Penyebab Empathy Lag pada Anak dan Cara Mengatasinya

Penyebab Empathy Lag pada Anak dan Cara Mengatasinya

Table of Contents

Apakah anak Anda tampak sulit memahami perasaan temannya, kurang peka terhadap situasi sosial, atau bahkan tidak menyadari bahwa perkataannya menyakiti orang lain? Fenomena ini bukan semata-mata karena si kecil nakal atau kurang sopan, melainkan bisa disebut dengan empathy lag. Mari mengenal penyebab dan cara mengatasinya!

Key Takeways:

  • Kesenjangan empati membuat anak sulit membaca ekspresi wajah atau bahasa tubuh, sehingga kurang bisa menempatkan diri pada posisi orang lain.
  • Anak yang mengalami kesenjangan empati kerap dicap kurang sopan, padahal ini adalah tanda bahwa anak membutuhkan bimbingan lebih agar kehidupan sosialnya tidak terganggu.
  • Empati adalah bekal penting untuk masa depan anak, dan orang tua memiliki peran besar dalam membantunya memahami dunia emosional di sekelilingnya.

Apa Itu Empathy Lag?

Secara umum, kesenjangan empati, empathy lag, atau empathy gap adalah kecenderungan atau ketidakmampuan mengenali dan merespons perasaan orang lain. Pada anak-anak, kondisi ini terjadi karena mereka mengalami keterlambatan dalam memahami, merasakan, atau merespons emosi orang lain. 

Dilansir dari Masterclass, seseorang dengan kesenjangan empati akan sulit membaca ekspresi wajah atau bahasa tubuh. Mereka tidak menyadari bahwa temannya sedih atau kesal, kurang bisa menempatkan diri pada posisi orang lain, bahkan memberikan respons emosi dengan cara yang tampak “dingin”.

Mengutip Frontiers, manusia pada dasarnya lahir dengan kemampuan empati dasar, namun kemampuan ini tidak berkembang otomatis, anak tetap membutuhkan interaksi sosial untuk mengembangkannya. Karena itu, kondisi ini dapat menjadi sinyal bahwa anak membutuhkan bimbingan ekstra untuk mengembangkan kecerdasan emosinya.

Mengapa Empathy Lag Terjadi pada Anak?

Tidak ada satu penyebab tunggal untuk kondisi ini, sebab kesenjangan empati biasanya muncul dari kombinasi beberapa faktor. Berikut beberapa hal yang paling sering memengaruhinya.

1. Kurang Interaksi Sosial Langsung

Anak zaman sekarang lebih banyak berinteraksi melalui layar daripada tatap muka. Padahal, empati berkembang melalui kontak manusia nyata, misalnya seperti melihat ekspresi wajah, mendengar intonasi suara, dan merasakan suasana. Ketika interaksi nyata berkurang, kemampuan membaca emosi orang lain pun akan melemah.

2. Overstimulasi Digital

Mengonsumsi konten digital berlebihan dapat membuat anak terbiasa dengan respons cepat dan visual yang intens. Akhirnya, emosi manusia yang kompleks akan terasa “membosankan” bagi otak yang sudah terbiasa dengan stimulasi tinggi. Ini juga bisa mengurangi sensitivitas anak terhadap nuansa perasaan.

3. Kurangnya Role Model

Anak akan belajar empati melalui contoh. Jika lingkungan rumah jarang memperlihatkan cara berkomunikasi yang hangat, penerimaan perasaan, atau saling memahami, anak kesulitan meniru perilaku empatik. Karena itu, pola asuh yang orang tua terapkan akan sangat berpengaruh pada kondisi empathy lag pada anak.

Melansir National Library of Medicine, orang tua yang menerapkan authoritative parenting memiliki anak yang dapat mengekspresikan lebih banyak empati. Sebab, pola pengasuhan ini lebih hangat dan penuh dukungan, serta mendorong komunikasi dua arah. Sehingga, anak memiliki kemampuan untuk memahami sudut pandang orang lain.

4. Tekanan Emosional Berlebih

Ketika anak sedang stres, cemas, atau kelelahan, otak mereka fokus pada kebutuhan diri sendiri, bukan orang lain. Kondisi emosional tertentu sendiri memang dapat menurunkan kapasitas empati secara sementara.

5. Perbedaan Pola Perkembangan

Beberapa anak memang berkembang sedikit lebih lambat dari anak lain dalam aspek sosial-emosional. Ini bukan kelainan dan Anda sebaiknya tidak memberikan label buruk pada anak, justru ini merupakan variasi perkembangan yang bisa diperbaiki dengan stimulasi yang tepat dan konsisten.

Cara Mengatasi Empathy Lag pada Anak

Berita baiknya, empati merupakan keterampilan yang bisa dikembangkan, bukan sifat bawaan yang tidak bisa diubah. Agar kepekaan perasaan pada anak Anda bisa berkembang, cobalah melakukan pendekatan di bawah ini.

1. Ajarkan Anak Mengenali Emosinya Sendiri

Empati bermula dari kemampuan memahami emosi diri. Anda bisa membantu dengan mengajari anak mengenali berbagai macam emosi dengan memberikan pengertian dan alasan. Contohnya seperti, “Kamu sedang marah ya, karena kita ga jadi beli es krim? Papa ngerti kamu marah dan kecewa, tapi kamu lagi pilek.”

2. Biasakan Komunikasi yang Hangat

Beri contoh melalui percakapan sehari-hari. Anda harus pastikan Anda sudah memenuhi setiap kebutuhan emosional anak. Serta tunjukkan bagaimana Anda merespons dengan empati agar anak belajar melalui interaksi rutin.

Tentu saja, setiap percakapan bisa Anda lakukan dengan tenang. Misalnya seperti “Mama ngerti kalo kamu sedih, tapi mama jad cemas. Ayo, anak cantik jangan cemberut terus.” atau “Ayah paham kamu sedang marah, tapi yang kamu lakukan tadi buat buat teman kamu sedih. Kamu nggak mau lihat teman sedih, kan?”

3. Gunakan Cerita atau Film sebagai Alat Latihan Empati

Anda juga dapat menggunakan cerita atau film untuk mengatasi empathy lag pada anak. Misalnya dengan mengajukan pertanyaan sederhana tentang perasaan yang sedang digambarkan para tokoh. Misalnya seperti  “Menurut kamu, dia sedang sedih atau senang?”. Cara ini akan melatih kemampuan membaca emosi tanpa tekanan.

4. Validasi Perasaan Orang Lain di Hadapan Anak

Ketika Anda menunjukkan empati pada anggota keluarga lain, anak akan meniru pola tersebut. Misalnya saat kerabat sedang bersedih, Anda bisa membantu menenangkannya di depan anak, sehingga ia akan mencontohnya.

Sudah Tahu Apa Itu Empathy Lag?

Kesenjangan empati bukan sesuatu yang harus ditakuti, tetapi perlu dipahami dan ditangani dengan pendekatan tenang dan penuh kesabaran. Lewat dukungan dari orang tua, lingkungan belajar, serta kesempatan untuk terlibat dalam interaksi sosial positif, empati anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.

Jika mencari tempat yang bisa membantu anak mengembangkan empati sekaligus kemampuan sosialnya, Spark Sports Academy pun bisa menjadi pilihan. Melalui pendekatan pembelajaran berbasis olahraga dan aktivitas fisik, anak belajar bekerja dalam tim, mengelola emosi, dan membaca dinamika kelompok. 

Lingkungan yang positif, pelatih yang suportif, dan suasana yang mendorong kerja sama akan membuat anak berkembang tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional. Ayo, berikan bekal untuk masa depannya dengan memilih lingkungan pendidikan terbaik untuk anak!

Bagikan artikel ini lewat:

© 2024 | Sparks Sports Academy - PT Pendidikan Anak Bangsa

KUOTA PROMO SUDAH DIAMBIL 91%