-
Author: Tim Sparks Sports Academy
Mom/Dad pernah tidak melihat anak yang selalu mendramatisir apa saja, selalu mencari perhatian, atau sering ingin divalidasi oleh anak-anak? Jika pernah, ini bisa menjadi anak menganggap dirinya sebagai karakter penting di lingkungan rumah atau sekolah.
Kondisi ini dikenal dengan main character syndrome, sebuah istilah psikologis yang bisa memengaruhi perkembangan anak. Jika syndrome ini tidak segera ditangani, maka anak akan mengalami gangguan psikis yang memengaruhi mental anak kedepannya.
Apa itu Main Character Syndrome pada Anak
Menurut definisi Direktur Klinik Cannectd Wellness, Shari B. Kaplan, LCSW, Main Character Syndrome (MCS) adalah pola pikir seseorang yang mendeskrisikan dirinya adalah “protagonis” dalam kehidupan dan terkadang mengabaikan orang disekitarnya. Shari melanjutkan bahwa hal ini bisa menurunkan rasa empati dan kesadaran terhadap orang lain.
Dalam konteks anak, kondisi ini bukan gangguan mental klinis, tetapi pola pikir dan perilaku yang terbentuk dari lingkungan, pola asuh, serta paparan gadget yang berlebih.
Baca juga: Apa itu ADHD pada Anak? Kenali Ciri, Penyebab dan Cara Merawatnya!
Penyebab Munculnya Main Character Syndrome pada Anak
Sebenarnya, belum diketahui secara pasti penyebab main character syndrome ini. Tetapi, anak yang memiliki gangguan ini biasanya disebabkan oleh:
- Kurangnya perhatian: Anak yang mengalami gangguan ini biasanya kekurangan kasih sayang atau perhatian dari orang tua. Dengan menarik perhatian, anak merasa lebih dihargai dan bernilai di mata orang lain.
- Pengaruh budaya populer: Anak yang terlalu sering mengkonsumsi film, acara tv, atau buku yang menampilkan karakter utama akan membentuk preseprsi bahwa di hidup anak selalu menjadi “tokoh utama”.
- Sifat narsistik: Anak dengan sifat narsistik biasanya memiliki kebutuhan besar akan perhatian, pujian, dan pengakuan.
- Trauma: Pengalaman traumatis bisa menjadi faktor sindrom ini.
- Pola asuh: Anak dengan pola asuh yang dimanjakan atau kurang kasih sayang bisa berisiko terkena sindrom ini.
Ciri-Ciri Main Character Syndrome pada Anak
Mom/Dad bisa mengenali ciri-ciri saat anak mengalami main character syndrome seperti:
- Berlebih-lebihan dalam menceritakan pengalamannya.
- Terlalu fokus pada penampilan dan presentsai diri.
- Memusatkan pembicaraan dan peristiwa di sekitar diri mereka sendiri.
- Tidak mau terlibat dalam pengalaman emosi orang lain.
- Mendramatisir suatu peristiwa kecil agar sesuai dengan “alur karakter utama” mereka.
- Kurang peka dan empati terhadap orang lain.
Anak yang tidak dilatih empati sejak dini berisiko memiliki masalah relasi sosial di masa depan.
Cara Menangani Anak dengan Main Character Syndrome
Main character syndrome berpotensi anak memiliki hubungan sosial yang tidak sehat, ekspektasi yang tidak realistis, kurang empati, dan masalah harga diri kedepannya. Oleh karena itu, Mom/Dad bisa menanganinya dengan cara:
1. Tumbuhkan Kesadaran Diri Anak
Mom/Dad bisa membantu anak untuk memahami antara percaya diri dan sifat egoisnya. Mom/Dad bisa memberi pengertian seperti bagaimana tindakan anak akan memengeruhi orang lain.
2. Ajari Berorganisasi
Mom/Dad bisa mengajari anak untuk berorganisasi seperti belajar bekerja sama, bermain bersama, dan melatih rasa empatinya di dalam kelompok. Ini membuat anak lebih terbuka sudut pandangnya.
3. Kurangi Penggunaan Gadget
Terlalu terpapar gadget bisa membuat anak tidak bisa membedakan mana yang asli atau yang hanya dalam cerita. Mom/Dad bisa berdiskusi dengan anak untuk memberinya jadwal menggunakan gadget.
4. Bangun Karakter Anak
Bantu anak untuk membangun karakternya yang berfokus pada nilai-nilai penting atau prestasi, bukan pada validasi eksternal.
5. Ajari Berempati
Mom/Dad bisa mengajarkan anak yang mengalami main character syndrome dengan berpempati. Tumbuhkan rasa empati anak dengan menyadarkannya bahwa setiap orang punya kehidupan masing-masing sehingga tidak bisa selalu fokus pada diri anak.
Main character syndrome pada anak bukanlah hal negatif, tetapi menjadi tanda bahwa Mom/Dad harus mendampingi anak supaya lebih terarah. dengan pola asuh yang tepat, anak bisa tumbuh percaya diri tanpa kehilangan empati. Keseimbangan antara rasa percaya diri dan kepedulian adalah kunci kesehatan mental anak jangka panjang..







