Melihat anak menunjukkan perilaku agresif seringkali membuat orang tua cemas, bingung, bahkan merasa gagal. Namun, sebelum Anda menyalahkan diri sendiri, sebaiknya pahami bahwa aggressive behavior pada anak bukan sekadar “nakal” atau “sulit diatur”.
Lebih dari itu, perilaku agresif muncul karena adanya dorongan emosional yang belum bisa dikelola dengan baik oleh anak. Mereka pun masih belajar mengenali emosi, memahami batasan, serta mencari cara untuk mengekspresikan diri. Lantas, bagaimana cara menanganinya? Simak selengkapnya di sini!
Key Takeways:
- Secara umum, aggressive behavior adalah luapan emosi yang ditunjukan dengan amarah atau kekerasan, biasanya diekspresikan melalui kata-kata ataupun tindakan kasar.
- Dalam masa perkembangan, perilaku agresif seringkali terjadi karena kemampuan regulasi emosi anak masih belum matang.
- Banyak ahli perkembangan anak menyebutkan bahwa kegiatan yang terarah dapat membantu anak mengembangkan kontrol diri, seperti aktivitas fisik atau olahraga kelompok.
Apa Itu Aggressive Behavior pada Anak?
Mengutip Jurnal Buah Hati (2024), perilaku agresif adalah luapan emosi yang ditunjukan dengan amarah atau kekerasan, biasanya diekspresikan melalui kata-kata ataupun tindakan kasar. Dalam perkembangan masa kanak kanak, perilaku ini sering terjadi karena kemampuan regulasi emosi yang belum matang.
Artinya, anak sebenarnya tidak bermaksud melukai siapa pun, mereka hanya belum tahu cara yang tepat untuk mengekspresikan emosi. Banyak penelitian dalam psikologi perkembangan juga menyebutkan bahwa agresivitas pada anak dapat dipicu oleh kombinasi faktor internal dan eksternal.
Beberapa faktor ini berupa pola asuh, trauma, lingkungan sosial, stres, hormon, hingga temperamen bawaan. Selain itu, menurut studi di Academic Pediatrics, paparan dari konten kekerasan juga berkaitan dengan meningkatkatnya perilaku agresif pada anak.
Ciri Anak dengan Aggressive Behavior
Lantas, kapan Anda perlu memberikan perhatian serius pada perilaku anak? Berikut beberapa ciri khas yang biasanya muncul.
1. Sering Bersikap Kasar
Ketika anak marah atau frustrasi, ia dapat meluapkan emosinya melalui tindakan fisik atau perilaku kasar lainnya. Ini terjadi karena kemampuan menggunakan kata-kata untuk menggambarkan emosinya belum berkembang dengan baik.
Dalam Bulletin of Kharkiv National University of Internal Affairs juga dijelaskan bahwa jenis sikap agresif anak dapat meliputi agresi fisik, verbal, dan emosional. Beberapa contoh perilakunya adalah membenci, mengejek, mengancam, menghina, memukul, hingga mendorong.
2. Mudah Marah dan Sulit Mengendalikan Emosi
Anak bisa cepat marah hanya karena hal-hal sepele, seperti saat Anda nasihati atau ketika keinginannya tidak terpenuhi. Kondisi ini menunjukkan bahwa kemampuan mengatur diri (self-regulation) mereka masih berkembang.
3. Berkata Kasar atau Menghina
Ciri aggressive behavior juga terlihat ketika anak mulai melontarkan ucapan yang menyakitkan. Entah karena meniru orang di sekitarnya atau memang itu adalah caranya meluapkan rasa kesal yang tak tersalurkan.
4. Tidak Mau Mengalah dan Cenderung Mendominasi
Anak selalu ingin menang atau menjadi pusat perhatian, sering kali karena mereka merasa tidak aman atau takut kehilangan kontrol. Ini menunjukkan kebutuhan akan pengakuan, rasa percaya diri yang rendah, atau pola asuh yang terlalu permisif atau sebaliknya, terlalu otoriter.
5. Tidak Empati saat Melukai Orang Lain
Kurangnya empati bukan berarti anak “tidak punya hati”, tapi lebih karena ia belum belajar memahami perasaan orang lain. Hal tersebut sering terjadi jika lingkungan tidak bisa memberi contoh empati atau anak mungkin terlalu sering mengalami tekanan emosional.
Cara Menangani Aggressive Behavior pada Anak
Menangani perilaku agresif membutuhkan kesabaran dan pendekatan yang tepat. Berikut beberapa strategi yang dapat Anda terapkan.
1. Tetap Tenang dan Konsisten
Anak belajar dari respons Anda. Jika Anda ikut marah, mereka tentu akan meniru. Tetapi jika Anda tetap tenang, mereka akan belajar bahwa konflik bisa diselesaikan tanpa kekerasan. Sehingga, secara perlahan, anak akan meniru ketenangan Anda.
2. Ajak Anak Berbicara Setelah Tenang
Setelah situasi mereda, berbicaralah secara lembut. Melansir Government of South Australia, anak-anak dengan aggressive behavior mungkin merasa bingung dan malu, namun mereka tidak memahami mengapa hal tersebut terjadi dan bagaimana cara menghentikannya.
Karena itu, coba tanyakan apa yang membuat mereka marah dan bantu cari alternatif respons yang lebih baik. Alih-alih menegur dengan keras atau memberi ancaman, cobalah bantu anak mengenali emosinya. Sehingga, anak dapat belajar menamai perasaan tersebut dan mencari solusi yang lebih sehat.
3. Terapkan Batasan yang Jelas
Ana-anak tidak akan memahami aturan jika Anda tidak mengajari mereka. Jadi, coba sampaikan aturan dengan bahasa sederhana dan ulangi jika perlu.
Contoh, Anda mengizinkannya untuk marah tapi tidak boleh memukul atau berkata kasar. Ingatkan padanya bahwa amarah bisa disalurkan dengan cara yang baik tanpa perlu menyakiti orang lain atau dirinya sendiri.
Sudah Tahu Cara Atasi Aggressive Behavior pada Anak?
Itulah cara menangani aggressive behavior yang bisa Anda coba terapkan pada anak. Sebagai orang dewasa sekalipun, ada momen di mana perasaan bisa terasa di luar kontrol dan Anda kesulitan mengekspresikannya. Hal serupa juga dapat terjadi pada anak-anak yang bahkan belum memiliki kontrol baik akan dirinya sendiri.
Selain itu, banyak ahli perkembangan anak menyebutkan bahwa kegiatan yang terarah dan konsisten dapat membantu anak mengembangkan kontrol diri. Contohnya adalah aktivitas fisik, olahraga kelompok, atau kegiatan berstruktur.
Jika mencari tempat yang bisa membantu anak mengembangkan disiplin, percaya diri, dan kontrol diri melalui aktivitas fisik, Spark Sports Academy adalah tempatnya. Program-programnya dirancang agar anak tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga mampu mengelola emosi dan membangun karakter yang sehat. Tertarik untuk daftar?







