Pernah melihat orang tua yang selalu ikut campur dalam urusan anak, mulai dari memilih teman, menentukan hobi, atau mengerjakan tugas sekolah? Pola asuh seperti ini dikenal sebagai helicopter parenting.
Meski niatnya baik, sikap terlalu protektif ini bisa membuat anak tumbuh tanpa kemandirian dan rasa percaya diri. Mari kenali ciri-ciri hingga tips menghindarinya dalam artikel ini!
Key Takeaways
- Helicopter parenting adalah pola asuh di mana orang tua terlalu mengawasi dan mengontrol kehidupan anak.
- Ciri utamanya meliputi kecemasan berlebihan, keputusan sepihak, dan kurangnya kesempatan bagi anak untuk belajar mandiri.
- Dampaknya bisa berupa rendahnya kepercayaan diri anak, ketergantungan tinggi pada orang tua, dan stres pada anak.
Apa Itu Helicopter Parenting?
Istilah helicopter parenting menggambarkan gaya pengasuhan ketika orang tua terus mengitari anak seperti helikopter. Di sini, orang tua selalu mengawasi setiap langkah dan keputusan anak.
Sebenarnya, gaya pengasuhan ini bertujuan baik, yaitu untuk melindungi dan memastikan anak tidak gagal. Namun, pola asuh seperti ini justru bisa menekan perkembangan psikologis anak karena tidak diberi ruang untuk belajar menghadapi risiko dan tanggung jawab sendiri.
Baca: Attachment Parenting: Prinsip, Manfaat, dan Tantangannya
Ciri-ciri Helicopter Parenting
Mengidentifikasi gaya pengasuhan ini penting agar orang tua dapat mengoreksi pola asuhnya sejak dini. Berikut adalah ciri-ciri yang perlu Anda pahami.
1. Terlalu Melindungi Anak dari Risiko Kecil
Tanda yang pertama adalah orang tua biasanya langsung turun tangan ketika anak menghadapi masalah, bahkan yang ringan sekalipun. Misalnya, mengerjakan PR anak agar hasilnya sempurna.
2. Mengambil Keputusan untuk Anak
Orang tua menentukan semua hal, mulai dari pilihan sekolah, teman, hingga aktivitas sehari-hari. Akibatnya, anak sulit membentuk identitas diri dan sering ragu saat harus membuat keputusan sendiri.
3. Khawatir Berlebihan terhadap Prestasi Anak
Helicopter parent sering merasa cemas jika anak gagal mencapai standar tertentu. Orang tua akan mengaitkan keberhasilan anak dengan keberhasilan pribadi sebagai orang tua.
4. Selalu Memantau Aktivitas Anak Secara Intensif
Orang tua yang melakukan jenis pola asuh ini cenderung mengawasi terus kegiatan anak. Mulai dari interaksi sosial hingga hal yang lebih serius.
5. Kurang Memberi Kepercayaan dan Kemandirian
Anak jarang diberi kesempatan memecahkan masalah sendiri. Akibatnya, anak tumbuh dengan rasa tidak percaya diri dan takut gagal.
Baca: 5 Cara Mendidik Anak Agar Mandiri dan Tidak Cengeng
Dampak Helicopter Parenting pada Anak
Pola asuh yang terlalu mengontrol ini memiliki sejumlah dampak psikologis dan sosial yang signifikan terhadap anak. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut.
1. Menurunkan Rasa Percaya Diri Anak
Anak terbiasa bergantung pada orang tua dan merasa tidak mampu mengambil keputusan sendiri. Ini tentu membuat anak sulit membangun kepercayaan diri dan rasa tanggung jawab.
2. Meningkatkan Risiko Stres dan Kecemasan
Anak yang tumbuh di bawah pengawasan ketat seringkali merasa tertekan dan takut membuat kesalahan. Kondisi ini dapat memicu kecemasan sosial dan stres kronis.
3. Membatasi Kemampuan Sosial dan Adaptasi
Karena jarang mendapat kesempatan untuk berinteraksi dan menyelesaikan konflik sendiri, anak bisa kesulitan menyesuaikan diri dalam lingkungan baru. Ini juga bisa terjadi saat anak menghadapi tantangan di masa depan.
4. Meningkatkan Ketergantungan pada Orang Tua
Anak yang selalu diatur dalam segala hal cenderung terus mencari validasi dan arahan dari orang tua, bahkan setelah dewasa. Anak akan kesulitan menjadi individu yang mandiri dan tegas.
5. Meningkatkan Risiko Depresi
Menurut Journal of Child and Family Studies, anak dengan pola asuh helikopter cenderung merasakan tekanan yang lebih besar akibat ekspektasi orang tuanya. Kondisi ini tentu bisa memicu gejala depresi pada anak.
Baca: Cara Mendidik Anak Pemalu agar Bisa Bergaul dan Percaya Diri
Tips Menghindari Helicopter Parenting
Jangan sampai Anda terjebak dalam pola asuh yang satu ini. Membangun keseimbangan antara melindungi dan memberi kebebasan adalah kunci mengasuh anak tanpa menjadi helicopter parent. Yuk, ikuti beberapa langkah berikut ini.
1. Libatkan Anak dalam Diskusi
Alih-alih mengambil keputusan sepihak, coba ajak anak untuk berdiskusi tentang sesuatu hal agar dapat menemukan solusi bersama. Ini anak membantu anak untuk lebih mudah berpikir dan menemukan solusi terhadap masalahnya sendiri.
2. Beri Anak Kesempatan untuk Menentukan Pilihan
Sebagai orang tua, Anda bertugas untuk mengarahkan dan mendampingi anak, bukan mengontrol penuh pergerakannya. Oleh karena itu, berikan anak ruang untuk menentukan pilihannya sendiri. Dengan begitu, Anda dapat membantu anak untuk lebih memahami kemauan dirinya sendiri.
3. Hindari Kekhawatiran Berlebih
Orang tua mungkin seringkali merasa cemas atau khawatir terhadap anaknya. Namun, hindari membuat anak khawatir karena Anda terlalu mencemaskannya. Ini akan membuat anak merasa bingung dan mudah cemas akibat respons negatif orang tuanya.
Baca: Ciri-ciri Anak Pemalu dari Sisi Perilaku Sosial hingga Emosi
Ciptakan Kemandirian Anak Sejak Dini Bersama Spark Sports Academy
Secara keseluruhan, helicopter parenting bisa membatasi anak untuk berkembang secara emosional dan sosial. Oleh karena itu, orang tua perlu berhati-hati dan jangan terjebak pada pola asuh ini saat mendidik anak sejak dini.
Untuk membantu anak tumbuh lebih percaya diri dan mandiri, Spark Sports Academy menghadirkan pendekatan belajar berbasis olahraga yang menekankan kerja sama tim, disiplin, dan sportivitas.
Melalui program latihan yang dirancang oleh pelatih profesional, anak tidak hanya mengasah kemampuan fisik, tetapi juga belajar menghadapi tantangan dan mengelola emosi secara sehat.
Ada banyak pilihan kelas seperti Gymnastic dan Multisport. Sementara fasilitasnya modern mulai dari lapangan indoor hingga peralatan olahraga. Jadi tunggu apa lagi? Daftarkan anak Anda bersama kami untuk tumbuh kembang yang lebih positif!







