Fenomena lemahnya kekuatan otot pada anak-anak Generasi Alpha mulai menjadi sorotan. Banyak ahli menilai bahwa anak zaman sekarang kurang bergerak, terutama karena perubahan pola hidup dan lingkungan sehari-hari yang membuat aktivitas fisik berkurang drastis.
Dilansir dari Times Indonesia, kondisi ini menjadi “alarm bahaya“, sebuah tanda bahwa anak-anak sekarang kurang bergerak dibanding generasi sebelumnya.
“Kita sedang menghadapi generasi yang makin jarang berkeringat, jarang bermain di luar, dan lebih akrab dengan layar daripada rumput hijau.” ucap Frendy Aru Fantiro M.Pd., Dosen Pendidikan Jasmani – PGSD UMM Malang.
Fenomena ini tidak muncul tiba-tiba. Ada cerita panjang di baliknya.
Penyebab Penurunan Fisik
Ada beberapa hal yang menyebabkan anak gen-alpha mengalami hal tersebut, antara lain:
Lingkungan Bermain yang Terbatas
Jika kita melihat kehidupan anak-anak di kota besar saat ini, pola yang muncul cukup jelas: banyak dari mereka tumbuh di lingkungan vertikal seperti apartemen. Ruang bermain yang tersedia biasanya aman, namun terbatas. Area serba tertata itu jarang memberi kesempatan bagi anak untuk berlari jauh, melompat bebas, atau melakukan gerakan spontan yang membangun kekuatan tubuh.
Di lingkungan pemukiman padat, situasinya tak jauh berbeda. Minimnya ruang terbuka hijau dan sarana bermain membuat aktivitas fisik harus “direncanakan”, bukan terjadi secara alami seperti dulu.
Akibatnya, mall sering menjadi tujuan wisata keluarga yang paling mudah, nyaman, dan aman. Namun, mall bukanlah tempat bermain fisik, ia lebih memanjakan mata daripada mengajak tubuh bergerak.
Minim Aktivitas Motorik Dasar
Dulu, permainan sederhana seperti lompat tali, kejar-kejaran, petak umpet, panjat pohon, atau sepak bola adalah bagian dari kegiatan sehari-hari. Kini, aktivitas tersebut semakin jarang ditemui.
Padahal aktivitas motorik dasar sangat penting sebagai fondasi kemampuan fisik anak. Tanpa kesempatan berlari, melompat, memanjat, atau melempar, otot-otot besar anak tidak berkembang optimal.
Dalam jangka panjang, hal ini membuat mereka lebih cepat lelah, kurang percaya diri saat bergerak, dan sulit mengikuti aktivitas fisik yang lebih menantang di usia sekolah.
Screentime
Screentime pada anak menjadi penyebab yang paling sering disebut dan memang ada logikanya.
Konten digital memberikan stimulasi instan yang menyenangkan, sehingga anak cenderung memilih duduk menikmati layar ketimbang bergerak.
Masalahnya bukan hanya durasi screentime, tetapi kebiasaan duduknya. Ketika tubuh terbiasa pasif, otot kehilangan kesempatan untuk berkembang. Anak tak lagi merasa bosan, sehingga dorongan untuk bergerak makin berkurang.
Seiring waktu, anak lebih nyaman dengan rangsangan visual daripada eksplorasi fisik. Inilah yang membuat aktivitas motorik tertunda dan perkembangan otot melambat.
Mengapa Aktivitas Fisik Diperlukan?
Aktivitas fisik adalah salah satu poin penting dalam tumbuh kembang anak. Bukan sekadar “supaya anak berkeringat”, tetapi menyediakan rangsangan sensorik dan motorik yang tidak bisa tergantikan oleh kegiatan lain.
Melalui gerakan seperti melompat, menyeimbangkan tubuh, berlari, atau melempar, anak bisa mengembangkan:
- kekuatan otot inti dan anggota tubuh
- kelincahan dan koordinasi gerak
- daya tahan jantung dan paru
- kepercayaan diri dalam menggunakan tubuhnya
Bagi anak yang sehari-hari hidup di ruang terbatas, aktivitas fisik yang terstruktur justru menjadi ruang eksplorasi yang aman. Di sanalah tubuh mereka belajar kembali melakukan hal-hal yang tidak sempat dipraktikkan di rumah.
Rekomendasi Aktivitas Fisik untuk Anak
Ada beberapa rekomendasi aktivitas fisik untuk anak, agar dapat mengurangi menurunnya kemampuan fisik mereka, antara lain:
Gymnastic
Gymnastic merupakan aktivitas dengan kombinasi lengkap antara kekuatan, fleksibilitas, keseimbangan, dan koordinasi. Banyak anak yang awalnya ragu ternyata menemukan kepercayaan diri ketika mampu melakukan gerakan sederhana seperti berguling atau melompat di atas matras.
Basket dan Futsal
Olahraga permainan seperti basket dan futsal membangun kecepatan, ketangkasan, serta kemampuan kerja sama tim. Gerakan eksplosif seperti berlari, mengejar bola, serta mengoper memaksa anak menggunakan otot besar dan meningkatkan daya tahan.
Balet
Meski terlihat anggun, balet adalah latihan fisik yang sangat menuntut. Postur tubuh, kekuatan kaki, dan fleksibilitas semuanya berkembang dalam proses latihan.
Taekwondo
Taekwondo membantu anak memperkuat kaki, melatih keseimbangan, dan meningkatkan fokus. Selain fisik, keteraturan latihan membantu membangun disiplin dan ketahanan mental.
Multisport
Untuk anak yang masih eksplorasi, multisport adalah pilihan terbaik. Mereka bisa mencoba berbagai jenis gerakan dan permainan, sehingga motorik dasar berkembang secara menyeluruh tanpa tekanan untuk langsung ahli pada satu cabang.

Kelima rekomendasi tersebut sudah tersedia lengkap di Sparks Sports Academy berdasarkan usia anak. Setiap kelas dirancang untuk memberikan stimulasi motorik yang tepat, mulai dari kekuatan, kelincahan, hingga koordinasi tubuh.
Dengan begitu, orang tua tidak perlu bingung mencari aktivitas fisik yang sesuai, karena semua kebutuhan gerak anak dapat terpenuhi dalam satu tempat yang menyenangkan dan ramah keluarga.
Gerak Kecil yang Menjadi Besar
Aktivitas fisik bukan hal yang bisa ditunda. Di tengah gaya hidup modern yang cenderung pasif, anak membutuhkan ruang untuk bergerak, melompat, berlari, dan mengeksplorasi tubuhnya sendiri.
Dengan memberi prioritas pada aktivitas fisik rutin, orang tua sedang membantu anak membangun kekuatan tubuh, kelincahan, daya tahan, serta rasa percaya diri yang akan mereka bawa hingga dewasa.







