Berdasarkan Australian Breastfeeding Association, co-sleeping adalah istilah yang merujuk pada kondisi di mana orang tua dan bayi tidur di permukaan tidur yang sama. Namun, dalam penerapannya, praktik tidur bersama anak ini kerap menimbulkan pro dan kontra.Â
Sebagian orang tua menilai co-sleeping dapat memperkuat kedekatan emosional, sementara yang lain menganggapnya berpotensi menghambat kemandirian tidur anak. Untuk itu, agar bisa mengambil keputusan yang tepat, artikel ini akan menguraikan pro dan kontra serta tips penerapannya secara aman yang mungkin bisa membantu Anda.
Key takeaway:
- Co-sleeping memiliki manfaat dan risiko, di satu sisi dapat memperkuat bonding dan memudahkan pemantauan, namun juga membawa risiko seperti SIDS dan sulit tidur mandiri.
- Hindari tidur bersama jika orang tua merokok, mengonsumsi alkohol, obat tidur, atau berada di bawah pengaruh obat-obatan lain.
- Co-sleeping sebaiknya diimbangi dengan rutinitas stimulasi dan aktivitas fisik harian untuk mendukung tumbuh kembang.
ProÂ
Meski menimbulkan perdebatan, co-sleeping memiliki sejumlah manfaat yang sering menjadi pertimbangan orang tua untuk memilihnya. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut.
- Mempermudah perawatan dan pemantauan anak, karena orang tua bisa langsung merespons ketika anak terbangun atau gelisah.
- Membantu terciptanya ikatan (bonding) antara ibu dan anak.
- Membuat ibu bisa tidur lebih nyaman karena tidak harus berjalan menghampiri tempat tidur anak ketika anak butuh sesuatu.
- Anak bisa tidur dengan perasaan lebih nyaman dan aman karena berada di samping orang tuanya.
- Memudahkan saat berpergian, karena ketika anak bisa tidur hanya dengan pelukan orang tua, Anda tidak perlu membawa bantal, guling, atau selimut yang biasanya menemaninya tidur mereka di malam hari.
Kontra
Dalam jangka panjang, co-sleeping bisa menimbulkan beberapa dampak negatif yang perlu orang tua pahami sebelum memutuskan untuk menerapkannya sebagai rutinitas tidur keluarga. Beberapa dampak tersebut antara lain:
- Meningkatkan risiko SIDS (Sudden Infant Death Syndrome atau sindrom kematian bayi mendadak) akibat posisi tidur bayi yang salah, misalnya hidung tertutup selimut atau terhalang saat tidur bersama orang tua.
- Menurunkan kualitas tidur orang tua, terutama jika anak sering rewel di malam hari.
- Mengurangi waktu dan ruang untuk hubungan intim dengan pasangan.
- Membuat anak semakin sulit belajar tidur mandiri.
- Meningkatkan risiko cedera pada anak jika berbagi tempat tidur dengan orang yang sangat lelah atau berada di bawah pengaruh obat-obatan, alkohol, atau zat lain.
Tips Aman Co-sleeping pada Anak
Untuk menghindari hal-hal negatif akibat dari tidur bersama anak, Anda bisa menerapkan beberapa tips aman berikut.
1. Batasi Area Tidur dengan Bantal
Untuk memastikan anak tetap aman ketika tidur bersama orang tua, Anda bisa batasi area tidurnya dengan bantal. Namun, pastikan Anda tidak menggunakan bantal atau selimut orang tua di sekitar anak terutama yang masih dalam usia bayi karena bisa beresiko menutupi kepala mereka atau membuat bayi kepanasan.
2. Perhatikan Keamanan Area Tidur Anak
Saat co-sleeping, pastikan area tidur benar-benar aman dengan menghindari headboard atau rangka kasur yang memiliki celah atau apapun yang bisa membuat anak terjebak. Selain itu, jauhkan juga benda-benda longgar atau lembut, seperti mainan, boneka, dan pelindung boks dari area tidur anak.
Hindari juga meninggalkan anak sendirian di tempat tidur orang dewasa karena risiko terjatuh atau tersangkut bisa terjadi kapan saja, terutama saat anak mulai aktif bergerak.
3. Tidak Merokok dan Minum Alkohol
Jika tidur bersama anak, pastikan untuk tidak merokok dan minum alkohol atau sedang dibawah pengaruh obat-obatan. Pasalnya, paparan rokok bisa menimbulkan risiko penyakit pernapasan pada anak, sedangkan minum alkohol dan obat-obatan bisa membuat orang tua hilang kesadaran dan berisiko akan membahayakan anak selama tidur.
4. Posisikan Tidur Anak pada Jarak Aman dan Telentang
Ketika tidur bersama anak, pastikan posisi tubuhnya dalam jarak aman antara wajah anak dan tubuh orang dewasa, sehingga mengurangi risiko hidung atau mulutnya tertutup secara tidak sengaja. Selain itu, menidurkan anak dalam posisi telentang adalah cara paling aman untuk menjaga jalan napas tetap terbuka dan mengurangi risiko SIDS.
5. Hindari Pakaian Berlapis-Lapis
Penggunaan pakaian berlapis pada anak ketika co-sleeping bisa membuat anak kepanasan. Pasalnya, tidur bersama orang tua saja bisa meningkatkan risiko kepanasan, apalagi jika ditambah dengan pakaian berlapis. Jadi, sebaiknya Anda pastikan anak tidur hanya dengan pakaian satu lapis dan nyaman.
6. Jaga Suhu Kamar agar Tidak Terlalu Dingin
Tingkat toleransi dingin antara orang tua dan anak berbeda. Anak, terutama bayi baru lahir, lebih rentan mengalami hipotermia karena tubuhnya masih kecil dan lapisan kulit serta lemaknya masih tipis. Karena itu, pastikan suhu kamar disesuaikan dengan suhu ruang yang ideal untuk bayi. Berdasarkan RSIA Kendangsari, suhu ruangan yang disarankan untuk bayi sekitar 22°C-26°C.
7. Ajari Anak untuk Belajar Tidur Mandiri secara Perlahan
Meskipun co-sleeping memberikan kenyamanan dan kemudahan bagi orang tua, tapi Anda juga perlu untuk mulai mengajarkan anak tidur mandiri secara bertahap. Mulailah dengan memindahkan mereka ke ranjang atau kamar sendiri selama tidur siang, lalu mencobanya di waktu malam hari secara bertahap dengan pengawasan orang tua.
Ini penting karena tidak hanya membantu anak membiasakan diri dengan tempat tidur sendiri, tetapi juga mengurangi ketergantungan sekaligus bisa tetap menjaga keamanan dan kenyamanan tidur anak kedepannya.
Wujudkan Tumbuh Kembang Anak Terbaik Bersama Sparks Sports Academy
Co-sleeping pada anak menawarkan sejumlah keuntungan seperti kemudahan pemantauan dan membangun keintiman dengan orang tua. Namun, di balik manfaat tersebut juga terdapat risiko, seperti peningkatan kemungkinan SIDS dan membuat anak tidak bisa tidur mandiri.
Oleh karena itu, penting untuk menerapkan tips aman tidur bersama, seperti menjaga posisi tidur anak tetap aman dan menghindari konsumsi alkohol atau rokok untuk orang tua.
Sebagai pendukung tumbuh kembang holistik anak, orang tua juga bisa melengkapi rutinitas harian anak dengan aktivitas yang menyenangkan dan menyehatkan. Dalam hal ini, Sparks Sports Academy hadir dengan berbagai program olahraga yang dirancang khusus untuk anak usia 12 bulan hingga 7 tahun, seperti gym class, sensory play, dan berbagai aktivitas fisik berbasis permainan yang aman untuk setiap tahap usia anak.
Setiap kelas di Sparks dirancang agar anak bisa bergerak aktif, mengeksplorasi kemampuan tubuhnya, sekaligus membangun keterampilan motorik halus dan kasar. Informasi selengkapnya, kunjungi Sparks Sports Academy!







