-
Author: Tim Sparks Sports Academy
Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak berusia di bawah 5 tahun akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang sejak periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Kondisi ini menjadi permasalahan serius di Indonesia sehingga membutuhkan pengetahuan tentang cara mencegah stunting yang tepat.
Lantas, bagaimana upaya yang bisa Anda lakukan sebagai orang tua dalam mencegah bahaya stunting sejak masa kehamilan hingga balita agar tidak mengancam perkembangan kognitif dan kecerdasan anak di masa mendatang? Simak penjelasan selengkapnya di artikel ini.
Key Takeaways
- Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak berusia di bawah 5 tahun karena kekurangan gizi dan infeksi berulang sejak hari pertama kelahiran.
- Cara mencegah stunting sejak masa kehamilan adalah dengan memenuhi kebutuhan gizi seperti karbohidrat, lemak, protein, vitamin, asam folat, dan zat besi pada ibu hamil. Ibu hamil juga perlu melakukan pemeriksaan rutin serta menerapkan pola hidup sehat.
- Setelah melahirkan, ibu juga bisa mencegah stunting dengan memberikan ASI eksklusif hingga anak berusia 2 tahun, mencukupi kebutuhan gizi anak saat memasuki periode pemberian MPASI, dan memantau perkembangan anak secara rutin ke posyandu atau fasilitas kesehatan terdekat.
Cara Mencegah Stunting pada Anak
Kementerian Kesehatan RI menyebutkan bahwa stunting ditandai dengan ciri fisik berupa postur tubuh yang lebih pendek dari teman seusianya, berat badan relatif rendah, hingga perkembangan motorik dan kognitif yang lambat. Oleh karena itu, Anda perlu melakukan pencegahan dini dengan melakukan beberapa hal berikut ini.
1. Memenuhi Gizi Ibu Hamil
Masa kehamilan merupakan fase krusial dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan anak yang berperan penting dalam mencegah stunting. Oleh karena itu, ibu hamil perlu memenuhi kebutuhan gizi dengan mengonsumsi karbohidrat, lemak, serta protein hewani dan nabati.
Ibu hamil juga perlu asupan vitamin dan mineral lengkap seperti zat besi, asam folat, yodium, kolin, magnesium, vitamin A, vitamin B, serta mengonsumsi air putih sebanyak 2-3 liter per hari. Selama kehamilan, ibu sebaiknya rutin mengonsumsi suplemen sesuai rekomendasi dokter dan tablet penambah darah minimal 90 butir untuk mencegah anemia serta menurunkan risiko komplikasi kehamilan, termasuk bayi lahir prematur.
2. Lakukan Pemeriksaan Kandungan Rutin
Memenuhi kebutuhan nutrisi selama kehamilan saja belum cukup sebagai cara mencegah stunting. Ibu hamil perlu memeriksakan kehamilan secara rutin minimal enam kali, baik ke dokter spesialis kandungan maupun bidan.
Pemeriksaan ini umumnya dilakukan sekali pada trimester pertama, dua kali pada trimester kedua, dan tiga kali pada trimester ketiga. Pemeriksaan kandungan rutin berperan penting dalam memantau pertumbuhan dan perkembangan janin, sekaligus mendeteksi potensi masalah pada ibu maupun janin agar dapat segera ditangani.
3. Memberi ASI Eksklusif pada Bayi
Setelah bayi lahir, pencegahan stunting juga bisa ibu lakukan dengan cara memberi ASI eksklusif selama 6 bulan hingga 2 tahun. Di sini, ibu dapat melakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) sejak hari pertama kelahiran dengan memberi kolostrum sebagai antibodi yang memperkuat imun bayi.
ASI sangatlah penting untuk mendukung perkembangan otak dan menjaga kesehatan pencernaan anak. Menyusui eksklusif pun berdampak positif pada kesehatan ibu dalam jangka panjang, yaitu mengurangi risiko penyakit payudara hingga mempercepat pemulihan pasca melahirkan.
Baca juga: Cegah Stunting pada Anak Sejak Dini dengan Cara Ini
4. Memberi MPASI Bernutrisi
Cara mencegah stunting berikutnya adalah memberi Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang bernutrisi lengkap untuk anak. MPASI bisa Anda berikan sejak bayi berusia 6 bulan dengan tekstur yang menyesuaikan tahap perkembangan anak.
Menu MPASI harus mengandung karbohidrat serta protein hewani dan nabati yang berperan penting dalam mencegah stunting. Selain itu, lengkapi asupan gizi anak dengan makanan yang mengandung lemak, vitamin, mineral, zat besi, zinc, dan omega-3 untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan optimal.
Anda dapat memanfaatkan bahan pangan lokal yang bergizi, seperti ikan kembung yang tinggi protein dan omega-3, daging, telur, aneka sayuran, lemak dari santan, serta vitamin dari buah-buahan. Selama masa MPASI, Anda tetap perlu memberikan ASI eksklusif pada anak hingga usianya mencapai 2 tahun.
5. Memantau Perkembangan Anak ke PosyanduÂ
Sama seperti masa kehamilan, pemeriksaan kesehatan ke posyandu secara berkala penting untuk memantau tumbuh kembang anak, terutama tinggi dan berat badannya. Pasalnya, stunting adalah penyakit yang bisa terlihat dari ciri fisik, yakni tinggi dan berat badan yang tidak sesuai dengan anak seusianya.
Jika Anda mengabaikan pemeriksaan rutinan, maka segala gangguan kesehatan termasuk stunting tidak dapat segera ditangani. Ini berdampak buruk bagi kesehatan anak, karena dapat berpengaruh pada kemampuan kognitif serta perkembangan otak dalam jangka panjang.
Pahami Cara Mencegah Stunting dan Berikan Pendidikan Terbaik di Masa Emasnya
Stunting bukanlah penyakit, tetapi kondisi gagal tumbuh yang menyerang anak-anak sejak awal kelahirannya. Meski begitu, Anda sebagai orang tua bisa mengatasinya dengan memahami cara mencegah stunting yang tepat sesuai anjuran resmi dari World Health Organization (WHO) maupun Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Selain itu, Anda perlu memberi pendidikan terbaik untuk mendukung perkembangan motorik, kognitif, sosial, dan emosi anak bersama Sparks Sports Academy. Kami menghadirkan pendidikan berkualitas yang dapat mendukung tumbuh kembang anak dengan menstimulasi sensorik, mengasah pikiran dan bahasa, dan meningkatkan kepercayaan diri melalui permainan edukatif.
Segera daftar dan dapatkan kelas terbaik untuk mendukung tumbuh kembang buah hati!







