Meski orang tua tidak memiliki niat buruk, pola asuh strict parents memiliki dampak yang sangat signifikan pada kehidupan anak. Sayangnya, dampak tersebut cenderung ke arah negatif dan bukan positif. Lantas, bagaimana ciri-ciri anak strict parents? Apa saja contoh perilaku yang akan ditunjukkan? Simak selengkapnya lewat artikel berikut!
Key Takeaways
- Beberapa ciri-ciri anak strict parents adalah sering bersikap kasar, kerap berbohong, dan memberontak kepada orang tuanya.
- Dalam hubungan sosial, anak seperti ini banyak menghindari interaksi dan cenderung sulit untuk berkomunikasi.
- Mereka juga cenderung sulit untuk merasa bahagia, pesimis, dan tak mampu memecahkan masalahnya sendiri.
Ciri-Ciri Anak Strict Parents
Melansir Alodokter, strict parenting adalah pola asuh yang dilakukan dengan gaya otoriter, di mana orang tua banyak menerapkan aturan ketat. Tentu saja, tumbuh dalam keluarga yang penuh aturan akan meninggalkan dampak yang terkadang tidak orang tua sadari dan pahami. Apa saja cirinya? Berikut ulasannya!
1. Bersikap Kasar sebagai Bentuk Pelampiasan
Apakah Anda mengira bahwa perilaku kasar pada anak terjadi karena mereka tidak tahu sopan santun? Belum tentu. Sebab, ada kasus di mana anak yang ditekan oleh harapan tinggi orang tua akan merasa dirinya terperangkap. Akibatnya, akan muncul perilaku kasar dan bullying sebagai bentuk pelampiasan kemarahannya.
Hal tersebut juga disebutkan di laman Artful Parent, di mana perasaan anak dengan pola asuh strict parents biasanya selalu terabaikan dan mereka terbiasa menekan emosi. Namun, emosi tersebut tidak hilang, justru akan muncul kembali dalam bentuk kebencian, kecemasan, atau ledakan emosi yang tiba-tiba.
Hal tersebut pun dapat membuat anak kesulitan mengatur emosi, memiliki anger issue, serta senang melawan dan membantah orang tua. Anak juga akan melihat orang tua sebagai musuh yang tak pantas disayangi dan dipatuhi.
2. Banyak Berbohong kepada Orang Tua
Orang tua yang suka bersikap otoriter cenderung banyak mengkritik setiap perbuatan anak. Akibatnya, anak akan sering berbohong demi menghindari kritik dan hukuman. Semakin orang tua mengetatkan kendali mereka, maka anak pun akan semakin terbiasa untuk berbohong.
3. Menghindari Interaksi sosial
Ciri-ciri anak strict parents lainnya, yaitu menutup diri dari interaksi sosial karena mereka tidak mendapat kebebasan berekspresi dari orang tuanya. Salah satu bentuk kebebasan berekspresi adalah berinteraksi dengan teman-teman sebaya, dan hal ini sulit untuk anak lakukan jika mereka terhalang oleh dominasi orang tuanya.
4. Sulit Merasa Bahagia dan Optimis
Tahukah Anda bagaimana perasaan anak apabila mereka terus-menerus belajar dan bekerja keras tanpa mendapat waktu istirahat maupun validasi? Anak akan merasa bahwa semua perjuangannya tak bernilai apa-apa, yang akhirnya membuat si anak sulit merasa bahagia.
Masalah ini juga dapat memengaruhi performa akademiknya. Tak cukup tanpa penghargaan, orang tua otoriter biasanya akan mewajibkan anak untuk terus belajar demi memenuhi tuntutan mereka. Akibatnya, tekanan tersebut dapat membuat anak mengalami burn-out.
5. Patuh Karena Rasa Takut, Bukan Karena Hormat
Pola asuh otoriter mengharapkan anak untuk mematuhi aturan tanpa lawan, berperilaku sempurna, dan selalu hormat. Pada beberapa kasus, hasilnya memang sejalan dan dapat memenuhi ekspektasi tersebut, namun itu hanyalah kulit luarnya.
Melansir NCBI, anak yang tumbuh dengan orang tua otoriter memang dapat menjadi pribadi yang patuh dan memiliki perilaku baik, tapi itu adalah hasil dari konsekuensi perilaku buruk. Artinya, kepatuhan mereka bukan karena rasa sayang dan hormat pada orang tua, melainkan bentuk rasa takut akan hukuman serta teguran.
6. Terbiasa Menunggu Diberi Perintah
Jika mendapati seorang anak yang baru mau bertindak setelah diberi perintah, ini bisa jadi ciri-ciri anak strict parents. Padahal, hal ini sangat buruk bagi pertumbuhan anak. Sebab, anak yang terbiasa menunggu perintah akan kehilangan motivasi untuk belajar dan berjuang sendiri.
7. Susah Berkomunikasi dengan Orang Lain
Berkomunikasi di sini artinya ialah menyampaikan opini dan isi hati secara terbuka tanpa paksaan atau berbohong. Karena orang tua yang strict acap kali menggurui anak, kesempatan anak untuk berbicara pun otomatis hanya sedikit.
Mereka tidak memiliki cukup ruang untuk bertanya, mengekspresikan perasaan, dan mengeksplorasi ketertarikannya. Hal tersebut berujung pada kesulitan untuk mereka menyuarakan pendapatnya di dunia luar.
8. Tidak Punya Kemampuan Problem-Solving
Kemampuan untuk memecahkan masalah (problem-solving) hanya akan tumbuh apabila seorang anak mendapat kesempatan untuk bisa berpikir secara mandiri. Sayangnya, dalam pola asuh strict parenting, anak tak mampu memecahkan masalah sendiri karena mereka mendapat banyak kekangan dari orang tua.
Baca juga: 8 Cara Mengatasi Strict Parents Agar Anak Tidak Depresi
Sudah Memahami Apa Saja Ciri-Ciri Anak Strict Parents?
Orang tua tentu ingin anak-anak mereka hidup sukses dan bahagia. Hanya saja, akan lebih baik jika orang tua lebih bijak dalam menerapkan pola asuh dan memahami perasaan anak supaya mereka tidak merasa terpenjara. Bagi Anda yang ingin anak tumbuh cerdas dan aktif dalam cara yang benar, Sparks Sports Academy bisa jadi solusi.
Kelas yang tersedia dapat Anda sesuaikan dengan minat dan bakat anak, mulai dari olahraga, dance, hingga sensori. Tidak hanya berguna untuk menumbuhkan jiwa mandiri dan percaya diri, setiap kegiatan yang ada akan mendukung perkembangan kognitif, fisik, dan sosial emosional anak. Ayo, booking kelasnya dari sekarang!







