Setiap orang tua memiliki insting melindungi dan mempersiapkan anaknya untuk menghadapi dunia. Jika diamati, pola pengasuhannya berbeda-beda, bahkan mirip dengan cara satwa di alam liar, salah satu contohnya yaitu gajah. Penerapan pengasuhan yang meniru gajah dalam membesarkan anak disebut elephant parenting.
Key takeaways
- Elephant parenting menekankan kelembutan, perlindungan, dan kelekatan emosional antara orang tua dan anak.
- Gaya asuh ini membantu anak tumbuh bahagia, percaya diri, dan memiliki kesehatan mental yang baik.
- Namun, jika berlebihan, anak bisa menjadi manja, kurang mandiri, dan sulit menyelesaikan masalah sendiri.
- Keseimbangan antara kasih sayang dan kemandirian penting agar anak siap menghadapi tantangan hidup.
Apa Itu Elephant Parenting?
Menurut laman Parents, elephant parenting adalah jenis gaya pengasuhan yang menekankan hubungan emosional orang tua dan anak, di mana orang tua selalu ada untuk anaknya, baik secara emosional maupun fisik. Sehingga, lebih menitikberatkan pada kelembutan, perlindungan, dan kasih sayang penuh untuk anak.
Mengutip laman Family Abbots, elephant parenting pertama kali diperkenalkan oleh Priyanka Sharma Sindhar pada 2014 dalam artikel berjudul “Being an ‘Elephant Mom’ in the Time of the Tiger Mother”. Menurut Priyanka, peran orang tua gajah adalah mengasuh, melindungi, dan menyemangati anaknya, terutama saat mereka masih kecil.
Baca: Uninvolved Parenting: Ciri-Ciri, Dampak, dan Solusinya
Kelebihan Elephant Parenting
Pengasuhan anak yang berfokus pada cinta, perhatian, dan perlindungan seperti induk gajah yang selalu dekat dengan anaknya memiliki banyak kelebihan, khususnya bagi pertumbuhan karakter anak. Berikut ini beberapa kelebihan dari gaya elephant parenting.
1. Merasa Aman dan Nyaman
Adanya dukungan emosional yang kuat dari orang tua yang selalu hadir menjadikan anak merasa aman dan nyaman. Selain itu, kebutuhan emosional yang terpenuhi akan membantunya dalam membangun hubungan yang sehat di kemudian hari.
2. Berkembang Sesuai Masanya
Anak dapat berkembang sesuai masanya dengan cara yang positif. Sebab, orang tua cenderung memberi anak kebebasan dalam memutuskan pilihannya serta mendorongnya untuk bereksplorasi sesuai keminatannya, tapi tetap dalam batas aman atau pengawasan.
3. Lebih Bahagia
Pola asuh ini memprioritaskan kebahagiaan anak dengan memberi mereka kebebasan untuk menikmati masa kanak-kanaknya. Selain itu, orang tua lebih fleksibel dalam membuat aturan dan tidak terlalu mengekang, sehingga anak tidak merasa terbebani, misalnya berkaitan prestasi akademis.
4. Kesehatan Mental Terjaga
Hubungan orang tua dan anak yang didasari kelekatan yang aman sangat penting untuk kesehatan mental anak. Anak dengan emosional yang terikat kuat dengan orang tuanya cenderung memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengelola stres dan emosi. Sehingga, anak akan terhindar dari konflik dengan orang tua.
5. Tangguh dan Percaya Diri
Anak yang tumbuh di lingkungan hangat dan penuh kasih sayang akan tumbuh menjadi seseorang yang lebih tangguh. Hal ini karena orang tua lebih menekankan motivasi yang positif daripada kritik yang berlebihan. Hal ini merupakan sarana penting untuk membangun kepercayaan diri anak.
6. Berbuat Baik pada Sesama
Orang tua bisa menjadi teladan bagi anaknya, seperti menunjukkan cara berinteraksi secara positif, berempati, dan berbuat baik kepada sesama. Secara tidak langsung, anak akan menirunya lalu mampu merespons emosi dan keadaan orang lain, serta membantunya jika ada yang butuh.
Baca: Mengenal 7 Sensori Anak dan Perannya dalam Tumbuh Kembang
Kelemahan Elephant Parenting
Meski pola asuh “gajah” terlihat menyenangkan bagi anak, tetapi ada beberapa sisi negatifnya untuk anak jika orang tua tidak berhati-hati dalam menerapkannya. Kelemahan tersebut adalah sebagai berikut.
1. Sulit Menyelesaikan Masalah
Orang tua yang terlalu sering melindungi anaknya justru akan membuat anak kesulitan dalam mengembangkan keterampilan interpersonal. Sehingga, ketika menghadapi masalah atau perselisihan, anak akan meminta bantuan orang tua untuk mengambil keputusan dalam menyelesaikan masalahnya sendiri.
2. Tidak Mandiri
Orang tua selalu memberi dukungan emosional dan fisik yang berlebihan. Akibatnya, anak akan selalu bergantung pada orang tua, yang berarti mereka menjadi sulit untuk hidup mandiri.
3. Manja
Orang tua selalu menuruti apa yang anak inginkan dan selalu membantunya terus-menerus. Hal ini akan membuat anak menjadi pribadi yang manja, bahkan hingga dewasa.
4. Potensi Menjadi Helicopter Parenting
Jika orang tua tidak berhati-hati, gaya pengasuhan elephant parenting bisa berubah menjadi helicopter parenting. Berdasarkan laman Newport Academy, helicopter parenting merupakan pola asuh di mana orang tua sangat protektif dan mengontrol anaknya serta terlibat terlalu dalam pada setiap aspek kehidupan anak.
Baca: Perbandingan Anak Aktif dan Pasif dalam Jangka Panjang
Dukung Tumbuh Kembang Anak di Spark Sports Academy!
Elephant parenting menawarkan dukungan emosional yang tak ternilai untuk memupuk rasa aman dan harga diri anak. Namun, gaya asuh ini pun berisiko menghambat kemandirian dan ketahanan anak menghadapi tantangan hidup. Sehingga, perlu keseimbangan pola asuh yang menyesuaikan kebutuhan unik anak.
Supaya anak dapat tumbuh sesuai versinya sendiri, Spark Sports Academy dapat membantu anak Anda untuk mengembangkan potensinya melalui olahraga yang menyenangkan. Spark Sports Academy merupakan akademi olahraga untuk anak usia 1-7 tahun.
Sparks sports academy membantu anak membangun karakter positif, seperti kepercayaan diri, disiplin, dan semangat kerja sama. Ada beragam kelas olahraga yang bisa Anda pilih sesuai minat dan usia anak, seperti gymnastic, balet, futsal, kelas sensori, dan masih banyak lagi. Yuk, ikuti trial class-nya!







