Ketika melihat anak terlalu aktif dan sulit untuk tenang di rumah atau di sekolah, pastinya Mom/Dad merasa khawatir atas perilakunya tersebut. Hal itu tidak bisa dianggap remeh karena anak berisiko mengalami ADHD. ADHD pada anak bisa memengaruhi prestasi belajar, hubungan sosial, dan percaya dirinya jika tidak ditangani dengan tepat.
Mom/Dad wajib mengetahui apa itu ADHD, gejala, penyebab, dan bagaimana cara merawatnya!
Apa itu ADHD pada Anak?
Dilansir dari Kemenkes, Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) pada anak adalah gangguan psikiatrik anak yang ditunjukan dengan sulit inatensi, hiperaktif, dan impulsif. Gangguan ini biasanya muncul pada anak berusia di bawah 12 tahun, dan beberapa anak bisa dilihat gejalanya pada usia 3 tahun.
Gejala ADHD pada Anak
Anak dengan ADHD, memiliki gejala-gejala seperti hiperaktif, impulsif, dan inatensi yang sering. Berikut adalah klasifikasinya:
- Hiperakrtif: gelisah, tidak bisa diam, cepat bosan ketika mengerjakan sesuatu, sering terburu-buru, ceroboh, dan suka berlarian atau melompat tanpa kendali.
- Implusif: suka bertindak tanpa pikir panjang, sulit menunggu giliran, sering mencela pembicaraan.
- Inatensi: terlihat tidak mendengarkan, kesulitan memertahankan fokus, kesulitan mengikuti instruksi, dan sering kehilangan barang.
Penyebab ADHD pada Anak
Dilansir dari Centers of Disease Control and Prevention, penyebab utama ADHD pada anak berasal dari genetik. Namun, terdapat beberapa penyebab lain seperti:
- Kelahiran prematur
- Paparan kimia saat masa kehamilan
- Cedera atau kerusakan otak
- Lahir dengan berat terlalu rendah
Baca juga: Kenali 7 Jenis Gangguan Mental Anak Beserta Penyebabnya
Cara Merawat ADHD pada Anak
Merawat anak dengan ADHD membutuhkan pendekatan secara keseluruhan, mulai dari keluarga, sekolah, dan tenaga kesehatan. Berikut beberapa langkah yang bisa Mom/Dad lakukan:
1. Terapi Perilaku
Anak dengan ADHD bisa diterapi secara kognitif atau terapi berbasis sekolah agar anak bisa belajar strategi mengelola impulsivitas dan meningkatkan keterampilan sosial.
2. Terapi Pengobatan
Terdapat dua jenis terapi pengobatan, yaitu stimulan dan non-stimulan. dilansir dari Kemenkes, pengobatan stimulan bisa menjadi pilihan pertama karena meningkatkan konsentrasi dan mengurangi impulsif, seperti dextroamphetamine dan metilfenidat.
Sedangkan pengobatan non-stimula biasanya bekerja lebih lambat tetapi efekna bertahan lebih lama, seperti atomoxetine atau clonidine.
3. Dukungan Pendidikan
Anak-anak dengan ADHD memerlukan dukungan tambahan di sekolah. Ini bisa berupa kelas yang disesuaikan dengan anak, strategi tertentu dalam pembelajaran, atau dukungan dari pihak sekolah.
4. Dukungan Keluarga
Lingkungan keluarga adalah peran penting dalam mendukung emosional praktis kepada anak ADHD. Membuat rutinitas yang konsisten, memberikan pujian dan dorongan, serta menjadi contoh baik bisa membantu anak mengatasi kesulitan mereka.
ADHD pada anak bukan sekedar “anak nakal” atau “kurang disiplin”. Ini adalah gangguan psikis yang nyata dan memengaruhi cara anak berpikir, bertindak, dan belajar setiap hari. Dengan memahami segala faktor dari ADHD, Mom/Dad bisa membantu anak tumbuh optimal tanpa merasa terhambat oleh gejala ADHD







