Pengertian Cooperative Play, Manfaat, dan Implementasinya

Cooperative Play: Pengertian, Manfaat, dan Implementasinya

Table of Contents

Ketika anak sedang bermain, sejatinya anak sedang belajar tentang diri sendiri dan cara dunia bekerja. Dalam proses tersebut, terdapat tahapan perkembangan yang memengaruhi perilaku anak, terutama secara emosional dan sosial. Namanya cooperative play atau bermain kooperatif.

Key Takeaways

  • Cooperative play adalah fase puncak dari tahapan perkembangan interaksi anak yang biasanya terjadi pada usia 4-5 tahun ke atas.
  • Tahapan ini ditandai dengan anak yang bisa berinteraksi dengan lancar hingga bekerja sama dalam mewujudkan satu tujuan.
  • Tahap bermain secara kooperatif berperan penting bagi kemampuan interaksi sosial anak dalam skala pergaulan yang lebih luas.

Memahami Cooperative Play: Fase dari “Aku” Menjadi “Kita”

Fase ini sering dianggap sebagai gerbang utama menuju kematangan sosial anak sebelum memasuki usia sekolah formal. Menurut Headline, cooperative play merupakan tahapan terakhir dan paling kompleks dari konsep perkembangan interaksi anak yang biasanya muncul pada usia 4-5 tahun ke atas.

Dalam fase ini, anak tidak hanya berinteraksi, tetapi sudah mencapai tahapan bekerja sama dengan struktur yang jelas untuk mencapai suatu tujuan. Transisi ini menandakan bahwa anak telah mampu memahami aturan sosial, berbagi peran, dan menekan ego pribadi demi kelompoknya.

Perilaku yang anak tunjukkan pada fase ini merupakan lompatan kognitif yang besar dari sekadar bermain di kotak pasir sendirian menjadi membangun istana pasir bersama-sama dengan pembagian tugas yang spesifik. Artinya, anak pun siap untuk berinteraksi secara sosial dengan skala yang lebih luas.

Manfaat Tahap Bermain Kooperatif pada Anak

Alasan mengapa Anda tidak boleh meremehkan fase puncak ini adalah karena serangkaian manfaatnya yang nyata bagi anak sebagaimana penjabaran berikut.

1. Pengembangan Keterampilan Negosiasi dan Konflik

Ketika anak sedang bermain bersama teman sebayanya, konflik merupakan aspek yang hampir tidak bisa terhindarkan. Mulai dari berbagi peran dalam permainan dokter-pasien atau membangun istana pasir, hingga menentukan posisi sebagai penyerang atau penjaga gawang saat bermain sepak bola.

Hal-hal sederhana bisa selesai melalui musyawarah bagi orang dewasa, namun bisa memicu konflik ketika anak bermain. Dalam situasi ini, cooperative play akan menciptakan pemahaman sederhana pada anak tentang seni negosiasi. Anak akan belajar menekan ego dengan pemahaman agar temannya tidak pergi.

Anak pun mulai membicarakan pembagian peran atau tugas agar porsi masing-masing berimbang dan tujuan akhir dapat tercapai bersama. Mereka belajar bernegosiasi dan mencegah atau menangani konflik dalam porsi yang paling sederhana. Ini adalah bekal yang bagus untuk kehidupan sosial di masa depan.

2. Menumbuhkan Empati dan “Theory of Mind”

Bermain kooperatif menuntut anak untuk memahami perspektif orang lain, yang mana merupakan konsep psikologi bernama Theory of Mind. Anak harus bisa memprediksi apa yang akan temannya lakukan, lalu meresponsnya dengan tepat. Hal ini menjadi sarana terbaik untuk mengajarkan praktik empati.

Anak yang terbiasa merasakan empati akan lebih mudah berbaur di berbagai lingkup pergaulan sosial. Ia akan mudah mendapat penerimaan dari berbagai karakter kelompok karena mampu menunjukkan kepedulian yang tulus. Ini merupakan salah satu investasi masa depan yang tidak ternilai.

3. Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Linguistik

Saat anak-anak terlibat dalam bermain kooperatif, mereka belajar untuk menyampaikan ide-ide dengan jelas agar semua anggota kelompoknya dapat memahami. Mereka mempelajari kosa kata baru secara alami, mengatur intonasi, dan berkomunikasi secara aktif tanpa melibatkan gawai.

Kebiasaan anak menggunakan gawai saat ini seolah menjadi praktik yang biasa di mata masyarakat. Hingga tidak jarang yang terjebak menjadi kecanduan dan tidak bisa lepas dari gawai. Kondisi ini tentu sangat buruk untuk perkembangan interaksi sosial di masa depan.

Implementasi Cooperative Play dalam Aktivitas Fisik

Namun, meskipun bermain kooperatif merupakan proses pertumbuhan yang alami, bukan berarti anak tidak memerlukan dukungan eksternal untuk mewujudkan hasil yang tepat. Salah satu wadah terbaik untuk memfasilitasi fase tersebut adalah aktivitas fisik terstruktur, terutama olahraga tim.

Banyak orang tua yang menganggap bahwa menjaga anak, terutama balita, tetap di rumah dan membelikan banyak mainan agar anak tidak bosan merupakan tindakan yang tepat. Padahal, langkah tersebut justru dapat menghambat fase emas perkembangan anak, termasuk tahapan bermain kooperatif.

Berbeda dengan bermain bebas di rumah, olahraga tim memperkenalkan konsep aturan main (rules of the game) yang mewajibkan kepatuhan dari semua anggota. Aturan ini efektif mencegah potensi kecemasan berlebih, melatih kerja sama, serta meningkatkan keterampilan sosial anak.

Tentu saja, olahraga tim merupakan kelas olahraga berkurikulum dengan pendampingan pelatih profesional. Anak dapat bergabung dengan kelab olahraga sesuai minat agar tidak merasa terpaksa, lalu mendapatkan pengarahan secara profesional untuk mengikuti aktivitas fisik terstruktur dalam kelas.

Bermain Kooperatif, Tahapan Puncak Perkembangan yang Krusial

Cooperative play adalah fase puncak dari enam tahapan perkembangan anak, di mana anak belajar menekan ego dan bekerja sama untuk meraih tujuan bersama teman. Fase ini menentukan kemampuan interaksi sosial anak di masa depan, terutama dalam bernegosiasi dan kemampuan linguistiknya.

Dalam memahami betapa vitalnya peran cooperative play bagi masa depan anak, Anda sebagai orang tua wajib terlibat secara aktif dalam fase tersebut. Salah satunya dengan mendaftarkan anak ke akademi olahraga agar tahapan perkembangan lebih optimal melalui aktivitas fisik terstruktur.

Spark Sports Academy menjadi tempat terbaik yang tidak hanya menyediakan beragam kelas olahraga, tapi juga mengajarkan interaksi dan melatih kerja sama anak dalam tim dengan suasana yang seru. Ada kelas basket, balet, futsal, dan lainnya yang siap menanti mereka!

Bagikan artikel ini lewat:

© 2024 | Sparks Sports Academy - PT Pendidikan Anak Bangsa

KUOTA PROMO SUDAH DIAMBIL 91%