan bisa berdampak besar pada cara anak memandang dirinya sendiri. Maka dari itu, penting untuk selalu berhati-hati dalam memilih ucapan supaya anak tidak terikat pada label negatif tertentu.   2. Menjadi Contoh yang Baik Anak kecil cenderung mencontoh perilaku orang tuanya. Manfaatkan hal ini untuk memberikan contoh bagaimana cara bersosialisasi yang baik sesuai usianya. Misalnya, Anda menyapa tetangga dekat rumah ketika bertemu atau melempar senyum ramah ke orang yang baru.  Kebiasaan yang anak lihat ini lama-lama bisa menjadi teladan yang lebih efektif daripada daripada sekadar memberikan nasihat. Tunjukkan pada anak sikap percaya diri dan berani dalam menghadapi situasi tertentu supaya anak bisa mempelajarinya.  3. Hindari Memarahi Anak Cara mengatasi anak pemalu dan penakut berikutnya adalah dengan tidak memarahinya. Pasalnya, marah hanya akan memperburuk keadaan karena anak merasa tertekan, sehingga makin tidak berani mencoba hal baru.  Selain itu, jangan paksa anak untuk melakukan hal yang ditakutinya, seperti berbicara dengan orang baru atau bersosialisasi. Lakukan pendekatan yang lebih lembut dan bantu anak berkembang sesuai iramanya.  4. Beri Apresiasi Setiap kali anak berhasil menyapa atau bersosialisasi dengan teman sebayanya, Anda bisa memberikan mereka apresiasi berupa pujian atau pelukan. Bahkan, Anda juga bisa memberikan hadiah kecil jika anak menunjukkan perkembangan yang lebih signifikan.  Apresiasi semacam ini dapat memperkuat perilaku positif anak dan membuat anak merasa usahanya dihargai.  5. Menjadi Pendengar yang Baik bagi Anak Melansir Jurnal Hurriah, anak pemalu cenderung mendapatkan penghargaan yang lebih sedikit secara sosial. Sehingga, mereka akan merasa was-was dan tidak percaya pada orang lain.  Karena itu, orang tua harus menyadari bahwa anak memerlukan teman yang dapat memahami rasa malunya. Anda pun bisa menjadi pendengar yang baik supaya si kecil mau menyuarakan isi hatinya mengapa ia merasa takut atau malu. Ingin Tahu Opsi Lain Cara Mendidik Anak Pemalu dan Penakut?  Peran orang tua sebagai pendamping tumbuh kembang merupakan salah satu cara mengatasi anak pemalu dan penakut yang paling efektif. Namun, Anda juga bisa mengikutkan anak Anda ke dalam kelas sensori dari Sparks Sports Academy. Di kelas sensori dari Sparks, anak Anda akan diberikan sensorik visual, sentuhan, dan pendengaran dengan pendekatan tematik. Bersama dengan teman-teman sebayanya, bisa membangun kepercayaan diri anak kembali dan berani eksplorasi sekitarnya. Ayo, Daftarkan anak sekarang dan ambil promonya!

23/09/2025 / Komentar Dinonaktifkan pada 5 Cara Mengatasi Anak Pemalu dan Penakut, Jangan Dihakimi!
Baca Lebih Lanjut
7 Aktivitas untuk Anak 2 Tahun yang Aktif, Seru dan Edukatif

7 Aktivitas untuk Anak 2 Tahun yang Aktif, Seru dan Edukatif

Multisport

Anak berusia 2 tahun biasanya sangat energik, aktif bergerak, dan memiliki rasa ingin tahu tinggi untuk menjelajah sekitarnya. Pada masa ini, memilih aktivitas untuk anak 2 tahun yang aktif bisa membantu mereka menyalurkan energi sekaligus mendukung perkembangan motorik, kognitif, bahasa, dan keterampilan sosial. Namun, sebelum menentukan jenis aktivitas, pastikan Anda sebagai orang tua telah memahami penyebab anak terlalu aktif agar stimulasi yang diberikan lebih tepat sasaran. Temukan rekomendasinya di artikel ini! Key Takeaways Rekomendasi Aktivitas untuk Anak 2 Tahun yang Aktif Ada banyak kegiatan seru yang bisa Anda lakukan bersama anak berusia 2 tahun, baik di rumah maupun di luar ruangan. Berikut ini beberapa contohnya. 1. Bermain Peran (Role Play) Bermain peran adalah salah satu aktivitas yang sangat bermanfaat untuk menstimulasi daya imajinasi anak. Dengan berpura-pura menjadi dokter, koki, atau guru, anak belajar mengekspresikan diri, mengembangkan empati, dan melatih kemampuan komunikasi. 2. Permainan Treasure Hunt Aktivitas ini bisa Anda lakukan dengan menyembunyikan benda favorit atau mainan kecil milik anak di rumah maupun halaman. Berikan petunjuk sederhana seperti “di bawah kursi” atau “dekat pohon”. Permainan ini bermanfaat untuk melatih fokus, koordinasi gerak, dan kemampuan memecahkan masalah. 3. Membangun Tower Dengan menggunakan balok susun atau lego berukuran besar, anak bisa mencoba membuat bangunan menjulang. Meski sederhana, kegiatan ini penuh manfaat, seperti melatih motorik halus, konsentrasi, kesabaran, sekaligus mengenalkan konsep ukuran serta keseimbangan. Tak hanya itu, menyusun balok juga mendukung perkembangan logika sejak usia dini. 4. Petak Umpet  Petak umpet adalah permainan tradisional yang tidak pernah membosankan. Saat bermain petak umpet, anak akan belajar memahami konsep ruang dan bersabar menunggu giliran. Permainan ini juga akan melatih motorik kasar anak karena harus berlari dan bersembunyi. Interaksi yang tercipta pun membuat anak semakin dekat secara emosional melalui canda dan tawa. 5. Bermain Bola Aktivitas sederhana seperti menendang, melempar, atau menangkap bola bisa meningkatkan koordinasi mata dan tangan, keseimbangan tubuh, dan keterampilan motorik kasar anak, lho. Pilih bola dengan ukuran sesuai usia agar anak lebih mudah memainkannya. Ini juga bisa menjadi awal pengenalan olahraga ringan untuk anak. 6. Bermain Pasir Bermain pasir termasuk aktivitas untuk anak 2 tahun yang aktif untuk menstimulasi indera perabanya. Anak bisa menuang, mencetak, atau membentuk pasir sesuai imajinasinya. Selain mengasah kreativitas, kegiatan ini juga melatih motorik halus dan meningkatkan konsentrasi. Jika Anda tidak memiliki sandbox, gunakan wadah besar berisi pasir kinetik atau tepung sebagai alternatif praktis. 7. Berkebun Mengajak anak berkebun juga memberi banyak manfaat. Mereka bisa mengenal dan belajar tentang alam, jenis tanaman, hingga memahami proses tumbuhnya sebuah bibit. Selain itu, aktivitas seperti menggemburkan tanah, menyiram tanaman, atau memetik daun juga memperkuat otot tangan sekaligus menumbuhkan rasa cinta pada lingkungan. Aktivitas ini juga terbukti menenangkan emosi anak karena dekat dengan alam. Sparks Sports Academy: Tempat untuk Anak Aktif dan Cerdas! Setiap aktivitas untuk anak 2 tahun yang aktif di atas bisa memberikan stimulasi menyeluruh pada anak. Beberapa mungkin menunjukkan ciri-ciri anak aktif yang lebih menonjol daripada teman sebayanya. Karena itu, Anda sebagai orang tua harus mendukung tumbuh kembang anak di usia emas mereka dengan aktivitas yang sesuai. Jika Anda mencari cara mengatasi anak aktif dengan aktivitas sekaligus mengasah keterampilannya secara terarah, Sparks Sports Academy merupakan pilihan yang tepat. Dengan program olahraga berbasis stimulasi gerak, kelas multisport dari Sparks Sports Academy dapat membantu anak mengembangkan koordinasi tubuh, disiplin, kepercayaan diri, dan kemampuan sosialnya sejak dini.  Setiap sesi dirancang menyenangkan dan sesuai usia, sehingga anak aktif bisa tumbuh lebih sehat, bahagia, dan penuh semangat. Daftarkan anak Anda sekarang dan pilih aktivitas fisik favorit mereka!

22/09/2025 / Komentar Dinonaktifkan pada 7 Aktivitas untuk Anak 2 Tahun yang Aktif, Seru dan Edukatif
Baca Lebih Lanjut
Ciri-ciri Anak Aktif dan Perbedaannya dengan Anak Hiperaktif

Ciri-ciri Anak Aktif dan Perbedaannya dengan Anak Hiperaktif

Parenting

Mendidik anak tidak hanya tentang memberikan makanan bergizi dan kasih sayang. Anda sebagai orang tua perlu mengenali karakter dan pola tumbuh kembang anaknya. Salah satu hal yang sering menjadi perhatian adalah ciri-ciri anak aktif.  Lalu, apakah anak yang sulit diam selalu dianggap hiperaktif? Atau justru hal itu menandakan perkembangan yang baik? Pertanyaan seperti ini wajar muncul, karena setiap anak memiliki energi dan cara mengekspresikan diri yang berbeda. Artikel ini akan mengulas ciri umum anak yang aktif serta perbedaannya dengan hiperaktif. Key Takeaways Ciri-ciri Anak Aktif Banyak orang tua khawatir ketika anaknya sulit bersikap tenang, padahal menurut pakar perkembangan anak, sikap aktif bukanlah masalah. Justru, ada sisi positif yang bisa orang tua lihat dari anak yang aktif, di antaranya adalah sebagai berikut. 1. Memiliki Rasa Ingin Tahu yang Tinggi Anak yang aktif biasanya sering bertanya, menyentuh berbagai benda, atau mencoba pengalaman baru. Sikap ini menandakan otaknya mampu bekerja optimal dalam menyerap informasi. Rasa penasaran yang besar juga menjadi indikator perkembangan kognitif yang baik. 2. Suka Bergerak dan Penuh Energi Sifat tidak bisa diam sebetulnya bukan hal buruk. Anak yang aktif biasanya memiliki energi berlebih, sehingga gemar berlari, melompat, atau melakukan berbagai kegiatan fisik. Aktivitas ini justru bermanfaat untuk mendukung perkembangan motorik kasarnya. 3. Mudah Beradaptasi dan Bersosialisasi Anak yang aktif seringkali cepat akrab dengan teman sebaya. Mereka memiliki rasa percaya diri yang tinggi dan tidak ragu mengekspresikan diri. Ini bisa menjadi bekal penting untuk perkembangan sosial dan emosionalnya. 4. Cepat Menangkap Informasi Ciri-ciri anak aktif selanjutnya juga bisa terlihat dari kemampuannya memahami instruksi sederhana dengan cepat dan mudah mengingat hal-hal baru. Ini menunjukkan perkembangan kognitif mereka berlangsung optimal. 5. Punya Imajinasi Tinggi Tidak hanya aktif secara fisik, anak aktif juga biasanya lebih kreatif. Mereka gemar berimajinasi, bermain peran, atau membuat cerita sendiri. Kemampuan ini membantu menstimulasi otak kanan sekaligus mengasah pola pikir kritis. 6. Emosi yang Terkontrol Setiap anak menyalurkan emosi dengan cara berbeda, tetapi anak aktif cenderung lebih mampu mengendalikan perasaannya. Mereka jarang menangis, kecuali saat benar-benar merasa sedih, marah, atau kesal pada kondisi tertentu. Perbedaan Anak Aktif dan Hiperaktif Anda perlu memahami perbedaan ciri-ciri anak aktif dengan anak hiperaktif. Anak yang aktif biasanya masih bisa diarahkan, mampu berkonsentrasi dalam jangka waktu tertentu, serta cenderung tenang ketika merasa lelah. Sementara itu, anak hiperaktif umumnya lebih sulit fokus, sering berbicara berlebihan, bersikap impulsif, dan kerap kesulitan mengendalikan emosi. Selain itu, anak bisa sangat aktif karena sejumlah faktor. Misalnya, metabolisme tubuh yang cepat, konsumsi gula berlebih yang meningkatkan energi, hingga lingkungan yang penuh stimulasi. Anak dengan kecerdasan tinggi juga biasanya lebih gemar bereksplorasi sehingga terlihat lebih aktif. Dukung Perkembangan Anak Aktif bersama Sparks Sports Academy Dengan mengenali ciri-ciri anak aktif, Anda bisa memberikan stimulasi yang sesuai agar energi si kecil tersalurkan secara positif. Tidak perlu khawatir jika anak banyak bergerak, selama ia masih bisa diarahkan dan fokus, hal tersebut justru menandakan perkembangan yang sehat. Jika Anda sedang mencari cara mengatasi anak aktif dengan menyalurkan energinya secara positif, Sparks Sports Academy bisa menjadi pilihan terbaik. Akademi ini menghadirkan berbagai program olahraga khusus untuk anak usia 2-7 tahun. Ada banyak pilihan aktivitas untuk anak 2 tahun yang aktif, seperti kelas gymnastic, ballet, dance, taekwondo, futsal, basketball, dan multisport. Melalui aktivitas tersebut, anak bukan hanya terlatih secara fisik, tetapi juga belajar disiplin, kerja sama, dan kepercayaan diri. Dengan dukungan pelatih profesional, anak pun bisa tumbuh lebih sehat sekaligus bahagia.

22/09/2025 / Komentar Dinonaktifkan pada Ciri-ciri Anak Aktif dan Perbedaannya dengan Anak Hiperaktif
Baca Lebih Lanjut
Si Kecil Tak Bisa Diam Ini 4 Cara Mengatasi Anak Aktif

Si Kecil Tak Bisa Diam? Ini 4 Cara Mengatasi Anak Aktif

Parenting

Pada masa tumbuh kembang, mungkin Anda akan mendapati si kecil menjadi aktif dan tidak bisa diam. Selain bisa membuat orang tua kerepotan, Anda mungkin akan merasa khawatir anak memiliki kelainan. Namun, bisa saja anak Anda memiliki kecerdasan kinestetis tinggi. Lantas, bagaimana cara mengatasi anak aktif agar tidak kewalahan? Key Takeaways: Ciri-Ciri Anak Aktif Anda harus memahami bahwa, anak aktif berbeda dengan anak hiperaktif. Melansir Halodoc, hiperaktif merupakan turunan dari ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder). Anak hiperaktif umumnya butuh perhatian lebih karena mereka akan kesulitan untuk fokus, berbicara dengan tempo cepat, dan sangat sensitif. Sedangkan ciri ciri anak aktif biasanya ditandai dengan cara bicara yang lebih terstruktur daripada Mereka juga lebih mudah fokus pada hal yang disukai, lebih bisa mengontrol emosi dan perasaan, serta mampu berinteraksi sosial dengan baik. Sayangnya, perbedaan ini terkadang sulit terlihat dan butuh pengamatan lebih dalam. Cara Mengatasi Anak Aktif Berdasarkan Halodoc, ada beberapa penyebab anak terlalu aktif, seperti ADHD, makanan, kebisingan, stres, hingga kurang olahraga. Lantas, bagaimana cara orang tua bisa mendampinginya? Berikut ulasannya. 1. Kenalkan pada Aktivitas yang Menarik Tidak jarang anak akan merasa bosan pada kegiatan yang terlalu monoton atau pada mainan yang sudah lama. Karena itu, akan jauh lebih baik jika Anda mengajak anak melakukan aktivitas baru yang lebih menyenangkan. Anak aktif sendiri cocok dengan gaya belajar kinestesis. Di mana anak akan lebih banyak bergerak dan sering berinteraksi dengan objek pembelajaran. Beberapa kegiatan positif yang bisa anak Anda lakukan dapat berupa olahraga, bermain di luar, atau melakukan seni bela diri. Anda pun bisa putuskan dari hal-hal yang anak gemari. 2. Jangan Memaksa dan Memarahi Anak Salah satu cara mengatasi anak aktif adalah dengan memiliki kesabaran tinggi, karena kebanyakan akan sulit ditenangkan, bahkan cenderung tidak mau mendengar perkataan orang tua. Ingat! Anda tidak boleh langsung memarahi atau memaksa si kecil mengikuti keinginan meski dalam keadaan sangat jengkel sekalipun. Alih-alih emosi, Anda bisa amati lebih dulu apakah aktivitas yang mereka lakukan berbahaya atau tidak. Jika masih aman, Anda cukup dampingi saja agar tidak terjadi hal yang buruk pada anak. 3. Siapkan Alat Peraga Anak yang aktif biasanya menyukai praktik, mereka senang jika dapat mempraktikkan apa yang mereka pelajari secara langsung. Anda pun bisa menyiapkan mainan yang berbentuk huruf, angka, dan mainan balok, puzzle, dan sebagainya.  Selain itu, jika sedang mengajari anak, akan lebih baik jika Anda langsung memberi contoh. Misalnya, saat belajar menggunakan sendok, maka contohkan bagaimana cara memegang alat makan dengan baik. 4. Perhatikan Konsumsi Makanan Anak Pada dasarnya, tidak ada penelitian yang mampu membuktikan bahwa gula dapat membuat seseorang menjadi hiperaktif, namun sedikit banyak konsumsi gula tetap bisa memengaruhi perilaku. Mengutip laman Hello Sehat, gula memang sangat mudah diserap, namun dapat menyebabkan penurunan dan peningkatan darah dengan cepat. Sedangkan pada anak-anak, jika terjadi penurunan darah dengan cepat, maka mereka cenderung akan rewel. Jika sudah seperti ini, suasana hatinya menjadi buruk dan tidak stabil. Karena itu, Anda harus pastikan si kecil tidak berlebihan mengonsumsi gula dan gizinya pun terpenuhi dengan sayur serta buah. Sudah Tahu Bagaimana Cara Mengatasi Anak Aktif? Perilaku aktif pada anak sebenarnya bukan sesuatu yang berbahaya, namun bisa tidak tak terkontrol, perilaku tersebut tetap dapat memberi dampak buruk. Pada umumnya, anak akan mulai terlihat aktif saat memasuki usia 2 tahun. Karena itu, terdapat beberapa aktivitas untuk anak 2 tahun yang aktif yang dapat si kecil coba. Anda pun dapat mempercayakan buah hati di Sparks Sports Academy yang dapat membantu anak tumbuh dengan optimal dengan berbagai aktivitas menyenangkan. Sparks sendiri memiliki banyak kelas yang disesuaikan dengan tumbuh kembang anak sesuai dengan usia dan kebutuhan. Bagaimana, Anda tertarik mendaftarkan buat hati?

19/09/2025 / Komentar Dinonaktifkan pada Si Kecil Tak Bisa Diam? Ini 4 Cara Mengatasi Anak Aktif
Baca Lebih Lanjut

Paginasi pos

Sebelumnya 1 … 64 65 66 … 73 Berikutnya
Tema Royal Elementor Kit dibuat oleh WP Royal.