-
Author: Tim Sparks Sports Academy
Orang tua sering menganggap terpeleset atau jatuh menjadi bagian dari proses tumbuh kembang anak. Padahal, ketika frekuensi terjatuh terlalu sering, diiringi kecerobohan lain seperti kesulitan menggenggam dan kebingungan mengikuti instruksi gerakan sederhana, bisa jadi itu merupakan tanda dyspraxia.
Key Takeaways
- Dyspraxia adalah gangguan neurologis yang memengaruhi kemampuan otak dalam merencanakan dan memproses gerakan tubuh.
- Gejala dispraksia antara lain kecerobohan gerak seperti sering terpeleset atau jatuh, kesulitan menggenggam, dan menjalankan instruksi gerak sederhana.
- Dispraksia wajib mendapatkan penanganan tepat melalui keterlibatan aktif orang tua serta tenaga profesional seperti instruktur olahraga.
Apa Itu Dyspraxia?
Secara medis, kondisi ini sering disebut sebagai Developmental Coordination Disorder (DCD), yaitu gangguan neurologis yang memengaruhi kemampuan otak dalam merencanakan dan memproses gerakan tubuh. Namun, kondisi ini sejatinya tidak berkaitan dengan tingkat kecerdasan anak.
Justru, banyak anak dengan kondisi ini memiliki kemampuan verbal dan kreativitas tinggi asalkan mendapatkan penanganan yang tepat. Menurut data dari Movement Matters UK, DCD diperkirakan memengaruhi sekitar 5-10% anak usia sekolah, dengan sekitar 2% menunjukkan gejala parah.
Mengenali Gejala DCD Berdasarkan Usia
Meskipun tidak sampai tahap mengkhawatirkan, bukan berarti DCD bisa Anda anggap remeh. Intervensi dini (penanganan cepat) sangat penting dan salah satu sumber akurat yang dapat lebih cepat mengenali gejala-gejala dyspraxia adalah orang tua. Berikut adalah beberapa indikator umum yang mudah Anda kenali.
1. Usia Balita (2-5 Tahun)
- Keterlambatan mencapai tonggak perkembangan fisik seperti merangkak, berjalan, atau latihan buang air di toilet (toilet training).
- Kesulitan menggunakan peralatan makan atau membangun menara balok.
- Sering menabrak benda atau jatuh tanpa sebab yang jelas.
- Kesulitan melakukan tugas motorik halus seperti memasang kancing baju atau memegang krayon.
2. Usia Sekolah Dasar (6-12 Tahun)
- Kesulitan melakukan praktik pelajaran olahraga, seperti menangkap bola, lompat tali, atau menjaga keseimbangan.
- Tulisan tangan tampak berantakan dan sulit terbaca akibat kontrol otot tangan yang lemah.
- Kesulitan mengikuti instruksi berlapis atau merapikan tas sekolah.
- Cenderung menghindari aktivitas fisik karena merasa rendah diri atau takut gagal di depan teman-temannya.
Dampak Dyspraxia pada Psikososial Anak
Lantas, apa dampak DCD yang telat atau bahkan sengaja tidak mendapatkan penanganan dengan cepat? Gangguan neurologis ini nyatanya bukan semata-mata tenggang fisik. Penanganan yang terlambat berpotensi besar memengaruhi perkembangan sosial-emosional anak secara negatif.
Berdasarkan studi yang dipublikasikan dalam National Center for Biotechnology Information, anak dengan gangguan DCD memiliki risiko lebih tinggi mengalami kecemasan dan rendah diri karena merasa berbeda dari teman sebaya mereka di lapangan. Itulah alasan intervensi dini dibutuhkan.
Aktivitas Edukatif dan Olahraga untuk Penanganan DCD
Kabar baiknya, otak anak memiliki plastisitas (kemampuan adaptasi) yang luar biasa. Sehingga, melalui latihan terstruktur yang menyenangkan berikut, anak dengan gangguan dyspraxia perlahan dapat menikmati masa tumbuh kembang secara optimal.
1. Berenang
Berenang adalah salah satu olahraga terbaik untuk terapi DCD. Di dalam air, berat badan tertopang otomatis oleh air, sehingga risiko cedera akibat jatuh akan berkurang drastis. Aktivitas ini efektif membantu melatih proprioception (kesadaran tubuh di ruang) dan memperkuat otot inti.
2. Yoga dan Pilates untuk Anak
Aktivitas ini fokus pada keseimbangan dan kesadaran pernapasan. Gerakan yang lambat dan terkontrol membantu anak memahami posisi anggota tubuh mereka, yang sering kali menjadi tantangan utama bagi pengidap DCD.
3. Seni dan Kerajinan Tangan
Aktivitas seperti meronce manik-manik, bermain playdough, atau memotong kertas dengan gunting khusus anak adalah cara yang sangat efektif untuk melatih motorik halus dan koordinasi mata-tangan.
4. Permainan Berbasis Instruksi Bertahap
Permainan seperti rintangan sederhana di halaman rumah dapat melatih kemampuan motor planning pada anak. Ini merupakan kemampuan otak untuk merencanakan langkah demi langkah sebelum melakukan gerakan fisik, sehingga meminimalisir terjadinya kecerobohan seperti terpeleset dan jatuh.
Pentingnya Pendampingan Profesional dalam Terapi DCD
Dukungan orang tua sekaligus keterlibatan aktif dalam penanganan DCD memang memberikan pengaruh signifikan. Namun, keterlibatan tenaga profesional seperti instruktur olahraga yang memahami perkembangan anak juga tidak kalah vital.
Sebab, mereka dapat merancang program spesifik sesuai ambang batas kemampuan anak. Si Kecil jadi merasa merasa termotivasi tanpa merasa terbebani.
Program olahraga inklusif oleh instruktur profesional tidak hanya bertujuan menyembuhkan gangguan neurologis tersebut ataupun membuat anak mahir dalam satu cabang olahraga. Tetapi juga membangun kepercayaan diri untuk perkembangan psiko-sosial mereka.
Kecepatan dan Ketepatan Penanganan Dyspraxia adalah Kunci Mengoptimalkan Kecerdasan Anak
Secara umum, DCD bukan suatu kondisi yang berbahaya, tetapi tetap membutuhkan penanganan yang cepat dan tepat untuk mencegah dampak negatif, terutama terhadap kecenderungan perasaan rendah diri. Selain keterlibatan aktif orang tua, memilih tempat latihan fisik yang tepat juga menjadi solusi penting.
Mendaftarkan buah hati untuk mengikuti kelas olahraga terstruktur di Sparks Sports Academy merupakan langkah awal yang cerdas. Sparks Sports Academy hadir sebagai solusi bagi orang tua yang mencari kelas olahraga berkualitas dengan pendekatan yang personal dan edukatif yang menyenangkan.
Setiap anak didorong untuk mengeksplorasi potensi fisik mereka dalam lingkungan yang aman dan suportif. Melalui kurikulum yang dirancang khusus untuk mendukung tumbuh kembang fisik dan kognitif, instruktur dapat memberikan pengarahan bagi mereka yang membutuhkan perhatian ekstra dalam koordinasi tubuh.







