7 Alasan Strict Parents Suka Mengatur Anak Secara Berlebihan

7 Alasan Strict Parents Suka Mengatur Anak Secara Berlebihan

Table of Contents

Tak bisa dipungkiri bahwa banyak sekali orang tua merasa bahwa sikap keras dan penuh larangan adalah cara terbaik untuk mendidik anak. Alasan strict parents pun sekilas akan terlihat mulia. Namun, tahukah Anda bahwa sikap-sikap tersebut dapat menjadi racun yang justru akan merusak masa depan anak?

Berdasarkan Journal on Education, pola asuh yang ketat dan penuh kontrol justru akan membuat anak memiliki low self esteem serta memiliki tingkat stres dan kecemasan yang tinggi. Melihat pengaruhnya, mengapa sikap otoriter orang tua tersebut masih banyak diterapkan? Mari simak alasan lebih lengkapnya di bawah ini!

Key Takeaways

  • Dalam keluarga yang kaku atau otoriter, orang tua biasanya memiliki aneka alasan yang membuat mereka berlaku keras terhadap anak.
  • Orangtua bisa saja menganggap jika anak lemah dan bodoh atau mereka tidak percaya terhadap potensi anak.
  • Ada pula orang tua yang mempunyai ekspektasi yang sangat tinggi, dan mereka bisa juga ingin mencegah anak dari merasa cepat puas.

Alasan Strict Parents yang Harus Dilenyapkan

Kebanyakan orang tua otoriter sering mengemukakan berbagai alasan di balik perilaku mereka yang terkesan semena-mena. Padahal, kontrol yang terlalu berlebihan justru dapat merusak hubungan orang tua dan buah hati. Berikut adalah sejumlah contoh alasan sikap strict parenting tersebut.

1. Takut Jika Masa Depan Anak Suram

Seorang anak yang tak mendapat arahan yang baik dari orang tua berisiko menjalani masa depan yang suram dan berat. Tentu, orang tua tidak ingin hal itu terjadi dan tidak akan membiarkan anaknya menderita di masa depan. Sayangnya, rasa takut dan was-was ini dapat berubah menjadi sikap mengatur yang berlebihan.

2. Pengalaman Orang Tua Itu Sendiri dan Meneruskan Budaya

Dalam beberapa kasus, alasan strict parents bersikap kaku dan dingin kepada anak datang dari keluarga yang juga sama-sama otoriter. Ini karena orang tua sendiri memiliki keyakinan dan nilai bahwa sikap parenting tersebut memang baik untuk anak.

Pernyataan yang serupa juga disebutkan dalam jurnal Plos, di mana intergenerational continuity of parenting merupakan proses aktif, dan secara sadar maupun tidak sadar, kedua generasi berperan dalam prosesnya.

Selain itu, ini dapat terjadi karena orang meneruskan budaya yang ada, misalnya praktik pola asuh ketat di Jawa. Sebuah jurnal dari UST Jogja pun menyebutkan bahwa dalam anak perempuan jawa sering kali tumbuh dengan peraturan yang kaku dan kontrol tinggi sebagai bagian dari integral norma-norma budaya.

Jadi, orang tua bersikap keras terhadap anak bukan sekadar karena pengalaman pribadi, tetapi tradisi atau budaya sosial yang diwariskan sejak dulu. Namun, budaya strict parenting warisan ini berisiko menyebabkan tekanan psikologis, serta menghambat perkembangan kemandirian dan kreativitas anak.

3. Tidak Tahu Cara Mengasuh Anak yang Benar

Sebagian orang tua mungkin menganggap bahwa mengurus anak itu mudah. Bisa jadi mereka merasa bahwa anak-anak secara otomatis akan patuh tanpa banyak bertanya. Orang tua juga menganggap bahwa pola asuh yang ketat dapat mencegah anak-anaknya menjadi pembangkang.

4. Ingin Menjadikan Anak Keras dan Tangguh

Alasan strict parents lainnya adalah memiliki niat untuk menjadikan anak memiliki jiwa yang keras dan tangguh melalui pola asuh otoriter dan ketat. Padahal, ini adalah kesalahan besar. Anak yang mendapat pengasuhan otoriter bukannya menjadi keras dan tangguh, melainkan akan memiliki perilaku kasar dan menarik diri dari pergaulan.

5. Tidak Percaya Terhadap Potensi Anak

Sekecil apapun potensi bakat dalam seorang anak, Anda harus bersedia memberikan kesempatan bagi mereka untuk mengembangkan potensi tersebut. Sayangnya, strict parents seringkali tidak percaya terhadap potensi anak-anaknya karena mereka merasa kepatuhan total kepada orangtua sudah cukup.

6. Memiliki Harapan yang Terlampau Tinggi

Apakah ada orang tua yang tak mengharapkan apa-apa dari anak-anaknya? Tidak ada, semua orang tua sudah pasti ingin melihat anak mereka menggapai masa depan yang cerah. Namun, harapan keberhasilan anak yang terlalu tinggi inilah yang menjadi alasan strict parents untuk menekan anak.

7. Tidak Mau Anak Cepat Puas Karena Mendapat Pujian

Terkadang, seorang anak berisiko menjadi orang yang cepat puas apabila mendapat pujian walau sedikit saja. Orang tua tentu tidak ingin anak-anaknya berperilaku seperti itu.

Sayangnya, strict parents acap kali menolak untuk memuji anak satu kali pun, bahkan mungkin memaksa anak untuk terus belajar tanpa pujian. Padahal, anak yang tidak pernah mendapatkan validasi dapat lebih rentan terhadap depresi dan kecemasan.

Sudah Mengerti Apa Saja Alasan Strict Parents?

Coba pikirkan sejenak, jika orang tua memang menyayangi anak, maka mengapa mereka merasa harus bersikap kaku dan menuntut? Jawabannya karena sikap penuh kontrol tersebut biasanya lahir dari rasa sayang itu sendiri. Sebab, orang tua pada dasarnya peduli dan ingin mengarahkan, tapi cara yang mereka pilih tidak sesuai.

Karena itu, orang tua harus memahami bahwa pola asuh yang mereka terapkan tidak bisa sembarangan karena dapat membentuk kepribadian dan memengaruhi masa depan anak. Keseimbangan dalam pola asih tetap sangat penting, di mana disiplin harus dibarengan dengan dukungan emosional dan komunikasi terbuka.

Selain itu, untuk mendukung psikologis si kecil, Anda dapat mendaftarkan mereka di Sparks Sports Academy. Melalui berbagai kelas aktif dan menyenangkan, seperti balet, olahraga, dan sensori, anak akan tumbuh lebih percaya diri dan cerdas. Ayo, tempatkan anak di lingkungan terbaik dengan book free trial class Sparks Sports Academy!

Bagikan artikel ini lewat:

© 2024 | Sparks Sports Academy - PT Pendidikan Anak Bangsa

KUOTA PROMO SUDAH DIAMBIL 91%