Author: Tim Sparks Sports Academy
Gen Beta, kelompok yang lahir pada tahun 2025–2039, menjadi generasi penerus teknologi setelah Gen Alpha yang lahir pada tahun 2010–2024. Mereka tumbuh di era ketika perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) sudah sangat maju dan sepenuhnya terintegrasi dalam rutinitas harian.
Diperkirakan Gen Beta akan mencakup sekitar 16% populasi dunia, dengan karakteristik yang jauh lebih melek teknologi dan berada di tengah transformasi besar dunia. Banyak di antara mereka juga diprediksi hidup hingga abad ke-22, menjadikan generasi ini simbol perubahan budaya dan teknologi yang terus berkembang.
Key Takeaways
- Gen Beta adalah mereka yang lahir tahun 2025-2039 di tengah perkembangan artificial intelligence (AI), virtual reality (VR), dan augmented reality (AR).
- Generasi ini mempunyai karakteristik unik yang menjadikan AI sebagai teman sehari-hari dan pembelajaran berbasis VR dan AR.
- Mereka juga hidup dalam keberagaman dengan tantangan sosial yang besar, sehingga lebih berpikiran global dan berkelanjutan.
- Namun, mereka menghadapi tantangan pada kecanduan teknologi dan dampak perubahan iklim yang tidak bisa terhindarkan.
Karakteristik Gen Beta
Gen Alpha dengan Beta adalah generasi yang sama-sama tumbuh di era artificial intelligence (AI) dan virtual reality (VR) dalam hidupnya. Namun, ada beberapa karakteristik tertentu dari Gen Beta, di antaranya adalah sebagai berikut.
1. Terbiasa dengan AI dan Robot
Generasi ini akan akrab dengan kecerdasan buatan dalam keseharian. Mereka menganggap bahwa teknologi yang ada lahir secara alamiah, bukan lagi suatu hal asing seperti generasi-generasi sebelumnya.
Contohnya, saat melihat robot menjadi asisten rumah tangga atau karyawan suatu perusahaan, mereka tidak akan terkejut. Justru, itu menjadi hal biasa bagi mereka. Ini sama seperti generasi Alpha ketika memandang smartphone dan internet yang menjadi alat komunikasi sehari-hari.
Pasalnya, mereka tidak mengalami masa di mana semua serba manual dan ponsel belum secanggih sekarang. Mereka tidak lahir pada masa belum adanya artificial intelligence yang disinyalir bisa menggantikan pekerjaan manusia di masa mendatang, sehingga menganggap itu bagian fundamental dari lingkungan mereka.
Generasi ini lebih melek teknologi dan menggunakannya sebagai mitra sehari-hari. Di sekolah, kampus, kantor, hingga bahkan kehidupan sosialnya tidak lepas dari AI. Belum lagi adanya virtual reality (VR) yang mendukung pembelajaran. VR membuat mereka terbiasa dengan ruang kelas virtual interaktif berbasis teknologi.
2. Model Pembelajaran VR dan AR
Pelajar Gen Beta akan akrab dengan model pembelajaran VR dan AR. Sederhananya, pembelajaran seperti ini memungkinkan mereka “merasakan” langsung materi yang diajarkan menggunakan bantuan teknologi.
Misalnya, ketika mereka mempelajari dasar lautan, merasakan langsung sangat mustahil. Oleh karena itu, teknologi VR membantu mereka seakan melihat dan merasakan suasana lautan secara langsung dan mengetahui apa saja yang ada di dalamnya.
Begitu juga saat belajar tentang tata surya. Mereka akan diberikan pengalaman virtual dengan melihat apa saja yang ada di langit, bagaimana bintang, dan bentuk planet di sekitar Bumi. Cara ini lebih menarik daripada pembelajaran satu arah yang hanya bersumber dari buku dan penjelasan guru karena tidak terbatas ruang dan waktu.
3. Terhubung secara Virtual
Karena mereka akrab dengan teknologi, maka akan berpengaruh pada kehidupan sosialnya. Sebagai makhluk sosial, mereka tetap memiliki kemampuan menjalin sosial dengan orang lain, tetapi lebih banyak menggunakan platform digital untuk berkomunikasi.
Mereka menjalin persahabatan, pertemanan, hubungan karier lebih banyak menggunakan aplikasi chat, video, atau audio berbasis real time. Dari sini, mereka akan menghadapi tantangan menjaga keamanan pribadi secara digital, sehingga perlahan mewujudkan keseimbangan antara hiper konektivitas dengan ekspresi pribadi.
4. Tindakan dan Cara Pandang Global
Terhubung secara virtual membuat Gen Beta bisa menjangkau dunia lebih luas. Mereka bisa terkoneksi dengan orang di seluruh dunia tanpa batas waktu, kapan pun, dan di mana pun.
Ini akan berpengaruh pada cara pandang yang global dan berpikir lebih kritis serta memahami tentang perbedaan. Mereka juga berpotensi lebih menguasai bahasa asing karena seringnya terhubung dengan negara lain.
5. Menguasai Teknologi untuk Isu Keberlanjutan
Isu keberlanjutan menjadi salah satu fokus utama yang dihadapi generasi ini. Terlebih soal lingkungan dan krisis iklim yang masih menjadi PR demi keberlangsungan kehidupan mendatang.
Melansir Yayasan Bangun Kecerdasan Bangsa, generasi ini akan memanfaatkan teknologi untuk mendukung keberlanjutan, seperti AI sebagai pengelolaan energi dan sistem pertanian. Mereka akan vokal menyuarakan isu keberlanjutan di sosial media dan melakukan berbagai inovasi demi menyelamatkan Bumi.
Cara Belajar Gen Beta
Generasi Beta diprediksi memiliki cara belajar yang sangat berbeda dibanding generasi sebelumnya. Mereka tumbuh di tengah perkembangan teknologi yang pesat, termasuk kecerdasan buatan (AI) yang mampu memberikan pengalaman belajar lebih personal dan interaktif. Anak-anak dari Gen Beta cenderung lebih mudah memahami materi melalui visual, video, serta simulasi digital dibandingkan metode pembelajaran konvensional yang hanya berfokus pada teks atau ceramah.
Selain itu, Gen Beta juga dikenal dengan gaya belajar learning by doing, di mana mereka lebih cepat menyerap informasi ketika terlibat langsung dalam aktivitas. Penggunaan teknologi seperti aplikasi edukasi, game interaktif, hingga AI sebagai asisten belajar membuat proses belajar menjadi lebih menarik dan adaptif sesuai kebutuhan masing-masing anak. Namun, meskipun teknologi memegang peran penting, keseimbangan dengan aktivitas fisik dan interaksi sosial tetap diperlukan agar perkembangan anak tetap optimal secara menyeluruh.
Tantangan Gen Beta
Hidup di era serba canggih bukan berarti terlepas dari tantangan. Gen Beta justru menghadapi dampak dari berkembangnya teknologi yang bisa saja memunculkan bentuk kejahatan dan masalah baru.
Kecanduan teknologi menjadi salah satu tantangan besar generasi ini. Kecanduan teknologi bisa menyerang kesehatan mental karena mereka sulit membedakan mana dunia nyata dan maya.
Selain itu, muncul kejahatan baru yang menyerang secara digital. Seperti penyebaran hoaks yang semakin marak apabila tidak bisa memilah informasi, cyber bullying, penipuan online, judi online, peretasan, dan sebagainya.
Krisis iklim dan lingkungan menjadi sorotan utama karena mereka memikul tanggung jawab besar terhadap keberlangsungan masa mendatang. Begitu pun tantangan ekonomi yang kian dinamis karena tren pekerjaan berubah seiring berjalannya waktu.
Tips Mengoptimalkan Potensi Gen Beta
Mengoptimalkan potensi Generasi Beta tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi, tetapi juga pada bagaimana orang tua dan lingkungan mendukung perkembangan mereka secara seimbang. Salah satu langkah penting adalah mengombinasikan penggunaan teknologi dengan aktivitas fisik dan sosial. Anak tidak hanya diarahkan untuk mahir secara digital, tetapi juga memiliki kemampuan motorik, empati, dan keterampilan berinteraksi di dunia nyata.
Selain itu, penting bagi orang tua untuk mendorong anak menjadi kreator, bukan sekadar konsumen teknologi. Berikan ruang bagi anak untuk bereksplorasi, mencoba hal baru, serta mengembangkan minat dan bakatnya sejak dini. Lingkungan belajar yang tepat—baik di rumah maupun melalui kegiatan terstruktur—akan membantu anak tumbuh lebih percaya diri, aktif, dan adaptif menghadapi perkembangan zaman yang terus berubah.
Gen Beta: Generasi AI yang Cerdas
Sebagai penutup, penting bagi orang tua untuk tidak hanya fokus pada perkembangan digital anak, tetapi juga memastikan mereka tumbuh aktif, sehat, dan percaya diri melalui aktivitas fisik yang terarah. Keseimbangan antara kecerdasan teknologi dan kemampuan motorik akan menjadi kunci agar Generasi Beta dapat berkembang secara optimal di masa depan.
Untuk mendukung hal tersebut, Anda bisa memberikan lingkungan belajar terbaik melalui Sparks Sports Academy. Dengan berbagai kelas premium seperti gymnastic, basket, dance, hingga balet, anak tidak hanya berolahraga tetapi juga belajar disiplin, kerja sama, serta membangun rasa percaya diri sejak dini. Bersama pelatih profesional dan program yang terstruktur, Sparks Sports Academy menjadi pilihan tepat untuk membantu anak tumbuh aktif, kreatif, dan siap menghadapi tantangan di era modern.








