Author: Tim Sparks Sports Academy
Mom/Dad mungkin pernah menghadapi situasi ketika anak tiba-tiba menendang orang lain, menendang benda di rumah, atau bahkan nendang saat sedang bermain. Kebiasaan tersebut tentu dapat membuat orang tua bertanya-tanya, mengapa anak suka nendang? Apakah perilaku tersebut hanya bagian dari perkembangan anak, bentuk ekspresi emosi, atau ada penyebab tertentu yang perlu diperhatikan?
Ringkasan Cepat
- Anak suka menendang dapat disebabkan oleh emosi, kebiasaan, atau kebutuhan sensorimotor.
- Menendang tidak selalu berarti anak sedang marah.
- Respons orang tua sebaiknya tegas, tenang, dan tidak menggunakan kekerasan.
- Anak perlu diajarkan alternatif untuk mengekspresikan emosi dan menyalurkan energi.
- Aktivitas fisik terarah dapat membantu anak belajar mengontrol gerakan tubuh.
Pada usia tertentu, anak memang belum selalu mampu menyampaikan perasaan, kebutuhan, atau keinginannya menggunakan kata-kata. Ketika merasa marah, kecewa, takut, terlalu bersemangat, atau kesulitan mengendalikan tubuh, anak dapat menggunakan tindakan fisik sebagai bentuk komunikasi. Menendang menjadi salah satu perilaku yang mungkin muncul karena anak belum mempunyai strategi yang matang untuk merespons situasi tertentu.
Meski begitu, bukan berarti perilaku menendang boleh dibiarkan. Mom/Dad perlu memahami pemicunya terlebih dahulu agar dapat memberikan respons yang tepat. Dengan pendekatan yang konsisten, anak dapat belajar mengenali emosi, mengendalikan dorongan untuk menendang, dan menemukan cara yang lebih aman untuk mengekspresikan dirinya.
10 Penyebab Mengapa Anak Suka Nendang
Memahami penyebab merupakan langkah pertama yang penting sebelum Mom/Dad menentukan cara mengatasinya. Setiap anak memiliki karakter, tahap perkembangan, pengalaman, dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, perilaku menendang pada satu anak belum tentu memiliki penyebab yang sama dengan anak lainnya.
Berikut beberapa alasan yang dapat menjelaskan mengapa anak suka nendang.
1. Anak Sedang Marah dan Kesulitan Mengungkapkan Emosi
Salah satu penyebab paling umum adalah kemarahan. Anak mungkin merasa kesal karena keinginannya tidak terpenuhi, mainannya diambil, harus berhenti bermain, atau mendapatkan larangan dari orang tua. Children’s mercy mengungkapkan bahwa kemampuan regulasi emosi anak masih berkembang. Anak mungkin mengetahui bahwa dirinya marah, tetapi belum memahami bagaimana cara mengelola kemarahan tersebut.
Akhirnya, emosi yang besar dapat muncul dalam bentuk perilaku fisik seperti menendang, memukul, berteriak, atau melempar benda.
Mom/Dad dapat membantu dengan memberikan nama pada emosinya. Misalnya, “Kamu sedang marah karena waktunya berhenti bermain, ya.” Setelah anak lebih tenang, ajarkan alternatif seperti berbicara, menarik napas, atau meminta bantuan.
2. Anak Mengalami Frustrasi
Frustrasi muncul ketika anak menginginkan sesuatu tetapi mengalami hambatan. Misalnya, anak tidak berhasil menyusun puzzle, tidak dapat memasang sepatu sendiri, atau gagal melakukan gerakan yang sedang dipelajari. Bagi orang dewasa, masalah tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun bagi anak, kegagalan kecil dapat terasa sangat besar.
Ketika kemampuan bahasa dan pengendalian diri belum berkembang optimal, frustrasi dapat disalurkan melalui gerakan tubuh. Menendang menjadi salah satu bentuk respons spontan.
Mom/Dad dapat mengajarkan bahwa mengalami kesulitan merupakan hal yang wajar. Berikan bantuan secukupnya tanpa langsung mengambil alih seluruh aktivitas.
3. Anak Belum Mampu Mengomunikasikan Keinginannya
Anak yang belum mampu menyampaikan kebutuhan dengan jelas dapat menggunakan tindakan sebagai bentuk komunikasi. Misalnya, ketika ingin mendapatkan mainan, anak menendang orang di dekatnya. Anak mungkin tidak bermaksud menyakiti, tetapi belum mengetahui cara lain untuk menyampaikan keinginannya.
Dalam situasi ini, Mom/Dad dapat memberikan contoh kalimat sederhana seperti, “Aku mau mainan itu,” atau “Tolong bantu aku.”
Semakin sering anak mendapatkan contoh komunikasi yang tepat, semakin banyak pilihan yang dimilikinya selain menggunakan tindakan fisik.
4. Anak Mencari Perhatian
Perilaku menendang juga dapat muncul karena anak menemukan bahwa tindakan tersebut membuat orang lain langsung memberikan perhatian. Ketika anak menendang lalu semua orang segera melihat, berbicara, atau mengejar dirinya, anak mungkin belajar bahwa tindakan tersebut efektif untuk mendapatkan respons.
Hal ini bukan berarti anak sengaja “berbuat nakal” dengan cara yang sama seperti orang dewasa membuat keputusan. Anak sedang belajar hubungan antara tindakan dan respons lingkungan.
Mom/Dad dapat tetap memberikan batasan yang jelas, tetapi menghindari respons yang terlalu dramatis. Setelah anak berhenti menendang, berikan perhatian ketika ia menggunakan perilaku yang lebih tepat.
5. Anak Meniru Perilaku yang Dilihat
Anak belajar melalui pengamatan. Ia dapat meniru gerakan yang dilihat dari orang di sekitarnya, tontonan, permainan, atau interaksi dengan teman. Jika anak melihat seseorang menendang sebagai bagian dari permainan atau konflik, ia mungkin mencoba menirunya tanpa memahami konsekuensinya.
Oleh karena itu, Mom/Dad perlu memperhatikan konteks ketika perilaku tersebut muncul. Apakah anak menendang ketika bermain pura-pura? Apakah ia meniru karakter dalam tontonan? Atau apakah ia melihat teman melakukan hal serupa?
Pendampingan dan contoh perilaku yang aman dapat membantu anak memahami kapan suatu gerakan boleh dilakukan dan kapan tidak.
6. Anak Memiliki Energi yang Perlu Disalurkan
Anak membutuhkan aktivitas fisik. Berlari, melompat, memanjat, melempar, dan menendang merupakan berbagai bentuk gerakan yang dapat menjadi bagian dari perkembangan kemampuan motorik.
Pada beberapa kondisi, anak mungkin terlalu banyak menghabiskan waktu dalam aktivitas pasif sehingga memiliki kebutuhan bergerak yang belum tersalurkan. Akibatnya, anak dapat menendang kursi, pintu, bantal, atau benda lain hanya karena ingin bergerak.
Mom/Dad dapat menyediakan aktivitas fisik yang aman dan terstruktur. Misalnya, bermain bola, melompat, berjalan mengikuti pola, atau melakukan permainan gerak sederhana.
7. Anak Sedang Bereksperimen dengan Kemampuan Tubuhnya
Anak kecil secara alami tertarik mengeksplorasi kemampuan tubuh. Mereka belajar bahwa kaki dapat digunakan untuk berjalan, melompat, menendang, menjaga keseimbangan, dan melakukan berbagai gerakan lainnya. Menendang benda tidak selalu berkaitan dengan emosi negatif. Bisa saja anak sedang mengeksplorasi sebab-akibat.
Ketika anak menendang bola, misalnya, ia melihat bahwa benda tersebut bergerak. Pengalaman ini membantu anak memahami koordinasi antara gerakan kaki, kekuatan, arah, dan posisi tubuh.
Karena itu, Mom/Dad dapat mengarahkan kebutuhan eksplorasi tersebut ke aktivitas yang sesuai, bukan sekadar melarang semua bentuk gerakan menendang.
8. Anak Kelelahan atau Terlalu Banyak Stimulasi
Anak yang kelelahan dapat menjadi lebih mudah frustrasi dan sulit mengontrol responsnya. Begitu pula ketika anak mendapatkan terlalu banyak rangsangan dalam waktu singkat.
Misalnya, setelah seharian beraktivitas, anak mungkin lebih mudah marah ketika diminta melakukan sesuatu. Respons fisik seperti menendang dapat muncul karena kemampuan mengendalikan emosi sedang menurun.
Perhatikan pola perilaku anak. Jika menendang lebih sering terjadi ketika lapar, mengantuk, lelah, atau berada di lingkungan yang terlalu ramai, faktor tersebut dapat menjadi petunjuk penting. Mom/Dad dapat membantu dengan memberikan waktu istirahat, rutinitas yang konsisten, dan transisi aktivitas yang lebih perlahan.
9. Anak Belum Memahami Batasan Perilaku
Anak membutuhkan batasan yang jelas untuk memahami perilaku mana yang aman dan tidak aman. Jika Mom/Dad hanya mengatakan “jangan nendang” tanpa menjelaskan alternatifnya, anak mungkin mengetahui larangannya tetapi belum tahu apa yang harus dilakukan ketika merasa marah atau ingin bergerak.
Gunakan aturan sederhana dan konsisten, misalnya, “Kaki digunakan untuk berjalan dan bermain, bukan untuk menyakiti orang.”
Setelah itu, tunjukkan perilaku pengganti. Misalnya, jika sedang marah, anak dapat meminta waktu tenang atau mengatakan “Aku marah.”
10. Anak Belum Terbiasa Mengatur Impuls
Mengontrol dorongan membutuhkan proses perkembangan. Anak dapat mengetahui bahwa menendang tidak boleh dilakukan, tetapi pada situasi tertentu masih kesulitan menghentikan gerakannya. Kemampuan mengendalikan impuls berkembang secara bertahap melalui pengalaman, latihan, interaksi sosial, dan pendampingan.
Mom/Dad tidak perlu mengharapkan perubahan hanya setelah satu kali nasihat. Anak mungkin membutuhkan pengulangan dan latihan berkali-kali sebelum mampu menerapkan strategi tersebut secara mandiri.
Baca juga: 10 Cara Mengatasi Anak yang Suka Teriak dan Memukul
Cara Mengatasi Anak Suka Menendang
Setelah mengetahui berbagai kemungkinan penyebabnya, langkah berikutnya adalah membantu anak mengubah perilaku tersebut secara bertahap. Tujuannya bukan hanya membuat anak berhenti menendang, tetapi juga mengajarkan keterampilan pengganti yang dapat digunakan dalam situasi serupa.
1. Tetapkan Batasan dengan Tegas tetapi Tenang
Saat anak menendang orang lain, segera hentikan perilakunya dengan respons yang jelas. Mom/Dad dapat mengatakan, “Mom/Dad tidak membolehkan kamu menendang orang. Menendang bisa membuat orang lain sakit.”
Gunakan suara tegas tanpa perlu berteriak. Batasan yang konsisten membantu anak memahami bahwa perilaku tersebut tidak dapat diterima.
2. Jangan Membalas dengan Kekerasan
Ketika menghadapi anak yang sedang menendang, orang tua mungkin merasa emosi. Namun membalas dengan pukulan atau tindakan fisik justru dapat memberikan contoh bahwa kekerasan merupakan cara menyelesaikan masalah. Mom/Dad dapat menjaga jarak, mengamankan orang di sekitar, dan menunggu anak lebih tenang sebelum mengajaknya berbicara.
3. Ajarkan Nama-Nama Emosi
Anak membutuhkan kosakata untuk menjelaskan apa yang sedang dirasakan. Kenalkan kata seperti marah, sedih, kecewa, takut, kesal, senang, dan khawatir. Setelah anak memiliki kosakata tersebut, bantu menghubungkannya dengan situasi.
Contohnya, “Kamu kecewa karena permainannya selesai.” Dengan begitu, anak perlahan belajar memahami hubungan antara peristiwa, emosi, dan respons.
4. Berikan Alternatif untuk Menyalurkan Energi
Jika anak suka menendang karena membutuhkan aktivitas fisik, berikan tempat dan aktivitas yang tepat untuk menyalurkan energinya. Bermain bola, melakukan gerakan keseimbangan, melompat, berlari, atau mengikuti permainan olahraga sederhana dapat menjadi pilihan.
Yang penting, anak memahami bahwa menendang bola dalam permainan berbeda dengan menendang orang.
5. Ajarkan Teknik Menenangkan Diri
Anak dapat dilatih menggunakan strategi sederhana ketika mulai marah. Misalnya, menarik napas perlahan, menghitung sampai lima, duduk sejenak, minum air, atau meminta bantuan orang dewasa. Latihan sebaiknya dilakukan ketika anak sedang tenang. Jangan baru mengenalkan strategi ketika anak sudah berada pada puncak emosinya.
6. Berikan Pujian ketika Anak Berhasil Mengontrol Diri
Perhatikan perilaku positif anak. Ketika anak sedang marah tetapi memilih berbicara daripada menendang, berikan apresiasi.
Misalnya, “Mom/Dad senang kamu bilang sedang marah tanpa menendang.”
Pujian spesifik membantu anak mengetahui perilaku apa yang perlu diulangi.
Kenali Pemicu Anak Suka Menendang
Salah satu cara yang dapat dilakukan Mom/Dad adalah mencatat kapan perilaku menendang biasanya muncul. Perhatikan apa yang terjadi sebelum, selama, dan setelah anak menendang.
Apakah perilaku tersebut muncul ketika anak dilarang melakukan sesuatu? Apakah muncul ketika berebut mainan? Apakah terjadi saat anak lelah? Atau justru ketika sedang bermain?
Dengan mengenali pola tersebut, Mom/Dad dapat lebih mudah menentukan strategi pencegahan.
Misalnya, jika anak selalu menendang ketika waktu bermain selesai, berikan pemberitahuan beberapa menit sebelumnya. “Lima menit lagi kita selesai bermain, ya.” Cara ini dapat membantu anak mempersiapkan diri menghadapi perubahan aktivitas.
Bedakan Menendang Saat Bermain dan Menendang untuk Menyakiti
Tidak semua aktivitas menendang memiliki makna yang sama. Anak yang menendang bola dalam permainan sedang menggunakan gerakan kaki sebagai keterampilan motorik.
Sebaliknya, menendang teman saat marah merupakan perilaku yang perlu diberikan batasan.
Mom/Dad dapat mengajarkan perbedaan tersebut dengan bahasa sederhana. “Menendang bola boleh saat bermain. Menendang teman tidak boleh karena bisa sakit.”
Dengan demikian, anak tidak menganggap bahwa seluruh gerakan menendang adalah sesuatu yang dilarang. Anak justru belajar menggunakan kemampuan tubuh sesuai konteks.
Kapan Perilaku Menendang Perlu Mendapat Perhatian Lebih?
Perilaku menendang sesekali dapat muncul dalam proses perkembangan anak. Namun Mom/Dad sebaiknya memperhatikan jika perilaku tersebut sangat sering terjadi, semakin kuat, menyebabkan cedera, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau muncul bersama perubahan perilaku lain yang mengkhawatirkan.
Perhatikan juga apakah anak mengalami kesulitan berkomunikasi, berinteraksi, mengikuti instruksi sederhana, atau mengendalikan perilaku di berbagai lingkungan.
Jika Mom/Dad merasa ada sesuatu yang berbeda dari pola perkembangan anak atau perilakunya sulit ditangani, konsultasi dengan dokter anak, psikolog anak, atau profesional perkembangan anak dapat menjadi langkah yang tepat.
Tujuannya bukan memberikan label kepada anak, tetapi mencari pemahaman dan dukungan yang sesuai dengan kebutuhannya.
Aktivitas Fisik sebagai Cara Positif Menyalurkan Gerakan Anak
Aktivitas fisik dapat menjadi bagian penting dalam rutinitas anak. Melalui aktivitas gerak, anak dapat mengeksplorasi tubuh, melatih koordinasi, belajar mengikuti aturan, serta berinteraksi dengan teman.
Olahraga juga memberikan kesempatan bagi anak untuk belajar bahwa tubuh memiliki banyak cara untuk bergerak. Anak dapat belajar kapan harus berlari, berhenti, melompat, menendang bola, melempar, atau menjaga keseimbangan.
Mom/Dad dapat memilih aktivitas yang sesuai dengan usia dan kemampuan anak. Tidak harus langsung berupa olahraga kompetitif. Permainan gerak sederhana yang menyenangkan juga dapat menjadi awal yang baik.
Baca juga: 10 Cara Mengatasi Anak Suka Memukul Kepala Sendiri
Bantu Anak Menyalurkan Energi dengan Cara yang Tepat
Memahami mengapa anak suka nendang membantu Mom/Dad melihat perilaku tersebut secara lebih menyeluruh. Menendang dapat berkaitan dengan kemarahan, frustrasi, kesulitan berkomunikasi, kebutuhan bergerak, peniruan, kelelahan, atau proses anak mempelajari kemampuan tubuhnya. Karena itu, respons yang tepat dimulai dengan mencari tahu pemicunya.
Daripada hanya mengatakan “jangan menendang”, bantu anak mengetahui apa yang dapat dilakukan sebagai gantinya. Ajarkan cara menyampaikan emosi, berikan batasan yang konsisten, sediakan aktivitas fisik yang aman, dan berikan apresiasi ketika anak berhasil mengendalikan diri. Proses tersebut membutuhkan waktu dan pengulangan karena kemampuan regulasi diri berkembang secara bertahap.
Jika Mom/Dad ingin memberikan ruang bagi anak untuk bergerak, bereksplorasi, dan belajar berbagai keterampilan olahraga dalam suasana yang menyenangkan, multi sport anak di Sparks Sports Academy dapat menjadi salah satu pilihan aktivitas. Melalui berbagai aktivitas olahraga, anak memiliki kesempatan untuk menyalurkan energi secara positif sekaligus mengembangkan koordinasi, keterampilan gerak, dan pengalaman bekerja sama dengan orang lain.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Mengapa anak suka nendang saat marah?
Anak dapat menendang karena belum mampu mengelola dan mengungkapkan emosi dengan cara yang tepat.
Apakah anak suka menendang selalu berarti nakal?
Tidak. Perilaku tersebut dapat menjadi bentuk komunikasi, eksplorasi gerak, atau respons terhadap emosi dan situasi tertentu.
Bagaimana cara menghentikan anak yang suka menendang?
Tetapkan batasan dengan tenang, hentikan perilaku yang berbahaya, lalu ajarkan alternatif seperti berbicara atau melakukan aktivitas fisik yang aman.
Bolehkah anak menendang saat bermain?
Boleh jika dilakukan dalam aktivitas yang aman dan sesuai aturan, misalnya menendang bola. Anak tetap perlu memahami bahwa menendang orang bukan perilaku yang diperbolehkan.
Apakah olahraga bisa membantu anak yang suka menendang?
Aktivitas fisik terarah dapat membantu anak menyalurkan energi sekaligus melatih koordinasi dan kontrol gerak.
Kapan perilaku menendang perlu diperiksa?
Jika perilaku sangat sering, menyebabkan cedera, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau disertai kekhawatiran lain mengenai perkembangan anak, Mom/Dad dapat berkonsultasi dengan profesional.
Apa aktivitas yang cocok untuk menyalurkan energi anak?
Permainan bola, berlari, melompat, aktivitas keseimbangan, senam, dan berbagai olahraga sesuai usia dapat menjadi pilihan.







