-
Author: Tim Sparks Sports Academy
Anxious attachment adalah kondisi anak yang dipenuhi rasa cemas secara berlebihan saat berpisah dengan orang tua, pengasuh, atau orang terdekat. Anak yang mengalami ini akan memengaruhi perkembangan emosi saat dewasa dan jika tidak dikenali lebih awal, ini bisa berdampak pada rasa percaya diri, hubungan sosial, dan cara anak mengelola emosinya.
Apa itu Anxious Attachment?
Berdasarkan jurnal Universitas Pendidikan Indonesia, anxious attachment adalah kecenderungan individu terhadap kecemasan dan kewaspadaan terhadap penolakan dan ditinggalkan. Seperti contoh, anak yang ditinggal pergi sebentar oleh orang tuanya mengakibatkan anak rewel dan menangis.
Anak dengan anxious attachment cenderung memiliki tingkat kecemasan yang tinggi terkait dengan keintiman dan rasa takut akan ditinggalkan.
Ciri-Ciri Anxious Attachment pada Anak
Anak-anak yang memiliki anxious attachment memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
- Anak terlihat cengeng atau membutuhkan perhatian saat keadaan sulit.
- Khawatir secara berlebih saat terjadi penolakan.
- Cenderung ingin memenuhi keinginan orang lain dan merasa perlu diterima oleh orang lain.
- Meragukan bahwa orang tua tidak akan hadir saat sedang kesulitan.
- Sering cemas dan panik.
- Sulit mengatur emosi negatif.
- Cemas berlebih saat ditinggalkan oleh orang terdekat seperti orang tua.
Penyebab Anxious Attachment pada Anak
Anak yang mengalami anxious attachment pasti memiliki penyebab pemicunya. Berikut adalah beberapa penyebabnya:
1. Pola Asuh yang Tidak Konsisten
Pola asuh yang tidak konsisten adalah ketika kedua orang tua dan pengasuh mengajarkan kedisiplinan yang berbeda-beda. Ini berarti orang tua atau pengasuh terkadang bersikap hangat dan baik, tapi kadang mereka mengabaikan kebutuhan emosional anak
Jika orang tua tidak konsisten dalam mengasuh anak, anak akan belajar bahwa orang tua tidak dapat diandalkan. Anak akan merasa bingung, cemas, dan tumbuh menjadi seorang yang takut ditinggalkan dan terus membutuhkan kepastian.
2. Orang Tua juga Memiliki Anxious Attachment
Trauma pada masa kecil orang tua juga dapat menghasilkan pola pengasuhan yang tidak aman dan nyaman. Orang tua dengan anxious attachment memungkinkan mereka terobsesi dengan pola asuh yang tidak konsisten.
3. Anak Tidak Mendapatkan Perhatian yang Cukup
Anak yang tidak mendapatkan perhatian dari orang tua secara emosional akan berisiko terkena anxious anxiety pada anak di masa depan. Hal itu akan mengakibatkan anak menjadi tidak percaya diri, tidak memiliki kemampuan untuk percaya pada orang sekitar, serta tidak memiliki hubungan sosial yang sehat.
4. Pola Asuh yang Ekstrem
Orang tua dengan pola asuh ekstrem seperti tidak mengizinkan anak untuk tumbuh dengan mandiri sesuai usia dapat menyebabkan anxious attachment. Hal ini sama dengan tidak memperhatikan anak secara emosional dan tidak hadir setiap pertumbuhan anak.
5. Anak Mengalami Trauma pada Masa Lalu
Anak yang mengalami trauma masa lalu seperti perceraian orang tua, kekerasan, atau mengalami kemiskinan yang ekstrem, anak sangat berisiko mengalami anxious attachment.
Baca juga: Attachment Parenting: Prinsip, Manfaat, dan Tantangannya
Cara Mengatasi Anxious Attachment pada Anak
Kabar baiknya, anxious attachment bisa diperbaiki dengan pendekatan yang tepat dan konsisten seperti:
1. Bangun Rutinitas yang Konsisten
Mom/Dad bisa menciptakan pola asuh dan rutinitas yang konsisten sehingga anak akan merasa aman dan lebih percaya diri untuk beraktivitas. ini bisa mulai dari hal sederhana seperti mengatur jadwal makan, tidur, dan bermain untuk membantu anak merasa dunia bisa diprediksi.
2. Validasi Perasaan Anak
Mom/Dad harus hadir saat anak sedang melampiaskan emosinya. Dengarkan dan akui emosi anak, meski terlihat sepele. Kalimat sederhana seperti “Mama/Papa tahu kamu sedang sedih” sudah sangat berarti dan membuat anak merasa nyaman.
3. Bangun Komunikasi yang Baik dengan Anak
Ketika anak merasa cemas, Mom/Dad harus menyadarinya dari awal dan langsung mengkomunikasikannya. Tanggapi rasa cemas anak dengan tepat untuk bisa memahami perasaan anak tanpa harus anak merasa bersalah.
4. Latih Kemandirian Sejak Dini
Mom/Dad bisa melatih kemandirian anak secara perlahan tanpa harus mengambil alih. Anak bisa dibimbing mulai dari hal sederhana seperti jangan nangis kalau sedang ditinggal, belajar sendiri, dan menyelesaikan masalah sendiri.
5. Ajari Mengelola Emosi
Jika Mom/Dad bisa mengelola emosi dengan mudah, berikan ke anak contoh melakukannya. Anak akan belajar cara mengenali dan mengelola emosinya sendiri dengan melihat orang tua sebagai contoh.
Anxious attachment adalah pola kedekatan emosional yang bisa memengaruhi perkembangana anak jika tidak disadari sejak dini. Jika Mom/Dad memahami ciri, penyebab, dan cara mengatasinya, anak akan terbantu untuk tumbuh lebih percaya diri, mandiri, dan aman secara emosional. Kuncinya adalah konsisten, empati, dan kehadiran emosional yang hangat.







